Teknik Pijat yang Spesial

Đang tải thông tin quảng bá...

Teknik Pijat yang Spesial

GoodNovel Hoàn thành

IGD rumah sakit. Aku membuka kedua kakiku dan baring di atas ranjang pasien, bagian terluka yang tunggu pemeriksaan terlihat begitu saja. “Dok, aku...aku nggak sengaja memasukkan sesuatu.” Jari ya...

Chương (1)

第1章

IGD rumah sakit. Aku membuka kedua kakiku dan baring di atas ranjang pasien, bagian terluka yang tunggu pemeriksaan terlihat begitu saja. “Dok, aku...aku nggak sengaja memasukkan sesuatu.” Jari yang memakai sarung tangan karet itu masuk ke dalam...... “Aku baru saja mengembangkan teknik pijatan baru yang dapat memberikan efek menenangkan untuk kondisi seperti Anda yang pengembangannya berlebihan. Apakah Anda mau mencobanya?” Melihat wajah tampan dokternya di bawah lampu operasi, aku dengan malu mengangguk kepala. Bab 1 Namaku Meryana, usia 24 tahun, baru menikah nggak berapa lama. Terlahir di keluarga yang kaya, kedua orang tua adalah pebisnis yang terkenal dan terhormat. Sejak kecil, aku dibesarkan dengan penuh kemanjaan dan kasih sayang, semua kebutuhan sehari-hari menggunakan yang paling bagus. Orang tua juga tidak memiliki banyak tuntutan terhadapku, selama aku tidak melanggar hukum, hal-hal lainnya boleh dilakukan sesuai dengan keinginanku. Beruntungnya, aku tidak hanya menikmati kehidupan yang mewah, aku juga mewarisi kecantikan mama. Tubuh tinggi dan kaki yang panjang, bentuk tubuh berisi dan berbentuk. Di saat 16 tahun, lingkar dadaku sudah sampai cup C, bentuknya berisi dan bulat sempurna. Tahun ini, aku sudah 24 tahun, tubuhku sudah tumbuh sampai puncaknya, kelihatannya lebih menggoda dari masa remaja. Payudara yang berisi, bokong yang terangkat tinggi, pinggang yang ramping. Wajah yang cantik dan indah, walaupun keluar tanpa makeup juga akan memikat banyak pria. Beberapa tahun ini, banyak orang yang mengejarku, tapi aku memiliki standar yang tinggi, pria yang biasa tidak menarik perhatianku. Lalu, orang rumah melihat usiaku sudah cocok untuk menikah, mengatur perjodohan untukku, orang tersebut adalah suamiku sekarang. Keluarga kami setara, kesan satu sama lain cukup baik, setelah saling mengenal selama beberapa waktu, akhirnya kami menikah. Mengenai pernikahan ini, jujur aku cukup puas. Selain biasanya suami lebih sibuk kerja, bidang yang lainnya sangatlah sempurna. Untungnya temanku banyak, jadi setiap hari tidak kesepian. Hari itu ada acara ulang tahun teman, aku minum lebih banyak, sehingga saat pulang ke rumah sedikit mabuk. Di bawah pengaruh alkohol, aku tiba-tiba ada nafsu, tetapi suami sedang dinas di luar kota, sehingga aku hanya bisa menyelesaikan sendiri. Tidak tahu karena kelamaan pemakaiannya, atau kualitas barang ini tidak bagus, baru mulai nggak berapa lama, tangan barang ini putus. Menyadari ini, aku seketika jadi setengah sadar, buruan mau mengeluarkannya. Tetapi barang tersebut sudah sampai di dalam, dari luar tidak bisa memegangnya. Yang paling menakutkan adalah remote kontrolnya juga tidak berfungsi. Aku jadi sadar total dan segera memesan mobil pergi ke rumah sakit. Karena itu, makanya bisa ada kejadian sekarang. Aku baring di kasur pasien. Gorden sekeliling ditutup, menjadi satu tempat kecil yang tertutup. Dokter yang muda berdiri di samping kasur, menundukkan kepalanya dan melihat rekam medis yang di tangannya. Aku tidak tahu harus berbuat apa, jadi pandangku kemana-mana dan melihat kartu nama yang ada di depan dadanya. Surya Adnes. “Buka celananya.” Mendengar itu, aku jadi terdiam dan ragu sebentar, lalu dengan wajah yang merah membuka celana jeansku. Kaki yang cantik kelihatan di bawah cahaya lampu. Kulit putih mulus, bagian lutut terlihat sedikit warna pink, di bawah cahaya lampu terlihat menjadi berkilau. Betis lurus dan ramping, paha berisi, tetapi tidak ada sedikitpun lemak yang berlebihan. Semua teman perempuanku iri dengan kakiku. Bilang kakiku seperti gelas wine, sangat seksi menggoda. Di saat aku membuka celana, aku menyadari tatapan Surya ada di kakiku. Dalam hatiku merasa sangat bangga. Memang benar, tidak ada pria yang bisa menahan dengan pesona kecantikanku. Walaupun dia adalah pria tinggi dan tampan yang berkualitas tinggi. Tangan Surya sangat bagus, telapak tangannya besar, sendi-sendinya terlihat jelas. Jari tangannya ramping dan panjang, kelihatan sangat lincah. Kalau tangan ini bisa...... Bab 2 Tapi auranya sangatlah dingin. Wajahnya yang tampan ada kacamata dengan bingkai setengah hitam, di belakang kaca tersebut, tatapannya sangat dingin. Tetapi pria yang semakin dingin, semakin membangkitkan rasa tantanganku. Barang yang ada di dalam masih bergerak tanpa bisa dikendalikan. Nafasku berantakan, pandanganku dengan nggak sadar melihat ke wajahnya. Di dalam pikiranku membayangkan, matanya yang dingin ini penuh dengan kenafsuan. Seperti menyadari tatapanku, dia menarik sudut bibirnya. Aku menyadarinya dan segera mengalihkan pandanganku. Dia mengulurkan tangannya, jari telunjuknya dengan pelan menunjuk perutku bagian bawah. Aku menunduk kepala dan melihat rendaku yang berwarna pink, wajahku mulai memerah, dengan suara yang sangat pelan. “Ini juga perlu kah?” Surya mengangguk kepalanya dengan tatapan yang tidak bisa ditolak. Aku terus-menerus berkata di dalam hati. Tidak bermasalah, di depan dokter tidak ada perbedaan jenis kelamin. Di saat aku sedang menenangkan diriku sendiri, aku dengan terpaksa membuka kain renda yang berwarna pink. Suara nafas Surya sangat jelas sudah berantakan. Walaupun aku sengaja membalikkan kepala tidak melihatnya, tetap bisa merasakan bahwa tatapannya yang panas itu sedang melihatku. Dia dengan perlahan-lahan memakai sarung tangan, menundukkan badan dan memegang betisku. Rasa dingin dari sarung tangan karet membuat nafasku jadi cepat. Dia perlahan-lahan menarik betisku dan melipat ke atas, lalu menarik satunya lagi. Setelah diletakkan ke penyangga kaki yang khusus dibuatkan untuk kasur pasien, menekan tombol pengatur kasur pasien, dengan suara mekanis ringan yang terdengar, bagian bawah tubuhku perlahan-lahan terangkat, bagian intimku kelihatan semuanya. Kedua tangan itu memgang perut bagian bawah, lalu mengelus dengan pelan dan perlahan-lahan menuju ke bagian yang terluka...... Jari yang dingin masuk ke dalam, sangat susah untuk mengabaikannya. Aku bisa merasakan gerakan jarinya, kadang menyentuh dengan lembut, kadang bergoyang. Bagian tersebut sangatlah sensistif, hanya gerakan yang lembut pun bisa membangkitkan perasaan yang kuat. Tiba-tiba, dia maju ke depan, barang tersebut jadi semakin dalam. Aku mengerutkan alisku dan mendesah. Di saat aku kira sudah bisa mengeluarkannya, dia menarik tangannya keluar. Dia mengangkat jari tangannya yang basah. Surya berkata dengan suara yang serak. “Barang itu lumayan dalam, tidak gampang untuk mengeluarkannya, kamu tahan sebentar.” Aku menggigit bibir dan mengangguk: “Dok, tolong pelan sedikit.” Kali ini, aku bisa merasakan tenaga tangannya jauh lebih kuat. Bukan lagi mencoba perlahan-lahan, melainkan langsung masuk ke dalam. Aku menggigit bibirku dengan kuat supaya tidak mengeluarkan suara yang memalukan. Setelah pencarian yang lama, akhirnya Surya mendapatkan barang kecil itu. Aku bisa merasakan barang tersebut dijepit oleh jarinya dan sedang ditarik keluar. “Ehm...” Di saat menariknya, getaran yang tanpa henti itu melewati setiap bagian. Dan aku tidak bisa menahannya lagi, mulai mengeluarkan suara desahan. Akhirnya, barang kecil itu sudah dikeluarkan. Cairan juga terbawa keluar, membuat sprei kasur menjadi basah. Aku dan Surya sama-sama menghela nafas lega. Barang itu dibuang di atas piringan, masih bergetar dan mengeluarkan suara dengung halus. Wajahku sangat merah dan menundukkan kepala, ingin masuk ke bawah tanah karena terlalu malu. Aku duduk dan sedang mau memakai celana, Surya berkata. “Tunggu sebentar.” Gerakanku terhenti, dan melihatnya dengan penuh kebingungan. “Kenapa dok?” Dia membuka sarung tangan yang basah dan membuangnya ke tong sampah. Tatapannya penuh dengan ketidakjelasan. “Rumah sakit mengembangkan teknik pijatan baru yang dapat memberikan efek menenangkan untuk kondisi seperti Anda yang pengembangannya berlebihan. Apakah Anda mau mencobanya?” Bab 3 Saat bertanya, pandangannya jatuh di antara kedua kakiku dengan sangat agresif. Aku jadi ragu. Jujur, saat ini aku merasa tergoyang. Di mana hari ini nafsuku memang tinggi. Tetapi terjadi hal yang di luar dugaan, proses masturbasiku terhenti dan sampai masuk ke rumah sakit, lalu disiksa sama jarinya Surya. Setelah mengalami ini semua, nafsuku tidak teratasi, malah semakin kuat. Tubuhku sedang berteriak kesepian. Kalau dipijat, apakah bisa lebih nyaman? Lalu aku dengan malu mengangguk kepala, setuju ajakan Surya. “Baik, silahkan baring. Aku kembali baring, tetapi tidak senang dengan sikapnya yang sangat serius. Dia berdiri di samping kasur dan menunduk kepala melihatku. Walaupun dengan sudut yang menjelekkan ini, dia tetap terlihat tampan. “Karena pijat seluruh tubuh, jadi baju Anda juga perlu di buka.” Aku mau membuka kancingku, tetapi ditahannya. “Aku saja, Anda seharusnya sudah capek juga.” Aku hari ini memakai kemeja sutra, bagian kerahku terikat pita. Dia menggunakan kedua tangannya membuka pita yang di bajuku. Aku merasa diriku seperti kado, sedang perlahan-lahan dibuka. Lalu kancing, satu per satu. Buka sampai setengah, kelihatan kulitku yang putih mulus dan ditutupi renda pink. Merasakan nafas Surya semakin berat, aku diam-diam tersenyum. Manusia ini, walaupun dari luar sangatlah dingin dan tenang, tapi tetap adalah pria, semua pria itu bernafsu. Aku ingin menganggunya, lalu diam-diam menegakkan tubuhku. Bentuk yang bulat penuh dan berisi itu gemetar. Nafas Surya terhenti, gerakan tangannya semakin cepat, kelihatan kalau sudah tidak sabar. Kemejaku dibuka, lalu tangannya sampai ke punggungku, gerakan membuka kaitan sangatlah bodoh. Melihat dia tidak bisa membukanya, aku tersenyum dan membantunya. Tidak ada tutupan, payudaraku berebutan keluar. Pandangan Surya terdiam, telinganya mulai memerah. Aku merasa sangat unik dengan rasa malunya, dengan tatapan penuh menggoda melihatnya. “Dok, masih belum mulai kah?” Surya kembali sadar, lalu batuk ringan untuk menutupi kecanggungannya. Di saat ini, aku masih ada tenaga untuk menggodanya, tetapi sangat cepat sudah kehabisan tenaga. Kedua tangannya menempel di tubuhku. Kali ini tidak memakai sarung tangan, jadi aku bisa dengan jelas merasakan suhu telapak tangannya. Mulai dari leher, kedua tangannya dengan kadang pelan kadang kuat memijatnya. Yang di luar dugaanku adalah begitu dipijatnya, kecapekan di seluruh tubuhku jadi sedikit menghilang. Aku mulai menutup mataku dan menikmati kenyamanan ini. Tapi perlahan-lahan, kenyamanan ini mulai berubah. Mungkin dimulai dari kedua payudaraku. Gerakan tangannya tidak kuat lagi, melainkan menjadi menggoda dan memainkan. Telapak tangan memegangnya, dengan lembut memijat dan mencubitnya, jari tangan kadang menyentuh puting. Nafasku mulai jadi berantakan, nafsu yang belum diselesaiin bangkit kembali. Aku membuka mataku langsung bertatapan dengan matanya yang penuh dengan senyuman licik. Sesuai dengan dugaanku, pijat ini tidak sesederhana itu. Karena gerakannya, nafsuku jadi semakin kuat. Bibir merahku mulai terbuka dan bernafas pelan-pelan. Di ruangan yang sempit, aura cinta memenuhi seluruh ruangan, kadang-kadang ada suara air yang berdebur. Jari tangannya masuk lagi, gerakannya sangat lincah, bertindak semaunya. Aku menutup mata, di dalam otakku mulai melupakan semuanya, bahkan akal sehat pun hilang. Di saat mencapai puncak, depanku seperti ada bunga putih yang mekar. Aku membuka mataku di saat mencapai klimaks. Dan melihat Surya yang sudah membuka tali pinggangnya. Satu tangannya mendirikan kakiku, lalu naik ke kasur, dengan tatapan seperti serigala melihatku. Dengan suara yang serak berkata: “Tahap terakhir pijat, di mana tahap yang paling penting juga.” Melihat barangnya yang besar, nafasku jadi bergetar, dalam hatiku sangat menginginkannya. Dalam hatiku hanya ragu sedetik, lalu dikuasai oleh nafsuku yang kuat. Lagi pula aku dan suami hanyalah pernikahan antar keluarga, tidak ada perasaan apapun. Surya mulai masuk di antara kedua kakiku.