Đang tải thông tin quảng bá...
Suamiku Pulang, Tapi Aku Menyesal
Setelah Hendra kembali, aku melihat kolom voting di internet: [Setelah seorang pria berselingkuh, biasanya lebih merasa bersalah pada istrinya atau kekasihnya?] Yang memilih kekasih mencapai 99% suar...
Chương (1)
第1章
Setelah Hendra kembali, aku melihat kolom voting di internet: [Setelah seorang pria berselingkuh, biasanya lebih merasa bersalah pada istrinya atau kekasihnya?]
Yang memilih kekasih mencapai 99% suara.
Aku berbalik dan bertanya pada Hendra, "Apa kamu juga merasa gitu?"
Hendra meletakkan bukunya dan menatapku dengan ekspresi acuh tak acuh bercampur lelah.
"Caroline, aku sudah kembali."
"Kamu mau apa lagi?"
Bab 1
Hendra Prananta mengerutkan keningnya, berdiri dan pergi ke balkon untuk merokok.
Aku menatapnya.
Punggungnya yang disinari cahaya, sosoknya yang tinggi dan kurus menyatu dengan asap tipis, tampak kesepian.
Setengah jam kemudian, dia masuk dengan senyum paksa.
“Ayo ikut aku ke acara Hari Keluarga perusahaan kali ini. Kebetulan minggu ini aku nggak kerja, jadi bisa temani kamu beli beberapa baju.”
Perusahaan Hendra sering adakan acara Hari Keluarga. Dulu dia tidak pernah mengajakku pergi. Kadang-kadang, ketika aku bertanya padanya karena penasaran, dia akan mengerutkan kening dan tampak tak sabar.
“Itu kegiatan kesejahteraan yang diadakan untuk karyawan biasa, undangannya terbatas. Sebagai eksekutif senior, aku harus mengalah, nggak usah berebut sama mereka.”
Saat ini aku ingin sekali tanya padanya.
‘Jadi kali ini kita nggak perlu mengalah lagi?’
Tapi aku urungkan niatku.
Sejak Hendra pindah kembali, ada perasaan berat dan tidak nyaman yang sulit diungkapkan di antara kami.
Ya, perasaan tidak nyaman.
Rasanya seperti ada yang tersangkut di tenggorokan, tidak bisa naik atau turun, tapi terus mengingatkanmu akan keberadaannya.
“Oke,” kataku.
Dia tersenyum, seakan dia bahagia.
Tapi ketika dia berbalik, senyumnya memudar, dia menghela napas diam-diam.
Malam hari, aku matikan lampu dan bersiap tidur, tapi pintu tiba-tiba terbuka, Hendra masuk.
“Apa kamu sudah tidur?”
Sekarang kami tidur di kamar terpisah, dia tidur di ruang kerja.
Pada hari dia memilih untuk kembali, dia berdiri di samping pintu, membawa kopernya dan berkata kepadaku, “Caroline Harsono, kita berdua butuh waktu dan ruang untuk tenangkan diri. Jadi kita pisah kamar untuk sementara ya.”
Saat itu diriku langsung dipenuhi dengan berbagai macam emosi yang ekstrem.
Rasa sakit karena dikhianati orang terdekat, rasa tidak terima atas tindakannya yang terang-terangan jadi musuhku, rasa merendahkan yang dalam...
Semua perasaan ini menjadi terdistorsi dan membesar.
Aku angkat daguku dan mencibir, “Hendra, apa maksudmu itu? Kamu pikir aku minta kamu pulang hanya untuk lakukan hal itu? Kamu pikir pikiran orang lain sekotor pikiranmu?”
“Oke, kalau itu maumu.”
Dia tidak membantah, tapi berkata santai sambil bawa koper dan berjalan ke ruang kerja.
…
Pada saat ini, dia berdiri di samping tempat tidur, dan menatap dalam diam selama beberapa saat.
Kemudian dia berbaring dengan tenang, tangannya perlahan masuk ke dalam pakaianku dari pinggangku.
“Caroline, kita tetaplah suami istri.”
Suaranya agak rendah.
Anehnya, walau itu hanya kalimat sederhana, walau aku tak bisa melihat ekspresinya, tapi aku bisa merasakan perasaan terpaksa darinya.
Seolah-olah dia rela berhubungan seks denganku, karena terpaksa tunduk pada takdir.
Karena dia sadar akan hubungan suami istri yang memang ada.
Seakan ini adalah anugerah yang diberi padaku, istrinya selama 10 tahun ini.
Bulan terang di luar jendela seolah menatap bumi dengan lelah dan dingin.
Akhirnya aku tidak tahan, dan menyebut nama yang tak pernah kusebut selama tiga bulan terakhir ini.
“Gimana dengan Vianie Iwanto?”
“Bukannya dia satu-satunya istri di hatimu?”
Suasana tiba-tiba membeku.
Bab 2
Pria di belakangku berteriak dengan marah dalam kegelapan, suaranya melengking.
“Untuk apa ungkit dia? Untuk apa?”
“Aku sudah kembali! Aku dan dia telah terima hukuman yang pantas kami terima! Kamu sudah dapat apa yang kamu inginkan!”
“Caroline, kamu mau apa lagi?!”
Aku tidak ingin apa pun.
Aku cuma tidak tahan dan merasa sedih.
Aku cuma ingin merobek topeng palsu yang menutupi hidupku.
Aku dan Hendra adalah teman sekelas saat kuliah.
Kami bertemu dan jatuh cinta di sebuah acara sekolah, menikah setahun setelah wisuda dan melahirkan putri kami, Melisa Prananta di tahun berikutnya.
Semuanya berjalan lancar dan alami.
Aku ekstrovert, lincah, ceria dan suka berinteraksi dengan orang lain.
Dia introvert dan kemampuan risetnya berada pada level teratas dalam industri ini, tapi karena dia tidak pandai bersosialisasi, kariernya tidak mengalami kemajuan.
Aku merasa bakatnya sangat disia-siakan, jadi dengan keterampilanku, aku berhasil mengenal pimpinannya yang bernama Stev Lorenzo, tentu saja dengan bantuan pimpinanku.
Selama itu, aku bangun pagi tiap hari untuk buat kue kering dan melintasi setengah kota untuk antarkan kue itu pada ibu dari Ketua, Bu Nia Lorenzo yang sangat suka kue kering.
Tapi Hendra sangat memandang rendah kelakuanku ini.
“Semua orang bisa lihat kemampuanku. Ngapain kamu lakukan hal memalukan gini? Kalau nanti kamu gagal, aku hanya bakal malu!”
Aku dengan hati-hati melindungi harga dirinya sebagai peneliti, dengan tulus mengakui aku telah gegabah, lalu berkata sambil tersenyum, “Nggak apa-apa kalau gagal. Anggap saja aku hormat pada orang yang lebih tua. Lagian kenal pimpinan gitu juga berguna untuk karierku.”
Pak Stev mengagumi kegigihanku, apalagi kemampuan Hendra memang berbakat luar biasa, dia pun mendukungnya di kompetisi rekrutmen penting. Setelah lima tahun tersia-siakan di lembaga penelitian, Hendra akhirnya dapat promosi yang pantas.
Gaji dan bonusnya naik, tapi karena dia harus fokus pada penelitian dan manajemen sekaligus, dia jadi makin sibuk.
Tidak ada yang urus rumah, Melisa juga sedang dalam masa pertumbuhan yang penting.
Setelah diskusi, kami putuskan aku akan undurkan diri dari jabatan utamaku dan terima kerjaan yang lebih mudah, jadi aku punya lebih banyak waktu untuk urus keluarga dan putri kami, sekaligus dukung perkembangan kariernya.
Aku selalu merasa diriku sangat beruntung.
Setiap aku pergi ke taman kanak-kanak untuk jemput Melisa, para ibu yang berkumpul untuk mengobrol selalu merasa bahwa keluargaku adalah model keluarga bahagia modern:
Cinta pertama yang berhasil, suami sukses dalam kariernya, punya pekerjaan yang santai dan putri yang periang dan imut.
Aku merasa bahagia dan puas.
Meski terkadang aku bisa sedih saat melihat rekan kerja yang dulu tidak sebaik aku, malah dapat promosi dan naik gaji, tapi aku selalu bilang pada diri sendiri bahwa keluarga adalah kesatuan ekonomi dan takdir. Meskipun aku telah korbankan beberapa hal, itu adalah solusi terbaik untuk keluargaku.
‘Begini sudah cukup.’
Pertama kali aku lihat nama Vianie itu pada laporan penelitian yang ada di meja kerja.
Ada dua nama yang tertulis: [Hendra dan Vianie].
Saat itu aku sedang bawakan teh kesehatan yang kuseduh pada Hendra sambil bercanda, “Nama kalian berdua terdengar cocok. Hanya dengan lihat nama kalian, aku bisa bayangkan cerita drama yang panjang antara cinta dan benci.”
Saat itu, aku begitu terhanyut dalam kebohongan kehidupan, hingga tak menyadari cahaya kelembutan di matanya saat ia menatap kata [Vianie].
“Dia masih lajang, jangan asal ngomong.”
Dia lalu menunduk, menyingkirkan laporan itu dan memperingatkanku dengan suara pelan.
Bab 3
Setengah tahun kemudian, aku baru melihat nama “Vianie” lagi.
Saat itu aku mau buat PPT pidato perwakilan untuk Melisa, tapi laptopku kehabisan baterai. Kebetulan Hendra belum pulang karena ada makan bersama rekan satu departemen, jadi aku nyalakan komputer di ruang kerjanya.
Ketika aku lagi cari materi, aku tidak sengaja mengklik folder bersama dan melihat folder bernama [Kesayangan].
Hendra adalah orang yang sangat rapi.
Di dalam folder tersebut, semua dokumen disusun berdasarkan tahun dan bulan, totalnya 27 dokumen.
Intuisiku mulai bergejolak.
Sebelum aku lihat folder ini, aku tidak pernah nyangka Hendra bakal diam-diam berselingkuh.
Sama sekali tidak pernah.
Tapi pada saat itu, saat aku menggerakkan mouse ke salah satu dokumen, bersiap untuk mengkliknya, tanganku bergemetar tanpa sadar.
Aku pun duduk diam sambil melihat selama dua jam.
Folder [Kesayangan] itu mencatat kisah cinta yang samar, tapi penuh gairah antara seorang pria dan seorang wanita selama dua tahun tiga bulan.
Mereka awalnya adalah rekan kerja dari departemen yang berbeda dan ditugaskan dalam tim yang sama dalam sebuah proyek penelitian. Karena itu, selama berhari-hari, mereka dengan gembira terlibat dalam diskusi yang mendalam.
Lambat laun, hati mereka mulai tergerak, mereka jatuh cinta.
Mereka tahu betul, hubungan ini terlarang.
Jadi sepakat untuk hanya memiliki cinta suci, pacaran tanpa hubungan fisik, tidak dikalahkan oleh hasrat manusiawi yang rendah.
Mungkin dengan adanya jubah munafik inilah, mereka baru bisa bebas utarakan isi hati dan cinta mereka.
Hendra menyebut Vianie sebagai “Istri satu-satunya dalam kehidupan ini”.
[Ketika kamu berjalan melewatiku hari ini, aku mencium aroma tubuhmu yang unik, hatiku pun tiba-tiba bergetar.]
[Banyak sekali wanita di dunia ini yang tercemar. Hanya kamulah jiwa yang murni dan polos di hatiku. Terima kasih telah memurnikan hidupku.]
[Aku lewati banyak malam memikirkan wajahmu, menyebut namamu berulang kali di dalam hatiku.]
[Dulu aku pernah meratapi dan menyesali 33 tahun yang telah kusia-siakan, tapi kamu muncul diam-diam seperti malaikat, membuat semua masa lalu menjadi berharga.]
Vianie memanggil Hendra dengan sebutan “Kakak”.
[Kakak! Cintaku! Suamiku!]
[Pagi ini, beberapa helai rambutku yang panjang rontok. Aku menaruhnya dengan hati-hati di mejamu. Begitu rambut kita bertemu, artinya kita sudah bersama secara tak langsung.]
[Dalam notulen rapat, nama kita kebetulan berseberangan, hatiku berdesir bahagia. Tulisan itu terlihat seakan terjalin satu sama lain.]
[Kak, semalam aku mimpi sesuatu yang tak dapat kuceritakan. Dalam mimpi itu, aku memanggilmu dengan panik. Ketika aku terbangun, hanya ada air mata yang membasahi bantalku.]
[Aku merindukanmu setiap saat. Performaku pun jadi buruk, tapi malah Nona Gevinda Arista yang dipecat. Kakak, ini pasti karena kamu diam-diam bantu aku, ‘kan? Aku merasa bersalah dan senang di saat bersamaan. Aku jadi nggak enak.]
Di bawah baris ini, ada jawaban mengharukan dari Hendra:
[Tidak ada salahnya mencintai istri, aku rela pilih kasih pada istriku. Aku nggak peduli pada ketenaran dan kekayaan. Hanya saat ini, aku merasa beruntung punya kekuasaan di tanganku!]
…
Ada 27 folder, tiap foldernya, ada 30 dokumen, jadi totalnya 810 dokumen.
Selama 810 hari ini, mereka saling berbagi dan mencurahkan perasaan terdalam mereka satu sama lain di folder berjudul [Kesayangan] ini.
Bab 4
Bulan September baru saja lewat, tapi hawa panas akhir musim kemarau masih terasa di bumi.
Tapi aku malah duduk di ruang kerja, merasa kedinginan di sekujur tubuh, seakan-akan berada di ruang bawah tanah yang terbuat dari es.
Aku bergegas keluar dalam keadaan linglung.
Aku masih tidak percaya Hendra akan mengkhianatiku. Aku masih merasa semua yang ada di komputer itu palsu.
Pasti ada orang dengan rencana jahat yang mau memfitnah!
Aku meneleponnya, tapi tidak diangkat.
Dia bilang, ada acara makan bersama rekan, jadi aku pergi mencarinya di setiap restoran.
Aku bersikeras mau tanya pada Hendra saat itu juga.
Meminta kejelasan.
Kemudian aku temukan Hendra di sebuah restoran daging panggang. Di mejanya, sekumpulan orang tampak ngobrol dengan senang.
Sementara dia duduk di ujung meja dengan senyum tipis di bibirnya, tampak seperti pria sukses yang selalu lembut, anggun dan ramah.
Di sebelah kanannya duduk seorang wanita berambut panjang dan mengenakan gaun putih.
Matanya sebening air, tampak pemalu, lembut dan menawan.
Langkahku tiba-tiba terhenti, aku tidak berani melangkah maju.
Terdengar suara candaan dari seseorang, “Pak Hendra, kami semua kagum padamu dalam segala hal kecuali ketakutanmu pada istrimu. Kami jelas nggak mau dapat istri gitu!”
“Ya, Pak Hendra, kamu itu orang hebat, kenapa malah dengarkan perkataan istrimu yang amatir? Seakan kalau dia ketat padamu, kamu bisa jadi hebat.”
Setelah berpikir beberapa saat, aku baru mengerti kenapa mereka bilang gitu.
Hendra memang tidak handal jadi pemimpin.
Gaya manajemennya adalah melakukan apa pun yang dia bisa. Dia merasa ajarin orang itu terlalu habiskan waktu. Akhirnya, dia kelelahan. Kepala departemen malah jadi orang yang paling sibuk dan paling lelah, bahkan tidak ada waktu untuk putrinya.
Aku pernah beri saran agar dia berperan sebagai manajer. Kalau itu tugas bawahan, berikan pada bawahan, jadi dia hanya perlu periksa secara ketat. Kalau tidak kinerja departemennya akan selalu terpuruk.
Aku tidak tahu apa yang dilakukan atau dikatakan Hendra setelahnya, tapi tampaknya kelompok anak muda ini malah salahkan aku atas hal ini.
Tapi saat ini, aku tak sempat pedulikan masalah ini, mataku hanya tertuju pada wanita berambut panjang itu.
Dia duduk di tengah kerumunan, selalu tersenyum tipis di bibirnya, tampak anggun dan santai. Di restoran daging panggang yang ramai dan berisik ini, dia memancarkan aura kecantikan yang khas.
Pada saat ini, dia tersenyum dan berkata dengan lembut, “Sudah sudah, jangan buli Pak Hendra lagi. Ke depannya, kalau kalian terlalu sibuk, aku bantuin deh.”
Anak-anak muda itu pun tertawa.
“Andai istrimu seperti Kak Vianie, kerjaan kita pasti bisa makin ringan! Sayang sekali!”
Hatiku perlahan makin berat.
Ternyata benar, wanita berambut panjang itu adalah Vianie.
Sekelompok orang itu mengobrol dan tertawa sambil bersulang untuk Vianie. Wajahnya semerah bunga persik dan dia menolak dengan tangannya sambil tersenyum.
Lalu Hendra tiba-tiba berdiri, mengambil gelas anggur dari tangannya dan minum semuanya.
“Di departemen kita nggak ada paksaan cewek harus minum bir. Jangan buli dia. Aku saja yang minum!”
Vianie mengerutkan bibirnya dan tersenyum padanya.
Anak-anak muda bersorak dan mengisi gelas lagi.
Dengan bangga, dia pun minum habis lagi.
Aku memandangnya dari kejauhan, tubuhku bergetar hebat.
Lambung Hendra tidak begitu kuat, jadi maag-nya sering kambuh.
Dalam beberapa tahun terakhir, selain rawat Melisa, aku juga harus cari cara jaga lambung Hendra.
Aku cari pengobatan tradisional ke mana-mana, merebus obat dan buat teh kesehatan, tapi dia tetap tidak tahan dengan apa pun yang dingin, panas atau pedas.
Meski aku suka makanan pedas, tapi aku tidak pernah taruh cabai dalam masakanku.
Semangka dingin dari kulkas juga aku keluarkan sebelum dia pulang kerja.
Bab 5
Aku bahkan tidak pernah biarkan dia minum setetes alkohol pun.
Dengan susah payah aku bantu dia jaga kesehatan pencernaannya.
Tapi saat ini, agar “Kesayangannya” tersenyum, dia minum bir tanpa ragu.
Tiba-tiba aku tidak tahan lagi.
Ternyata saat orang sangat marah, mereka tidak mampu tetap tenang, berpikir rasional atau pertimbangkan untung ruginya.
Dengan otakku yang bergemuruh, aku menyerbu maju.
Merebut gelas dari tangan Hendra dan membantingnya ke lantai.
“Bajingan!”
Aku berteriak.
Hendra menatapku dengan kaget.
“Ah…”
Vianie tampak ketakutan, dia mundur dua langkah dan terjatuh. Secara tak sengaja, panci berisi kuah mendidih di sebelahnya pun ikut jatuh, minyak panas memercik ke wajah dan dahinya.
Dia berteriak.
Hendra terkejut dan berteriak, “Vianie!”
Semua orang berkumpul di sekelilingnya.
Tiba-tiba bahuku terdorong dengan kekuatan yang dahsyat.
Aku kehilangan keseimbangan, tersandung dan jatuh, dahiku terbentur sudut meja.
Salah satu anak muda menatapku dengan tajam.
“Dari mana datangnya wanita gila ini! Jangan kira bisa kabur setelah lukai orang!”
Aku menyentuh kepalaku dan merasakan cairan hangat mengalir turun dari kepalaku, mengaburkan pandanganku.
Dalam bayangan darah, aku melihat Hendra berlari ke arahku dengan panik.
Aku tak peduli dan berteriak dengan marah, “Aku sudah lihat semua! Aku sudah lihat foldernya!”
“Kalian berdua bajingan! Kalian menjijikkan!”
Dalam tiga bulan terakhir, setiap kali aku teringat apa yang terjadi, rasanya seperti mimpi.
Mimpi buruk.
Mimpi yang menakutkan.
Akibat tekanan yang kuterima, ditambah benturan di kepala, setelah berteriak keras, aku pun pingsan karena marah.
Ketika aku terbangun di rumah sakit, aku lihat Hendra duduk di sebelahku, kepalanya tertunduk.
Aku berbicara dengan lemah, “Pergi!”
“Jangan muncul di hadapanku lagi, menjijikkan!”
Tubuh Hendra bergetar, dia menatapku dengan wajah berkumis tak terurus. Lalu dia bicara dengan suara serak, “Caroline, jangan marah. Hal ini nggak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku ulurkan tanganku, ambil termos di atas meja dan melemparkannya kepadanya.
Dia tidak menghindar, kepalanya terkena termos itu.
Termos itu pun jatuh ke lantai dengan suara “bruk”.
Dia menutup mata pasrah, membungkuk untuk ambil termos itu, lalu menghela napas dan berkata, “Terserah kamu mau pukul atau marahin aku. Karena masalah sudah jadi gini, aku nggak akan bela diri lagi. Aku cuma mau bilang, aku dan dia nggak pernah lewat batas!”
Aku menatapnya sambil menggertakkan gigiku, “Jadi? Aku harus puji kamu atas moralmu yang tinggi? Terima kasih karena nggak berhubungan seks?”
Hendra menatapku dengan ekspresi sedih.
“Apa kamu harus bicara sekasar itu?”
Aku menekan telapak tanganku erat di bawah selimut, berusaha menahan diriku agar tidak gemetar.
“Emangnya kata-kataku sekasar perbuatan kalian itu?”
“Aku mau muntah tiap kali kuingat apa yang kalian berdua tulis! Pura-pura polos lagi! Hubungan plato apanya! Kalian itu tetap pasangan bajingan!”
Dulu, ketika baca novel atau nonton sinetron, saat lihat tokoh-tokoh perempuan nangis histeris dan ribut-ribut karena diselingkuhi suaminya, aku selalu merasa mereka terlalu biarkan emosi mereka meluap. Mereka tidak cukup tidak tenang dan tak sopan.
Aku merasa, ‘itu cuma cowok, kalau sudah kotor, buang saja.’
Tapi sekarang, saat hal itu benaran terjadi padaku, aku malah tak bisa kendalikan diri.
Aku dipenuhi amarah dan rasa pengkhianatan. Dadaku serasa mau meledak. Aku ingin sekali ucapkan segala kata kasar pada mereka. Ingin sekali kuseret mereka dan hancur bersama!
Bab 6
Tiba-tiba aku berubah dari Caroline yang optimis, ceria, antusias dan ramah jadi orang gila yang sarkastis dan kasar.
Hendra saat ini menatapku seolah-olah dia sedang menatap orang gila.
Aku makin marah, mengambil bantal dan melemparkannya ke mukanya.
“Pergi!”
Hendra perlahan merapikan rambutnya yang berantakan, lalu berdiri, suaranya sudah tenang.
“Sekarang kamu sedang emosi, nggak bisa berkomunikasi dengan tenang. Jadi mending aku pergi dulu.”
“Hardi Wijaya sudah minta maaf padaku karena sudah dorong kamu. Ini juga bukan salah dia. Dia nggak kenal kamu, lagian kamu tiba-tiba datang, buat Vianie terkejut hingga dia terluka. Dia cuma mau bela Vianie.”
“Dahi Vianie juga ada bekas luka bakar, tapi dia nggak berniat minta kamu tanggung jawab, jadi jangan khawatir.”
“Pokoknya, masalah ini nggak seburuk yang kamu kira. Kamu tenangkan diri dulu. Kalau kamu benaran nggak bisa lupakan ini, aku bisa terima apa pun hukumanmu.”
Dia membungkuk, memungut bantal dan meletakkannya di tempat tidur, lalu berbalik dan berjalan keluar.
Aku terbaring di rumah sakit selama tiga hari. Pikiranku pun jadi linglung. Aku sering tertidur, tapi mendadak terbangun dengan terkejut. Setiap kali terbangun, aku harus berpikir beberapa detik sebelum bisa bedakan antara kenyataan dan mimpi.
Ibuku datang dan bilang Hendra telepon dia dan ceritakan apa yang terjadi secara rinci. Dia khawatir tidak akan ada yang rawat aku, jadi minta Ibuku datang ke rumah sakit untuk rawat aku.
Dia sentuh wajahku, menghela napas dan berkata, “Dia sudah dengan tulus akui kesalahannya dan bersumpah sama sekali nggak terjadi apa-apa antara dia dan wanita itu. Caroline, apa kamu masih ingat saat kamu jadi penggemar seorang artis? Kamu juga tulis surat cinta yang panjang, anggap saja dia lakukan hal yang sama.”
Aku gelengkan kepala, “Itu beda.”
“Tapi nggak ada gunanya hancurin kesehatanmu cuma karena masalah kecil seperti ini. Kalau kamu nggak peduli dengan dirimu sendiri, kamu juga harus pikirkan Melisa!”
Ibu mertua dan saudara iparku juga datang.
Mereka duduk di sisi kiri dan kanan tempat tidurku.
Ibu mertuaku tersenyum dan berkata, “Sebenarnya ini emang salah Hendra, tapi Hendra memang sangat populer di kalangan wanita sejak kecil. Apalagi sekarang dia sukses dalam kariernya, jadi dia tentu jadi incaran banyak wanita. Kejadian ini juga punya hikmah, lagian belum sampai pada titik yang tak dapat diperbaiki, anggap saja ini pelajaran untukmu."
Saudara iparku sambil minum americano dingin dan berkata, “Kak, bukannya aku mau bela kakakku. Kakakku emang orang yang sentimental, tapi kepribadiannya pasti nggak ada masalah. Aku bahkan menduga dia mungkin sudah dijebak. Sebenarnya, ini nggak bisa disebut selingkuh. Palingan cuma merayu! Ini bahkan nggak termasuk rayuan, dia nggak mungkin pakai kata-kata cabul gitu!”
Ketika ibu mertuaku akan pergi, dia menatapku dan berbicara dengan sungguh-sungguh.
“Hendra sudah akui hal ini pada keluarga, berarti dia emang tak bersalah. Tentu saja, aku ngerti kamu marah dan mau buat onar, tapi lebih baik cukup sampai di sini. Hendra bakal segera calonkan diri sebagai wakil ketua, kalau orang-orang tahu konflik kalian, dia pasti akan kena dampak.”
…
Sebenarnya aku tidak tahu harus berbuat apa.
‘Apa mau cerai?’
Hubungan selama 10 tahun, rumah yang kurawat dengan hati-hati, pertumbuhan Melisa, citra bahagia di mata orang luar...
Ibu, ibu mertua dan saudara iparku datang membujukku, tapi mereka hanya menasihatiku agar tidak merusak tubuhku, serta tidak menimbulkan keretakan keluarga, seolah-olah masalah ini tidak ada kaitannya dengan cerai.
Mereka semua sepakat masalah ini masih jauh dari perceraian.
Tapi aku merasa sangat kesal.
Hendra datang setiap hari dan bawa sup.
Bab 7
Melihat aku abaikan dia, dia perlahan meletakkan termos itu dan berjalan keluar tanpa suara.
Beberapa kali Melisa meneleponku, tanya kapan aku akan pulang dan bilang makanan yang dimasak ayahnya sangat tidak enak.
Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa…
Sehari sebelum aku keluar dari rumah sakit, aku tiba-tiba ingin pergi ke taman kecil di lantai bawah untuk hirup udara segar.
Di sana aku kebetulan melihat Vianie dan Hendra.
Vianie pakai baju rumah sakit dan Hendra memegang dua kotak makan, mereka bicara dengan suara pelan.
Mereka berdiri berhadapan, angin sepoi-sepoi dari belakang meniup rambut panjang Vianie, membuatnya berkibar di wajah dan bibir Hendra.
Hendra berdiri diam, membiarkan rambutnya sentuh wajahnya dengan lembut.
Itu seperti hubungan tak terucapkan yang mesra.
Setelah beberapa saat, dia tundukkan kepalanya dan memberikan satu kotak makan ke Vianie.
Angin membawa bisikan Vianie, “Kakak!”
Otakku tiba-tiba berdengung dan aku bergegas menghampiri.
Saat Hendra lihat pupilku yang membesar, aku jambak rambut Vianie, menariknya, hingga dia terjatuh dan berteriak, “Berani sekali kamu! Beraninya kamu muncul di sini, dasar jalang!”
Vianie memegang rambutnya dengan kesakitan dan berteriak, “Ahh!”
Tak jauh dari situ, beberapa bawahan muda Hendra datang berlari dengan panik. Melihat ini, mereka hentikan aku dan menjelaskan, “Kakak ipar! Kamu salah paham! Kami yang datang jenguk Kak Vianie dan kebetulan bertemu Pak Hendra!”
Ketika aku angkat tangan untuk tampar wajah Vianie, pergelangan tanganku dicengkeram dan aku dengar suara dingin Hendra di telingaku.
“Cukup!”
Para karyawan muda itu dengan canggung mencoba lepaskan genggamanku untuk selamatkan Vianie, tapi tanpa sadar aku memegangnya dengan erat.
Sekelompok orang di sekitar berkumpul sambil bergosip.
Vianie merasa cemas dan malu, bahunya bergetar dan dia menangis tersedu-sedu.
Hendra meliriknya dengan ekspresi sakit hati, lalu menatapku dengan dingin dan berbicara dengan keras, “Dengan nyawa putriku Melisa, aku sumpah aku dan dia nggak pernah punya hubungan intim. Kami nggak berhubungan seks! Nggak berciuman! Kami bahkan nggak berpelukan!”
“Caroline, kamu terus ganggu dia, pertama kamu buat wajahnya terluka, sekarang kamu hina dia di depan umum. Kalau kamu terus gini, mending kita cerai saja!”
Tubuhku gemetar dan menatapnya dengan kaget.
“Apa katamu? Kamu bilang... Cerai?”
“Apa hakmu bilang cerai?”
Kerumunan orang yang menonton mulai berpendapat.
“Orang ini berani sumpah atas nama putrinya sendiri, jadi dia pasti nggak bohong. Kukira ini drama pukul selingkuhan, tapi ternyata istri sah yang ngamuk tak jelas!”
“Dia bahkan buat wajah gadis itu terluka? Lihat saja gimana dia jambak rambutnya. Pantesan suaminya mau ceraikan dia, dia kejam banget sih!”
“Pria ini tampak jujur dan setia, sepertinya dia benaran sangat terpaksa!”
Dalam keadaan linglung, aku lepaskan rambut Vianie, beberapa anak muda itu dengan cepat melindunginya dan menariknya menjauh dariku.
Di seberang kerumunan, Vianie perlahan angkat kepalanya menatapku.
Matanya penuh dengan sarkasme, penghinaan dan bahkan sedikit rasa kasihan.
Tiba-tiba, aku jadi tenang.
Sejak aku menemukan folder itu hingga saat ini, untuk pertama kalinya, aku benar-benar tenang.
Aku menoleh, menatap Hendra dan berbicara perlahan, “Nggak, aku nggak setuju cerai.”
Setidaknya.
Tidak sekarang.