Cinta Yang Terlambat Bersinar

Đang tải thông tin quảng bá...

Cinta Yang Terlambat Bersinar

GoodNovel Hoàn thành

Dia jatuh cinta pada teman ayahnya, seorang pria yang berusia dua belas tahun lebih tua darinya. Saat pertama kali bertemu, pria itu mengenakan setelan jas rapi, bahunya bidang dan pinggangnya ramping...

Chương (1)

第1章

Dia jatuh cinta pada teman ayahnya, seorang pria yang berusia dua belas tahun lebih tua darinya. Saat pertama kali bertemu, pria itu mengenakan setelan jas rapi, bahunya bidang dan pinggangnya ramping, jelas sosok yang paling mencolok di kerumunan. Sambil tersenyum, pria itu mengusap kepalanya dan memberinya sebuah gaun putri yang cantik. Saat usianya dua puluh tahun, pria itu menghadiri sebuah pesta dan tanpa sengaja diracuni. Gadis itu pun mengenakan gaun putrinya dan menyerahkan tubuhnya untuk menjadi penawar sang pria. Bab 1 Keesokan harinya, mereka berdua dipergoki Sabrina, sahabat masa kecil pria itu dengan pakaian yang masih acak-acakan. Sabrina seperti disambar petir, matanya memerah dan berlari keluar. Sayangnya, dia tertabrak truk yang kehilangan kendali dan tewas di tempat. Sejak itu, Luela merasa Jack seperti berubah menjadi orang lain. Jack sangat tenang, dia mengurusi pemakaman Sabrina, menikahi dirinya dan bahkan tidur bersamanya setiap malam. Jack juga berkata bahwa dirinya belum ingin punya anak, sehingga berulang kali menariknya untuk menggugurkan kandungan. Pada keguguran kedelapan belas, Luela mengalami pendarahan hebat. Saat terbaring lemah di meja operasi, dia mendengar dokter menelepon Jack. Dan jawaban pria itu tetap tenang, "Sudah mati? Kalau sudah mati baru kasih tahu aku." Seketika Luela pun sadar, Jack benci dengan dirinya. Jack benci karena dirinya berinisiatif menjadi penawar racunnya, benci karena dirinya secara tidak langsung telah membunuh Sabrina. Luela meninggal di atas meja operasi dengan penyesalan yang menghantui seluruh tubuhnya. Saat membuka mata lagi, dia mendapati dirinya terlahir kembali, tepat di hari ketika Jack diracuni ... Melihat pria yang biasanya dingin, angkuh dan tak tersentuh, kini terbaring di atas ranjang dengan beberapa kancing kemejanya terbuka dan ujung matanya tampak kemerahan, bagaikan bunga di puncak gunung yang akhirnya ditarik turun dari singgasananya. Hati Luela pun dipenuhi perasaan yang rumit. Di kehidupan sebelumnya, dia jatuh hati dengan pesona Jack yang seperti ini, hingga timbul keinginan yang tak bisa dibendung. Dia tak peduli bahwa pria ini adalah teman ayahnya, tak peduli dengan usia mereka yang berjarak dua belas tahun dan nekat menjadi obat penawar bagi pria itu. Namun, setelah itu, barulah dia sadar bahwa Jack dan Sabrina sebenarnya saling menyukai sejak lama. Hanya saja, belum sempat mereka mengungkapkan perasaan, dirinya sudah lebih dulu masuk ke dalam kehidupan pria itu. Mungkin karena takdir mengasihaninya, dirinya pun diberi kesempatan untuk terlahir kembali, tepat di hari yang menentukan nasib hidupnya ini! Di kehidupan kali ini, Luela hanya ingin melakukan satu hal, yaitu menyatukan Jack dan Sabrina. Tanpa ragu sedikit pun, dia langsung mengambil ponsel dari dalam tas dan menekan nomor Sabrina. Sepuluh menit kemudian, Sabrina pun tiba di tempat itu. Luela langsung menggenggam tangannya erat-erat dan berkata, "Aku tahu dia menyukaimu dan kamu juga menyukainya. Hanya saja, kalian belum ada kesempatan yang tepat untuk saling mengungkapkannya. Dia diracuni obat perangsang dan sangat membutuhkanmu sekarang. Ini kesempatan terbaik untuk menyatakan isi hati kalian." Saat menerima telepon tadi, Sabrina sudah agak curiga. Kini, setelah mendengar kata-kata Luela, ekspresi wajahnya semakin rumit, takut ini hanyalah jebakan. "Luela, apa yang lagi kamu rencanakan? Bukannya kamu suka dengan Jack? Dia lagi keracunan sekarang, bukannya manfaatin situasi ini, kok malah panggil aku ke sini? Dan bahkan menyatukan kami?" Luela hanya tersenyum getir mendengarnya. Memang benar, Luela sedang mengejar Jack dan semua orang tahu itu. Dulu, dia pikir selama dirinya berusaha, dirinya bisa menembus jurang perbedaan usia dan status mereka. Tapi kini dia sadar, selama Jack tidak mencintainya, sebanyak apapun dirinya berkorban, akhirnya tetap hanya akan merasakan pahitnya hidup. Di kehidupan lalu, dirinya benar-benar salah besar. Luela menggeleng pelan dan menjawab, "Sudah nggak suka lagi. Mulai sekarang, aku nggak akan menyukainya lagi." Usai bicara, langsung terdengar suara erangan dari dalam kamar. "Dia sudah hampir nggak tahan. Kalau kamu nggak masuk sekarang, bisa terlambat." Sabrina menoleh ke arah kamar mengikuti arah pandangan Luela, terlihat ada keraguan yang melintas dari tatapannya. Akhirnya, setelah berpikir sejenak, Sabrina seolah mengambil keputusan, "Kalau begitu, apain kamu di sini? Mau dengar pertunjukannya langsung?" Tubuh Luela sedikit menegang, lalu menyerongkan badan untuk memberi jalan pada wanita di depannya. Begitu tangan Sabrina menyentuh wajah Jack, Luela pun langsung menutup rapat pintu kamar tanpa ragu. Detik berikutnya, terdengar samar suara erangan pria dan desahan wanita dari balik pintu tebal itu, sangat menyayat telinga Luela. Gelombang suara itu bagaikan palu besar yang menghantam hatinya, menghancurkannya menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak terbentuk lagi. Luela seperti kehilangan seluruh tenaga, tubuhnya terjatuh pelan ke lantai. Air matanya menetes tanpa bisa dihentikan. Tapi entah kenapa, dia justru merasa lega. Akhirnya, dia bisa lepas dari takdir kehidupannya yang dulu. Dengan tangan gemetar, dia menyeka air mata yang mengalir di wajahnya, lalu bangkit dan berjalan tertatih menuju kamarnya. Malam itu, dua orang di kamar sebelah bebas melepaskan hasrat. Dan Luela tak bisa tidur sepanjang malam. Saat pagi menyingsing, panggilan telepon dari ayahnya pun masuk. "Ela, kamu mau ikut tinggal di luar negeri dengan ayah?" Beberapa tahun lalu, Grup Salim berencana mengembangkan usahanya ke pasar internasional. Ayah Luela berangkat sendiri ke luar negeri dan karena tak bisa mengurus putrinya langsung, dia menitipkan Luela pada Jack, sahabatnya. Titipan ini berlangsung selama beberapa tahun. Kemudian, Luela malah jatuh cinta pada Jack. Oleh karena itu, meskipun bisnis keluarganya sudah stabil di luar negeri, Luela selalu menolak ajakan ayahnya yang sudah berkali-kali mengajaknya untuk menyusul ke luar negeri. Kini, Jack dan Sabrina akhirnya bersama. Sudah waktunya dirinya pergi dan menjalani hidupnya sendiri. Memikirkan itu, Luela menarik napas dalam. "Ayah, aku mau ikut ke luar negeri denganmu." Mendengar jawaban itu, suara ayahnya terdengar sangat terkejut dan emosional di balik ponsel, "Putriku sayang, akhirnya kamu sadar juga. Ayah sudah bilang dari dulu, Jack itu bukan orang yang cocok untukmu. Kamu terlalu memaksakannya, itu nggak akan ada hasilnya. Jatuh cinta itu nggak masalah, asal dengan orang yang tepat. Ayah sudah siapkan calon tunangan yang seumuran denganmu. Nanti setelah sampai di sini, kalian bisa saling kenal dan coba jalani hubungan dulu, nggak ada salahnya." Kata-kata ayahnya membuat mata Luela yang sudah bengkak kembali berkaca-kaca. Di kehidupan lalu, ayahnya juga pernah menasihatinya begitu. Tapi, dirinya bersikeras menolak dan akhirnya menyia-nyiakan hidupnya sendiri. Dia mengepalkan tangan erat dan tersenyum kecil. "Aku bakal ikuti semua arahanmu, ayah. Aku langsung urus surat pindahnya ke imigrasi nanti." Bab 2 Setelah menutup telepon, Luela buru-buru menyeka air matanya. Dia mengambil dokumen-dokumennya dan bersiap untuk pergi. Namun, begitu pintu kamar dibuka, dia justru berpapasan langsung dengan pria yang berdiri di depan kamarnya. Leher Jack dipenuhi bekas ciuman yang terlihat jelas di mata Luela. Meski dirinya sudah menyiapkan hati untuk kenyataan bahwa Jack dan Sabrina sudah melewati malam bersama, saat melihat itu langsung, Luela tetap tak kuasa menahan diri. Dia pun mengalihkan pandangannya. Gerakan kecil itu jelas tak luput dari pandangan Jack. Ditambah dengan matanya yang tampak kemerahan, pria itu pun langsung mengerti. Nada suaranya dingin, tapi kini terselip peringatan, "Luela, suka nggak suka, aku dan Sabrina sudah bersama." "Aku bakal menikahinya. Jadi, selama kamu masih tinggal di rumah ini, kamu harus menghormatinya. Jangan pernah ulangi hal-hal konyol seperti dulu lagi." Luela menunduk, lalu menjawab dengan tenang, "Iya, Om Jack." Seketika, panggilan Om Jack terdengar begitu asing di telinga Jack. Dia menunduk, menatap wajah gadis di hadapannya. Dia bahkan sudah lupa kapan terakhir kali gadis itu memanggilnya dengan sebutan itu. Dulu, saat Luela baru pindah ke rumahnya, dia selalu memanggilnya, "Om Jack" dengan manis. Namun setelah perasaannnya berubah, Luela mulai memanggil langsung nama pria itu dan tak pernah memanggilnya om. Jack mengernyit, baru saja mau berbicara, tetapi suara perempuan dari belakang memecah keheningan yang tegang di antara mereka. "Jack, aku sudah bawa koperku. Aku tidur di kamar yang mana?" Jack langsung tersadar kembali dan merangkul Sabrina yang berjalan mendekat. Dengan lembut, Jack menjawab, "Kamu suka kamar yang terang, kebetulan pencahayaan kamar Luela paling bagus. Aku suruh dia pindah ke kamar tamu saja, biar kamu bisa tinggal di sini." Sabrina tampak tersenyum puas, tetapi dia tetap berpura-pura sungkan, "Aduh, jadi nggak enak hati dengan Ela." "Ela yang lebih dulu tinggal di sini, aku yang seharusnya tinggal di kamar tamu." Usai bicara, Sabrina pun hendak berjalan turun ke lantai bawah, tetapi tiba-tiba dia berteriak kecil. Jack menariknya kembali dan memeluknya lagi, berkata, "Kamu itu calon istriku, bakal jadi nyonya di rumah ini. Masa iya kamu tidur di kamar tamu?" "Tapi Ela sudah lama tinggal di kamar ini, kalau tiba-tiba disuruh pindah, apa dia nggak keberatan?" Mendengar itu, Jack melirik ke arah gadis yang berdiri di depan pintu dan berkata, "Kenapa harus keberatan? Dia juga harus mulai terbiasa, terbiasa kalau aku bakal menikah, terbiasa ada nyonya baru di rumah ini dan terbiasa dengan kenyataan bahwa dia itu hanyalah orang luar." Bulu mata Luela bergetar halus, lalu tersenyum tipis penuh kepedihan. Orang luar ... Benar juga, dirinya memang orang luar. Luela menarik napas pelan dan menjawab, "Aku kemas barang sekarang juga dan pindah ke kamar tamu." Lagipula, dia juga bakalan pergi sebentar lagi, kembali ke sisi ayahnya. Dia tidak akan pernah mau kembali dan menginjak tempat ini lagi. Tempat ini adalah rumah milik Jack dan Sabrina. Beberapa hari berikutnya, Luela sibuk bolak-balik ke kedutaan untuk mengurus dokumen pindahnya. Dia sengaja pergi pagi-pagi dan pulang larut malam, hanya demi tak bertemu dengan Jack. Namun, sekeras apapun usahanya menghindar, Luela tetap harus menyaksikan secara langsung kemesraan Jack dan Sabrina. Saat Sabrina kurang nafsu makan, Jack rela mengeluarkan banyak uang untuk mendatangkan berbagai koki ternama ke rumah demi memasakkan makanan untuknya. Saat Sabrina merasa kurang enak badan, Jack bahkan membatalkan kontrak kerja sama bernilai triliunan demi menemani Sabrina sepenuh hati di rumah. Saat Sabrina menyebutkan sebuah perhiasan secara spontan, tak sampai sepuluh menit, perhiasan itu sudah ada di tangan dan diberikan untuknya. Luela hanya menyaksikan semuanya dalam diam, tanpa membuat keributan. Sambil menunggu proses pemindahannya selesai, dia mulai membereskan barang-barangnya. Dia terlebih dulu mengemas koper, lalu mengumpulkan semua surat cinta dan sketsa-sketsa yang dulu dia buat untuk Jack, memasukkannya ke dalam sebuah kotak dan membawanya keluar untuk dibuang. Namun, begitu sampai di depan pintu, dia malah bertemu dengan Jack yang baru saja pulang membawa kue untuk Sabrina. Luela berpura-pura tak melihatnya. Tanpa menoleh sedikit pun, dia melangkah ke luar. Namun detik berikutnya, Jack menahan tangannya dan pergelangannya terasa sakit. "Kamu sengaja menghindariku beberapa hari ini?" Bab 3 Luela mengernyitkan dahi, "Aku nggak menghindar." Jack melangkah mendekat, memperhatikan ekspresi canggung yang berusaha Luela sembunyikan, "Masih bilang nggak? Setiap hari keluar pagi dan pulang malam, lihat aku pun langsung pergi tanpa menyapa. Itu bukan menghindar?" "Kenapa? Karena aku sudah bersama Sabrina sekarang?" Luela buru-buru menggeleng dan menjawab, "Bukan! Om Jack bisa bersama orang yang kamu cintai itu hal yang membahagiakan, aku juga ikut senang. Aku tulus mendoakan kalian agar menjadi pasangan yang berbahagia. Tenang saja, aku sudah sadar kalau kamu nggak akan pernah menyukaiku, jadi aku pun sudah nggak menyukaimu lagi." Nada bicaranya tenang, seolah hanya menyampaikan sebuah kenyataan yang sudah diterima. Tapi, raut wajah Jack malah memuram, kata-kata itu seolah terasa menyakitkan di telinganya. Luela tidak menyukainya? Itu hal paling tidak masuk akal yang pernah dirinya dengar. "Pernyataan cintamu, kutolak. Semua usahamu mengejarku, juga kutolak. Jadi, sekarang kamu ganti cara buat menarik perhatianku?" Sambil berbicara, Jack mengamati ekspresi Luela. Saat melihat keterkejutan yang jelas di wajah gadis itu, keyakinannya semakin kuat. Langkahnya semakin mendekat. Begitu melihat kotak di pelukan Luela, nada suaranya semakin dingin, "Nggak suka denganku lagi? Tapi masih tulis begitu banyak surat cinta dan melukis wajahku diam-diam? Mengejarku bertahun-tahun dan sekarang bilang nggak suka lagi, sebegitu mudah?" "Luela, kamu sendiri nggak merasa kata-katamu itu konyol?" Luela menatap pria di depannya Tentu saja Luela tahu kata-katanya terdengar konyol, seperti cerita anak gembala yang terus-menerus berbohong tentang datangnya serigala, tak ada lagi yang mau percaya. Meskipun konyol, itulah kenyataannya. "Om Jack, aku memang sudah menyukaimu lama, tapi kamu juga nggak akan pernah membalas perasaanku. Jadi, aku benar-benar sudah menyerah." Usai bicara, Luela membuka kotak itu di depan Jack, dia mengeluarkan semua isi di dalamnya. Kemudian, surat cinta dan sketsa wajah Jack disobek satu per satu hingga hancur. Potongan-potongan kertas berterbangan di udara. Bukannya terlihat senang, wajah Jack justru semakin muram. Saat Luela sempat ragu apakah dirinya salah melihat, suara dingin Jack pun terdengar, "Pura-pura saja terus, silakan. Luela, ingat baik-baik, apapun caramu, orang yang aku cintai hanyalah Sabrina!" Sejak hari itu, Luela dan Jack tidak berbicara satu sama lain lagi. Luela merasa tak ada lagi yang perlu dikatakan, sementara Jack menganggap semua itu hanyalah strategi tarik ulur dan dia pun tak ingin menanggapinya. Situasi canggung itu terus berlanjut hingga perjamuan makan malam Keluarga Tosa. Dulu, di acara seperti ini, Luela selalu jadi pusat perhatian karena disukai orang tua Jack. Selalu ada saja yang menanyakan kabarnya dan biasanya hanya Jack yang bisa menyelamatkannya dari kehebohan keluarga. Namun sekarang, semua perhatian tertuju pada Sabrina. Bagaimanapun, dialah calon nyonya besar Keluarga Tosa, sedangkan Luela ... hanyalah orang luar. Mereka tahu siapa yang lebih penting dan siapa yang tidak. Di pagi yang sesingkat ini, Luela sudah bisa melihat jelas betapa besar perhatian Keluarga Tosa terhadap Sabrina. Begitu Sabrina datang, gelang giok warisan keluarga langsung dipasangkan di pergelangan tangannya oleh ibu Jack. Dan Luela bahkan belum pernah melihat gelang itu. Saat perjamuan dimulai, Keluarga Tosa langsung membicarakan tanggal pernikahan mereka. Acara tersebut pun berakhir dengan ditetapkannya tanggal pernikahan mereka. Saat Luela hendak pulang bersama Jack, tiba-tiba ibu Jack memanggilnya dan katanya ingin bicara secara pribadi. Begitu masuk ke ruang kerja, tanpa berbasa-basi, ibu Jack langsung berkata, "Ela, lebih baik kamu menjauh dari Jack." "Kamu tahu sendiri kalau dia sudah bersama Sabrina. Kalau tetap tinggal di sini hanya akan membuat masalah dan mempermalukan dirimu sendiri, apa gunanya?" Kata-kata tajam itu tak menyisakan simpati sedikit pun. Luela hanya bisa merasakan keperihan yang menyesak di dada. Dulu, ibu Jack sangat menyayanginya. Tapi, semua itu berakhir di hari saat dirinya menyatakan cinta pada Jack. Sejak saat itu, semua orang menganggapnya konyol dan menjauh darinya. Luela mengepal erat telapak tangannya dan menjawab, "Tenang saja, aku bakalan pergi." Usai menjawab, Luela mengeluarkan dokumen pindahan dari tasnya dan menyerahkannya pada ibu Jack. "Beberapa hari lalu aku sudah telepon dengan ayahku. Aku bakal tinggal bersamanya di luar negeri. Ayahku bahkan sudah mencarikan calon suami untukku. Aku janji akan menjauh dari Om Jack dan nggak akan mengganggunya lagi." Barulah setelah memeriksa dokumen itu dengan saksama, ekspresi ibu Jack sedikit melunak. "Sebaiknya kamu menepati ucapanmu." Begitu ibu Jack pergi, barulah Luela merasa lega. Dia memasukkan kembali dokumen itu ke dalam tas dan bersiap pergi. Namun, begitu dia berdiri, pandangannya langsung berpapasan dengan tatapan Jack yang berdiri di depan pintu. "Kamu mau menjauhi siapa?" Seketika, Luela panik. Dia tidak tahu sejauh mana Jack mendengar percakapan tadi, tapi nalurinya mengatakan satu hal, jangan sampai Jack tahu tentang rencana kepergiannya. Jadi, Luela hanya menggeleng dan menjawab, "Nggak ada, kamu salah dengar." Setelah itu, dia langsung menghindari tatapannya dan hendak pergi. Tapi, suara dingin Jack kembali terdengar, "Aku tahu kamu nggak mau pergi ke luar negeri. Setelah aku menikah dengan Sabrina nanti, kamu juga nggak perlu pindah dari sini. Aku sahabat ayahmu, aku bisa menafkahimu seumur hidup." Ucapan itu membuat mata Luela membelalak, bahkan Sabrina yang datang mencari Jack pun terpaku di tempat. Hingga tatapan penuh kebencian Sabrina tertuju padanya, barulah Luela tersadar dan buru-buru pergi dari sana. Bab 4 Luela tidak peduli sama sekali dengan perkataan Jack hari itu. Dia hanya diam-diam menunggu proses imigrasinya cepat selesai, lalu bisa pergi menjauh. Namun, Sabrina enggan membiarkannya begitu saja. Hari itu, Sabrina bersikap sangat ramah dan memaksa Luela keluar untuk berbelanja. Namun, tak lama setelah naik mobil, tiba-tiba Luela merasa pusing dan pingsan. Saat membuka mata lagi, dia sadar dirinya terikat di sebuah tebing pinggir laut. Di sampingnya, Sabrina juga terikat dengan posisi yang sama. Luela berusaha keras meronta dan ingin bertanya mengapa, tetapi mulutnya terlakban dan suaranya hanya terdengar seperti erangan pelan. Sabrina tampaknya bisa menebak pertanyaannya. Dia hanya tersenyum dingin dan berkata, "Luela, aku juga nggak mau menculikmu." "Tapi sejak Jack bicara begitu, aku merasa nggak tenang. Jadi, aku hanya mau tahu ... siapa yang lebih penting baginya." Mendengar itu, hati Luela diliputi rasa getir. Apalagi yang perlu dibuktikan? Bukankah jawabannya sudah jelas? Tak lama kemudian, Jack datang tergesa-gesa sambil membawa dua koper uang tunai sesuai dengan pesan penculik. Dia melempar koper ke depan dan berteriak, "Uangnya sudah kubawa, cepat lepaskan mereka!" Namun, penculik yang sudah menerima instruksi Sabrina tak bergeming. Dia malah berkata santai, "Pak Jack, aku menculik mereka bukan untuk uang." Ekspresi wajah Jack berubah, suaranya juga berubah dingin, "Apa maksudmu?" Penculik itu meletakkan tangannya di bahu Luela dan Sabrina, sambil menyeringai jahat. "Dengar-dengar yang satu ini anak sahabatmu dan yang satu lagi tunanganmu. Kamu hanya boleh selamatkan satu orang dan yang satu lagi bakal kulempar ke laut buat jadi makanan hiu. Cepat pilih!" Begitu kata-kata itu diucapkan, penculik pun melonggarkan tali ikatan mereka sedikit. Keduanya terlihat jelas nyaris terjatuh ke laut di bawah. Sabrina langsung pucat dan berseru gemetaran, "Jack! Selamatkan aku! Aku nggak mau mati!" Seketika Jack galau dan langsung berseru, "Jangan sentuh Sabrina!" Jawabannya pun muncul. Penculik tersenyum puas. Sabrina yang semula berpura-pura ketakutan, kini akhirnya bernapas lega. Dia berpura-pura tersentuh, menatap Jack dengan penuh haru. Namun Jack justru menoleh ke arah Luela. Jack kira Luela akan panik, histeris dan putus asa. Tapi, wajah gadis itu justru tenang. Entah kenapa, melihat ekspresinya yang sedingin itu, hati Jack justru merasa tak tenang. Belum sempat dia berbicara lagi, tiba-tiba Sabrina yang sudah dibebaskan langsung memeluknya dengan penuh emosi. Jack reflek memeluknya dengan erat dan memanggilnya, "Sabrina ... " Namun, di detik berikutnya, matanya membelalak, karena tali Luela juga ikut terputus. Tubuhnya langsung terjun bebas ke laut! "Byur!" Air laut menyelimuti seluruh tubuh Luela dan menariknya ke kedalaman laut. Luela berusaha sekuat tenaga berenang ke permukaan, tapi rasa lelah perlahan-lahan membungkus seluruh tubuhnya. Tatapannya mulai meredup, hingga akhirnya tak sadarkan diri. Ketika Luela kembali membuka mata di rumah sakit, yang pertama dia lihat adalah Jack yang duduk di samping ranjangnya. Mata pria itu memerah dan dagunya dipenuhi cambang tipis, menandakan bahwa dirinya sudah menjaga Luela berhari-hari. Namun, semua itu sudah tak berarti bagi Luela. Keduanya saling bertatapan dalam diam. Akhirnya, Luela yang memecah keheningan, "Om Jack, kamu nggak perlu menjagaku. Pergilah jenguk Sabrina, dia lebih butuh perhatianmu." Mungkin merasa ucapannya kurang tepat, dia pun menambahkan, "Aku bisa menjaga diriku sendiri." Jack terdiam. Dia menatap gadis itu cukup lama, lalu berdiri dan pergi. Hari Luela keluar dari rumah sakit bertepatan dengan hari ulang tahun Sabrina. Karena ini ulang tahun pertama mereka sebagai pasangan, Jack mengadakannya secara besar-besaran. Sepuluh ribu kuntum mawar dikirim langsung dari luar negeri memenuhi tempat acara. Hadiah-hadiah mahal bertumpukan di sudut ruangan. Foto-foto romantis mereka dipajang dari pintu masuk hingga ke ruangan. Di tengah letusan kembang api yang memenuhi langit, pesta pun mencapai puncaknya. Jack merangkul erat pinggang Sabrina dan menari anggun bersamanya mengikuti alunan musik di tengah lantai dansa. Di layar besar belakang, video momen manis mereka diputar berulang-ulang. Namun, saat semua tamu sedang larut dalam kebahagiaan mereka, tiba-tiba layar menjadi hitam. Lalu muncul surat-surat cinta dan sketsa yang tampak dibuat dengan penuh perasaan. Cinta Luela terhadap Jack terpampang jelas di hadapan semua orang! Itu menggemparkan seluruh ruangan! Luela memandangi layar itu, wajahnya langsung pucat! Padahal semua surat dan sketsa itu sudah dia hancurkan, bagaimana bisa muncul di sana? Dia ingin berlari dan mematikan layar itu, tapi kakinya terasa seakan terpaku, tak bisa bergerak sama sekali. Dia hanya bisa pasrah mendengarkan bisikan-bisikan di sekelilingnya! "Pak Jack bahkan sudah mau menikah, gadis itu masih belum menyerah juga? Memalukan!" "Padahal ini ulang tahunnya Nona Sabrina, dia malah sengaja buat masalah?" "Kasihan sekali Nona Sabrina... meski sudah menikah, masih saja ada yang mengincar suaminya ... " Suasana mulai ricuh, sampai akhirnya Jack dan Sabrina juga memperhatikan layar. Begitu melihatnya, wajah Sabrina langsung menjadi pucat. Dia gemetaran dan menatap ke arah sumber masalah. Matanya memerah, menggenggam gaunnya dan berlari keluar ruangan. "Sabrina!" Jack panik dan hendak mengejar. Tapi, saat melihat Luela yang masih kaku berdiri di tempat, langkahnya terhenti. "Plak!" Suara tamparan keras menggema dan seluruh ruangan langsung hening. "Luela, pantas saja kamu jadi begitu patuh akhir-akhir ini, ternyata ini yang kamu rencanakan?!" Bab 5 Tamparan itu begitu keras hingga langsung menjatuhkan Luela. Pipinya langsung merah dan bengkak, bahkan darah juga menetes dari sudut bibirnya! Suara di sekitarnya menghilang, telinganya terasa berdengung. Dia tak bisa mendengar apa-apa, tak bisa melihat apa-apa. Dengan tangan gemetar, dia meraba wajahnya. Begitu jari menyentuh bekas tamparan, air mata langsung mengalir deras dari matanya. Ini pertama kalinya Jack menamparnya. Belum sempat dirinya bereaksi, sosok pria itu sudah menghilang di ambang pintu. Luela menarik napas dalam-dalam, lalu cepat-cepat bangkit dan mengejarnya. Dia takut, takut kalau Sabrina akan mengalami kejadian tragis seperti kehidupan sebelumnya. "Gubraakkk!" Guntur bergemuruh, lalu hujan deras mengguyur seisi dunia. Di tengah hujan, seorang pria bertubuh tinggi memeluk erat seorang wanita mungil dalam pelukannya. Sabrina terus berusaha melepaskan diri, suaranya penuh putus asa, "Hari ini hari paling penting dalam hidupku, tapi dia malah melakukan hal seperti itu. Bagaimana aku bisa tetap di sana? Kalau dia masih belum bisa melupakanmu, aku juga nggak mau berebut dengannya. Mending aku balikin kamu ke dia saja ... " Namun, Jack malah memeluknya semakin erat dan menjawab, "Nggak, Sabrina. Aku nggak akan pernah jatuh cinta padanya. Kamu tahu sendiri, sudah berapa lama aku menyukaimu. Kamu malah mau buang aku ke orang lain? Itu sama saja menyayat hatiku." Usai bicara, Jack menunduk dan hendak menciumnya. Tapi di saat itu juga, cahaya lampu mobil dari kejauhan menyinari mereka. Luela yang baru saja mengejar keluar hanya bisa menyaksikan darah yang berceceran di mana-mana. Tubuhnya langsung membeku! Di ruang UGD, lampu merah menyala. Tim medis dengan cekatan memasangkan alat-alat ke tubuh Jack untuk menyelamatkannya. Namun, Jack malah tidak peduli dengan lukanya sendiri dan bersikeras agar mereka menyelamatkan Sabrina lebih dulu. "Pak Jack, lukamu lebih parah." Dengan suara lemah dan bergetar, dia menjawab, "Jangan pedulikan aku, selamatkan dia dulu ... " Akhirnya dokter membawa Sabrina yang tak sadarkan diri masuk ke ruang operasi. Namun, tak lama kemudian, seorang dokter berlari keluar dan berkata, "Pasien pendarahan hebat! Siapa di sini yang bergolongan darah A?!" Tanpa pikir panjang, Jack bangkit dari ranjang, meski sudah dicegah oleh perawat. "Aku! Ambil darahku!" "Tapi, Pak Jack ... " "Diam! Cepat ambil darahku!" Kantong demi kantong darah merah segar mulai memenuhi nampan medis, sementara wajah Jack semakin pucat. Setelah memastikan kondisi Sabrina stabil, barulah dia mau dibaringkan dan dibawa ke ruang operasi. Luela tak sanggup melihatnya lagi. Dia berbalik dan pergi. Dia tahu Jack mencintai Sabrina, bahkan mencintainya melebihi nyawanya sendiri. Andai di kehidupan sebelumnya, dia menyadari itu lebih awal, mungkin nasibnya tak akan seburuk itu. Sekarang, meski jalan hidupnya berbeda, Sabrina tetap mengalami kecelakaan. Dan semua ini berawal dari surat cinta dan sketsa yang dibuatnya dulu. Padahal dia benar-benar tak tahu bagaimana benda-benda itu bisa tersebar. Bukankah dirinya sudah merobek semuanya? Jika dipikir kembali, satu-satunya orang yang bisa menyimpannya diam-diam dan menyebarkannya hanyalah ... Sabrina. Tapi kenapa? Bukankah dia sudah bersama dengan Jack? Luela tak mengerti dan juga tak berani terlalu memikirkannya. Selama tiga hari penuh kebingungan di rumah, akhirnya Jack keluar juga dari rumah sakit. Begitu dia kembali, hal pertama yang dia lakukan adalah memerintahkan pengawal untuk memasukkan Luela ke dalam ruang pendingin. Begitu dilempar masuk, hawa dingin langsung membekukan seluruh tubuh Luela. Melihat sekeliling yang serba putih dan dingin, Luela hanya bisa tersenyum pahit. Dia bahkan tak ingat lagi kapan terakhir kali dirinya benar-benar merasa kedinginan. Sejak kecil, setelah insiden jatuh ke danau es, tubuhnya jadi sangat lemah dan mudah menggigil. Itulah kenapa vila selalu dihangatkan, menciptakan suasana musim semi sepanjang tahun. Dan sekarang, Jack malah memilih cara ini untuk menghukumnya. Menghukumnya masih menyimpan perasaan pada Jack dan secara tak langsung mencelakai Sabrina. Secara reflek, Luela meringkukkan tubuhnya, berharap bisa mendapat sedikit kehangatan. Tapi semua itu sia-sia, yang keluar darinya hanyalah isakan pelan dan berat. Dari luar, seorang pembantu tak tega melihatnya dan membujuk dengan suara pelan, "Nona Ela, sebaiknya kamu minta maaf saja dengan Pak Jack. Tubuhmu lemah, nggak mungkin bisa bertahan di tempat ini ... " Tiba-tiba, mata Luela berkaca-kaca. Di kehidupan sebelumnya, itu memang salahnya, jadi dia terima. Tapi sekarang, dia tak merasa salah. Jadi, kenapa harus minta maaf? Lagipula, hati Jack sudah sepenuhnya milik Sabrina. Jack tak akan mau mendengarkan penjelasan apapun darinya. Angin dingin terus menerpa dari segala arah, hingga bulu matanya pun mulai tertutup lapisan es tipis. Detak jantungnya semakin lambat, pikirannya juga semakin kabur ... Hingga akhirnya, dia perlahan menutup mata dan benar-benar kehilangan kesadaran. Bab 6 Saat membuka mata lagi, Luela menyadari dirinya sudah berada di atas ranjang kamarnya, sementara Jack berdiri di samping ranjang dengan ekspresi sedingin es. "Kamu sudah buat masalah sebesar ini, sebenarnya aku mau mengurungmu tiga hari tiga malam. Tapi karena Sabrina orangnya berhati lembut dan memohonku untuk membebaskanmu, makanya kamu bisa keluar." "Aku tahu kamu masih belum bisa melepaskanku, tapi dengarkan baik-baik, aku nggak mungkin suka dengan gadis kecil yang umurnya dua belas tahun lebih muda dariku. Kita nggak akan mungkin bersama." Usai bicara, pintu kamar langsung dibanting tertutup tepat di depan mata Luela. Suara kerasnya menenggelamkan semua kata yang ingin dijelaskan. Luela bersandar di kepala ranjang, menutup mata, menghela napas panjang, lalu berbisik pelan, "Jack, aku benar-benar ... sudah nggak menyukaimu lagi." Beberapa hari setelah itu, rumah Jack menjadi sangat ramai. Semua orang sibuk mempersiapkan pernikahan Jack dan Sabrina yang akan segera digelar. Sabrina terlihat sangat bersemangat mengatur semuanya, sambil menggandeng tangan Luela dengan penuh semangat, seolah semua kejadian tak menyenangkan sebelumnya sudah dilupakan. "Tempat dan dekorasinya sudah hampir siap, tinggal kurang pendamping pengantin wanita. Menurutku Ela cocok sekali, biar kecipratan keberuntungan juga. Siapa tahu nanti bisa berjodoh dengan pendamping pengantin pria." Di akhir kalimat, nada bicara Sabrina terdengar sedikit bercanda. Luela yang tidak sehebat Sabrina dalam berakting, langsung menarik tangannya dari pelukan Sabrina dan hendak menolak. Tapi belum sempat menolak, langsung terdengar suara laki-laki yang dingin dari atas kepala mereka. "Dia nggak boleh jadi pendampingnya." Luela dan Sabrina menoleh bersamaan dan melihat Jack berdiri di belakang mereka. "Kenapa?" tanya Sabrina yang terlihat agak heran dengan penolakannya. Jack tidak menjawab langsung, hanya menatap Luela sejenak. Belakangan ini, Luela memang terlihat lebih penurut dan sudah tidak terus menempel padanya. Namun, begitu terpikir kalau nanti Luela akan punya pacar, entah kenapa, hati Jack terasa sesak dan tidak nyaman. Apa alasannya? Sebenarnya Jack sendiri juga tak tahu. Jack menunduk, hendak mencari alasan seadanya. Belum sempat dia beralasan, Luela sudah lebih dulu buka suara. "Usiaku lebih kecil, rasanya kurang pantas kalau jadi pendamping pengantin." Sebenarnya, karena dirinya akan pergi ke luar negeri sebentar lagi. Dia memang tidak ditakdirkan hadir ke pernikahan ini. Mendengar itu, Jack langsung mengangguk mengiyakan dan Sabrina pun akhirnya mengurungkan niatnya. Saat Luela merasa lega dan hendak beranjak pergi, tiba-tiba terdengar suara Sabrina lagi, "Kalau Ela nggak bisa jadi pendampingnya, bagaimana kalau kamu kasih gaun pengantin yang dulu kamu desain itu ke aku saja? Anggap saja sebagai bentuk restu, soalnya aku suka sekali." Mendengar itu, Jack spontan menoleh ke arah Luela. Gaun itu adalah hasil desain Luela saat usianya 18 tahun, bahkan sempat memenangkan penghargaan dalam sebuah kompetisi. Banyak orang kaya yang ingin membelinya untuk dipakai di hari pernikahan, tapi semuanya ditolak Luela. Karena gaun itu dibuat untuk dirinya sendiri. Luela ingin memakai gaun itu saat menikah dengan Jack. Jack tahu betapa pentingnya gaun itu bagi Luela, tapi dia juga tak ingin membuat Sabrina kecewa, akhirnya dia tetap berkata, "Luela, selama kamu mau jual gaun itu ke aku, aku bakal penuhi apapun permintaanmu." Luela hanya tersenyum tipis dan menjawab, "Nggak perlu, benar yang Kak Sabrina bilang, aku juga harus berbuat sesuatu sebagai bentuk restuku untuk kalian. Jadi, anggap saja gaun itu sebagai hadiah pernikahan dariku untuk kalian." Usai bicara, Luela pun langsung menelepon butik tempat gaun disimpan. Tak lama kemudian, staf dari butik datang mengantarkan gaun tersebut langsung ke tangan Sabrina. Sabrina yang menerima gaun impiannya pun tak lagi punya alasan untuk mempersulit Luela. Dengan senang hati, dia langsung masuk ke ruang ganti untuk mencobanya. Luela hanya memandangi punggungnya dengan tenang, lalu tanpa ekspresi kembali ke kamarnya. Hanya Jack yang menatap kepergian Luela cukup lama, bahkan sampai larut dalam pikirannya sendiri. Menjelang tengah malam, Luela duduk sendiri di kamarnya, membereskan koper. Semua barangnya sudah hampir beres dikemas dan dokumen juga hampir selesai. Tak lama lagi, dirinya sudah bisa pergi. Baru saja menyembunyikan kopernya dan hendak tidur, tiba-tiba pintu kamarnya didobrak dengan keras. Belum sempat bereaksi, Jack sudah menerobos masuk dan mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat, lalu langsung memarahinya tanpa ampun, "Apa yang kamu lakukan dengan gaun itu?!" "Sabrina baru coba sebentar, langsung gatal-gatal dan muncul ruam! Kamu mau mencelakainya lagi?!" Di bawah cahaya lampu kuning yang redup, tatapan marah jack bagaikan pisau tajam yang seakan siap mengiris tubuhnya. Luela buru-buru menggeleng dan menjelaskan, "Aku sama sekali nggak menyentuh gaun itu dan nggak mungkin lakukan sesuatu pada gaun itu! Aku juga nggak ada alasan untuk sakiti dia!" Wajah Jack semakin muram. Tiba-tiba, dia mendorong Luela ke ranjang, tatapannya sangat tajam dan suaranya penuh amarah. "Nggak ada alasan? Aku tahu kamu masih belum bisa melupakanku, tapi kau nggak seharusnya menyakiti Sabrina! Sebaiknya kamu berdoa agar dia nggak apa-apa, kalau nggak ... " Belum selesai Jack bicara, Bibi Siti sudah berlari masuk. "Pak Jack! Gawat! Nona Sabrina pingsan!" "Awasi dia! Jangan sampai dia kabur!" Ekspresi wajah Jack langsung berubah drastis. Usai bicara, dia segera berlari keluar kamar dengan panik. Bab 7 Sepanjang malam, rumah Jack dipenuhi cahaya terang. Luela duduk gelisah di sofa, kukunya menancap dalam ke telapak tangan hingga berdarah. Namun, dia seperti tak merasakannya, hanya menatap lurus jam dinding di hadapannya. Dia menyaksikan jarum jam bergerak dari tengah malam pukul dua belas hingga pukul tujuh pagi. Tepat saat jam berdentang menunjukkan pukul tujuh, terdengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari luar menuju ke dalam rumah. Tatapan Jack tampak muram dan tajam, dipenuhi amarah. Begitu melihatnya, bulu kuduk Luela langsung meremang, hawa dingin menjalar dari telapak kaki ke seluruh tubuhnya. Jack menerima cambuk dari tangan Bibi Siti, lalu melangkah perlahan ke arahnya. "Luela, kamu tahu nggak, bayi dalam kandungan Sabrina hampir saja kehilangan nyawa." Bayi? Sabrina hamil? Setelah tertegun sesaat, Luela pun langsung sadar kembali. Benar, di kehidupan sebelumnya, dirinya juga hamil di waktu seperti ini. Di kehidupan ini, dirinya yang mendorong Sabrina untuk menjadi penawar racun Jack, jadi wajar saja kalau yang hamil adalah Sabrina. Luela tak sempat berpikir lebih jauh, hanya bisa menatap Jack yang kini bahkan rela memakai hukum keluarga demi membela Sabrina. Mata Luela berkaca-kaca, tetapi tetap berusaha menjelaskan, "Aku nggak menyentuh gaun itu, apalagi menyakitinya. Dari penculikan, surat cinta aneh saat pesta, sampai masalah gaun hari ini, kamu nggak curiga sama sekali? Kalau aku memang mau menjebaknya, mana mungkin semuanya berjalan lancar terus-terusan?" Luela kira setelah bicara seperti itu, Jack yang selalu logis akan sadar ada banyak kejanggalan. Namun, Jack yang kini dikuasai emosi justru berkata dengan dingin, "Jadi, maksudmu semua ini ulahnya Sabrina? Aku mencintainya, aku juga akan menikahinya, apa alasan dia menjebakmu?" Luela pun tak tahu harus menjawab apa, "Aku ... nggak tahu ... " Belum selesai bicara, Luela sudah menjerit kesakitan. Cambuk di tangan Jack sudah mendarat keras di tubuhnya. "Luela, kamu benar-benar keras kepala sekali." Seketika, wajah Luela langsung berubah pucat. Senyuman pahit muncul di sudut bibirnya. Sabrina adalah satu-satunya orang yang ada di hati Jack. Lalu kenapa dirinya masih berharap pria ini akan percaya padanya? Secara reflek, Luela ingin melarikan diri. Namun, pengawal langsung menahannya dan membantingnya ke lantai. "Luela! Masih nggak mau mengaku salah?!" Cambuk kembali menghantam tubuhnya, disertai bentakan keras dari Jack. Luela gemetar menahan sakit, tapi kedua tangannya tetap terkepal erat, menahan diri agar tak mengeluarkan satu pun erangan. Melihat Luela tetap diam, cambuk di tangan Jack kembali mendarat keras di punggungnya! "Kutanya sekali lagi, kamu mengaku salah atau nggak?!" Namun, gadis yang tergeletak di lantai itu hanya membungkam bibirnya rapat-rapat, tetap tak bersuara. Dirinya tak salah! Kenapa harus mengaku salah?! Melihat betapa keras kepalanya Luela, Jack pun benar-benar marah. Cambuk di tangannya terus menghantam punggung Luela berulang kali. Tak butuh waktu lama, seluruh punggung Luela sudah penuh luka dan berlumuran darah, tapi dia tetap enggan mengaku salah. Akhirnya, Bibi Siti yang berdiri di samping tak tega lagi melihatnya. Dia maju dan menahan tangan Jack yang memegang cambuk. "Pak Jack, kalau terus dipukul seperti ini, dia bisa mati ... " Barulah Jack berhenti, lalu dengan dingin melempar cambuk itu begitu saja. "Luela, jangan sampai kejadian ini terulang lagi!" Akhirnya Luela tak kuat lagi menahan, kepalanya terkulai ke lantai dan dirinya benar-benar kehilangan kesadaran. Beberapa hari setelah itu, Jack tidak pulang ke rumah. Sementara luka di punggung Luela yang parah membuatnya bahkan tak sanggup turun dari ranjang. Butuh beberapa hari baginya untuk beristirahat sampai akhirnya bisa berdiri dan berjalan kembali. Di hari saat lukanya membaik, pihak imigrasi memberitahu bahwa proses permohonan izin tinggal permanennya sudah selesai sepenuhnya. Kini surat izin tinggal itu sudah di tangan, Luela pun tidak punya alasan lagi untuk tetap tinggal di rumah Jack. Setelah mengambil dokumennya, dia kembali untuk mengemas barang-barang terakhirnya, lalu menarik koper dan bersiap untuk pergi. Namun siapa sangka, baru saja melangkah keluar pintu, dia malah berpapasan langsung dengan Jack yang baru pulang. Belum sempat Luela merespon, suara dingin Jack sudah terdengar, "Luela, kamu ini sudah dewasa, masih main kabur dari rumah? Sudah berapa kali kubilang, jangan pernah menyimpan perasaan lagi padaku, tapi kamu masih saja keras kepala dan berkali-kali mencelakai Sabrina. Apa aku salah menghukummu?" Mendengar semua itu, Luela hanya merasa lelah luar biasa. Dia sendiri bingung harus berapa kali mengulang agar Jack bisa percaya bahwa dirinya sudah tidak menyukainya lagi. Melihat Luela tidak menjawab, ekspresi wajah Jack semakin muram. Lalu, dia menekan pelipisnya sejenak, tampak kesal. "Sudahlah, nggak ada salahnya juga kamu pergi jalan-jalan untuk tenangkan diri. Sabrina sedang hamil, kondisinya nggak stabil, aku juga sibuk urus pernikahan. Kalau kamu tetap tinggal di sini, nggak ada yang menjamin kamu bakal lakukan apa lagi." Usai bicara, Jack mengambil koper dari tangan Luela. "Aku antar kamu ke bandara!" Luela tak bisa membantah, juga tidak memberikan penjelasan apapun. Dia hanya diam dan mengikuti di belakangnya. Mobil melaju cepat sampai ke bandara. Hingga Luela menarik koper dan bersiap turun, akhirnya Jack bertanya, "Kamu beli tiket ke mana?" Luela baru hendak menjawab, tapi suara dingin Jack kembali terdengar, "Cukup jalan-jalan di kota sekitar saja, jangan terlalu jauh. Setelah aku dan Sabrina menikah, aku menjemputmu pulang." Kali ini, Luela tak berkata apa-apa lagi, hanya menjawab, "Iya." Setelah berpamitan, dia menarik kopernya dan melangkah masuk ke dalam bandara di bawah tatapan Jack. Hingga sosok pria itu benar-benar menghilang di antara deretan mobil, Luela mengeluarkan ponselnya dan memblokir semua nomor Jack. Lalu melangkah masuk ke gerbang keberangkatan tanpa ragu sedikit pun. Menjemputnya pulang? Tak perlu, Jack. Dia tidak akan pernah kembali lagi.