Đang tải thông tin quảng bá...
Ambil Kembali Hatiku
Ibunya meninggal pada hari ulang tahun Sena, tapi suaminya tidak merayakan ulang tahunnya dan tidak menghadiri pemakaman ibunya... Dia pergi menjemput wanita idamannya di bandara.
Chương (1)
第1章
Ibunya meninggal pada hari ulang tahun Sena, tapi suaminya tidak merayakan ulang tahunnya dan tidak menghadiri pemakaman ibunya...
Dia pergi menjemput wanita idamannya di bandara.
Bab 1
Setelah meletakkan guci ibunya, Sena Marlim menerima panggilan telepon dari bibinya.
"Sena, ibumu telah meninggal, aku benaran khawatir kamu tinggal sendirian di sana. Bagaimana kalau kamu datang tinggal bersama bibi?"
Sena terdiam cukup lama, seolah telah membuat keputusan besar. Kemudian, dia menjawab dengan serius, "Baiklah."
"Benarkah? Aku senang sekali kamu mau datang!" Suara bibi di dalam telepon terdengar penuh kegembiraan, "Tapi, kudengar kamu sudah menikah, apakah suamimu bersedia tinggal di luar negeri bersamamu?"
Sena tersenyum ketika mendengar ini, "Jangan khawatir, kami akan segera bercerai."
Sebelum menutup telepon, tiba-tiba terdengar suara di luar pintu.
Erik Rosli pulang.
Sena melirik ke pintu, tapi dia tidak keluar untuk menyambut mereka seperti biasanya.
Pada saat ini, adiknya Erik, Iren Rosli masuk. Dia berkata dengan bangga, "Kakakku membawa Kak Yuki pulang. Kamu, si Tiruan, bakal segera diusir."
Sena mengerutkan kening, "... Tiruan?"
Ekspresi Iren menjadi semakin bangga, "Kamu akan mengerti setelah bertemu Kak Yuki."
Begitu dia selesai berbicara, Erik masuk bersama Yuki.
Sopir masuk mengikuti mereka sambil membawa banyak barang bawaan.
Yuki memegang buket besar bunga mawar di tangannya. Mawar merah itu begitu menyilaukan, hingga mata Sena berlinang tak terkendali.
Ternyata Erik masih sempat membelikannya mawar.
Selama lima tahun menikah, Erik tidak pernah memberinya bunga.
"Yuki baru saja pulang dan belum menemukan tempat tinggal, dia akan tinggal di rumah kita untuk sementara waktu." Erik bahkan tidak memandang Sena. Saat berbicara, matanya selalu tertuju pada Yuki, "Segera mengemas kamar tamu di sebelah kamarku, Yuki akan tinggal di sana."
Nada yang diucapkan Erik bukanlah nada negosiasi, melainkan nada perintah.
Seolah-olah mereka bukan suami istri dan Sena hanya seorang pelayan di keluarga ini. Ketika seseorang ingin tinggal di sini, tidak perlu meminta persetujuannya dan dia malah harus mengemas kamar tamu.
"Erik, aku bisa mengemas sendiri, tidak perlu merepotkan Sena." Yuki mengangkat kepalanya, akhirnya Sena melihat wajahnya.
Sena tercengang, seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak.
Pada saat ini, Sena akhirnya mengerti kata tiruan yang diucapkan Iren.
Yuki memiliki wajah yang mirip sama Sena.
Namun, Sena lebih cantik dan memiliki temperamen yang lembut, sedangkan Yuki memperlihatkan kesombongan seorang putri yang dimanjakan langit.
Ternyata begitu...
Sena tiba-tiba tersenyum, dia tersenyum sambil menyeka air mata dari sudut matanya. Ternyata begini, akhirnya dia mengerti.
Dia emang selalu kurang beruntung, Tuhan tidak pernah baik padanya. Bahkan ibu kandungnya pun meninggal pada hari ulang tahunnya.
Jadi dia tahu dirinya yang kurang beruntung itu, bagaimana bisa seberuntung itu? Baru sekali bertemu, langsung berhasil menikahi pangeran dari keluarga kaya...
Ternyata begitu...
Akhirnya semuanya masuk akal.
Ternyata dia hanya seorang pengganti.
"Kok malah menangis? Apa perlu? Kak Yuki hanya tinggal selama dua hari, apa pantas untuk menangis? Sena, kamu terlalu pelit, bukan?" cibir Iren.
Sena segera menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak ada hubungan dengan Nona Yuki..."
Namun, sebelum Sena sempat menyelesaikan kata-katanya, mata Yuki sudah berkaca-kaca, "Lupakan saja, lebih baik aku pergi saja, aku tidak ingin memengaruhi hubungan kalian."
Wajah Erik langsung dipenuhi kesuraman.
"Kamu tidak harus pergi." Erik menghentikan Yuki, lalu berkata dengan tegas, "Aku yang mengambil keputusan akhir dalam keluarga ini! Pak Usman, bawakan barang bawaan ini!"
Sopir itu mendongak, lalu melirik Sena dengan gelisah dan tidak bergerak.
Erik juga menoleh Sena.
"Apa kamu keberatan?" tanya Erik.
Bahkan ada sedikit nada mengancam dalam suaranya.
Sena terus menggelengkan kepalanya, dia tersenyum dengan mata berkaca-kaca, "Aku tidak keberatan, aku senang Nona Yuki bisa tinggal di sini."
Dia tentu tidak keberatan.
Seseorang yang akan segera pergi, bagaimana mungkin keberatan?
Dia bakal pergi dengan anggun dan tidak pernah kembali lagi selamanya.
Bab 2
Erik menatap Sena dengan dingin, lalu tiba-tiba mencibir, "Kalau tidak keberatan, kamu bisa bantu Pak Usman membawa barang bawaan Yuki ke atas."
Mungkin karena merasa dirinya dipermalukan di depan wanita idamannya, Erik sengaja mempermalukan Sena.
Wajah Sena menjadi pucat, tetapi dia segera tersenyum lagi, "Oke."
Lalu, Sena berbalik dan mulai mengangkat barang bawaannya bersama Pak Usman.
Sena sangat patuh dan penurut, Erik seharusnya merasa puas. Namun, entah kenapa Erik merasa jengkel ketika melihatnya membawa barang bawaannya ke atas dengan begitu wajar.
Kamar segera siap dikemas, Sena hendak turun, tapi Yuki kebetulan masuk.
"Sena, terima kasih sudah mengizinkanku tinggal di sini." Yuki meraih tangan Sena, lalu mengerutkan kening dan berkata dengan kasihan, "Tanpa kamu dan Erik, aku benaran tidak tahu harus ke mana."
Yuki mengangkat punggung tangannya ke atas, mata Sena disinari cahaya yang menyilaukan.
Sena melihat cincin di jari manis Yuki persis sama dengan cincin tunangannya.
Tidak, lebih tepatnya, keduanya tidak sama persis. Berlian pada cincin Yuki lebih besar, lebih cemerlang dan berkilau.
Kalau dibandingkan, cincin tunangan Sena tampak seperti tiruan murahan.
Meskipun sudah bertekad untuk pergi, hati Sena masih merasakan sakit yang tak terkendali.
Ternyata cincin tunangannya juga merupakan tiruan murahan.
Pengganti dan tiruan... bagus sekali!
Bel pintu tiba-tiba berbunyi, seorang kurir mengantarkan kue besar.
"Wah! Siapa yang pesan kue itu?" Iren berseru, "Kak, apakah kamu pesan kue untuk Kak Yuki?"
"Ulang tahun Yuki minggu depan." Erik menjawab tanpa mendongak, "Tapi, aku memang sudah pesan kue untuknya, apakah toko kue salah mengingat waktu?"
Ketika semua orang merasa bingung, si kurir tiba-tiba berteriak, "Permisi, apakah Sena ada di sini? Penerimanya adalah Sena, kue ini dari bibimu. Bibimu tahu kalau kamu sedang mengalami masa sulit, tetapi dia tidak ingin kamu tenggelam dalam kesedihan, dia senang kamu datang ke dunia ini. Selamat ulang tahun untukmu!"
Ruang tamu tiba-tiba menjadi sunyi, semua orang menoleh ke Sena.
Erik jarang menunjukkan ekspresi bersalah, dia berkata dengan canggung, "... Hari ini ulang tahunmu, kenapa kamu tidak memberitahuku?"
Ulang tahun Yuki minggu depan, Erik sudah memesan hadiah dan kue.
Namun, dia melupakan ulang tahun Sena.
Benar juga, dia hanya seorang pengganti, kenapa repot-repot mengingat semua ini?
"Ternyata hari ini ulang tahunku, aku sendiri pun lupa," kata Sena tenang, meredakan kecanggungan. "Aku tidak menyangka Bibi masih mengingatnya, aku harus meneleponnya nanti untuk mengucapkan terima kasih."
Sekalian mendesak kemajuan kepergiannya ke luar negeri, karena dia ingin pergi lebih awal.
"Erik, kamu sungguh keterlaluan, bagaimana kamu bisa melupakan ulang tahun istrimu?" Nada bicara Yuki terdengar menyalahkan, tetapi juga seperti bertingkah genit, "Sena, jangan marah... Oh ya, saat aku tiba tadi, Erik memberiku hadiah kalung berlian yang sangat indah."
"Bagaimana kalau aku jadiin kalung ini sebagai hadiah ulang tahun Erik untukmu!"
Yuki melepas kalung berlian dari lehernya dan menyerahkannya kepada Sena sambil tersenyum, "Sena, selamat ulang tahun!"
Bab 3
Kalung itu sangat indah, dengan berlian merah langka yang bertahtakan platinum berbentuk hati, melambangkan cinta yang tak tergantikan.
Sayang sekali cinta yang tak tergantikan ini bukan untuknya.
"Tidak, terima kasih." Sena menggelengkan kepalanya dan menolak sambil tersenyum, "Ini hadiah dari Erik, bagaimana aku bisa merampasnya?"
Sena tidak menginginkan sesuatu yang bukan miliknya.
Sena tidak menginginkan kalung itu, begitu juga dengan pria... yang memberikan kalung tersebut!
"Ngapain kamu bertingkah aneh?" Erik tiba-tiba marah, "Aku memang sibuk dalam pekerjaan dan melupakan ulang tahunmu. Haruskah kamu bertingkah seperti itu?"
Sena tidak mengerti apa salahnya.
Dia selalu tersenyum dan berbicara dengan sopan tanpa membuat masalah... Kenapa Erik masih belum puas?
"Aku tidak bertingkah aneh." Sena menundukkan kepalanya, menyembunyikan ekspresi lelahnya, "Erik, apa yang kamu inginkan dariku? Terima kalung itu? Kalau begitu, aku akan menerimanya."
Sena berkata sambil mengambil kalung tersebut, lalu mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Yuki, "Nona Yuki, terima kasih atas hadiahmu."
Sebagai pengganti, Sena merasa dirinya telah berperilaku baik, kooperatif dan cukup menghargai Erik.
Namun, entah kenapa, setelah Sena mengambil kalung itu, Erik malah menjadi semakin marah, "Sena, kamu benaran tidak masuk akal!"
Selesai berkata, Erik membanting pintu dan pergi.
Tidak peduli Sena terima atau tidak, Erik tetap marah padanya.
Kemudian Sena mengerti bahwa tak peduli apa pun yang dia lakukan, Erik tidak akan puas.
Orang yang disayangi tidak akan bersalah, sedangkan orang yang tidak disayangi pasti selalu berbuat salah.
Kue ulang tahun yang diberikan Bibi sangat besar, tetapi tidak ada seorang pun yang makan bersamanya. Sena tidak ingin menyia-nyiakan kebaikan bibinya, jadi dia memaksa diri untuk menghabiskan kue lima tingkat itu sendirian.
Setelah makan, Sena merasa kekenyangan dan muntah lumayan lama di toilet.
Sena terjatuh di lantai toilet, dia merasa konyol dan menangis sambil tertawa tanpa bersuara. Saat kecil, Sena tidak punya uang dan tidak sanggup membeli kue ulang tahun. Dia hanya bisa berdiri, sambil menatap kue-kue di dalam toko kue melalui kaca. Sekarang akhirnya dia memiliki kue yang tidak habis dimakan, tetapi dia malah memakannya hingga sakit perut dan ingin muntah...
Terkadang sesuatu harus didapatkan tepat pada saatnya.
Malam harinya, Sena mengemasi barang-barangnya dan pindah dari kamar utama.
Wanita idaman yang aslinya telah kembali, Sena sebagai penggantinya harus lebih sadar diri dan tidak boleh tidur bersama Erik lagi, agar tidak menyinggung perasaannya.
Saat sedang memindahkan barang, Yuki kebetulan bergegas keluar dari kamar sebelah. Dia mengenakan suspender yang sangat pendek dan hampir tidak menutupi apa pun, memperlihatkan bahunya yang seksi dan kakinya yang ramping.
"Sena, jangan salah paham. Bukannya Erik tidak mau kembali ke kamar tidur utama untuk menemanimu, dia hanya masih marah." Yuki berkata dengan lembut, "Jangan khawatir, kami tidak melakukan apa pun, kami hanya bermain poker."
Sena tersenyum lembut, "Kamu tidak perlu jelaskan padaku."
'Terserah kalian lakukan atau tidak, surat perceraian telah disiapkan. Aku bakal menemukan kesempatan untuk meminta Erik menandatanganinya besok.'
"Sena, kamu benaran salah paham." Yuki menggigit bibirnya, tampak sedih, "Aku dan Erik..."
Sebelum Yuki sempat melanjutkan, Sena menyelanya sambil tersenyum, "Aku tahu kalau kamu dan Erik kenal sejak kecil dan memiliki hubungan yang sangat baik. Sekarang kamu pulang, kalian sudah lama tidak bertemu, pasti punya banyak hal yang mau dibicarakan."
"Jadi kalian bisa mengobrol sepuasnya, aku tidak akan mengganggu kalian."
Selesai berkata, Sena berbalik dan pergi.
Hanya tersisa Yuki berdiri di sana, menatap Sena dengan penuh makna.
Bab 4
Erik tinggal di kamar Yuki sepanjang malam.
Sebenarnya, Sena tidak terlalu perhatikan masalah ini. Mbak Nur, seorang pelayan yang membawanya ke taman belakang pagi-pagi sekali dan memberitahunya informasi penting ini.
"Nyonya, harap lebih waspada!" Mbak Nur berkata dengan cemas, "Yuki, si pelakor itu terlihat jelas ingin menggodai Tuan Muda! Kamu tidak tahu apa yang dia kenakan tadi malam... Aduh! Aku malu melihatnya!"
Sena tersenyum lembut, "Kamu terlalu banyak berpikir, Nona Yuki dan Erik tumbuh besar bersama. Erik sangat mementingkan Nona Yuki, jangan katakan hal-hal buruk tentang Nona Yuki lagi di masa depan. Erik bakal kesal kalau mendengarnya."
Mbak Nur tercengang, dia menatap Sena dengan ekspresi aneh, lalu bertanya dengan ragu, "Nyonya, ada apa denganmu?"
"Aku baik-baik saja." Sena tersenyum lembut dan berkata, "Aku sangat baik."
Senyuman itu bagaikan topeng yang melekat pada wajahnya.
Sena akan tetap tersenyum dan tidak akan menangis lagi.
"Tidak! Ada yang salah denganmu hari ini!" Mbak Nur mengumpat, "Dulu, saat memanggil Tuan Muda, kamu selalu memanggil dengan penuh kasih sayang, tapi sekarang terdengar asing!"
Sena menundukkan bulu matanya tanpa mengatakan apa pun.
Sebenarnya, saat pertama kali bersama Erik, Sena tidak pernah memanggilnya Erik. Dia selalu memanggilnya Kak Erik seperti teman-temannya.
Kemudian, saat pertama kali berhubungan seks, Erik mendorongnya ke ranjang, menutup matanya dengan kain hitam, lalu menjambak rambutnya sambil mengerahkan tenaga, memaksa Sena untuk memanggilnya Erik.
Sena selalu menyangka panggilan ini merupakan sesuatu yang mesra bagi mereka berdua dan hanya dia yang boleh memanggilnya seperti itu.
Sena bahkan diam-diam merasa senang untuk waktu yang lama.
Baru kemarin ketika mendengar Yuki memanggil Erik, Sena tiba-tiba menyadarinya.
Pantas saja Erik menutup matanya malam itu.
Sebab, mata Sena paling tidak mirip dengan Yuki.
Namun, suaranya mirip, jadi Erik memintanya untuk memanggilnya Erik, berulang-ulang hingga dia pingsan.
"Mbak Nur, hal terpenting ketika bekerja di keluarga kaya adalah bekerja lebih banyak dan kurangi bicara." Sena menepuk bahu Mbak Nur dengan lembut dan mengingatkannya dengan bijaksana, "Jangan katakan hal-hal buruk tentang Nona Yuki lagi."
Dia akan segera pergi, Yuki akan menggantikannya dan menjadi nyonya keluarga ini.
Kalau menyinggung Yuki, Mbak Nur pasti akan dihukum.
Setelah memberi instruksi pada Mbak Nur, Sena naik ke atas untuk mengambil surat perceraian, kemudian datang ke ruang kerja Erik.
Erik sedang menangani pekerjaannya. Ketika melihat Sena datang, dia mendengus dingin, "Sudah tahu bersalah?"
"Ya." Sena berkata dengan tenang. Kalau Erik merasa dia bersalah, Sena akan mengakuinya.
Hanya sisa beberapa hari lagi, Sena terlalu malas untuk berdebat dengannya.
"Bukannya bagus kalau mengerti lebih awal? Ngapain harus berbuat masalah?" kata Erik dengan kesal. Dia mengeluarkan sebuah kotak hadiah dari laci dengan acuh tak acuh, lalu melemparkannya ke Sena, "Ini hadiah ulang tahunmu. Buka dan lihatlah."
Sena ingin menolak, tetapi dia tahu kalau dia menolak, Erik pasti akan marah lagi.
Sena ingin memintanya menandatangani surat perceraian, jadi sebaiknya jangan menyinggungnya.
Jadi, Sena menerima hadiah itu tanpa berkata apa-apa.
Ponsel Erik tiba-tiba berdering, Sena tanpa sengaja melirik layar dan melihat kalau Yuki yang meneleponnya.
Erik melirik Sena, lalu mengeluarkan headphone dari laci dan memakainya.
Dia menekan tombol jawab, senyuman segera muncul di wajahnya yang dingin.
Nada bicaranya pun menjadi lebih lembut, tidak acuh tak acuh seperti saat menghadapi Sena.
Sena menyerahkan surat perceraian, "Tanda tangani."
Erik menandatanganinya tanpa melihat.
Kemudian dia melanjutkan obrolan di telepon dengan Yuki sambil tersenyum di wajahnya.
Sena mengerutkan kening, dia ragu sejenak lalu berkata, "... Apa kamu tidak perlu melihatnya?"
"Tidak perlu." Erik berkata dengan tidak sabar, "Bukankah ini tentang mengundang ahli dari luar negeri untuk merawat ibumu? Kamu bisa mengurusnya sendiri. Kalau ada dokumen yang perlu ditandatangani, berikan saja pada Rudy dan suruh dia berikan padaku. Kalau tidak ada urusan penting, jangan selalu meneleponku. Terakhir kali kamu terus meneleponku, membuatku melewatkan beberapa panggilan penting."
Bab 5
Ibu Sena telah meninggal seminggu yang lalu.
Ibunya menderita kanker otak stadium lanjut. Meskipun Erik mengatur agar dia dirawat di rumah sakit terbaik dalam negeri, kondisinya semakin memburuk dari hari ke hari.
Saat-saat dia sadar semakin pendek. Sering kali, ibunya bahkan tidak bisa mengenali siapa Sena.
Dokter yang merawatnya mengatakan kalau pembedahan harus segera dilakukan dan tidak bisa ditunda lagi. Kalau tidak, ibunya Sena mungkin sulit untuk bertahan hidup lebih dari seminggu.
Sena tidak tahu apa yang harus dilakukan, jadi dia menelepon Erik untuk meminta sarannya.
Sena menelepon tiga kali berturut-turut, tetapi panggilannya selalu ditutup. Saat mengangkat panggilan, Erik malah memarahinya, "Kenapa kamu meneleponku? Aku sedang sibuk, jangan buat masalah!"
Dokter yang merawatnya tahu kalau Sena adalah Nyonya Muda dari Keluarga Rosli, jadi dia menyarankan agar Erik mengundang ahli dari luar negeri dan melakukan konsultasi medis dengan ahli dalam negeri. Dengan cara ini, tingkat keberhasilan operasi ibunya Sena akan lebih tinggi.
Sena mengucapkan terima kasih kepada dokter, lalu mengambil ponselnya, duduk menunggu di koridor rumah sakit, akhirnya tiba di pukul enam malam.
Ini waktu biasanya Erik pulang kerja.
Sena mengumpulkan keberanian dan menghubungi Erik lagi.
Erik tidak menjawab, jadi Sena mengira dia sedang lembur. Tidak masalah, dia bisa menunggu lagi.
Kali ini Sena menunggu sedikit lebih lama, dia menelepon pada pukul dua belas, tetapi panggilan tidak terhubung.
Sena tertegun sejenak, lalu menyadari kalau dia telah diblokir oleh Erik.
Selama seminggu berikutnya, Erik tidak pulang ke rumah. Panggilan telepon tidak bisa dihubungi, Erik juga tidak membalas pesan. Ibunya Sena tertunda dan kehilangan waktu terbaik untuk operasi...
'Apakah Erik sesibuk itu?'
'Kenapa Erik yang begitu sibuk masih sempat memilih hadiah dan memesan kue ulang tahun untuk Yuki?'
Tidak sanggup memikirkannya lagi, Sena putuskan untuk memejamkan matanya, dia menahan tangannya yang gemetar, lalu mengambil surat perceraian, berbalik dan meninggalkan ruang kerja.
Siang harinya, Mbak Nur menyiapkan banyak hidangan lezat, tetapi Iren yang baru datang segera mencari masalah bahkan sebelum dia duduk.
"Sena, bukankah sebelumnya kamu selalu masak? Kenapa kamu tidak masak hari ini?" Iren sengaja bertanya, "Apa karena Kak Yuki pindah ke sini, kamu merasa dirimu begitu mulia hingga tidak mau masak untuknya?"
Mendengar ini, wajah Erik tampak menjadi suram. Dia menatap Sena dengan dingin sambil menunggu jawabannya.
Sungguh ironis kalau memikirkannya. Sebagai istrinya, Sena bahkan tidak punya hak untuk menolak memasak untuk wanita idamannya...
"Semua masakan yang aku kuasai cukup pedas." Sena menunduk dan berkata, "Selera Nona Yuki lebih tawar, aku khawatir dia tidak terbiasa."
"Bukannya bisa memasak tanpa cabai?" Iren masih tidak puas.
"Iren, jangan begini. Sena adalah kakak iparmu, kamu harus menghormatinya." Yuki ikut campur untuk menenangkan suasana, "Dan menurutku masakan Mbak Nur juga enak banget..."
Di tengah-tengah perkataannya, Yuki tiba-tiba mengerutkan kening, lalu menekan perutnya dan menunjukkan ekspresi kesakitan.
"Yuki, ada apa denganmu?" Erik terkejut dan bergegas untuk memapah Yuki.
"Erik, perutku sakit banget." Wajah Yuki pucat, dia terjatuh dalam pelukan Erik, ekspresinya lemas tapi cantik.
Erik mengerutkan kening, "Kenapa mendadak sakit perut?"
Iren yang berdiri di samping malah menunjukkan ekspresi menemukan sesuatu. Dia menunjuk Sena sambil berkata, "Ah! Aku tahu! Pantas saja kamu menolak untuk memasak, ternyata kamu mau meracuni Kak Yuki. Kamu merasa bersalah, jadi sengaja tidak masuk dapur!"
Bab 6
Penuduhan ini muncul begitu saja, Sena pun merasa tidak berdaya, "Aku tidak ke dapur seharian, bagaimana mungkin aku punya kesempatan untuk meracuni Nona Yuki?"
"Kamu tidak masuk ke dapur, bukan berarti kamu tidak bisa menyuap orang-orang di dapur untuk meracuni Kak Yuki." Iren mencibir, "Saat datang ke sini pagi tadi, aku kebetulan melihatmu dan Mbak Nur sedang menyelinap di taman. Entah apa yang sedang kalian rencanakan secara diam-diam... Sekarang kupikir-pikir, ternyata kalian sedang membahas tentang bagaimana meracuni Kak Yuki, 'kan?"
"Astaga! Nona Iren, jangan asal omong." Mbak Nur berkata, "Aku hanya seorang pelayan, bagaimana mungkin berani meracuni seseorang?"
"Lalu apa yang kalian bicarakan di taman pagi ini?" tanya Iren bersikeras.
"Aku…" Mbak Nur melirik Sena secara diam-diam, dia tidak tahu bagaimana menjawabnya.
Erik dan Yuki ada di sini, bagaimana dia bisa mengulangi perkataan pagi ini di hadapan mereka?
"Kamu tidak bisa jawab, 'kan? Ternyata benar, ada masalah di antara kalian!" Iren berkata dengan bangga, "Kak Yuki, haruskah aku melapor polisi untukmu? Menaruh racun dalam makanan, itu sama saja dengan melakukan pembunuhan!"
Ketika mendengar mau melapor polisi, ekspresi Iren langsung menjadi lebih menyakitkan. Dia memegang tangan Erik dan berteriak, "Erik, sakit banget! Apa aku akan mati? Aku takut banget..."
Melihat Yuki kesakitan, Erik tidak peduli dengan hal lain. Dia menggendong Yuki dan bergegas ke luar, "Siapkan mobil! Segera pergi ke rumah sakit!"
Sebelum pergi, dia memelototi Sena dan berkata, "Aku akan menghajarmu saat aku kembali!"
Mbak Nur, yang sudah berusia lima puluhan, menangis terisak karena ketakutan, "Nyonya Muda, apa yang harus aku lakukan? Aku tidak meracuni Nona Yuki, aku benaran tidak melakukannya."
"Aku ke sini untuk bekerja dan mendapatkan uang pensiunan, tidak mungkin aku melakukan kejahatan!"
Sena tahu bukan Mbak Nur yang melakukannya.
Namun, orang yang memasak itu Mbak Nur, kalau Mbak Nur tidak menuduh orang lain, Erik tidak akan melepaskannnya.
"Nanti Erik pulang, kalau dia menginterogasimu, katakan saja aku yang memerintahkanmu." Sena berkata dengan tenang, "Tidak apa-apa, jangan takut, tolak saja semua kesalahan padaku."
"Mana boleh?" Mbak Nur berkata dengan cemas, "Nyonya, kita jelas tidak melakukan apa-apa, kita tidak boleh mengakuinya!"
Sena tersenyum tak berdaya, dia telah memahami segalanya akhir-akhir ini. Tak peduli apakah dia mengakuinya atau tidak, Erik telah menganggap Sena sebagai pelakunya. Baik dia mengakuinya atau tidak, hasilnya akan sama saja.
Kalau begini, lebih baik mengorbankan dirinya, agar Mbak Nur tidak terlibat.
"Lakukan saja sesuai perkataanku." Nada bicara Sena sangat tegas, "Jangan khawatir, aku punya rencana, aku tidak akan terjadi apa-apa."
Setelah menghabiskan sepanjang malam di rumah sakit, Erik akhirnya mengantar Yuki kembali di pagi hari.
Begitu kembali, Erik mulai menyalahkannya, "Sena, kamu cukup pintar. Kamu tahu kalau Yuki alergi kacang, kamu menggiling kacang menjadi bubuk dan taburkan ke dalam buburnya... Apa kamu tahu kalau aku telat mengantarnya ke rumah sakit, Yuki pasti sudah meninggal!"
"Mbak Nur sudah mengakui kalau kamu yang memerintahkannya. Apa lagi yang ingin kamu katakan? Aku akan memberimu kesempatan, ayo katakan kenapa kamu melakukan ini?!"
Sena mengangkat kepalanya dan melirik Yuki dengan acuh tak acuh.
Wajah Yuki pucat, dia berbaring di ranjang dan berkata dengan lemah, "Sena, aku tidak percaya kamu akan menyakitiku. Kamu pasti punya alasan, 'kan?"
Sena tersenyum lembut, dia menatap langsung ke tatapan Yuki dan berkata dengan tenang, "Terima kasih atas kepercayaanmu, aku memang tidak menyakitimu. Aku juga tidak tahu kenapa Mbak Nur menuduhku... Bagaimana kalau melapor polisi dan meminta mereka untuk menyelidikinya. Kata-kataku tidak bisa dipercaya, tetapi hasil penyelidikan polisi harusnya bisa dipercaya."
Bab 7
Setelah Sena bilang mau lapor polisi, reaksi Yuki dan Erik sangat menarik.
Pandangan Yuki mengelak, sementara Erik sangat marah, "Sena, apa kamu pikir aku tidak berani memanggil polisi karena tidak tega berpisah denganmu?!"
'Tidak, Erik, aku tahu kamu tega melakukannya. Tapi, wanita idamanmu bakal melarangmu melapor polisi, karena dia tahu dirinya hanya bisa menipumu, tidak akan bisa menipu polisi,' jawab Sena dalam hati.
Kalau polisi tahu dia sendiri yang menaburkan bubuk kacang itu, bukankah itu sangat memalukan?
Benar saja, detik berikutnya terdengar Yuki berkata dengan lembut, "Erik, jangan begini, Sena itu istrimu, kamu tidak boleh memenjarakannya karena aku."
"Lagi pula, aku baik-baik saja, bukan? Dan meski tidak pertimbangkan Sena, kamu juga harus mempertimbangkan Keluarga Rosli, Nyonya Muda dari Keluarga Rosli masuk penjara... kalau hal ini tersebar, saham Grup Rosli pasti akan terpengaruh."
Dengan bujukan Yuki, Erik akhirnya menahan amarahnya dan tidak melapor polisi.
Meski tidak melapor polisi, hukuman tetap diperlukan.
"Sena, Yuki baik hati dan tidak ingin meminta pertanggungjawabanmu, tapi itu tidak berarti kamu tidak perlu menanggung akibatnya." Erik mencekik leher Sena dan mengucapkan setiap kata dengan kejam, "Kamu harus menanggung semua rasa sakit yang dialami Yuki malam ini!"
"Dr. Dedy, bawakan obat yang kamu siapkan!"
Erik mencubit dagu Sena dan menuangkan obat yang tidak diketahui ke dalam mulutnya secara paksa.
Obat tersebut bereaksi dengan cepat, Sena berkeringat deras karena kesakitan. Dia memegangi perutnya dan terus berguling di lantai, beberapa kali dia merasakan sakit yang amat sangat, sampai dia hampir pingsan.
Erik berdiri di samping, menatap Sena yang terbaring di lantai dan menggeliat kesakitan, bahkan tanpa mengerutkan kening.
"Sakit, 'kan? Saat meminum bubur yang dicampuri bubuk kacang olehmu, Yuki juga kesakitan seperti ini." Erik berkata dengan dingin, "Jangan lupa rasa sakit ini, hanya ketika mengingat rasa sakit itu, kamu baru tahu harus berubah."
Sena menggigit punggung tangannya dengan keras, hingga kulitnya terluka dan berdarah, tetapi dia tidak melepaskannya, dia juga tidak menjerit kesakitan.
'Erik, jangan khawatir, aku bakal mengingat rasa sakit ini seperti yang kamu katakan.'
Beginilah rasanya mencintainya dan beginilah yang terjadi saat dia mencintainya.
Kali ini dia sudah mengingatnya dengan jelas dan tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi!
Sena merasakan kesakitan sepanjang hari, efek obatnya baru hilang saat larut malam.
Seluruh tubuhnya basah oleh keringat dingin, wajahnya sangat pucat.
Saat ini, bibi meneleponnya. Sena memaksakan diri untuk tetap semangat dan menekan tombol jawab, "Halo..."
"Sena, ini aku." Suara tawa lembut Bibi terdengar dari ujung telepon, "Aku sudah mengurus semua prosedur ke luar negeri, kapan kamu datang? Aku akan membelikanmu tiket pesawat."
Sena berbaring di lantai, bulu matanya sedikit bergetar. Dia ingin berangkat saat fajar, dia tidak mau tinggal di sini bahkan semenit pun.
Namun, setelah berguling-guling kesakitan sepanjang hari, Sena merasa seperti boneka yang vitalitasnya terkuras habis, dia tidak memiliki sedikit pun kekuatan dalam tubuhnya dan bahkan menggerakkan satu jari pun sulit.
Dalam keadaan seperti ini, kayaknya tidak bisa naik pesawat.
Lagi pula, kalau dia ke luar negeri seperti ini, Bibinya pasti akan merasa kasihan padanya.
Jadi Sena berkata, "Malam lusa saja, aku sudah menyelesaikan prosedur perceraian di sini, jadi bisa berkemas dan pergi."
"Baiklah, kalau begitu aku akan membelikanmu tiket untuk lusa pukul 7. Bawalah kartu identitas dan paspormu untuk mengambil tiket di bandara."
Bab 8
Setelah berbaring sehari semalam di ranjang, Sena akhirnya kembali semangat.
Hari ini adalah hari kepergiannya.
Penerbangannya pukul 7 malam, setelah naik pesawat, dia tidak akan kembali lagi.
Sena bangun saat fajar, dia mengemasi barang-barangnya dan menyumbang semuanya ke panti asuhan.
Barang-barang yang disumbangkannya adalah hadiah-hadiah yang diberikan Erik padanya selama ini, termasuk pakaian, tas, perhiasan... Dia bahkan tidak menyimpan cincin tunangan yang diberikan Erik padanya.
Barang-barang berharga disumbangkan untuk kepentingan masyarakat, sedangkan barang-barang yang tidak berharga dibakar.
Karena ingin memulai dari awal, jadi harus pergi dengan keadaan bersih, dia tidak akan membawa satu pun barang-barang darinya.
Setelah berberes semuanya, hari sudah sore. Sena melirik ponselnya sudah pukul tiga sore.
Pesawatnya akan lepas landas dalam empat jam.
Sena hendak berganti pakaian dan pergi ke bandara, Iren tiba-tiba menghentikannya, "Sena, ngapain kamu di sini? Ayo cepat, segera merias wajah bersamaku."
"Merias wajah?" Sena mengerutkan kening, "Kenapa?"
"Jangan berpura-pura." Iren berkata dengan kesal, "Bukankah hari ini ulang tahun pernikahanmu dan Kakak? Kakakku bilang ketika kalian menikah, karena orang tuaku tidak setuju, kalian langsung mengambil surat nikah tanpa mengadakan pesta pernikahan. Dia selalu merasa bersalah dan baru-baru ini, dia memang mengabaikanmu karena masalah Kak Yuki, jadi Kakak ingin memanfaatkan ulang tahun pernikahan kalian yang kelima untuk menebusmu."
'Palsu, pasti palsu. Ini pasti jebakan,' pikir Sena.
Dia dan Erik telah menikah selama lima tahun, tapi Erik tidak pernah menyebut tentang pesta pernikahan. Mana mungkin Erik akan menyelenggarakan pesta pernikahan untuknya setelah Yuki kembali?
"Apa? Kamu tidak percaya padaku?" Iren melirik Sena, matanya penuh dengan penghinaan, "Kalau begitu, kamu telepon saja kakakku dan tanyakan padanya. Apa menurutmu aku mau melakukan hal semacam ini? Kalau kakakku tidak memaksaku, aku tidak akan mau melayanimu."
Sena tentu tidak percaya, dia juga tidak mau menelepon Erik.
Melihatnya tertegun seperti sepotong kayu, Iren kehilangan kesabaran. Dia langsung menghubungi nomor Erik, kemudian melemparkan ponsel ke Sena.
"Sena, aku sudah tahu tentang masalah ibumu... Kamu pasti sedih selama ini, biarkan aku menebusnya hari ini."
Palsu, ini pasti palsu. Erik tidak akan berbicara padanya dengan nada selembut itu.
"Aku sudah mengatur semuanya, pergilah mengganti pakaianmu bersama Iren. Kita... bertemu di pesta pernikahan."
'Palsu, palsu, semuanya palsu.'
Tubuh Sena mulai gemetar tak terkendali. Apa sebenarnya yang ingin dilakukan Erik? Kenapa dia mengadakan pesta pernikahan? Apa tujuannya?
Dia jelas yakin semua ini palsu.
Dia yakin dialah orang yang tidak dicintai.
Akan tetapi, saat mengenakan gaun pengantin yang telah disesuaikan Erik untuknya, Sena masih tergoyah.
Manusia memang begini, sekalipun tahu itu tidak mungkin, mereka tetap menantikannya. Bagaimana kalau? Bagaimana kalau kali ini benar? Dia cukup sial selama ini, sekarang waktunya untuk menang, bukan?
'Kalau begitu, coba pergi lihat saja! Lagi pula, masih ada waktu,' pikir Sena.
Sena pergi ke pesta pernikahan dengan mentalitas pertaruhan.
Selesai merias wajah sudah pukul empat.
Tiba di tempat pernikahan pukul lima sore.
Sena mendorong pintu ruang pesta pernikahan, seember air dingin tertuang dari atas.
"Hahaha!" Terdengar suara tawa dari telinganya. Iren tertawa terbahak-bahak di belakangnya hingga berlinang air mata. "Sena, dasar bodoh, apa kamu pikir kakakku benaran ingin mengadakan pesta pernikahan untukmu?"
"Hahaha, idiot, hari ini ulang tahun Kak Yuki. Ini bukan pesta pernikahan yang selalu kamu impikan, tapi pesta ulang tahun Kak Yuki!"
Ada banyak orang di ruang perjamuan, harusnya semua datang untuk merayakan ulang tahun Yuki.
Yuki juga di sini, dia juga mengenakan gaun pengantin, gayanya persis sama dengan yang dikenakan Sena.
Namun, Yuki tidak dibasahi air dan tetap indah.
"Gaun pengantin ini sebenarnya dibuat khusus oleh kakakku untuk Kak Yuki. Cantik, 'kan? Kakakku berencana melamar Kak Yuki hari ini."
"Sena, kakakku dan Kak Yuki itu cinta sejati, kamu hanyalah badut dalam kisah cinta mereka. Kalau kamu tahu diri, segera pergi dari sini, akan lebih memalukan kalau diusir kakakku."
Sena menyentuh wajahnya dan menyadari kalau dia sedang menangis.
Ngapain dirinya nangis?
Bukankah dirinya sudah menduga kalau itu palsu?
'Sena, kamu sungguh bodoh, sudah ditipu oleh Tuhan berkali-kali, kenapa masih saja tertipu?'
Jelas sudah tahu itu palsu, tapi masih ngotot datang ke sini... Apa yang ingin dirinya buktikan? Untuk membuktikan betapa menyedihkannya dirinya?
Sena berbalik dan melarikan diri dari tempat yang menyesakkan ini.
Dia memesan taksi dan bergegas ke bandara secepat mungkin, lalu bergegas ke toilet bandara dan mulai merobek gaun pengantinnya.
Lepaskan, lepaskan, lepaskan semuanya!
Gaun ini ketat banget, sangat menyesakkan.
'Tolong! Tolong! Tolong aku!'
Sena tidak tahan lagi, sesuatu yang menyesakkan ini hampir membuatnya tidak bisa bernapas. Dia harus segera melepaskan diri dari gaun pengantin yang menyebalkan ini dan pergi dari sini, pergi selamanya dan tidak mau kembali lagi!
Akhirnya, gaun pengantin itu robek berkeping-keping akibat ulah Sena yang tak terkendali.
Sena membuang gaun pengantin putih di toilet bandara, lalu mengeluarkan gaun suspender hitam dari tasnya dan mengenakannya.
Ponselnya bergetar hebat. Sena mengeluarkan ponsel dan menemukan kalau Erik telah meneleponnya berkali-kali.
Sepertinya Erik telah meneleponnya sejak dia naik taksi, dia telah meneleponnya lebih dari tiga puluh kali.
Namun, Sena tidak menyadarinya.
Ponselnya masih bergetar hebat dan Erik masih menelepon.
Sena mengeluarkan kartu telepon, mematahkan dan membuangnya.
Saat itu hampir pukul tujuh, Sena mengambil tiketnya, melewati pemeriksaan keamanan dan menaiki pesawat.
Satu detik sebelum pesawat lepas landas, Sena keluar dari semua aplikasi media sosialnya.
Pramugari datang mengingatkannya untuk mematikan ponsel, Sena tersenyum mengangguk.
Layar ponsel menjadi hitam dan pesawat lepas landas pada saat yang sama.
Sena bersandar di kursinya dan perlahan memejamkan matanya.
'Erik, aku tidak berpamitan denganmu.'
'Karena aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.'