Đang tải thông tin quảng bá...
Rahasia Suami Adik
Namaku Viany, sudah berpacaran 3 tahun dengan tunangan, di H-1 sebelum acara tunangan, kami putus. Alasan kami putus adalah karena aku menemukan bukti dia membeli jasa prostitusi di handphonenya. Aku ...
Chương (1)
第1章
Namaku Viany, sudah berpacaran 3 tahun dengan tunangan, di H-1 sebelum acara tunangan, kami putus.
Alasan kami putus adalah karena aku menemukan bukti dia membeli jasa prostitusi di handphonenya.
Aku tidak menangis atau membuat keributan, malam itu juga aku langsung berkemas dan menyeret koper keluar dari rumah yang seharusnya jadi tempat tinggal kami setelah menikah.
Aku sempat hidup mengembara untuk beberapa waktu, dan tubuhku pun jadi jauh lebih kurus.
Sahabat baikku, Evelyn, merasa sangat iba melihat aku begitu menyedihkan, jadi dia mengajakku tinggal di rumahnya.
Namun sejak saat itu, kehidupan yang canggung pun dimulai, pada akhirnya, aku melakukan sesuatu yang menyakiti adik......
Bab 1
"Adik, ganti aku saja!"
Tengah malam, aku mendengar suara permohonan adik di sebelah, lalu aku mendorong buka pintu kamar adik dan adik ipar.
Karena adik ipar terlalu kuat, dan adik yang kurusan tidak bisa menahannya.
Dan aku, semenjak putus, tidak pernah berhubungan dengan pria lagi...
......
Namaku Viany, sudah berpacaran 3 tahun dengan tunangan, di H-1 sebelum acara tunangan, kami putus.
Alasan kami putus adalah karena aku menemukan bukti dia membeli jasa prostitusi di handphonenya.
Aku tidak menangis atau membuat keributan, malam itu juga aku langsung berkemas dan menyeret koper keluar dari rumah yang seharusnya jadi tempat tinggal kami setelah menikah.
Aku sempat hidup mengembara untuk beberapa waktu, dan tubuhku pun jadi jauh lebih kurus.
Sahabat baikku, Evelyn, merasa sangat iba melihat aku begitu menyedihkan, jadi dia mengajakku tinggal di rumahnya.
Rumah Evelyn tidak besar, hanya ada dua kamar tidur, kalau bukan karena Evelyn memaksaku tinggal di sana, aku tidak enakan untuk pergi.
Alasan utamanya adalah karena Evelyn baru saja menikah, dan sedang menikmati kehidupan berdua bersama suaminya.
Aku sebagai orang luar, bukankah akan mengganggu dunia berdua mereka sebagai pasangan baru?
Tapi Evelyn langsung menarik koperku dan membawanya ke rumahnya, bahkan berkata bahwa suaminya bukan tipe orang yang perhitungan, menyuruhku anggap sebagai rumah sendiri.
Hubungan aku dengan Evelyn memang sangat dekat, kami selalu menganggap satu sama lain seperti saudara. Dia memanggilku dengan hangat “Kak Viany”, dan aku memanggilnya adik.
“Thomas, inilah kak Viany yang sering aku ceritakan padamu!”
Pertama kali aku bertemu dengan suami Evelyn, aku menyadari bahwa dia jauh lebih tinggi dan tampan daripada foto.
Yang pentingnya, tubuhnya penuh dengan aura maskulinnya, membuat jantungku berdetak cepat seperti jatuh cinta.
"Halo Kak Viany!"
Saat ini, Thomas yang sedang mengenakan celemek memasak, keluar dari dapur untuk menyapaku. Melihat senyumnya yang cerah dan tampan, wajahku langsung terasa panas.
"Kakak, kamu kepanasan ya? Mau minum air dulu?"
Melihat tatapanku yang agak menghindar dan wajah yang sedikit memerah, Thomas mengira aku kepanasan, lalu buru-buru mempersilakan aku untuk minum.
Evelyn mengajak aku duduk di sofa untuk beristirahat, menuangkan air untukku, bahkan membawakan buah-buahan.
Saat makan, Thomas menyiapkan satu meja penuh dengan hidangan lezat, termasuk udang saus tiram dan daging sapi kecap yang aku suka.
Melihat hidangan yang penuh dan menggugah selera itu, aku nyaris meneteskan air mata karena terharu.
“Adik, suamimu ini jago kali masaknya, enak sekali!”
“Yang penting Kakak suka! Nggak masalah, kedepannya anggap aja ini rumah sendiri.”
Mendengar pujianku, Thomas segera merespons dengan sopan, Evelyn pun langsung ikut berkata,
“Benar Kak, mulai sekarang anggap aja rumah ini rumah sendiri, jangan sungkan-sungkan ya!”
Setelah berkata begitu, Evelyn membukakan sebotol anggur merah, katanya untuk merayakan ulang tahunku dan juga merayakan aku yang sudah berhasil keluar dari penderitaan.
Dia juga bersyukur aku sadar sebelum menikah, kalau sampai menikah baru ketahuan bahwa tunangan seperti itu, itu sama saja dengan masuk ke neraka.
Mendengar ucapan pasangan suami istri itu, aku merasa sangat terharu dan juga bahagia.
Aku juga merasa menyesal dan bersalah karena dulu tidak pulang untuk menghadiri pernikahan mereka.
Namun untungnya, Evelyn tidak mempermasalahkan hal itu.
Malam harinya, setelah minum sedikit anggur, aku pun segera mandi air hangat dan masuk ke kamar tamu untuk beristirahat.
Tengah malam, aku terbangun karena suara nyaring yang menusuk telinga.
Awalnya aku mengira mereka sedang bertengkar, tapi setelah mendengarnya lebih seksama, aku langsung sadar apa yang sebenarnya sedang terjadi, dan wajahku pun langsung memerah.
Bab 2
Tidak kusangka suaminya Evelyn adalah orang yang begitu kuat.
Melihat tubuh Evelyn yang kurusan dan kecil, sepertinya tidak bisa menahan permintaan nafsu Thomas.
Karena aku sudah mendengar suara permohonan dari Evelyn, dan dari suara percakapan mereka, kedengarannya malam ini sudah bermain tiga empat kali.
Mendengar suara mesra mereka, memikir diriku lagi, aku juga adalah wanita yang cantik, bentuk tubuh juga sangat montok, tapi aku sendirian di kamar, merasa diriku sangat kasihan.
Dan aku, semenjak putus dengan tunangan, tidak pernah berhubungan dengan pria lagi. Ini buat wanita yang nafsunya besar, sangatlah menderita.
Aku bahkan sempat berpikir, kalau saja dulu aku bisa berpura-pura tidak tahu, menutup sebelah mata, apakah sekarang aku dan tunanganku juga bisa hidup bahagia?
Sayangnya, hidup tidak pernah mengenal kata andai saja.
Besok paginya saat mau ke kamar mandi, aku lupa kalau ini di rumah orang lain, jadi memakai baju tidur yang seksi langsung keluar dari kamar.
"Pagi Kak Viany!"
Saat ini, Thomas yang sedang olahraga di ruang tamu, menunjukkan otot dada dan perut yang sangat menonjol, membuat jantungku berdebar kencang.
"Pagi!"
Aku dengan canggung membalasnya, saat ini aku dengan jelas merasakan tatapan Thomas yang menghindar, wajahnya memerah.
Aku langsung melihat diriku sendiri, dan menyadari pemandangan depan dadaku terlihat jelas.
Aku dengan wajah yang merah langsung masuk ke kamar mandi, melihat diriku yang di cermin, pantas tatapan Thomas bisa menghindar dan wajahnya merah.
Karena tubuhku lebih berisi dari Evelyn.
Setelah keluar dari kamar mandi, aku buru-buru menutupi dada dengan tangan dan berlari kembali ke kamar, untung saja Thomas sudah tidak ada di ruang tamu.
Begitu aku selesai berganti pakaian dan keluar dari kamar, aku melihat Thomas sudah menyiapkan sarapan. Di meja sudah ada bubur, roti, telur, dan jagung.
“Kak, aku sudah siapkan sarapan, kamu makan juga…”
“Nggak usah, kamu dan adik saja yang makan. Aku ada rapat pagi di kantor.”
Setelah berpamitan pada Thomas dengan penuh rasa canggung, aku cepat-cepat memakai sepatu dan keluar dari rumah.
Saat menutup pintu, jantungku masih berdebar kencang.
Meski Thomas sudah mengenakan kaus singlet ketat, tubuh kekarnya yang tadi sempat terlihat, masih terus terngiang di otakku.
Yang paling penting adalah aura maskulin dari tubuh Thomas selalu membuatku merasa sulit untuk menahan diri.
Dalam hatiku berpikir, kalau bisa tidur dengan Thomas pria yang kuat, pasti akan sangat bahagia kan?
Memikir sampai sini, wajahku menjadi merah, bahkan memarahi diriku sendiri:
Viany, Viany apa yang sedang kamu pikirkan? Dia adalah suami dari adik tercintamu!
Menjelang jam pulang kantor, Evelyn meneleponku, mengatakan bahwa makan malam sudah disiapkan, dan menungguku pulang untuk makan bareng.
Mendengar ajakan itu, aku tentu tidak bisa menolak.
Sesampainya di rumah, ternyata Thomas menyiapkan hidangan hotpot, hotpot favoritku.
Saat makan hotpot, tentu saja ada minum sedikit alkohol. Setelah beberapa botol bir, aku duluan pergi mandi lalu berbaring untuk tidur.
Namun malam itu, lagi-lagi dari kamar Evelyn, terdengar suara yang merdu dan menggoda.
Mendengar suara pernohonan Evelyn, tubuh kekarnya Thomas mulai muncul lagi di dalam otakku, seperti wanita yang tidur di sebelah adalah aku.
Bab 3
Mungkin karena sedikit mabuk, atau mungkin juga karena kesepian, tiba-tiba aku bangun dari tempat tidur dan pergi ke dapur, lalu mengambil sebuah timun.
Melihat ukuran timun yang pas, aku mencucinya dan berjalan ke kamar mandi.
Awalnya aku pikir kamar mandi kosong, tapi saat aku mau membuka pintu, Thomas tiba-tiba membukanya dari dalam dan keluar.
Kami saling bertatapan dan tersenyum kaku, bersamaan terdiam di tempat.
Wajahku langsung memerah, benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Untungnya, Thomas cepat tanggap: “Kak, kamu mau pakai timun ini buat masker wajah, ya? Perlu aku bantu potongin nggak?”
“Ngg… nggak usah, aku bukan mau maskeran, aku cuma lapar, jadi mau makan aja… aku… aku suka makan ini…”
Dengan wajah yang malu, aku menjelaskan sambil mengangkat timun itu ke depan wajahnya.
Thomas hanya tersenyum kaku mendengar alasanku, lalu kembali ke kamarnya. Sebelum masuk, dia mengingatkanku kalau di kulkas banyak buah-buahan.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, aku langsung menarik napas berat, jantung berdetak kencang, tadi benar-benar terlalu canggung.
Aku masih tidak menyangka bahwa Thomas benar-benar percaya kalau aku suka makan timun.
Kalau dia tahu aku adalah wanita seperti ini, bagaimana pandangannya terhadapku?
Hanya memikirkan itu saja sudah membuat wajahku semakin panas.
Dengan perasaan yang campur aduk, aku ke toilet dalam keadaan canggung, cepat-cepat membasuh wajah dengan air dingin, lalu buru-buru kembali ke kamar.
Malam ini sudah pasti akan menjadi malam yang sangat menyiksakan.
Keesokan paginya, saat bangun, Evelyn melihat wajahku terlihat lesu, lalu bertanya dengan nada penuh perhatian, apakah semalam suara mereka terlalu berisik.
Pertanyaan itu langsung membuatku merasa sangat malu.
“Kak, maaf ya, mungkin tadi malam suara kami agak keras. Aku…aku bakal coba lebih tenang…”
Evelyn tersenyum nakal, menepuk pelan bahuku, lalu mendekat dan berbisik pelan di telingaku:
"Suamiku terlalu hebat, tidak puas-puas, kalau bisa, kamu bisa juga bantu aku..."
Setelah mengatakan itu, Evelyn tertawa terbahak-bahak. Meski terdengar seperti bercanda, ucapannya justru membuatku bergoyah.
“Kamu nggak cemburu?”
“Tentu nggak! Aku dan suamiku malah nggak keberatan, hahaha…”
Percakapan di antara kami, Evelyn seperti bercanda, tapi aku justru menganggapnya serius.
Malam harinya, aku ada acara makan malam kantor, jadi ketika Evelyn mengajakku pulang makan, aku menolaknya.
Acara makan malam itu berlangsung hingga jam 10, dan aku juga sempat minum beberapa gelas. Saat kembali ke rumah, sudah hampir jam 12.
Namun, hal yang tidakku duga adalah, begitu aku membuka pintu dan masuk ke dalam rumah, aku langsung mendengar suara minta ampun Evelyn dari kamarnya.
"Sayang, aku...aku tidak bisa lagi...sudah mau mati..."
Mengingat tubuh Evelyn yang kurus dan kecil, memikir tubuh Thomas yang begitu kuat dan kekar, aku benaran khawatir Evelyn tidak sanggup lagi.
Setelah berdiri di luar dan mendengarnya sejenak, aku merasa Evelyn sepertinya bisa saja mati di tangan Thomas.
Mendengar teriakan dia yang menyakitkan, aku tidak tahu Evelyn merasakan bahagia atau menderita.
Beberapa saat kemudian, terdengar lagi suara minta ampun dari Evelyn, dan juga bisa dengan jelas merasakan bahwa tenaga Thomas sepertinya tidak ada habisnya.
Aku yang minum banyak bir, mengingat percakapanku dan Evelyn pagi tadi, membuatku semakin memberanikan diri.
Aku dengan wajah merah, mengumpulkan keberanian dan datang ke depan pintu kamar mereka.
Tidak kusangka, pintunya tidak ditutup rapat.
Aku dengan pelan mendorongnya, pintunya sudah terbuka. Saat ini, Thomas membelakangiku, aku dengan wajah merah bilang ke Evelyn.
"Adik, kalau kamu tidak bisa, ganti aku saja."
Sehabis berkata, aku membuka bajuku, dan datang ke belakangnya Thomas...