Andai Cinta Datang Lebih Awal

Đang tải thông tin quảng bá...

Andai Cinta Datang Lebih Awal

GoodNovel Hoàn thành

Saat longsor salju di arena ski, aku didorong ke bawah oleh adik sepupuku sendiri, Julia Luandi.Kekasihku, Billy Juman, menggendong adik sepupuku, lalu membalikkan tubuhnya berjalan pergi begitu saja....

Chương (1)

第1章

Saat longsor salju di arena ski, aku didorong ke bawah oleh adik sepupuku sendiri, Julia Luandi.Kekasihku, Billy Juman, menggendong adik sepupuku, lalu membalikkan tubuhnya berjalan pergi begitu saja. Dia bahkan lupa bahwa masih ada aku yang terkubur di dasar salju, meninggalkanku sendirian selama tujuh hari di lembah. Saat mereka menemukanku, Billy berkata dengan emosi, “Seharusnya kamu bersyukur kedua lengan Lia baik-baik saja. Kalau nggak, kamu mesti mati di gunung salju ini untuk menebus kesalahanmu!” “Pernikahan pada seminggu kemudian dibatalkan. Kapan kamu menyadari kesalahanmu, kapan kita adakan pernikahan kita.” Tadinya Billy mengira aku akan menangis dan merengek lantaran tidak menyetujuinya. Namun, aku hanya mengangguk dengan perlahan. “Oke.” Billy tidak tahu aku telah melakukan sebuah transaksi dengan Dewa Bulan. Enam hari kemudian, aku akan menukarkan barang paling berharga bagiku, yaitu cinta dan ingatanku terhadap Billy. Mulai saat ini, aku akan melupakan semua tentang Billy, lalu memulai hidup di tempat baru. Menikah sudah tidak penting bagiku. Siena yang mencintainya itu sudah meninggal di dalam gunung salju. Bab 1 Saat terjadi longsor salju di arena ski, Siena Kimnara didorong oleh Julia Luandi hingga terjatuh dari gunung bersalju. Julia hanya mengalami dislokasi pada kedua lengannya karena jatuh di tempat, tetapi Siena malah terjatuh hingga ke dasar gunung.Siena terjebak di Gunung Meiri selama tujuh hari. Seandainya bukan karena kakinya tertusuk ranting pohon, membuat darahnya mencolok di tengah putihnya pegunungan salju, mungkin seumur hidupnya dia tidak akan ditemukan lagi. Jejak darah berwarna merah menyala menyebar di atas salju, seperti sekuntum bunga merah yang sedang bermekaran. Siena bersandar lemah di batang pohon. Napas dan tubuhnya sangat lemah, seolah-olah akan segera menyatu dengan salju saja. Begitu tim pengawal menemukan Siena, mereka segera menghubungi Billy Juman melalui walkie-talkie. “Tuan Billy, kami sudah menemukan Nona Siena!” Tidak lama kemudian, helikopter mendarat. Angin besar membuat Siena tidak sanggup untuk membuka matanya. Meskipun demikian, dalam sekilas mata, dia tetap bisa melihat Billy. Hanya saja, ada sosok Julia di belakangnya. Billy berlari mendekat dengan buru-buru. Ketika melihat tubuh Siena yang terhuyung-huyung, Billy langsung menyalahkannya. “Kenapa kamu lari sembarangan. Aku jadi mesti mengerahkan banyak orang untuk mencarimu! Kalau kamu berdiri di tempat, kami juga nggak perlu mencarimu selama lima sampai enam hari! Gara-gara kamu, tim pengawal harus bekerja tanpa henti selama 24 jam! Sepertinya sehari nggak bikin masalah, kamu nggak akan merasa puas, ya!” Sekarang sedang bulan November. Salju menyelimuti gunung di tengah musim dingin dengan suhu minus belasan derajat. Awalnya, Siena takut tersesat, jadi dia hanya berani berdiri di tempat, menahan dingin sambil terus berharap Billy akan datang menyelamatkannya. Siena berpikir, Billy pasti tidak akan tega meninggalkannya mati kedinginan di sini. Namun begitu malam tiba, sekeliling menjadi gelap gulita, sepasang demi sepasang mata hijau mengintai dari kegelapan. Suara auman binatang buas terdengar dari kejauhan. Siena ketakutan sampai tubuhnya gemetar hebat. Dia hanya bisa memegang obor tanpa berani menutup mata semalam. Sampai akhirnya, makanan terakhir pun habis, dia terpaksa keluar untuk mencari sayuran dan buah liar. Namun pada musim dingin yang menggigil seperti ini, Siena menggali tanah sampai jari-jarinya lecet berdarah dan mati rasa, tetapi dia tetap kesulitan untuk mengisi perutnya. Satu hari, dua hari, tiga hari …. Secercah harapan di hati Siena perlahan padam, seperti lilin yang ditiup angin musim dingin tanpa belas kasihan. Saat mendengar omelan Billy, Siena hanya menunduk lemas dan tidak berbicara sama sekali. Billy menganggap Siena cerewet, suka membantah, dan pintar berdalih. Setiap kali terjadi sesuatu, tak peduli bagaimana Siena menjelaskan, jawabannya selalu sama. “Kamu lagi ngawur, ya? Trik apa lagi yang lagi kamu mainkan?” Sudahlah. Siena sudah tidak ingin berdebat lagi dengannya. Terserah apa yang ingin dia katakan. Pengawal yang berada di samping bersin karena terkena embusan angin. Dia spontan bergumam, “Sering ada serigala di dalam pegunungan salju. Kalau dia hanya menunggu di tempat, sepertinya sekarang dia sudah menjadi tumpukan tulang.” “Astaga?” Julia menutup mulutnya dengan syok. “Kak Siena, apa dia itu temanmu?” Pengawal yang ditanya langsung menggeleng. “Bukan, aku nggak kenal sama dia.” Hari ini adalah hari pertama dia bekerja. Dia bahkan belum mengenal semua rekan kerjanya. Mana mungkin dia kenal dengan Siena? Julia pun tersenyum dengan makna tersirat. “Oh, begitu, kamu begitu perhatian sama dia. Aku kira kalian saling kenal. Kak Siena memang punya pesona, ya. Baru kenal sebentar saja, sudah ada yang belain kamu.” Sesuai dugaan, raut wajah Billy langsung berubah muram. “Siena, kenapa kamu nggak tahu cara menjaga sikapmu?” Kemudian, Billy memalingkan kepalanya berkata pada pengawal yang berbicara tadi dengan suara dingin, “Kamu … nggak usah masuk kerja lagi. Mohon lihat dengan jelas, aku barulah bos kalian. Kalau di antara kalian masih ada yang nggak bisa membedakan keadaan, nggak usah kerja lagi!” Begitu ucapan dilontarkan, semua orang spontan mundur beberapa langkah. Mereka semua takut amarah Billy akan membuat mereka kehilangan mata pencaharian mereka. Pada saat ini, Julia berjalan maju. “Kak Siena, apa kamu baik-baik saja?” Sambil berbicara, Julia hendak memapah Siena. “Kak Billy, Kak Siena juga bukan sengaja bikin kedua lenganku dislokasi. Dia hanya dimanjakan keluarganya sejak kecil, makanya dia jadi sedikit arogan dan nggak suka sama aku. Dia hanya lagi lampiasin amarahnya saja.” “Kak Billy, kamu jangan marah lagi sama Kak Siena …. Lenganku sudah dirawat selama beberapa hari juga. Kak Siena sudah lama seorang diri di pegunungan salju. Dia pasti merindukan keluarganya. Ayo, kita pulang.” “Seharusnya kamu bersyukur nggak terjadi apa-apa dengan kedua lengan Julia. Kalau nggak, kamu mesti mati di pegunungan ini sebagai ganti ruginya!” “Pernikahan satu minggu kemudian dibatalkan. Kapan kamu menyadari kesalahanmu, baru kita adakan kembali pernikahan kita.” Raut wajah Billy semakin muram lagi. “Hmph! Siapa juga yang nggak tahu dalam arena ski alami ini nggak ada pelindung dan berbahaya? Cuma demi foto yang bagus, kamu jalan ke sana kemari dengan sesuka hati. Kamu cuma bisa salahin diri kamu sendiri!” “Siena, kalau bukan karena orang tuamu punya budi sama aku, sudah lama aku ingin membatalkan perjanjian pernikahan ini!” Bab 2 Tiga tahun lalu, orang tua Siena meninggal dunia dalam kecelakaan mobil saat menyelamatkan orang tua Billy. Kerabat-kerabat yang mengincar harta Keluarga Kimnara segera membagikan seluruh aset mereka hingga tidak tersisa. Kakek Billy, Lukasa Juman, merasa kasihan terhadap Siena. Dia membawa Siena ke Kediaman Keluarga Juman agar dia tidak terlantar di jalanan. Sang kakek sangat khawatir Siena akan ditindas. Jadi, dia menjodohkan Siena dengan Billy dengan harapan Siena bisa menjadi cucu menantunya. Dengan begitu, mereka berdua pun secara alami menjadi sepasang kekasih. Namun, Billy terlalu populer. Seluruh orang di ibu kota tahu, tuan muda sulung Keluarga Juman itu tampan dan luar biasa. Wanita yang menyukainya pun sudah berbaris panjang. Dibandingkan dengan mereka semua, keberadaan Siena sama sekali tidak berarti. Demi mempertahankan Billy, Siena menghalalkan segala cara. Menangis, merengek, dan mencoba bunuh diri adalah makanan sehari-hari. Semua wanita yang mendekati Billy pasti akan diusir Siena dengan segala cara. Semua orang berkata Siena adalah tukang cemburu yang sangat protektif terhadap suaminya. Sementara itu, demi menunjukkan kekuasaannya, dia pun mengunggah foto bersama mereka di akun sosial media untuk memamerkan kemesraan! Namun sekarang, ketika dihadapkan dengan omelan Billy, Siena hanya menunduk dan membalas dengan suara ringan, “Aku tahu.” Billy pun terbengong. Dengan karakter Siena yang dulu, seharusnya dia akan segera menangis, merengek, menjerit untuk menolak, kemudian dia akan memeluk Billy untuk bermanja-manja demi mendapatkan hati Billy, seperti yang pernah Siena lakukan berkali-kali sebelumnya. Sekarang akhirnya Siena menuruti kemauan Billy. Dia berubah menjadi patuh dan penurut. Hanya saja, Billy malah merasa ada yang aneh. “Siena, kamu pikir dengan saksama. Kalau kamu bisa mengakui kesalahanmu, aku ….” “Aku sudah memikirkannya.” Siena tersenyum tipis. Sepertinya selamanya dia tidak akan menjadi tokoh utama wanita dalam pernikahan ini. Lagi pula, pada enam hari kemudian, Siena akan melupakan semua tentang Billy, termasuk rasa cinta terhadapnya. Dia akan memulai hidup baru di tempat baru. Ketika para pengawal menggotong Siena ke atas tandu, mereka baru menyadari bahwa kaki Siena terluka parah karena kedinginan. Kulitnya bahkan sudah membusuk. Entah sudah berapa lama Siena berjalan terseok-seok di tengah salju yang tingginya melewati lutut. Dia tak berani berhenti dan juga tidak boleh berhenti. Sebab, dia tahu, begitu dia berhenti, kawanan serigala di belakangnya akan langsung mengejarnya. Salju terlalu dalam. Siena tanpa sadar tergelincir. Sebatang ranting tajam menusuk telapak kakinya. Darah segar langsung menyembur keluar, mewarnai hamparan salju di sekitarnya dengan warna merah yang mencolok. Pada saat itu, Siena sempat berpikir bahwa dia akan kehabisan banyak darah dan mati di gunung bersalju ini. Ironisnya, kalau saja darah Siena tidak menodai salju yang putih itu, mungkin orang-orang itu juga tidak akan pernah menemukannya. Luka itu kelihatan mengerikan. Dagingnya sobek dan berlumuran darah. Darah yang mengalir membeku dan menempel pada kulitnya yang membiru dan bengkak. Setelah Billy melihatnya, dia langsung menunjukkan ekspresi panik. “Dokter, apa lukanya serius? Apa bisa sembuh total?” Dokter yang ikut serta dalam perjalanan kali ini menunjukkan raut serbasalah. “Nggak jelas. Sekarang aku hanya bisa duluan melakukan pembersihan pada lukanya. Mengenai yang lagi, cuma bisa diperiksa di rumah sakit.” “Siena, apa kamu kesakitan ….” Pada akhirnya, Billy tidak bisa menahan dirinya lagi. Ketika melihat jari tangan Siena kedinginan hingga memerah, dia hendak mengulurkan tangannya untuk menghangatkan tangan Siena. Hanya saja, tiba-tiba Julia yang berada di samping Billy tiba-tiba berdeham ringan. Rasa sakit menderita terlihat di atas wajahnya. “Stt, tanganku ….” Billy segera melepaskan tangannya, lalu memalingkan kepalanya pergi memeluk Julia ke dalam pelukannya dengan gugup. “Lia, gimana kondisimu?” Mata Julia memerah. Ujung matanya juga terlihat agak basah. “Aku nggak kenapa-napa, hanya saja lenganku terasa sakit karena tertiup angin. Kamu pergi lihat Siena dulu, dia ….” Billy menatap Julia dengan tidak berdaya. “Kalau tahu akan seperti ini, seharusnya aku suruh kamu memulihkan lukamu di rumah sakit. Dasar kamu ini, padahal kamu belum sembuh total, kamu malah sibuk khawatirin orang lain. Gimana nasibmu tanpaku?” Sambil berbicara, tangan Billy dengan lembut memijat bagian yang sebelumnya patah dan terluka. Meski kata-katanya terdengar seperti menyalahkan, nada suaranya justru penuh kelembutan. Dia sama sekali tidak melirik Siena lagi. Dia langsung menggendong Julia naik ke helikopter tanpa ragu sama sekali. Sementara, Siena terdorong olehnya hingga tubuhnya terhuyung dan nyaris jatuh. Telapak tangannya sempat tergesek di tanah, meninggalkan beberapa goresan berdarah. Bab 3 Setelah dengan tidak gampangnya tiba di rumah sakit terdekat, dokter pun menyampaikan kabar dengan wajah berat setelah melakukan pemeriksaan. Luka di kaki Siena sangat parah. Satu-satunya cara sekarang adalah amputasi, harus memotong bagian yang sudah busuk. Jika luka meradang dan bernanah itu terus dibiarkan, bisa jadi satu kakinya tidak bisa dipertahankan lagi. Bukan hanya itu saja, kondisi kelaparan parah telah merusak saluran pencernaannya. Jika ingin memulihkannya secara menyeluruh, mungkin akan membutuhkan waktu setidaknya 10-20 tahun. Mendengar hal itu, Billy merasa bagai dihantam palu besar saja. Dia terbengong beberapa saat baru akhirnya tersadar. Kemudian, dia menendang kursi hingga terjatuh dengan amarah tinggi. “Mana mungkin? Mana mungkin sedikit luka luar seperti itu malah diamputasi! Dasar dokter nggak berguna! Kamu jangan omong kosong di sini!” Julia segera menghalanginya. “Kak Billy, kamu jangan panik. Mungkin keterampilan dokter di tempat kecil seperti ini kurang memadai. Nanti kita bawa dia kembali ke ibu kota, pasti ada caranya! Kakakku itu ahli bedah yang sangat unggul. Gimana kalau diobati dia saja? Kalau nggak bisa, kita bisa cari spesialis di luar negeri.” Saat ini, Billy baru menyimpan amarahnya. Hanya tersisa sedikit rasa gelisah di dalam matanya. “Iya, iya, biarkan kakakmu saja yang mengobatinya,” ucap Billy sembari mengepal tangannya dengan gelisah. “Carikan dokter terbaik. Pasti bisa disembuhkan.” Oleh sebab itu, mereka buru-buru membawa Siena kembali ke ibu kota. Dokter yang menangani Siena adalah kakaknya Julia, Xavier Luandi. Dia adalah spesialis bedah terbaik di rumah sakit ibu kota. Setelah Xavier melihat luka Siena, dia pun berkata kepada Billy dengan singkat, “Nggak ada yang serius. Luka Siena hanya luka luar saja. Dia hanya perlu istirahat selama beberapa waktu. Lukanya akan membaik. Mengenai masalah organ dalam tubuhnya, semua itu juga bukan masalah. Dia hanya sedikit kekurangan gizi saja. Menurutku, semua ini hanyalah intrik Siena saja untuk mendapat rasa kasihan darimu.” Setelah mendengar ucapan itu, Billy menatap Xavier dengan sedikit ragu. Bagaimanapun, cedera Siena sangat mengerikan. Dia sendiri juga sudah melihatnya. Apa benar Siena baik-baik saja? Julia segera merangkul lengan Billy, lalu berkata dengan nada manja, “Kak Billy, kamu nggak usah khawatir. Teknik pengobatan kakakku nggak usah diragukan lagi.” Xavier menatap Billy dengan ekspresi tidak puas. “Aku nggak salahkan kamu! Bukannya kamu bilang kamu akan menjaga Lia dengan baik? Kenapa tangannya malah terluka? Bahkan masih belum sembuh sampai sekarang? Daripada kamu mencemaskan Siena yang kerjaannya mencelakai orang saja, lebih baik kamu mencemaskan Lia.” “Tangannya itu akan menjadi tangan seniman. Kalau terjadi sesuatu, aku pasti akan salahin kamu!” Julia tersenyum bersahabat. “Kak, jangan bicara lagi. Siena pasti bukan sengaja ingin melukai tanganku. Dia hanya kehilangan akalnya sesaat, makanya dia baru melakukan hal seperti ini.” “Lagi pula ….” Julia menatap Billy sembari menunjukkan senyuman lara dan juga tegar. “Meskipun kelak aku nggak bisa melukis lagi … asalkan ada Kak Billy yang menemaniku, aku pasti akan merasa sangat puas.” “Mana mungkin?” Perhatian Billy benar-benar teralihkan. Dia langsung menggenggam tangan Julia. “Lia, kamu tenang saja. Aku pasti akan membuatmu kembali memegang kuas!” Sandiwara kedua saudara itu telah membuat Billy sepenuhnya melupakan masalah Siena. Siena juga sudah terbiasa dengan mereka yang memutarbalikkan fakta. Saat kejadian longsor salju seminggu lalu, sebenarnya Siena sudah berhasil untuk menghindar. Hanya saja, dia malah didorong Julia ke bawah gunung. Lantaran bertengkar, kedua lengan Julia mengalami dislokasi, sedangkan Siena jatuh ke dasar gunung. Saat jatuh, tubuh Siena menghantam batu karang dengan kuat. Semua sendi di tubuhnya seakan-akan bergeser dari tempatnya. Rasa sakit yang luar biasa membuatnya tidak bisa bergerak, bahkan tidak sanggup mengeluarkan suara. Ketika Siena jatuh dari ketinggian, dia mendengar kutukan kejam dari Julia. “Lebih baik kamu mati di sini saja. Biar nggak repotin orang-orang. Ada banyak binatang buas di dalam gunung ini. Bisa memberi mereka makan, juga termasuk sebagai perbuatan baikmu.” Bab 4 Julia berbicara sembari mencari posisi cocok untuk berbaring di dalam salju. Saat menunggu Billy datang dengan buru-buru, Julia sedang berbaring di sana, sedangkan Siena sudah ditutupi salju di dasar gunung. Julia memberi tahu Billy bahwa dia tidak bersama dengan Siena. Dia juga tidak tahu keberadaan Siena. Billy pun diarahkan Julia untuk mengantarnya ke rumah sakit, meninggalkan Siena seorang diri di kaki gunung. Sejak melihat kematian orang tua dengan mata kepalanya sendiri, Siena merasakan rasa takut yang tidak bisa dideskripsikannya di saat menyendiri. Justru karena itu, Siena baru bersama mereka pergi ke arena ski. Siena memikirkan segala cara agar Billy bisa menemani di sisinya. Meski Julia juga ikut, dia akan berusaha memikirkan segala cara. Tidak disangka, Siena malah hampir kehilangan nyawanya di dalam pegunungan bersalju. Ketika membayangkan kembali rasa putus asa ketika terperangkap, sekujur tubuh Siena menjadi gemetar. Rasa sakit di tubuh dan siksaan batin meluap. Keringat dingin mulai bercucuran di keningnya. Billy langsung menyeretnya dari atas ranjang dengan sadis. “Segera akui kesalahanmu. Sudah dengar belum? Kalau bukan gara-gara kamu, apa mungkin lengan Lia akan patah dan pergelangan tangannya terluka? Kalau mulai saat ini Lia nggak bisa melukis lagi, aku akan perhitungan sama kamu!” Gerakan Billy menarik luka di tubuh Siena. Darahnya langsung merembes dari bekas, lalu membasahi seragam pasiennya. Kali ini, Billy baru menyadari bahwa luka di tubuh Siena tidak ada tanda-tanda membaik, melainkan lebih parah daripada sebelumnya. “Kenapa bisa begini?” Billy memalingkan kepalanya menatap Xavier dengan murka. “Jelas-jelas sudah pakai obat yang paling baik. Setiap harinya juga ada yang menjaganya. Kenapa nggak ada gunanya sama sekali?” Xavier terbengong dan segera mulai berdalih. “Emm … mana aku tahu? Setiap harinya aku memeriksa dan mengobati Bu Siena. Suster bisa jadi saksi mata!” Saat Julia melihat situasi ini, dia segera melihat Siena, lalu berkata dengan nada memelas, “Siena, aku tahu kamu marah, tapi kamu nggak boleh nggak diobati. Kalau kamu begini, aku dan Kak Billy bakal semakin khawatir lagi, ‘kan!” “Siena!” Usai mendengar, Billy pun semakin marah lagi. “Kamu bahkan nggak sayang sama diri kamu sendiri. Kamu memang nggak bisa diselamatkan lagi! Kalau kamu beronar seperti ini lagi, resepsi pernikahan ditunda sampai kehidupan berikutnya saja!” Namun, Billy tidak tahu bahwa setiap harinya Xavier memang ke kamar pasien, tetapi dia tidak pernah mengobati dan memeriksa Siena, bahkan sengaja membuka luka Siena dan menganiayanya. Dia pun merasa gembira dengan tindakannya. Mengenai obat impor yang dipesan Billy, semuanya sudah diam-diam dibawa keluar rumah sakit untuk ditunaikan. Tidak ada sedikit pun yang dioleskan ke tubuh Siena. Siena menatap Billy. Ucapan yang ingin dia lontarkan untuk berdalih pada akhirnya diam-diam ditelan kembali. Masalah sudah berkembang hingga tahap seperti ini. Apa pun yang dia katakan, Billy juga tidak akan memercayainya. Setelah keluar kamar pasien, amarah Billy masih belum mereda. Pasti karena selama beberapa tahun ini dia terlalu memanjakan Siena, itulah sebabnya karakternya menjadi seburuk ini. Meskipun merasa marah, Billy tetap merasa khawatir terhadap Siena. Jika Siena begitu emosi terhadap Billy, bukannya akan berpengaruh terhadap kesehatannya? Julia yang berada di samping mengamati raut wajah Billy dengan saksama, kemudian dia mengusulkan, “Kak Siena terlalu keras kepala, nggak berubah-rubah. Kalau ingin memperbaiki kebiasaan buruk Kak Siena, gimana … kalau pernikahannya dibatalkan saja?” “Nggak boleh.” Tanpa ragu, Billy langsung menolak. Billy hanya ingin Siena lebih penurut, tapi dia tidak pernah kepikiran menyuruh Siena untuk meninggalkannya. Setiap kali melihat cincin tunangan di tangannya dan Siena, tidak peduli betapa emosi dirinya, hati Billy tetap akan terasa luluh. Apalagi ketika kepikiran cedera menyeramkan yang dilihatnya tadi, hati Billy samar-samar terasa sakit. Siena sudah merasakan begitu banyak penderitaan. Billy juga tidak tega untuk mendesaknya lagi. “Kalau dia dibiarkan begini terus ….” Tersembunyi rasa tidak puas di dalam tatapan Julia. Hanya saja, saat Billy melihat ke sisinya, dia langsung menyembunyikannya. “Yang dilukai bukan hanya dirinya sendiri, Kak Billy juga bakal ikut sedih.” Billy merenung beberapa saat, lalu menggeleng. “Perjanjian pernikahan itu ditetapkan oleh senior, nggak bisa dibatalkan sesuka hati. Begini saja, ikuti apa kataku.” Terlintas sedikit rasa kesal di dalam tatapan Julia. Hanya saja, dalam seketika, dia bergoyang dengan lemah lembut. “Aku dengar apa kata Kak Billy. Aku ….” “Ada apa? Apa luka di tanganmu kambuh lagi?” Billy memeluk Julia lantaran mencemaskannya. Dia segera berlari ke ruang jaga dengan gelisah. “Tolong!” Bab 5 Siena sudah tiga hari di rumah sakit. Dalam tiga hari ini, terkadang ada seorang suster magang yang akan datang untuk membersihkan dan mengobati lukanya. Bahasanya memang mengobati luka, tapi sebenarnya hanya membersihkan luka sejenak, lalu mengoles sedikit obat saja. Efek pengobatannya hampir tidak terasa. Suster magang itu juga tidak tahu cara memperlakukan pasien dengan lembut. Seringkali Siena kesakitan hingga seluruh tubuhnya gemetar dan keringat dingin membasahi dahinya. Dia mencengkeram erat seprai di bawah tubuhnya. Jemari kurusnya sampai memucat karena mencengkeram terlalu kuat. Ketika melihat gambaran ini, Billy langsung merebut botol obat dari tangan suster, lalu mengobatinya sendiri. “Kenapa nggak bilang kalau sakit? Dulu kamu … bukannya kamu akan merengek memintaku untuk menghiburmu?” Seandainya Siena adalah Siena yang dulu, dia pasti akan merengek dengan manja meminta Billy untuk menghiburnya. Namun sekarang, Siena lebih memilih untuk menahannya saja. Billy sengaja meringankan nada bicaranya sembari menunggu Siena membalas ucapannya. Asalkan Siena bersedia menunduk, bukannya Billy tidak bisa memberinya sebuah kesempatan …. Bagaimanapun, di hati Billy, Siena tetap adalah calon istrinya. Siena adalah miliknya. Hanya saja, Siena hanya memalingkan kepalanya, seolah-olah tidak bersedia untuk melihat Billy. Dia berkata dengan nada datar, “Dulu aku sudah merepotkanmu. Aku sungguh minta maaf. Kelak aku nggak akan melakukannya lagi. Kalau kamu merasa perjanjian pernikahan ini merepotkan, aku bisa bahas sama Kakek agar dia membatalkannya.” Usai mendengar, kening Billy langsung berkerut. “Apa? Siena, apa kamu lagi main siasat tarik ulur? Bisa nggak kamu jangan beronar lagi!” Billy yang murka itu bagai seekor singa. Dia langsung membuang barang di tangan, lalu meninggalkan kamar dengan membanting kuat pintu. Dia meninggalkan Siena sendirian untuk berhadapan dengan beraneka jenis botol obat. Siena tersenyum tidak berdaya. Sejak kapan dia sedang beronar, padahal dia hanya sedang berterus terang saja. Keesokan harinya, Lukasa berada di depan pintu kamar pasien. Begitu melihat pria tua yang bukan anggota keluarganya, tetapi memiliki hubungan yang lebih dekat daripada anggota keluarganya, mata Siena spontan memerah. Ketika terperangkap di dalam pegunungan, selain merasa takut dengan kematian, hal yang tidak Siena relakan adalah kakek yang berhati baik ini. Waktu itu, kedua orang tua Siena telah meninggal. Lukasa-lah yang menggandeng tangan Siena membawanya ke Kediaman Keluarga Juman. Dia mengatur makan dan tempat tinggalnya, juga berpesan kepada Siena untuk mencarinya di kala ada masalah. Apa pun ceritanya, Lukasa akan selalu menjadi sandaran Siena. Saat melihat senyuman ramah pria tua itu, Siena pun menelan rasa penat di hatinya. Lagi pula, Siena juga akan pergi, jangan sampai Kakek mencemaskannya. Hanya saja, ketika Lukasa melihat luka di kaki Siena, dia pun merasa gusar hingga janggutnya bergetar. “Apa rumah sakit kalian ini nggak berguna? Kalian malah memperlakukan cucu menantu kesayanganku seperti ini. Apa kerjaan kalian semua!” ucap Lukasa semari memukul kuat tongkat ke atas lantai. Saat Lukasa masih muda, dia berjaya di dunia bisnis. Auranya yang dominan dan kewibawaannya sulit ditandingi. Hanya dengan kata-kata itu saja, Xavier pun berkeringat dingin. “Kamu … kamu jangan marah! Aku itu spesialis. Mana mungkin ada yang salah dengan pengobatanku? Siena sendiri yang nggak ingin diobati. Dia sengaja bersikap malang agar dikasihani orang-orang. Dengan begitu, kamu baru bisa dijadikan senjata!” Hanya saja, Lukasa tidak mendengar penjelasan Xavier. Dia terus memukul lantai dengan tongkatnya hingga lantai tidak berhenti bergetar. “Dasar bocah tengik, beraninya sembarangan bicara di hadapanku. Kulihat kamu minta dipukul!” Saat Julia mendengar suara itu, dia buru-buru ke dalam kamar pasien. “Kenapa? Apa yang terjadi? Kakek, apa Siena bikin kamu marah lagi? Kamu jangan emosi, ya. Siena sudah terbiasa bersikap arogan. Kamu jangan perhitungan sama dia ….” Lukasa langsung menampar wajah Julia. “Siena bikin aku marah lagi? Dia nggak pernah bikin aku marah! Apa kamu benar-benar mengira aku nggak tahu apa yang dilakukan kamu dan kakakmu? Kalian malah berani mengelabuiku! Lihat saja bagaimana aku beri pelajaran kepada kalian!” Tidak ada yang berani menghalangi Lukasa yang sedang emosi. Tamparannya langsung melayang ke wajah Julia. Darah seketika mengalir dari sudut bibirnya. Billy pun datang karena mendengar suara itu. Kebetulan dia melihat gambaran ini. Julia memanfaatkan kesempatan untuk masuk ke dalam pelukan Billy. Dia menangis hingga terengah-engah. “Kak Billy, maaf. Aku nggak tahu apa yang Kak Siena katakan di depan Kakek. Kakek jadi begitu membenciku …. Asalkan bisa bikin Kakek nggak emosi, nggak masalah aku mau dipukul seperti apa ….” Raut wajah Billy menjadi dingin. Dia melindungi Julia sembari berkata, “Apa kamu pantas untuk dibandingkan dengannya? Selama ada perlindunganku, aku ingin lihat siapa yang berani menyentuhmu!” Bab 6 Billy memalingkan kepalanya menatap Siena dengan tatapan benci. “Siena, sepertinya kamu belum kapok sebelum kena batunya! Aku ingin lihat kamu bisa hidup berapa hari setelah meninggalkan Keluarga Juman kami! Mulai sekarang, kita batalkan perjanjian pernikahan kita! Kamu bukan lagi calon istriku!”Ucapan Billy membuat Lukasa murka. Dia menunjuk Billy dengan tangan gemetar. “Kamu … kamu memang sudah buta ….” Belum selesai Lukasa menyelesaikan omongannya, dia pun memejamkan matanya dan jatuh pingsan di tempat. Dokter segera memeriksa Lukasa. Berhubung Siena merasa panik, dia spontan ingin berdiri. Hanya saja, lukanya malah tertarik dan dia kembali jatuh duduk di tempat. “Kakek, Kakek ….” Siena meneteskan air mata. Dia mengulurkan tangannya menarik ujung pakaian Billy. “Biarkan aku menjenguknya. Aku mohon sama kamu ….” Darah dan air mata menetes bersamaan. Hanya saja, Billy menepis tangan Siena dengan rasa jijik. “Kamu akting apa lagi? Kalau bukan kamu yang memprovokasi hubungan kita, apa mungkin Kakek akan marah hingga jatuh sakit? Siena, kamu memang rendahan sekali!” Billy membalikkan tubuhnya mengikuti dokter meninggalkan kamar pasien. Dia sengaja memerintah pengawal untuk menjaga Siena dengan baik, tidak memperbolehkannya ke mana pun. Orang tua Billy yang berada di luar kota juga telah mendengar kabar ini. Mereka bergegas menuju rumah sakit. “Kami baru beberapa hari nggak di rumah, malah terjadi masalah seperti ini! Dasar anak durhaka, kalau terjadi sesuatu dengan kakekmu, aku pasti akan habisi kamu!” marah ayahnya Billy, Leo Juman, dengan emosi tinggi. Dia hampir saja ingin turun tangan. Untung saja ada istrinya, Ariana, segera menghalanginya. Ketika Julia melihat situasi, dia segera berkata, “Siena cari masalah lagi. Kak Billy cuma omeli dia sedikit saja, dia malah mengadu sama Kakek, makanya Kakek ….” Raut wajah Ariana langsung menjadi dingin. “Dia seorang anak yatim piatu malah berani mencari masalah di Keluarga Juman. Dia memang nggak tahu diri! Apa dia benar-benar mengira dia itu putri orang kaya? Setelah berhasil menggaet keluarga kami, dia pun berkhayal sudah menjadi burung merak!” Saat Billy mendengar ucapan itu, keningnya spontan berkerut. “Ibu, kamu jangan bicara seperti ini. Bagaimanapun, nyawa orang tua Siena tiada demi menyelamatkanmu dan Ayah ….” “Cukup!” Leo menyela, “Hanya karena satu masalah itu saja, apa perlu kita selalu menurutinya untuk selamanya? Dia begitu arogan. Kalau kamu menikah sama dia, jadi apa Keluarga Juman ini? Lebih baik batalkan perjanjian pernikahan ini saja, usir Siena, si tukang buat masalah!” Reaksi pertama Billy adalah menolak. Dia hanya ingin menakuti Siena agar Siena lebih penurut saja. Hanya saja, dia tidak pernah kepikiran untuk benar-benar mencampakkan Siena. Sekarang Siena terluka parah dan tidak ada yang membantunya. Jika Siena tidak memiliki Billy lagi, siapa yang bisa menjadi sandaran Siena? Hanya saja, Julia menghalangi Billy dan berkata dengan suara ringan, “Kalau sekarang kamu masih bersikeras, bukannya Paman dan Bibi akan semakin marah sama Siena? Pelan-pelan saja, kita masih punya waktu.” Julia berpikir sejenak, lalu mengusulkan, “Gimana kalau kita antar Siena ke luar negeri? Sekarang dia bersikap begitu arogan pasti karena terlalu menempel dengan Kak Billy. Jadi kita bisa antar dia ke luar negeri agar dia bisa menenangkan dirinya. Kita bicarakan lagi setelah Kakek sehat nanti.” Ariana setuju dengan usulan itu. Dia segera pulang untuk mempersiapkan masalah yang bersangkutan. Mereka ingin segera mengantar Siena sejauh mungkin. Billy menggenggam tangan Julia dengan rasa berterima kasih. “Untung saja ada kamu. Siena sudah mencelakaimu hingga seperti ini, kamu nggak perhitungan sama dia, malah begitu memikirkannya ….” Julia tersenyum lembut. “Nggak, kok? Kak Siena juga hanya khilaf, doang. Mana mungkin aku akan perhitungan sama dia.” Selama beberapa hari ini, Siena dikurung di dalam kamar pasien. Tidak ada yang bisa berbicara dengannya. Setiap harinya dia hanya ditemani oleh ponselnya saja. Di dalam album tersimpan banyak foto bersama Siena dengan Billy. Awalnya hanya ada mereka berdua saja. Siena dan Billy minum segelas boba berdua, lalu jalan-jalan dengan bergandengan tangan …. Setiap momen itu adalah bukti bahwa mereka pernah saling mencintai. Hanya saja entah sejak kapan, jelas-jelas mereka berdua sedang berkencan, malah selalu muncul sosok Julia. Siena membuka ponselnya, lalu membuka akun Facebook-nya. Dari ratusan unggahan itu hampir semuanya berkaitan dengan Billy. Ada foto-foto kebersamaan mereka, juga catatan harian kecil yang dia tulis penuh perasaan di hari-hari spesial. Komentar netizen ramai mengoloknya karena terlalu bucin, seolah-olah hanya ada Billy saja yang pantas dia perhatikan di dalam hidupnya. Sembari membaca, Siena sembari tersenyum getir dan menggeleng saja. Masalah telah berkembang hingga tahap sekarang. Tidak ada gunanya untuk menyimpan foto-foto dan tulisan itu lagi. Jadi, Siena pun mengeklik tombol menghapus akun. Bab 7 Selama tinggal di rumah sakit, Billy datang untuk menanyakan kondisi penyakitnya. Hanya saja, dia pun dikelabui oleh Xavier. “Kamu juga sudah lihat sendiri kondisinya. Kalau dia nggak kerja sama, aku juga kehabisan akal. Nanti kapan dia bersedia untuk diobati, kondisinya akan segera pulih. Pada saat itu, setibanya di luar negeri, dia akan diobati oleh spesialis yang lebih bagus lagi. Kamu tenang saja.”Di satu sisi, Billy merasa marah dengan tingkah tidak masuk akal Siena. Di sisi lain, dia malah diam-diam merasa gembira karena Siena peduli dengan dirinya. Sepertinya Billy sangat penting bagi Siena. Saking pentingnya, Siena bahkan rela merusak kesehatannya demi bisa berada di sisinya. “Siena, kenapa kamu nggak menerima pengobatan biar bisa segera sembuh? Kenapa kamu masih begitu keras kepala mesti menyakiti dirimu sendiri dan memperparah cederamu?” Hanya saja, ketika Siena melihatnya, dia hanya bertanya dengan datar, “Apa Kakek sudah siuman?” Rasa luluh yang baru saja tumbuh di hati Billy langsung menghilang. Dia tersenyum. “Kamu malah berani tanya lagi? Kalau bukan karena kakimu nggak bisa bergerak sekarang, aku pasti akan paksa kamu berlutut untuk minta maaf sama Kakek!” Siena mengucapkan sepatah kata dengan lemas, “Maaf.” Hanya saja, sepertinya Billy tidak kedengaran atau dia tidak ingin mendengarnya. Tidak lama kemudian, barang Siena di Kediaman Keluarga Juman sudah dikemas. Kelihatannya seperti ingin mengusir Siena dari rumah saja. Di antaranya ada sebuah ukiran patung kayu kecil. Tadinya Siena berencana untuk memberikannya kepada Billy di saat hari ulang tahunnya. Waktu itu saat Siena datang ke Kediaman Keluarga Juman, dia masih adalah seorang gadis yang tidak familier dengan sekitar. Saat Lukasa tidak ada waktu, Billy akan menemani Siena bersama-sama ke taman bermain, jalan-jalan, dan nonton di bioskop. Billy yang waktu itu bersikap lembut sangat memperhatikannya. Siena diam-diam mulai menulis buku harian, menulis nama Billy di dalamnya. Patung kayu ini dibuat Siena dalam waktu satu bulan. Saat mengukir, tangannya pun tidak sengaja terluka oleh pisau. Rasa sakit itu tidak membuat Siena menyerah. Pada saat itu, hal yang Siena pikirkan adalah tidak boleh mengotori patung kayu ini. Namun saat hari ulang tahunnya, Siena dengan penuh rasa girang tiba di acara ulang tahun Billy. Pada saat itu, dia menyadari ada orang lain yang telah menjadi pendamping wanitanya, yaitu Julia. Julia merangkul lengan Billy dengan mesra. Senyuman mereka berdua kelihatan sangat menusuk di mata Siena. Waktu itu, Siena merasa sedih hingga ingin menangis di tempat. Billy malah tidak menyadarinya, malah membawa Julia berjalan ke hadapan Siena, “Siena, ini pertama kalinya Julia menghadiri acara seperti ini. Kamu mesti lebih menjaganya ….” Siena tidak bisa mendengar kalimat akhir sebab dia merasa sedih dan marah. Dia langsung menepis tangan Billy, lalu berlari keluar. Jelas-jelas Siena barulah orang yang seharusnya berdiri di samping Billy. Jelas-jelas Siena barulah calon istri Billy! Setelah kejadian itu, Siena bertengkar hebat dengan Billy. Billy malah menyalahkan Siena tidak masuk akal. “Apa bisa jangan selalu bersikap buruk terhadap setiap orang yang kamu jumpai? Apa kamu nggak malu bersikap seperti anjing rabies saja? Lia itu temanku. Bisa nggak kamu menghormatinya!” Sejak saat itu, sikap Billy terhadapnya menjadi lebih dingin. Dia tidak lagi bersikap seperti dulu, yang mana memanggilnya “Nana” dengan lembut. Setiap kali mendengar Billy memanggilnya “Siena” dengan nada tidak sabar, hati Siena sungguh terasa pilu. Saat terjebak di gunung salju dan nyaris kehilangan nyawanya, Siena duduk di bawah pohon dengan kaki terluka parah dan rasa putus asa di hatinya. Di depan kematian, segala obsesi tidaklah berarti. Tiba-tiba, seorang Dewa Bulan yang berpakaian putih muncul di hadapan Siena. “Ternyata kamu itu manusia yang terluka akibat cinta dan nyaris kehilangan nyawamu. Begini saja, kita lakukan sebuah transaksi saja. Nanti aku akan biarkan aku melanjutkan hidupmu.” Siena bertanya dengan napas lemah, “Transaksi apa?” “Serahkan barang paling berhargamu untukku. Aku pun bisa membuatmu melanjutkan hidupmu!” “Aku nggak punya orang tua dan kekuasaan. Hal yang paling aku hargai adalah cintaku terhadap Billy. Gimana caranya aku memberikannya kepadamu?” Siena tersenyum getir. Dia merasa dirinya sangat kasihan. “Enam hari kemudian, kamu lompat dari atas gedung. Aku akan merenggut rasa cintamu terhadap Billy dan juga semua memori tentang Billy. Kemudian, kamu mulai hidup barumu kembali.” Siena memejamkan matanya. Gambaran masa lalu bersama Billy terlintas di hadapannya. Billy, aku akan melepaskanmu. Pada akhirnya, Siena mengangguk. “Aku janji sama kamu.” Di hari keenam. Bawahan Kediaman Keluarga Juman datang ke kamar pasien untuk bertanya pada Siena, apa lagi yang perlu dibawa pergi. “Nona Siena, ini semua adalah barang di dalam kamarmu. Mohon dipastikan sebentar.” Tatapan Siena tertuju pada tumpukan barang itu. Dia pun menggeleng. “Nggak usah lagi. Buang saja semuanya. Nggak butuh lagi.” Sebelum pergi, Billy datang untuk menemui Siena. Setelah kepikiran mereka tidak bisa bertemu lagi di kemudian hari, hatinya pun terasa lara. “Saat berobat di luar negeri, kamu renungkan dirimu dengan baik, perbaiki temperamenmu. Setelah kamu mengubahnya, aku akan pergi menjemputmu. Sudah dengar belum?” Siena hanya mengangguk dengan datar. “Aku tahu. Aku akan berubah.” Kening Billy berkerut. Hatinya terasa semakin tidak tenang saja. Siena yang sekarang sangat penurut, tetapi entah kenapa Billy malah merasakan keanehan yang tidak bisa dideskripsikannya. Sepertinya dia merasa Siena tidak seharusnya bersikap seperti ini …. Pada saat ini, Julia berjalan ke dalam ruangan dan merangkul lengan Billy. Dia memotong pemikiran Billy. “Kak Siena, apa kamu sudah siap-siap?” Ketika melihat sikap mesra mereka, Siena hanya tersenyum datar saja. “Kalian tunggu di luar saja. Aku akan datang setelah ganti pakaian.” Billy merasa tidak tenang. Hanya saja, di bawah dampingan Julia, dia pun berjalan keluar kamar pasien. Hati Billy mulai dibaluti dengan firasat buruk. Kenapa Siena tidak seperti dulu, memelasnya dengan manja? Kenapa Siena tidak cemburu dengan Julia? Julia dapat melihat sikap Billy. Terlintas rasa sadis di dalam matanya. Sepertinya apa hebatnya Siena si wanita jalang itu! Padahal kondisi Siena sangat buruk saat ini, kenapa Billy masih begitu perhatian terhadapnya? Hanya saja, ketika mengangkat kepalanya, Julia masih tersenyum manis terhadap Billy. “Kak Billy, kamu jangan khawatir.” “Paman dan Bibi sudah mengaturnya dengan baik. Aku nggak akan merugikan Kak Siena.” Billy mengangguk dengan tidak fokus. Paling-paling Billy akan terbang ke sana untuk mengunjungi Siena. Namun, Siena tidak boleh menyadarinya. Jika tidak, dengan temperamennya, dia pasti akan bersikap seperti dulu, tidak bersedia untuk melepaskannya. Ketika kepikiran dengan hal ini, Billy spontan tersenyum. Hanya saja, satu detik kemudian, tiba-tiba dia memperhatikan ada sesosok bayangan yang familier baginya sedang duduk di tepi jendela lantai lima. “Jangan ….” Kedua mata Billy spontan terbelalak lebar. Dia spontan hendak menyerbu ke depan. Hanya saja, semuanya telah terlambat. Satu detik kemudian, sosok bayangan tubuh langsing itu jatuh ke lantai, lalu terlihat darah berlumuran di atas lantai. “Nana!”