Đang tải thông tin quảng bá...
Buah Cinta Pengkhianatan Suamiku
"Bu Kate, kamu sudah enam kali menjalani program bayi tabung supaya bisa hamil. Kamu benar-benar ingin menyerah? Apa Pak Stuart juga setuju untuk menggugurkan anak ini?""Aku yakin, dia akan setuju." S...
Chương (1)
第1章
"Bu Kate, kamu sudah enam kali menjalani program bayi tabung supaya bisa hamil. Kamu benar-benar ingin menyerah? Apa Pak Stuart juga setuju untuk menggugurkan anak ini?""Aku yakin, dia akan setuju."
Suara Kate serak setelah semalaman tidak tidur. Namun, pikirannya tidak pernah sejernih ini.
"Operasi sudah kami jadwalkan seminggu lagi."
Seminggu lagi adalah hari ulang tahun pernikahannya dengan Stuart.
Bagus juga. Kalau harus diakhiri, biarlah berakhir dari tempat semuanya dimulai.
Setelah memesan tiket pesawat untuk pergi jauh, tangan Kate perlahan menyentuh perutnya. Di dalam sana tumbuh satu kehidupan kecil yang belum terbentuk sempurna.
Lima tahun terakhir, dia menantikan kehadiran anak ini dengan penuh harap.
Siapa sangka, di hari ketika harapannya akhirnya terwujud, justru dia memilih untuk melepaskan.
Bab 1
Ting tong .... Ponsel kembali memunculkan trending topic yang telah bertahan selama setengah bulan.
Stuart membeli sebuah vila mewah dengan harga tinggi, bahkan menanam sendiri taman penuh mawar sebagai persiapan untuk perayaan ulang tahun pernikahan yang kelima. Sekali lagi, dia mengumumkan kepada seluruh dunia bahwa hanya Kate yang dia cintai.
Komentar yang tak terhitung jumlahnya, semuanya iri pada kisah cinta mereka.
[ Siapa bilang cinta beda usia nggak bisa bahagia? Pak Stuart sangat tergila-gila padanya. Katanya, Bu Kate lebih tua enam tahun dari dia dan Pak Stuart perlu tiga tahun penuh usaha untuk menaklukkan hatinya. ]
[ Semua orang tahu Pak Stuart sangat mencintai istrinya. Dua tahun lalu saat gempa, Bu Kate terjebak dan Pak Stuart nekat masuk untuk menyelamatkan. Saat berhasil diselamatkan, tubuhnya penuh luka, tapi malah dia yang menenangkan Bu Kate yang ketakutan. Di berita waktu itu, Pak Stuart memeluk istrinya sambil menangis lho! ]
[ Tahun lalu, ada media yang mengejek Bu Kate karena usianya dan bilang dia nggak bisa punya anak. Media itu langsung digugat Pak Stuart sampai bangkrut. Pak Stuart bahkan bilang terang-terangan, dia nggak peduli soal anak, tapi nggak akan biarin siapa pun menyakiti istrinya karena hal itu. ]
Melihat komentar itu, Kate hanya bisa tersenyum pahit. Tidak membiarkan siapa pun menyakitinya, Stuart memang benar-benar melakukan itu. Kalaupun harus menyayat dagingnya, pisau itu tetap dipegang oleh Stuart sendiri.
Saat pertama kali tahu dirinya hamil, Kate begitu bersemangat ingin memberi tahu kabar baik itu kepada Stuart. Namun, yang datang justru sebuah pesan dari orang asing. Isinya adalah foto maternity.
Seorang wanita muda tersenyum manis, sementara Stuart berlutut dengan satu kaki dan mencium perut buncit wanita itu dengan ekspresi bahagia serta puas.
Air mata pun jatuh deras. Hasil dari enam kali program bayi tabung yang penuh rasa sakit, terasa seperti lelucon saat melihat hasil USG di tangannya.
Saat hari pernikahan, Stuart pernah bersumpah, "Seumur hidupku, aku hanya akan mencintaimu seorang."
Namun, ternyata seumur hidupnya hanya bertahan lima tahun. Kalau begitu, Kate tidak ingin lagi memiliki pria bernama Stuart ini. Sementara itu, anaknya tidak boleh dilahirkan dalam kebohongan.
Pintu kamar terbuka. Mata Kate yang merah menatap Stuart. Pria itu langsung panik.
"Ada apa, Sayang? Kenapa nangis? Jangan nangis, biar aku yang selesaikan masalahmu." Stuart melirik sekilas hasil USG di sebelah, tetapi tidak terlalu memperhatikannya. Dia langsung memeluk Kate ke dalam pelukannya.
"Kalau program bayi tabungnya gagal, ya sudah. Aku nggak masalah kalau kita memang nggak bisa punya anak. Aku cuma butuh kamu. Ayo, jangan nangis. Aku sedih lihat kamu begini."
Kate tersenyum, tetapi senyumannya lebih buruk daripada tangisan. Sungguh munafik. Padahal, anak dari wanita lain akan lahir sebentar lagi.
Stuart tidak menyadari perubahan sikap Kate, masih terus menenangkannya, "Sayang, seminggu lagi ulang tahun pernikahan kita. Aku tanam hamparan mawar khusus untukmu, juga siapkan kembang api warna biru. Nanti kita lihat bareng ya? Kamu 'kan paling suka warna biru."
Kate menatapnya dengan tatapan kosong, tersenyum sambil meneteskan air mata. Tampaknya, pria ini sudah lupa dirinya tidak pernah menyukai warna biru.
"Kalau begitu, seminggu lagi aku juga akan kasih kamu hadiah ulang tahun pernikahan," ujar Kate.
Mata Stuart langsung bersinar penuh kegembiraan. Dia menghapus air mata yang dikiranya adalah tangis bahagia itu dengan hati-hati.
"Sayang, aku nggak sabar deh. Aku tunggu kejutan darimu."
Kate hanya menatap hasil USG itu dalam diam. Semoga nanti Stuart benar-benar "terkejut"!
Bab 2
Keesokan siang, Stuart membawa Kate makan siang di rumah keluarganya. Ibu Stuart tidak menyukai Kate. Bahkan saat pernikahan mereka, dia sama sekali tidak hadir.Setelah menikah, Stuart langsung mengajaknya pindah dari rumah dan hanya pulang ke rumah keluarga setiap akhir bulan.
"Sayang, nanti apa pun yang Ibu katakan, jangan dimasukkan ke hati ya. Suamimu ini selalu di pihakmu. Kita makan sebentar, lalu pulang," pesan Stuart sambil menggenggam tangan Kate.
Begitu masuk ke rumah, Kate sudah mendengar tawa ibu Stuart. "Bayinya imut sekali, tangan dan kaki mungilnya itu bikin hati meleleh."
Wajah Kate langsung pucat, langkahnya terhenti di tempat. Orang yang duduk di sebelah ibu Stuart adalah perempuan yang sama di foto maternity itu.
"Dia anak temanku, Winter. Dia sedang hamil, keluarganya di luar negeri. Jadi, temanku minta aku untuk menjaganya. Tadi pagi, aku baru temani dia periksa kehamilan."
Ibu Stuart menggandeng Winter mendekat, lalu menyodorkan hasil USG ke Stuart dengan tatapan penuh makna. "Cepat lihat, bayi ini mirip nggak sama ayah ibunya?"
Tatapan Stuart seketika menunjukkan kepanikan, nada suaranya pun terdengar seperti memberi peringatan. "Jangan bercanda, Bu. Mana mungkin aku tahu? Aku baru pertama kali ketemu Winter hari ini."
Ibu Stuart melirik ke arah Kate, lalu mendorong Winter ke depan. "Kalau begitu, aku perkenalkan dulu ke kamu. Winter, ini Stuart. Panggil Kak Stuart."
Pipi Winter memerah. "Kak Stuart ...."
Stuart mengangguk, lalu langsung merangkul Kate. "Ini kakak iparmu, Kate."
"Halo, Kak Kate."
Hati Kate benar-benar hancur. Tangan yang terkulai di sisi tubuhnya mulai gemetar. Ternyata seluruh keluarga ini tahu tentang Winter, hanya dia satu-satunya yang dibohongi.
"Kenapa, Sayang?" Stuart langsung panik. "Gula darahmu turun lagi ya?"
Dia buru-buru mengeluarkan permen dari sakunya, membuka bungkusnya, dan menyodorkannya ke bibir Kate.
Kate membuka mulut dengan kaku. Itu jelas-jelas adalah permen, tetapi rasanya begitu pahit di lidah.
Stuart meminta pelayan menyajikan makanan, lalu menggandengnya duduk. "Tadi kamu belum sarapan, sekarang makan lebih banyak ya."
Saat melihat Kate memegang gelas, Stuart langsung menggantinya dengan air hangat. "Kamu sebentar lagi mens, jangan minum yang dingin. Nanti perutmu sakit lagi. Udangnya segar banget hari ini, aku kupasin buat kamu."
Sepanjang makan, Stuart hampir tidak makan apa pun, fokusnya hanya pada piring Kate yang selalu penuh.
"Kak Stuart baik banget sama istrinya. Aku sampai iri sama Kak Kate." Tiba-tiba, Winter bersuara, "Aku juga suka udang, Kak Stuart bisa kupasin buat aku juga nggak?"
Dia mendorong piringnya ke arah Stuart, tetapi Stuart sama sekali tidak peduli. "Kalau mau makan, kupas sendiri. Aku cuma kupasin udang buat istriku."
Kate meneguk air hangat, menahan rasa mual yang menyerang. "Kasih dia saja. Aku nggak ingin makan."
Stuart terdiam, lalu memanyunkan bibirnya seperti anak kecil. "Kalau begitu, aku makan sendiri deh. Masa kamu kasih udang yang aku kupasin ke orang lain sih ...."
Tatapan Kate dipenuhi sindiran. Sudah tidur bareng, tetapi masih berpura-pura seperti ini?
Ibu Stuart meletakkan sendok dengan wajah masam. "Kate, program bayi tabungmu sudah gagal enam kali, 'kan? Pas banget ada Winter di sini, coba tanya-tanya sama dia."
"Bibi, aku nggak punya pengalaman apa-apa. Aku sama pacarku langsung hamil di percobaan pertama. Kebetulan hari itu juga ulang tahunku, mungkin suasana hati juga berpengaruh." Winter menggeleng dengan malu-malu.
"Ya jelas. Menantuku ini sepuluh tahun lebih tua darimu, jelas nggak bisa dibandingkan," sindir ibu Stuart. "Aku berencana mengajak Winter tinggal di rumah, biar lebih mudah dijaga. Siapa tahu bisa ikut kecipratan rezeki dan cepat dapat cucu."
Begitu ucapan itu dilontarkan, Stuart langsung menolak dengan tegas, "Aku nggak setuju."
Tatapan ibu Stuart ke arah Kate semakin dingin. "Kenapa? Karena kamu nggak bisa punya anak, jadi orang lain juga nggak boleh punya?"
"Sudah cukup?" Suara Stuart rendah dan dingin. "Kalau Ibu terus begini, aku nggak akan pernah kembali ke rumah ini lagi."
"Maaf, aku nggak akan ganggu kalian." Winter berdiri dengan mata memerah, lalu cepat-cepat pergi.
Stuart secara refleks bangkit untuk mengejarnya, tetapi langsung sadar dan berhenti di tempat.
"Aku sudah selesai makan," ujar Kate dengan dingin sambil menyaksikan seluruh drama, lalu langsung pergi.
Begitu keluar dari rumah itu, Kate menerima permintaan pertemanan dari Winter.
[ Tanggal 5 Maret itu ulang tahunku, juga pertama kalinya kami bercinta. Dia nggak membiarkanku turun dari ranjang seharian penuh. ]
Hari itu, Kate gagal untuk kelima kalinya dalam program bayi tabung. Dia tidak makan, tidak minum, mengurung diri di kamar selama sehari semalam.
Saat suasana hatinya akhirnya stabil dan dia membuka pintu kamar, dia mendapati Stuart duduk di luar kamar dengan pakaian berantakan. Dia bahkan merasa kasihan dan berusaha menghiburnya.
Ternyata, saat itu Stuart baru saja selesai bercinta dengan Winter. Betapa menyedihkan, betapa menyakitkan.
Selama lima tahun, meskipun telah menerima begitu banyak suntikan, dia tidak merasa sakit. Namun, kali ini dadanya terasa sakit luar biasa, napasnya pun sesak.
"Sayang, kenapa kamu nangis?" Stuart menyusul ke luar. Melihat air mata yang membanjiri wajah Kate, dia langsung panik dan refleks melirik layar ponsel Kate.
Bab 3
Layar ponsel otomatis mati. Stuart tidak mencurigai apa pun. Dia menarik Kate ke pelukannya dan menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.
"Sayang, jangan nangis. Aku ikut sedih lho. Ini semua salahku. Aku nggak seharusnya membawamu ke sini dan membuatmu tersakiti."
"Dia memang ibuku, tapi kamu nggak punya kewajiban untuk bersikap baik padanya demi aku. Kamu boleh memukul atau memakiku, asalkan kamu bisa lega."
Sepanjang perjalanan pulang, Stuart terus berusaha menenangkan Kate. Kate memilih menutup mata dan berpura-pura tidur.
Suara notifikasi pesan sesekali terdengar. Stuart pun terus-menerus membalas pesan.
Sesampainya di depan rumah, Stuart mengusap kepala Kate dengan lembut. "Sayang, ada urusan mendadak di kantor yang harus kutangani. Kamu tunggu di rumah ya, aku janji malam ini pulang cepat."
Kate turun dari mobil dengan tenang tanpa melontarkan sepatah kata. Setelah Stuart pergi, Kate menyetujui permintaan pertemanan dari Winter. Kemudian, dia membuka foto-fotonya.
Postingan yang disematkan ada dua foto. Foto pertama, punggung Stuart saat sedang menanam mawar. Foto kedua, hamparan lautan mawar biru.
[ Demi seseorang yang sudah menanamkan mawar biru kesukaanku, aku maafkan sekali ini. Cepat datang dan bujuk aku ya. ]
Dada Kate terasa sesak. Ternyata, yang menyukai warna biru adalah Winter. Bahkan, mawar-mawar itu bukan ditanam untuknya.
Kate langsung memesan taksi dan menuju ke vila tempat mawar itu ditanam. Begitu sampai, dia langsung melihat mobil Bentley hitam milik Stuart.
Tak jauh dari hamparan mawar biru, Stuart berdiri membelakanginya, belum menyadari kehadiran Kate.
"Kalau Kate bisa punya anak, aku nggak akan mencarimu. Dia itu batas terakhirku. Kamu muncul di hadapannya dan masih berani ngambek?" tegur Stuart.
Mata Winter berkaca-kaca. "Kalau begitu, kenapa kamu masih datang mencariku? Biarin saja aku, jangan urus aku lagi."
"Jangan nangis lagi." Suara Stuart melunak. "Selama kamu nurut, aku akan jaga kamu seumur hidup."
Winter pun langsung tersenyum dan memeluknya. "Aku bisa lebih nurut lagi kalau kamu mau."
"Aku sudah kosongin waktu sore ini khusus buat kamu, kamu rasa aku nggak mau?" Suara Stuart terdengar serak. Dia langsung menggendong Winter dan melangkah cepat ke dalam vila.
Winter sempat menoleh ke belakang dan tersenyum sinis ke arah Kate. Dia sudah sadar Kate ada di sana sejak tadi.
Bayangan dua tubuh yang saling menempel terlihat dari balik jendela, terus bergerak dalam siluet yang menyakitkan.
Di tepi jalan, Kate menyaksikan semuanya. Dia merasa tersiksa, bahkan napasnya terasa dingin. Seperti ada kail berduri yang mencabik jantungnya. Setiap tarikan menyebabkan luka berdarah.
"Kamu juga mau foto di sini ya? Hubungan Pak Stuart dan Bu Kate tetap mesra setelah bertahun-tahun, bikin iri deh," ucap seorang wanita yang sedang berfoto di dekat situ.
"Di kehidupan sebelumnya, Bu Kate mungkin adalah pahlawan galaksi. Wanita mana yang nggak ingin punya suami kayak Pak Stuart?"
Kate tersenyum sambil menangis. "Tapi, sekarang dia sudah nggak mau lagi."
Vila yang katanya hanya untuknya, ternyata juga tempat Stuart tidur dengan wanita lain.
Wanita tadi memandang Kate dengan saksama, lalu tertegun. Tak heran banyak orang bisa salah mengenali. Winter memang sangat mirip dengan dirinya saat pertama kali bertemu Stuart. Saat itu, dia baru 24 tahun.
"Ternyata semua laki-laki sama saja," gumam wanita itu dengan ekspresi sedih. "Padahal Pak Stuart termasuk baik, mungkin dia cuma benar-benar ingin punya anak. Sampai wanita simpanannya yang dicari pun mirip kamu."
"Kalau menurutku, lupakan saja. Anggap saja nggak tahu apa-apa. Pulang dan teruskan hidup kalian seperti biasa."
"Nggak mungkin kembali seperti biasa." Suara Kate terdengar ringan.
Fakta bahwa wanita itu mirip dengannya bukanlah alasan untuk bersyukur, malah membuatnya merasa semakin jijik.
Setelah keluar dari vila mawar, Kate pergi ke rumah sakit dan mengambil obat perawatan sebelum melakukan aborsi.
Obat itu diletakkannya di atas meja kecil. Dia menatapnya lama, matanya kosong, hatinya nyaris tenggelam dalam kepedihan.
Tiba-tiba, pintu terbuka. Stuart masuk dengan terburu-buru. Ada dua kancing bajunya yang salah dipasang, bahkan dia sempat menabrak kursi sampai kursi itu terjatuh.
Dia memandang Kate dari atas ke bawah dengan wajah pucat. "Sayang ... kenapa kamu ke rumah sakit?"
Bab 4
Kartu berobat Kate terdaftar atas nomor Stuart, jadi pesan pengambilan obatnya juga langsung masuk ke ponsel pria itu."Sayang, tolong bicara dong. Aku cemas banget."
Kate menyerahkan kantong obat itu kepadanya. "Dokter menyarankanku coba obat baru. Katanya mungkin bisa meningkatkan peluang keberhasilan bayi tabung berikutnya."
"Yang penting kamu nggak kenapa-napa, aku hampir mati ketakutan," ucap Stuart sambil menaruh kantong obat begitu saja di meja tanpa melihat isinya.
Kate tertawa dingin. Dulu, apa pun obat yang dia minum, Stuart pasti membaca dengan saksama karena takut ada efek samping.
Dia selalu bilang, dia memang tidak bisa menggantikan rasa sakit karena program bayi tabung, tetapi setidaknya dia bisa selalu mengingatkan diri sendiri bahwa Kate menderita demi dirinya.
Sekarang, Kate sendiri yang menyerahkan obat perawatan sebelum aborsi ke tangan Stuart, tetapi Stuart bahkan tidak sudi untuk meliriknya.
Aroma parfum asing bercampur dengan wangi mawar di tubuh Stuart membuat Kate ingin muntah. Sakit di perutnya pun ikut kambuh. Dia menahan sakit sambil memegang perut bagian bawah.
"Kamu masuk angin pas lagi mens ya?" Stuart mendekat, mencoba menghangatkan perutnya.
Kate langsung menepis tangannya. "Bau badan kamu menjijikkan sekali."
Stuart mencium dirinya sendiri, lalu tertawa. "Wangi mawar ya? Aku terus mikirin ulang tahun pernikahan kita yang kelima. Karena takut persiapannya kurang, aku bolak-balik ke taman mawar seharian. Aku mandi dulu ya sekalian ganti baju."
Padahal sebelumnya, Stuart mengatakan dia pergi ke kantor. Kate malas membongkar kebohongannya, jadi hanya menjawab datar, "Ya."
Begitu Stuart pergi, Kate mengambil ponselnya. Selama lima tahun terakhir, kehidupan sosial Kate hanya berputar di sekitar Stuart. Dia bahkan tidak punya satu pun teman dekat sendiri. Jadi, jika harus pergi, tak banyak orang yang perlu dia kabari.
Kecuali adik kandungnya, satu-satunya keluarga yang tersisa, Ken. Namun, saat dia membuka kontak Ken, jarinya tak kunjung menekan tombol panggil.
Ken sangat menghormati Stuart sebagai kakak ipar. Kate takut semuanya menjadi lebih rumit. Mungkin lebih baik menunggu sampai hari keberangkatannya tiba.
Malam hari, Stuart tidur di sebelahnya, memijat perutnya dengan lembut. "Sayang, aku sudah alihkan semua pekerjaan untuk dua hari ke depan. Dua hari pertama menstruasimu biasanya yang paling sakit. Aku nggak tenang kalau kamu sendirian di rumah."
Kate hanya menjawab asal, tak terlalu peduli.
Tengah malam, Kate terbangun karena suara notifikasi ponsel.
"Maaf ya, kebangun ya? Masih ada beberapa kerjaan yang harus kuatur. Aku aktifkan mode hening ya. Ayo, tidur lagi."
Kate tetap memejamkan mata, tetapi tak bisa tidur lagi. Tangan kiri Stuart memijat perutnya, tetapi tangan kanannya masih sibuk membalas pesan.
Kehangatan dari ujung jarinya, ditambah sesekali tawa pelan yang tak bisa dia tahan, rasanya seperti disayat perlahan dengan pisau tumpul.
"Sayang?" Suara Stuart terdengar hati-hati. Seperti harapannya, Kate tidak menjawab. Stuart menarik tangannya perlahan, lalu keluar kamar dengan langkah pelan tetapi penuh antusiasme.
"Berani sekali kamu kirim foto itu. Tunggu saja, besok aku bikin kamu nggak bisa turun dari ranjang."
Setelah pintu tertutup, ponsel Kate bergetar beberapa kali. Pesan-pesan dari Winter masuk.
[ Kakak sudah tua dan nggak menarik lagi ya? Kak Stuart sampai stres menahan diri. Dia tetap nggak puas setelah melakukannya sepanjang sore sama aku. Dia bahkan bilang malam ini mau coba gaya baru sama aku. Sama sekali nggak kasihan sama aku yang lagi hamil. ]
[ Kakak benaran kasihan. Aku hamil setelah bercinta dengan Kak Stuart, tapi kamu cuma bisa harapin mesin tabung dingin dan tetap nggak berhasil juga. ]
Di kamar yang pemanasnya menyala, tubuh Kate malah terasa beku. Dia bangkit, mengambil kantong air hangat, lalu kembali berbaring.
Lima tahun terakhir, Kate selalu merasa pertemuannya dengan Stuart terlalu terlambat, sementara hidup terlalu singkat. Namun, sekarang hanya tersisa lima hari dan rasanya lima hari itu terlalu panjang untuk dilewati.
Bab 5
Kate tidur larut, jadi bangunnya agak siang. Begitu keluar dari kamar, Stuart kebetulan baru saja mendorong pintu masuk dari luar."Sayang, aku beliin pangsit udang kukus dari restoran favoritmu." Stuart seperti memamerkan harta karun, mengeluarkan bungkusan makanan dari pelukannya. "Aku peluk terus di jalan biar tetap hangat. Makan selagi masih panas ya."
Dulu setiap kali Stuart berbuat salah atau membuat Kate marah, dia selalu membelikan pangsit udang kukus sebagai cara untuk meredakan suasana.
Sebenarnya Kate tidak begitu suka makanan itu. Dia luluh dan memaafkannya hanya karena dia mencintainya.
Namun, hari ini? Apakah karena merasa bersalah setelah semalaman bersama wanita lain?
"Sayang, kamu lihat pesan yang aku kirim pas keluar tadi pagi nggak? Kamu bangun jam berapa?" Entah kenapa, sikap Kate dua hari belakangan ini membuat Stuart merasa gelisah.
"Nggak lihat, aku baru bangun." Kate mengambil garpu. Dia tidak akan menyiksa dirinya sendiri hanya karena Stuart.
Melihat wajah Kate tak menunjukkan emosi aneh apa pun, Stuart akhirnya menghela napas lega. "Aku kerja sebentar dulu ya. Nanti habis kamu makan, kita jalan-jalan bareng."
Kate makan sambil membuka ponsel. Winter baru saja memperbarui statusnya.
[ Dia manjain aku banget. Aku cuma iseng bilang ingin makan pangsit udang, dia langsung beliin buat aku. ]
Foto pangsit udang yang terlampir persis dengan yang dimakan Kate.
Dari seberang meja makan, Stuart terkekeh-kekeh. Beberapa saat kemudian, muncul satu komentar baru di postingan Winter.
[ Stuart: Yang penting kamu tahu. ]
Tak lama kemudian, ibu Stuart ikut berkomentar.
[ Itu sudah seharusnya. Kalau kamu ingin sesuatu, tinggal bilang saja. Kamu itu pahlawan, beda sama orang yang cuma duduk manis tapi nggak bisa kasih keturunan. ]
Komentar itu bisa dilihat siapa saja, termasuk Stuart. Kate menengadah, ingin melihat reaksi Stuart. Namun, yang dia lihat justru senyuman lembut dan sorot mata penuh bahagia.
Kate tersenyum dingin, langsung membuka kontak sang ibu mertua dan memblokirnya tanpa ragu. Dia sudah lama ingin melakukannya.
Sebelum selesai sarapan, Stuart menerima telepon dari ibunya. Suara nyaring sang ibu menusuk gendang telinga. Stuart mengernyit dan menatap ke arah Kate.
"Ibu bilang mau kirim jamu ke kamu. Kamu blokir dia ya?"
"Nggak usah dikirim, aku nggak akan minum."
Ibu Stuart memang suka mengirimkan ramuan-ramuan aneh yang pahit dan tak berguna. Bertahun-tahun Kate memaksakan diri meminumnya, tetapi tetap menerima sindiran seolah-olah dia tak tahu berterima kasih.
"Tapi, kamu nggak boleh ...."
Ibu Stuart memang diblokir, tetapi riwayat obrolan masih ada. Kate menyerahkan ponselnya kepada Stuart. Pesan terakhir dari ibu Stuart adalah ....
[ Perempuan yang nggak bisa punya anak itu masih pantas disebut wanita? Sudah hamil saja nggak bisa dijaga. Benar-benar sampah. Keturunan keluarga kami nggak boleh putus di tanganmu. ]
Di tahun pertama pernikahan, sebenarnya Kate pernah hamil. Namun, di usia tujuh bulan, janin tiba-tiba berhenti berkembang. Akhirnya, dia harus menjalani induksi persalinan.
Ucapan menyakitkan seperti itu sudah sering dia dengar dari ibu mertuanya. Namun, dulu Kate tahu Stuart selalu membelanya, menenangkannya, dan tidak ingin dia merasa bersalah. Itu sebabnya, dia tidak pernah membahas apa-apa.
Namun, kali ini Stuart justru mengerutkan kening. "Bagaimanapun, dia tetap ibuku. Kamu seharusnya bisa maklumi sedikit."
"Aku maklumi dia, lalu siapa yang maklumi aku?" Kate tertawa dingin. "Stuart, kamu tahu betul aku sangat hancur waktu itu. Tapi, kamu pernah kepikiran nggak? Pasti ada alasannya kenapa janinnya berhenti berkembang."
Stuart menghela napas. "Mungkin kamu makan sesuatu yang salah? Atau pakai kosmetik yang nggak cocok ...."
Air mata Kate langsung mengalir.
"Jangan nangis." Stuart baru menyadari ucapannya menyakitkan. "Maaf, aku nggak maksud begitu."
Waktu hamil pertama, Kate sangat berhati-hati. Tak pernah menyentuh kosmetik, tak pernah makan sembarangan, bahkan untuk pergi ke tempat agak jauh saja dia tak berani.
Ketika kehilangan anaknya, seluruh dunianya runtuh. Saat itu, Stuart tak pernah meninggalkannya, menjaganya 24 jam penuh.
Berkali-kali, Stuart berkata, "Sayang, ini bukan salahmu. Kalaupun nanti kita nggak punya anak, nggak apa-apa. Aku cuma butuh kamu."
Selama sebulan penuh, Stuart menemani Kate keluar dari masa kelamnya. Namun, kini Kate akhirnya sadar. Ternyata dalam hati Stuart, anak mereka tiada karena kesalahannya.
Bab 6
"Maaf. Kamu boleh marah dan pukul aku. Aku mohon, jangan nangis." Stuart memeluk Kate. "Aku yang ngomong ngawur, aku pantas dihukum seberat-beratnya."Kate tidak bisa melepaskan diri dari pelukannya, air matanya terus menetes. Namun, dalam hatinya dia tahu betul, Stuart bukan tak sengaja dan hanya ingin melimpahkan semua kesalahan padanya, supaya dia punya alasan yang masuk akal atas perselingkuhannya.
Sikap Stuart semakin merendah. "Nanti aku akan bicara baik-baik sama Ibu. Kalau kelak dia sudah belajar cara menghormatimu, kamu baru hapus dia dari daftar hitam ya?"
Kate menangis sambil tersenyum. 'Stuart, antara aku dan kamu, sudah nggak ada lagi masa depan.'
Dua hari berikutnya, Stuart terus berada di rumah menemani Kate. Meskipun Kate jarang meladeni, dia tetap turun tangan sendiri memasak makanan favorit Kate.
Namun, di media sosial Winter, muncul lagi unggahan baru.
Barang-barang perlengkapan bayi pesanan Stuart sudah sampai.
Stuart memesan tempat pemulihan pasca melahirkan kelas atas untuk Winter.
Stuart mengirimkan makanan khusus ibu hamil langsung ke tempat Winter ....
Setiap postingan itu diberi like oleh Stuart satu per satu.
Malam hari, saat Stuart membawakan air hangat untuk merendam kaki Kate, ponselnya berdering.
"Ken telepon. Katanya dia berhasil dapat klien besar dan mau dirayain. Dia suruh kita datang." Stuart menyalakan pengeras suara.
Terdengar suara Ken dari ujung sana. "Kak Kate, sudah lama banget kita nggak ketemu. Ayo dong, kamu sama Kak Stuart datang ya?"
Hanya tersisa dua hari sebelum Kate pergi. Entah kapan mereka bisa bertemu lagi. Dia tidak tega menolak satu-satunya adiknya.
"Oke."
Ken mengajak teman-temannya untuk barbeku di halaman rumah keluarga mereka. Begitu Kate dan Stuart datang, Ken langsung menyambut mereka.
"Kak, aku tahu kamu nggak suka bau rokok, makanya aku suruh mereka beresin semuanya. Gimana? Adikmu ini perhatian banget, 'kan?"
Saat berikutnya, teman-temannya langsung membongkar kebohongannya.
"Yang benar saja, itu karena Kak Stuart yang kirim pesan. Kok kamu bawa-bawa nama sendiri?"
"Kak Stuart sayang banget sama Kak Kate. Benar-benar cinta sejati."
Ken ikut tertawa. "Ya jelas. Kalau nggak, aku mana mungkin setuju dia jadi kakak iparku."
Stuart menyingsingkan lengan baju, lalu mulai memanggang makanan yang disukai Kate. "Mau sebaik apa pun aku, istriku memang pantas mendapatkannya. Sayang, duduk sini. Jangan sampai kena asap. Mau makan apa tinggal bilang, biar suamimu ini yang panggangin."
Kate tetap diam, tak berniat ikut bermain peran. Tiba-tiba, Ken berkata, "Kak Stuart, birnya habis. Temani aku ke gudang bawah buat ambil beberapa dus."
Stuart mengelus kepala Kate dengan lembut. "Tunggu di sini ya, aku bantu sebentar."
Begitu mereka pergi, Winter tiba-tiba mengirimkan lokasi lewat pesan. Ternyata, Winter juga di sini.
Jantung Kate langsung berdegup kencang. Dia khawatir Ken melakukan sesuatu yang gegabah, jadi segera berdiri dan menyusul mereka.
Namun, bukan pertengkaran yang dia temukan, melainkan tiga orang berdiri bersama, tertawa, dan bercanda.
Winter menyentuh jari tangan Stuart dengan manja. "Anakmu nendang-nendang terus dari tadi. Dia kangen ayahnya."
"Kak Stuart, kalian ngobrol saja. Aku ke bawah ambil bir. Nggak ganggu kok." Ken tertawa nakal dan langsung memberi mereka ruang.
Begitu Ken pergi, Stuart langsung menarik Winter ke pelukannya. "Cuma anak kita saja yang kangen aku?"
"Dasar kamu ini. Sudah tahu, tapi masih nanya."
Stuart tertawa, lalu mencium Winter sambil melangkah masuk ke kamar, kamar yang dulunya adalah kamar Kate sebelum menikah.
Seluruh tubuh Kate terasa membeku. Dia nyaris tak sanggup berdiri.
Saat orang tua mereka meninggal karena kecelakaan, usia Kate baru 13 tahun. Sambil sekolah, dia melakukan berbagai macam pekerjaan untuk membiayai hidup Ken. Demi adik tercintanya itu, seberat apa pun pekerjaannya, dia tidak pernah menolak.
Di hari pernikahannya, Ken yang menggantikan orang tua mereka mengantar Kate menikah. Dia menangis sampai terisak-isak.
"Kak, kalau Kak Stuart berani sakitin kamu, kamu pulang saja. Kamarmu nggak akan pernah kukasih ke orang lain."
Namun, sekarang dua orang yang paling dia cintai justru bersekongkol dan menusuknya paling dalam.
Saat tersadar kembali, Kate sudah berdiri lagi di halaman. Ken baru saja keluar dengan membawa beberapa dus bir.
Mereka saling menatap. Kate tersenyum sinis dan bertanya, "Di mana Stuart?"
Bab 7
"Kak Stuart lagi hangatin susu buat kamu. Katanya kamu nggak boleh minum yang dingin. Bukan mau muji, tapi di mana lagi bisa ketemu suami sebaik dia? Birnya belum diangkat semua. Nanti aku masuk lagi dan desak dia."Mata Kate mulai merah, kukunya menancap ke telapak tangan. Berapa kali Ken sudah menipunya sampai bisa seterampil itu tanpa rasa bersalah sedikit pun? Dia sudah tak sanggup berada di sana sedetik pun lagi.
"Aku ngantuk. Aku pulang duluan."
"Mau aku suruh Kak Stuart antar?"
Kate menatapnya lekat-lekat. "Nggak perlu, aku nggak mau merusak suasana hatinya."
Ken merasa agak gugup melihat wajah kakaknya. "Kalau begitu, aku pesenin mobil buat kamu."
Sebelum naik ke mobil, Kate menoleh untuk terakhir kalinya pada adik yang dia besarkan sendiri.
Tatapan Ken sedikit gelisah. "Kenapa, Kak?"
Kate menarik pandangannya, diam saja, lalu langsung menutup pintu mobil.
Begitu sampai rumah, Stuart menelepon. "Kenapa nggak suruh aku antar? Malam-malam begini kamu malah pulang sendirian. Aku khawatir lho."
Bersamaan dengan itu, masuk juga pesan dari Winter.
[ Kalian bercinta pertama kali di ranjang itu ya? Dia bilang kamu terlalu kaku, gayamu itu-itu saja. ]
[ Pantas saja dia nggak puas sama kamu. Pas ketemu aku, dia hampir bikin tubuhku remuk. ]
Di malam pernikahan mereka, Stuart tahu Kate merasa gugup. Dia membawa Kate kembali ke rumah keluarganya sendiri, ke kamar lamanya yang membuatnya merasa nyaman.
Saat pertama kali mereka melakukannya, Stuart sangat menahan diri. Dia benar-benar memikirkan perasaan Kate. Dia penuh kelembutan dan kasih sayang.
Saat Kate menangis, Stuart juga ikut meneteskan air mata. "Sayang, aku cinta kamu. Aku nggak akan pernah buat kamu nyesal karena sudah menikah denganku."
Kini, Kate sungguh-sungguh menyesal.
Di telepon, Stuart memanggil-manggil namanya, mencoba merayu dengan nada lembut. Kate pun menutup mulutnya rapat-rapat, menangis hingga tak sanggup mengeluarkan satu kata pun.
"Sinyalnya jelek ya? Tenang saja, Kak Stuart. Tadi aku yang pesan mobilnya. Di aplikasi tertulis kalau Kakak sudah sampai rumah." Terdengar suara Ken. "Kamu temani Winter saja. Nanti aku kirim pesan ke Kak Kate bilang kamu temani aku minum."
"Hati-hati kalau bicara, jangan sampai keceplosan," tegur Stuart.
Ken tertawa. "Kakakku nggak mungkin curiga sama aku. Lagi pula, kalau dia nggak bisa punya anak, masa orang lain juga dilarang punya anak?"
"Ken! Jaga mulutmu! Jangan ngomong begitu tentang kakakmu!" Stuart langsung naik pitam.
"Iya iya, aku nggak bilang lagi."
Telepon langsung terputus. Kemudian, masuk pesan dari Ken.
[ Kak Stuart jarang keluar, dia janji mau temani aku minum. Aku suruh dia tidur di rumah. Tenang saja, Kak. Aku pantau dia. ]
Setelah itu, menyusul pesan dari Stuart.
[ Sayang, kalau kamu ngantuk, tidur saja dulu ya. ]
[ Ken pertama kali dapat klien besar. Malam ini aku rayain juga atas namamu, jangan tunggu aku pulang ya. ]
Kate tidak membalas apa pun. Saat itu juga, emosi di hatinya yang membara sedari tadi perlahan padam. Dia menghapus air matanya.
Dia tak akan menunggu lagi. Orang yang tak pantas, tak layak untuk ditunggu. Termasuk Stuart dan juga Ken.
Kate berdiri, masuk ke kamar, mengenyahkan semua beban di hatinya, lalu akhirnya tidur nyenyak malam itu.
Di hari peringatan pernikahan mereka, pagi-pagi Stuart sudah menyiapkan sarapan cinta untuknya.
"Sayang, malam ini kamu bakal lihat kembang api yang aku siapin buatmu," ucap Stuart.
Kate tersenyum tipis tanpa menjawab.
"Aku ke kantor dulu. Nanti malam kita lihat kembang api bareng ya," lanjut Stuart.
Begitu pria itu berdiri, Kate mengeluarkan surat cerai yang telah disiapkan dan disimpan di laci. Dia mendorong ke hadapan Stuart dan berujar, "Tandatangani surat ini."
Bab 8
Halaman terakhir surat perceraian dibuka. Stuart langsung mengambil dan menandatanganinya tanpa ragu."Kamu nggak mau baca dulu isinya?"
"Bukannya cuma penyesuaian program bayi tabung? Sayang, kalau menurutmu itu yang terbaik, aku ikut saja. Aku percaya kamu sepenuhnya."
Kate hanya bisa tersenyum menyaksikan kepergiannya. Senyuman untuk pria yang masih saja mengaku semuanya demi dia.
Dia mengambil obat yang sudah enam hari tergeletak di meja tamu, lalu menelannya. Tangannya perlahan mengelus perutnya, tenggorokannya perih dan pahit.
'Maaf ya, Nak,' batin Kate. Dia sudah memberikan terlalu banyak kesempatan. Namun, Stuart sama sekali tidak peduli.
Kate membereskan koper, lalu pergi sendirian ke rumah sakit.
"Usia kehamilan empat minggu. Janin sudah ada detak jantungnya, perkembangan normal. Kamu yakin mau digugurin?"
"Iya ...."
"Sayang sekali. Dulu kehamilan pertamamu gagal karena salah minum obat tradisional, kamu sudah cukup menderita. Sekarang baru berhasil hamil lagi, malah mau digugurkan. Kalau nanti mau punya anak lagi, sepertinya bakal lebih susah." Dokter menghela napas.
"Waktu itu, janinku berhenti berkembang karena salah minum obat tradisional?" Kate termangu. Tenggorokannya kering, setiap kata yang keluar terasa sangat berat.
Dokter mengerutkan kening. "Ya, memangnya Pak Stuart nggak pernah bilang?"
Ternyata, dia tahu sejak awal.
Telinga Kate berdengung keras. Pada kehamilan pertamanya, ibu Stuart selalu mengirimkan obat penguat kandungan setiap minggu. Obatnya pahit, sangat pahit. Setiap kali, Stuart yang membujuknya untuk minum, satu suap demi satu suap.
Setelah keguguran, tubuhnya rusak. Dia pun harus menjalani program bayi tabung.
Selama ini, dia selalu mengira keguguran itu hanya musibah. Selama lima tahun, enam kali percobaan, lima kali gagal.
Stuart melihatnya tenggelam dalam rasa bersalah dan penderitaan setiap kali. Dia bilang dia tidak menyalahkan Kate, tetapi tidak pernah mengatakan Kate memang tidak bersalah.
"Bu Kate, kamu baik-baik saja?" Kate baru sadar bahwa air matanya sudah tak tertahankan saat menerima tisu dari dokter.
"Kamu sepertinya belum siap. Kalau mau dipikirkan lagi, ditunda saja dulu ...."
"Nggak usah." Kate menghapus air matanya, suaranya tegas. "Lanjutkan saja."
Sebelum obat bius membuatnya kehilangan kesadaran, Kate menatap ke arah dokter dengan mata berat. "Dok, janinnya bisa sakit nggak ya?"
Dokter termangu dan terdiam. Kate pun perlahan tenggelam dalam kegelapan.
Beberapa jam kemudian, dia membuka mata kembali. Tubuhnya masih lemas. Setelah tenaganya terkumpul sedikit, dia memaksakan diri untuk turun dari ranjang dan keluar.
Begitu melewati bagian kebidanan, langkah kakinya terhenti. Tidak jauh dari sana, Stuart sedang menemani Winter keluar dari ruang konsultasi.
"Kamu merasakannya nggak? Bayinya lagi sapa kamu. Terima kasih, Ayah, sudah jaga Ibu dan aku." Winter menarik tangan Stuart dan meletakkannya di perutnya, matanya merah dan berkaca-kaca. "Kak Stuart, tadi perutku sakit banget. Aku sampai takut setengah mati."
"Dasar bodoh." Stuart mengecup keningnya lembut. "Aku nggak akan biarin kamu dan bayi kita kenapa-napa."
Winter bersandar ke pelukannya, lalu matanya bertemu dengan Kate. Dia tersenyum bangga dan mengeraskan suaranya dengan sengaja. "Malam ini temani aku ya?"
Stuart terdiam sejenak.
"Kamu masih bisa temani dia nonton kembang api berkali-kali. Tapi, bayiku sebentar lagi lahir. Gimana kalau malam ini perutku sakit lagi? Kak Stuart, aku benaran takut ...."
Setelah lama hening, Stuart akhirnya mengangguk. "Oke."
"Aku tahu kamu paling sayang aku."
Kate menatap punggung mereka yang perlahan menjauh. Pandangannya membeku.
Mereka telah menjadi trending topic selama 22 hari. Seluruh kota menantikan pukul 7 malam ini untuk melihat pertunjukan kembang api megah dari Stuart untuk Kate.
Stuart tahu, tetapi tetap memilih meninggalkannya sendiri malam itu.
Kate mengambil ponsel dan mengirim pesan terakhir kepada Stuart.
[ Kejutan dariku sudah siap. ]
Kemudian, Kate memesan mobil untuk menuju bandara. Dia mematikan ponsel, menyerahkan sesuatu kepada kurir, menulis alamat rumah keluarga Stuart di paket.
Pukul 7 malam, kembang api biru meledak indah di langit, menerangi setengah kota. Meriah, spektakuler. Sorak-sorai terdengar di mana-mana.
Sementara itu, Kate melangkah ke dalam pesawat sambil menarik kopernya, tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.