Pasti Ada yang Mencintaimu

Đang tải thông tin quảng bá...

Pasti Ada yang Mencintaimu

GoodNovel Hoàn thành

Tahun keenam aku bersama Felix Darian. Aku berkata, "Felix, aku mau menikah." Pria itu tersentak, seketika tersadar dari lamunannya, tampak agak canggung ketika berujar, "Silvia, kamu tahu kalau perus...

Chương (1)

第1章

Tahun keenam aku bersama Felix Darian. Aku berkata, "Felix, aku mau menikah." Pria itu tersentak, seketika tersadar dari lamunannya, tampak agak canggung ketika berujar, "Silvia, kamu tahu kalau perusahaan sedang dalam tahap penting untuk pendanaan. Untuk sementara ini, aku belum bisa memikirkan tentang hal itu …." "Nggak masalah," balasku. Aku tersenyum acuh tak acuh. Felix salah paham. Aku memang akan menikah, tetapi bukan dengannya. Bab 1 "Ibu ... tolong bantu aku menyampaikan pada Kakek kalau aku bersedia kembali untuk perjodohan itu," ujarku. "Benarkah?" Ibuku terdengar senang, tetapi kemudian dia merasa ragu. Dia melanjutkan, "Tunggu dulu, bagaimana dengan pacarmu yang sudah berhubungan bertahun-tahun denganmu itu? Kami memang ingin kamu mendapatkan pasangan yang setara, tapi kalau ...." "Sudah tidak ada lagi. Tolong aturkan saja pernikahannya," balasku. Ibuku tidak langsung menanyakan alasan di baliknya. Dia hanya berkata, "Kamu pikirkan lagi dalam dua hari ini. Memang benar, kakekmu sudah memilihkan calon itu dengan sangat hati-hati. Sekarang, pria itu juga sedang mengelola perusahaan investasi keluarga mereka. Tapi ini masalah pernikahan, Ibu tetap berharap agar kamu nggak bertindak gegabah." "Ibu, aku nggak bertindak gegabah. Aku sudah memikirkannya dengan matang," kataku. Kemarin saat berbicara dengan adik laki-lakiku di telepon, dia tanpa sengaja mengatakan semuanya. Aku mengetahui bahwa rantai keuangan keluarga kami sedang berada di ambang jurang. Sementara itu, perjodohan ini adalah solusi terbaik. Tentu saja, orang yang dibutakan oleh cinta sepertiku, yang dulu rela memutuskan hubungan dengan seluruh keluarga demi pacarku, tidak mungkin akan mau dijodohkan. Satu-satunya alasan kenapa aku melakukannya adalah karena otak penuh cintaku sudah mati. Sudah saatnya aku sadar. Aku melirik ke arah yang tadi sedang dipandang dengan tatapan kosong oleh Felix melalui kaca prancis besar. Sudut bibirku membentuk senyuman getir. Dulu, dia juga memandangku seperti itu. Dalam empat tahun masa kuliah, dia mengejarku selama tiga tahun. Aku pernah bertanya tentang apa yang dia sukai dariku. Dia hanya tertawa seperti orang bodoh sambil menjawab bahwa dia menyukai wajahku. Katanya, tidak ada orang lain yang secantik aku. Aku tidak suka pria bodoh, tetapi akhirnya aku luluh oleh ketulusan dalam dirinya. Meski begitu, aku tidak langsung menerima cinta Felix. Namun, Felix tidak pernah menyerah. Setiap hari, tidak peduli cuaca hujan atau pun cerah, dia akan mengantarkan sarapan ke depan asramaku. Dia menghitung siklus menstruasiku, lalu mulai membuatkan air gula merah dua hari sebelum siklusku dimulai. Setiap kali aku memperhatikan sebuah kalung sedikit lebih lama, Felix akan meluangkan waktu untuk bekerja paruh waktu, lalu menabung dan membelikannya untukku. Saat aku sedang sedih, dia akan memutar otak untuk mencari lelucon agar aku bisa tertawa. Bahkan ketika aku hanya mengernyitkan kening sedikit saja, dia akan langsung bertanya apakah aku merasa tidak enak badan. Namun, pada akhirnya .... Semua itu tidak bisa mengalahkan cinta masa kecil. Dua bulan yang lalu, gadis kecil dari masa lalu Felix tiba-tiba datang ke Kota Jawan untuk menemuinya. Pertama kali melihat mereka bersama, aku langsung menyadari bahwa mereka tidak punya batasan yang jelas dalam berinteraksi. Namun, saat itu aku berpikir bahwa Yoana hanya akan bermain selama beberapa hari, jadi aku tidak terlalu memikirkannya. Siapa sangka, wanita itu malah menjadi sekretaris pribadi Felix, tinggal di Kota Jawan. Ketika aku menanyakan hal itu, Felix hanya berkata, "Kebetulan aku sedang mencari orang. Daripada aku mempekerjakan orang luar, lebih baik mempekerjakan orang yang aku kenal." Namun, sejak saat itu, Felix jadi lebih sering lembur serta melakukan perjalanan bisnis ke luar kota. Tidak pulang sepanjang malam pun menjadi hal yang biasa. Dua hari yang lalu, aku memeriksa daftar kehadiran di bagian administrasi. Baru pada sata itu aku mengetahui bahwa mereka berdua sungguh tidak terpisahkan. Perjalanan bisnis ke luar kota pun hanya dilakukan berdua saja, seorang pria dan seorang wanita. Namun, faktur yang mereka berikan pada bagian keuangan untuk penggantian biaya hanya menunjukkan satu kamar eksekutif. Lembur? Sudah tidak perlu dibahas. Saat aku keluar dari ruang kerja Felix, Yoana berdiri dari kursinya di dekat pintu. Wanita itu tersenyum manis, lalu berujar, "Kak Silvia, kenapa wajahmu tampak nggak senang? Apa kalian baru saja bertengkar?" Aku tidak berniat meladeninya, jadi aku berjalan melewatinya begitu saja. "Silvia!" Yoana memanggilku, "Tahun depan kamu akan berusia tiga puluh, 'kan? Jangan bertingkah seperti anak kecil. Perusahaan Investasi Rowan belum juga memberikan jawaban tentang masalah pendanaan, sementara Felix sedang merasa sangat khawatir. Kalau kamu nggak bisa membantu, setidaknya jangan menjadi beban pikirannya di saat penting seperti ini." Aku mengerutkan kening, menatapnya dengan tenang, lalu membalas, "Yoana, aku membangun perusahaan ini bersama dengan Felix. Kalau dia bisa membuatmu tinggal di sini, aku juga bisa membuatmu pergi." "Kamu ...." Yoana tidak menyangka aku akan bersikap sekeras itu. Dia terdiam sejenak, lalu berkata dengan nada sedih, "Aku hanya menasihatimu dengan niat baik. Kalau kamu nggak suka, nggak perlu mendengarkannya. Tapi kenapa harus mengusirku ...." "Siapa yang berani mengusirmu?" Felix keluar sambil bertanya dengan nada dingin. Dia melanjutkan, "Silvia, dia hanya seorang gadis muda, nggak kenal dengan siapa-siapa di sini. Kalau ada kata-katanya yang kurang tepat, apa kamu nggak bisa memakluminya sedikit?" Gadis muda. Aku hampir tidak bisa menahan tawa. Yoana itu hanya tiga bulan lebih muda dariku. Rasa perih memenuhi dadaku, hampir membuat air mata tumpah. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu berkata, "Felix, aku akan memberimu satu kesempatan untuk memilih. Dia yang pergi, atau aku." Felix menjawab, "Silvia Raider, jangan membuat keributan." Aku terdiam sejenak. Merasa linglung. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali Felix memanggilku dengan nama lengkap seperti itu. "Kak Silvia, mungkin kamu salah paham tentang hubungan kami. Aku dan Felix hanya teman baik sejak kecil." Mata Yoana tampak memerah. Dia menatap Felix dengan ekspresi menyedihkan, lalu melanjutkan, "Felix, aku dengar kalau Kak Silvia dari keluarga berada, dia pasti dimanja sejak kecil. Kamu seharusnya lebih perhatian padanya. Jangan sampai kalian bertengkar gara-gara aku. Aku ... aku terbiasa hidup memahami orang lain, bekerja di tempat lain juga nggak masalah untukku. Asal Kak Silvia senang, aku bisa mengemasi barang-barangku, lalu pergi dari Kota Jawan ...." "Yoana!" Nada Felix mengandung kelembutan yang tidak bisa dia sembunyikan. Aku menunjukkan senyum di sudut bibirku, berbalik, langsung melangkah pergi. Selama bertahun-tahun ini, keluargaku selalu memanjakanku. Setelah lulus kuliah, ayahku ingin aku kembali ke Kota Bana untuk mendapatkan beberapa tahun pengalaman, sebelum akhirnya mewarisi bisnis keluarga. Namun, pada saat itu aku dibutakan oleh cinta. Demi Felix, aku bertengkar hebat dengan ayahku, bersikeras untuk tetap tinggal di Kota Jawan. Ini hanya karena satu kalimat dari ayahku, "Dia hanya pemuda miskin, apa yang bisa dia berikan padamu?" Aku diam-diam mendampingi Felix memulai bisnisnya, sering begadang demi membicarakan sebuah kontrak. Tidak aku sangka, yang aku dapatkan bukanlah kesetiaan Felix. Yang aku dapatkan hanyalah lambung yang harus diobati dengan pengobatan tradisional. Ibuku menghela napas, lalu bertanya, "Lalu, kapan kamu akan kembali ke Kota Bana?" "Mungkin setengah bulan lagi," jawabku. Setelah menutup telepon, aku menoleh sejenak ke arah gedung tinggi yang menjulang itu. Senyumku mengandung kegetiran. Felix Darian. Aku sudah memberimu kesempatan untuk memilih. Kamu sendiri yang tidak menginginkannya. Kalau begitu, aku juga tidak menginginkanmu. Bab 2 Sesampainya di rumah, aku duduk termenung di sofa untuk waktu yang lama. Tanda-tanda keretakan hubunganku dengan Felix sebenarnya sudah muncul sejak bulan lalu. Awalnya aku benar-benar tidak mengerti, bagaimana mungkin cinta bisa berubah secepat itu? Setiap kali aku mencurigai hubungan Felix dengan Yoana, dia akan selalu berkata, "Kamu terlalu banyak berpikir. Aku hanya menganggap dia sebagai adikku, jadi aku lebih perhatian padanya." Awalnya, aku sungguh memercayainya. Karena kebaikan Felix padaku tidak mungkin palsu. Aku juga sangat yakin kalau dia mencintaiku. Sampai suatu hari saat menghadiri pesta bersama temannya, Felix mabuk berat. Aku pun datang menjemputnya. Dari mulut temannya yang juga mabuk, aku tidak sengaja mendengar kebenarannya. "Felix dan Yoana ... mereka tumbuh besar bersama. Sebelum dia mengejarmu, dia pernah menyatakan cinta pada Yoana terlebih dulu, tapi Yoana menolaknya." "Mana bisa hubungan sedekat itu dilupakan dengan mudah?" "Alasan Felix mengejarmu itu ... karena senyummu mirip Yoana." "Tapi tenang saja, kami semua sudah menasihati Felix untuk serius bersama denganmu. Dulu, Yoana itu pasti menolak Felix karena dia miskin. Sekarang melihat kariernya yang melejit naik, wanita itu pun mendatanginya." ... Tut, tut, tut .... Baru ketika suara pengingat dari teko elektrik tanda obat tradisional sudah matang berbunyi, aku baru tersadar kembali. Satu gelas obat tradisional berwarna coklat gelap aku habiskan. Rasa pahitnya begitu menusuk hati. Aku memandang rumah yang sudah aku tata dengan rapi ini, lalu membuat tanda pada tanggal di kalender. Tersisa 14 hari. Setelah itu, aku mulai pelan-pelan membereskan rumah. Kota Jawan dan Kota Bana masing-masing terletak di selatan dan utara. Barang bawaan yang bisa aku bawa terbatas. Aku membuang semua sisanya. Aku tidak suka barang-barangku disentuh orang lain, terlebih lagi oleh wanita Felix berikutnya. Setelah dua kali naik turun untuk membuang barang, tenagaku sudah habis. Aku hanya bisa membereskan sisanya nanti. Selesai mandi, aku membuka media sosial, langsung melihat unggahan Yoana. [Siang hari dia adalah bos yang dingin, tapi di malam hari dia rela mengantre untuk membelikanku kue. Katanya, dia ingin menebus semua waktu yang hilang selama ini. Senangnya!] Terlampir foto kue stroberi. Di tangan yang memegang kue itu, melingkar sebuah jam tangan pria yang jelas bukan milik Yoana. Itu adalah jam tangan pasangan, seperti yang ada di tanganku. Pada saat itu, aku menemani Felix menyelesaikan proyek pertama perusahaan setelah lembur berhari-hari. Itu juga merupakan proyek yang melambungkan reputasi perusahaan. Meskipun seminggu penuh hampir tidak tidur, Felix tetap penuh semangat. Dia menarikku ke mal untuk membeli jam tangan pasangan yang dulu diam-diam aku simpan fotonya. Aku mengatakan bahwa benda itu terlalu mahal. Namun, Felix bersikeras membelinya. Dia memakaikannya ke tanganku, memelukku, lalu berkata dengan sungguh-sungguh, "Silvia, aku harus memberikan sendiri semua yang kamu suka." Selain saat mandi dan tidur, jam tangan itu tidak pernah lepas dari pergelangan tangan Felix. Asisten Felix sebelumnya dipecat hanya karena tidak sengaja membasahi jam itu. Semua orang tahu bahwa Felix mencintaiku. Sekarang, jika aku pikir-pikir lagi, itu semua hanya lelucon. Tidak ada yang tahu bahwa dalam tatapan penuh cinta yang pria itu arahkan padaku, sebenarnya dia sedang membayangkan orang lain. Aku menghela napas panjang, melepaskan jam tangan itu, mengambil beberapa gambar, lalu mengunggahnya ke platform jual beli barang bekas. Felix lagi-lagi tidak pulang semalaman. Keesokan harinya, aku bangun siang hari, lalu pergi ke kantor untuk mengurus prosedur pengunduran diri. Beberapa tahun terakhir setelah perusahaan berjalan stabil, tugasku hanya fokus di bagian desain. Namun, dalam perjalanan dari departemen desain ke departemen personalia, anehnya banyak orang yang mengucapkan selamat padaku. Aku merasa bingung. Ketika aku akan bertanya pada Liana, pegawai dari departemen personalia, dia menarikku ke dalam kantor, lalu berkata, "Katakan padaku, apa kamu dan Felix akan menikah?" "Apa?" Aku tercengang. Liana adalah salah satu karyawan paling lama di perusahaan, jadi dia sudah terbiasa bicara apa adanya denganku. Liana lanjut bertanya, "Benarkah itu? Semua sudah sampai tahap ini, tapi kamu masih ingin menyembunyikannya? Felix heboh sekali sampai semua orang tahu kalau dia ingin melamarmu!" Aku mengerutkan kening, lalu bertanya, "Apa yang sebenarnya terjadi?" Liana menutup mulutnya dengan tangan, lalu berkata, "Kamu benar-benar nggak tahu? Jangan-jangan dia berencana memberi kejutan ...." "Tolong ceritakan dengan jelas," kataku. "Jadi ...." Liana sempat merasa ragu, tetapi akhirnya dia memutuskan untuk berpihak padaku. Dia menjelaskan, "Tadi ada yang melihat toko bunga mengirimkan pesanan untuk Felix. Itu adalah satu bagasi penuh mawar merah muda! Hari ini bukan ulang tahunmu atau hari jadi kalian. Kalau bukan melamar, untuk apa lagi?" Mawar merah muda. Aku ingat dua bulan lalu, saat Yoana datang ke Kota Jawan, Felix menjemputnya di bandara dengan membawa mawar merah muda juga. Jariku perlahan mengusap telapak tangan. Aku mengerutkan bibirku, tidak mengatakan apa-apa. Liana melirik tanganku, lalu bertanya, "Apa ini?" "Aku ingin mengundurkan diri," kataku. "Pantas saja!" Tiba-tiba, Liana tampak tersadar. Dia berkata, "Pasti ini lamaran, 'kan? Kamu sudah bersiap-siap mengundurkan diri untuk menjadi istri dan ibu yang baik. Ayo sini, aku akan menandatanganinya." "Baiklah," balasku. Aku tidak menjelaskan apa pun, langsung menyerahkan dokumen itu. Sambil menandatangani dokumen, Liana mengeluh, "Felix ini benar-benar hebat. Dia bahkan nggak memberitahuku lebih dulu. Aku jadi harus segera mencari penggantimu. Di mana aku bisa menemukan direktur desain sepertimu?" "Nanti kamu hanya perlu meminta Felix menandatanganinya, lalu semuanya beres." Setelah selesai memberikan tanda tangan, Liana mengembalikan berkas, lalu menambahkan dengan nada tulus, "Silvia, aku nggak tahu keputusanmu untuk mengundurkan diri ini benar atau salah, tapi sebagai teman lama, aku mendoakan agar kamu bahagia! Semoga Felix nggak membuatmu kecewa." "Tenang aja, aku pasti bahagia," balasku. Hanya saja, itu tidak ada hubungannya dengan Felix. Bab 3 Sebelum melangkah masuk ke kantor Felix, aku sempat ragu sejenak. Bukan karena bimbang atau tidak rela. Namun, ini karena aku belum memikirkan bagaimana caranya agar dia menandatangani dokumen ini tanpa banyak tanya. Setelah sistem kepegawaian perusahaan dibenahi, aku pun harus menandatangani ulang kontrak kerja. Selain itu, posisiku sebagai direktur desain cukup sensitif. Bisnis keluargaku pun ada kaitannya dengan industri ini. Jika dokumen pengunduran diri tidak diurus dengan benar, ini bisa jadi merepotkan saat aku kembali ke Kota Bana nanti. Aku membuka pintu, lalu melangkah masuk. Sebelum sempat mengucapkan sepatah kata pun, aku melihat Yoana sedang duduk di seberang Felix. Pantas saja meja kerja di dekat pintu kosong. Rupanya sudah dipindahkan ke sini. Yoana yang pertama melihatku. Dia menepuk kepala Felix, lalu berkata dengan suara manja, "Felix!" Suara Felix terdengar lembut penuh kasih sayang, "Sudah, jangan mengganggu dulu. Aku akan menyelesaikan perjanjian ini dulu." "Aku nggak mengganggu ...." Yoana melirikku dengan tatapan menantang, lalu dengan nada polos berkata, "Kak Silvia datang." Felix langsung bersandar ke belakang, menjauh dari Yoana. Dia menoleh ke arahku dengan gugup, lalu tatapan kami pun bertemu. Aku mengabaikan rasa sesak di dada, lalu berkata padanya dengan acuh tak acuh, "Felix, ada dokumen yang perlu kamu tanda tangani." Aku menyerahkan map dokumen itu padanya. Ketika melihat aku tidak mempermasalahkan kemesraan mereka barusan, dia merasa sedikit lega, lalu mengangguk, "Oke." "Felix, kalau begitu aku keluar dulu. Kalian bisa lanjutkan," ucap Yoana. Wanita itu bangkit berdiri, berjalan keluar dengan anggun. Saat Felix membuka map itu, aku bersiap mengutarakan alasan yang sudah aku siapkan. Namun, tiba-tiba Yoana meringis kesakitan sambil berseru, "Ah! Sakit!" "Yoana!" Felix langsung berdiri dengan panik, ingin bergegas menghampirinya. Aku menghalangi langkahnya sambil berkata, "Tanda tangani dulu. Hanya butuh beberapa detik." Felix mengerutkan kening sambil berujar, "Silvia, sejak kapan kamu jadi begitu dingin? Apakah dokumen ini begitu penting?" "Felix ...." Yoana terduduk di lantai, memegangi kakinya sambil menangis. Mata dan hati Felix hanya tertuju pada Yoana. Tak ingin berdebat lebih lanjut denganku, dia bahkan tidak melirik isi dokumen itu, langsung menandatangani di tempat yang aku tunjuk dengan acuh tak acuh. Ini memang sesuai dengan yang aku inginkan. Aku hanya ingin proses pengunduran diriku berjalan dengan lancar, lalu pergi meninggalkan kota ini. Kembali ke jalur hidupku yang seharusnya. Felix mengangkat Yoana, langsung membawanya ke sofa. Dia memegang kakinya untuk memeriksanya dengan hati-hati. Felix berujar, "Syukurlah nggak bengkak. Tapi kalau masih sakit, aku akan membawamu ke rumah sakit." "Ini nggak separah itu ...." Yoana menarik kakinya malu-malu, lalu melirikku dengan pandangan takut. Aku menatap mereka tanpa ekspresi, lalu berbalik untuk pergi. Sebelum masuk ke dalam mobil, aku dihadang oleh Felix yang mengejarku dari belakang. Dia berkata, "Silvia, jangan salah paham. Nggak ada apa-apa di antara kami berdua. Aku hanya ingin menjaganya karena kami tumbuh besar bersama." "Ya." Aku mengangguk dengan tenang, menatap tangannya yang menahan pintu mobil, memberi isyarat pada Felix untuk melepaskannya. "Aku masih ada urusan," ujarku. Dia tertegun sejenak. "Kamu nggak marah?" Aku tersenyum sambil membalas, "Apa aku harus marah?" Felix berkata, "Dulu kalau aku melakukan ini, kamu pasti akan marah ...." "Tapi bukankah kamu tetap saja melakukannya?" balasku. Aku mendongak, menatap kegelisahan yang terlihat jelas di matanya. "Sudahlah, aku hanya bercanda. Malam ini pulanglah untuk makan di rumah, oke?" "Aku ...." Felix menekan rasa bersalahnya, menggenggam tanganku, lalu membalas, "Malam ini aku ada janji, tapi aku pasti akan pulang." Aku ingin tertawa, tetapi tidak bisa. Entah kenapa, bahkan keputusannya untuk pulang ke rumah pun terasa seperti pemberian yang terpaksa. Aku makan malam di luar, sebelum kembali ke rumah untuk melanjutkan beres-beres. Baru saat itu aku sadar, ternyata saat rasa kecewa sudah mencapai titik paling dalam, bahkan kenangan pun tidak layak disimpan. Aku menghapus setiap jejak kehadiranku di rumah ini dengan sungguh-sungguh. Termasuk kamar Felix. Tentu saja, hanya barang-barang yang aku beli untuk kami berdua yang aku buang. Sikat gigi, gelas, sandal, baju tidur .... Saat sedang beristirahat sejenak, aku menerima pesan dari Yoana lewat WhatsApp. [Silvia, lihatlah. Setelah sekian lama, Felix masih ingat kalau bunga favoritku adalah mawar merah muda. Sekarang dia bahkan lebih perhatian dari sebelumnya.] [Terima kasih karena sudah membantu membentuknya menjadi pria yang begitu sempurna.] [Menikmati teduh di bawah pohon yang ditanam orang lain itu sungguh menyenangkan.] Terlampir satu foto dalam pesannya. Bagasi mobil Porsche yang aku pilih sendiri, tampak penuh dengan bunga, bahkan dihiasi lampu-lampu kecil yang cantik. Dalam sekejap, aku benar-benar tersadar. Cinta yang aku dapatkan selama bertahun-tahun ini, sejak awal memang milik orang lain. Bab 4 Felix mengingkari janjinya. Dia tidak pulang. Selama beberapa hari berturut-turut, dia bahkan tidak muncul sekali pun. Aku baru tahu bahwa Felix sedang melakukan perjalanan bisnis lagi ketika menelepon Liana. Kali ini, dia bersama Yoana lagi. Namun, ini justru memberiku lebih banyak waktu untuk membereskan segalanya. Di kalender, hanya tersisa 7 hari lagi. Hari itu, saat aku sedang mengemas barang-barang yang akan aku bawa ke Kota Bana, Liana tiba-tiba menelepon. "Silvia, apa kamu salah menulis alamat untuk pengiriman paket?" "Apa?" "Itu adalah gaun pengantinmu dan Felix, dikirim ke kantor atas namamu. Si Felix-mu ini bahkan menghabiskan banyak uang untuk gaun pengantin yang dibuat khusus. Gaun pengantin buatan AND ini paling nggak harganya mencapai lebih dari sepuluh digit. Dia pasti sudah menghabiskan semua tabungannya. Apa dia nggak memikirkan kehidupan kalian setelah menikah?" ujar Liana. Aku buru-buru ke kantor. Begitu membuka paketnya, aku juga tertegun. Ukurannya memang pas denganku. Namun .... Gaya dan detailnya tidak seperti pilihan Felix. Selama beberapa tahun ini, meski performa perusahaan lumayan bagus, kami belum sampai pada titik rela menghabiskan begitu banyak uang hanya untuk sebuah gaun pengantin. Lagi pula, dia sepertinya ... memang tidak pernah benar-benar berniat menikah denganku. Saat aku masih bingung, ibuku menelepon. "Sayang, apakah gaunnya sudah kamu terima? Haih, Keluarga Quinn benar-benar antusias tentang pernikahanmu dengan Steven. Waktu aku mengatakan kalau kamu baru akan pulang dua minggu lagi, mereka langsung buru-buru mulai menyiapkan segalanya." "Bahkan gaunnya pun mereka kirim duluan, supaya kamu bisa melihat dan mencobanya, apakah gaunnya cocok atau nggak!" Suara ibuku terdengar ceria di telepon, jelas sekali dia merasa sangat puas dengan sikap serius dari Keluarga Quinn terhadapku. Aku mengusap pelipisku sambil bertanya, "Bu apakah Ibu yang memberikan alamatnya?" "Ya! Apakah kamu sudah pindah perusahaan?" tanya ibuku. "Nggak ...." Aku menghela napas sambil menjawab, "Aku akan mengirimkan alamat baruku. Kalau ingin mengirimkan paket atau apa pun, kirimkan ke alamat itu saja." "Baiklah." Ibuku langsung menyetujui dengan penuh semangat, "Oh ya, Bibi Cecil juga memintaku untuk bertanya padamu, apa kamu punya permintaan khusus untuk acara pernikahannya? Dia akan mengaturnya." "Aku nggak ada permintaan apa pun." Aku menggigit bibir sejenak, lalu berujar, "Pernikahannya kalian atur saja, aku nggak masalah." "Pernikahan?" Suara Felix tiba-tiba terdengar dari belakang. "Pernikahan apa?" Jantungku langsung berdebar kencang, sementara aku langsung menutup panggilan. "Kamu sudah kembali dari perjalanan bisnis?" "Ya." Dia menghindari tatapanku dengan rasa bersalah, lalu melirik gaun pengantin di sofa sambil mengernyitkan kening. "Silvia, aku sudah bilang kalau sekarang ini aku nggak ada niat untuk memikirkan pernikahan. Bisakah kamu nggak memaksaku?" Aku terdiam. Aku menatapnya lekat-lekat ketika berkata, "Apakah aku mengatakan kalau kamu adalah mempelai pria dalam pernikahan ini?" "Apa maksudnya?" tanya Felix. "Nggak ada maksud apa-apa." Aku mengangkat bahu, lalu berjalan mendekat, mulai merapikan kembali gaun itu ke dalam kotaknya. Felix langsung menarik lenganku, suaranya melunak, "Apa kamu marah? Baiklah, aku minta maaf. Aku hanya kelelahan karena perjalanan bisnis kemarin. Maafkan aku, oke?" "Ya." Tanpa pikir panjang, aku mengangguk. Felix masih tampak ragu, "Benarkah?" "Ya." "Kalau begitu, bisakah kamu menyimpan gaun pengantin ini untuk sekarang?" ujar Felix. Dia tampak sedikit bimbang. "Silvia, beri aku sedikit waktu lagi, aku pasti akan menikahimu." Nada suara Felix seperti orang yang takut dipaksa melakukan sesuatu. Aku tidak kuasa menahan tawa kecil. "Apa yang kamu pikirkan? Apa kamu tadi nggak mendengarku menelepon? Ini adalah gaun milik temen kuliahku yang akan menikah. Dia membuat kesalahan saat mengisi alamat." Felix langsung menghela napas lega, mencubit pipiku, lalu berkata, "Apa kamu sengaja menakut-nakutiku?" "Anggap saja begitu," balasku. Felix kenal baik dengan ketiga sahabatku dari kampus. Jika saja dia masih sedikit peduli padaku, dia pasti akan mengingat kalau ketiganya sudah lama menikah. Bahkan Felix menemaniku ke setiap pernikahan mereka. Waktu itu, dia terus membuat rencana masa depan kami. Setiap menghadiri pernikahan orang lain, Felix pasti terlihat sangat tersentuh. Kami pernah berjanji, begitu perusahaan stabil, kami akan segera menikah. Namun, dalam sekejap mata, sudah tiga tahun berlalu. Felix tidak pernah menyinggung tentang hal itu lagi. Pernah suatu saat, aku sempat berpikir mungkin dia takut menikah. Namun, sekarang aku mengerti. Bukan karena Felix tidak ingin menikah, tetapi karena orang yang ingin dia nikahi bukanlah aku. Liana mengetuk pintu dan melangkah masuk. Wajahnya tampak seolah sudah terlalu muak dengan kemesraan ini. "Aku sebenarnya nggak mau mengganggu kalian, tapi Pak Felix, nanti kamu tetap harus hadir untuk wawancara calon direktur desain baru." "Direktur desain?" Felix yang tampak bingung, menoleh ke arahku. "Apa kamu kewalahan? Apa kamu butuh orang untuk membantumu?" "Nggak." Aku menggelengkan kepala. "Felix, aku sudah mengundurkan diri." Kening Felix langsung berkerut dalam. "Kamu mengundurkan diri? Kenapa kamu nggak mendiskusikannya dulu denganku? Silvia, sekarang ini masa yang penting untuk perusahaan. Kita sedang dalam proses pendanaan, sementara divisi desain adalah jantung perusahaan! Apa kamu tahu kalau mengganti direktur sekarang bisa berdampak besar ke investor?" Tiba-tiba, aku merasa seperti sedang berdiri di hadapan orang asing. Aku mendongak menatapnya. "Jadi, apa yang ingin kamu lakukan?" "Tanpa tanda tanganku, proses pengunduran dirimu belum sah." Felix menghela napas. "Kamu bukan anak kecil lagi, jangan bertindak kekanak-kanakan. Kembalilah bekerja besok." "Felix." Aku tersenyum simpul. "Kamu sudah tanda tangan." "Kalau kamu nggak percaya, Liana punya salinannya. Kamu bisa melihatnya," tambahku. Setelah berkata demikian, aku membawa gaun pengantin itu pergi. Bab 5 [Silvia, seberapa pun kamu ingin menikah, kamu nggak bisa memaksa orang menikah, 'kan?] [Apa kamu pikir dengan membeli satu gaun pengantin bisa membuat Felix ingin menikahimu?] [Dari dulu dia sudah berjanji hanya akan menikah denganku. Kamu jangan bermimpi.] Dalam perjalanan, aku menatap pesan WhatasApp dari Yoana dengan rasa lelah yang menumpuk. Aku menyetir keliling Kota Jawan selama berjam-jam, sampai lewat tengah malam. Angin yang dingin menusuk ke tulang. Baru setelah benar-benar menggigil, aku pulang ke rumah. Yang mengejutkan, lampu rumah menyala terang benderang begitu aku membuka pintu. Felix yang duduk di sofa langsung berdiri menyambutku. "Kenapa kamu baru kembali malam sekali?" "Aku pergi jalan-jalan," jawabku. Aku akan segera pergi, jadi aku ingin menatap kota tempatku hidup selama bertahun-tahun ini sekali lagi untuk sedikit lebih lama. Felix mengangguk, lalu hendak memelukku. Aku tanpa sadar mundur selangkah. Kening Felix tampak berkerut halus. "Apa kamu masih marah?" "Tadi siang aku sudah mengatakan hal yang kasar. Kalau kamu nggak mau bekerja, kamu nggak perlu bekerja, oke?" "Asal kamu bahagia. Itu lebih penting dari segalanya." Mendengar kata-kata Felix, aku hanya menundukkan kepala. Ada sedikit ironi di mataku, tetapi aku tidak ingin memperpanjang masalah. "Beberapa hari lagi adalah ulang tahunmu. Apa kamu sudah ada rencana?" Sebelum pergi tadi pagi, aku sempat melihat kalender. Aku baru sadar kalau sehari sebelum tanggal yang aku rencanakan untuk pergi adalah hari ulang tahunnya. Itu juga adalah hari jadi kami. "Tentu saja aku akan pulang untuk merayakannya berdua denganmu." Felix mengulurkan tangan untuk meraihku dengan hati-hati. Saat dia melihat aku tidak menolak, barulah dia terlihat benar-benar merasa tenang. Dia memelukku, lalu bergumam, "Silvia, aku selalu merasa belakangan ini kamu tampak berubah." "Kamu terlalu banyak berpikir," balasku. Aku perlahan-lahan melepaskan diri dari pelukannya. "Aku kedinginan, aku mau mandi." Dulu, Felix pasti akan langsung sadar kalau seluruh tubuhku sedingin es. Sekarang, aku bahkan tidak yakin siapa yang sebenarnya sudah berubah. "Oh ya, kenapa sikat gigi dan gelas kumurku nggak ada?" Felix tiba-tiba bertanya dari belakang. Aku menundukkan pandanganku. Di rumah ini, yang hilang bukan cuma dua barang itu. Namun, perhatiannya juga sudah lama pergi. Wajar saja kalau dia tidak menyadarinya. Aku menjawab dengan acuh tak acuh, "Perlengkapan mandi itu harus diganti secara rutin. Di lemari kamar mandi masih ada yang baru." Aku masuk ke kamar untuk mandi. Ponsel yang ada di atas kasur terus berbunyi. Begitu keluar, aku lagi-lagi melihat pesan dari Yoana. Sore tadi dia sempat mengirimkan pesan bernada provokatif, tetapi aku tidak berniat membalasnya. Namun, dia jelas tidak berniat untuk berhenti. Pesannya terus masuk, satu per satu. Saat melihat aku tidak membalas, dia malah mengirimkan tangkapan layar. Itu adalah obrolannya dengan Felix. Pesan itu bukan hanya dari dua bulan terakhir. Ada yang dari setahun, bahkan dua tahun lalu. Sebagian besar, pesan itu adalah pesan satu arah dari Felix. [Yoana, aku mengikuti saranmu. Aku punya pacar sekarang. Dia sangat baik, senyumnya mirip denganmu.] [Yoana, tiap kali aku bersama dengannya, rasanya seperti kembali ke masa-masa kita nggak terpisahkan dulu.] [Yoana, bagaimana kabarmu akhir-akhir ini? Semalam aku bermimpi tentangmu. Aku sangat merindukanmu.] [Yoana, aku mungkin akan menikah. Aku nggak bisa mengecewakannya.] [Dia sudah menemaniku melalui banyak kesulitan selama bertahun-tahun ini. Semua yang aku punya sekarang, karier yang sukses, mobil, rumah di Kota Jawan, semua adalah berkat dia ....] Setelah mengirimkan pesan-pesan itu, Yoana akhirnya mulai membalas. Begitu tahu Felix membeli dua apartemen di pusat Kota Jawan, bahkan salah satunya sedang direnovasi menjadi unit mewah, mereka langsung saling jatuh cinta. Pesan mereka berubah menjadi obrolan manis sehari-hari. Aku tahu dengan baik bahwa setiap kali Felix pulang mabuk dari jamuan kerja, aku akan bangun pagi-pagi, memasakkan bubur untuknya. Namun, apa yang dia lakukan? Dia mengambil foto, mengirimkannya ke Yoana. [Pagi ini aku makan bubur. Bagaimana dengamu?] Ketika pohon lemon yang aku tanam akhirnya berbuah. Felix langsung mengirimkan foto pada Yoana. [Lihat, menakjubkan bukan? Nanti kalau sudah agak besar, aku akan mengambil yang paling besar untukmu. Aku akan bawakan ke kantor untuk kamu seduh.] Tanganku yang memegang ponsel tidak bisa berhenti gemetar. Aku memang sudah tahu kalau aku hanya dijadikan pengganti. Namun, mengetahui sesuatu dan menyaksikan buktinya secara langsung, itu adalah dua hal yang sangat berbeda. Meski aku baru saja mandi air hangat, tubuhku terasa dingin sampai ke tulang. Aku ingin tertawa. Tertawa, sampai akhirnya mataku memerah. Aku menangis bukan karena merasa dikhianati. Namun, ini karena aku, Silvia Raider, ternyata benar-benar sudah menjadi bayangan orang lain selama bertahun-tahun. Momen-momen manis yang aku anggap adalah milik kami, semua justru dia bagikan pada orang lain. Aku menahan air mataku dengan paksa, lalu mengetik balasan. [Tengah malam begini bukannya tidur, tapi malah mengingat masa lalu.] Yoana langsung membalas, [Silvia, jangan bersikap nggak tahu diri! Meskipun kamu nggak pergi, yang akan dinikahi Felix tetap adalah aku. Aku tahu kalau kamu enggan melepas perusahaan karena sebentar lagi perusahaan akan masuk ke bursa saham. Tapi karena kamu sudah membantunya membangun perusahaan, aku akan memberimu saran untuk sadar diri. Nanti aku akan menyuruhnya memberimu uang pesangon 200 juta.] [Lagi pula, begitu kamu meninggalkan Felix, kamu nggak akan bisa mendapatkan pria sekaya dia lagi.] Dua ratus juta. Entah apakah itu cukup untuk membayar biaya satu meja pesta pernikahan Keluarga Quinn. Baru saja aku selesai membaca pesan itu, pintu kamar tiba-tiba didobrak terbuka. "Silvia, kenapa kamu menjual jam tangan yang aku berikan padamu?" tanya Felix. Bab 6 Felix masuk sambil membawa ponselnya, langsung bertanya dengan nada menekan. Aku melirik sekilas. Memang benar itu adalah iklan yang aku unggah. Harga yang aku tawarkan sangat rendah. Hari itu juga, jamnya langsung terjual. Aku tersenyum, lalu mengarang cerita, "Itu bukan milikku. Bukannya Liana juga membeli sepasang jam tangan dengan suaminya? Sekarang dia ingin menggantinya dengan model yang baru, jadi dia memintaku membantu menjualkannya." "Begitu, ya ...." Felix tampaknya hanya setengah memercayaiku, tetapi pandangannya mulai melunak. "Silvia, akhir-akhir ini aku memang terlalu sibuk. Mungkin aku kurang perhatian pada perasaanmu. Kalau ada yang membuatmu merasa nggak senang, kamu harus mengatakannya padaku. Jangan dipendam, oke?" ujar pria itu. Aku menundukkan kepala sambil membalas, "Baiklah." "Setelah ibuku meninggal karena sakit tahun lalu, aku hanya memilikimu." Felix memelukku seperti harta karun yang berharga. Nada suaranya seperti penuh janji, tetapi juga terselip rasa bersalah, "Percayalah, apa pun yang terjadi, kamu adalah orang yang paling penting untukku." Aku percaya. Felix. Dulu, aku percaya dengan sepenuh hatiku. Aku menghirup aroma samar mawar dari tubuhnya. "Ini sudah malam. Mandilah dulu, lalu istirahatlah." "Peluk aku sebentar lagi." Felix menolak untuk melepas pelukannya, dagunya menyentuh pucuk kepalaku. "Silvia, apa ada yang sedang mengganggu pikiranmu? Setelah aku menyelesaikan urusan beberapa hari ini, kita bisa membicarakannya." Aku tertawa kecil. Sibuk mengantre membeli kue untuk Yoana? Sibuk menyiapkan mobil penuh mawar sebagai kejutan? Felix harus menyembunyikan semua ini dariku, sekaligus harus bisa menyenangkan Yoana. Pria ini memang sedang sibuk. Dia menundukkan kepala menatapku, suaranya terdengar lembut, "Kenapa matamu merah? Apa kamu baru saja menangis?" "Aku ...." Baru saja aku hendak menjawab, ponselnya tiba-tiba berdering. Begitu melihat nama penelepon, Felix langsung melepaskan pelukannya, lalu berjalan keluar sambil menerima telepon. Entah apa yang dikatakan lawan bicaranya, tetapi wajah Felix langsung berubah. Pada saat ini, udara begitu dingin, tetapi Felix bahkan tidak repot-repot mengambil jaket. Dia langsung berlari keluar hanya dengan kemeja tipis. Kebiasaan selama bertahun-tahun membuatku tanpa sadar memanggilnya, "Felix!" Namun, pria itu sama sekali tidak menggubris. Terakhir aku melihatnya sekepanikan ini adalah waktu rumah sakit mengeluarkan pernyataan kondisi kritis untuk ibunya. Aku berjalan ke jendela, menatap Porsche hitamnya melaju menembus gelap malam. Telingaku seakan masih bisa mendengar kalimatnya barusan, "Silvia, kamu adalah orang yang paling penting untukku." Namun, itu tidak penting lagi sekarang. Selama beberapa hari berikutnya, aku sangat sibuk. Aku akan pergi dari sini. Jadi, orang-orang yang perlu aku temui harus aku datangi satu per satu. Malam itu, aku memegang spidol, menatap kosong sejenak, lalu akhirnya mengguratkan satu garis lagi di kalender. Besok adalah hari ulang tahun Felix. Itu juga hari terakhirku di kota ini. Setelah memesan kue ulang tahun untuk Felix, aku menggunting semua foto kami bersama yang tergantung di dinding, lalu membuangnya ke tempat sampah. Segala hal yang berkaitan denganku di rumah ini sudah benar-benar dibersihkan. Mungkin karena beberapa hari ini aku telat meminum obat, aku terbangun pagi-pagi dengan sakit perut yang luar biasa. Ketika mendirikan perusahaan dulu, hanya ada aku dan Felix yang bekerja di sana. Kami begitu sibuk sampai harus makan dan tidur di kantor. Demi membela Felix di depan ayahku, sejak lulus kuliah aku tidak lagi meminta uang sepeser pun dari rumah. Saat modal usaha tersendat, satu bungkus mi instan akan kami bagi dua untuk menghemat uang. Di malam hari, kami masih harus menghadiri jamuan bisnis. Felix memiliki toleransi alkohol yang rendah, jadi sebagian besar alkohol masuk ke perutku. Pernah sekali aku sampai terkena perforasi lambung karena minum alkohol. Dokter bahkan memarahi Felix habis-habisan. Pria itu menjagaku di rumah sakit. Mata pria yang tingginya lebih dari 180 sentimeter itu tampak memerah seperti anak kecil. Dia berkata aku sudah terlalu banyak menderita karena mengikutinya. Dia juga berkata bahwa Felix Darian tidak akan mengecewakan Silvia Raider seumur hidupnya. Sekarang aku sadar. Janji itu hal yang bahkan belum tentu bisa dipercaya bahkan saat diucapkan. Aku bangun dari tempat tidur sambil memegangi perutku. Setelah memakan sepotong roti tawar, aku meminum obat. Namun, efek obatnya relatif lambat. Rasa sakitku malah menjadi makin parah. Aku meringkuk di sofa dengan keringat dingin yang terus keluar. Aku mengeluarkan ponsel dengan susah payah untuk menelepon Felix. Tidak ada yang menjawab. Sepertinya Felix memang sangat sibuk. Bahkan dia tidak punya waktu untuk menjawab satu panggilan dari pacarnya. Aku baru tahu betapa sibuknya Felix beberapa hari ini saat Liana meneleponku. Katanya Felix sudah beberapa hari tidak masuk kantor. Proyek masih belum selesai dikerjakan, banyak dokumen yang menunggu ditandatangani. Liana bahkan mulai merasa cemas. "Silvia, meski dia sudah terobsesi dengan cinta, apa kamu juga ikut terobsesi? Meski kalian sibuk mengurus pernikahan sekali pun, jangan melupakan urusan kantor! Tolong bujuk Felix, suruh dia cepat kembali ke kantor!" "Oh ya, aku dengar minggu depan Pak Steven dari Perusahaan Investasi Rowan akan menggelar pernikahan. Felix harus mencari cara untuk mendapatkan undangan itu. Dia harus pergi ke Kota Bana untuk berkenalan, lalu mengambil hatinya. Asalkan Steven Quinn setuju, penawaran kita pasti akan aman." "Tunggu." Sebenarnya aku sudah setengah linglung karena sakit yang menyiksa. Namun, begitu mendengar kalimat terakhir, aku langsung tersentak. "Siapa nama orang dari Perusahaan Investasi Rowan yang kamu katakan tadi?" "Steven Quinn!" Bab 7 Liana menghela napas, "Dia benar-benar anak konglomerat yang lahir dengan sendok emas. Kita saja harus mencari Perusahaan Investasi Rowan untuk masuk pasar saham. Tapi aku dengar, Perusahaan Investasi Rowan hanya diberikan pada Steven untuk latihan oleh Keluarga Quinn." Kota Bana. Keluarga Quinn, Steven Quinn, perusahaan investasi. Semuanya cocok. Ketika Liana menyadari aku tidak merespons, dia bertanya, "Silvia, apa kamu mendengarkanku?" "Ya, aku dengar." Aku mengerutkan bibir sambil berkata, "Aku akan menyampaikan apa yang kamu katakan pada Felix." Liana akhirnya merasa lega. "Baguslah. Oh ya, apa kamu sudah menentukan tanggal pernikahan? Undanganku harus yang versi cetak, jangan hanya menggunakan undangan elektronik secara asal-asalan!" Aku tersenyum sembari membalas, "Tanggalnya minggu depan juga. Untuk masalah undangan, kamu tenang saja." Ini adalah keluarga sekelas Keluarga Quinn. Undangan untuk tamu tentu saja versi cetak semua. Beberapa hari lalu, saat ibuku menelepon menanyakan siapa saja teman yang akan aku undang, aku sudah menyebutkan nama Liana. Sisanya, Keluarga Quinn yang akan mengatur. Setelah menutup telepon, aku menahan rasa tidak nyaman di perutku, lalu mengirimkan pesan ke Felix. Tidak ada balasan. Akhirnya aku menelponnya langsung. Aku pikir dia tidak akan mengangkatnya, tetapi ternyata panggilan tersambung juga. Suaranya terdengar agak dingin di ujung sana, "Kenapa kamu terus meneleponku?" Jadi, ternyata dia melihat panggilanku sebelumnya. Aku mengusap perutku sembari berkata, "Kamu sedang sibuk apa? Liana bilang kamu beberapa hari ini nggak datang ke kantor." Nada suaranya terdengar agak mengejek, "Kamu nggak tahu aku sibuk apa?" "Bagaimana aku tahu?" tanyaku balik. Felix mencibir ketika mendengar jawabanku, lalu menahan emosi sambil bertanya dengan nada marah, "Kenapa kamu menyuruh orang menyiram cat di depan rumah Yoana? Apa kamu tahu kalau dia penakut? Sekali terkejut, dia akan langsung trauma! Silvia, sejak kapan kamu jadi sejahat ini?" Jahat. Aku merasakan sakit yang makin parah. Aku tidak tahu apakah rasa yang mencekik ini berasal dari perutku atau dadaku yang terasa sesak. "Yoana mengatakan kalau aku yang melakukannya? Kamu percaya?" "Dia dari kecil nggak pernah berbohong!" balas Felix. Pria itu bicara dengan suara lantang, "Untuk urusan kantor, kamu bantu aku mengurusnya dulu. Yoana sekarang sedang ketakutan, nggak bisa ditinggal sendirian." Aku meneguk air hangat, lalu membalas, "Perutku sakit, aku nggak bisa pergi." Felix tahu dengan baik tentang penyakit yang mengendap di tubuhku beberapa tahun terakhir ini. Selama dia ada di rumah, dia akan selalu memastikan aku makan tiga kali sehari, serta meminum obat tepat waktu. Entah sejak kapan, dia bahkan tidak pulang ke rumah lagi. "Silvia." Nada suaranya terdengar makin tidak sabar, seolah tidak mau mendengar lagi, "Sakitmu ini memang adalah masalah lama, tapi bisa nggak kamu menahannya sedikit saja? Aku sudah bilang, kalau Yoana nggak bener-bener membutuhkanku, aku juga nggak akan menyuruhmu." "Lupakan saja, aku akan mencari cara sendiri." Setelah mengatakan ini, Felix bersiap menutup telepon. Aku buru-buru menahan, "Apakah kamu akan pulang malam ini?" "Silvia, apakah kamu benar-benar harus membuat keributan di saat Yoana sangat membutuhkanku?" ujar Felix. Aku terdiam sejenak. Aku pikir aku sudah tidak akan peduli lagi. Namun, begitu mendengar kalimat itu, rasanya seperti ada sesuatu yang runcing dan tajam menusuk dadaku, menembus sampai ke paru-paru. Bahkan bernapas pun terasa sakit. "Hari ini adalah hari ulang tahunmu, juga peringatan enam tahun hubungan kita." Sambil mengusap perut, aku melanjutkan perlahan, "Felix, kamu sendiri yang bilang kalau setiap hari jadi harus kita lewati bersama." Putus. Aku tetap ingin mengatakannya secara langsung. Jika tidak, semua momen yang pernah kami lalui bersama akan terasa tidak berharga. "Aku ...." Felix terdiam sejenak, seolah merasa bersalah, "Aku hampir lupa karena sibuk." "Silvia, aku akan segera pulang. Aku juga akan membawakan kue kesukaanmu dari toko favoritmu." Baru saja aku ingin menjawab, suara Yoana tiba-tiba terdengar di seberang sana, seperti sedang menjerit panik. Felix terdengar cemas, bahkan lupa mematikan panggilan telepon. Suaranya terdengar lembut saat menenangkan, "Jangan takut, aku di sini. Aku nggak akan pergi ke mana-mana." Aku menutup panggilan. Ketika menatap rumah yang sudah sepi dan kosong, tiba-tiba aku tertawa. Jarum jam terus berputar. Langit malam pekat seperti tirai hitam. Selain kurir makanan yang sempat mengetuk pintu, tidak ada lagi suara apa pun. Felix tidak akan kembali malam ini. Pada pukul tiga dini hari, ponselku berdering. Itu adalah pesan dari Felix. [Silvia, Yoana terus bermimpi buruk. Tenang aja, sebelum matahari terbit aku pasti pulang. Tunggu aku.] Aku menunduk, duduk diam beberapa saat. Kemudian, aku membuang makanan dan kue di atas meja ke tempat sampah satu per satu. Aku masuk ke kamar mandi, mandi air hangat. Kemudian, aku mengirimkan pesan terakhir lewat WhatsApp untuk Felix. Aku langsung memblokir serta menghapus semuanya. Aku menarik dua koper yang sudah lama aku persiapkan. Tanpa menoleh ke belakang, aku naik taksi ke bandara. Felix, kali ini aku tidak akan menunggumu lagi. Semua barang milikku, termasuk diriku sendiri. Hari ini, aku akan sepenuhnya meninggalkan kota yang sejak awal pun tidak pernah benar-benar menjadi milikku.