Đang tải thông tin quảng bá...
Rahasia Asrama Seni
Aku seorang mahasiswa baru. Pelatihan ospek baru selesai kemarin. Pacarku yang sudah menahan rindu hampir setengah bulan, langsung tak sabar memanggilku ke asrama putri. Dengan bantuan dia dan teman a...
Chương (1)
第1章
Aku seorang mahasiswa baru. Pelatihan ospek baru selesai kemarin. Pacarku yang sudah menahan rindu hampir setengah bulan, langsung tak sabar memanggilku ke asrama putri. Dengan bantuan dia dan teman asramanya yang membantuku bersembunyi, aku berhasil lolos dari pemeriksaan ibu penjaga asrama dan diam-diam menginap semalam di sana ….
Bab 1
“Ya ampun, nikmatnya ….”
Di dalam asrama putri, seorang gadis telanjang mengeluarkan suara yang nyaris seperti tangisan. Tubuh mungilnya mencondong ke depan, kedua tangannya mencengkeram sprei erat-erat, lalu seluruh tubuhnya menegang di tempat.
Aku memeluknya erat, sampai akhirnya dia terkulai lemas seperti tak bertulang di atas ranjang ….
Namaku Tyson, seorang mahasiswa baru.
Pelatihan ospek baru saja selesai kemarin. Setelah hampir setengah bulan menahan rindu, pacarku langsung tak sabar mengajakku masuk ke asrama putri.
Dengan bantuan dia dan teman asramanya yang kompak membantuku bersembunyi, aku berhasil lolos dari pemeriksaan ibu penjaga asrama dan bermalam di sana.
“Hei nakal, aku sudah menginginkannya ….”
Begitu lampu asrama dipadamkan, pacarku langsung menarik tanganku dan menyelipkannya ke dalam dasternya, lalu menciumku penuh hasrat.
Aku meremas bokong kecilnya dan berkata, “Mereka masih belum tidur.”
“Jangan pikir aku nggak tahu ….”
Dia menggeliat manja di pelukanku, pinggangnya yang ramping melenggok lincah seperti ular. Lalu satu kakinya naik melingkari pinggangku. “Setiap kali kamu buat aku puas setengah mampus, bukannya itu sengaja biar mereka mendengar … kalau kamu lagi bercinta denganku ….”
Kata-kata terakhir itu dia bisikkan di telingaku, sambil menggigitnya pelan.
“Dasar genit! Kamu sudah begitu menginginkannya?”
Begitu lidahnya yang basah menyentuhku, gairahku langsung membuncah. Aku langsung menarik dasternya, mengangkat kedua tangannya ke atas dan menekannya ke kasur dengan satu tangan, lalu menindihnya dari atas.
“Iya … aku memang genit … bukannya kamu memang suka yang genit begini?” ujarnya sambil menggoyangkan pinggulnya, terus menggoda, “Aku cukup genit nggak malam ini? Hmm?”
“Genit! Genit sekali!”
Akhirnya, aku tak tahan lagi. Aku menekannya dari belakang, kedua tanganku menggenggam pinggang rampingnya, lalu menungganginya seperti kuda liar.
Namun, tiba-tiba, aku melihat Sella, gadis yang tidur di seberang bergerak sedikit.
Dia mengintip?
Aku melirik diam-diam ke arahnya dan jelas melihat dadanya naik turun cepat karena napasnya yang terengah-engah. Mulutnya sedikit terbuka, pipinya memerah, tatapan matanya menatap ke arahku, tangannya masuk ke celana tidur sambil bergerak pelan.
Tatapan kami berpapasan, awalnya aku kaget, tapi kemudian malah jadi makin terangsang.
Sella kelihatannya polos dan pendiam, tapi siapa sangka ternyata dia perempuan yang penuh kejutan.
Sambil menonton kami begituan, dia malah asik memuaskan dirinya sendiri.
Aku tak peduli pacarku sadar atau tidak soal Sella yang mengintip. Aku langsung mengangkat kaki pacarku dan menyibaknya, lalu seperti kuda liar yang lepas kendali, aku kembali menindih dan mengguncangnya tanpa ampun.
“Ahh … aku nggak kuat lagi … ampuni aku ….”
Suaranya makin serak, bercampur isak dan akhirnya dia benar-benar lemas terkapar di ranjang.
Keesokan paginya, langit baru saja terang, aku sudah ditarik dari ranjang oleh ibu penjaga asrama.
Setelah dimarahi habis-habisan dan keluar dari kantor kaprodi, jam makan siang pun sudah lewat.
Yang paling menyiksa, aku seharian belum buang air kecil, rasanya kandung kemihku sudah mau meledak.
Aku langsung lari ke kamar mandi di gedung administrasi.
Namun, saat sampai di depan kamar mandi pria, kulihat ada papan bertuliskan,
[Sedang dalam perbaikan, mohon pengertiannya.]
Aku menoleh, lorong sepi tak ada orang. Terpaksa, aku harus masuk ke kamar mandi wanita.
Namun, tak kusangka, begitu kubuka bilik paling dalam, ada seorang gadis mungil yang baru saja selesai buang air kecil. Celananya masih melorot sampai ke lutut dan dia sedang menunduk hendak menarik celana dalamnya.
Dan gadis itu … ternyata Sella.
Mungkin sama denganku, dia juga terkejut dan terdiam di tempat, bahkan lupa menarik celana dalam, hanya bengong selama belasan detik.
“Tap tap tap.”
Saat itu juga, terdengar langkah kaki cepat dari luar.
Tanpa pikir panjang, aku langsung melangkah masuk ke dalam bilik sempit itu, tubuhku pun menempel erat dengan tubuh Sella.
Bab 2
Tak lama kemudian, pintu bilik sebelah terbuka. Setelah terdengar suara gesekan seperti orang sedang melepas celana, suara air kencing mengenai permukaan kloset pun terdengar.
Suara itu sebenarnya tidak keras, tapi di kamar mandi yang kosong dan sepi ini, jadi terdengar sangat jelas.
Dengan wajah merah merona, Sella menggeliat tak tenang dalam pelukanku.
Aku menunduk menatap gadis mungil yang lembut dalam pelukanku, mencium wangi dari rambutnya dan teringat hal-hal gila yang kami lakukan di asrama tadi malam. Satu tanganku pun meluncur melewati pinggulnya dan langsung menutupi bokong kecil yang luar biasa elastis.
“Uuhh ….”
Sella tak bisa menahan erangan pelan. Napasnya jadi lebih cepat, tubuhnya sedikit bergetar dan seluruh badannya melemas tak berdaya.
Kalau aku tidak memeluknya erat, dia pasti sudah jatuh lemas ke lantai.
Ternyata dia wanita yang begitu sensitif?
Mumpung dia tak bisa melawan, aku pun menarik celana dan celana dalamnya sekaligus sampai ke pergelangan kaki, lalu menekannya ke dinding bilik dengan bokong terangkat.
“Nggak … nggak boleh ….”
Sella meronta, memegang bokongnya dengan kedua tangannya agar aku tidak berhasil mendapatkannya. Dengan terengah-engah, dia berkata pelan, “Aku … aku masih perawan. Kita nggak boleh melakukannya di kamar mandi ….”
“Kalau begitu, pakai mulut saja.”
Sella langsung menarik tangannya dan menutup mulutnya.
“Pong! Pong!”
Saat itu juga, terdengar suara ketukan dari bilik sebelah, lalu terdengar suara seorang gadis, “Sella, ada apa?”
Itu Tina, teman asrama pacarku.
“Nggak … nggak apa-apa.”
“Kok suaramu aneh? Nggak enak badan, ya?”
“Uhm … aku … aku lihat ada kecoa ….”
Terdengar suara air mengalir dari sebelah, Tina keluar dari bilik untuk mencuci tangan, “Cepat ya, aku tunggu di luar.”
Setelah Tina keluar dari kamar mandi, Sella melepaskan dirinya dari pelukanku dan berkata pelan, “Kita … kita boleh melakukan itu … tapi nggak boleh di tempat seperti ini ….”
Usai bicara, dia berusaha melepaskan diri dari pelukanku, mengenakan celananya dan buru-buru keluar dari bilik.
Aku perlahan menenangkan diriku, menunggu sampai di luar benar-benar sepi, barulah aku keluar diam-diam.
Saat malam tiba, aku duduk sendirian di depan gedung asrama putri, hanya dengan satu tujuan, yaitu melampiaskan emosi.
Namun, pacarku tidak datang, yang datang malah tiga teman sekamarnya.
“Hei, masih belum puas kemarin? Mau tidur di asrama kami lagi malam ini?”
“Dengar-dengar punyamu sepanjang 22cm, lebih panjang dari orang barat, benaran?”
Yang bicara adalah Tina, tingginya sekitar 170cm, suka sekali pakai kaos atasan pendek dan celana jeans ketat, pinggangnya hampir kelihatan jelas, tubuhnya itu tipe yang bisa membuat pria terpesona.
Mengingat kejadian di kamar mandi siang tadi, mendengar suara kekuatan semburannya, hatiku jadi tergoda.
“Tentu saja benar, hati-hati aku salah naik ranjang dan perkosa kamu.”
Tina dan satu teman lainnya tertawa terbahak-bahak, sementara Sella diam. Tiba-tiba, wajahnya terlihat sangat merah, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Aku menatap Sella, lalu berpikir kalau pacarku tidak datang, mungkin aku bisa mengajaknya ke hotel saja. Seharusnya tidak masalah.
Tina melambaikan tangan di depan mataku, “Ada apa dengan kalian berdua? Kok saling pandang begitu ….”
Begitu mendengar ucapan Tina, wajah Sella yang mungil langsung memerah sampai keunguan, tadinya masih mirip tomat, sekarang sudah seperti terong.
Ada sesuatu!
Tina melanjutkan lagi, “Kukasih tahu ya, jangan coba-coba mengkhianati pacarmu saat lagi sakit begini.”
Bab 3
”Dia sakit?” tanyaku terkejut.
Tina balik bertanya, “Kamu nggak tahu?”
“Nggak tahu. Setelah lampu dimatikan, aku panjat jendela ke asrama buat melihat dia.”
Aku langsung panik, sampai melupakan soal Sella.
Beda dari kemarin, biasanya aku menyelinap dulu ke asrama putri, bersembunyi di ranjang pacarku. Setelah pengecekan kamar selesai, barulah kami bersenang-senang.
Tapi setelah aku ketahuan pagi ini, penjagaan di asrama putri pasti semakin ketat. Aku tak mungkin bisa bersembunyi lagi di waktu pengecekan.
Jadi, satu-satunya cara biar bisa tetap bermalam di asrama putri adalah … memanjat jendela.
Begitu pengecekan selesai, aku langsung panjat teralis jendela di gedung asrama.
“Cepat buka jendelanya!”
Pacarku membuka jendela, sambil mengomel, “Kamu sudah gila? Ini lantai tiga, lho!”
“Demi kamu, lantai tiga puluh pun aku bersedia!”
Suasana di dalam kamar langsung penuh bisikan heboh. Tina dan temannya sampai menyeletuk gombalanku.
“Sudah merasa lebih enak?” tanyaku.
Pacarku kelihatan sangat terharu, sampai hampir menangis, “Hanya flu biasa saja.”
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki dari luar. Ternyata, penghuni asrama di lantai dua tadi belum tidur, dikira ada maling, jadi langsung melapor ke penjaga asrama.
Semuanya langsung panik. Baru saja aku mau sembunyi di ranjang pacarku, tapi dia malah menarikku turun.
“Aku sudah pernah ketahuan, kalau kamu sembunyi di ranjangku lagi, pasti bakal ketahuan. Sembunyi di tempat Sella saja.”
Akhirnya, aku buru-buru pindah ke ranjang Sella.
Penjaga asrama pun berhenti di depan ranjang pacarku, lalu mengintip dengan bantuan cahaya bulan.
Sementara itu, aku sudah rebahan di ranjang Sella, sampai tak berani napas kuat.
Masalahnya, gadis sebelahku hanya memakai pakaian dalam. Kami nyaris tidur berpelukan. Dalam situasi seperti ini … mana bisa ditahan?
Aku diam-diam meletakkan tanganku di bokong Sella, lalu meremasnya perlahan.
Tubuhnya gemetar pelan, tapi dia tak mengeluarkan suara sedikit pun.
Melihat reaksinya, aku jadi semakin berani. Tanganku yang satu lagi menyibakkan bagian bawah celana dalamnya.
“Benaran nggak ada orang yang datang ke asrama kalian?” tanya ibu penjaga asrama.
“Nggak ada!”
“Kenapa jendelanya nggak ditutup?”
“Tadi gerah sekali, jadi dibuka biar ada udara masuk.”
Situasi di bawah ranjang semakin panas, tapi pikiranku hanya tertuju pada gadis yang sedang kupeluk ini. Aku perlahan membuka kaki kanannya dan memiringkan badan, lalu menempel lebih dekat.
“Hmm ….”
Akhirnya, Sella tak tahan dan mengeluarkan suara lirih. Itu membuat ibu penjaga langsung menoleh curiga dan bertanya, “Ada apa itu?”
“Ah … aduh!”
Pacarku memang cepat tanggap, begitu melihat situasi yang tidak beres, dia langsung jongkok di lantai dan mengerang kesakitan, “Aduh … perutku sakit … ugh ….”
Dua gadis di ranjang sebelah juga langsung turun, “Dia lagi sakit, cepat bawa dia ke klinik.”
“Kenapa nggak bilang dari tadi? Ayo cepat!” teriak petugas buru-buru, mereka semua pun keluar dari asrama dengan langkah cepat.
Sekelilingnya kembali sunyi dan gelap.
Kemudian, aku memegang pinggang rampingnya, kuangkat kuat-kuat, bokong mungilnya pun terangkat tinggi dan kusobek celana dalamnya.
“Hmm … sudah kutebak … ada yang beda dengan dirimu dan Sella … ah ….”
Sambil meraba perutku, gadis dalam pelukanku menolehkan kepalanya, menunjukkan wajahnya yang memerah seperti langit senja, dengan tatapan yang penuh kekesalan, tapi juga malu-malu.
Suara yang terdengar menjadi sangat manja dan tidak tertahankan, “Kamu … kamu benar-benar … sepanjang 22cm ….”
Aku langsung terkejut, terpana tidak bisa berkata-kata.
“Tina? Kok kamu ada di sini?”
“Kenapa? Kecewa? Atau … takut? Kau bukan mau perkosa aku?”
Tak ada pria yang sanggup menahan diri melihat tatapan genit dan menggoda seperti itu. Aku berdiri dan mendorong bra Tina hingga ke lehernya, meraih kakinya dan meletakkannya di bahuku, lalu menekannya.
“Aku tetap akan melakukannya, meski salah orang. Kalau nggak menghajarmu sampai minta ampun malam ini, anggap aku kalah ….”