Đang tải thông tin quảng bá...
Setelah Pergi Penelitian, Tunanganku Menyesal
Satu bulan sebelum aku menikah dengan pacar, dia malah ingin memiliki anak dengan cinta sejatinya. Aku tidak setuju, namun dia terus-menerus membicarakan hal itu. Hingga setengah bulan sebelum perni...
Chương (1)
第1章
Satu bulan sebelum aku menikah dengan pacar, dia malah ingin memiliki anak dengan cinta sejatinya.
Aku tidak setuju, namun dia terus-menerus membicarakan hal itu.
Hingga setengah bulan sebelum pernikahan, aku menerima hasil pemeriksaan kehamilan.
Saat itulah aku tahu bahwa cinta sejatinya ternyata sudah hamil hampir sebulan.
Ternyata, dia tidak pernah berniat untuk meminta persetujuanku.
Pada saat ini juga, hubungan yang telah terjalin bertahun-tahun seakan lenyap begitu saja.
Aku membatalkan pernikahan, menghapuskan semua kenangan, dan pada hari pernikahan, aku memasuki laboratorium riset tertutup.
Sejak saat itu, aku tidak lagi memiliki hubungan dengan dia!
Bab 1
"Aku sudah menjelaskan ini berkali-kali padamu, Chelsia menderita kanker dan hanya memiliki waktu setahun lagi. Keinginan terbesarnya adalah memberi keluarganya seorang anak. Dulu dia menyelamatkan hidupku, sekarang aku harus membantu dia mewujudkan keinginan ini!"
Kalimat seperti ini, aku sudah mendengar ribuan kali dalam sebulan ini.
Saat pertama kali mendengar permintaan Hendri, aku langsung menolak tanpa ragu.
Namun dia tidak menyerah, hampir setiap hari terus mengangkat topik ini.
Sikap Hendri yang awalnya mencoba meminta persetujuanku, kini berubah menjadi berdebat dengan penuh percaya diri.
Seolah-olah aku yang menolak adalah orang yang salah besar.
Tetapi meskipun untuk membalas budi, apakah perlu membalas dengan melahirkan anak?
Namun setelah sebulan penuh pertengkaran, aku merasa lelah baik secara fisik maupun mental. Aku sudah tidak punya tenaga lagi untuk meyakinkan Hendri mengubah pikirannya, aku hanya bisa menatap pria yang telah aku cintai selama lima tahun ini, dengan suara bergetar bertanya.
"Hendri, bulan depan kita akan menikah, tapi sekarang kamu malah ingin punya anak dengan wanita lain, lalu aku bagaimana? Kamu menganggap aku sebagai apa?"
Hendri pertama kali melihat aku dengan suasana hati yang begitu terpuruk, seolah-olah tubuhku diselimuti awan gelap.
Sikapnya menjadi lebih lembut.
"Nandia, aku tahu ini sangat sulit untuk diterima, tapi hanya aku yang bisa membantu Chelsia, aku tidak bisa membiarkan dia pergi dengan rasa penyesalan."
"Lagi pula, ini hanya inseminasi buatan, kami tidak akan melakukan apa-apa,"
"Kamu mencintaiku, jadi kamu pasti bisa mengerti, kan?"
Mendengar kata-kata ini, hatiku jatuh semakin dalam.
Aku sudah memahaminya, Hendri sudah membuat keputusan, apapun yang terjadi, dia pasti akan memiliki anak dengan Chelsia.
Sedangkan pandanganku, tidak ada artinya baginya.
Hendri masih ingin melanjutkan, namun dering telepon menghentikannya.
Dia melihat layar HP nya, lalu pergi ke balkon.
Aku menatap punggungnya, dan senyum pahit muncul di sudut bibirku.
Aku dan Hendri bisa dibilang adalah teman sejak kecil, kami berada di kelas yang sama sejak SD, bahkan di kuliah pun kami satu kampus.
Sejak kecil aku sudah suka padanya, selalu diam-diam mendampinginya, tetapi dia tidak pernah memberikan respon.
Hingga hampir lulus kuliah, akhirnya dia melihat usahaku dan setuju menjadi pacarku.
Seharusnya, setelah mengenal satu sama lain lebih dari dua puluh tahun dan menjadi pasangan, kami seharusnya menjadi orang yang paling saling percaya dan dekat.
Namun setelah lima tahun bersama, aku tidak pernah menyentuh HP Hendri, bahkan saat dia menerima telepon pun, dia selalu membelakangiku.
Aku ingat, suatu kali dia demam tinggi dan istirahat di kasur, namun HP nya terus-menerus berbunyi.
Aku khawatir akan membangunkannya, jadi aku berniat untuk mematikan suara HP nya.
Begitu jariku menyentuh HP itu, dia kebetulan membuka mata, langsung menanyaiku tanpa peduli dengan penjelasanku.
Apa pun yang aku katakan, dia tidak percaya.
Malam itu aku tidur sendirian di sofa sepanjang malam.
Aku hanya mengira itu adalah bagian dari kepribadiannya dan percaya bahwa suatu saat nanti aku pasti bisa masuk sepenuhnya ke dalam hatinya.
Namun, lima tahun telah berlalu, masih tidak ada perubahan.
Bahkan sekarang dia ingin memiliki anak dengan wanita lain, tanpa sedikit pun memikirkan perasaanku sebagai pacarnya.
Saat Hendri masuk, ekspresinya jelas menunjukkan kebahagiaan, dia langsung mengambil jaketnya dan berjalan keluar sambil mengenakannya.
"Aku ada urusan sebentar, kamu pikirkan lagi baik-baik."
Aku mendengar langkah kakinya yang terburu-buru, dan hatiku terasa sedih.
Orang yang membuatnya terburu-buru seperti itu, pasti hanya Chelsia.
Benar saja, tidak lama kemudian, Chelsia mengirim sebuah foto.
Setelah aku memperbesar dan melihat isi foto itu, rasanya tubuhku hampir tidak bisa berdiri.
Bab 2
Ini adalah kertas pemeriksaan kehamilan, dan nama ibu hamil yang tertera di sana adalah Chelsia!
Waktu kehamilan yang tercantum di kertas itu membuat kepalaku pusing.
Tertulis dengan jelas di sana, kehamilannya sudah tiga minggu!
Artinya, sebulan yang lalu, Hendri telah melakukan inseminasi buatan dengan Chelsia.
Dari awal hingga akhir, dia tidak pernah berpikir untuk berdiskusi denganku dan meminta persetujuanku.
Lalu, mengapa dalam sebulan ini Hendri terus-menerus bertanya padaku?
Apakah dia hanya ingin merasa lebih tenang? Sebenarnya, dia menganggapku ini apa?
Aku merasa semua tenagaku seakan diambil semua, tubuhku lemas dan jatuh terduduk di lantai.
Hatiku terasa seperti dipegang erat oleh tangan besar, membuatku kesulitan bernafas.
Tidak heran kalau tadi Hendri terlihat sangat bahagia, selesai menelepon dia langsung pergi dengan tergesa-gesa.
Ternyata dia sudah tahu inseminasi buatan berhasil, Chelsia hamil.
Mungkin sekarang dia sudah di rumah sakit merayakan bersama Chelsia.
Aku menutup mataku dengan perasaan sakit, kesedihan yang tidak terhingga menyebar di hatiku.
Aku benar-benar tidak bisa mempercayai bahwa pria yang kucintai selama bertahun-tahun, kini telah menjadi ayah dari anak wanita lain.
Padahal, dua bulan yang lalu aku baru saja melamarnya, dan kami merencanakan pernikahan di bulan depan. Bahkan gaun pengantin dan hotel sudah kupesan jauh-jauh hari.
Aku selalu menantikan hari pernikahan, berharap bisa berjalan bersama Hendri menuju pelaminan.
Namun sekarang, semua harapan itu berubah menjadi buih dan lenyap begitu saja.
Saat ini, HP ku bergetar menarik kembali pikiranku.
Aku langsung menjawab telepon.
Suara jelas dari kakak senior terdengar.
"Nandia, aku tahu kamu akan menikah, tapi aku tetap ingin bertanya sekali lagi, apakah kamu benar-benar tidak mempertimbangkan untuk datang ke laboratorium kami?"
"Kamu adalah murid paling berbakat yang dimiliki dosen, dia selalu berharap kamu bisa membantunya."
"Mempertimbangkan bahwa kamu segera akan menikah, dosen bilang dia bisa memberi izin untuk kamu bekerja di laboratorium selama dua bulan dan libur setengah bulan, jadi kamu juga punya waktu untuk bersama suamimu."
Aku sudah mengetahui tentang pendirian laboratorium baru dosen di Kota B sejak setengah tahun yang lalu.
Dia sendiri menelepon mengundangku pergi ke laboratoriumnya untuk melakukan riset.
Namun, begitu aku masuk ke laboratorium, aku tidak akan bisa lagi berhubungan dengan dunia luar, hanya bisa meninggalkan tempat itu setelah penelitian selesai.
Bisa satu atau dua bulan, bahkan satu atau dua tahun.
Aku tidak ingin berpisah begitu lama dengan Hendri, apalagi tanpa bisa berhubungan dengannya.
Maka aku menolak undangan dosen.
Namun sekarang, surat pemeriksaan kehamilan itu tidak bisa hilang dari pikiranku.
Hendri kini telah menjadi ayah dari anak wanita lain.
Jika dia tidak pernah memikirkan hubungan mereka dan pernikahan yang akan datang, maka pernikahan ini juga sudah tidak diperlukan lagi.
Tanganku yang memegang HP tanpa sadar semakin mengerat.
"Senior, aku bersedia pergi ke laboratorium, tidak perlu cuti, aku akan mengikuti jadwal penelitian seperti biasa."
Suara senior terdengar penuh kegembiraan.
"Baguslah! Dosen pasti akan sangat senang."
"Kapan kamu datang? Bagaimana kalau seminggu setelah pernikahan, jadi kamu masih bisa berbulan madu."
Aku menjawab pelan, "Tidak perlu, di hari pernikahan aku pergi ke sana."
Pandanganku terarah pada kalender di meja.
Tanggal 10 bulan depan sudah kuberi lingkaran tebal dengan spidol merah.
Awalnya, aku ingin selalu mengingatkan diriku masih ada berapa hari dengan hari pernikahan, agar bisa mengatur segala hal yang perlu disiapkan.
Namun sekarang, itu berubah menjadi hitung mundur untuk meninggalkan Hendri.
Tersisa lima belas hari lagi.
Anggap saja ini adalah waktu penyesuaian untuk hubungan yang telah berlangsung lebih dari dua puluh tahun.
Setelah lima belas hari, aku dan Hendri tidak akan pernah bertemu lagi.
Bab 3
Malam ini, Hendri tidak pulang, dan aku juga tidak menelepon untuk menanya ke mana dia pergi.
Aku sudah melihatnya di status Chelsia.
Setelah sore tadi mereka keluar dari rumah sakit, mereka langsung kembali ke rumah Chelsia dan memberi tahu keluarga tentang kehamilan Chelsia.
Dalam foto tersebut, nenek Chelsia dengan ramah memegang tangan Hendri dan berbicara sesuatu padanya, sementara tangan Hendri yang satunya lagi memegang perut Chelsia dengan senyum yang lembut.
Kami sudah bersama selama lima tahun, namun Hendri hanya pernah pergi ke rumahku sekali setelah dia setuju lamaranku.
Padahal, jarak antara rumah kami tidak sampai setengah jam perjalanan dengan mobil, sebelum itu dia bahkan tidak pernah ke rumahku.
Karena dia bilang tidak suka berada di sekitar orang tua dan merasa tidak nyaman.
Bahkan saat itu, sikapnya hanya sekedar sopan, sangat berbeda dengan kelembutan yang dia tunjukkan kepada keluarga Chelsia di dalam foto.
Aku menahan rasa pahit di mataku dan mematikan HP.
Keesokan harinya, aku mengundang beberapa teman untuk memberitahukan mereka bahwa pernikahan kami dibatalkan.
Dulu Hendri bilang dia tidak suka acara pernikahan, dia merasa itu hanya formalitas yang tidak ada artinya.
Karena aku yang mendesaknya, akhirnya dia setuju untuk mengadakan pernikahan kecil, dan hanya mengundang keluarga dan teman-teman terdekat.
Semua orang tahu perasaanku terhadap Hendri, jadi teman-temanku sangat terkejut mendengar kabar pernikahan dibatalkan.
"Kamu kan sudah mencintai Hendri bertahun-tahun, hampir saja mendapatkan dia, kenapa sekarang rela melepaskannya?"
Aku merasa ada rasa pahit yang merayap di hatiku.
Apa aku rela? Tentu saja tidak.
Aku telah mengejar Hendri selama dua puluh tahun, baru membuatnya setuju untuk menikahiku.
Melepaskan hubungan yang sudah dua puluh tahun ini tentu bukan hal yang mudah.
Tapi sebenarnya, hubungan ini sejak awal sudah tidak seimbang.
Karena dari awal hingga akhir, aku yang selalu mengejar langkah Hendri, sementara dia tidak pernah berhenti.
Awalnya aku tidak peduli, aku pikir, jika aku bisa menghabiskan dua puluh tahun untuk membuatnya setuju menikahiku, aku pasti bisa benar-benar masuk ke hatinya, hanya masalah waktu saja.
Setelah menikah, kami masih punya waktu yang panjang. Aku bisa menunggu sampai dia membuka hatinya sepenuhnya.
Tapi sejak setengah tahun yang lalu munculnya Chelsia, penyelamat hidup ini, semuanya berubah.
Baru saat itulah aku sadar bahwa Hendri tidak selalu ekspresi dingin terhadap semua orang.
Di depan Chelsia, dia selalu tampak lembut, berbeda dengan sikapnya yang cemberut saat di depanku.
Saat itu aku menghibur diriku sendiri, bahwa Chelsia telah menyelamatkan hidupnya.
Dia hanya ingin membalas budi.
Tapi aku tidak menyangka, setelah mendengar bahwa Chelsia didiagnosis kanker, Hendri malah setuju untuk memiliki anak bersama Chelsia supaya dia ada keturunan!
Bahkan dia berpura-pura meminta persetujuanku, namun diam-diam sudah melakukan inseminasi buatan agar Chelsia hamil.
Saat itulah, aku menyadari bahwa aku dan Hendri tidak akan bisa bersama lagi.
Meskipun perasaan dua puluh tahun ini sulit untuk dilepaskan, aku juga harus tega untuk mengikisnya.
Aku tidak memberi tahu mereka alasan sebenarnya, hanya bilang kalau aku akan segera ke laboratorium, dan aku hanya bisa berhubungan dengan dunia luar setelah waktu yang lama.
Untuk mengungkapkan permintaan maaf, aku menemani teman-temanku sampai tengah malam sebelum pulang ke rumah.
Saat aku sampai di rumah, Hendri baru saja pulang.
Dia mencium bau alkohol dari tubuhku dan mengernyitkan dahinya, mundur beberapa langkah menjauh dariku, satu tangan menutup hidung dan mulutnya, nada suaranya jelas menunjukkan rasa jijiknya.
"Jauhi aku, jangan sampai bau alkohol itu menempel padaku."
Aku tertawa pahit.
Mungkin dia khawatir bau alkohol itu menempel padanya dan akan mempengaruhi Chelsia.
Karena dia lagi hamil.
Kata-kata yang begitu jelas, sepertinya dia sama sekali tidak ingin menutupinya.
Tapi karena dia tidak mengatakan secara terang-terangan, aku juga tidak akan membicarakannya.
Aku tidak mengatakan apa-apa lagi, berbalik dan masuk ke kamar mandi.
Ketika aku keluar, Hendri sedang mengetik dengan cepat di HP nya, wajahnya tampak ceria, aku hanya melirik sekilas dan ingin pergi ke kamar tidur.
Namun, tiba-tiba dia memanggilku.
"Ada yang perlu aku bicarakan denganmu."
Langkahku terhenti.
Terakhir kali aku mendengar kata-kata itu, di sebulan yang lalu, ketika dia pertama kali bilang ingin memiliki anak dengan Chelsia. Sejak itu, kami bertengkar panjang selama sebulan.
Sekarang Chelsia sudah hamil, apa lagi yang bisa dia bicarakan?
Bab 4
"Besok jangan pergi foto prewed."
Aku melihat kalender di meja, dan tanggal besok sudah kutandai dengan spidol merah "Foto Prewed".
Meskipun aku tidak tahu mengapa Hendri membatalkannya, namun aku sudah tidak berniat melanjutkan pernikahan ini, tanpa dia mengatakan itu, aku pasti akan mencari alasan untuk membatalkannya. Sekarang, dia yang duluan mengajukan, malah membantuku.
Aku mengangguk pelan.
"Baik, aku akan menelepon fotografer untuk membatalkannya."
Begitu kata-kataku keluar, Hendri terkejut. Dia tidak menyangka aku akan menyetujuinya begitu cepat.
Dia kira aku akan bertanya alasan di baliknya, mengingat semua rencana terkait pernikahan ini sudah aku persiapkan dengan teliti.
Bahkan fotografer untuk foto prewed ini, aku bayar lebih mahal untuk bisa memotret di luar jadwalnya, hanya untuk mendapatkan foto yang sempurna.
Tapi dia tidak menyangka aku akan menyetujui dengan begitu tenang.
Hendri memandangku dengan ekspresi yang rumit.
"Tidak usah dibatalkan."
"Chelsia bilang dia tidak akan pernah menikah dalam hidupnya, jadi dia ingin foto prewed denganku, menganggap dirinya sudah menikah. Dengan begitu, dia juga tidak akan merasa ada penyesalan."
"Besok aku dan Chelsia yang foto, nanti kita bisa menjadwalkan ulang lagi."
Nada Hendri terdengar begitu santai, seperti membicarakan apa yang akan dimakan hari ini, sama seperti sebulan yang lalu dia mengusulkan inseminasi buatan dengan Chelsia.
Kelihatannya, dia seolah-olah berdiskusi, tapi sebenarnya, setiap kata yang dia ucapkan menunjukkan bahwa keputusan sudah dibuat, dia hanya memberitahuku saja.
Aku menundukkan pandangan, menyembunyikan sindiran yang ada di mataku.
Nanti?
Hendri masih tidak tahu, aku hanya akan tinggal di Kota R untuk 13 hari terakhir.
Tidak tahu bahwa kita tidak akan memiliki masa depan lagi.
Aku hanya menjawab pelan, "Baik", lalu pergi ke kamar untuk istirahat.
Bagaimanapun juga, pernikahan ini tidak akan terjadi, jadi siapa yang Hendri ajak untuk foto prewed, bukan urusanku lagi.
Hendri melihat punggungku, merasa cemas.
Aku terlalu tenang, bahkan tidak mengajukan satu pertanyaan pun, membuat semua kata-kata yang sudah dia siapkan jadi tidak berguna.
Namun saat ini, telepon dari Chelsia masuk, dia langsung mengabaikan kebingungannya dan pergi ke balkon untuk menjawab telepon.
Ketika aku bangun, Hendri sudah bersiap-siap untuk pergi.
Dia mengenakan sepatunya sambil berkata.
"Setelah selesai foto prewed, aku dan Chelsia berencana pergi liburan beberapa hari. Dia selalu ingin ke Hokkaido, jadi aku akan menemaninya."
"Pernikahan kita nanti sederhana saja, aku tidak sempat untuk latihan dan mengatur segala sesuatu, kamu saja yang memutuskan, tidak perlu tanya aku."
Aku menelan roti panggangku sebelum menjawab: "Baik."
Sederhana saja.
Pernikahan ini tidak akan ada foto prewed, tidak ada tamu, tidak ada pembawa acara.
Bahkan tidak akan ada pengantin wanita juga.
Hendri melihat aku begitu tenang, hanya makan sarapan tanpa ekspresi, hatinya terasa aneh, setelah berpikir sejenak, dia menambahkan.
"Setelah pernikahan, kita bisa pergi bulan madu ke Eropa, aku ingat kamu selalu ingin ke sana."
Jika sebelumnya aku mendengar Hendri mengusulkan bulan madu, pasti aku akan langsung bersemangat mencari informasi dan merencanakan segalanya.
Karena sebelumnya, saat aku mengajak Hendri untuk liburan, dia selalu menolaknya, mengatakan dia tidak suka dan merasa perjalanan itu melelahkan.
Namun sekarang, aku hanya fokus makan roti dan tidak meresponsnya.
Pernikahan saja tidak ada, bagaimana bisa ada bulan madu?
Hendri tampak terkejut dan memandangku, ingin mengatakan sesuatu lagi, namun ketika matanya melihat jam di dinding, dia buru-buru pergi dan hanya meninggalkan kalimat, "Nanti kita bicarakan lagi setelah aku kembali."
Aku mengambil kalender di atas meja, dan dengan spidol merah besar, aku menandai silang pada kata-kata "Foto Prewed".
Tinggal 12 hari lagi.
Setelah sarapan, aku mulai mengemas barang-barangku dan membersihkan segala barang yang tidak diperlukan.
Album foto yang hanya berisi lima foto, proyektor yang sudah berdebu, pakaian tidur pasangan yang belum pernah dipakai...
Kami sudah bersama selama lima tahun, setiap benda di rumah ini dipilih dengan cermat olehku, sedikit demi sedikit mengubah ruangan kosong ini menjadi rumah yang hangat.
Tapi, jika dilihat lebih seksama, banyak benda yang tidak pernah digunakan oleh Hendri.
Dia bilang, meskipun kami berpacaran, dia adalah individu yang mandiri dan tidak suka menggunakan barang-barang pasangan, karena itu membuatnya merasa selalu terikat.
Aku menarik pikiranku dan lanjut membersihkan.
Setelah aku pergi, barang-barang ini hanya akan mengganggu pandangannya, lebih baik aku bersihkan sekarang.
Semua kenangan kami, akan aku hapuskan semuanya.
Bab 5
Selama seminggu berturut-turut, Hendri tidak kembali.
Namun, aku selalu bisa mengetahui apa yang dia lakukan, karena ada Chelsia yang selalu memposting di media sosial, jadi sulit untuk tidak tahu.
Mereka berdua pergi ke pemandian air panas, melihat laut, berfoto dengan latar belakang matahari terbit...
Di media sosial, aku kembali melihat sisi Hendri yang berbeda.
Ternyata, dia juga bisa berperilaku seperti pria biasa yang sedang jatuh cinta.
Hanya saja, dia tidak bisa melakukannya di hadapanku.
Aku tidak terlalu memperhatikan ke mana mereka pergi atau apa yang mereka lakukan setiap hari. Setiap kalinya aku hanya melirik sejenak, lalu menggeserkan layar.
Beberapa hari ini, aku juga tidak diam. Rumah ini terlalu banyak barang, jadi aku membersihkan dan merapikan selama beberapa hari baru tertata rapi.
Aku juga sempat kembali ke rumah orang tuaku untuk memberi tahu Ayah dan Ibu bahwa aku akan segera ke laboratorium dan dalam jangka waktu yang lama baru bisa berhubungan dengan dunia luar.
Ayah terkejut.
"Kamu dan Hendri akan segera menikah, bukankah ini berarti kalian akan LDR?"
Ibu juga tampak khawatir, memegang tanganku dan berkata,
"Kamu pikirkan baik-baik Nandia. Kamu dan Hendri sudah susah payah sampai sejauh ini, aku takut kalau kamu pergi ke laboratorium, Hendri tidak akan setuju, lalu pernikahan kalian..."
Aku mengerti maksud orang tuaku.
Selama ini, Ayah dan Ibu sudah melihat keteguhan hatiku terhadap Hendri, dan mereka juga tahu bagaimana sikap Hendri terhadapku.
Sebelum melamar, mereka pernah menasehatiku, mereka merasa aku tidak begitu berarti bagi Hendri dan menyarankan aku untuk mempertimbangkan lebih matang lagi.
Namun saat itu, aku yakin bisa mengubah Hendri, aku pasti bisa membuatnya menerima aku sepenuhnya.
Jadi, Ayah dan Ibu akhirnya menyetujui keputusanku.
Sekarang, menjelang pernikahan, mereka khawatir jika aku pergi ke laboratorium, Hendri akan menentang, bahkan mungkin membatalkan pernikahan dan putus denganku.
Mereka takut aku akan terluka, itulah sebabnya mereka ingin aku berpikir lebih matang.
Namun kini, orang yang memutuskan untuk membatalkan pernikahan adalah aku.
Setelah aku memberitahukan orang tuaku tentang pembatalan pernikahan, mereka terdiam lama.
Tapi aku tidak memberitahukan mereka tentang Hendri sudah membuat Chelsia mengandungi anaknya. Aku khawatir mereka tidak mampu menerima ini, jadi aku hanya bilang bahwa aku ingin melanjutkan kontribusiku di bidang penelitian.
Ayah dan Ibu saling bertatapan, namun karena aku sudah membuat keputusan, mereka juga mendukungku sepenuhnya.
Akhirnya, Ayah hanya menghela nafas dan menepuk pundakku, berkata, "Asal kamu tidak menyesal, itu sudah cukup."
Setelah kembali ke rumah, aku mengundang sahabatku, Febby, untuk membantu membuang semua barang yang sudah aku bereskan, satu per satu kotak penuh menumpuk di ruang tamu, memakan banyak ruang.
Kami bolak-balik beberapa kali membawa kotak-kotak itu hingga semuanya terbuang, dan ruangan menjadi sangat kosong.
Febby melihat keadaan ini dengan perasaan campur aduk.
Dia masih ingat dua bulan yang lalu, ketika aku berhasil melamar Hendri dan kami merayakannya dengan minum sepanjang malam, aku selalu mengulang-ulang kalimat bahwa akhirnya mendapatkan apa yang diinginkan.
Namun tidak disangka, hanya dalam dua bulan, aku sudah memutuskan untuk membatalkan pernikahan ini.
"Sayang, kamu benar-benar serius? Aku kira waktu itu kamu cuma bercanda soal membatalkan pernikahan."
"Aku sudah melihat kamu mengejar Hendri selama bertahun-tahun, ceritakanlah, apa yang sebenarnya terjadi?"
Mungkin karena aku akan segera pergi, aku merasa ada keinginan untuk mencurahkan isi hati.
Aku menceritakan semua yang terjadi selama sebulan ini kepada Febby, termasuk Hendri sudah membuat Chelsia mengandungi anaknya.
Febby yang telah menjadi saksi dari semua yang terjadi antara aku dan Hendri, begitu mendengarnya, langsung mengumpat.
"Betapa baiknya kamu padanya, tapi dia malah jadi ayah untuk anak wanita lain sebelum pernikahan, dan bahkan masih mengharapkan kamu untuk setuju. Apa yang sebenarnya ada dalam pikirannya?!"
Aku hanya menggelengkan kepala, menahan rasa pahit di hatiku.
"Siapa tahu, dia bilang Chelsia adalah penyelamat hidupnya, jadi dia ingin memenuhi semua keinginan Chelsia."
Febby terlihat marah.
"Tapi kamu juga menyelamatkan hidupnya, kenapa dia bisa begitu kejam padamu?"
Aku tidak menjawab lagi.
Mungkin, dia hanya tidak mencintaiku.
Tapi tidak masalah, sebentar lagi aku akan pergi darinya.
Bab 6
Hari kelima dari hitung mundur, aku mengajukan pengunduran diri dari sekolah.
Dulu, demi bersama Hendri, aku menolak tawaran dosen untuk melanjutkan penelitian di laboratorium dan memilih untuk tinggal di Kota R dan menjadi pengajar di sekolah.
Rekan-rekan kerja terkejut saat aku mengajukan pengunduran diri.
"Kenapa kamu mengundurkan diri, Bu Nandia?"
"Beberapa hari yang lalu kamu bahkan memberi kami permen pernikahan, jadi kamu akan menjadi ibu rumah tangga? Pak Hendri benar-benar beruntung."
Beberapa rekan bercanda.
Aku tersenyum sambil membawa barang-barangku.
"Bukan, pernikahan dibatalkan."
Begitu aku membuka pintu rumah, aku melihat Hendri dan Chelsia duduk di sofa setelah satu minggu tidak bertemu.
Hendri melihat barang-barang yang aku bawa dan bertanya,
"Kamu bawa barang-barang itu untuk apa?"
Aku segera mencari alasan.
"Ini barang-barang yang tidak terpakai, jadi aku bawa pulang."
Hendri mengangguk dan memandang sekeliling ruangan dengan sedikit kebingungan.
"Aku baru saja seminggu tidak pulang, kenapa rasanya banyak barang yang hilang?"
Aku meletakkan kotak di kamar tidur dan menjawab dengan tenang,
"Aku hanya membersihkan beberapa barang yang tidak diperlukan lagi."
Hendri tampak ingin mengatakan sesuatu, tapi Chelsia langsung memotongnya.
"Kak Nandia, terima kasih beberapa hari ini kasih Bang Hendri menemani aku liburan, terima kasih juga sudah mengizinkan Bang Hendri untuk foto prewed denganku, mengabulkan impianku."
"Begini saja, aku traktir kalian makan sebagai tanda terima kasih telah menjagaku, kedepannya mungkin akan merepotkan kalian lebih lama, semoga Kak Nandia tidak keberatan."
Aku melihat pandangan penuh kebanggaan dari Chelsia, dan dia menebak bahwa aku tidak akan menerimanya.
Sejak aku menerima surat pemeriksaan kehamilan itu, aku tidak pernah menunjukkan reaksi apapun, bahkan tidak pernah menanyakan Hendri satu kata pun.
Namun sekarang, aku tidak ingin terjebak dalam perdebatan yang tidak ada gunanya. Lima hari lagi, aku tidak akan muncul lagi di hadapan Hendri. Saat ini, aku hanya ingin menyelesaikan semua urusan di sini dan kemudian pergi.
Melihat aku diam, mata Chelsia langsung berkaca-kaca.
"Bang Hendri, apakah Kak Nandia marah? Karena kalian akan menikah, tapi..."
Begitu mendengar kata-kata Chelsia, Hendri langsung mengerutkan dahi, dengan nada tidak senang menyalahkanku.
"Chelsia tulus ingin berterima kasih pada kita, kenapa kamu harus menunjukkan wajah cemberut seperti ini? Hanya makan bersama, bukan meracunimu, kamu harus pergi!"
Aku belum sempat mengatakan apa-apa, Hendri sudah menetapkan aku sebagai orang yang bersalah.
Akhirnya, aku tetap dibawa juga.
Sesampainya di restoran, pelayan datang untuk menanyakan menu yang ingin kami pesan.
Saat aku baru membuka menu, Hendri langsung berkata,
"Jangan terlalu berminyak dan pedas, dan jangan ada ketumbar di semua makanan."
Setelah makanan datang, Hendri dengan perhatian memberi makanan ke piring Chelsia.
Kemudian dia mendorong sebuah piring udang besar ke arahku.
"Chelsia tidak boleh makan makanan laut, jadi ini untukmu."
Melihat piring udang itu, aku langsung kehilangan selera makan dan meletakkan sendok.
"Aku alergi sama makanan laut."
Betapa lucunya.
Selama lima tahun pacaran, Hendri tidak tahu bahwa aku alergi makanan laut, tapi dia tahu apa yang tidak bisa dimakan Chelsia. Bahkan detail kecil seperti tidak memakan ketumbar pun dia ingat.
Hendri tampak kebingungan sejenak.
Saat dia menatapku lagi, matanya menunjukkan sedikit rasa bersalah, lalu dia menambahkan beberapa hidangan lagi.
Namun, aku tidak menyentuh makanan apapun, hanya diam-diam meminum air.
Setelah selesai, saat turun dari tangga, aku menerima telepon dari kakak senior.
"Nandia, dosen ingin memastikan lagi apakah kamu akan melanjutkan eksperimen sesuai jadwal normal? Eksperimen pertama di laboratorium ini melibatkan proyek rahasia, dan mungkin kamu tidak akan bisa berhubungan dengan dunia luar selama satu atau dua tahun."
Aku melihat Hendri dan Chelsia yang berjalan berdampingan di depanku.
Saat turun tangga, Hendri dengan hati-hati merangkul pinggang Chelsia.
Suaraku sangat tenang saat menjawab.
"Iya pasti."
Setelah mendapatkan jawaban yang pasti, kakak senior merasa lega.
"Syukurlah, dosen takut kamu tidak bisa meninggalkan suamimu."
Aku menarik kembali pandanganku dan berbalik menuju arah lain.
"Pernikahan sudah dibatalkan."
"Aku sudah siap untuk pergi."
Begitu aku selesai berkata, aku mendengar suara kebingungan di belakangku.
"Siapa yang mau pergi?"
Bab 7
Hendri baru saja mengantar Chelsia ke mobil dan mendengar beberapa kata terakhir.
Aku sadar dia tidak mendengar kata-kata sebelumnya, jadi aku mencari alasan lainnya.
"Temanku akan pergi dalam waktu dekat ini."
Hendri mengangguk dan tidak bertanya lebih lanjut.
Pada hari keempat terakhir, Hendri membawa pulang foto prewed dia dan Chelsia.
Satu tangannya memegang HP sambil video call dengan Chelsia, dan satunya lagi memegang bingkai foto mengarahkan ke aku, ekspresinya penuh kelembutan.
"Chelsia, foto prewed kita sudah jadi, waktu aku ambil, stafnya bilang hasil foto kita sangat bagus."
Saat dia mengatakan itu, aku kebetulan keluar untuk mengambil air.
Hendri terlihat canggung sejenak, dia menatapku dan ingin mengatakan sesuatu.
Aku melirik foto itu sejenak dan memberikan komentar dengan serius: "Memang terlihat bagus."
Aku dulu membayar mahal untuk menyewa fotografer ini karena ingin mengambil momen kami yang paling penuh cinta.
Aku berpikir, saat melihat hasil fotonya nanti, aku pasti akan merasakan kebahagiaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.
Hendri yang mengenakan jas memang tampak tampan seperti yang aku bayangkan.
Yang berbeda hanyalah, pengantin di sampingnya bukan aku.
Namun, hatiku tidak lagi tergoyah sedikit pun.
Sejak mengetahui Chelsia hamil, perasaanku terhadap Hendri sudah aku simpan kembali semua.
Hendri malah terdiam.
Dia tiba-tiba menyadari bahwa sudah lama sekali aku tidak mengajak dia berbicara dengan baik, bahkan selama seminggu dia dan Chelsia pergi berlibur, aku tidak mengirim satu pesan pun.
Itu membuatnya sedikit tidak terbiasa.
Dalam video, Chelsia masih terus bicara tanpa henti, Hendri menggelengkan kepala dan menekan rasa tidak nyaman itu, berusaha menganggap aku hanya kelelahan mempersiapkan pernikahan.
Pada hari kedua terakhir, aku berencana pergi ke rumah sakit untuk mengambil obat cadangan.
Tidak kusangka bisa bertemu dengan Hendri dan Chelsia yang baru saja keluar dari pemeriksaan USG kehamilan.
Matanya Hendri menunjukkan sedikit kepanikan yang jarang terlihat, baru ingin membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, Chelsia sudah mendahuluinya.
Dia berjalan menuju ke aku, menggenggam tanganku dan ingin berlutut, dengan suara tercekat.
"Kak Nandia, aku tahu kamu belum setuju Bang Hendri dan aku punya anak, tapi aku sudah tidak bisa menunggu lagi, dokter bilang aku hanya punya waktu satu tahun lagi, aku benar-benar ingin melihat anak ini lahir."
"Setelah anak lahir, aku akan segera menjauh dari Bang Hendri, aku tidak akan pernah mengganggu hubungan kalian."
Aku belum sempat berbicara, Hendri sudah dengan penuh perhatian menariknya berdiri.
"Kamu sakit, bagaimana bisa seperti ini."
Lalu menatapku.
"Karena kamu sudah tahu, maka aku tidak akan menyembunyikan lagi."
"Tenang saja, masalah ini tidak akan mempengaruhi pernikahan kita."
Jika ini terjadi sebulan yang lalu, aku mungkin akan marah, runtuh, putus asa, dan meragukan diriku sendiri.
Merasa apakah aku tidak cukup baik sehingga Hendri dengan senang hati memiliki anak dengan wanita lain.
Namun, setelah melewati waktu ini, aku akhirnya paham.
Bukan karena aku tidak cukup baik, tapi karena Hendri tidak mencintaiku.
Karena tidak mencintaiku, dia bisa bertindak seperti ini tanpa memikirkan perasaanku.
Sekarang, aku sudah tahu bahwa Chelsia hamil, dan aku telah melepaskan semua perasaanku terhadap Hendri, jadi mereka tidak perlu lagi menunjukkan seolah-olah aku akan merusak hubungan mereka.
Aku hanya menatap mereka sejenak, kemudian mengalihkan pandangan.
“Aku sudah tahu.”
Setelah itu, aku membawa obat dan bersiap untuk pergi. Hari keberangkatan sudah dekat, dan aku masih perlu merapikan barang-barangku.
Kedua orang itu jelas terkejut melihat aku begitu tenang.
Terutama Hendri, dengan ekspresi yang rumit melihat punggungku yang sedang pergi.
Dulu, aku marah tentang inseminasi buatan selama sebulan, tetapi sekarang, ketika mendengar kabar kehamilan ini, aku malah tidak bereaksi apa-apa.
Entah mengapa, Hendri merasa sedikit tidak tenang, seolah-olah ada sesuatu yang berubah diam-diam tanpa dia ketahui.
Saat aku hampir mencapai tangga, Chelsia mendekat dan menarik lengan bajuku.
Hendri masih jauh di belakang, dan Chelsia mulai menunjukkan wajah aslinya.
"Nandia, bagaimana rasanya melihat tunanganmu memiliki anak dengan wanita lain?"
Aku tidak ingin terlibat dalam perdebatan yang tidak berguna, jadi aku melepaskan tangannya dan mau pergi.
Namun, saat aku menarik tanganku, tubuh Chelsia terhuyung ke bawah.
Aku secara refleks menarik tangannya untuk menghindari dia jatuh.
Namun, belum sempat aku melepaskan tangannya, aku mendengar suara marah dari belakang.
"Apa yang kamu lakukan!"
Hendri yang tadinya bingung mengapa aku bisa begitu tenang, kini langsung paham, ternyata aku hanya berpura-pura tenang, sebenarnya masih belum bisa menerima hal ini.
Melihat Hendri datang, Chelsia segera menunjukkan ekspresi sedih, dengan mata merah memegang perutnya.
"Bang Hendri, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih pada Kak Nandia yang begitu besar hati, tapi aku tidak menyangka dia malah..."
Mendengar kata-kata Chelsia, wajah Hendri langsung berubah menjadi serius.
"Nandia, aku tidak menyangka kamu adalah orang seperti ini!"
"Segera minta maaf pada Chelsia!"
Bab 8
Mendengar tuduhan membabi butanya, aku tidak bisa menahan dan ketawa kesal.
"Minta maaf? Coba kamu periksa rekaman CCTV, lihat apakah aku perlu minta maaf!"
Aku tidak menyangka Hendri bahkan tidak memeriksa rekaman, langsung yakin akulah yang mendorong Chelsia.
"Chelsia itu seorang pasien, dan juga sedang hamil, mana mungkin dia sengaja menyakiti dirinya sendiri?"
Sekilas kepanikan muncul di mata Chelsia.
"Sudahlah Hendri, wajar kalau Kak Nandia marah dan bersikap seperti ini padaku, ayo kita pergi."
Tapi Hendri tetap bersikeras.
"Tidak! Dia harus minta maaf padamu hari ini juga!"
Aku pun tidak mengalah.
Sesuatu yang tidak kulakukan, tidak akan kuakui.
Chelsia mulai khawatir kalau terus begini Hendri benar-benar akan memeriksa CCTV dan kebenarannya akan terbongkar, lalu dia memegangi perutnya dan mengeluh tidak enak badan.
Wajah Hendri yang semula marah langsung berubah jadi panik, dia segera menggendong Chelsia pergi mencari dokter.
Aku menatap punggung mereka yang menjauh, rasa pahit mengalir dalam hati.
Dua puluh tahun kebersamaan, lima tahun hidup berdampingan, dan aku tetap tidak mendapat sedikit pun kepercayaan dari Hendri.
Syukurlah, sekarang aku sudah sadar, dan masih sempat untuk pergi.
Hari ini Hendri tidak pulang.
Mungkin dia sibuk merawat Chelsia yang tidak enak badan.
Hari terakhir sebelum pergi, aku mengirim semua barangku ke laboratorium, hanya menyisakan satu koper.
Malamnya, Hendri kembali.
Wajahnya masih penuh amarah.
"Chelsia masih di rumah sakit. Dia sakit dan kondisi anaknya tidak stabil, walaupun kamu tidak sengaja, tidak bisakah kamu lebih besar hati dan mengalah? Harus seperhitungan itu?"
Besar hati?
Menurutku aku sudah sangat besar hati.
Aku sudah menyerahkan gaun pengantin dan fotografer yang seharusnya milikku ke dia. Aku sudah merelakan laki-laki yang harusnya jadi suamiku untuk punya anak dengan dia.
Dan sekarang, aku juga akan menyerahkan posisiku ke dia.
Hendri melirik kalender dan melihat lingkaran merah besar tersebut, ekspresinya mulai lembut.
"Sudahlah. Besok kita akan menikah, aku tidak mau bertengkar lagi."
"Nanti setelah upacara, kamu minta maaf ke Chelsia ya, setelah itu kita pergi bulan madu."
"Kamu sudah atur bulan madunya belum?"
Aku tidak menjawab.
Kalau dia lebih perhatian, dia pasti sadar tidak ada satu pun dekorasi pernikahan di rumah ini.
"Kita…"
Belum sempat aku berkata, teleponnya berbunyi.
Itu dari Chelsia, wajahnya langsung tegang.
"Tunggu sebentar, aku segera ke sana."
Setelah menutup telepon, dia langsung berdiri dan bergegas menuju pintu.
"Chelsia tidak enak badan, aku ke sana sebentar, nanti aku balik sebelum upacara, besok pagi kamu tunggu aku di hotel."
Begitu pintu tertutup, akhirnya aku mengucapkan kalimat itu.
"Hendri, kita putus, pernikahannya sudah dibatalkan."
Suaraku lenyap di dalam rumah yang kosong.
Hanya suara jam di dinding yang terdengar.
Aku duduk di ruang tamu dari malam sampai pagi, menatap langit yang perlahan menjadi terang.
HP ku bergetar.
Waktu keberangkatan tinggal dua jam lagi.
Aku bangun masuk ke kamar, mengambil koper yang sudah kusiapkan, dan mengeluarkan spidol. Di kalender, aku menyilang besar-besaran angka sepuluh yang dilingkari itu.
Lalu aku menulis satu kalimat.
"Hendri, kita putus."
Aku letakkan kalender itu di tempat paling mencolok dan menarik koper, melihat sekali lagi rumah yang sudah kutinggali lima tahun, lalu keluar untuk pergi ke bandara.
Selamat tinggal, Hendri.