Đang tải thông tin quảng bá...
Pernah Sakit, Juga Melupakanmu
Setelah mendengar kabar Ricky Mandos mengalami kecelakaan parah saat balapan liar dan kehilangan banyak darah, Amanda Hilman segera bergegas ke rumah sakit dan mendonorkan darah sebanyak 1000 cc untuk...
Chương (1)
第1章
Setelah mendengar kabar Ricky Mandos mengalami kecelakaan parah saat balapan liar dan kehilangan banyak darah, Amanda Hilman segera bergegas ke rumah sakit dan mendonorkan darah sebanyak 1000 cc untuknya.
Semua saudaranya menasihatinya pulang dan segera beristirahat, jadi Amanda terpaksa menyetujuinya. Tapi baru saja sampai di pintu, dia kembali lagi karena terlalu khawatir. Begitu berbalik, dia langsung melihat perawat menuangkan kelima kantong darah yang baru saja diambil darinya ke dalam tempat sampah!
Tak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara tawa mengejek kencang dari salah satu kamar pasien di sebelah.
"Haha, si bodoh Amanda tertipu lagi oleh kita!"
Bab 1
Amanda tertegun dan menoleh ke arah pintu kamar yang sedikit terbuka dan seketika melihat sosok pria berpakaian pasien di tengah kerumunan.
Ricky bersandar santai di kepala ranjang, menunduk sambil bermain ponsel, sebagian wajahnya tertutup oleh seseorang, tapi hidungnya yang mancung dan tulang alis yang dalam tetap terlihat jelas ....
Sama sekali tidak tampak seperti orang yang terluka parah!
Amanda mengedipkan mata, mengira semua ini cuma halusinasi karena dirinya terlalu terpukul.
"Saudara-saudara, coba kita hitung, ini sudah keberapa kalinya kita membalas dendam?"
"Pertama, kita bohongi dia kalau kalung yang akan diberikan Kak Ricky padanya hilang. Akhirnya, dia berlari ke tengah salju dan mencari semalaman, demam tinggi sampai 40 derajat tapi tetap tidak mau istirahat."
"Kedua, kita bohong kalau Kak Ricky koma dan dia berlutut menaiki 999 anak tangga semalaman hanya demi mendapatkan jimat keselamatan. Tapi jimat itu sudah lama dibuang Kak Ricky ke seekor anjing."
"Ketiga, kita memfitnah dia curang sampai kelulusannya dibatalkan. Cara dia mati-matian membuktikan dirinya waktu itu, sampai sekarang masih membuatku ingin tertawa."
"Kali ini kita bohongi dia untuk mendonorkan lima kantong darah, ini sudah yang ke-96 kali, bukan? Tinggal tiga kali lagi, permainan balas dendam kita bisa selesai. Sungguh tidak mudah, Kak Ricky sudah menderita selama beberapa tahun"
"Apa boleh buat, siapa suruh dia tidak tahu diri, merebut gelar juara dansa dari Luna sampai membuat Luna menangis semalaman. Luna adalah wanita idaman Kak Ricky, satu-satunya yang dia simpan di hati. Dia bahkan berani membuatnya menangis, mana mungkin Kak Ricky akan melepaskannya? Makanya memutuskan pacaran dengan Amanda, untuk membalasnya 99 kali. Sayang sekali, setelah semuanya selesai, Kak Ricky akan meninggalkannya dan kita akan kehilangan permainan seru."
…
Telinga Amanda berdengung, seolah ada petir yang meledak di atas kepalanya.
Hatinya seperti disayat dan dia menekan dadanya dengan kuat sambil membungkuk dan bernapas terengah-engah, nyaris tidak bisa bernapas karena sakitnya.
Dia benar-benar tidak bisa percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Dia lebih tidak percaya lagi kalau Ricky pacaran dengannya hanya untuk balas dendam!
Padahal Ricky tahu betul seberapa besar perasaan dirinya padanya ….
Ricky, pria idaman Kota Junowa, cerdas, latar belakang yang bagus, dan tampan. Waktu itu bahkan ada yang bilang, semua gadis yang pernah bertemu dengannya akan menyukainya.
Dirinya cuma satu dari sekian banyak gadis yang jatuh hati padanya.
Dia membuang semua harga dirinya dan mengejar Ricky selama tiga tahun, tapi Ricky tetap dingin. Sampai suatu hari, dia akhirnya menerima cintanya.
Amanda sempat mengira keinginannya sudah terwujud, tapi ternyata, semua itu cuma bagian dari rencana balas dendam yang kejam.
Ternyata alasan Ricky menolaknya dulu, karena sudah ada orang lain di hatinya.
Lalu alasan dia menerimanya, cuma karena Amanda merebut gelar juara dari Luna Monopo sehingga membuatnya menangis.
Demi balas dendam, Ricky baru bersedia bersamanya. Lalu memakai 99 kebohongan untuk mendorongnya ke dalam jurang.
Air mata Amanda tidak bisa dibendung lagi. Tenggorokannya seperti tersumbat, bahkan bernapas pun jadi susah.
Dia melihat orang-orang yang tertawa kencang di kamar pasien, melihat wajah Ricky yang dingin dan tiba-tiba merasa dirinya seperti lelucon.
Dia memberikan hatinya dengan tulus, tapi dia menghancurkannya tanpa ampun, membuangnya ke tong sampah.
Pada saat ini, orang-orang di kamar pasien seperti menyadari sesuatu dan menoleh ke arah pintu.
Amanda buru-buru berbalik dan segera pergi.
Langkahnya makin lama makin cepat dan akhirnya hampir berlari.
Dia tidak tahu harus ke mana, hanya ingin pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Menjauh dari Ricky, melarikan diri dari mimpi buruk yang menyakitkan ini.
Sampai akhirnya dia tidak sanggup berlari lagi, barulah dia berjongkok dan air matanya jatuh seperti bendungan jebol.
Dia menutup wajahnya, suara tangis tertahan keluar dari tenggorokannya, seolah ingin mengeluarkan semua rasa sakit dan kesedihannya.
Betapa bodohnya dirimu, Amanda, benar-benar bodoh.
Entah setelah berapa lama, ponsel di pelukannya tiba-tiba berdering.
Dengan tangan gemetar, dia menjawab panggilan itu. Suara lembut ibunya terdengar dari seberang sana.
"Amanda, aku dan ayahmu sebentar lagi akan pindah ke luar negeri. Kamu yakin tidak mau ikut?"
Beberapa waktu lalu, orang tuanya memang mendapat penempatan kerja di luar negeri. Awalnya mereka ingin pindah sekeluarga, tapi Amanda enggan meninggalkan Ricky. Jadi, terus ditunda. Dia bahkan sempat berpikir akan tetap tinggal di ibu kota demi Ricky.
Namun sekarang, dia merasa sangat ironis.
"Tidak."
Dia menghapus semua air mata di pipinya dan menarik napas dalam-dalam. Suaranya serak, tapi tegas, "Ayah, Ibu, aku akan pergi bersama kalian."
Bab 2
Terdengar suara ibu Amanda yang girang di telinga, "Bagus sekali, Amanda. Kalau begitu, kita akan pergi mengurus dokumennya. Setelah itu, tidak boleh menyesal lagi."
Dia menggenggam ponselnya erat, ujung jarinya sedikit gemetar, tapi dia tetap menjawab dengan mantap, "Aku tidak akan menyesal."
Ibu Amanda hendak menutup telepon, tapi seolah teringat sesuatu, lalu bertanya dengan hati-hati, "Oh iya, bagaimana dengan pacarmu itu? Bukankah kamu mengejarnya lama sekali dan sangat menyukainya?"
Kata pacar seperti duri tajam yang menusuk hatinya.
Di benak Amanda, seketika terlintas suara tawa yang menyakitkan di ruang rumah sakit, Ricky yang bersandar santai di ranjang sambil bermain ponsel, tawa mengejek dari orang-orang di sekitarnya dan teringat betapa kejamnya dia yang demi Luna, rela menghabiskan waktu tiga tahun hanya untuk membalas dendam.
Jantungnya terasa mengerut, seolah ada tangan tak terlihat yang menggenggamnya dengan kuat, membuatnya tidak bisa bernapas karena sakit.
"Sudah tidak suka lagi. Aku tidak akan suka dia lagi untuk selamanya." Dia mendengar suaranya sendiri, serak namun tenang.
Setelah menutup telepon, Amanda berdiri di pinggir jalan, membiarkan angin dingin mengacak rambutnya. Dia mendongak menatap langit yang kelabu, menghela napas dalam-dalam, lalu berbalik dan melangkah ke arah yang dia sebut rumah.
Begitu membuka pintu, aroma yang familier langsung menyambutnya.
Amanda berdiri di ambang pintu, memandangi tatanan ruang tamu yang begitu dikenalnya dan hatinya terasa linglung.
Ini rumah Ricky, rumah yang kuncinya dia berikan setelah menerima pernyataan cinta Amanda.
Hari itu, Ricky bersandar di pintu dan berkata dengan santai, "Ayo tinggal bersama."
Waktu itu, dia malu-malu tapi sangat bahagia dan berpikir itu awal kisah cinta mereka.
Dia bahkan diam-diam membayangkan, suatu hari nanti mereka akan menikah, punya anak, dan menjalani hidup bersama di rumah ini.
Namun sekarang, semua itu hanya terasa seperti sebuah lelucon.
Tinggal bersama? Itu semua agar dia bisa lebih mudah membalas dendam.
Amanda tidak tahu seberapa dalam cinta Ricky pada Luna, sampai dia rela menghabiskan tiga tahun bersamanya dan tinggal serumah, bahkan … tidur dengannya berkali-kali.
Semua itu hanya agar Amanda percaya kalau dia benar-benar mencintainya.
Selama tiga hari berikutnya, Amanda tidak sekalipun mengunjungi Ricky di rumah sakit.
Dia mengurung diri di rumah, mulai merapikan semua barang yang berkaitan dengan Ricky.
Dia mengambil buku hariannya yang ditulis saat dia diam-diam menyukai Ricky, sebuah buku tebal, setiap halamannya penuh dengan isi hatinya.
"Hari ini aku bertemu dia lagi di perpustakaan. Dia memakai kemeja putih, sangat tampan."
"Hari ini dia bicara denganku, walaupun hanya minta tolong ambil barang dengan sopan, tapi aku tetap senang seharian."
"Dia setuju bersama denganku. Apakah aku sedang mimpi?"
Amanda membalik halaman demi halaman, air mata jatuh tanpa suara.
Dia melempar buku harian itu ke dalam kantong sampah, seolah perlahan-lahan melepaskan perasaannya pada Ricky.
Lalu, semua hadiah yang pernah dia berikan pada Ricky.
Sebuah kalung, sebuah jam tangan, sebuah jaket … semuanya penuh dengan kebahagiaan dan harapan yang pernah dia miliki.
Terakhir, foto-foto Ricky yang dia ambil diam-diam.
Di atas panggung saat berpidato, sedang main basket, bersandar di lorong sambil mengobrol, setiap foto pernah membuat hatinya berdebar.
Dia melempar semua itu ke tempat sampah, seolah sedang mengucapkan selamat tinggal pada dirinya yang dulu.
Sore hari ketiga, Amanda akhirnya selesai membereskan barang terakhir.
Dia berdiri di tengah ruang tamu, memandangi rumah yang kini kosong dan merasa lega seperti baru terbebas.
Saat itulah, Ricky mendorong pintu dan masuk ke dalam.
Pandangan matanya menyapu ruangan yang tampak lebih kosong dan keningnya berkerut, "Kamu buang apa?"
Amanda mengangkat kepala dan menatapnya dengan tenang, "Tidak, hanya barang-barang yang tidak penting."
Ricky melangkah mendekat, nada suaranya terdengar sedikit tidak senang, "Aku terluka parah, kenapa kamu tidak datang menjengukku sama sekali?"
Amanda tersenyum tipis, nadanya dingin, "Bukannya kamu sudah keluar rumah sakit? Kalau luka parah, bisa secepat itu pulang?"
Ricky terdiam sejenak, lalu buru-buru menjelaskan, "Aku dengar kamu mendonorkan banyak darah untukku, aku khawatir, jadi pulang melihatmu."
Setelah selesai bicara, matanya tertuju pada lengan Amanda, nadanya terdengar lembut, "Sakit tidak?"
Amanda menarik tangan dan menjawab dengan datar, "Tidak."
Ricky menyadari sikap dinginnya, wajahnya makin tegang, "Sebenarnya ada apa? Aku baru dirawat sebentar, tapi kamu sudah berubah?"
Amanda tersenyum datar, "Apa yang berubah?"
Ricky tidak menjawab, tapi mereka berdua tahu betul.
Dulu, Amanda menatapnya dengan penuh cinta. Meski Ricky hanya flu ringan, dia akan sangat panik dan sangat ingin terus berada di sampingnya.
Namun sekarang, Ricky dirawat tiga hari, dia bahkan tidak meneleponnya sekalipun.
Ricky menatap wajahnya sejenak, seperti mencoba membaca pikirannya.
Lalu tiba-tiba dia bicara, suaranya pelan dan lembut, "Apakah kamu kelelahan belakangan ini? Mereka mengadakan pesta penyambutan untukku. Pergi bersamaku, ya?"
Bab 3
Amanda belum sempat menolak, Ricky sudah menarik tangannya dan membawanya masuk ke mobil.
Mobil berhenti di depan sebuah klub mewah. Setelah turun, Ricky berjalan mengitari mobil untuk membukakan pintu bagi Amanda.
Amanda menatapnya sejenak, tidak berkata apa-apa, hanya diam dan turun dari mobil.
Begitu masuk ke dalam klub, mata Amanda langsung tertuju pada satu sosok yang sangat dikenalnya.
Luna.
Dia mengenakan gaun putih, rambut panjang terurai, tersenyum lembut, berdiri di tengah kerumunan, tertawa dan mengobrol santai dengan beberapa temannya.
Luna adalah teman masa kecil Ricky. Meski mereka tumbuh besar bersama, selama bertahun-tahun menjalin hubungan, Amanda tidak pernah merasa mereka memiliki kedekatan apa pun.
Jadi dia sama sekali tidak pernah membayangkan kalau ternyata Ricky menyukai Luna.
Ketika Luna melihat mereka datang sambil bergandengan tangan, sorot matanya yang mengandung senyum ambigu seolah mengatakan, dia tahu tentang 99 kali balas dendam itu.
Amanda tiba-tiba merasa sulit bernapas.
Ricky tampaknya juga menyadari keberadaan Luna. Jari-jarinya menegang sesaat, lalu perlahan melepaskan genggamannya dari tangan Amanda.
Dia memiringkan tubuhnya dan berbisik pada Amanda, "Aku keluar sebentar untuk telepon. Kamu nikmati saja acaranya dulu, nanti aku kembali."
Amanda hanya berdiri di tempat, memandangi punggung Ricky yang menjauh dan dingin menjalar di dadanya.
Sebelum dia sempat mengatakan apa pun, Luna sudah melangkah anggun, mengikuti jejak Ricky dari belakang.
Dua bayangan itu, satu di depan dan satu di belakang, menghilang di tikungan lorong klub.
Amanda tidak sempat memikirkan apa yang mereka lakukan di luar, karena tidak lama kemudian, dia dikerumuni oleh beberapa teman Ricky.
"Kakak Ipar, mari minum!" seru mereka sambil menyodorkan segelas minuman padanya dengan senyum lebar.
Amanda menggeleng, "Aku tidak bisa minum."
"Jangan bikin suasana jadi canggung, cuma satu gelas, tidak apa-apa!" Tanpa memberinya kesempatan menolak, mereka menyelipkan gelas itu ke tangannya, lalu mendorongnya ke depan.
Amanda mencoba melepaskan diri dan menjauh, tapi salah satu dari mereka tiba-tiba mendorongnya cukup keras.
"Ah!"
Amanda berteriak, kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke kolam renang di sebelahnya.
Air yang dingin menenggelamkan tubuhnya.
Dia tidak bisa berenang. Tangan dan kakinya bergerak panik, namun semakin tenggelam.
Air masuk ke hidung dan mulutnya, membuatnya tersedak dan hampir tidak bisa bernapas.
Kesadarannya mulai memudar, pandangannya menggelap dan akhirnya pingsan.
…
Saat Amanda membuka mata lagi, dia mendapati dirinya terbaring di kamar yang familier. Kepalanya terasa berat, tubuhnya panas seperti terbakar.
Dengan susah payah, dia membuka mata dan melihat Ricky duduk di tepi ranjang, membawa segelas air dan beberapa butir obat.
"Kamu demam, minum obat dulu." Suara Ricky terdengar dalam dan penuh perhatian.
Amanda yang masih setengah sadar, mengambil obat itu dan menelannya.
Sebelum sempat berpikir banyak, dia merasa tenggorokannya kering dan tubuhnya seperti kehilangan seluruh energi.
Dia memejamkan mata, berniat tidur lagi, tapi suhu tubuhnya justru makin tinggi, seperti ada yang menyala dari dalam.
Entah berapa lama waktu berlalu, akhirnya dia terbangun lagi dan menyadari Ricky sudah tidak ada di kamar.
Dengan sekuat tenaga, Amanda duduk dan meraba dahinya, tubuhnya sangat panasnya.
Dia tahu, dia tidak bisa menunda lagi dan harus ke rumah sakit.Dengan tubuh lemas dan berat, Amanda memaksakan diri pergi ke rumah sakit.
Setelah diberi infus, demamnya baru sedikit mereda.
Setelah memeriksa kondisinya, dokter pun berkata dengan ekspresi serius, "Untung kamu datang lebih cepat. Kalau terlambat sedikit lagi, bisa jadi kamu terkena pneumonia."
Amanda bersandar lemah di ranjang, suaranya serak, "Dokter, aku sudah minum obat. Kenapa malah semakin parah?"
Dokter tampak terkejut, lalu bertanya, "Obat apa yang kamu minum?"
Amanda mengeluarkan botol kecil dari sakunya dan menyerahkannya pada dokter, "Obat anti radang dari pacarku."
Dokter membuka botol itu dan wajahnya langsung berubah serius, "Ini bukan obat anti radang. Botolnya memang botol obat anti radang, tapi isinya cuma permen, tidak punya efek apa-apa. Justru bisa membahayakan karena bikin kamu terlambat ditangani."
Jantung Amanda bergetar, ujung jari-jarinya mulai gemetar.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar hebat.
Dengan sisa tenaga, dia mengangkat dan melihat layar.
Serangkaian pesan masuk dari teman-teman Ricky.
[Hahaha, balas dendam ke-97 berhasil!]
[Ide dari siapa itu, benar-benar jenius banget. Pertama, kita tidak sengaja mendorongnya ke kolam, terus Kak Ricky mengganti obatnya. Sekarang dia pasti sangat menderita.]
Lalu satu pesan panik menyusul.
[Sial! Kamu salah kirim grup! Amanda juga ada di grup ini!]
Bab 4
Beberapa detik kemudian, semua pesan itu langsung ditarik kembali, seperti tidak pernah ada.
Tangan Amanda gemetar hebat memegang ponselnya, dadanya terasa dingin membuat napasnya pun terasa menyakitkan.
Ternyata, jatuh ke air, demam, hingga obat yang aia minum, semua sudah dirancang oleh mereka.
Ternyata, obat yang diminumkan Ricky hanya agar penderitaannya semakin parah.
Tak lama kemudian, Ricky menelepon.
"Kamu ke mana? Kenapa tidak ada di rumah?" Suara Ricky dalam dan terdengar agak cemas.
Amanda menarik napas panjang, berusaha agar suaranya terdengar tenang, "Aku demam parah, jadi ke rumah sakit."
Sejenak, Ricky terdiam. Lalu dia berkata, "Aku segera ke sana."
"Tidak usah, habis infus, aku akan menginap semalam dan sudah bisa pulang. Kamu kelihatan sibuk belakangan ini, lanjutkan saja pekerjaanmu." Amanda menyelanya.
Ricky kembali diam selama beberapa detik. Lalu bertanya, "Kamu sudah melihat ponselmu?"
Jadi, dia menelepon karena takut Amanda melihat pesan-pesan itu.
Amanda berbohong, "Belum, kata dokter aku hampir mati tadi, mana sempat buka ponsel."
Telepon kembali hening. Kali ini, suara Ricky terdengar menyimpan emosi yang tak jelas, "Selama aku ada, kamu tidak akan ada masalah."
Amanda menggenggam ponsel erat-erat, dadanya terasa kosong.
Ada dia di sana? Tapi bukankah semua rasa sakit ini datang darinya?
Amanda sudah keluar dari rumah sakit.
Namun baru saja melangkah keluar dan hendak memesan taksi, tiba-tiba sekelompok orang muncul dari belakang, tanpa sepatah kata langsung menutup mulut dan hidungnya.
Belum sempat dia melawan, kesadarannya sudah menghilang.
Begitu terbangun, Amanda mendapati dirinya terbaring di sebuah kamar hotel yang gelap. Tangan dan kakinya diikat, sementara beberapa preman berdiri mengelilinginya dengan senyum menjijikkan di wajah mereka.
"Sudah bangun? Jangan takut, kami akan menyayangimu." Salah satu dari mereka sambil preman menjulurkan tangan hendak merobek pakaiannya.
"Kalian siapa? Lepaskan! Lepaskan aku!"
Amanda meronta sekuat tenaga, tapi tubuhnya yang lemah jelas bukan tandingan mereka.
Dia melempar apa saja, menendang, berteriak sekeras-kerasnya, namun tidak ada yang menjawabnya.
Saat pakaian di tubuhnya nyaris terkoyak habis, dia merasa benar-benar putus asa. Air mata pun jatuh tanpa bisa dikendalikan.
Namun tepat saat ini, pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan tendangan keras.
"Semuanya keluar dari sini!" Suara Ricky bergema seperti datang dari neraka, penuh dengan amarah yang membuncah.
Beberapa preman itu ketakutan, buru-buru kabur dengan panik.
Amanda meringkuk di atas ranjang, tubuhnya gemetar hebat.
Dia mendongak memandang Ricky, untuk pertama kalinya melihat kepanikan dan kegugupan di wajah pria itu.
"Amanda …." Ricky cepat-cepat melangkah ke arahnya, tangan bergetar dan mencoba memeluknya.
Namun Amanda menyusut ke belakang seperti kelinci yang ketakutan, sorot matanya penuh ketakutan.
Tangan Ricky terhenti di udara, matanya menunjukkan secercah kesedihan.
Amanda ingin bicara, tapi matanya kembali menggelap dan pingsan lagi.
Entah sudah berapa lama, Amanda perlahan sadar kembali.
Dia mendengar suara orang berbicara di dalam kamar rumah sakit. Suara itu ditekan rendah, tapi nada marahnya tetap terdengar jelas.
"Kenapa rencana balas dendam kali ini tidak dibicarakan denganku?" Itu suara Ricky.
"Bukannya kamu ingin segera menyelesaikan 99 kali balas dendam agar bisa bersama Luna? Kami lihat kamu terlalu sibuk, jadi tidak perlu merepotkanmu dan langsung membantumu mengerjainya." Suara seorang pria terdengar acuh.
"Aku tidak pernah suruh kalian perkosa dia!"
Suara Ricky tiba-tiba meninggi, amarahnya nyaris tak terbendung.
Orang-orang itu kaget, lalu salah satunya berkata tak percaya, "Memangnya kenapa kalau memperkosanya? Bukankah dari awal kita mau balas dendam sekejam mungkin? Kenapa kamu marah?"
Ricky tak menjawab, hanya menendang meja teh di depannya dengan keras.
Kenapa dia begitu marah?
Dia sendiri pun tak tahu jawabannya.
Selama ini, Amanda selalu mengejarnya, seperti matahari kecil yang hangat dan bersinar, tidak pernah menyerah. Waktu dia akhirnya setuju untuk bersamanya, Amanda berdiri mematung saking terkejutnya, lalu menangis bahagia, pemandangan yang sampai sekarang masih membekas di ingatannya.
Dia tidak pernah melihat tampang Amanda seperti itu.
Amanda terbaring di sana, seperti mawar yang layu, benar-benar kehilangan nyawa.
Anehnya, dia panik, tidak ingin melihat Amanda seperti itu.
Tatapan lemah Amanda yang mengarah padanya tadi masih membuat hatinya sakit.
Saat melihat Ricky diam saja, teman-temannya mulai menyadari sesuatu.
Salah satunya tidak tahan dan berkata cemas, "Kak Ricky, sikapmu aneh … jangan bilang selama ini kalau kamu benar-benar jatuh cinta padanya?"
Bab 5
Kamar rumah sakit menjadi hening total, udara seolah membeku.
Ricky yang tadi masih marah langsung terdiam, tubuhnya menegang. Kalimat itu terus bergema di benaknya.
"Jangan bilang selama ini kalau kamu benar-benar jatuh cinta padanya?"
Jatuh cinta pada Amanda? Mana mungkin!
Dia buru-buru menepis pikiran itu.
Dia buru-buru menolaknya, seolah dengan begitu, dia bisa menghapus semua emosi aneh yang mulai muncul di hatinya.
Selama ini, orang yang dia cintai adalah Luna. Siapa Amanda? Dia hanya alat balas dendam.
Namun kalau memang tidak punya perasaan apa-apa, kenapa saat melihat Amanda hampir diperkosa, kenapa dia bisa begitu marah?
Bahkan waktu dulu Luna digoda pria lain, reaksinya tidak seperti itu!
Semua orang kembali terdiam mendengar ucapannya.
Salah satu temannya menepuk bahu Ricky dan berkata, "Kenapa tidak bilang dari tadi sampai membuat kami panik. Kami pikir kamu benar-benar menyukainya. Sungguh rugi jika sampai terjerumus dalam permainan balas dendam. Luna pasti akan menangis kalau tahu."
Ricky tidak menjawab, hanya menahan emosi aneh dalam dirinya, lalu berkata dingin, "Seumur hidupku, aku tidak akan pernah suka Amanda."
Barulah mereka semua benar-benar tenang dan tertawa lega, "Baik, baik. Dia sudah hampir sadar, kami pergi dulu."
Setelah semua pergi, Ricky berjalan pelan ke sisi ranjang dan menatap Amanda yang masih pingsan.
Wajahnya pucat, alisnya sedikit mengernyit, seolah tidurnya pun tidak tenang.
Tanpa sadar, jari Ricky menyentuh pipinya. Tapi saat menyentuh kulitnya, dia cepat-cepat menarik tangan, seperti tersengat api.
Dia berbalik, berjalan ke arah jendela, menyalakan rokok, dan mengisapnya dalam-dalam, berusaha menenangkan pikirannya yang berantakan.
Ketika Amanda sadar, hanya ada Ricky di ruangan itu.
Dia duduk di tepi ranjang, memegang segelas air. Begitu melihat Amanda membuka mata, dia bertanya pelan, "Bagaimana rasanya? Masih sakit?"
Amanda tidak menjawab, hanya memalingkan wajah, menghindari tatapannya.
Dalam beberapa hari berikutnya, Ricky terus merawat Amanda di rumah sakit.
Namun sesekali dia keluar untuk menerima telepon dan setiap kali kembali, wajahnya selalu membawa ekspresi lembut yang nyaris tak terlihat.
Amanda tahu, kemungkinan besar dia sedang menenangkan Luna.
Kalau dipikir-pikir, saat mereka masih bersama dulu, Ricky juga sering begini, tiba-tiba keluar untuk angkat telepon dan selalu bilang ada urusan.
Dulu Amanda tidak pernah curiga, baru sekarang dia sadar, lawan bicara di ujung telepon itu ternyata Luna.
Dokter datang mengganti obatnya.
Amanda menoleh sekilas dan terkejut melihat seorang dokter muda dan tampan.
Dia sempat terdiam, lalu bertanya pelan, "Bukankah dokter utamaku sebelumnya bukan kamu?"
Dokter muda itu tersenyum ramah, "Iya, itu guru aku. Aku murid magangnya. Hari ini beliau sedang kunjungan, jadi aku yang bantu ganti obat."
Amanda mengangguk, tidak berkata apa-apa lagi.
Dokter muda itu mulai mengganti perban dengan gerakan lembut, tapi wajahnya tampak sedikit memerah.
Sebelum pergi, dia ragu-ragu sejenak, lalu tiba-tiba bertanya, "Boleh … minta kontakmu?"
Amanda terpaku, belum sempat menjawab, Ricky sudah membuka pintu dan masuk.
Tatapannya dingin menyapu dokter muda itu dan suaranya penuh peringatan, "Dia sudah punya pacar. Kamu tidak bisa lihat? Goda pasien, kamu tidak takut kehilangan posisi magangmu?"
Bab 6
Dokter muda itu ketakutan, buru-buru minta maaf dan keluar dari kamar.
Ricky berjalan mendekati Amanda dengan wajah dingin, nada suaranya sedikit tak senang, "Lain kali kalau ada orang seperti itu, langsung bilang kamu sudah punya pacar. Memangnya susah bilang begitu?"
Amanda menatapnya, merasa semuanya begitu konyol.
Katanya dia seumur hidup tidak akan suka sama padanya, tapi rasa memiliki yang tiba-tiba ini maksudnya apa?
Beberapa hari setelah keluar dari rumah sakit, Ricky tiba-tiba mengajak Amanda ikut reuni teman sekolah.
Amanda tahu Ricky biasanya tidak ikut acara semacam ini, jadi waktu dia yang mengusulkan, jelas ada maksud lain.
Benar saja, sampai di tempat reuni, Amanda langsung melihat Luna.
Ricky kelihatannya bersikap dingin dan menjaga jarak dengan Luna, seolah-olah tidak terlalu akrab.
Tapi kalau benar-benar suka seseorang, itu tidak bisa disembunyikan.
Di tengah acara, Amanda pergi ke toilet.
Saat kembali, semua orang sedang bermain truth or dare.
Luna kalah dan harus menjawab pertanyaan pribadi.
Wajahnya canggung, baru mau bicara, Ricky tiba-tiba mengambil kartu dan berkata dingin, "Biar aku saja yang mewakili hukumannya."
Pertanyaannya adalah, "Siapa objek fantasi seksualmu? Sebutkan inisial namanya."
Semua orang mulai menggoda, "Soal begini gampang buat dia! Dia sudah punya pacar, pasti jawabannya pacar!"
Ricky terdiam sejenak, lalu berkata datar, "L."
Jantung Amanda terasa seperti jatuh ke jurang dan tangannya mulai gemetar.
L … Luna.
Dia tidak tahan lagi dan bergegas keluar dari tempat itu.
Sesampainya di luar, Amanda mengirim pesan ke Ricky.
[Aku tidak enak badan, jadi pulang duluan.]
Amanda berdiri di pinggir jalan, baru saja mengangkat tangan untuk memanggil taksi, suara yang familier terdengar dari belakangnya.
"Amanda!"
Dia terpaku sejenak, lalu menoleh. Ricky sedang berjalan cepat ke arahnya.
"Kamu kenapa keluar?" tanya Amanda.
Kening Ricky berkerut, matanya terlihat sedikit cemas, "Kamu bilang tidak enak badan. Sakit apa? Aku antar ke rumah sakit."
Amanda menatapnya, perasaannya campur aduk.
Dia menggeleng pelan, "Tidak serius, hanya pusing sedikit. Kamu tidak main lagi?"
"Kamu pacarku. Kalau pacarku bilang tidak enak badan dan pergi, untuk apa aku masih di sana?"
Lalu dia mengulurkan tangan, menyentuh kening Amanda, seolah memastikan apakah dia demam.
Amanda menatapnya, makin bingung dengan sikapnya.
Bukankah tadi dia datang hanya untuk bertemu Luna? Kenapa sekarang malah pergi gara-gara pesannya?
Tapi Amanda tidak bertanya, juga tidak merasa perlu lagi untuk bertanya.
Barusan, orang tuanya mengirim pesan, mengatakan semua dokumen sudah hampir selesai. Dua hari lagi, dia bisa pergi dari sini dan benar-benar meninggalkan semuanya.
Ricky melihat kening Amanda tidak panas, akhirnya lega, dan tidak bertanya lagi.
Dengan suara pelan, dia berkata, "Ayo pulang."
…
Tengah malam, Amanda tidur dalam keadaan setengah sadar dan samar-samar mendengar suara dari balkon.
Dia membuka mata, berjalan pelan-pelan ke arah balkon dan melihat Ricky sedang merokok di luar.
Ponselnya diletakkan di pagar, dalam mode speaker. Suaranya kecil, tapi kalau mendekat, masih bisa didengar jelas.
"kak Ricky, untuk balas dendam ke-99. Kali ini kita harus bikin yang kejam! Bukankah lusa hari peringatan kalian? Bilang aja ke Amanda kalau kamu mau kasih kejutan, lalu tutup matanya dan bawa dia ke vila kosong milikku. Setelah sampai, kamu cari alasan buat keluar dan kita bakar tempat itu dari luar! Kunci pintunya, biar dia tidak bisa keluar!"
"Wah, ide bagus! Dia pasti panik dan memukul pintu!"
"Benar! Biar dia tahu rasanya putus asa!"
Terdengar suara tawa ramai dari seberang, semua orang tampaknya menganggap ide itu sangat bagus.
Membayangkan kejadian itu, urat di pelipis Ricky mulai menegang, lalu dia berkata dengan marah, "Tidak bisa. Aku tidak setuju."
Bab 7
"Kenapa tidak setuju lagi? Kak Ricky, bukannya kamu yang paling ingin segera mengakhiri permainan balas dendam ini? Tenang aja, kami pastikan tidak bakal ada yang mati! Saat dia sudah tidak tahan, kita langsung buka pintunya."
Suara Ricky tetap dingin dan keras, "Tidak bisa, terlalu berisiko. Dia tidak boleh kenapa-kenapa."
Suara di ujung telepon terdengar heran, "Serius, Kak Ricky? Hari ini aku dengar kamu meninggalkan Luna, mengejar Amanda! Luna sampai menangis semalaman, kamu juga membujuknya sangat lama. Biar dia tidak pikir aneh-aneh, makanya kita langsung diskusi cari cara buat rencana balas dendam ke-99. Kenapa semuanya ditolak? Kamu masih ingat tidak siapa sebenarnya yang kamu suka? Cepat putus dengan Amanda, lalu balik ke Luna. Bukankah itu yang selama ini kamu inginkan?"
Napas Ricky mendadak jadi berat, seakan ingin membantah, tapi saat itu juga, suara Luna tiba-tiba muncul dari telepon.
"Ricky, aku dengar semuanya barusan. Sekarang aku hanya mau tanya, kalau aku bersikeras memakai cara itu untuk balas dendam ke Amanda, kamu setuju atau tidak?"
Ricky terdiam.
Suara Luna terdengar bergetar, hampir menangis, "Kamu dulu janji sama aku, kamu akan lakukan apa pun demi aku!"
Akhirnya Ricky membuka mulut, suaranya serak, "Setuju. Aku turuti kamu."
Luna langsung tertawa, sementara yang lain bersorak, "Baguslah! Tidak sabar menunggu hari itu datang!"
Ricky tetap mengingatkan, "Jangan sampai ada yang celaka."
Amanda berdiri diam di dalam bayangan. Dadanya seperti diremas tangan tak kasat mata, sakitnya bikin dia nyaris tidak bisa bernapas.
Dia kembali ke kamar tanpa suara, mengambil ponsel dan mengirimkan sebuah pesan.
…
Hari peringatan tiga tahun mereka, Ricky mengikuti rencana dan berkata, "Amanda, hari ini aku sudah siapkan kejutan. Tutup matamu dulu, aku bawa kamu ke satu tempat."
Amanda menatapnya lama sekali, lalu menutup matanya tanpa perlawanan.
Ricky tersenyum kecil, menutup matanya dengan sehelai pita, lalu menggandengnya masuk ke mobil.
Setelah mobil berhenti, Ricky memapahnya masuk ke dalam vila dan berkata pelan, "Tunggu di sini sebentar, aku mau ambil hadiahnya, sebentar saja."
Amanda berdiri di tempat, mendengarkan suara langkahnya menjauh.
Tepat sebelum pintu ditutup, Amanda tiba-tiba memanggilnya.
"Ricky, kamu tahu tidak? Aku benar-benar sangat menyukaimu."
Langkah Ricky terhenti dan mendengar suaranya perlahan mengalir.
"Aku sudah lama suka padamu. Waktu kamu akhirnya mau jadian sama aku, aku sangat senang, aku pikir akhirnya keinginanku terkabul. Malam itu aku tidak bisa tidur, menangis senang sampai membasahi bantal. Bukankah aku sangat bodoh?"
Ricky tetap diam, tapi napasnya mulai menjadi cepat.
Amanda berkata pelan, "Hari ini hari jadi kita yang ketiga dan ini pertama kalinya kamu menyiapkan hadiah untukku. Aku benar-benar sangat mengharapkannya."
Tenggorokan Ricky terasa kering. Setelah beberapa saat, dia berkata pelan, "Tunggu sebentar. Aku segera kembali."
Pintu tertutup.
Saat itulah Amanda melepas penutup matanya dan langsung mencium bau bensin yang menyengat di udara.
Dia tersenyum kecil, berjalan ke sudut ruangan, menarik keluar mayat palsu yang sudah dia siapkan.
Sejak dia mendengar telepon hari itu, replika tubuhnya dibuat persis seperti ukuran dan bentuknya. Begitu terbakar, semua orang akan mengira itu dia.
Dia meletakkan sebuah alat perekam suara di atas meja, yang sudah berisi rekaman suaranya meminta tolong.
"Ricky, kamu sudah mengerjai aku 98 kali. Kali ini, yang ke-99, giliranku yang mengerjai kamu."
Dia berkata pelan, lalu menekan tombol play.
Segera, vila itu bergema oleh suaranya yang direkam, "Tolong! Buka pintunya! Ricky, tolong aku!"
Tanpa menoleh, Amanda melangkah ke pintu belakang, keluar dari vila, lalu naik taksi langsung ke bandara.
Dari kejauhan, api membumbung tinggi, menerangi langit malam.