Đang tải thông tin quảng bá...
Suamiku Selingkuh Di Kala Aku Mengandung
Saat usia kehamilanku memasuki bulan kesembilan, wanita yang merupakan wanita idaman suamiku datang dengan alasan ingin tinggal di rumah kami. Setiap kali bertemu denganku, dia selalu memegangi dadany...
Chương (1)
第1章
Saat usia kehamilanku memasuki bulan kesembilan, wanita yang merupakan wanita idaman suamiku datang dengan alasan ingin tinggal di rumah kami. Setiap kali bertemu denganku, dia selalu memegangi dadanya dan menunjukkan wajah seolah-olah tengah disiksa oleh kenangan menyakitkan.
Suamiku pun menudingku sebagai biang keladi. Dia mengira aku sengaja memamerkan perut besarku hanya untuk menyakiti hati Stella.
Bab 1
"Kenapa Claryne si tukang cemburu itu tiba-tiba nggak teriak lagi?"
"Tuan ... jangan-jangan terjadi sesuatu pada Nyonya .... Semalam suara jeritannya sampai membuat hati meringis, benar-benar terdengar menyakitkan sekali ...."
Gordon menyeruput bubur dan hanya mendengus enteng.
"Nggak ada yang lebih ngerti Claryne daripada aku. Dia itu cuma akting! Kali ini aku harus benar-benar kasih pelajaran supaya dia jera dan nggak berani ganggu Stella lagi!"
Sang kepala pelayan melirik ke arah loteng dengan ragu, lalu berkata perlahan, "Tapi ... Nyonya sedang mengandung bayi kembar. Dokter pernah bilang Nyonya harus segera dibawa ke rumah sakit untuk persiapan melahirkan ...."
Gerakan Gordon terhenti sesaat dan wajahnya tampak goyah.
"Begitu ya ...."
Gordon mengaduk buburnya dengan sendok dan ragu sejenak, lalu berkata dengan malas, "Baiklah, suruh Claryne keluar masakkan aku bubur. Setelah itu, suruh dia datang minta maaf ke Stella! Hari ini juga hari perkiraan lahirnya. Kalau sikapnya cukup tulus, baru antar ke rumah sakit."
Setelah itu, Gordon membawa segelas susu hangat dan masuk ke kamar tamu.
Di atas ranjang, Stella tertidur pulas dengan napas teratur. Selimut tipis yang melorot ke bawah memperlihatkan bagian dada yang samar-samar menggoda.
Tenggorokan Gordon bergerak naik turun saat menelan ludah. Setelah menatapnya cukup lama, barulah dia mengalihkan pandangannya. Kemudian, dia membungkuk untuk mencium bibir Stella.
Stella membuka matanya perlahan-lahan, kemudian menggeliat manja sambil merengek, "Kak Gordon .... Lagi-lagi kamu gangguin aku ...."
Gordon merenggangkan kakinya, membiarkan Stella duduk di pangkuannya. Tangannya mulai memijat lembut pinggang gadis itu.
"Kalau kamu tidur sampai begini, siapa juga yang bisa tahan?"
Stella menyandarkan kepalanya ke dada pria itu dan mendesah pelan dengan wajah puas.
"Tapi ... Kak Claryne sudah mengandung anakmu dengan susah payah. Kita sama-sama wanita, aku nggak tega kalau harus mengkhianatinya di saat dia paling lemah!"
Seolah teringat sesuatu, ekspresi Stella berubah cemas, "Semalam teriakan Kak Claryne keras sekali, apa dia mau melahirkan? Tapi tetap saja, meskipun aku dengar dia kesakitan seperti itu, aku tetap iri. Asalkan bisa melahirkan anak Kak Gordon, sesakit apa pun melahirkan, aku tetap merasa itu adalah sebuah kebahagiaan."
Kebahagiaan?
Saat ini, aku sudah menjadi arwah yang melayang di sekitar mereka.
Lantai loteng penuh dengan darah yang menggenang sampai menutupi ruangan.
Di dinding, terlihat jelas bekas-bekas cakaran kuku yang patah dan daging yang terkelupas karena rasa sakit yang tak tertahankan.
Bab 2
Apalagi, demi bisa melahirkan anak-anak ini, aku sendiri yang merobek bagian bawah tubuhku hingga hancur lebur. Saat aku mengeluarkan bayi pertama dengan tangan gemetaran, dia sudah tidak lagi bernapas.
Dari lubang yang robek di bagian bawah tubuhku, darah langsung mengucur deras. Bayi keduaku tersangkut di robekan yang menganga itu.
Rambutku terasa lengket diliputi oleh darah yang mengering. Dalam pelukanku, janin yang berlumuran darah itu masih kupeluk erat. Mataku terbuka lebar, tetapi napasku sudah terhenti.
Entah bagaimana ekspresi Gordon saat dia melihat semua ini nanti? Namun sekarang, dia hanya sibuk merengkuh Stella ke dalam pelukannya.
Nada bicaranya dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan, "Ini salahku! Aku nggak seharusnya membiarkan Claryne yang lagi hamil muncul di depanmu dan membuatmu sedih! Aku bersumpah, ini terakhir kalinya wanita itu mengandung anakku! Setelah ini, kamu nggak akan lagi melihat wanita hamil di rumah ini!"
"Kamu nggak tahu, Claryne sampai berani bohong padaku demi bikin aku luluh, katanya dia takut bayinya terlalu besar dan bisa membahayakan nyawanya, bahkan dokter pun katanya menyarankan dia untuk segera rawat inap."
"Padahal, dia bisa bertahan hidup tanpa makan tiga hari tiga malam di alam bebas, masa sekarang dia bilang takut melahirkan?"
Hatiku terasa sakit, napasku juga ikut tercekat.
Tubuh wanita hamil memang tidak bisa disamakan dengan orang biasa. Apalagi, sejak aku tahu mengandung anak kembar, keluhan demi keluhan selama kehamilan begitu menyiksa tubuhku.
Bahkan, aku sempat harus dirawat beberapa kali karena risiko keguguran.
Waktu pertama kali dikurung di loteng itu, aku sudah memohon berkali-kali. Aku bilang, kalau aku benar-benar dikurung sampai tiga hari, yang hilang bukan cuma satu nyawa, tapi tiga!
Namun, Gordon malah berdiri di hadapanku dan memberi perintah keras kepada kepala pelayan, "Cepat! Cari sungai paling kotor dan buang kunci ke sana! Siapa pun dilarang keras membuka pintu untuk Claryne! Tiga hari lagi, aku mau dia berlutut dan minta maaf ke Stella!"
Demi bertahan hidup, aku nekat mencopot lukisan dinding. Paku-paku menusuk ke tanganku hingga darah bercucuran. Kukuku patah semua saat memaksakan diri membuka jendela di loteng.
Sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, aku mengumpulkan sisa tenaga untuk merangkak ke luar jendela dan berdiri di atas lis atap. Dengan tangan yang mencengkeram erat batu bata atap, aku perlahan-lahan menggeser langkahku dan berusaha melompat ke ruangan lain demi melarikan diri.
Akan tetapi ....
Di taman bawah, Gordon sedang mencengkeram erat Stella sambil mencium bibirnya dengan dalam dan penuh gairah. Ciuman mereka begitu panas hingga tampaknya sebentar lagi akan benar-benar kehilangan kendali.
Stella tiba-tiba mendorong Gordon dan menengadah ke arah loteng, lalu berteriak keras.
Gordon mendongak. Saat melihatku sedang berjuang menyelamatkan diri, dia langsung naik pitam. Dia yakin aku sengaja muncul lagi di hadapan Stella.
Gordon menyuruh orang memanggil mobil derek, lalu mengemudikannya sendiri. Dengan sekop logam yang besar, dia menekan perutku dan mendorongku kembali ke dalam loteng dengan kasar.
Rasa sakit yang tak tertahankan menjalar dari perutku. Darah mengalir tiada henti hingga membasahi kakiku.
Akhirnya, mataku membelalak dan dalam pelukanku ada seorang bayi yang berlumuran darah. Lalu, aku pun mengembuskan napas terakhir.
Gordon menyodorkan segelas susu ke bibir Stella.
"Aku sudah suruh orang membawa Claryne agar datang dan meminta maaf padamu. Kalau dia tulus, biar dia dibawa ke rumah sakit. Kalau nggak, biarkan saja dia melahirkan di loteng itu!"
Stella menyesap susu sedikit demi sedikit, tapi tetap saja tersedak. Dia terbatuk hingga matanya berair dan tampak begitu menyedihkan.
"Kak Gordon nggak boleh begitu ke Kak Claryne. Melahirkan itu berbahaya sekali bagi wanita ...."
Gordon menghela napas dan memandang lembut gadis di pelukannya.
"Kamu itu terlalu baik makanya suka ditindas sama wanita seperti Claryne. Claryne itu ahli bertahan hidup di alam liar. Di tempat yang nggak ada makanan dan air pun dia bisa bertahan sampai tiga hari! Sedangkan kamu ... minum susu saja masih bisa tersedak."
Gordon mengusap ujung hidung Stella dengan lembut sambil bercanda, "Kamu bilang melahirkan itu berbahaya, seperti kamu sendiri sudah pernah melahirkan saja!"
Tatapan Stella sempat menunjukkan kepanikan, tapi dia segera menunduk dan mengubah nada bicaranya menjadi sedih. "Cuma Kak Gordon yang bisa melihat sisi rapuh di balik ketegaranku."
Lalu, dia menengadah lagi dengan mata berkaca-kaca sambil menggigit bibirnya. Dia merangkul leher Gordon sambil membusungkan dada dan menggesekkan tubuhnya ke dada pria itu.
Bab 3
Gordon akhirnya tidak bisa lagi menahan diri. Dia mencium Stella dengan napas memburu. Stella membalasnya dengan bisikan lembut. Bibir mereka saling bertaut dalam ciuman yang membara, lalu mulai menuntut dengan ganas pada tubuh satu sama lain.
Namun, tepat di saat terakhir, Stella tiba-tiba mendorong pria itu yang sedang terengah-engah. "Nggak boleh, sekarang kamu sudah jadi suami orang. Selain itu, Kak Claryne sedang mengandung anakmu .... Aku nggak mau jadi pelakor yang merusak rumah tangga orang lain!"
Mata Gordon menyala oleh hasrat yang nyaris meluap. Suaranya terdengar serak saat berkata, "Baik, aku nggak akan menyia-nyiakan ketulusan hatimu, Stella! Tunggu aku sedikit lagi! Hanya diriku yang bersih, baru pantas menyentuhmu yang suci!"
Setelah berkata demikian, dia mencium lembut kening Stella, seolah tengah menjaga harta karun yang paling berharga di dunia.
Di mata Stella muncul secercah rasa puas.
Gordon memang tidak melihatnya, tapi aku melihat semuanya dengan jelas.
Tidak mau jadi pelakor yang merusak rumah tangga orang lain? Aku hanya merasa ini sangat menggelikan!
Berkali-kali dia datang menemuiku dan mengatakan dengan lantang bahwa kehamilanku ini hanya untuk mempermulus jalannya di masa depan. Kelak, bahkan anak yang kulahirkan nanti tetap akan memanggilnya ibu.
Lalu, apa artinya semua itu?
Dia tinggal di rumahku dengan alasan bahwa dia sedang sakit dan tidak ada yang merawatnya.
Di meja makan, dia terang-terangan menggoda Gordon, sampai-sampai asisten rumah tangga saja tidak tahan dan menegur dengan nada sinis.
Namun, apa yang dia lakukan?
Stella langsung mengadu pada Gordon, mengatakan bahwa pelayan itu tidak mencuci bahan makanan dengan bersih dan membuatnya sakit perut. Lalu menuntut agar pelayan itu dipecat.
Padahal, saat itu aku sedang mengandung dan hanya bisa makan masakan buatan pelayan itu.
Demi kesopanan sebagai tuan rumah, aku bahkan menawarkan untuk memanggil juru masak khusus hanya untuknya. Namun, dia menamparku dengan keras.
"Rasa masakan itu nggak penting. Yang penting adalah tahu siapa pemeran utamanya! Claryne, aku cuma mau kamu tahu, satu-satunya Nyonya di sini itu cuma aku!"
Demi membuktikan bahwa dia pantas menjadi istri Gordon, Stella meringkuk di pelukan Gordon sambil menangis tersedu-sedu. Dengan tangis pilu, dia mengeluhkan bahwa dirinya tidak beruntung karena tak bisa memberi Gordon keturunan.
Selain itu, karena aku berjalan dengan perut buncit setiap hari, dia merasa sedih dan tersisih setiap kali melihatku.
"Aku sudah berusaha menghindari Kak Claryne sebisa mungkin, tapi tetap saja kami bertemu setiap hari! Lebih baik aku pindah saja .... Aku nggak bisa terus hidup dalam penderitaan seperti ini ...."
Emosi Gordon langsung meledak. Wajahnya seketika menjadi gelap dan dia menghampiriku lalu menamparku hingga aku terjatuh ke lantai.
"Kamu jelas-jelas tahu emosi Stella mudah terpancing kalau melihat wanita hamil, tapi kamu tetap saja mondar-mandir di depannya dengan perut segede itu! Apa sebenarnya maumu?"
"Perempuan sejahat kamu nggak pantas jadi ibu! Hari ini juga, aku akan kurung kamu di loteng! Biar kamu tahu rasanya menderita!"
Beberapa pengawal menarik-narik tubuhku dengan kasar dan menyeretku ke dalam loteng penuh debu, lalu langsung melemparkan tubuhku ke sana.
"Dokter menyuruhku ke rumah sakit hari ini untuk rawat inap persiapan melahirkan! Kalau aku ke rumah sakit, dia juga nggak bakal lihat aku lagi!" seruku putus asa sambil menangis dan memegangi pintu.
Gordon hanya tertawa sinis, "Kalau mau bohong, cocokkan dulu sama catatan dokter. Perkiraan kelahiranmu masih tiga hari lagi!"
Gordon tidak mau lagi mendengarkan pembelaanku, melainkan langsung menghantamkan pintu loteng dengan keras.
Jari-jariku terjepit hebat di antara kusen pintu, rasa sakit yang luar biasa membuat tubuhku meringkuk dan jari-jariku refleks tertarik ke dalam. Aku tak sanggup lagi mengeluarkan sepatah kata pun.
Di saat kedua orang itu masih bergumul dengan penuh hasrat, tiba-tiba kepala pelayan berlari terburu-buru ke arah mereka dengan napas tersengal-sengal.
Suaranya begitu panik saat berkata, "Tuan ... Nyonya ... Nyonya sudah tiada!"
"Tiada?" Gordon mendongak dengan cepat, wajahnya menunjukkan kejengkelan karena suasana hatinya terganggu.
Kepala pelayan menyeka keringat di dahinya, lalu berkata dengan ketakutan, "Loteng ... loteng penuh darah .... Nyonya ... dia ...."
Pelayan itu tidak sanggup melanjutkan ucapannya.
Gordon membetulkan kerah kemejanya yang berantakan, lalu berkata, "Darah apaan? Oh, maksudmu pendarahan ya? Mungkin sudah waktunya melahirkan. Bawa dia ke rumah sakit."
Bab 4
Kepala pelayan menelan ludah, lalu memberanikan diri untuk melanjutkan jawabannya, "Nyonya ... sudah nggak bernapas lagi ...."
Suara Gordon mulai terdengar panik. Namun, saat aku mencoba mendengarnya lebih jelas, suaranya kembali berubah menjadi dingin dan penuh amarah. "Teruskan saja sandiwaranya! Aku mau lihat sampai kapan dia bisa berpura-pura seperti itu!"
"Dia dulu bisa bertahan hidup di alam liar dalam kondisi seberat apa pun, bahkan bisa menahan napas di bawah air sampai belasan menit! Dia pasti sedang menakuti kalian yang nggak paham soal medis! Panggil dokter pribadiku, aku mau bongkar sendiri kebohongannya!"
Kepala pelayan membelalakkan mata. "Tuan Gordon, anak di dalam kandungan Nyonya juga sudah ...."
"Kamu kerja sama siapa sebenarnya?" Gordon memotong dengan tidak sabar.
"Aku yang bayar gajimu atau dia?"
"Baik ... saya akan segera memanggil dokter ...." Kepala pelayan hanya bisa menarik napas panjang, lalu buru-buru meninggalkan tempat itu.
Stella segera merapat pada Gordon dan bersandar manja. "Kak Gordon jangan marah, nanti sakit sendiri, lho ...."
"Wanita seperti Claryne memang jago merebut hati orang! Baru beberapa tahun, rumah ini sudah seperti miliknya!" Ucapan Gordon itu bagaikan tamparan keras yang menyadarkanku dari segala ilusi yang selama ini kupertahankan.
Tiga tahun. Dalam waktu sesingkat itu, dia telah melupakan semua janji yang dulu diucapkan dengan penuh cinta.
Di hari pernikahan kami, Gordon menatapku dengan penuh kasih dan berkata, "Rumah ini milikmu. Mulai sekarang, kamu satu-satunya nyonya di rumah ini."
Air mataku mengalir deras tak tertahankan.
Tadi aku masih sempat berkhayal. Kupikir, jika Gordon tahu aku mati karena gagal melahirkan, mungkin ... mungkin, dia akan menyesal ... akan merasa sedikit bersalah ....
Betapa bodohnya aku saat itu, sama bodohnya dengan sekarang yang masih berharap padanya. Saat itu, aku benar-benar percaya bahwa Gordon akan mencintaiku selamanya.
Padahal, dulu Gordon dan Stella adalah pasangan masa kecil dan dijodohkan dalam ikatan keluarga terpandang. Namun, kemudian diketahui bahwa Stella memiliki masalah medis dan tidak bisa hamil secara alami.
Itulah sebabnya dia naik pesawat ke luar negeri dan memutus semua hubungan dengan Gordon.
Dengan mulutnya sendiri, dia berkata, "Gordon adalah satu-satunya pewaris keluarga. Bagaimana mungkin dia tega menikah dengan pria yang garis keturunannya akan berakhir karena dirinya?"
Demi melupakan rasa sakit akibat perpisahan, Gordon memutuskan bergabung dengan tim ekspedisi alam liar. Kebetulan, aku adalah pemimpin tim ekspedisi itu.
Saat melamarku, dia mengatakan bahwa aku adalah sosok yang berani dan tangguh. Aku adalah perwujudan dari semua kebaikan di dunia.
Dia juga mengatakan bahwa aku adalah orang kepercayaannya saat dia tersesat dan tempat di mana hatinya berlabuh.
Setelah menikah, dia mulai menganggap eksplorasi alam terlalu berbahaya. Dia memintaku berhenti dari pekerjaan dan fokus hamil, demi memberikan penerus bagi keluarganya.
Namun saat itu, tubuh Gordon sudah hancur akibat mabuk-mabukan dan bergadang selama masa putus dari Stella. Di tengah tekanan dari orang tua Gordon yang terus mendesakku untuk segera hamil, aku tetap bertahan. Sambil merawat tubuhnya agar pulih, aku juga berjuang untuk program kehamilan.
Akhirnya, di tahun ketiga pernikahan, aku hamil anak kembar.
Orang tua Gordon begitu bahagia hingga langsung mengadakan konferensi pers dan mengumumkan bahwa anak yang kulahirkan kelak akan menjadi satu-satunya pewaris resmi perusahaan mereka.
Di saat itulah, Stella kembali dari luar negeri.
Selain itu, dia juga mengatakan, "Aku nggak tertarik dengan ahli waris perusahaan. Asalkan bisa hidup dengan Gordon, aku sudah merasa puas seumur hidup."
Sejak saat itu, Gordon mulai sering tidak pulang malam. Kemeja putihnya dipenuhi bekas lipstik merah yang tak bisa hilang. Aku tegas mengajukan gugatan cerai, tapi Gordon menolaknya dengan alasan bahwa anak dalam kandunganku adalah penerus keluarganya dan tidak mau melepaskanku.
Selain itu, dia mengatakan bahwa dia membawa Stella pulang karena Stella sedang sakit dan tidak ada yang bisa merawatnya.
Berhubung Stella tidak bisa punya anak, dia tidak tahan melihatku yang sedang hamil besar. Oleh karena itu, aku yang sudah mendekati masa persalinan, dikurung di loteng kosong yang terbengkalai.
Gordon benar-benar pantas dihukum seberat-beratnya!
Tak lama kemudian, dokter pun datang. Sebagai sahabat pribadi Gordon, Elliot selama ini memang bertanggung jawab atas kondisi kesehatan Gordon.
Gordon menyilangkan tangan di dada sambil berjalan di belakang Elliot dengan perasaan marah. "Claryne, ayo kita lihat ... sampai sejauh mana kamu bisa mainkan drama ini!"