Terlahir Kembali, Akan Kubalas Kalian

Đang tải thông tin quảng bá...

Terlahir Kembali, Akan Kubalas Kalian

GoodNovel Hoàn thành

Dua hari sebelum tahun baru, pacarku, Dylan Stevens, malah bawa asistennya ke pantai untuk merayakan tahun baru. Aku tidak marah, aku bahkan dengan tulus bantu dia berkemas. Namun, Dylan malah mengeje...

Chương (1)

第1章

Dua hari sebelum tahun baru, pacarku, Dylan Stevens, malah bawa asistennya ke pantai untuk merayakan tahun baru. Aku tidak marah, aku bahkan dengan tulus bantu dia berkemas. Namun, Dylan malah mengejekku. Dia bilang, aku jadi lebih tahu diri setelah hamil. Begitu dia pergi, aku langsung melakukan operasi aborsi. Karena di kehidupan sebelumnya, setelah aku mencoba menahannya dengan anak kami, asisten itu justru tewas secara tragis di pantai. Di luar, Dylan tampak tenang dan tidak peduli, tapi saat aku hendak melahirkan, dia belah perutku dan bunuh anakku dengan kejam. Saat itulah aku tersadar, dia menyimpan dendam padaku selama ini. Di kesempatan kedua ini, aku akan membuatnya kehilangan segalanya. Bab 1 "Chloe, Lydia sendirian di sini dan nggak punya siapa-siapa. Apa salahnya kalau aku mengajaknya pergi rayakan acara tahun baru? Kalau kamu nggak mau aku membawanya pergi, apa kamu senang kalau aku membawanya pulang ke rumah?" "Kalau kamu memang senang, ya sudah, kita bertiga pulang bersama saja. Nanti di meja makan, kita lihat siapa yang akan merasa canggung, kamu atau aku?" Nada bicara Dylan yang penuh amarah membuat kepalaku pusing. Aku menatap kosong pria di depanku yang wajahnya penuh dengan ejekan, serta wanita di sampingnya yang tampak sangat sedih. Wanita itu menarik lengan baju Dylan dan berbicara dengan nada merajuk. "Dylan, jangan bicara seperti itu ke Kak Chloe. Kalau dia nggak setuju, kita nggak usah pergi saja. Lagi pula, selama bertahun-tahun ini, aku sudah terbiasa seperti ini." "Tahun ini aku nggak masalah merayakannya sendirian." Wanita itu berusaha terlihat santai, tapi senyumnya lebih mirip ingin menangis. Wajah Dylan langsung muram, dia memegang tangan wanita itu dengan lembut dan menghiburnya. Melihatku tidak bereaksi, Dylan makin kesal. "Chloe, rencana licik apa lagi yang kamu pikirkan? Mau ngadu ke ibuku lagi? Kuperingatkan ya, kalau Lydia sampai menderita lagi karena kamu, aku nggak akan memaafkanmu." "Sampai kapan kamu mau terus-terusan cemburu seperti ini? Aku cuma bawa Lydia pergi untuk rayakan tahun baru, bukan berarti aku nggak akan menikahimu, kenapa kamu harus cemburu seperti ini sih?" "Kalau kamu tetap diam seperti ini, aku anggap kamu setuju, jadi nanti jangan ribut lagi." Aku kembali tersadar saat mendengar peringatan keras dari Dylan. Dylan tampak membuka mulut, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun, aku lebih dulu bersuara, "Oke." Dylan terdiam sejenak. Melihatku yang mengambil koper dan mengemas barang bawaannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia merasa ada sesuatu yang aneh. Dulu, setiap kali dia menyebut nama Lydia Austin, aku selalu cemburu dan kami akan bertengkar hebat. Sekarang, Dylan ingin membawa Lydia pergi merayakan tahun baru, tapi aku malah dengan tenang mengemas barang bawaannya. Dylan memandangku dengan penuh curiga. Ketika matanya tertuju pada perutku yang sedikit membuncit, dia akhirnya sadar dan tertawa sinis. "Memang, ya, kalau wanita hamil itu beda, jadi lebih tahu diri dan nggak rewel lagi." Dylan bersandar di ambang pintu dengan ekspresi penuh ejekan. Sementara Lydia menggigit bibir bawahnya, dia terlihat menyedihkan, hingga membuat siapa pun yang melihatnya merasa iba. "Kak Chloe, jangan marah. Pak Dylan cuma kasihan padaku, makanya dia putuskan bawa aku merayakan tahun baru." "Kalau Kak Chloe nggak setuju, nggak usah dipaksakan. Aku bisa pergi sendiri." "Benaran. Kak Chloe, berhentilah mengemasi barang." Lydia merebut koper yang ada di tanganku. Lalu, detik berikutnya, koper itu jatuh dengan suara berdebam. Tanganku yang memegang pakaian sedikit bergetar. Saat melihat wanita di depanku yang matanya memerah karena sedih, aku akhirnya benar-benar yakin, aku telah terlahir kembali, kembali ke hari ketika Lydia pergi ke pantai seorang diri. Di kehidupan sebelumnya, tepat pada hari ini, Dylan ingin mengajak Lydia ke laut untuk merayakan tahun baru. Namun, aku tidak setuju dan memaksanya untuk tidak pergi, masalah itu bahkan sampai ke Keluarga Stevens. Dylan akhirnya dikurung oleh Keluarga Stevens, sementara Lydia pergi ke pantai sendirian sambil menangis, dan akhirnya dibunuh dengan tragis. Setelah mengetahui hal itu, Dylan hanya berkata, "Kalau dia mati, ya sudah, wanita sepertinya nggak pantas untuk aku khawatirkan." Kemudian, Dylan berhenti menolak perjodohan dan mulai lebih memperhatikanku. Aku pikir, Dylan akhirnya melihat kebaikanku. Namun, ketika aku hampir melahirkan, dia justru membelah perutku dan menyiksaku hingga mati. Saat itu, aku baru mengerti, Dylan menyalahkanku atas kematian Lydia. Dia selalu membenciku. Bab 2 Mengingat betapa mengerikannya keadaanku sebelum meninggal, tubuhku tanpa sadar merinding. Karena aku diberikan kesempatan untuk memulai lagi, aku pasti akan perbaiki semuanya. Aku tidak menghiraukan Lydia yang merasa sedih dan Dylan yang berteriak marah padaku. Aku justru dengan tenang mengambil koper dan mulai mengemasi barang lagi. Melihatku yang tampak tenang, Dylan tiba-tiba marah dan mendorongku. "Ngapain kamu berlagak seperti orang pengertian? Chloe, jangan pikir hanya karena kamu terlihat nggak peduli, aku akan ikuti kemauanmu." "Kuberi tahu ya, meski kita akhirnya benar-benar menikah, aku nggak akan tinggalkan Lydia. Bahkan di rumah kita pun, harus ada kamar untuknya. Kalau kamu nggak terima dan nggak sanggup melakukannya, jangan harap bisa nikah denganku." Kalimat seperti itu sudah aku dengar berkali-kali. Jika ini terjadi di masa lalu, aku pasti akan berdebat dan mempertanyakan Dylan, bahkan tidak ragu untuk mengancamnya dengan anak kami. Namun, sekarang aku justru berharap kami tidak jadi menikah. "Oke. Kalau gitu, kita nggak usah nikah saja." Seketika itu, suasana menjadi sangat sunyi, hanya terdengar suara jarum jam. Aku memandang wajah Dylan yang terkejut dan berkata dingin, "Kebetulan, aku juga nggak mau nikah." Aku dan Dylan adalah teman masa kecil, kami tumbuh bersama. Keluarga kami sudah merencanakan perjodohan kami sejak 20 tahun yang lalu. Seharusnya semua berjalan lancar, tetapi dua tahun yang lalu, muncul asisten bernama Lydia Austin di sisi Dylan. Aku ingat pertama kali bertemu dengannya di kantor Dylan. Saat itu, aku datang untuk bawa makanan ringan dan kebetulan melihat Dylan sedang marah kepada si asisten. Asisten itu baru saja memasuki dunia kerja. Dia langsung meringkuk seperti kelinci kecil saat dimarahi. Matanya memerah dan hampir menangis. Orang-orang di sekitar berusaha menenangkan Dylan, tapi dia tidak peduli. Akhirnya aku tidak tahan dan maju untuk melerai. Dylan melihatku, lalu melambaikan tangannya dan membiarkan asisten yang hampir menangis itu pergi. Saat itu, dia berkata padaku bahwa orang seperti itu tidak akan lolos masa percobaan dan harus dipecat. Namun, siapa sangka, asisten itu tidak hanya tidak dipecat, tapi bahkan buat Dylan terus memikirkannya, seolah-olah ingin selalu memanjakannya. Bahkan, demi asisten itu, Dylan sampai membunuh anak kami dengan tangannya sendiri. Dylan berusaha mencari kecemburuan di mataku, tapi ketika dia melihat hanya ada ketegasan di mataku, seketika hatinya merasa gelisah. Dylan mengulurkan tangan dan ingin menyentuh wajahku. Namun, pada saat itu, Lydia malah menutup mulutnya dan menangis, sambil berkata, "Pak Dylan, Kak Chloe, jangan bertengkar karena aku. Aku akan pergi, aku akan pergi jauh dan nggak akan ganggu kalian lagi." Setelah Lydia berlari sambil menangis, tatapan Dylan berubah menjadi kebencian yang sering muncul dalam dua tahun terakhir. "Chloe, kamu benar-benar mau membuatku kesal di tahun baru ini, ya? Kalau kamu masih mau nikah denganku, jangan buat Lydia sedih, kalau nggak, seumur hidup ini aku nggak akan menikahimu." "Kalau itu terjadi, aku mau lihat gimana kamu mau jelasin ke keluargamu dengan perut buncit seperti itu." Dylan tampak marah dan tatapannya dingin. Setelah mengatakan ini, dia berlari keluar mengejar Lydia. Namun, sepertinya Dylan lupa, anak kami belum genap tiga bulan dan bisa digugurkan. Mengenai pernikahan, meskipun perjodohan Keluarga Horton dan Keluarga Stevens sulit untuk dibatalkan, tapi Keluarga Stevens tidak hanya punya satu anak laki-laki. Aku kembali tersadar ketika ponselku bergetar. Aku membukanya dan melihat bahwa itu pesan dari Lydia. [Kak, meskipun kamu dari Keluarga Horton, tapi apa gunanya? Dylan tetap akan membelaku.] [Tahun ini, kamu kasihan banget, rayakan tahun baru sendirian. Tapi saat anak bajingan itu lahir, tahun depan kamu bakal ditemani anak bajingan itu. Jadi kamu nggak akan kesepian lagi.] Setiap katanya penuh dengan provokasi. Pesan seperti ini sudah sering aku terima selama dua tahun ini, bahkan beberapa kali aku mengambil tangkapan layar dan mengirimkannya ke Dylan. Namun, Dylan justru mengatakan Lydia hanya seorang gadis kecil yang kekanak-kanakan, jadi dia menyuruhku untuk tidak terlalu memikirkannya dan mengalah kepadanya. Dylan merasa aku tidak bisa hidup tanpanya dan aku hanya bisa terikat dengannya seumur hidup, itulah sebabnya Dylan begitu bebas bertindak. Aku menarik napas dalam-dalam, membuka daftar kontak yang diblokir dan membuka blokiran sebuah kontak yang foto profilnya hanya warna hitam. Pada hari tahun baru, yang juga merupakan hari pertunangan Keluarga Horton dan Keluarga Stevens, aku akan memberikan Dylan sebuah hadiah besar. Bab 3 Begitu Dylan pergi, aku segera pergi ke rumah sakit untuk menjalani operasi aborsi. Sesaat sebelum anestesi masuk ke tubuhku, aku menerima pesan dari Dylan. [Chloe, tadi aku bilang gitu karena emosi. Tenang saja, aku pasti akan menikahimu. Pada hari pertama tahun baru, aku pasti akan pulang. Tunggu aku.] [Soal Lydia, anggap saja dia nggak pernah ada. Aku sudah bicara dengannya, dia nggak akan ganggu kehidupan kita.] Aku menatap pesan-pesan itu dan mematikan layar ponsel dengan dingin. Selama dua tahun terakhir, demi Lydia, Dylan telah beberapa kali menentang perjodohan antara dua keluarga ini. Aku bahkan sudah berniat ke luar negeri demi merelakannya. Namun, pada hari keberangkatanku, Dylan mengejarku ke bandara sambil menangis dan memohon agar aku tidak pergi. Hari itu, kami sama-sama kehilangan kendali, jadi anak ini pun hadir. Namun, menjelang ajalku, aku baru tahu bahwa Dylan mengejarku ke bandara hari itu hanya karena Keluarga Stevens mengancamnya dengan Lydia. Perjodohan antara Keluarga Horton dan Keluarga Stevens tidak akan berubah karena siapa pun atau apa pun. Jadi, sekalipun Dylan sangat mencintai Lydia, dia tetap harus menikah denganku. Aku merasakan tubuhku mengalirkan kehangatan. Sejak awal, anak ini memang sebuah kesalahan. Saat aku terbangun, aku sudah berada di bangsal. Saat itu, Dylan dan Lydia sudah lebih dulu tiba di pantai. Lydia juga kirimkan lumayan banyak pesan pamer, lengkap dengan beberapa foto bersama Dylan. Di foto itu, Dylan tampak memeluk Lydia dari belakang dengan ekspresi lembut. Dulu, Dylan juga bersikap seperti itu padaku. Namun, sekarang... aku hanya merasa jijik saat melihatnya. [Kak, Pak Dylan bilang kamu juga suka laut. Kalau tahu dari awal, harusnya aku juga mengajakmu.] [Oh ya, dia sudah siapkan pertunjukan kembang api untukku. Nanti akan aku kirimkan videonya padamu, ya.] [Wanita tua, kalau aku jadi kamu, aku bakal sadar diri dan pergi sejak lama. Masih saja menempel sama Pak Dylan, kamu memang nggak tahu malu.] Dulu, aku akan mengabaikannya. Namun, kali ini aku membalasnya. [Kalau kamu memang begitu mencintai Dylan, jangan pernah lepaskan dia.] Aku juga ingin melihat, apa Lydia masih akan tetap bersama Dylan ketika dia kehilangan segalanya. Setelah mengirim pesan itu, aku merasa lelah dan ingin memejamkan mata sejenak. Namun, saat hendak tidur, ponselku berdering. Begitu tersambung, suara Dylan yang marah langsung terdengar. "Chloe, ngapain kamu menggila lagi? Sudah kubilang, aku akan menikahimu, kenapa kamu terus-menerus lampiaskan amarahmu ke Lydia?" "Aku susah payah bawa dia liburan untuk menyambut tahun baru, kenapa kamu harus merusak suasana sih? Minta maaf padanya. Kalau nggak, jangan salahkan aku kalau nanti di hari pertama tahun baru, aku nggak bersikap baik padamu." Aku mengernyit dan merasa suaranya begitu mengganggu. Dylan masih terus bicara tanpa henti. Tapi aku langsung menutup telepon dan memblokir nomornya dengan kesal. Hari aku keluar dari rumah sakit, bertepatan dengan malam tahun baru. Sesampainya di rumah, aku mengemasi semua barang yang berhubungan dengan Dylan dan membuangnya. Pakaian, sikat gigi, bahkan buku-buku yang Dylan beli, semuanya aku kemas dan buang. Barang-barang Dylan tidak seharusnya ada di sini karena aku yang membeli rumah ini. Setelah itu, aku kembali ke rumah lama untuk makan malam tahun baru. Saat menonton acara malam tahun baru, aku pun bosan dan bermain ponsel. Tiba-tiba, sebuah pertunjukan kembang api muncul sebagai berita terviral. Melihat singkatan DS dan LA, aku langsung menebak bahwa itu adalah pertunjukan kembang api yang disiapkan Dylan untuk Lydia. Benar saja, tidak lama kemudian, Lydia mengirimkan video. [Wanita tua, Dylan bilang pertunjukan kembang api ini hanya untukku. Emang kenapa kalau kalian berteman sejak kecil? Emang kenapa kalau kamu hamil? Pada akhirnya, kamu tetap nggak bisa dapat cinta dari Dylan.] [Tiba-tiba aku merasa, kalau kalian nikah juga nggak masalah. Lagi pula, yang dicintai Dylan adalah aku.] Saat itu, muncul pesan dari kontak dengan foto profil hitam di bagian atas layar. Aku melihat pesan itu dan tersenyum tipis. Biarlah malam ini menjadi pesta terakhir bagi pasangan menjijikkan itu. Pada hari pertama tahun baru, Keluarga Stevens telah memesan ruang VIP untuk membahas pertunangan antara kedua keluarga. Namun, Dylan yang seharusnya menjadi tokoh utama, tidak kunjung datang. Wajah ayah Dylan serius dan berkata dengan suara dingin, "Ada apa dengan Dylan ini? Kalau dia bertingkah seperti itu saat tahun baru, aku masih bisa maklum, tapi di hari yang penting seperti ini, dia malah terlambat. Semua ini karena kamu manjakan dia. Kamu yang terlalu sayang sama dia, makanya dia jadi hancur gini. Begitu dia datang, aku pasti akan memberinya pelajaran." Ibu Dylan juga terlihat cemas. Setelah dimarahi ayah Dylan, dia hanya menundukkan kepala dengan sedih. Di meja makan, semua orang menunggu Dylan dengan wajah muram. Namun aku tahu, Dylan sedang berada di lantai bawah. Dylan sedang menunggu, menunggu aku minta maaf pada Lydia. Keterlambatannya hari ini adalah pelajaran yang dia berikan padaku. Aku juga sedang menunggu, menunggu seseorang. Aku menenangkan kedua keluarga tanpa menghiraukan ponsel yang terus-menerus bergetar. Setengah jam kemudian, akhirnya ponselku diam. Bersamaan dengan itu, pintu ruangan tiba-tiba didorong keras. Dylan melangkah masuk dengan wajah menggelap dan langsung menuju ke arahku. "Chloe, aku sudah bilang, minta maaf pada Lydia. Ngapain pura-pura nggak tahu? Ini kesempatan terakhirmu. Kalau kamu nggak minta maaf, pertunangan hari ini batal!" Seketika, ruangan menjadi sunyi senyap. Ayah Dylan memukul meja dan berdiri, lalu menunjuk Dylan dengan marah. "Anak durhaka! Apa yang kamu bilang barusan? Selain terlambat, kamu bahkan mau ancam Chloe? Minta maaf pada Chloe! Minta maaf!" Wajah ayahku menjadi sangat muram, dia mendengus dingin. "Victor, anakmu benar-benar luar biasa. Putri Keluarga Hortonku ini tampaknya sama sekali nggak berarti di matanya." Wajah ayah Dylan tampak sangat buruk. Dia memaksa Dylan untuk meminta maaf. Namun, Dylan bersikeras menolak. Tidak lama kemudian, Lydia juga berlari masuk sambil menangis. "Pak Dylan, tolong jangan marah demi aku. Aku nggak masalah mendapat perlakuan menyakitkan. Lagian sejak kecil aku sudah terbiasa menerima perlakuan seperti ini." Wajah Dylan makin kelam. Dia mendekat ke telingaku dan mengancam dengan suara rendah, "Chloe, kalau kamu nggak minta maaf, kita nggak akan nikah. Kita lihat saja apa keluargamu masih mau menerimamu, ketika kamu lahirkan anak di luar nikah." "Kalau itu terjadi, aku akan undang beberapa media besar untuk publikasikan bahwa putri tunggal Keluarga Horton melahirkan anak tanpa nikah. Saat itu, coba tebak, apa keluargamu akan terkena dampak?" Aku mendongak dengan cepat dan menatapnya tidak percaya. Dylan mengangkat alisnya dan mencoba membujukku. "Chloe, ini cuma soal minta maaf. Kalau kamu minta maaf, semuanya akan selesai. Aku juga akan bekerja sama hari ini untuk tetapkan tanggal pernikahan antara kedua keluarga. Kamu harusnya tahu harus gimana pilih, 'kan?" Ayahku memang marah, tapi sejak awal, dia tidak pernah menyatakan ingin membatalkan perjodohan. Hal ini membuat Dylan makin berani. Dia menungguku mengalah dengan percaya diri. Namun, pada detik berikutnya, pintu ruangan kembali terbuka. Sebuah sosok tinggi besar melangkah masuk.