Đang tải thông tin quảng bá...
Tak Sangka Dokter Itu Begitu
Aku seorang mahasiswi cantik yang kecanduan. Saking kecanduannya, akhirnya studi, kehidupan pribadi dan hubungan dengan pacarku menjadi terdampak. Karena aku benar-benar tidak tahu lagi harus bagaiman...
Chương (1)
第1章
Aku seorang mahasiswi cantik yang kecanduan.
Saking kecanduannya, akhirnya studi, kehidupan pribadi dan hubungan dengan pacarku menjadi terdampak.
Karena aku benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana, aku akhirnya menuruti saran pacarku untuk ke klinik kampus dan mengobati kecanduanku.
Ternyata dokter kampus yang merawatku adalah seorang pria bertubuh kekar dan kuat, teknik-tekniknya membuatku takut.
Dokter itu pun mengikatku di atas kasur pemeriksaan. Aku yang benar-benar merasa ketakutan hanya bisa menangis sambil memohon kepadanya.
Akan tetapi, pria itu malah mengangkat kedua kakiku dengan kasar ....
Bab 1
Aku seorang mahasiswi cantik yang kecanduan.
Saking kecanduannya, akhirnya studi, kehidupan pribadi dan hubungan dengan pacarku menjadi terdampak.
Karena aku benar-benar tidak tahu lagi harus bagaimana, aku akhirnya menuruti saran pacarku untuk ke klinik kampus dan mengobati kecanduanku.
Ternyata dokter kampus yang merawatku adalah seorang pria bertubuh kekar dan kuat, teknik-tekniknya membuatku takut.
Dokter itu pun mengikatku di atas kasur pemeriksaan. Aku yang benar-benar merasa ketakutan hanya bisa menangis sambil memohon kepadanya.
Akan tetapi, pria itu malah mengangkat kedua kakiku dengan kasar ....
...
Saat sedang menuju klinik kampus bersama pacarku, kecanduanku mendadak kambuh. Rasanya seperti ada banyak sekali ular yang menggerayangi bagian sensitifku, benar-benar menggelitik.
Pandanganku sontak menjadi kabur. Aku pun menatap pacarku untuk meminta bantuan sambil merapatkan kedua kakiku.
"Aduh, bikin malu saja!" umpat pacarku dengan suara pelan.
Air mataku mengalir turun. Waktu pertama kali aku bermasalah dengan kecanduan ini, pacarku sebenarnya merasa cukup senang. Sayangnya, lama-lama dia menjadi tidak sabar.
Dia akhirnya mengambil sebuah kaleng dari atas lantai, lalu menyerahkannya kepadaku, "Sana, lakukan sendiri."
Masalahnya, kaleng itu agak pendek.
Pacarku pun terdiam. Akhirnya, dia mencari-cari di dalam tempat sampah sebelum menemukan sebotol minuman soda yang sudah kosong untukku.
Aku bergegas masuk ke hutan kecil yang ada di lingkungan kampus, lalu segera melepas celana dan bersiap untuk memulai.
Tiba-tiba, ada yang memelukku dari belakang. Kukira itu pacarku.
Namun, saat berbalik badan, aku sontak terkesiap. Orang yang memelukku ternyata bukan pacarku!
Aku refleks mendorong pria itu menjauh dan hendak kabur, tetapi pria itu memelukku dengan erat. Aku akhirnya berseru minta tolong kepada pacarku, tetapi anehnya pacarku itu malah diam saja.
Mana mungkin dia tidak mendengar seruanku di tengah hutan yang sepi begini? Tiba-tiba, aku teringat pertanyaan pacarku beberapa hari yang lalu. Dia bertanya apa sebaiknya mencarikan pria lain untukku saja.
Sepertinya pacarku sengaja membiarkan pria asing ini masuk ke sini.
Botol itu masih berada di dalam. Tarikan-tarikan yang kuat membuat tubuhku akhirnya menjadi lemas. Tidak berapa lama kemudian, aku bahkan sudah tidak kuat lagi meronta.
Si pria asing langsung memanfaatkan kesempatan ini untuk menjatuhkanku. Aku sontak terkejut sekaligus takut, lalu balas memukuli pria asing itu dengan tenaga apa adanya.
Tepat saat pria asing itu hendak membuka kancing celananya, aku langsung melemparkan segenggam tanah ke wajahnya.
Jika pria asing itu tidak refleks menghindar, tanah itu sudah pasti masuk ke matanya.
Pria asing itu langsung balas menamparku dengan kencang. Dia juga memakiku sebagai seorang jalang yang sok suci.
Sepertinya pacarku mendengar ada yang salah, dia bergegas menghampiri kami.
"Kawan, pacarmu ini benar-benar menyebalkan. Dia hampir membuatku buta! Kamu cari orang lain saja!"
Pria asing itu membuang selembar uang seratus ribu ke atas tanah, lalu berjalan pergi dengan marah.
Pacarku pun membantuku berdiri sambil bertanya apakah aku baik-baik saja.
"Masih bisa kamu bertanya begitu?" sindirku sambil menangis lagi, hatiku terasa begitu pedih. "Bukannya ini semua salahmu?"
"Apa benar di dunia ini ada pacar sepertimu? Kamu bukan hanya membiarkan pria lain meniduri pacarmu, tapi kamu bahkan membayar pria lain itu! Dasar pria bajingan!"
"Bukannya kamu yang bermasalah sama penyakit ini!" Pacarku balik memarahiku, dia sama sekali tidak merasa tindakannya keterlaluan. "Kamu bisa hilang kendali kapan saja dan maunya kutiduri terus 24 jam! Ujian akhir itu sebentar lagi, kamu masih niat kuliah nggak sih?"
"Kalau ujianmu semua dapat nol, ya sudah nggak usah lulus saja sekalian!"
Setelah berkata seperti itu, pacarku langsung berbalik badan dan berjalan pergi dengan marah.
Aku menyeka air mataku, lalu bangkit berdiri dan bergegas mengejar pacarku.
Aku tahu ini salahku. Pacarku sudah cukup bersabar dengan tidak memutuskanku.
Semoga dokter kampus bisa menyembuhkan penyakitku ini. Jika tidak, mungkin aku harus beli jarum dan menjahit bagian sensitif ini.
Tidak lama kemudian, kami pun tiba di klinik kampus. Akan tetapi, tidak kusangka dokter yang muncul adalah seorang pria.
Aku memang sudah tidak perawan lagi, tetapi mana mungkin aku membiarkan seorang dokter pria memeriksa penyakit yang bersifat pribadi begini?
Aku refleks hendak keluar dari klinik, tetapi pacarku menggenggam tanganku.
"Kalau kamu nggak mau sembuh, sepertinya aku harus mempertimbangkan lagi soal hubungan kita."
Aku benar-benar menyukai pacarku, aku tidak mau putus darinya. Jadi, mau tidak mau aku akhirnya tetap berada di dalam klinik itu.
Tadi aku merasa begitu kaget, sekarang aku diam-diam memandangi dokter pria itu.
Dia tampan sekali, tubuhnya juga sangat memikat. Otot-otot yang terlihat pada tubuhnya membuat jas dokternya jadi tampak sangat keren.
Dia juga terkesan cukup berwibawa dengan sepasang kacamata berbingkai emas yang bertengger di batang hidungnya.
Aku terlalu seru memandangi dokter itu sampai-sampai sama sekali tidak menyimak pembicaraan pacarku dengannya.
Hingga akhirnya pacarku berkata, "Kalau begitu, aku pergi dulu, Dokter Arlo. Kutitipkan pacarku ke Dokter Arlo, ya."
Eh? Pacarku tidak mau menemaniku? Lalu, ucapannya barusan tentang menyerahkanku kepada dokter klinik ini terdengar benar-benar menjurus.
Setelah pacarku pergi, Dokter Arlo pun bertanya kepadaku di bagian mana aku merasa tidak nyaman.
Walaupun hal seperti ini sulit sekali untuk diutarakan, tetap saja aku harus jujur.
Dokter Arlo sama sekali tidak terlihat kaget mendengar jawabanku.
Saat aku bertanya apakah ada obat untuk menyembuhkan penyakit ini, dokter itu menjawab dia harus memeriksaku terlebih dahulu.
Aku pun menunjuk ke sebuah tempat tidur yang terletak di samping dengan gugup, lalu bertanya kepada Dokter Arlo haruskah aku berbaring di sana.
"Nggak usah, aku mau lihat dulu," jawab Dokter Arlo sambil berjongkok dan mulai melepaskan celanaku.
Aku refleks mencengkeram tangan Dokter Arlo dengan ketakutan. "Dokter mau apa?"
"Bagaimana caranya aku bisa memeriksa kalau celanamu nggak dilepas?" Dokter Arlo balik bertanya sambil mengernyit dengan tidak senang.
Wajahku sontak menjadi merah padam. Dokter satu ini terang-terangan sekali.
"Ka ... kalau begitu, biar aku sendiri yang lepas," ujarku dengan kikuk.
Aku pun membuka kancing celanaku sambil menahan rasa malu, lalu memperlihatkan pahaku yang putih dan ramping.
Aku bisa mendengar dengan jelas bagaimana Dokter Arlo menelan ludahnya.
Aku sontak terkejut. Jangan bilang Dokter Arlo tergoda olehku?
Detik berikutnya, dokter itu tiba-tiba mengangkat salah satu kakiku tinggi-tinggi dan merangkak ke bawahnya untuk mengamati bagian sana dengan saksama.
Rambutnya yang tebal dan kusut membuatku mendadak menjadi sangat sensitif.
Saat kepalanya menubruk, aku langsung kehilangan kendali.
Bab 2
Setelah itu, Dokter Arlo bangkit berdiri dan mengambil sehelai tisu yang terletak di atas meja.
Aku sontak merasa malu sekaligus marah saat melihat Dokter Arlo menyeka tangan dan wajahnya yang berlumuran noda-noda yang sudah tidak asing lagi itu.
Aku ini benar-benar wanita jalang. Aku sama sekali tidak bisa mengendalikan diri dan akhirnya mengotori wajah tampan dokter itu.
"Ma ... maaf, aku nggak bermaksud begitu," ujarku meminta maaf dengan suara pelan.
"Reaksi seperti itu normal kok. Buatku, kamu nggak lebih dari sekadar pasien," jawab Dokter Arlo dengan lembut. Aku pun merasa lebih tenang.
Aku menurunkan kakiku, tetapi Dokter Arlo berkata, "Tetap angkat kakimu. Aku belum selesai memeriksa."
Aku akhirnya terpaksa mengangkat kakiku yang satu lagi.
Setelah mengelap tangan dan wajahnya, Dokter Arlo mengeluarkan ponselnya dan memfoto bagian sana.
Saat melihat ekspresiku yang kebingungan, Dokter Arlo pun menjelaskan, "Punyamu terlalu lebat, aku nggak bisa melihat dengan jelas."
Ya ampun, memalukan sekali! Rasanya aku ingin mengubur diriku dalam tanah saja! Kupikir penyakit seperti ini cukup diberikan obat, tidak kusangka tahapan pemeriksaannya saja sudah begini. Seandainya saja aku tahu, aku pasti sudah mencukurnya dulu sampai bersih sewaktu masih di asrama.
Dokter Arlo menatap foto itu sejenak, lalu akhirnya menemukan penyebabnya. "Kamu menderita infeksi jamur akibat ketidakseimbangan flora alamiah yang ada di sana. Kamu agak terlambat baru ke dokter sekarang. Intinya, ini sudah nggak bisa sembuh dengan obat-obatan lagi."
Sebenarnya aku tidak begitu paham apa maksudnya, tetapi penjelasan itu terdengar serius. Aku pun langsung panik. "Kalau begitu, aku harus bagaimana?"
"Sekarang kita hanya bisa mengandalkan alat untuk membantu mengurangi sensitivitasmu. Coba berbaring dulu, kita lihat apa ada banyak titik yang sensitif atau nggak. Kalau ada banyak, berarti aku harus menambah dosis obatnya."
Aku ragu-ragu sebentar, tetapi tetap menuruti perintah Dokter Arlo.
"Buka sedikit kakimu," kata Dokter Arlo sambil setengah berlutut di pinggir kasur dan mulai mengulurkan tangannya untu memeriksa.
Tangannya terasa begitu dingin. Tubuhku sontak bergidik saat tangannya menyentuh kulitku.
"Rileks sedikit, kalau nggak nanti hasil pemeriksaannya nggak akurat."
Aku segera memejamkan mataku sambil mencoba untuk rileks.
Setelah itu, aku bisa merasakan adanya sepasang tangan besar yang dingin bergerak maju mundur di tubuhku. Gesekan yang terjadi dengan kapalan tipis pada ujung jemari itu membuatku merasa mati rasa.
"Gawat," batinku. Jika terus seperti ini, bisa-bisa aku kehilangan kendali lagi.
Otakku menyuruhku untuk meminta Dokter Arlo berhenti, tetapi tubuhku malah menyuruhku untuk meminta ditekan lebih kencang.
"Di sini terasa sensitif nggak?"
"Kalau di sini?"
Dokter Arlo terus menekan sambil bertanya.
Tidak lama kemudian, sekujur tubuhku jadi terasa lemas. Rasanya seperti ada bara api yang membara di dalam tubuhku, kepalaku jadi pusing dan otakku terasa kacau.
Aku takut makin tidak bisa mengendalikan diri, jadi aku hendak mencengkeram tangan Dokter Arlo.
Namun, belum sempat kucengkeram, tiba-tiba Dokter Arlo menekan salah satu titik.
Hanya satu tekanan dan aku langsung kalah.
Sekujur tubuh dan pikiranku seakan menjerit dengan gila.
Tubuhku juga mulai bereaksi dengan hebat.
Bibirku terbuka sedikit dan aku refleks membuka kakiku lebih lebar.
Di saat aku menginginkan lebih, Dokter Arlo justru mendadak menarik tangannya kembali.
Gerakan yang tiba-tiba usai itu membuatku merasa begitu kehilangan.
Dokter Arlo menyeka tangannya sambil berkata, "Aku sudah selesai memeriksa. Ternyata kamu punya banyak titik sensitif."
Ekspresinya terlihat biasa saja, tetapi aku menyadari ada bagian tubuhnya yang menonjol.
Apa mungkin Dokter Arlo yang terlihat berwibawa dan tenang ini sebenarnya adalah seorang pria yang ganas di atas kasur?
Siapa pun yang melihat tubuh yang jangkung, kekar dan berotot itu pasti langsung tahu bahwa dokter satu ini sangat ahli dalam urusan ranjang.
Ya ampun, apa sih yang kupikirkan!
Aku jadi takut dengan pikiranku sendiri. Untung saja Dokter Arlo tidak bisa membaca pikiranku, jika tidak dia pasti akan menganggapku kurang ajar.
"Apa sudah selesai, Dokter Arlo?"
"Sudah. Nah, sini kujelaskan soal cetakan yang akan kamu pakai.."
Dokter Arlo pun mengeluarkan sebuah kotak dari bawah dan membukanya.
Di dalamnya terdapat beberapa cetakan dengan panjang dan ketebalan yang berbeda.
Pembuluh darahnya juga tampak menonjol sehingga cetakan itu terlihat sangat realistis.
Wajahku sontak merona.
Meskipun begitu, Dokter Arlo tetap menjelaskan dengan serius dan sepenuh hati.
"Ini cetakan yang bisa kamu gunakan untuk membantu meredakan sensitivitasmu. Oleskan obat di atasnya, lalu gosok-gosok beberapa kali supaya efektif. Kamu harus menggunakan cetakan ini soalnya ada banyak sekali titik sensitif yang letaknya jauh di dalam."
"Kalau begitu, Dokter Arlo yang putuskan saja mana yang cocok buatku," ujarku agak malu.
"Aku cek dulu ukuran mana yang paling pas buatmu."
"Tapi, ini pemeriksaan bagian dalam, apa kamu perlu kehadiran pacarmu di sini?"
Kenapa juga pacarku harus di sini? Jika dia melihat pria lain melakukan hal semacam itu kepadaku, dia pasti akan langsung mencampakkanku detik itu juga.
Lagi pula, rasanya agak lebih seru jika dia tidak ada. Pada akhirnya, aku mengatakan tidak usah tanpa mengutarakan apa alasannya.
"Oke, kalau begitu kamu berbaringlah," kata Dokter Arlo sambil memasang tirai di tengah-tengah kami.
Aku menggigit bibirku dengan gugup, kedua tanganku mencengkeram seprai tempat tidur dengan erat. Aku merasa takut sekaligus penuh harap.
Tangan Dokter Arlo yang besar dan kasar itu kembali melingkupiku, sensasi mati rasa yang familier itu pun muncul lagi.
Berulang kali aku nyaris menjerit keenakan, jemari kakiku sampai mengerut di atas lantai.
"Punyamu ini dalam sekali, jadi susah ketemu. Aku harus ganti cetakannya."
Saat Dokter Arlo menarik tangannya, aku merasa seperti habis terjatuh dari puncak gunung ke dasar lembah.
Beberapa detik kemudian, aku mendengar suara ritsleting dibuka.
Sesaat kemudian, sesuatu yang terasa panas dan keras pun memasukiku. Aku sontak merasa ada yang tidak beres.
Aku refleks menarik tirai ke atas. Astaga ....