Terpisah Antara Dua Dunia

Đang tải thông tin quảng bá...

Terpisah Antara Dua Dunia

GoodNovel Hoàn thành

Seluruh dunia tahu bahwa John cinta mati dengan istrinya. Dia menulis lagu khusus untuknya, turun tangan membuat kue untuknya, bahkan setiap kalimatnya tak lepas dari “istriku”. Namun, Talita mene...

Chương (1)

第1章

Seluruh dunia tahu bahwa John cinta mati dengan istrinya. Dia menulis lagu khusus untuknya, turun tangan membuat kue untuknya, bahkan setiap kalimatnya tak lepas dari “istriku”. Namun, Talita menemukan kenyataan pahit, ternyata John yang begitu mencintainya selingkuh. Dia pun memanggil sistem dan mengajukan permintaan untuk keluar dari dunia ini. [Baik, jalur pelepasan mandiri telah dibuka. Dalam lima belas hari, anda akan meninggalkan dunia ini dengan cara kematian palsu. Lokasi kematian di pantai tempat anda pernah menyelamatkan pemeran pria, dengan cara melompat ke laut seolah bunuh diri.] [Mohon persiapkan diri anda untuk kematian ini.] Di hari ke-15, setelah semuanya direncanakan dengan matang, dia pun pura-pura melompat ke laut dan menghilang dari kehidupan John. Saat itulah, akhirnya John sadar dan menyesal setengah mati. Dia nyaris gila demi mencari kembali dirinya. Bab 1 [Tuan sudah yakin dengan keputusan ini? Kalau anda meninggalkan dunia ini, maka tidak akan bisa kembali lagi.] Suara sistem yang dingin terdengar sedikit ragu. Namun, Talita menjawab dengan yakin, “Aku sudah yakin, aku mau pergi.” [Baiklah, jalur pelepasan mandiri telah diaktifkan. Dalam lima belas hari, anda akan meninggalkan dunia ini lewat kematian palsu. Lokasi kematian di pantai tempat anda pernah menyelamatkan pemeran pria, dengan cara melompat ke laut.] [Mohon persiapkan diri anda untuk kematian ini.] Talita mengernyit, lalu membuka ponsel dan menghubungi pengacaranya untuk menyusun surat perceraian. Baru saja ingin meletakkan ponsel, notifikasi muncul. [Lagu ‘Hanya Kamu’ yang ditulis dan dinyanyikan John khusus untuk istrinya, berhasil menembus 1 miliar pemutaran!] Jari-jarinya sedikit gemetar saat menekan notifikasi itu. Di dalam artikel berita itu, terlampir sebuah video vlog rekaman proses John menciptakan lagu [Hanya Kamu]. Dalam video itu, John mengenakan pakaian santai, tubuh tinggi dan kaki jenjang, memeluk gitar sambil duduk di kursi roda lipat yang bisa naik turun, memetik melodi yang indah. “Lirik dan musiknya sudah selesai, melodi ini juga terinspirasi dari istriku.” “Aku dan dia pergi ke pantai memungut kerang. Angin laut meniup rambut panjangnya, ombak menyapu pergelangan kakinya. Dia menggulung lengan bajunya sampai ke siku dan perlahan membungkuk. Perlahan, sebuah melodi langsung terlintas di kepalaku.” “Istriku benar-benar pembawa keberuntungan! Aku akan mencintainya selamanya!” Talita menutup video tanpa ekspresi dan menggulir ke kolom komentar. Sudah bisa ditebak …. [Wah, ‘istriku’~ Manis sekali!] [Sudah kuhitung, dalam video sembilan menit ini, dia sudah menyebut ‘istriku’ sebanyak 199 kali! Dia cinta sekali dengan istrinya!] [Istrinya pasti sangat bahagia! Aduh, iri sekali. Kalau aku punya suami seperti ini, hidupku pasti sangat bahagia!] …. Semua orang tahu John cinta mati dengan istrinya. Namun, tak ada yang tahu, seperti apa pengorbanan Talita untuk John. Dia datang ke dunia ini dengan tubuh aslinya, hanya demi pria itu. Enam tahun lalu, dia menerima misi untuk menaklukkan John dan akhirnya bertemu dengannya. Saat itu, John sedang berada di titik terendah dalam karirnya, dihujat dan diserang habis-habisan oleh haters, bahkan sampai mengalami depresi. Talita menyelamatkannya dari serangan para haters, tapi tulang selangkanya malah terkena luka bakar akibat siraman air keras. Talita bahkan nekat melompat dari tebing ke laut demi menyelamatkan John dari ambang kematian. Tapi, karena suhu air laut yang terlalu dingin, dia mengalami kerusakan pada rahim dan tidak bisa mengandung lagi. Untungnya, John akhirnya jatuh cinta padanya dan menikahinya. Sebenarnya, Talita bisa kembali ke dunia asalnya setelah misi selesai, tapi dia memilih tetap tinggal demi pria ini. Setelah menikah, john sangat melindunginya. Tak seorang pun tahu siapa sebenarnya ‘istri misterius’ itu. Tapi, semua orang tahu John sangat bucin dengan istrinya. Di vlog hariannya, John berkata, “Kue kering palmier ini sangat susah dibuat, tapi karena istriku suka, sesusah apapun pasti akan kupelajari.” “Tadi malam aku rekaman lagu baru dan nggak pulang, tapi untungnya aku tetap orang pertama yang mengucapkan selamat pagi ke istriku!” Semua itu adalah bukti betapa dalam cinta John padanya. Namun, bahkan Talita sendiri tak pernah menyangka, pria yang mencintainya sehidup semati ini, pada akhirnya tetap mengkhianatinya. Talita membuka MV [Hanya Kamu], melihat pemeran wanita yang duduk di pinggir pantai sambil mengayun-ayunkan kakinya. Wajah gadis itu cukup mirip dengan dirinya pada saat muda. Talita melamun, tidak sadar kalau John sudah pulang dan berdiri di belakangnya. Hangatnya suhu tubuh dari belakang membuatnya reflek mengernyit dan merinding. Aroma samar parfum wanita membuatnya mual. “Maaf, sayang. Habis wawancara tadi aku diajak makan bersama perusahaan, jadi pulangnya agak telat.” Talita menunjuk gadis di layar ponselnya dan menoleh ke arah John, “Dia juga ikut?” John melirik sebentar, ekspresinya tetap tenang. Dia berlutut dan mengelus tangan Talita dengan lembut. “Ivy itu pemeran utama MV-nya, dia juga selebgram, jadi dia bantu promosi lagu ini, tentu saja dia ikut.” Talita tak menjawab, tapi matanya menangkap jelas ada bekas lipstik di kerah baju John. Bahkan makan malam dengan pihak perusahaan pun tak menghalangi dia untuk berselingkuh. Rasa mual yang sejak tadi ditahannya akhirnya tak tertahankan lagi. Talita mendorong John dengan keras dan berlari ke kamar mandi untuk muntah. Bab 2 John sempat terpaku di tempat selama beberapa detik, lalu bergegas ke kamar mandi dan menepuk-nepuk punggung Talita dengan lembut. “Sayang, kamu … hamil?” Nada suaranya yang penuh harap tak bisa disembunyikan, membuat Talita tersenyum pahit. Setelah rasa mual mereda, Talita mengatur napas dan perlahan berdiri tegak. “Kamu lupa? Dokter bilang aku mandul.” Namun, John tetap tak bisa menyembunyikan kegembiraannya, “Besok kita ke rumah sakit saja, siapa tahu masih ada harapan?” Usai bicara, dia langsung mengambil ponselnya dan membuat janji dengan dokter. Talita membuka mulut, ingin bicara, tapi akhirnya tak jadi mengatakan apa-apa. Keesokan paginya, mereka mengenakan masker dan topi, lalu pergi ke rumah sakit. Itu rumah sakit swasta dan dokternya juga orang yang dikenal baik oleh John. “Rahim Bu Talita pernah mengalami kerusakan parah. Dari hasil pemeriksaan, kemungkinan untuk hamil nyaris nol.” Meski sejak awal sudah tak berharap, ucapan dokter tetap saja terasa menusuk hati Talita. Jika tiga tahun lalu, setelah menyelesaikan misinya, dirinya memilih kembali ke dunia asal, tubuhnya pasti akan tetap sehat. Namun, dia menolak untuk kembali. Meski sekarang dirinya memilih kembali, dirinya hanya bisa kembali dengan tubuh yang sudah rusak ini. Namun, asalkan bisa pergi, itu sudah cukup baginya. Tatapannya sekilas menoleh pada John yang terlihat kecewa di sebelahnya. Namun, hanya sebentar wajah John langsung kembali ceria dan memeluk Talita. “Nggak apa-apa, sayang. Kalau ke depannya kita mau punya anak, kita bisa adopsi saja.” Talita mendorong pelukannya dengan ekspresi datar. “Ada anak atau nggak sudah nggak penting lagi.” John menggenggam lengannya, “Benar, yang penting kita tetap bersama.” Talita menunduk dan dalam hati berkata, itu pun sudah tak mungkin lagi. Dokter bilang rasa mual dan ingin muntah tadi malam kemungkinan besar disebabkan oleh depresi dan tekanan batin, jadi tidak ada yang serius. Keluar dari rumah sakit, John mengusulkan untuk mengajak Talita jalan-jalan ke Ocarina agar bisa menyegarkan pikiran. Talita tidak menolak, dia memang ingin sekali melihat laut itu lagi. Itu adalah tempat pertama yang dilihatnya saat datang ke dunia ini. Dulu, John pernah melompat ke laut itu karena depresi dan cukup lama trauma dengan tempat itu. Talita yang perlahan-lahan menyembuhkannya, membuatnya jatuh cinta lagi pada laut. Namun sekarang, saat datang ke tempat itu, hati Talita sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Laut itu terletak agak terpencil dan sepi, cocok untuk menenangkan diri. Angin laut akhir tahun bertiup menerpa mereka. Talita merapikan jaketnya, merapatkan tubuhnya. Dia memang mudah kedinginan. John buru-buru melepas jaketnya dan memakaikannya ke tubuh Talita, lalu memeluknya dari belakang. “Kayak gini, biar nggak dingin.” Sepasang nenek dan kakek berjalan melewati mereka sambil bergandengan tangan. Nenek berkata, “Lihat, anak muda zaman sekarang romantis sekali.” Kakek tak mau kalah, mengangkat tangan mereka yang saling menggenggam, “Cih, kalau sampai setua kita masih seromantis ini, baru hebat namanya.” Mereka tertawa dan berjalan menjauh. Tubuh Talita mendadak menjadi tegang. Iya, dia dan John memang tak sehebat itu. Baru tiga tahun menikah, sudah ada yang berubah hati. John tak menyadari perubahan sikapnya, malah menggesekkan wajahnya ke telinga Talita dengan manja dari belakang. “Sayang, kita juga bisa seperti mereka, mesra sampai tua.” Rasa mual itu kembali datang, Talita benar-benar ingin membongkar semua sandiwara manisnya itu. Tiba-tiba, ponsel John berdering. Dia melihat layarnya sebentar, tapi tak langsung mengangkat. Setelah ragu sejenak, dia berkata pada Talita, “Sayang, tunggu sebentar, ya. Aku angkat telepon dulu.” Satu menit kemudian, dia kembali dengan wajah penuh rasa bersalah, “Maaf sayang, aku nggak bisa temani kamu lagi. Ada urusan mendadak dari kantor penerbit, aku harus ke sana sekarang juga." Talita tidak menjawab, hanya melepas jaket John dan menyerahkannya kembali, memberi isyarat agar dia pergi saja. John memandangi ekspresi Talita yang datar, seolah ingin bicara sesuatu, tapi akhirnya mengurungkan niat. Akhirnya, dia hanya berkata, “Kamu juga pulanglah lebih awal, jangan terlalu malam.” Lalu pergi. Talita menyipitkan mata, menatap sosok John yang semakin lama semakin jauh dengan wajah penuh sindiran. Kantor penerbit? Dia jelas-jelas sempat melihat nama Ivy terpampang di layar ponselnya tadi. Belum sempat marah, angin dingin kembali berhembus. Tiba-tiba ada aliran hangat yang mengalir di bawah tubuhnya, lalu perutnya terasa nyeri luar biasa. Seketika, wajah Talita langsung berubah pucat. Bab 3 Talita dirawat di rumah sakit terdekat Ocarina. Karena mengalami kerusakan pada rahim, setiap kali datang bulan, dia selalu merasakan sakit yang luar biasa. Awalnya, setiap kali menjelang haid, dia selalu merasa cemas. John yang tak tega dia kesakitan, sesibuk apapun, dia selalu meluangkan waktu untuk menemaninya tanpa beranjak sedikit pun, menghangatkan perutnya dan membuatkan wedang jahe untuknya. Karena ada John, lama-lama Talita pun jadi tidak terlalu memperhatikannya lagi. Setiap kali datang bulan, justru John yang selalu mengingatkan duluan, barulah dirinya sadar kalau dirinya akan segera datang bulan. Namun kali ini, John pun lupa. Setelah minum obat pereda nyeri, Talita bersandar di ranjang rumah sakit dan memanggil sistem. “Bantu aku lacak posisi John sekarang.” [Baik, tuan.] Bunyi ‘ting’ terdengar dan di kepala Talita muncul peta pelacakan. John terlihat sedang berada di Jalan Agung. Tiga menit kemudian, dia berpindah ke sebuah gedung bernama Winsor, blok 13. Itu tempat tinggal Ivy. Talita membuka tiktok dan mencari akun Ivy, lalu masuk ke siaran langsungnya. “Selamat datang buat teman-teman yang baru bergabung.” Ivy melirik jam tangannya, “Tapi sebentar lagi aku sudah mau tutup siarannya, soalnya pacarku mau datang.” Suara Ivy terdengar manja dan lembut, memberi kesan yang sangat nyaman. Baru saja selesai dia bicara, suara pintu terbuka terdengar dari sana. Wajahnya langsung berseri-seri penuh suka cita. Dia mematikan mikrofonnya, mendongak menatap ke samping, matanya berbinar seperti anak anjing yang menanti belaian tuannya. Detik berikutnya, lengannya dirangkul seseorang. Orang itu langsung menunduk dan menciumnya dengan penuh gairah, seolah tak sabar sedetik pun. Meski wajah pria itu tak kelihatan, penonton langsung heboh. [Ahh, manis sekali! Cium lagi, mau lihat!] [Niatnya hanya mau nonton siaran langsung, malah dapat tontonan romantis seperti ini.] [Keterlaluan sekali, beraninya ciuman di depan kami! Tapi, aku suka melihatnya!!] …. Berbeda dari para penonton yang antusias, Talita justru seperti disiram air es. Rasa dingin itu merambat dari dalam, membuat seluruh tubuhnya gemetar hebat. Pria itu adalah John. Lengan bajunya yang setengah terlihat di layar adalah baju yang sama yang dikenakan John. Mengingat bahwa jaket itu masih melekat di tubuhnya satu jam yang lalu, Talita langsung merasa mual. Di siaran langsung, pasangan itu berciuman hampir satu menit, masih enggan berpisah. Talita pun membalikkan ponselnya dengan kesal. Beberapa saat kemudian, mikrofon di siaran kembali menyala. Ivy tertawa kecil dengan wajah malu-malu, suaranya terdengar manja, “Maaf, ya sayang-sayangku, pacarku sudah datang. Aku mau tutup siarannya dulu. Sampai bertemu besok~” Talita mengambil ponsel dan sempat melihat komentar yang membanjiri layar sebelum siaran ditutup. [Sudahlah, kami mengerti kok. Nggak mau ganggu kegiatan pasangan muda seperti kalian~] Talita tersenyum tanpa suara. Di dalam kepalanya terasa seperti ada senar yang dipetik sembarangan, membuat pikirannya berdengung tak karuan. Malam itu, Talita menginap di rumah sakit, tidurnya sangat tidak tenang. Saat bangun keesokan paginya, yang pertama dilihatnya adalah John yang tertidur sambil menggenggam tangannya di samping ranjang. Talita menahan rasa tak nyaman, lalu menarik kembali tangannya pelan. John langsung terbangun. Melihat Talita sudah sadar, dia buru-buru menggenggam tangannya lagi dengan wajah penuh rasa bersalah. “Maaf ya, sayang. Beberapa hari ini aku terlalu sibuk sampai lupa kamu lagi haid. Ini semua salahku, aku yang membuatmu menderita.” Iya, mengurus dua perempuan sekaligus, mana mungkin tidak sibuk? Talita berniat menarik kembali tangannya, tapi John malah menggenggamnya lebih erat. “Kenapa kamu nggak telepon aku semalam? Aku pulang ke rumah, lihat kamu nggak ada, rasanya panik sekali.” “Lain kali harus kabarin aku, ya. Nggak ada yang lebih penting dari kamu.” Dulu, Talita pasti akan menangis tersedu-sedu karena terharu mendengar kalimat seperti itu. Tapi sekarang, dia hanya menatapnya dengan pandangan datar, lalu memalingkan wajah dan memejamkan matanya. “Aku masih sangat capek, mau istirahat lagi.” John terdiam, melihat sikap Talita yang begitu dingin, hatinya mendadak gelisah. “Sayang ….” Belum sempat lanjut bicara, ponselnya bergetar. Dia pun melirik layar. Beberapa saat kemudian, John yang tadi menolak pergi dan terus menggenggam tangan Talita, tiba-tiba berubah pikiran. “Kalau begitu, kamu istirahat dulu, ya. Aku keluar sebentar buat beliin bubur.” Begitu dia pergi, Talita langsung membuka mata, bangkit dari ranjang dan diam-diam mengikutinya. Bab 4 John berjalan melewati lorong, menuju ke poli kandungan, lalu masuk ke ruang tangga darurat. Pintu ruang tangga hanya tertutup satu dan dari tempat Talita berdiri, dia bisa melihat dengan jelas seorang gadis mungil dan berwajah manis. Itu Ivy. Melihatnya, John langsung mengernyit, “Kenapa kamu ke sini?” Wajah Ivy cemberut dan menunduk, tapi matanya melirik ke atas menatapnya dengan wajah penuh rasa sedih. “Pagi-pagi buta pas aku bangun kamu sudah nggak ada, aku takut!” Sambil bicara, matanya sudah bergenang air mata. Wajah John langsung terlihat iba dan memeluk gadis itu dengan lembut. “Takut apa? Aku nggak bakal hilang.” Ivy mengusap wajahnya ke dada John, “Sebenarnya bukan hanya takut, tapi aku juga rindu denganmu.” John mengelus puncak kepalanya dengan manja, “Kok kamu jadi begitu lengket denganku?” Ivy tidak menjawab, hanya menatapnya dari bawah seperti anak anjing kecil, dengan tatapan yang penuh cinta. Itu tatapan yang paling mudah membuat laki-laki tergoda. Sama persis seperti dulu saat Talita menatap John. “John, kamu cinta nggak denganku?” Begitu pertanyaan itu terucap, Talita tanpa dasar menahan napas, jantungnya ikut berdebar kencang. Wajah John memuram, bibirnya sempat bergerak tapi tak menjawab. Dia malah tiba-tiba mendorong gadis itu ke dinding dan mencium bibirnya dengan kasar. Seolah belum cukup, dia pun beralih ke leher gadis itu, menghisapnya pelan, meninggalkan jejak merah yang terlihat jelas. Mata Talita terasa perih dan jantungnya seakan diremas kuat-kuat hingga dirinya kesulitan bernapas. Itu adalah tanda kalau John sedang terbawa emosi. Dulu, saat dirinya menatap John seperti itu, John juga selalu kehilangan kendali. Talita menarik napas panjang, membalikkan badan dan hendak pergi. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar ucapan Ivy berikutnya. “John, aku hamil. Kamu harus tanggung jawab.” Dengan reflek, Talita menoleh untuk melihat reaksi John. Pria itu langsung membeku, sempat terdiam beberapa saat. Lalu, matanya memancarkan kegembiraan yang begitu jelas, meski akhirnya mengernyit kebingungan. Talita tahu, John memang sudah lama menginginkan seorang anak. Dia pun tidak melanjutkan mendengar percakapan mereka dan kembali ke kamar rawat. Dua puluh menit kemudian, John pun kembali dengan membawa dua porsi bubur ayam dengan telur pitan. “Bagaimana? Sudah mendingan belum?” Dia meletakkan bubur ke atas meja, lalu membungkuk, ingin mencium kening Talita. Talita mengernyit dan memalingkan wajah, menghindar. John langsung terdiam dengan penuh tanya. “Aku lapar, ayo makan.” Butuh waktu lama, sampai akhirnya John kembali berdiri tegak. Dia memandang Talita, tampak ingin bicara tapi ragu. “Sayang, akhir-akhir ini aku lihat kamu murung terus, ada apa?” “Apa pun masalahnya, kamu bisa cerita ke aku. Aku pasti bisa menyelesaikannya untukmu.” Sambil bicara, dia membuka bungkusan bubur dan menyodorkannya ke depan Talita. Talita menerimanya, lalu berkata pelan, “Nggak ada apa-apa, mungkin hanya lagi nggak enak badan.” Mendengar itu, John menahan rasa paniknya dan menghela napas lega. Talita masih perlu menginap satu malam lagi di rumah sakit dan baru keluar keesokan harinya. Hari-hari setelah itu, dia menghabiskan waktu di rumah, membereskan semua kenangan masa lalu. Hadiah ulang tahun dan hadiah peringatan pernikahan yang pernah mereka tukar. Foto-foto saat liburan, tiket kereta, tiket masuk tempat wisata dan suvenir. Tiket film yang pernah mereka tonton bersama, tiket konser dan berbagai jenis tiket lainnya. …. Melihat tumpukan kenangan yang berhasil dikumpulkan itu, hati Talita terasa linglung. Ternyata, enam tahun bisa dilalui dengan begitu banyak hal. Dia melirik ke arah sofa, tempat John duduk mendengarkan CD. Alat pemutar CD terus memutarkan lagu, alunan musik pun terdengar mengalun. Namun, John yang biasanya sangat fokus mendengarkan musik, kali ini malah melamun sambil menatap layar ponselnya. Beberapa hari ini, dia memang jarang keluar rumah, tapi pikirannya terus melayang entah ke mana. Di layar ponselnya terpampang foto hasil USG berwarna. Talita hanya melirik sekilas, lalu segera mengalihkan pandangannya. Saat makan siang, John menerima telepon dari temannya yang merupakan sutradara MV. “John, jumlah penonton MV pecah rekor lagi. Ayo kita rayakan, ajak pacarmu juga, ya.” Ekspresi John langsung panik. Dia menoleh ke arah Talita dengan gugup. Begitu melihat Talita tak bereaksi apa-apa, seolah tak mendengar, barulah dirinya menghela napas pelan dan mengiyakan. Setelah John keluar rumah sore itu, Talita mengirim pesan pada pengacaranya, mengatakan bahwa dirinya akan mengambil surat perjanjian cerainya. Bab 5 Sebenarnya surat cerai sudah dicetak sejak lama, tapi karena John terus berada di rumah beberapa hari ini, Talita malas menimbulkan keributan, jadi dia belum mengambilnya. Setelah mengambil surat itu, dia pun mengemudi pulang. Suara sistem yang dingin terdengar, [Setelah malam ini, tuan hanya punya 7 hari tersisa di dunia ini. Jalur pelepasan telah terbuka 50%. Mohon selesaikan semua urusan dalam waktu 7 hari yang tersisa.] Setelah itu, sistem menghilang begitu saja. Talita tetap menyetir dengan wajah datar. Tiba-tiba, dia melihat Ivy sedang berjalan menuju restoran barbeque di pinggir jalan. Dia tertegun selama beberapa detik, lalu menghentikan mobilnya. Saat makan siang tadi, sebenarnya Talita sempat samar-samar mendengar sedikit isi percakapan telepon John. Tak banyak, tapi cukup untuk menangkap kata-kata “pesta perayaan” dan “pacar”. Entah kenapa, dia malah mengikuti Ivy masuk ke ruang makan tempat mereka berkumpul. Begitu Ivy masuk, langsung terdengar suara riuh menyambut. “Wah, pacar penyanyi besar datang juga!” Ivy membalas sapaan mereka dengan anggukan sopan, “Halo semuanya.” “Ayo, silakan duduk. Kalau masih ada yang mau dipesan, bilang saja. Jangan sampai John bilang kami nggak menjamu pacarnya dengan baik.” Tawa menggema di ruangan. John berbatuk pelan, lalu menarik Ivy duduk di sebelahnya. “Nggak perlu repot-repot, Ivy lagi nggak boleh makan makanan seperti ini.” Melihat Ivy malu-malu dan pipinya merah merona, suasana sempat hening beberapa detik, hingga seseorang memecah kesunyian. “Nggak bisa makan seperti ini … jangan-jangan dia hamil?” Ivy menunduk, tubuhnya sedikit bersandar ke arah John. Semua orang langsung tahu jawaban dugaan mereka. Setelah diam beberapa saat lagi, seseorang berkata, “Kalau begitu, harus dirahasiakan nih. Jangan sampai Kak Talita tahu.” Mendengar itu, wajah John langsung membeku dan memucat. Ivy menatapnya dengan cemas. Di luar ruang makan, Talita menyipitkan matanya. Rasa dingin menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun, berubah menjadi amarah. Seakan ada sesuatu dalam pikirannya yang tiba-tiba meledak. Dia mengenal semua teman John, tapi demi menjaga privasinya, selama ini dirinya memang jarang berinteraksi dengan mereka. Namun, mereka semua tahu siapa dirinya, tahu kisah antara dirinya dan John. Dan sekarang, tampaknya mereka juga tahu soal keberadaan Ivy. Talita menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum manis dengan sopan dan tiba-tiba mendorong pintu ruang makan. “Halo semuanya, kebetulan aku lewat sini, jadi mampir menumpang makan, ya.” Yang menyambutnya hanyalah keheningan sepuluh detik. Begitu Talita masuk, ekspresi John dan teman-temannya langsung kaku, sangat tidak enak dipandang. Talita tersenyum dan memandang satu per satu wajah mereka. “Kenapa? Nggak menyambutku?” Barulah yang lain sadar dan buru-buru menyahut, “Mana mungkin, ayo silakan duduk, kak.” Namun, di sebelah John ada Ivy, jadi tidak ada tempat kosong. Orang yang barusan bicara hanya bisa tersenyum canggung, bingung mau menempatkan Talita di mana. Pandangan John terus menatap ke arah Talita. Dia berdiri secara reflek. Namun, Talita sama sekali tak terganggu, dia langsung duduk di hadapan John, “Nggak perlu repot, aku duduk di sini saja.” John pun mengernyit. Di tengah makan, Talita menatap Ivy dan berkata, “Kamu pasti Ivy, ya? Aslinya memang lebih cantik dari di MV.” “Eh, kalau dilihat-lihat, wajahmu mirip denganku waktu muda.” Mendengar itu, tubuh John langsung menegang, “Dia nggak secantik kamu waktu muda.” Talita menaikkan alis, sedangkan wajah Ivy langsung pucat, sorot matanya menyiratkan kesedihan. Yang lain hanya saling pandang, tak ada yang berani bicara. Namun dalam sekejap, Ivy sudah kembali menunjukkan senyuman lembut, seakan tak peduli dengan ucapan John barusan. “Kamu nggak makan? Dari tadi duduk, tapi belum sentuh makanan sama sekali,” tanya Talita pada Ivy. Ivy tersenyum, tangannya menyentuh perutnya dan menjawab, “Aku lagi hamil, nggak bisa makan makanan yang berminyak begini.” Sambil bicara, dia juga menoleh ke John dengan ekspresi penuh makna. Suasana menjadi semakin tegang, tak ada yang berani bersuara. John tak menghiraukan tatapan Ivy dan malah menatap Talita dengan kening berkerut. Dia ingin bicara, tapi Talita lebih dulu buka suara, “Oh, memang harus lebih hati-hati kalau lagi hamil.” Nada bicaranya seolah tak menyadari ada yang aneh. Namun tiba-tiba, Talita meletakkan alat makannya dan berdiri. Bab 6 “Kalian lanjut makan saja, aku sudah selesai. Masih ada urusan di rumah, aku pamit dulu, ya.” Talita tersenyum tipis, mengabaikan ketegangan semua orang di ruangan, lalu melangkah keluar dari ruang makan. Toh, tujuan kedatangannya hanya untuk mengerjai mereka. Dan itu berhasil, semua orang makan dalam ketakutan, seolah-olah sedang menelan kotoran. John tak tahan lagi. Dia meninggalkan teman-temannya dan buru-buru mengejarnya. “Sayang, dengarkan aku ….” Talita menoleh dengan ekspresi yang pura-pura bingung, “Kenapa? Bukannya masih acara perayaan? Kok nggak temani teman-temanmu?” John menatapnya lekat-lekat dan bertanya, “Kamu nggak marah?” Talita melanjutkan langkah sambil tersenyum, “Kenapa aku harus marah?” John cepat-cepat menyusulnya, “Itu … soal Ivy duduk di sebelahku, itu benar-benar kebetulan. Aku hanya mencintaimu, aku nggak akan mengkhianatimu.” Talita menanggapinya dengan enteng, “Aku tahu, lagipula ada pria lain juga di sebelahnya.” “Aku percaya padamu.” Tiga kata itu diucapkan dengan pelan dan jelas, sambil tersenyum samar, sulit ditebak maknanya. Tiba-tiba, John merasa seolah tak mengenal Talita. Tapi, perasaan itu pun sulit dijelaskan dengan kata-kata. Dia terdiam lama, baru kemudian bertanya dengan hati-hati, “Benar?” “Iya.” Mendapat jawaban pasti, akhirnya John menghela napas lega, tapi entah kenapa, perasaan tak nyaman masih menggantung di hatinya. “Kalau begitu, tunggu aku sebentar. Aku bilang dulu ke mereka, nanti kita pulang bersama.” Usai bicara, tanpa memberi kesempatan Talita menolak, John langsung kembali ke ruang makan. Sementara itu, Talita memanfaatkan waktu untuk menyembunyikan surat perjanjian cerai di dalam mobil. Setelah itu, John nyaris tak beranjak dari rumah, menemaninya selama dua hari penuh. Talita merasa agak jengkel. Untung saja di hari ketiga, perusahaan rekaman untuk album John yang lain menghubunginya untuk kerja sama, jadi John pun pergi ke studio. Dua jam kemudian, John meneleponnya. “Sayang, ada selembar kontrak di atas meja ruang rekaman, aku lupa bawa tadi. Aku butuh itu sekarang, bisa tolong antarkan ke sini?” Talita mengiyakan dan mengantar kontrak itu ke studio. Dia bahkan melihat sendiri proses penandatangannya. Setelah pihak perusahaan pergi, John melirik ponselnya, lalu telinganya tampak agak memerah. Tak lama kemudian, dia mendekat dan memeluk pinggang Talita. “Terima kasih, sayang. Tapi aku harus rekaman ulang, jadi nggak bisa pulang bersamamu.” Nada suaranya terdengar menyesal, Talita pun diam-diam menghindar sedikit darinya. “Nggak apa-apa, aku bisa pulang sendiri.” “Kalau begitu, aku pesankan kue kering palmier dan mille crepe durian kesukaanmu ke rumah.” Usai bicara, John ingin mencium keningnya, tapi Talita pura-pura tak melihat dan malah menunduk menepuk debu di celana lututnya. Begitu keluar dari studio, Talita melihat Ivy turun dari sebuah mobil. Ivy juga melihatnya, tapi tak menyapa. Ivy hanya melonggarkan genggaman di kerah mantelnya, lalu masuk ke studio tanpa menoleh. Talita mengangkat alis dan melihat dada putihnya yang setengah terlihat di balik mantel, terlihat juga tali berenda hitam di bahunya. Saat angin berhembus, kaki jenjang dan putih di balik ujung mantel pun tampak samar-samar. Di balik mantelnya, Ivy hanya mengenakan satu set lingerie seksi. Satu menit kemudian, Talita berbalik dan masuk kembali ke studio. Begitu masuk ke ruang rekaman, Ivy langsung melepas mantelnya. Jakun John bergerak naik turun. “Kamu datang memakai ini?” Ivy langsung memeluknya, “Bukannya kamu yang sengaja menyuruh Kak Talita pulang karena lihat foto yang kukirim?” “Kamu nggak menghubungiku dua hari ini, satu pesan pun nggak ada. Aku takut kalau aku nggak menggodamu lagi, kamu bakal lupa denganku!” “Aku nggak sengaja sebut soal kehamilan di depan dia malam itu. Aku hanya terlalu sayang denganmu, jadi nggak bisa menahan diri. Jangan marah, ya?” Talita berdiri di luar pintu dan mendengar semuanya. Tak lama kemudian, terdengar suara napas berat John, disusul bunyi berderit dari gesekan meja. Suara Ivy yang gemetar pun terdengar tak beraturan, “John, pelan-pelan … aku lagi hamil ….” John menarik napas dalam-dalam, suaranya tertahan, “Iya … iya, aku pelan-pelan ….” Dengan wajah datar, Talita menekan tombol untuk menghentikan rekaman di ponselnya, lalu melangkah pergi dengan tenang. Bab 7 Saat John pulang ke rumah, jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dia membawakan semangkuk seblak untuk Talita. Talita meliriknya sekilas, “Aku sudah makan malam, nggak lapar sekarang.” John terdiam sejenak, “Kalau begitu, simpan saja dulu.” Dia duduk di samping Talita dan menggenggam tangannya, “Sayang, besok aku ada urusan ke Kota Belia, mungkin harus pergi lima hari ….” “Iya, aku tunggu kamu pulang.” Jawab Talita dengan senyuman ringan. John tertegun, keningnya sedikit mengernyit, “Kamu nggak tanya untuk urusan apa?” “Memangnya perlu ditanya? Aku percaya denganmu.” John memandangi wajahnya beberapa detik, ada rasa bersalah di tatapannya. Dia merangkul bahu Talita, “Sayang, tenang saja. Begitu urusan ini selesai, aku janji akan lebih banyak habiskan waktu bersamamu.” Sudut bibir Talita terangkat sedikit, membentuk senyuman sinis yang samar. Tak perlu, lagipula tiga hari lagi, dirinya juga akan pergi. Awalnya, saat memikirkan kepergiannya, Talita sempat merasa sedih dan berat hati. Bagaimanapun, ini dunia yang sudah ditinggali selama enam tahun dan penuh kenangan. Namun sekarang, yang dirinya rasakan hanyalah kelegaan. Seolah-olah akan terlahir kembali dan memulai hidup baru. Bahkan, dirinya bersyukur jalur keluar dari dunia ini butuh waktu 15 hari, karena selama itu pula, dirinya bisa benar-benar sadar, sehingga saat kembali ke dunia asalnya, dia tak perlu melewati masa penyesuaian lagi. Keesokan paginya, setelah membereskan barang-barangnya, John pun berangkat. Dia sempat berpesan pada Talita agar jangan keluyuran dan tetap hati-hati, menunggu dengan manis sampai dirinya kembali. Begitu John pergi, Talita mulai membuang barang-barang yang sebelumnya sudah disortir. Yang harus dibuang, sudah dibuang, yang perlu dibakar, juga dibakar, sisanya didonasikan. Setelah semuanya beres, rumah yang telah ditinggali selama tiga tahun itu langsung terasa kosong. Jejak masa lalu pun memudar. Talita merasa puas. Dia bahkan menantikan reaksi John saat kembali dan melihat rumah dalam keadaan seperti itu, meski dirinya juga tak bisa melihatnya. Di hari kepergiannya dari dunia ini, Talita bangun pagi-pagi sekali. Sistem mengingatkannya, [Perhatian tuan, lokasi jalur keluar berada di Ocarina. Akan terbuka pada pukul dua belas siang. Jangan terlambat.] Saat mendengar lokasi Ocarina, Talita sempat terkejut. Namun kemudian, dia teringat bahwa saat pertama kali datang juga dirinya mendarat di sana. Pikirannya jadi jauh lebih tenang. Semuanya berakhir seperti saat dimulai. Dia mengambil surat cerai dari mobil dan meletakkannya di atas meja ruang tamu yang paling mencolok. Setelah itu, dia mengemudi menuju Ocarina. Di tengah jalan, ponselnya bergetar. Layar menyala, menunjukkan permintaan pertemanan baru. Entah kenapa, Talita merasa harus menyetujui. Dan benar saja, seseorang mengirimkan foto. Di foto itu, John tertidur lelap di ranjang hotel dengan dada telanjang, sementara Ivy tersenyum manja di pelukannya. “Hari itu di luar studio kamu pasti dengar apa yang aku lakukan dengan John, ‘kan? Aku mengandung anaknya. John itu milikku!” “Dia bilang mau ke Kota Belia untuk kerja? Dia bohong. Dia ke sini untuk liburan denganku. Kamu lihat sendiri, dia begitu mencintaiku dan kamu itu hanya buangannya.” Tak berhenti sampai situ, Ivy mengirim beberapa foto lagi, semuanya foto liburan mereka berdua. Talita hanya tersenyum pelan sambil menatap layar, seolah sedang menonton badut bereaksi. “Kalau begitu, aku ucapin selamat duluan.” Tanpa menunggu balasan Ivy, Talita langsung memblokirnya dan merekam seluruh percakapan itu. Saat tiba di Ocarina, waktu menunjukkan pukul 11:53. Talita mengangkat ponselnya dan memotret dirinya dengan latar belakang pantai Ocarina. Dalam foto itu, dia berpose dengan tanda peace, wajahnya dipenuhi senyuman lega. Dia mengirim foto tersebut, lengkap dengan rekaman layar percakapan dan rekaman suara di studio hari itu kepada John. Lalu menambahkan satu kalimat, “Selamat tinggal, John. Selamat tinggal untuk selamanya.” Setelah itu, dia memblokir semua kontak John. Talita duduk di tepi pantai, memandangi ombak Ocarina yang terus bergulung tanpa henti, lalu perlahan memejamkan mata. Dalam kepalanya, sistem mulai menghitung mundur dari sepuluh sampai satu. Begitu hitungan selesai, tubuhnya seolah terlempar ke dalam kehampaan yang gelap dan kacau.