Kekasih Gelap yang Dicampakkan

Đang tải thông tin quảng bá...

Kekasih Gelap yang Dicampakkan

GoodNovel Hoàn thành

Abang sedang berkumpul di luar. Aku pergi menjemputnya. Aku pun mendengar abang sedang bertanya pada Oscar Nando, “Bukannya kamu sudah punya kekasih? Padahal sudah selama ini, aku masih nggak pernah...

Chương (1)

第1章

Abang sedang berkumpul di luar. Aku pergi menjemputnya. Aku pun mendengar abang sedang bertanya pada Oscar Nando, “Bukannya kamu sudah punya kekasih? Padahal sudah selama ini, aku masih nggak pernah bertemu dengannya.” Tiba-tiba aku merasa gugup. Aku sudah berpacaran tiga tahun dengan Oscar. Hanya saja, hubungan kami masih dirahasiakan, tidak diketahui oleh siapa pun. Oscar membalas dengan suara malas, “Dia bukan kekasihku. Aku hanya untuk habisin waktu saja. Aku juga nggak berencana untuk menikah.” Aku mengepal erat tanganku, langsung membuka pintu ruangan. Bab 1 Setelah Oscar Nando melihatku, dia langsung menutup mulutnya. Tatapan semua orang terpusat pada diriku. “Kenapa kamu ke sini?” Abangku, Charles Lukanda, meletakkan gelas alkoholnya, lalu menggeser tempat di samping untuk membiarkanku duduk. “Papa dan Mama lagi bertemu sama klien, nggak lagi di rumah. Aku merasa bosan sendirian di rumah.” Aku berusaha untuk tetap bersuara dengan tenang. Hanya saja, tanganku masih saja gemetar. Charles mengangguk. Dia memperingati orang-orang di dalam ruangan VIP, “Adikku nggak minum alkohol. Kalian semua nggak boleh mabukin dia.” Teman-teman mulai bercanda. “Charles, kamu baik banget sama adikmu. Gimana sama kamu kalau dia cari kekasih nantinya?” Charles tersenyum sembari memutar bola matanya. “Kalau begitu, aku bantu adikku untuk mengujinya dulu, cowok biasa nggak pantas untuk bersamanya.” Semua orang mulai ricuh. “Cowok seperti apa yang nggak tergolong cowok biasa? Apa kami tergolong?” Charles mengamati sekeliling. Tatapannya berhenti pada sosok Oscar yang tidak berbicara dari tadi. Dia pun bercanda. “Hanya Oscar saja yang lolos. Tapi, dia saja nggak anggap kekasihnya. Aku nggak akan izinkan adikku untuk bersamanya.” Padahal Charles hanya bercanda, ekspresi Oscar malah terkaku. Dia memalingkan kepalanya untuk melirikku sekilas. Dengan segera, dia mengalihkan tatapannya lagi. “Jangan beronar, aku anggap Thia sebagai adikku.” Aku melirik wajah samping Oscar dengan melamun. Hatiku sungguh terasa sakit. Lantaran menyadari tatapanku, Charles melambaikan tangannya di depan mataku. “Thia? Kenapa kamu terus menatap Oscar?” Aku segera menunduk, lalu meneguk air untuk menyembunyikan rasa panikku. Orang-orang di sekitar mulai menyindir. “Thia, Oscar memang ganteng, tapi dia berengsek sekali. Jangan sampai kamu salah memilih.” “Iya, tadi dia baru saja bilang, kekasihnya itu nggak tahu apa-apa, gampang banget untuk dibohongi. Dia juga bilang kekasihnya itu sangat gampang untuk dibujuk. Coba kamu dengar, apa itu ucapan seorang manusia?” “Aku kira dia sudah pacaran beberapa tahun karena hatinya benar-benar tergerak. Siapa sangka, dia bilang ceweknya itu terus mengejarnya, dia nggak bisa mencampakkan cewek itu.” “Iya, dia bahkan nggak mau bawa dia keluar. Kita semua juga tahu alasannya, karena dia sama sekali nggak ingin hubungannya langgeng. Tadi dia ….” “Sudahlah, jangan bicara lagi!” Raut wajah Oscar kelihatan sangat muram. Suaranya juga terdengar dingin. Hubungan Oscar dengan Charles paling bagus. Ketika menyadari ada yang aneh dengan ekspresinya, Charles pun bertanya, “Ada apa denganmu? Jangan-jangan kamu merasa penat karena kepulangan Bella?” Tanganku tiba-tiba gemetar. Bella akan pulang? Oscar segera melirikku sekilas, lalu kembali mengalihkan pandangannya. “Apa hubungannya kepulangan dia sama aku.” Charles pun tersenyum. “Gimana nggak ada hubungan? Kamu nggak peduli sama kekasihmu karena masih ada Bella di hatimu, ‘kan?” Semua orang juga tahu Oscar memiliki kekasih yang tidak pernah dibawanya ke mana-mana. Hanya saja, tidak ada yang tahu bahwa kekasihnya adalah aku. Saat Oscar mengangkat panggilan seorang wanita, dia akan berbicara dengan nada lembut. Setiap minggunya juga akan memberi hadiah kepada wanita itu dengan hadiah yang tidak berulang setiap minggunya. Bahkan, Charles sendiri juga merasa hati Oscar benar-benar telah tergerak. Selama tiga tahun berpacaran, Oscar memperlakukanku dengan sangat baik. Dia lembut, pengertian, dan royal, boleh dikatakan bahwa dia adalah kekasih yang sangat ideal. Hanya saja, Oscar mempunyai satu permintaan, yaitu tidak boleh mempublikasikan hubungan mereka. Alasannya adalah karena aku masih kecil. Aku pun memercayai omongan Oscar. Hingga aku mendengar dia mengatakan dengan nada acuh tak acuh bahwa aku hanya hanya untuk membuang waktunya saja, hanya demi membuang waktunya saja. Bab 2 Aku benar-benar tidak bisa tinggal di tempat ini lagi. Aku pun mencari alasan untuk permisi ke toilet. Baru saja aku keluar, Oscar pun mengejar langkahku. Tidak terlihat lagi kelembutan seperti sebelumnya dari dalam matanya. Yang digantikan adalah perasaan dingin yang bercampur aduk dengan sedikit perasaan yang tidak aku mengerti. Mataku mulai berlinangkan air mata. Air mata pun spontan mengalir. Aku tidak bisa percaya dan juga tidak bisa menerima pria di hadapanku ini hanya menganggapku sebagai alat untuk menghabiskan waktunya. “Cynthia.” Hatiku spontan gemetar. Sekarang Oscar memanggil nama lengkapku. Dia menatapku sembari mengangkat tangannya hendak mengusap air mataku. Namun, aku memiringkan tubuhku untuk mengelak. “Maaf.” Kata singkat ini malah telah menjelaskan hubungan mereka. Oscar telah ke luar negeri selama sebulan lebih. Berhubung aku terlalu merindukannya, aku pun tidak ingin menunggu sampai esok hari, langsung pergi ke acara kumpul bersama temannya dengan gembira. Siapa sangka aku malah dihadapkan dengan kenyataan sadis ini. “Ella, aku sungguh minta maaf.” Aku mengusap air mataku dengan asal-asalan. “Oscar, apa kamu nggak ingin jelaskan ucapanmu tadi?” Oscar tidak melihatku. Dia malah memandang ke luar jendela. “Aku nggak bersalah sama kamu. Selama tiga tahun ini, aku rasa aku sudah memperlakukanmu dengan cukup baik.” Aku tersenyum getir. “Kalau kamu suka sama Bella, kenapa kamu malah bersama denganku?” Saat mendengar nama itu, ekspresinya tiba-tiba berubah dingin. “Kalau kamu tahu aku suka sama dia, kenapa kamu masih saja bersamaku? Bukannya kamu sendiri yang murahan?” Ucapan Oscar membuat sekujur tubuhku terasa dingin. Aku membuka mulutku, tetapi aku tidak bisa berkata apa-apa. Tiba-tiba, ponsel Oscar berdering. Setelah melirik layar ponsel sekilas, tatapannya segera berubah lembut. “Bella ….” Tebakanku benar. Ternyata panggilan itu dari Bella. Namun, aku benar-benar tidak menyangka bahwa Oscar tidak mencintaiku. Aku tidak ingin mendengar percakapannya, aku pun menunduk sembari berjalan kembali ke ruangan VIP. Charles dan yang lain masih sedang membahas soal Oscar. “Menurutku, dia tiba-tiba marah karena Bella.” Charles lanjut menyesap alkoholnya. Dia berlagak seolah-olah mengetahui semuanya. “Dia ke luar negeri kali ini juga demi mengunjungi Bella. Hanya saja, dia malah nggak bertemu. Oscar cuma berani mengintipnya dari kejauhan.” “Aku kira dia bisa berpacaran karena dia sudah melupakan Bella. Siapa sangka wanitanya itu hanya sebagai alatnya untuk menghabiskan waktu. Hatinya masih ada di diri Bella.” Ternyata Oscar ke luar negeri kali ini demi mengunjungi Bella. Pantas saja dia akan ke luar negeri setiap bulan, lalu memberitahuku bahwa dia pergi dinas. “Oscar sudah bertahun-tahun suka sama Bella. Dia diam-diam melukis portrait wajah Bella, lalu menguncinya di dalam laci, nggak izinkan siapa pun untuk melihatnya.” Kepalaku seketika berdengung. Aku mendengar mereka memuji betapa besarnya rasa cinta Oscar terhadap Bella dan berapa besar pengorbanan yang dia lakukan. Aku berusaha untuk tersenyum, tetapi tubuhku spontan gemetar. Bibirku pun kugigit hingga berdarah. Tiba-tiba Charles mengalihkan topik pembicaraan. “Hanya saja, kekasihnya itu malang sekali. Oscar sudah menghabiskan waktu cewek itu, tetapi malah nggak diberi status.” Pada saat ini, Charles tiba-tiba menepuk pundakku. “Thia, tadi Kakak cuma lagi bercanda saja. Kamu boleh cari pria mana pun, tapi kamu nggak boleh cari Oscar, juga nggak boleh percaya sama ucapannya. Dia itu berengsek sekali.” Ucapan Charles tiba-tiba membuat hatiku terasa sakit. Semuanya sudah terlambat. Aku sudah memercayainya. Bab 3 Setelah Oscar mengangkat panggilan, dia tidak kembali ke ruangan VIP lagi. “Tadi Bella telepon, entah apa yang dia katakan, Oscar pun mengatur pesawat pribadi untuk dia.” Semua orang sedang mentertawakan Oscar, hanya aku saja yang sedang menangis. Oscar memperlakukanku dengan sangat baik, tetapi aku bukanlah sosok istimewa itu. Semua rasa cintanya dia berikan kepada Bella. Acara perkumpulan telah berakhir. Aku mengendarai mobil mengantar Charles pulang ke rumah. Setibanya di rumah, aku berbaring di atas ranjang dan tidak berhenti memikirkan kembali ucapan Charles. Sejak kecil, aku tidak suka berbicara dan agak pendiam. Bella cantik, periang, dan juga jago bicara. Sementara, aku tidak bisa apa-apa. Hanya saja, Oscar malah bisa melihat aku yang berada di pojok. Dia berkata, “Sebentar, Cynthia. Kalian jalannya yang pelan!” Ucapan itu masih terukir di dalam benakku selama bertahun-tahun. Aku yang awalnya hanya berani diam-diam mengintip Oscar, hingga berubah menjadi diam-diam tidak bisa mengalihkan pandanganku. Meskipun aku tahu Oscar menyukai Bella, hatiku tetap terbuka untuknya. Tiga tahun silam, Oscar menghadiahkanku sebuket bunga mawar putih dengan tatapan lembut. “Thia, kita pacaran, ya?” Ucapan itu seolah-olah baru terjadi semalam. Sungguh berbeda drastis dengan sikap dinginnya hari ini. Beberapa hari setelah acara kumpul bersama, Oscar tidak menghubungiku sama sekali. Bagaimanapun, Oscar tidak mencintaiku. Dia sudah memiliki pasangan baru. Selama beberapa hari ini, aku kehilangan semangatku. Charles yang perhatian itu menyadari ada yang aneh dengan diriku. Dia pun sering masuk ke kamarku untuk mengajakku mengobrol. Saat dia melihat ada banyak perhiasan berlian dipajang di atas meja, Charles pun terbengong. “Thia, seingatku kamu suka dengan mutiara, kenapa kamu malah beli begitu banyak berlian?” Aku tidak berani memberitahunya bahwa semua ini adalah pemberian Oscar. Charles mengetahui kesukaanku, tetapi Oscar yang sudah berkencan tiga tahun denganku malah tidak mengetahui apa-apa. Aku berdiri, lalu membuang semuanya ke tempat sampah. “Kenapa malah dibuang?” Aku menunjukkan senyuman getir. “Meski barang yang nggak disuka itu cantik, nggak ada gunanya untuk menyimpannya.” Charles tidak mengerti maksud ucapan itu. Dia mendesakku untuk segera mengganti pakaianku. “Bella sudah kembali. Kita pergi sambut kepulangannya, sekalian hilangin rasa penatmu.” Hatiku kembali terasa rumit. Beberapa hari ini Oscar tidak menghubungiku, sepertinya dia sedang menemani Bella. Tidak lama kemudian, aku dan Charles tiba di rumah Bella. Begitu memasuki rumah, seluruh ruang tamu dikerumuni oleh bunga mawar berwarna putih. Bella mengangkat roknya sembari berlari ke sisiku. “Thia! Lama nggak berjumpa!” Aku ingin tersenyum, tetapi aku tidak bisa melakukannya. Sebenarnya aku tidak membenci Bella, sebab kami adalah teman sejak kecil. Hanya saja, dia adalah orang yang disukai Oscar. Duri yang menancap di hatiku sepertinya mulai terasa sakit. Aku tidak tahu apa yang harus dikatakan, hanya bisa mencari topik pembicaraan dengan canggung. “Ada begitu banyak bunga mawar putih. Romantis sekali.” Bella pun tersenyum. “Semua ini dipersiapkan oleh Oscar. Dia tahu aku suka bunga mawar putih. Sepertinya dia sudah beli semua bunga mawar di seluruh kota.” Hatiku spontan terasa sakit. Ketika kepikiran hari di mana Oscar mengatakan dia ingin bersama denganku, sepertinya aku menyadari sesuatu. Oscar ingin memberi bunga mawar itu kepada Bella, tetapi Bella telah ke luar negeri. Dia pun menghadiahkan bunga itu kepadaku. Aku menunduk menyembunyikan air mata yang hampir menetes. Ternyata ceritanya seperti ini. Ternyata bunga untuk menyatakan perasaan adalah bunga bekas orang lain. Bab 4 Oscar mengenakan jas rapi. Begitu memasuki rumah, pandangannya langsung tertuju pada diri Bella. Dia berjalan maju beberapa langkah. Baru saja Oscar hendak berbicara, dia baru melihat diriku yang duduk di sebelah. Langkah kaki Oscar berhenti. Kemudian, dia langsung berjalan ke sisi Bella. “Ini untukmu.” “Benarkah? Coba kulihat!” Bella membuka kotak indah itu. Seketika, terlihat seutas kalung berlian indah di dalamnya. “Aku tahu kamu akan menyukainya. Aku pun melelangnya khusus untuk kamu.” Tatapan mendalam Oscar tertuju pada diri Bella. Terlihat rasa kasih sayang mendalam di dalam tatapannya. Namun, Oscar malah lupa hari ini adalah hari peringatan kebersamaan mereka selama tiga tahun. Lebih tepatnya, kami masih belum putus. Bella menunjukkan senyuman kaget. “Cantik sekali. Cepat bantu aku pakaikan!” Oscar pun tersenyum, lalu memakaikan kalung ke leher Bella. Jarak mereka berdua sangat dekat. Mereka memang kelihatan serasi. “Aku sungguh menyukainya. Dari semua berlian yang kamu hadiahkan kepadaku, yang satu ini paling cantik!” Tiba-tiba hatiku terasa sangat penat, apalagi ketika melihat tatapan penuh waspada Oscar. Dia pun sengaja bertanya, “Apa Kak Oscar sering kasih hadiah buat kamu?” Bella mengangguk. “Iya, dia akan kasih aku hadiah setiap bulan. Dia selalu memberiku berlian. Saking banyaknya, aku pun nggak bisa menghitungnya lagi. Dia tahu aku suka berlian.” Semua itu terdengar sangat menusuk hati. Berlian untuk dihadiahkan kepada Bella pasti dipilih Oscar dengan saksama, sedangkan berlian untukku itu, pasti hanya sekalian saja. Terhadap seseorang yang hanya dijadikan alat untuk menghabiskan waktu, Oscar tidak perlu mengetahui kesukaannya. Berlian itu berkilauan. Saking berkilaunya, mataku pun terasa sakit. Entah dari mana asal keberanianku, aku pun berkata dengan nada menyindir, “Kak Oscar memperlakukanmu dengan sangat baik. Entah bagaimana perasaan kekasihnya itu.” Senyuman di wajah Oscar spontan menghilang. Dia memelototiku dengan tatapan mengancam. Hanya saja, ucapan itu tidak terdengar oleh Bella, tiba-tiba dia menjerit, “Kak!” Kemudian, Bella memalingkan kepalanya untuk melihatku. “Kakakku datang. Aku permisi dulu!” Setelah Bella pergi, Oscar menarikku ke taman bunga yang sepi. Dia mengerutkan keningnya melihatku dengan tatapan penuh menyalahkan. “Cynthia, sebenarnya apa yang mau kamu lakukan?” Aku mengusap mataku. “Aku malah ingin tanya kamu. Oscar, hari ini hari peringatan kita berpacaran selama tiga tahun. Apa kamu nggak berencana untuk mengumumkan hubungan kita?” Oscar tertegun oleh pertanyaanku. Kemudian, dia mengusap hidungnya dengan canggung. “Belakangan ini aku lagi sibuk. Kita bicarakan lagi masalah ini nanti.” Di bawah cahaya bulan, aku melihat mata Oscar spontan tertuju ke sisi ruang tamu. Meski kami hanya dalam waktu sesingkat ini, Oscar juga selalu kepikiran dengan Bella. “Thia, dulu kamu begitu pengertian. Sekarang kenapa kamu jadi seperti ini?” Hatiku langsung terasa sakit. Hanya karena aku pengertian, jadi dia bisa menindasku secara terang-terangan? “Oscar, kamu nggak ungkit masalah putus karena kamu nggak mau jadi orang jahat, ‘kan?” Wajah Oscar kelihatan sedikit merona. Sepertinya ucapanku memang benar. “Bukan, sejak kapan aku ingin putus sama kamu? Cynthia, kamu jangan nggak masuk akal, ya. Kamu yang seperti ini nggak imut sama sekali.” Aku tersenyum. “Bella imut. Dia bagus dalam aspek mana pun. Oscar, mulai sekarang kita putus. Kamu pergi cari dia sana.” “Thia!” Oscar berkata, “Apa hubungannya dengan Bella? Jangan libatkan hubungan kita dengan orang yang nggak bersangkutan.” Bella tidak bersangkutan. Jadi, aku memang telah bersalah? Aku mengepal erat tanganku, lalu menarik kuat kalung di leher. “Aku nggak suka berlian sama sekali. Bawa pergi hadiah murahanmu dari pandanganku!” Sepertinya ini pertama kalinya aku berbicara sekasar ini, tapi aku benar-benar tidak bisa bersabar lagi. Raut wajah Oscar menjadi serius. “Cynthia, kamu keterlaluan sekali!” Saat aku hendak berbicara, terdengar suara dingin dan rendah dari belakang. “Kalau nggak suka, buang di luar. Rumahku bukan tempat sampah.”