Putus Setelah Menyadari Perselingkuhan Kekasihku

Đang tải thông tin quảng bá...

Putus Setelah Menyadari Perselingkuhan Kekasihku

GoodNovel Hoàn thành

Saat Crystal Liara mengenakan gaun bermodel sama sepertiku di acara pertunanganku dengan Jeffrey Tamora, aku tahu pertunanganku dengan Jeffrey tidak akan berlangsung lagi. Crystal, si putri dari pelak...

Chương (1)

第1章

Saat Crystal Liara mengenakan gaun bermodel sama sepertiku di acara pertunanganku dengan Jeffrey Tamora, aku tahu pertunanganku dengan Jeffrey tidak akan berlangsung lagi. Crystal, si putri dari pelakor itu, pasti akan merebut Jeffrey dari tanganku, sama seperti ibunya merebut ayahku dari ibuku. Hanya saja, aku tidak mungkin membiarkannya berhasil. Aku menghancurkan acara pertunangan yang kupersiapkan dengan susah payah, kemudian meninggalkan Kota Arman dengan secepat mungkin. Aku pamit dulu. Bab 1 Saat aku melihat Crystal mengenakan gaun dengan model yang sama muncul di acara pertunangan, aku tahu bahwa pertunanganku dengan Jeffrey tidak akan berlangsung. Demi tidak mengulangi jejak ibuku, aku merobek pakaian Crystal di hadapan semua orang, lalu menghancurkan acara pertunangan yang kupersiapkan dengan susah payah. Gara-gara aku, ibunya Crystal, Vera, jatuh pingsan karena emosi. Henry Sumardi langsung memanggil ambulans. Kekasihku, Jeffrey, malah berdiri di hadapan Crystal dan ibunya, lalu menunjukku dengan ekspresi marah. Dari yang sebelumnya berbicara dengan lembut, sekarang nada bicaranya telah berubah menjadi nada menyalahkan dan kasar. “Mereka hanya tidak ingin melewatkan setiap momen penting di hidupmu saja. Aku akui, gaun yang dipakai Crystal adalah pemberianku, tapi kalian itu kakak beradik, bukannya wajar kalau kalian mengenakan busana layaknya saudara?” “Selama beberapa tahun ini, Crystal dan ibunya memikirkan segala cara untuk menyenangkanmu, sedangkan kamu malah selalu bersikap dingin terhadap mereka! Kalau kamu begini terus, aku akan merasa serbasalah!” “Ibumu meninggal karena bunuh diri. Kematiannya nggak ada hubungannya sama mereka berdua! Kamu juga pernah lapor polisi. Polisi nggak meneruskan laporanmu, hal itu sudah menandakan segalanya!” “Di dunia ini, bukan semua orang akan seperti aku yang begitu menyanjungmu. Aku dan mereka juga nggak berutang sama kamu! Kamu mesti renungkan dirimu dengan baik!” Selagi orang-orang mengantar Vera ke rumah sakit, aku mengemas koperku, meninggalkan kota ini. Sejak menghancurkan acara pertunanganku hingga sekarang, waktu sepuluh jam pun telah berlalu. Setelah sepuluh jam, aku berdiri di depan pintu rumah kakek luarku di Kota Beska. “Bukannya kamu bilang hari ini kamu bertunangan dengan Jeffrey? Aku sudah bilang aku nggak pergi, ‘kan? Kenapa kamu malah pulang untuk menjemputku?” Terlihat banyak keriput di atas wajah tua kakekku. Dia menatapku dengan kaget seperti sedang melarikan diri dari bencana saja. Selesai berbicara, tatapannya tertuju pada koper di sisi tanganku. Saat ini, dia baru menyadari bahwa aku bukan datang untuk menjemputnya menghadiri acara pertunanganku dengan Jeffrey, melainkan datang untuk mencari perlindungan darinya. “Sebelumnya aku pernah bilang, mungkin suatu hari nanti, aku yang akan merawat sampai akhir hayatmu!” Aku pun tersenyum. Lantaran takut diusir oleh kakekku, aku terlebih dulu mengadang pintu dengan menggunakan koper. Setelah itu, selagi kakek sedang tertegun, aku langsung menggerek koper ke dalam pintu. Setelah ibuku meninggal akibat ulah Vera dan Crystal, aku pernah mengusulkan kepada kakek, aku tidak akan berpacaran dan juga menikah. Dalam sisa hidupku ini, aku akan menemani kakek di desa untuk menikmati hari tuanya. Kakekku menyuruhku tinggal di desa selama tiga bulan. Setelah memastikan rasa sakitku akibat kehilangan ibuku telah berkurang, dia merokok sembari menyuruhku pulang. Kata kakek, sekarang hanya ada orang tua dan anak kecil di desa. Jika wanita muda seperti aku tidak bekerja dan bergaul, melainkan hanya tinggal di desa, masa depanku akan hancur. Jadi, dia memaksaku meninggalkan desa dengan cara mogok makan. Kakek juga berhenti mengonsumsi obat demi memaksaku menerima pemuda yang diperkenalkan kepadaku, yaitu Jeffrey. Saat aku dikejar oleh Jeffrey, aku pernah memberi tahu kakek bahwa hatiku sudah mati. Siapa pun tidak bisa menghidupkan hatiku kembali. Waktu itu, kakekku menatapku yang kurus kering itu tanpa menghiraukan ucapanku. Dia malah meminta nomor kontak Jeffrey, lalu berpesan kepadanya untuk lebih memperhatikanku. Dia juga memberi tahu Jeffrey bahwa aku baru saja kehilangan ibuku, suasana hatiku tidak terlalu bagus, itulah sebabnya sikapku terhadapnya tidaklah bersahabat. Namun, bukan berarti aku tidak menyukainya. Aku juga tidak tahu apa yang dikatakan kakek terhadap Jeffrey. Intinya, tanpa disadari aku dan Jeffrey pun telah berhubungan selama tiga tahun. Semua rekan kerja di sisiku mengira aku dan Jeffrey adalah pasangan teladan. Kami tidak pernah bertengkar dan tidak pernah marah. Kami kelihatannya saling menyayangi dan saling mencintai satu sama lain, tetapi tidak ada yang tahu sebenarnya aku selalu siap setiap saat untuk meninggalkan hubungan ini. Itulah sebabnya, saat aku melihat ada dua jenis barang yang sama di dalam keranjang aplikasi belanja Jeffrey dan diantar ke dua alamat yang berbeda, aku tahu bahwa sudah saatnya permainan ini berakhir. Bab 2 Sebelumnya Jeffrey pernah mengatakan bahwa aku adalah sebongkah es. Tidak peduli bagaimana dia menghangatkanku, selamanya aku tidak bisa dihangatkan. Yang aku butuhkan adalah tidak dikhianati untuk selamanya dan dampingan seumur hidupku. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri hubungan ibuku dan Henry berubah dari yang sebelumnya saling menyayangi, saling mencintai, dan yang memiliki hubungan mendalam, berubah menjadi saling bertengkar dan saling menghancurkan. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Henry yang sebelumnya mengatakan dia mencintai ibuku, kemudian malah membawa Vera ke dalam kamar pasien tempat ibuku melakukan kemoterapi, untuk memamerkan kemesraan mereka. Aku pun tidak memercayai pria lagi, apalagi yang namanya cinta. Sebab, hati pria bisa berubah kapan saja. Masalah perasaan sulit untuk ditebak. Aku merasa beruntung karena tidak pernah sepenuhnya mengeluarkan hatiku. Itulah sebabnya, saat aku menyadari permasalahan ini, aku masih bisa mempertahankan akal sehatku. Aku tidak tahu sejak kapan Jeffrey kenal dengan Crystal. Bagiku, nama Crystal bagai racun saja. Asalkan aku terkena sedikit saja, sekujur tubuhku akan terasa tidak nyaman. Crystal sama saja seperti ibunya, yang merupakan tabu bagiku. Selama tiga tahun ini, saat aku terharu oleh Jeffrey, aku juga pernah mencurahkan isi hatiku. Aku memberi tahu Jeffrey, orang yang paling aku benci di dunia ini adalah Crystal dan ibunya. Orang yang paling tidak ingin aku temui juga adalah mereka. Aku juga memberi tahu Jeffrey, aku tidak akan mendekati tempat di mana mereka berada. Pada saat itu, Jeffrey membelai rambutku dengan rasa kasihan dan menggenggam tanganku dengan erat. Dia memberitahuku dengan lembut dan tegas bahwa dia telah mengingatnya. Pada kehidupan ini, dia tidak akan membuatku merasa sedih. Seandainya aku tidak menyukai mereka dan tidak bersedia untuk bertemu dengan mereka, Jeffrey tidak akan membuat siapa pun membawa mereka ke hadapanku. Hanya saja pada akhirnya, dia sendiri yang mengutus orang untuk menjemput Vera dan Crystal, membawa mereka ke acara pertunangan kami. Saat aku bertengkar dengan Vera dan Crystal, Jeffrey malah berdiri di seberangku, menggunakan tubuhnya untuk melindungi musuhku. Aku meletakkan koperku di kamarku yang dulu. Setiap bulannya kakek memiliki kebiasaan untuk mengganti seprai kamarku. Aku melihat ranjangku yang kelihatan cukup bersih, lalu membaringkan tubuhku di atas ranjang. Selama beberapa tahun ini, tidak ada satu pun yang bisa membuatku merasa tenang, kecuali di rumah ini. Aku baru bisa merasa sedikit tenang ketika berada di rumah kakek yang selalu memperlakukanku dengan tulus dan tidak pernah mengkhianatiku untuk selamanya. Berhubung Jeffrey begitu menyukai Crystal, tunangan saja dengannya. Aku pamit dulu! “Apa benar kamu mau putus sama Jeffrey? Anak itu cukup baik hati. Kalau kamu melewatkannya, belum tentu kamu akan bertemu dengan yang lebih baik lagi.” Kakek dapat melihat ada yang aneh dengan kepulanganku kali ini. Tiba-tiba dia berkata dengan penuh khawatir. Kakek berdiri di samping ranjangku dengan perlahan, lalu bertanya, “Dia orangnya cukup baik, jadi dia juga membagikan kebaikannya kepada Crystal.” Setelah dipikir-pikir, selain masalah hari ini, aku dan Jeffrey tidak pernah bertengkar sebelumnya. Saat kami baru memastikan hubungan kami, suasana hatiku sangat buruk. Setiap kali berkencan, aku selalu menunjukkan ekspresi dingin dan sering mengabaikannya. Dalam hatiku, aku berpikir alangkah bagusnya jika Jeffrey marah dan tidak menghiraukanku. Dengan begitu, aku pun tidak perlu melawan kata hatiku untuk berkencan dengannya. Asalkan Jeffrey melepaskanku, meskipun aku didesak oleh kakek, kakek juga tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya. Aku tidak menyangka temperamen Jeffrey akan begitu bagus. Tingkat kesabarannya sangat tinggi. Jeffrey menghadapiku bagai menghadapi seorang anak TK saja. Tidak peduli betapa tidak masuk akalnya permintaanku, dia juga akan menghormati dan melakukannya. Sebelum kenal dengan Jeffrey, aku tidak merasa diriku memiliki sedikit pun sifat seorang wanita jahat. Namun jika dibandingkan dengan Jeffrey, aku merasa diriku sangat keterlaluan. Saat Jeffrey masih berusaha untuk bersabar, akhirnya pada suatu hari aku pun merasa tidak tega. Dia pun mengulurkan tanganku ke sisinya. Sejak saat itu hingga pada tiga hari sebelumnya, aku merasa mungkin Jeffrey benar-benar adalah penyelamatku. Bab 3 Iya. Benar. Tiga hari lalu. Aku melihat pesanan di ponsel Jeffrey. Berhubung kami harus mempersiapkan urusan pertunangan, kami pun tinggal di rumah pengantin baru kami dalam seminggu belakangan ini. Kami tinggal bersama agar lebih gampang dalam membahas detail dan progres acara pertunangan. Kami tinggal di kamar masing-masing. Masalah bisa melihat ponsel Jeffrey juga murni kebetulan belaka. Sejak awal, aku mengira pesanan Jeffrey dibeli untukku. Dia kepikiran aku benar-benar tidak menyukai warna merah terang, tidak ingin aku memaksakan diriku demi membahagiakannya dan juga para hadirin. Jadi, dia diam-diam berdiskusi dengan pihak tokok untuk mengganti warna gaunku. Siapa sangka, begitu mengeklik “pesananku”, ternyata selama setengah tahun terakhir, setiap hadiah yang dia belikan selalu dibeli dua set. Satu set diantar ke rumah lamaku, kemudian satu set lagi diantar ke rumah kontrakanku. Satu set ditulis namaku, kemudian nama penerima satu set lagi adalah Crystal. Aku masih ingat, saat aku melihat nama penerima “Crystal”, aku mengira semua itu hanya kebetulan nama yang sama saja. Setelah aku mencocokkan dengan ukuran Crystal, aku baru memastikan bahwa Jeffrey diam-diam berhubungan dengan Crystal. Dengan perasaan tidak percaya dan juga syok, ini pertama kalinya aku membuka akun WhatsApp Jeffrey. Aku menemukan setahun setelah aku bersama dengan Jeffrey, Crystal menggunakan alasan ingin memperbaiki hubunganku dengan dia, untuk meminta nomor Jeffrey. Awalnya, mereka berdua masih bersikap menjaga jarak dan sungkan. Namun, seiring Jeffrey mulai mengekspos latar belakang keluarganya dan juga sering memamerkan video serta foto betapa dia memanjakanku, nada bicara Crystal mulai terasa kasmaran. Pada saat ulang tahunku tahun lalu, Crystal menggunakan alasan ingin mengirim hadiah kepadaku. Setelah Jeffrey mengantarku pulang ke rumah, dia pun diam-diam menemui Crystal di tengah malam. Mengenai hadiah yang diungkit Crystal, padahal waktu satu tahun sudah berlalu, aku tetap tidak melihat dan menerimanya. Dari riwayat percakapan, aku bisa melihat bahwa telah terjadi sesuatu pada Crystal dan Jeffrey malam itu. Setelah itu, selama setahun, Jeffrey menjalankan kewajibannya sebagai kekasihku sembari meluangkan waktu untuk menemani Crystal. Bahkan saat hari ulang tahun Vera, Jeffrey juga menghadiri acara kumpul keluarga mereka dengan status sebagai menantu. Dari foto yang dikirim Crystal kepada Jeffrey, Henry dan Vera mengenakan pakaian tradisional. Jeffrey berdiri di belakang Vera, sedangkan Crystal berdiri di belakang Henry. Di depan mereka terdapat kue ulang tahun tiga tingkat. Mereka semua serempak melihat ke sisi kamera. Terlihat rasa bahagia dan juga senyuman di setiap ujung bibir mereka. Sekeluarga berempat itu kelihatan sangat harmonis. Aku telah mengingatnya. Saat Vera ulang tahun ke-50, dia meneleponku. Namun, aku memutuskan panggilan saat mendengar suaranya. Jeffrey juga pernah bertanya padaku dengan makna tersirat. Dia bertanya apakah akhir pekan ini aku sibuk, bagaimana kalau aku pulang untuk mengunjungi Henry. Aku pun menolak tanpa ragu sama sekali. Pada saat itu, aku kira Jeffrey hanya sembarangan bicara saja. Aku benar-benar tidak menyangka saat ulang tahun Vera, aku saja tidak hadir, tetapi Jeffrey malah hadir. Dalam acara pertunangan hari ini, Jeffrey juga tidak memberitahuku bahwa dia akan mengundang Vera dan Crystal. Dia ingin berterus terang, lalu memaksaku menerima mereka berempat. Namun, Jeffrey tidak menyangka, aku yang selalu memberinya muka sejak berpacaran itu, akan merobek pakaian Crystal di hadapan semua orang. Dia lebih tidak menyangka saat aku menggila, aku bahkan bisa memukul Vera dan Henry. Saat kepikiran gambaran Henry disiramku dengan alkohol dan Vera yang kakinya kuinjak hingga menangis, aku benar-benar menyesal tidak melakukannya dengan lebih baik. “Jeffrey itu anak dari teman seperjuanganku. Seharusnya aturan keluarganya sangat ketat, nggak seharusnya dia melakukan hal murahan seperti itu. Aku semakin tidak mengerti dunia ini lagi. Nak, terserah apa yang ingin kamu lakukan. Kakek nggak akan mengurusmu lagi.” “Hanya saja, kamu mesti ingat satu hal, keluarga kita nggak boleh dirugikan lagi! Ibumu sudah menderita saat bersama ayahmu. Kamu mesti membalasnya! Balas juga penderitaan yang kamu terima. Dua kali lipat!” Bab 4 Kakek memang tidak percaya Jeffrey telah berselingkuh, tetapi dia percaya aku tidak akan menggunakan hal seperti ini untuk membohonginya. Kakek menghela napas panjang, lalu menuangkan teh bunga yang paling kusukai dulu. Ketika melihat uap air mengepul, aku tiba-tiba kepikiran dengan tatapan Jeffrey ketika melihatku di acara pertunangan. Rasa gusar. Rasa tidak percaya. Rasa syok. Rasa memalukan. Jeffrey yang dulunya bersikap toleransi terhadapku, malah bersikap sangat keras hari ini. Vera dan Crystal adalah orang yang telah membunuh ibuku. Dia tidak pernah merasakan rasa sakit yang kualami, malah memintaku untuk memaafkan mereka. Aku tidak bisa melakukannya. Selamanya aku juga tidak bisa melakukannya. Seandainya ibu tiri Jeffrey memaksa ibu kandungnya hingga mati, apa dia masih bisa bersikap lapang dada, menganggap pihak lawan sebagai anggota keluarganya? Pasti tidak mungkin. Manusia itu selamanya bersikap egois. Selama tiga tahun ini, sandiwara Jeffrey memang sangat bagus, tetapi pada akhirnya pun terbongkar juga. Aku bersyukur wajah aslinya terbongkar tepat pada waktunya. Aku lebih bersyukur selama tiga tahun ini, aku tidak sepenuhnya menyerahkan diriku kepadanya, tidak peduli diriku maupun hatiku, semuanya hanya menjadi milikku sendiri. “Tenang saja. Cucumu lebih kuat daripada putrimu. Aku itu cerdik dan lincah, nggak seperti putrimu yang naif dan lugu. Isi koperku yang penuh ini bukan cuma pakaian.” Ketika kepikiran dengan barang di dalam koper, aku pun melirik ponselku sekilas. Aku sedang menunggu panggilan dari Jeffrey. Hanya saja, aku sungguh tidak menyangka orang pertama yang menghubungiku bukanlah Jeffrey, melainkan adalah Crystal. “Kak, kenapa kamu berbuat seperti ini? Kak Jeffrey bawa aku dan Ibu menghadiri acara pertunangan kalian, cuma ingin memperbaiki hubungan keluarga kita saja. Kami datang untuk berbaur dalam keluarga besar ini. Kenapa kamu selalu mengucilkan aku dan Ibu?” Saat pakaian Crystal kurobek tadi, dia menunjukkan ekspresi kasihan dengan mata berkaca-kaca. Hanya saja, saat Jeffrey melepaskan jas yang kudesain khusus untuknya demi membungkus tubuh Crystal, dia baru mulai meneteskan air matanya. “Kamu sudah berakting selama bertahun-tahun. Apa masih belum cukup aktingmu? Kalau kamu suka akting, kenapa kamu nggak ambil jurusan akting untuk perdalam kemampuanmu?” Selama tiga tahun ini, aku tidak sepenuhnya memutuskan hubunganku dengan mereka. Sejak emosi ibuku terpancing oleh dan Vera dan Henry hingga sakit hingga nekat melompat dari gedung rumah sakit, aku langsung menghapus dan memblokir semua kontak mereka. Namun, Crystal selalu saja menemukan cara untuk bisa menghubungiku. Awalnya, Crystal akan mengirim kata-kata dengan nada aneh untuk mengajakku pulang. Kemudian, setelah sering dimarahiku, dia juga tidak bersandiwara lagi. Setiap kali Henry membeli barang mewah untuk Vera dan Crystal, dia akan langsung memamerkannya kepadaku. Tas edisi terbaru. Perhiasan terindah di iklan. Semua yang dulunya seharusnya menjadi milikku telah masuk ke dalam kantong Vera dan Crystal. Jelas-jelas Crystal tahu arus keuanganku telah dipotong oleh Henry dan Vera. Demi memancing emosiku, Crystal sengaja mengendarai mobil selama satu jam, mendatangi toko tempat aku bekerja paruh waktu khusus meminta pelayananku. Setelah wajah Crystal hampir rusak karena tusukanku, dia tidak berani datang menemuiku dan mencari gara-gara denganku. Dia hanya memprovokasiku di internet saja. Ketika dihadapkan dengan provokasi Crystal, aku pun mengabaikannya. Setelah dipikir-pikir, sepertinya sudah dua tahun Crystal tidak pernah menghubungiku. “Kak, aku tahu kamu menyalahkan masalah kematian ibumu di diri aku dan ibuku. Tapi kamu mesti mengerti, meskipun kami nggak muncul di sisi ayahmu, ibumu juga bakal mati.” “Selama beberapa tahun ini, kami sudah membahas masalah waktu itu. Mungkin ibumu memilih untuk bunuh diri waktu itu bukan karena menyalahkan kami, tapi dia ingin menggunakan cara seperti itu untuk merestui dirinya dan juga merestui keluarga kita.” “Sejak kecil, ibumu selalu hidup dengan dimanja. Setelah menikah dengan ayahmu, dia selalu hidup nikmat di rumah, nggak pernah pergi mencari nafkah. Hal paling menyakitkan yang dia alami dalam hidupnya adalah rasa sakit saat kemoterapi penyakit kankernya.”