Đang tải thông tin quảng bá...
Pernikahan Berlandaskan Kontrak
Selama lima tahun pernikahan, Rebecca Lusram melahirkan seorang putra untuk Adrian Pangestu. Awalnya, Rebecca mengira kehidupan mereka akan berlanjut seperti ini. Sampai Irene Wiranto kembali ke dala...
Chương (1)
第1章
Selama lima tahun pernikahan, Rebecca Lusram melahirkan seorang putra untuk Adrian Pangestu. Awalnya, Rebecca mengira kehidupan mereka akan berlanjut seperti ini.
Sampai Irene Wiranto kembali ke dalam negeri, Rebecca baru menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak penting. Adrian berulang kali menelantarkannya demi Irene, sedangkan putra kandungnya juga hanya dekat dengan Irene.
Untungnya, semua ini hanyalah kontrak belaka. Seminggu lagi, Rebecca akan sepenuhnya terlepas dari semua ini.
Bab 1
“Bibi, aku mau akhiri kontrak ini. Bibi pernah bilang, kalau dalam lima tahun ini Adrian nggak jatuh cinta padaku, kontrak ini nggak berlaku lagi.”
“Aku memang bilang begitu. Tapi, bukannya kalian sudah punya Aiden? Kamu begitu sayang sama Aiden, kamu rela dia akui orang lain sebagai ibunya?”
“Rela,” jawab Rebecca dengan nada yang sangat yakin.
“Pernikahanku dengan Adrian pada dasarnya dilandaskan kontrak, sedangkan anak ini juga cuma bagian dari kontrak itu. Lagian, Irene sudah pulang sekarang. Adrian dan Aiden sudah nggak butuh aku lagi.”
Dalam lima tahun ini, perasaan Rebecca juga pernah tergerak. Alhasil, dia malah dikecewakan sekali demi sekali.
Saat teringat masalah yang ditimbulkan putranya, Sonia hanya bisa menghela napas dan berkata, “Masih tersisa seminggu lagi sampai kontrak ini berakhir. Kamu tanda tangan saja dulu di sini. Seminggu lagi, Keluarga Pangestu akan kembalikan kebebasanmu.”
Setelah mendengarnya, Rebecca langsung menandatangani kontrak itu tanpa ragu, lalu berjalan keluar dari gerbang kediaman Keluarga Pangestu dengan santai. Saat berkendara, dia menerima foto yang diambil di TK.
Di dalam foto, Adrian tertawa gembira dan tanpa sadar mencondongkan tubuhnya ke arah Irene. Sementara itu, Aiden juga menggenggam tangan Irene dengan erat. Mereka bertiga mengenakan baju keluarga yang dipersiapkan Rebecca untuk menghadiri acara olahraga di TK Aiden.
Sekarang, Irene bukan hanya menggantikan Rebecca menghadiri acara olahraga itu, bahkan menggantikannya mengenakan pakaian keluarga tersebut.
...
Kisah cinta Adrian dan Irene sangat menghebohkan. Adrian merupakan putra keluarga miliarder, sedangkan Irene merupakan bintang baru yang putus sekolah karena ingin mengejar karier di dunia hiburan.
Meskipun berasal dari dunia yang berbeda, kedua orang ini bersatu karena cinta. Namun, seiring dengan Irene yang menjadi makin populer, dia pun meminta putus pada Adrian dengan alasan demi kariernya.
Sejak saat itu, hati Adrian pun hancur. Setiap hari, dia hanya tenggelam dalam mabuk-mabukkan dan bahkan berniat untuk mengakhiri hidupnya. Pada malam itu juga, berita mengenai putra Keluarga Pangestu yang bunuh diri demi cinta pun menjadi trending topic.
Pada saat yang sama, ayahnya Rebecca sedang berbaring di ruang operasi. Biaya operasi yang mahal membuatnya sangat kewalahan.
Pada saat ini, Sonia menemukan Rebecca. Dia berjanji asalkan Rebecca menyetujui syaratnya, dia akan membantu Rebecca membayar biaya operasi ini. Syaratnya adalah, Rebecca harus menikahi Adrian dan membantu Adrian keluar dari bayang-bayang masa lalu dengan batas waktu lima tahun.
Setelah hari itu, Sonia pun memperkenalkan Rebecca kepada Adrian, juga mengungkit tentang pernikahan mereka.
“Adrian, kamu bersedia nikah sama Becca?”
Sonia dan Rebecca sangat gelisah. Jika Adrian menolak, kontrak di antara mereka tidak mungkin bisa dijalankan.
Namun, Adrian malah mengangguk dan menjawab dengan tampang tidak bersemangat, “Terserah. Kalau bukan Irene, siapa saja juga nggak berarti lagi.”
Rebecca dan Adrian saling mengenal karena kontrak ini. Ini seharusnya hanyalah hubungan yang saling menguntungkan. Namun, Rebecca malah melakukan kesalahan. Seiring dengan perhatian penuh yang diberikannya kepada Adrian setiap hari, hati Rebecca pun tergerak.
Namun, Adrian selalu bersikap dingin dan tidak pernah menanggapi Rebecca dengan serius. Dia bahkan selalu menggunakan alasan sibuk bekerja untuk menunda mendaftarkan pernikahan mereka, satu-satunya hal yang dapat membuktikan hubungan pernikahan mereka.
Hingga suatu dini hari, Adrian yang mabuk pulang ke rumah dan memandang Rebecca dengan pandangan linglung. “Ayo kita punya anak.”
Malam itu, mereka melewati malam penuh gairah.
Rebecca mengira malam itu adalah awal dari kisah cinta mereka. Setelahnya, dia baru tahu bahwa Irene ternyata mengumumkan pacarnya ke publik pada hari itu. Namun, setelah memiliki Aiden, Adrian berhenti bersikap begitu dingin, juga tidak mengabaikan pengorbanan Rebecca lagi.
Awalnya, Rebecca mengira hubungan mereka akan berlanjut seperti itu. Namun, semuanya hanya bertahan hingga Irene mengumumkan bahwa dirinya telah putus.
Malam itu juga, Irene terpotret berjalan-jalan di tepi sungai sambil bergandengan tangan bersama Adrian. Berita itu melaporkan bahwa mereka sepertinya sudah kembali bersama. Setelahnya, mereka makin sering berhubungan. Adrian bahkan membawa Irene pulang ke rumah.
Sementara itu, putra Rebecca yang dingin juga langsung berubah begitu bertemu dengan Irene. Aiden menjadi sangat lengket dan selalu ingin menghabiskan waktu bersama Irene.
Di rumah ini, foto bersama Adrian, Aiden, dan Irene juga bertambah banyak. Sebelumnya, karena Adrian tidak suka mengambil foto, hampir tidak ada selembar pun foto mereka sekeluarga selama lima tahun ini.
Namun, sejak Irene makin sering datang bertamu, Adrian bukan hanya membeli kamera model terbaru, tetapi juga diam-diam memotong foto candid mereka bertiga dari tabloid gosip dan menyimpannya dengan baik. Adrian selalu membuat pengecualian untuk Irene.
Rebecca akhirnya sepenuhnya paham. Tidak peduli berapa banyak waktu yang diberikan kepadanya, Adrian tidak akan pernah mencintainya. Sebab, hanya ada Irene dalam hati Adrian.
Untungnya, semua ini hanyalah kontrak. Seminggu lagi, Rebecca sudah bisa meninggalkan keluarga yang membuatnya hidup tanpa harga diri ini. Dia juga bisa pergi ke luar negeri untuk mengejar mimpinya sebagai penulis.
Setelah memikirkan hal ini, Rebecca pun mengeluarkan ponselnya dan menghubungi sebuah penerbit di luar negeri. Dia juga memesan selembar tiket pesawat yang berangkat seminggu lagi.
Setelah tiba di rumah, Rebecca melajukan mobilnya ke tempat di mana dia biasanya memarkirkan mobil. Pada detik berikutnya, Irene malah terlebih dahulu merebut untuk memarkirkan mobilnya di sana. Di dalam mobil, ada juga suami dan putranya.
Bab 2
Setelah turun dari mobil, Irene sengaja berjalan ke arah Rebecca dengan ekspresi provokatif. “Maaf, aku nggak sengaja tempati tempat parkirmu. Kamu nggak keberatan, ‘kan?”
Sebelum Rebecca sempat berbicara, Adrian terlebih dahulu menjawab, “Ini pada dasarnya bukan tempat parkir khusus siapa pun. Selama kamu mau parkir, nggak ada seorang pun yang berani merasa keberatan.”
Seusai berbicara, Adrian melirik Rebecca dengan penuh peringatan.
Aiden juga menambahkan, “Bibi Irene, nggak usah pedulikan mamaku. Yang dia kendarai itu cuma mobil murahan. Aku justru malu kalau dia parkir di sini.”
Setelah mendengar ucapan Aiden, Rebecca mau tak mau merasa sangat kecewa. Dia sudah merawat Aiden dengan penuh perhatian selama empat tahun. Sekarang, Aiden bukan hanya membela Irene, tetapi juga mengucapkan kata-kata sekasar itu terhadapnya.
Pada saat ini, Adrian menarik lengan Irene dan mengumumkan dengan gembira, “Sudahlah, cepat pergi lihat kamar yang kupersiapkan untukmu. Kamarnya ada di sebelah kamarku.”
Aiden juga berseru gembira. “Yay! Kelak, bakal ada yang bisa temani aku main! Bibi Irene bisa apa saja! Nggak seperti Mama, dia membosankan banget!”
Adrian melirik Rebecca dan baru teringat bahwa dirinya lupa memberitahukan hal ini kepadanya.
“Masa sewa rumah Irene sudah berakhir. Untuk sementara, dia akan tinggal di sini.”
Setelah mendengarnya, Rebecca tetap menunjukkan ekspresi datar dan hanya mengiakannya dengan acuh tak acuh.
Melihat reaksi Rebecca yang seperti ini, Adrian tiba-tiba tertegun. Dia tidak menyangka Rebecca akan bersikap setenang ini.
Sebaliknya, malah Irene yang berkata dengan pura-pura merasa bersalah, “Sudahlah, sebaiknya aku tinggal di hotel saja. Gimanapun, Rebecca barulah pasanganmu. Aku cuma orang luar.”
Setelah mendengarnya, Aiden merasa sangat tidak senang. “Bibi Irene, jelas-jelas kamu yang lebih dulu kenal sama Papa. Kalau mau ngomong soal siapa yang orang luar, itu jelas bukan kamu.”
“Benar. Vila ini pada dasarnya memang dibeli untukmu. Mana mungkin kamu itu orang luar?”
Seusai berbicara, Adrian dan Aiden menarik Irene masuk ke vila. Sebelum berjalan masuk, Adrian tidak lupa menyerahkan kunci mobil Irene pada Rebecca.
“Bantu Irene bawa turun kopernya dari bagasi mobil.”
“Memangnya dia nggak punya tangan?”
Adrian melirik Rebecca dengan terkejut. Dia tidak pernah melihat Rebecca bersikap seperti ini. Rebecca seolah-olah sudah pasrah dan tidak peduli lagi pada apa pun reaksinya. Hal ini membuatnya merasa agak takut tanpa alasan.
“Kalau kamu nggak mau bantu, ya sudah. Aku suruh kepala pelayan ....”
“Sudahlah, biar aku saja yang melakukannya.”
Rebecca menerima kunci mobil seperti biasa. Namun, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Dia bahkan memendam sedikit emosinya yang tersisa itu.
Saat Rebecca membawa koper itu masuk ke rumah, Aiden sedang menunjukkan hadiah yang ingin diberikannya kepada Irene dengan girang. Hadiah itu adalah empat buah emas batang seberat lima gram. Dia mempersembahkan hadiah itu ke hadapan Irene seperti sedang menyerahkan harta karunnya.
Irene membelalak terkejut, sedangkan Rebecca terlihat pucat.
Keluarga Pangestu memang tidak kekurangan uang, tetapi empat buah emas batang itu dibelinya dengan uang yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit. Setiap Aiden berulang tahun, dia akan menghadiahkan sebuah emas batang lima gram.
Hadiah itu bukan hanya simbol kekuatan yang diberikan Rebecca kepada Aiden, tetapi juga merupakan wujud doanya bagi masa depan Aiden. Tak disangka, Aiden malah memberikannya kepada Irene dengan semudah itu.
Melihat raut wajah Rebecca yang kurang baik, Adrian juga menatap Aiden dengan kening berkerut. “Aiden, itu hadiah ulang tahun yang diberikan Mama untukmu. Mana boleh kamu memberikannya kepada orang lain?”
Aiden menjawab dengan tidak terima, “Bibi Irene itu bukan orang lain. Dia itu orang yang Aiden suka. Lagian, bukannya ini cuma beberapa buah emas batang murahan? Keluarga Pangestu juga nggak kekurangan sedikit uang seperti ini!”
Adrian masih ingin mengucapkan sesuatu, tetapi malah terdengar suara lembut Rebecca dari belakang.
“Yang dikatakan Aiden benar. Beberapa buah emas batangan itu memang nggak bernilai. Kalau dia pengen kasih ke orang lain, ya terserah dia saja.”
Seusai berbicara, Rebecca tidak peduli pada keterkejutan semua orang dan langsung masuk ke kamarnya. Dia bersandar di pintu kamar dengan lelah dan memejamkan matanya dengan sedih. Hanya tersisa tujuh hari. Tidak lama lagi, dia sudah bisa sepenuhnya meninggalkan tempat ini.
Bab 3
Keesokan harinya, Rebecca bangun pagi-pagi. Selama ini, dia dan Adrian tidur di kamar yang berbeda. Alasan pertama, karena Adrian belum sepenuhnya menerimanya. Alasan kedua, Adrian sangat mementingkan kebersihan. Dia tidak dapat menoleransi orang lain masuk ke kamarnya.
Setelah mandi, Rebecca pun pergi ke firma hukum temannya. Monica akhirnya mengetahui segalanya setelah berbincang dengan Rebecca.
“Jadi, kamu bersikap begitu baik terhadap Adrian cuma karena terikat kontrak?”
Rebecca mengangguk.
Setelah mendengarnya, Monica menghela napas lega. “Waktu baca berita belakangan ini, aku sangat khawatir padamu. Setelah tahu semua ini hanya dilandaskan kontrak, aku sudah jauh lebih tenang.”
Monica bertanya lagi, “Jadi, buat apa kamu cari aku hari ini? Kamu mau aku buatkan surat cerai untukmu?”
Rebecca menertawakan dirinya sendiri. “Aku dan Adrian nggak pernah daftarkan pernikahan kami. Kali ini, aku datang untuk suruh kamu buatkan surat perjanjian penyerahan hak asuh anak.”
Monica sangat terkejut setelah mendengarnya. “Siapa yang nggak tahu kamu sayang banget sama anakmu? Sekarang, kamu malah mau lepaskan hak asuh Aiden?”
Tebersit sedikit kesedihan di mata Rebecca. Dia mengangkat kepala dan menjawab, “Kamu cuma perlu buatkan surat itu.”
Setelah mendengar ucapan ini, Monica juga tidak enak hati untuk berbicara lebih lanjut. Dia pun menyiapkan surat itu dengan cepat, lalu menyerahkannya kepada Rebecca.
Rebecca menggenggam erat surat itu, lalu berjalan pergi. Melihat punggungnya, Monica merasa sangat sedih. Dia berseru, “Rebecca, kamu sudah habiskan lima tahun, tapi masih nggak mampu menangkan hatinya. Kelak, simpanlah semua kebaikan yang kamu berikan padanya untuk dirimu sendiri.”
Rebecca menghentikan langkahnya, lalu menoleh dan menjawab sambil tersenyum, “Oke. Aku akan berbuat begitu.”
...
Ketika Rebecca tiba di rumah, waktu telah menunjukkan pukul 10 pagi. Namun, ruang tamu masih kosong. Sarapan yang disiapkannya sebelum meninggalkan rumah juga masih terletak di meja makan dan sudah dingin.
Rebecca memanaskan sarapan itu sekali, lalu pergi ke lantai atas untuk membangunkan Aiden dan Adrian seperti biasa.
Adrian tidak suka orang lain masuk ke kamarnya secara asal. Dia pun menetapkan peraturan untuk mengetuk pintu sebelum masuk.
Baru saja Rebecca mengetuk pintu, pintunya sudah dibuka. Irene sedang meregangkan tubuhnya. Setelah melihat Rebecca, dia juga masih terlihat sangat santai.
“Aku masuk ke kamar Adrian untuk pinjam kamar mandi. Entah kenapa pagi ini pinggangku masih sakit.”
Wajah Rebecca pun memucat. Baru saja Irene hendak lanjut memprovokasi, Adrian yang mengenakan piama berjalan keluar.
“Irene, siapa yang ketuk pintu? Aiden?”
Rebecca mengalihkan pandangannya ke arah datangnya suara, lalu melihat leher Adrian yang dipenuhi dengan bekas ciuman. Dia pun menertawakan dirinya sendiri.
Selama lima tahun pernikahan, mereka nyaris tidak pernah melakukan kontak fisik. Rebecca mengira Adrian tidak tertarik pada hal seperti ini. Dinilai dari keadaan sekarang, Adrian sepertinya hanya tidak tertarik padanya.
Setelah melihat Rebecca, Adrian terlihat panik. Dia buru-buru menarik pakaiannya untuk menutupi lehernya, lalu menjelaskan pada Rebecca, “Irene cuma datang untuk pinjam power bank. Kamu jangan pikir kejauhan.”
Setelah mendengarnya, Rebecca pun tersenyum sinis. Sebelum berbohong, mereka bukannya terlebih dahulu menyamakan alibinya. Namun, dia juga tidak mengungkapkan kebohongan mereka. Dia hanya memberi tahu bahwa sarapannya telah siap dan langsung turun.
Pernikahan ini hanya sebatas kontrak. Rebecca tidak peduli Adrian ingin bermesraan dengan siapa saja. Yang perlu dilakukannya sekarang hanyalah menunggu. Lewat minggu ini, dia sudah bisa meninggalkan rumah ini.
Lima menit kemudian, Adrian, Aiden, dan Irene baru turun.
Melihat pangsit di meja, Aiden mengernyit. “Pangsit ini sudah dipanaskan, nggak segar lagi. Mama, Aiden mau makan cakwe buatanmu!”
Adrian menasihati dengan sabar, “Aiden, Mama sudah buat sarapannya. Kita nggak boleh menyia-nyiakan makanan. Besok, Mama baru buatkan cakwe. Oke?”
“Nggak! Aku mau makan sekarang juga!”
Adrian tidak pernah memanjakan anak. Baru saja dia hendak memarahi Aiden, Irene malah tiba-tiba menyela, “Rebecca, dengar-dengar, cakwe buatanmu sangat enak. Aku juga mau cicip.”
Mendengar Irene juga ingin makan, sikap Adrian langsung berubah. Dia memberi perintah pada Rebecca, “Berhubung semua orang mau makan, kamu buat saja.”
“Nggak bisa.” Rebecca lanjut memakan pangsitnya tanpa mendongak sekali pun.
“Kalau pengen makan, kalian masak saja sendiri. Aku yang bungkus pangsit ini tadi pagi. Kalau kalian nggak mau makan, dibuang saja.”
Bab 4
Adrian pun tertegun. Seingatnya, Rebecca hampir tidak pernah menolak permintaannya. Tidak peduli seberapa tidak masuk akal pun permintaannya, Rebecca juga akan selalu berusaha melakukannya. Dia sangat jarang mendengar Rebecca menolak.
Setelah mendengar ucapan Rebecca, Irene menertawakan dirinya sendiri. “Aku yang salah. Hanya dengan pindah kemari saja, aku sudah cukup merepotkan. Sekarang, aku malah berharap untuk makan masakan Rebecca.”
Seusai berbicara, Irene pun hendak pergi.
Begitu mendengarnya, Aiden pun merengek dan memukul Rebecca. “Mama jahat! Kamu nggak boleh tindas Bibi Irene!”
Adrian buru-buru menarik lengan Irene, lalu menyalahkan Rebecca. “Kamu masih marah soal kejadian tadi pagi? Sudah kubilang Irene cuma datang pinjam power bank. Buat apa kamu mempermasalahkannya?”
Rebecca menjawab dengan ekspresi datar, “Aku lagi nggak enak badan, nggak punya tenaga untuk masak.”
“Mama, kamu sakit?”
Aiden terlebih dahulu merasa terkejut, lalu menutup mulutnya dengan jijik. “Mama, kenapa kamu nggak bilang dari awal? Tubuh Bibi Irene sangat lemah, gimana kalau dia ketularan sakitmu?”
Seusai berbicara, Aiden menarik lengan baju Adrian dan berujar, “Nggak bisa begini. Papa, untuk jaga-jaga, sebaiknya kita pergi belikan obat buat Bibi Irene.”
“Aiden, nggak usah. Bibi nggak apa-apa.”
Namun, Adrian malah menatap Irene dengan penuh kasih sayang. “Dengar saja kata-kata Aiden. Kamu jangan paksakan diri lagi. Dulu, setiap sakit, kamu butuh hampir setengah bulan untuk sembuh.”
Ketiga orang itu pun keluar rumah dengan bergandengan tangan. Yang tersisa di rumah hanya Rebecca dan pangsit yang dingin lagi.
Setelah hidup bersama bertahun-tahun, suami dan putra kandungnya bukan hanya tidak peduli padanya, malah pergi membelikan obat untuk Irene yang tidak sakit sebagai bentuk pencegahan. Rebecca pun membuang pangsit yang tersisa dan temenung untuk sesaat.
Tidak lama kemudian, Rebecca menerima pesan dari Adrian.
[ Kami mau pergi ke supermarket. Bawalah mobil kemari untuk jemput kami. ]
Ketika Rebecca tiba, hanya ada Irene dan Aiden.
“Bibi Irene, aku pengen makan es krim!”
Irene mencubit pipi Aiden dan menjawab, “Oke! Kalau Aiden mau makan, Bibi akan membelikannya untukmu.”
Rebecca pun mengernyit dan menghampiri mereka untuk mencegahnya.
“Aiden, kamu lupa apa pesan dokter? Perutmu sensitif, kamu nggak boleh makan es krim.”
Aiden yang awalnya terlihat gembira langsung cemberut.
“Rebecca, kalau anak pengen makan, ya dibelikan saja. Kamu nggak perlu begitu khawatir.”
Rebecca pun menyahut dengan ekspresi muram, “Ini urusan keluargaku, kamu nggak usah ikut campur.”
Baru saja Rebecca selesai berbicara, Adrian pun kembali.
Irene menatap Adrian dengan tampang sedih. “Adrian, aku mau belikan es krim buat Aiden, tapi Rebecca nggak setuju.”
Rebecca menjelaskan dengan suara berat, “Dokter baru berpesan, kita boleh belikan makanan ringan lain buat Aiden, tapi dia baru boleh makan es krim setelah sembuh.”
Adrian sama sekali tidak dapat menerima membiarkan Irene merasa sedih. Ekspresinya pun menjadi dingin.
“Makin kamu bersikap begini, anak juga akan makin membencimu. Memangnya kamu nggak bisa biarkan dia makan sesuap, lalu kamu makan sisanya? Lagian, Irene juga berniat baik. Buat apa kamu perbesar masalahnya?”
Hati Rebecca terasa seperti sudah disayat. Dia tidak menyangka Adrian bahkan tidak peduli pada kesehatan anak demi membela Irene. Adrian bahkan sengaja menggunakan hal yang paling dipedulikannya untuk mengejeknya.
Rebecca pun tersenyum getir, tetapi tidak membantah Adrian lagi. Sebab, dia tiba-tiba menyadari bahwa sejak Irene kembali, dirinya sudah sepenuhnya menjadi orang luar. Tidak peduli seberapa banyak pengorbanannya, di mata mereka, dia tetap tidak dapat dibandingkan dengan Irene.
Bab 5
Irene tidak dapat menyembunyikan kepuasannya. Sementara itu, Aiden juga berseru, “Papa dan Bibi Irene memang baik! Nggak seperti Mama jahat yang nggak bersedia belikan es krim untuk Aiden!”
Ucapan Aiden segera menarik perhatian orang lainnya. Semua orang pun mulai membicarakan Rebecca. Hati Rebecca terasa makin dingin. Inilah putra yang sudah dibesarkannya dengan sepenuh hati selama empat tahun.
Di sisi lain, Adrian juga membiarkan Aiden merengek dengan suara kuat. Dia sama sekali tidak berniat untuk menghentikan rengekan Aiden. Pada akhirnya, Irene yang berpura-pura menghibur Aiden sehingga keributan ini akhirnya berakhir.
Seusai berbelanja di supermarket, Adrian, Aiden, dan Irene mengusulkan untuk pergi ke restoran yang terkenal karena hidangan pedasnya. Ngomongnya saja itu hanyalah usulan, sebenarnya mereka sama sekali tidak memberikan Rebecca kesempatan untuk menolak.
Adrian memesan banyak makanan. Selain telur tumis tomat untuk Aiden, hampir setiap makanan lainnya adalah makanan pedas. Tidak ada seorang pun yang menanyakan pendapat Rebecca. Mereka langsung menyerahkan pesanan itu.
“Adrian, aku nggak nyangka setelah berpisah begitu lama, kamu masih ingat semua makanan kesukaanku.”
Irene menyentuh tangan Adrian dengan penuh kemesraan. Sementara itu, telinga Adrian langsung memerah. Setelah semua pesanan keluar, Adrian tidak berhenti mengambilkan makanan untuk Irene.
Rebecca hanya bisa menunduk dan makan nasi putih. Dia sama sekali tidak menyentuh satu pun lauk yang dipesan.
Adrian bertanya dengan bingung, “Kenapa kamu nggak makan lauk?”
Rebecca menjawab dengan tenang, “Aku nggak bisa makan pedas.”
Adrian pun terkejut. Setiap kali, Rebecca selalu memasakkan makanan yang pedas. Dia mengira Rebecca juga menyukai makanan pedas, tetapi sama sekali tidak pernah memperhatikan selera makannya.
Hati Adrian tiba-tiba terasa tidak nyaman. Dia pun mengambil buku menu dan berujar, “Kalau begitu, aku akan pesankan beberapa lauk lagi. Kamu suka makan apa? Katakanlah padaku.”
“Nggak usah. Kalian makan saja.”
Adrian masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi seseorang tiba-tiba menunjuk Irene dan berseru, “Kamu itu Irene? Kamu Pak Adrian?”
Melihat Irene yang mengangguk pelan, orang itu berseru dengan penuh semangat, “Aku ini penggemar kalian! Berita kalian di internet benar-benar manis! Kisah kalian mirip banget sama drama romantis! Kalian benar-benar sudah balikan?”
Setelah mendengar pertanyaan itu, Adrian melirik Rebecca, lalu bertemu pandang dengan tatapan penuh harap Irene. Kemudian, dia mengangguk pada penggemar itu dan mengiakannya.
Penggemar itu langsung berseru kegirangan, “Setelah lima tahun penuh lika-liku, kalian akhirnya bersama lagi. Apa lagi ini namanya kalau bukan cinta sejati?”
Irene menjawab sambil tersenyum, “Dulu, aku yang nggak tahu cara menghargai Adrian. Kelak, aku akan menghargainya dengan baik.”
Adrian menatap Irene dengan tatapan penuh kebahagiaan.
Setelah orang itu pergi, Aiden juga bertanya dengan gembira, “Papa, berhubung kamu dan Bibi Irene sudah bersama, apa itu berarti aku sudah boleh ganti mama?”
Adrian buru-buru menutup mulut Aiden dan mengisyaratkannya untuk tidak lanjut berbicara. Kemudian, dia menatap Rebecca dan berkata, “Aiden masih kecil, kamu nggak usah taruh kata-katanya ke hati.”
Melihat Rebecca yang tidak menunjukkan reaksi apa pun, Adrian berujar lagi, “Tadi, aku bilang begitu karena memikirkan karier Irene.”
Rebecca mengangguk. “Aku tahu. Kamu nggak perlu menjelaskannya padaku.”
Melihat Rebecca yang bersikap setenang itu, Adrian merasa agak aneh.
Irene yang berada di samping menggenggam tangan Adrian dengan lembut. “Adrian, cepat makan. Nanti makanannya dingin.”
Setelah mendengar ucapan itu, Adrian pun tersenyum manis. Tidak lama kemudian, dia tenggelam lagi dalam kelembutan Irene dan sama sekali lupa pada Rebecca.
Seusai makan, mereka berjalan ke tempat parkir di seberang jalan. Tiba-tiba, ada sebuah mobil sedan kecil yang melaju keluar dari persimpangan.
Setelah menyadarinya, Adrian secara refleks menarik Irene dan Aiden ke pinggir jalan. Namun, dia malah melupakan Rebecca yang berjalan di jalan raya.
Pada detik berikutnya, terdengar suara berdecit mobil sedan mengerem mendadak dan suara Rebecca jatuh ke lantai. Begitu melihat keadaan ini, Adrian langsung panik. Dia buru-buru melepaskan Irene dan pergi memeriksa keadaan Rebecca.
Sekujur tubuh Rebecca terasa luar biasa sakit. Dia meringkuk di lantai dan keningnya dipenuhi keringat dingin.
Seluruh perhatian Adrian saat ini sedang tertuju pada Rebecca. Suaranya terdengar cemas hingga gemetar. “Rebecca! Gimana keadaanmu? Aku antar kamu ke rumah sakit sekarang juga!”
Rebecca ingin menjawab, tetapi rasa sakit hebat itu membuatnya tidak bertenaga untuk berbicara. Dia mencoba menggenggam tangan Adrian untuk menyuruhnya tidak perlu khawatir.
Baru saja Rebecca mengulurkan tangan, Aiden sudah berseru ke arah Adrian, “Papa, Bibi Irene hampir pingsan! Cepat kemari!”
Bab 6
Begitu mendengar seruan itu, Adrian segera mengalihkan perhatiannya ke arah Irene. Kekhawatiran di matanya terlihat makin pekat dari sebelumnya.
Irene berkata dengan keras kepala, “Adrian, aku baik-baik saja, cuma fobia darah. Kamu nggak usah peduli padaku. Saat ini, keadaan Rebecca lebih serius.”
“Bibi Irene, wajahmu sudah sepucat ini, tapi kamu masih bilang baik-baik saja! Papa, jangan bengong lagi! Cepat antar Bibi Irene ke rumah sakit! Mobilnya sudah ngerem kok! Mama pasti cuma lagi sandiwara biar bisa rebut perhatianmu dari Bibi Irene!”
Seusai Aiden berbicara, Adrian menatap Rebecca dengan agak curiga. Dia mengerutkan kening dan tidak tahu harus membuat keputusan apa.
Ketika mendengar Irene mengerang kesakitan beberapa kali, Adrian sontak kehilangan seluruh akal sehatnya. Dia buru-buru memapah Irene, lalu berjalan ke arah mobil. Ketika melewati Rebecca, dia bahkan menutupi mata Irene.
Setelahnya, Adrian menoleh dan berkata dengan penuh rasa bersalah, “Tubuh Irene memang lemah sejak kecil. Dia nggak boleh kenapa-napa. Aku sudah telepon ambulans. Nanti, akan ada orang yang datang menjemputmu. Kamu tunggu saja dulu.”
Seiring dengan suara langkah kaki mereka yang menjauh, Rebecca juga perlahan-lahan menerima kenyataan bahwa dirinya telah ditelantarkan. Dia ingin tersenyum getir. Namun, begitu dia mengangkat sudut mulutnya, darah pun mengalir keluar dari mulutnya.
Ketika ambulans tiba, Rebecca sudah hampir kehilangan kesadaran. Dia hanya mendengar suara staf medis berkata, “Orang macam apa itu? Habis telepon ambulans, mereka malah langsung tinggalkan orang yang terluka sendirian.”
Ketika tersadar lagi, Rebecca sudah berbaring di atas ranjang pasien. Dokter datang dan berkata, “Kamu kecelakaan, ‘kan? Tubuhmu penuh luka gores dan kamu juga mengalami gegar otak ringan.”
Rebecca tidak terkejut setelah mendengar diagnosisnya. Meskipun pengemudi mengerem tepat waktu, dia tetap terkena benturan ringan. Dia pun menatap dokter dan bertanya, “Kapan aku bisa keluar dari rumah sakit?”
Dokter buru-buru menghentikannya. “Kamu masih berpikiran untuk keluar dari rumah sakit? Dengan keadaan gegar otak seperti ini, kamu paling nggak harus dirawat di rumah sakit selama empat hari!”
Setelah dokter pergi, Rebecca pun membunyikan jarinya. Masih tersisa lima hari sebelum kontraknya berakhir. Setelah keluar dari rumah sakit, yang tersisa hanya sehari lagi.
Begitu memikirkan hal ini, Rebecca pun menghela napas panjang. Dia akhirnya akan segera terlepas dari semua penderitaan ini.
“Eh, kamu tahu nggak? Irene juga diopname di rumah sakit ini, lho! Pria yang digosipkan bersamanya juga datang!”
“Serius?”
“Tentu saja! Kamu nggak tahu betapa cemasnya Pak Adrian waktu itu. Dia yang gendong Irene sepanjang perjalanan ke kamar rawat VIP! Dia juga suruh ahli terbaik dalam industri untuk periksa Irene!”
Begitu mendengar percakapan itu, Rebecca langsung tersenyum pahit. Dia berjalan selangkah demi selangkah ke kamar rawat VIP sambil bertopang pada dinding.
Melalui celah kecil dari pintu kamar rawat VIP, Rebecca melihat Irene berbaring di atas ranjang pasien dan Aiden menggenggam tangannya dengan erat. Sementara itu, Adrian menyuap Irene makan bubur dengan penuh perhatian. Tatapannya penuh dengan kelembutan yang tidak pernah dilihat Rebecca.
Mereka terlihat hangat dan bahagia bersama, sedangkan Rebecca yang berdiri di luar pintu sangat mirip dengan pengintip yang mengintip kebahagiaan orang lain.
Seorang perawat datang untuk mengganti obat Irene. Dia mengira Rebecca adalah seorang penggemar dan bergosip dengannya.
“Kamu juga merasa mereka sangat bahagia, ‘kan? Waktu Pak Adrian antar orangnya kemari, dia sangat sakit hati dan berharap yang pusing itu dirinya sendiri. Dinilai dari kecemasan yang ditunjukkannya, rumor di internet seharusnya asli.”
Begitu mendengarnya, Rebecca menjawab dengan suara serak, “Mereka memang sangat bahagia.”
Setelah perawat itu pergi, Rebecca juga diam-diam kembali ke ruang rawatnya. Sejak dia diopname di rumah sakit, ponselnya tidak berdering sekali pun. Tidak peduli itu putra maupun suaminya, tidak ada seorang pun yang mengirim pesan untuk menanyakan kabarnya. Dibandingkan dengan perlakuan yang diterima Irene, dirinya benar-benar tragis.
Rebecca hanya menerima sebuah e-mail yang ditandai dengan warna merah di kotak surat. Itu adalah e-mail dari penerbit luar negeri untuk memberitahunya bahwa kompetisi akan segera berlangsung dan karyanya harus dikirim melalui e-mail.
Setelah menerima kabar tersebut, Rebecca pun menyuruh Monica untuk mengantarkan laptop kepadanya. Dia berencana untuk menulis di rumah sakit. Dia tinggal di kamar rawat inap khusus. Jadi, situasinya lumayan tenang. Hal ini membuatnya dapat lebih fokus untuk berkarya.
Demi tidak diganggu dunia luar, Rebecca menonaktifkan ponselnya, juga mengatur laptopnya ke mode offline.
Selama lima tahun bersama Adrian, Rebecca mencurahkan seluruh perhatiannya pada Adrian. Dia sangat jarang menulis. Namun, dia tidak merasa asing ketika harus memulai untuk menulis kembali.
Rebecca mencurahkan seluruh perhatiannya pada menulis hingga bahkan tidak memperhatikan waktu yang berlalu. Sampai perawat memberitahunya bahwa dirinya sudah boleh keluar dari rumah sakit, dia baru menyadari bahwa empat hari telah berlalu.
Saat ini, Rebecca kebetulan juga telah selesai menulis naskah prosanya. Setelah mengirim karyanya, dia baru mengeluarkan ponselnya. Begitu mengaktifkan ponsel, langsung masuk notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab dari Adrian. Jumlahnya lebih dari 99 notifikasi.
Bab 7
Rebecca merasa sangat bingung. Biasanya, Adrian bahkan jarang mengirim pesan kepadanya. Kenapa Adrian bisa meneleponnya bahkan sampai sebanyak ini?
Rebecca pulang ke rumah dengan heran. Begitu melihatnya, pembantu langsung berseru gembira, “Nyonya, akhirnya kamu pulang juga. Selama kamu nggak ada rumah beberapa hari ini, Pak Adrian seperti sudah mau gila. Nggak ada satu pun masakan kami yang cocok sama seleranya.”
Setelah mendengarnya, Rebecca pun mengerti. Ternyata Adrian tidak terbiasa karena bukan dia yang memasak. Namun, cepat atau lambat, dia juga harus terbiasa. Bagaimanapun juga, kelak tidak akan ada lagi orang yang sengaja mempelajari resep dan memasak makanan kesukaannya.
Rebecca berganti sepatu dan berjalan ke ruang tamu. Adrian sedang duduk bengong dengan kening berkerut di sofa. Aura yang dipancarkannya sangat suram.
Ketika mendengar suara langkah kaki, Adrian pun berangsur-angsur mengangkat kepala. Matanya dipenuhi dengan kelelahan. Namun, begitu melihat Rebecca, matanya langsung berbinar.
Adrian segera bangkit dan berkata dengan agak marah, “Kamu pergi ke mana? Aku sudah meneleponmu berkali-kali, kenapa kamu nggak angkat telepon?”
Rebecca berjalan ke depan sofa dan duduk sebelum menjawab, “Aku diopname di rumah sakit. Aku baru diperbolehkan pulang hari ini.”
Begitu mendengarnya, Adrian langsung terkejut. Dia sibuk menjaga Irene hingga hampir lupa mengenai kecelakaan itu. Waktu itu, dia percaya pada ucapan Aiden dan mengira Rebecca memang hanya sedang bersandiwara karena cemburu.
Adrian mengira Rebecca hanya terluka ringan. Tak disangka, dia benar-benar terluka serius sampai perlu diopname di rumah sakit.
Adrian pun merasa bersalah dan berkata dengan ragu, “Kamu nggak marah soal insiden hari itu, ‘kan? Aku juga nggak nyangka keadaanmu separah itu. Kalau Irene nggak segera diobati, nyawanya akan terancam. Makanya, aku baru terpaksa tinggalkan kamu.”
Setelah mendengarnya, Rebecca hanya merasa semua ini sangat ironis. Ada beberapa bagian tubuhnya yang tergores bahkan sampai berdarah, tetapi Adrian mengabaikannya. Sementara itu, Irene yang hanya fobia darah malah dibilang nyawanya terancam.
Namun, Rebecca langsung mengikhlaskannya. Bagaimanapun juga, seseorang pasti akan memperlakukan orang yang dicintainya dengan spesial. Ini merupakan hal yang sangat wajar. Lagi pula, hubungannya dengan Adrian juga hanya sebatas dilandaskan kontrak.
Rebecca mengiakannya dengan acuh tak acuh dan hendak bangkit. Di sisi lain, Adrian melihat naskah prosa yang dipegangnya dan bertanya, “Sejak kapan kamu punya minat dalam menulis?”
Ucapan itu seketika membuat tatapan Rebecca menjadi dingin. Setiap tahun, dia selalu menuliskan puisi untuk Adrian pada hari ulang tahun pernikahan mereka. Namun, Adrian selalu bersikap cuek dan langsung meletakkannya di gudang. Adrian tentu saja tidak tahu bahwa Rebecca mahir dalam menulis karya sastra.
Rebecca menjawab dengan dingin, “Cuma asal nulis.”
Adrian juga tidak melanjutkan topik ini. Dia hanya menatap Rebecca dan berujar, “Nafsu makanku selama beberapa hari terakhir kurang bagus. Aku pengen makan daging tumis lada buatanmu.”
Rebecca menunjuk ke kulkas dan menjawab, “Nggak ada bahannya.”
Adrian tertegun, lalu buru-buru berkata, “Kalau begitu, aku temani kamu belanja.”
Baru saja Adrian selesai berbicara, Irene pun berjalan turun sambil memegang koper.
Tidak lama kemudian, Aiden juga turun dan mencengkeram tangan Irene sambil berujar dengan sedih, “Bibi Irene, bisa nggak kamu jangan pergi? Aiden dan Papa nggak rela kamu pergi.”
“Aiden, jangan sedih. Bukannya kita akan ketemu di pesta tahunan malam ini?”
Kemudian, Irene dan Adrian mengobrol sejenak. Sementara itu, Aiden mencengkeram tangan Adrian dengan panik. “Papa, jangan berdiri saja. Cepat antar Bibi Irene!”
Adrian terlihat ragu. Dia menunjuk Rebecca dan menjawab, “Tapi, aku ....”
Sebelum Adrian menyelesaikan kata-katanya, Rebecca sudah menyela, “Kamu pergi antar Irene saja. Dia butuh kamu.”
Adrian langsung merasa panik. Dia menarik Rebecca berjalan sedikit menjauh.
“Rebecca, di musim dingin tahun ini, kita bawa Aiden ke Hokkani, ya.” Adrian berkata dengan nada yang jarang terdengar lembut, “Bukannya kamu juga selalu pengen pergi ke sana? Ayo kita sekeluarga pergi bersama.”
Rebecca memandang dua orang yang sedang bergurau dengan gembira di belakang Adrian, seolah-olah mereka barulah ibu dan anak. Dia pun menjawab dengan acuh tak acuh, “Lihat saja nanti.”
Bagaimanapun juga, Rebecca akan segera pergi. Mana mungkin dia memiliki kesempatan seperti itu lagi?
Aiden tidak berhenti berseru untuk menyuruh ayahnya naik ke mobil. Adrian merasa cemas, tetapi tetap naik ke mobil dengan ragu.
Rebecca berdiri diam di tempat, lalu menatap kalender sambil tersenyum. Setelah melewati malam ini, dia sudah benar-benar bisa meninggalkan kediaman Keluarga Pangestu.
Bab 8
Malam ini, ada pesta tahunan perusahaan. Orang yang hadir perlu membawa seorang pendamping. Irene menggandeng tangan Adrian dan menghadiri pesta ini dengan mengenakan pakaian mewah.
Rebecca tidak menerima pemberitahuan, tetapi tetap menghadiri pesta tahunan ini. Sebab, dia ingin memberikan surat perjanjian penyerahan hak asuh anak kepada Sonia.
Pada saat ini, masih ada dua jam sebelum pesawat lepas landas. Waktu Rebecca sudah tidak banyak lagi. Dia mencari sosok Sonia ke sekeliling.
Ketika Rebecca sedang mencari orang, lampu di panggung tiba-tiba menyala. Di atas panggung, orang yang sedang berpidato adalah Adrian. Di sisinya, berdiri Aiden dan Irene.
Para karyawan pun mulai berdiskusi.
“Sepertinya, rumor di internet memang benar. Pak Adrian benar-benar setia. Yang dirumorkan bersamanya selama ini adalah orang yang sama.”
“Kalau nggak salah, aku kayaknya pernah dengar Pak Adrian sudah menikah deh?”
“Dia itu cuma seorang perempuan kampungan yang memalukan. Pak Adrian nggak menaruh perasaan apa pun terhadapnya. Dia dan Irene barulah cinta sejati.”
Rebecca tidak sempat mendengar gosip orang-orang. Dia naik ke tangga untuk mencari sosok Sonia. Setelah mencari sejenak dan tidak menemukan Sonia, dia pun hendak berbalik. Namun, tiba-tiba terdengar suara dari belakangnya.
“Memangnya kamu ada terima undangan? Orang yang hadir cuma boleh bawa seorang pendamping. Sangat jelas, yang menang itu aku.”
Itu adalah Irene. Saat ini, ekspresinya terlihat garang. Dia sudah tidak lagi bersikap lemah lembut seperti ketika berada di depan Adrian. “Kamu percaya nggak? Di antara kamu dan aku, Adrian akan selalu memilihku?”
Rebecca menjawab dengan dingin, “Aku nggak punya waktu untuk temani kamu main permainan membosankan seperti ini.”
Irene tersenyum meremehkan. Selanjutnya, dia mendorong Rebecca dengan kuat.
Rebecca yang kehilangan keseimbangan langsung berguling menuruni anak tangga sebelum terempas kuat di lantai. Namun, dia masih memegang erat surat perjanjian di tangannya.
Rasa sakit langsung datang secepat kilat dan menjalar di sekujur tubuh Rebecca. Cedera baru yang bersinggungan dengan luka lama seketika membuat Rebecca meringis kesakitan.
Suara yang kuat ini telah menarik perhatian semua orang di lokasi. Ketika Adrian tiba di lokasi kejadian dan melihat Rebecca, dia buru-buru berlari mendekat. Kemudian, dia memapah Rebecca dengan hati-hati dan bertanya dengan cemas, “Kenapa kamu bisa jatuh?”
Rebecca menatap ke arah pelaku di belakangnya. Namun, Irene tidak menghindari tatapannya, malah berseru dengan tampang provokatif, “Adrian, kakiku sakit banget.”
Aiden langsung berseru, “Papa, cedera di kaki Bibi sangat parah. Cepat datang untuk periksa dia!”
Kali ini, Adrian merasa ragu. Dia menatap Rebecca dengan khawatir.
Namun, Rebecca malah mengerahkan seluruh tenaganya untuk bangkit sendiri. “Kamu nggak usah pedulikan aku.”
Adrian hanya bisa menyahut dengan cemas, “Aku pergi periksa dulu. Nanti, aku akan mencarimu.”
Rebecca akhirnya menemukan Sonia. Ketika melihat keadaan Rebecca, bahkan Sonia yang sudah terbiasa menghadapi berbagai macam situasi serius juga terkejut.
“Kenapa tampangmu begitu berantakan? Yang di bajumu itu ... bekas darah?”
Rebecca hanya menjawab dirinya tidak apa-apa, lalu langsung menyerahkan surat perjanjian itu kepada Sonia dengan jari gemetar. “Nih.”
Setelah membacanya, Sonia menghela napas panjang.
“Mungkin aku nggak seharusnya buat kesepakatan seperti itu denganmu dulu. Aku bukan cuma membuatmu terlibat dalam masalah ini, juga membuatmu berakhir seperti ini. Keluarga Pangestu yang berutang padamu. Pergilah. Mulai sekarang, kamu sudah nggak punya hubungan apa-apa dengan Keluarga Pangestu.”
Rebecca menjawab dengan suara gemetar, “Terima kasih.”
...
Rebecca akhirnya naik ke pesawat. Meskipun tampangnya terlihat menyedihkan, dia malah merasa sangat bahagia. Dia akhirnya bebas dan tidak terikat kontrak lagi. Hanya pada saat ini, dirinya barulah miliknya sendiri.
Di pagi hari, cahaya fajar pertama menyelinap masuk melalui jendela pesawat. Mulai sekarang, seluruh bayang-bayang kegelapan dalam kehidupan Rebecca sudah sirna dan digantikan oleh masa depan yang penuh harapan.