Đang tải thông tin quảng bá...
Awan Tenang, Angin Membawa Cinta
Di tahun kedelapan hubungannya dengan Jordan, Wulan harus dirawat di rumah sakit karena sakit. Hari itu, saat keluar dari rumah sakit, secara tak sengaja Wulan mendengar percakapan antara Jordan dan k...
Chương (1)
第1章
Di tahun kedelapan hubungannya dengan Jordan, Wulan harus dirawat di rumah sakit karena sakit.
Hari itu, saat keluar dari rumah sakit, secara tak sengaja Wulan mendengar percakapan antara Jordan dan kakak perempuannya di lorong.
“Jordan, kau gila? Kau benar-benar menyembunyikan hal ini dari Wulan, lalu diam-diam memberikan sumsum tulangnya untuk Maya?”
“Kau tahu kondisi tubuh Wulan lemah, tapi tetap membohonginya dengan alasan sakit maag dan membiarkannya menanggung risiko sebesar itu?”
Maya Hendrawan adalah sahabat masa kecil yang telah lama disukai Jordan.
Wulan tak menangis, tak juga mengamuk. Ia hanya mengangkat telepon, menelepon kedua orang tuanya yang berada jauh di luar negeri, dan setuju untuk menikah dengan keluarga Lunarman
Bab 1
“Jordan, kau sudah gila?! Kau benar-benar menyembunyikan hal ini dari Wulan dan diam-diam mendonorkan sumsum tulangnya untuk Maya?!”
Di sebuah rumah sakit swasta di Linkin, Erika bergegas masuk ke kamar rawat dan langsung menunjuk Jordan yang duduk di sofa sambil memaki dengan marah.
Jordan sedikit mendongak. Wajah tampannya tampak kusut, dan suaranya terdengar penuh kelelahan.
“Kak, cuma sumsum tulang Wulan yang cocok dengan Maya. Aku benar-benar nggak punya pilihan lain.”
Erika meraih lembaran laporan medis di meja, sebuah laporan yang mencatat Wulan harus dirawat hampir setengah tahun karena infeksi dan setelah melihat sekilas, amarahnya pun meledak.
“Enggak punya pilihan?! Kau tahu sendiri kondisi tubuh Wulan buruk, tapi kau malah menipunya dengan bilang itu hanya sakit maag, lalu membiarkannya ambil risiko sebesar ini?!”
“Aku benar-benar nggak habis pikir… Maya itu apa sih buatmu? Dia kasih kau jampi-jampi?! Dulu demi melihat dia tertawa, kau nekat ikut balapan sampai akhirnya lumpuh lima tahun. Dan selama lima tahun itu, Wulan yang selalu ada di sampingmu!”
“Sekarang tubuhmu sudah pulih, Maya sakit dan dibuang kembali ke negara ini, lalu kau diam-diam pakai sumsum Wulan buat nyelamatin dia. Baru beberapa bulan setelah dia sembuh, kau bahkan ikut-ikutan main gila dengannya, ikut program bayi tabung segala!”
Di depan pintu ruang perawatan, Wulan baru saja menyelesaikan proses keluar rumah sakit ketika mendengar kata-kata penuh amarah dari Erika.
Tangan yang menempel di dinding tiba-tiba mengepal erat, senyum di wajahnya membeku, seolah jatuh ke dalam lubang es yang dalam.
Setengah jam yang lalu, dokter mengabari bahwa infeksi pasca operasi maagnya sudah benar-benar sembuh, dan dia boleh pulang.
Jordan melamar Wulan di tempat itu juga. Dia bahagia sampai menangis, bahkan mengunggahnya di media sosial bahwa hari itu adalah hari paling bahagia dalam hidupnya.
Di dalam kamar, Jordan menundukkan kepala, rambut hitam yang sedikit berantakan menutupi matanya yang gelap, sehingga ekspresinya tak terlihat jelas.
“Kak, tolong tutup mulut soal ini semua, jangan sampai Wulan tahu. Nenek Maya sudah tak lama lagi, satu-satunya keinginannya adalah memeluk cucunya sebelum meninggal. Aku nggak mau dia menyesal.”
Erika menatap tajam, wajah cantik dan halusnya penuh dengan kemarahan.
“Kalau begitu, bagaimana dengan Wulan? Siapa di circle kita yang nggak tahu dia sudah mencintaimu selama delapan tahun penuh?!”
“Aku masih ingat dengan sangat jelas. Delapan tahun lalu, Maya menyatakan cinta pada anak kedua Keluarga Sunarta tapi ditolak. Kau, karena ingin membela harga diri Maya, sengaja mendekati Wulan dan menggoda dia, supaya anak kedua Keluarga Suanrta yang menyukai Wulan merasa tersingkir!”
“Sekarang Maya hamil, dan Wulan sudah mengikutimu selama delapan tahun penuh. Lalu sekarang, kau mau dia bagaimana?!”
Jordan menunduk. Butuh waktu lama sebelum akhirnya ia membuka mulut, suaranya serak.
“Aku sudah atur semuanya. Wulan seumur hidup nggak akan tahu soal kehamilan Maya. Soal masa depan, delapan tahun ini aku sudah terbiasa dengan kehadirannya. Aku akan menikahinya…”
Namun Wulan tak lagi mendengarkan kelanjutannya.
Kebetulan saat itu seorang perawat lewat dan masuk ke ruang perawatan. Wulan menunduk, berpura-pura seolah baru kembali, seolah tak tahu apa-apa.
Kedua orang di dalam kamar saling pandang, dan Erika menarik Jordan pergi keluar.
Dalam perjalanan pulang, Jordan dan Wulan membicarakan detail pernikahan.
Namun tak satu kata pun benar-benar masuk ke telinga Wulan.
Ia hanya menatap gedung-gedung tinggi yang melintas mundur di balik jendela, tubuhnya terasa dingin seakan ditelan angin malam.
Pertama kali Wulan bertemu Jordan adalah saat usianya lima belas tahun, di sebuah pesta kerja sama antara orang tuanya dan rekan bisnis mereka.
Sekilas pandang waktu itu cukup untuk menggoreskan kesan mendalam, remaja laki-laki dengan sikap dingin dan angkuh, elegan tak tersentuh. Sejak itu, bayangannya tak pernah benar-benar hilang dari benaknya.
Enam belas tahun, ia mengikuti lomba balap mobil dengan identitas tersembunyi sebagai "Weldy", dan tanpa sengaja menyelamatkan nyawa Jordan. Saat itulah kisah cinta sepihak yang panjang dimulai.
Di usia dua puluh, Adit Sunarta mulai mendekatinya. Di tahun yang sama, Jordan menghadiri pesta temannya dan malam itu, ia sendiri yang meminta kontak WhatsApp Wulan.
Malam itu, Wulan bahagia semalaman penuh.
Masih di tahun yang sama, ia tahu bahwa Jordan punya teman masa kecil bernama Maya.
Tapi Maya punya jiwa bebas, telah berganti belasan pacar, namun tak pernah sekalipun menaruh hati pada Jordan.
Di usia dua puluh satu, Jordan menyatakan cinta padanya. Ia pun setuju untuk menjalin hubungan dengannya.
Di usia dua puluh dua, Jordan mengalami kecelakaan saat balapan dan dilarikan ke rumah sakit.
Keesokan harinya, dokter mengumumkan bahwa Jordan mengalami cacat permanen.
Tahun itu, Jordan yang menjadi cacat seolah berubah menjadi orang lain, emosinya murung dan mudah meledak.
Karena cinta, Wulan menolak ajakan orang tuanya untuk menetap di luar negeri, dan memilih tinggal di dalam negeri demi merawatnya.
Di usia dua puluh tujuh, kaki Jordan akhirnya sembuh total.
Tuan besar Keluarga Setyabudi pun secara resmi mengumumkan bahwa kendali keluarga kini diserahkan padanya. Saat itu, pemuda yang dulu terpuruk kembali bersinar, penuh percaya diri dan angkuh.
Masih di tahun yang sama, Wulan tiba-tiba pingsan di rumah. Saat sadar, dokter memberitahu bahwa ia mengidap sakit maag dan harus menjalani rawat inap serta operasi...
Kini, saat ia mengingat semuanya dengan hati-hati, cinta manis yang ia kira datang bak anugerah dari langit, sejak awal ternyata hanya penuh kebohongan!
Setengah tahun lalu, saat ia diambil banyak darah di rumah sakit, Jordan bilang itu hanya pemeriksaan.
Ternyata itu semua bohong, ia hanya dimanfaatkan untuk mendonorkan sumsum tulang buat Maya!
Mobil Bentley perlahan melaju memasuki kawasan vila.
Pukul dua belas malam, ponsel Jordan berdering.
Wulan sempat melirik layar, tertulis [Maya Imut].
Jordan menggeser layar untuk menolak panggilan. Jari-jarinya yang panjang menyentuh layar beberapa kali, lalu tak lama kemudian, ia berdiri dan buru-buru pergi.
Wulan berdiri di depan jendela.
Di tengah gelapnya malam, mobil Bentley itu perlahan menghilang di kejauhan.
Ia pun mengangkat ponsel dan menekan nomor ibunya.
“Mama, aku sudah pikirkan matang-matang. Aku setuju dengan perjodohan dengan Keluarga Lunarman. Tujuh hari lagi, begitu aku mendarat di bandara, aku akan langsung menikah dengannya.”
Nyonya Linda Wicaksono sepertinya bisa menebak apa yang telah dialami putrinya. Ia menenangkan Wulan beberapa saat, lalu dengan sabar berkata sambil menganalisis situasinya:
“Sudah benar-benar dipikirkan? Yanyan, sekarang Keluarga Wicaksono tak lagi sekuat dulu. Perjodohan ini bukan main-main.
Keluarga Lunarman dan Keluarga Setyabudi meski tinggal berjauhan, tapi sejak generasi ke generasi selalu jadi musuh bebuyutan, seperti api dan air, tak mungkin berdamai.”
“Kalau kau benar-benar menikah ke Keluarga Lunarman, mereka mungkin akan memintamu memutus semua hubungan dengan Keluarga Setyabudi.”
Di ujung telepon, Wulan menundukkan pandangannya, mata beningnya tampak murung.
Enam tahun lalu, karena bisnis berkembang pesat, Keluarga Wicaksono memindahkan perusahaan ke luar negeri dan menetap di sana.
Namun tak lama setelah relokasi, Keluarga Wicaksono mengalami krisis keuangan. Keluarga Lunarman yang juga tinggal di luar negeri beberapa kali menyatakan keinginan menjalin hubungan perjodohan.
Tapi saat itu, kedua orang tuanya tahu betul ia mencintai Jordan, dan mereka tak pernah berpikir untuk mengorbankan pernikahan putri mereka demi menyelamatkan perusahaan.
Kini, Wulan tak ingin lagi memiliki hubungan apa pun dengan Jordan.
Menikah ke Keluarga Lunarman adalah pilihan terbaik.
“Mama, aku sudah memutuskan. Seumur hidup ini, aku nggak mau lagi bertemu Jordan!”
Bab 2
Di seberang telepon, Nyonya Linda terdiam beberapa detik, lalu berkata pelan.
“Baiklah. Besok, Mama dan Papa akan ke rumah Keluarga Lunarman untuk membicarakan soal perjodohan.”
Sepanjang malam, Wulan tak bisa memejamkan mata.
Keesokan paginya, Jordan tak juga pulang. Ia hanya mengirim satu pesan singkat.
[Yanyan, ada sedikit masalah di kantor. Aku harus dinas luar tiga hari.]
Wulan tak membalas pesannya. Ia langsung memesan tiket pesawat ke Negara Amsterhol untuk keberangkatan tujuh hari ke depan.
Ia mulai berkemas. Selama bertahun-tahun tinggal bersama Jordan, barang-barangnya tentu tak sedikit.
Kini, kondisi Keluarga Wicaksono sedang goyah, maka barang-barang yang masih layak jual ia unggah ke internet untuk dijual.
Menjelang sore, muncul notifikasi pesan dari akun asing di media sosialnya.
[Hai Wulan]
Wulan membukanya. Foto profil si pengirim adalah hasil tes kehamilan, jelas menunjukkan hasil positif.
Nama pengguna akun itu adalah ‘Maya Happy’.
Itu akun baru milik Maya, akun pribadi yang hanya dibagikan pada orang tertentu.
Kehamilannya belum ia umumkan ke publik. Dari semua akun yang diikutinya, Wulan adalah satu-satunya.
Satu menit kemudian, Maya mengirimkan sebuah tautan dari TikTok.
Itu video pendek, foto-foto saat Jordan menemaninya melakukan pemeriksaan kehamilan.
Dan di bawah videonya, tertulis caption:
[Hihihi. Papa idaman versi sultan. Lembut, pengertian, super kaya! o( ̄▽ ̄)~]
Wulan langsung tahu apa maksud tersembunyi di balik unggahan itu. Dia memberi satu tanda hati, lalu meninggalkan komentar.
“Sudah dapat sumsum tulangku, sembuh, terus balik buat nyindir aku. Maya, enak ya makan roti kukus yang dicampur darah orang?”
Keesokan harinya, Wulan pamit satu per satu pada sahabat-sahabat dekatnya. Sekalian, ia juga menjual barang-barang mewahnya pada pembeli yang sudah ia janjikan.
Di perjalanan pulang, notifikasinya berbunyi. Maya mengunggah video TikTok kedua.
Masih berupa kolase foto. Kali ini, Jordan sedang menemani Maya memilih baju hamil.
Warna pink dan putih, setiap potongannya terlihat sangat manis dan modis.
Wulan kembali membuka video sebelumnya. Di sana, Maya sempat membalas komentarnya. nada balasannya sangat angkuh.
“Bukan aku yang minta kau nyumbangin sumsum tulang, itu si Kak Jordan yang maksa aku nerima karena dia khawatir.”
Wulan mengejek lewat satu balasan pendek.
“?”
Hari ketiga, Wulan menjual semua hadiah yang pernah ia berikan pada Jordan. Lebih dari sepuluh kemeja, sepatu, dan arloji mahal, semuanya ia lepas.
Tak lama, Maya kembali memposting video baru.
Kali ini, tentang Jordan yang memesankan tempat pemulihan pasca melahirkan super mahal untuknya.
Caption-nya begitu congkak.
[Gimana dong? Emang dari lahir udah hoki!]
Sore harinya, Jordan akhirnya pulang.
Begitu masuk kamar tidur, dia langsung merasa ada yang berbeda, ruangan tampak agak kosong, dan di sudut muncul sebuah koper besar berwarna pink yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Keningnya langsung berkerut.
“Ada apa dengan rumah ini? Beberapa kemeja yang kau kasih ke aku juga nggak ada. Terus, kau beli koper ini buat apa?”
Wulan menunduk pelan, dan menjawab sekenanya, tanpa ekspresi.
“Kemeja-kemeja itu modelnya udah ketinggalan zaman, jadi aku buang. Belakangan ini kepikiran mau liburan, tapi kayaknya nggak jadi.”
Jordan mengira Wulan sedang ngambek karena tiga hari ini dia tidak punya waktu untuk menemani. Dia pun mengeluarkan sebuah dokumen kontrak pembelian mobil yang sudah lama ia siapkan, kontrak untuk satu unit mobil supercar Lamborghini edisi terbatas.
“Aku memang sibuk kerja beberapa hari ini. Jadi, aku beliin kau satu mobil supercar. Nanti kita ambil bareng, ya.”
Wulan menunduk, menatap kontrak di tangannya.
Berbeda dari kebanyakan wanita, Wulan tidak pernah tergila-gila pada tas-tas mahal. Dia hanya punya satu kelemahan, mobil balap.
Dan Lamborghini ini, adalah model yang baru saja dia incar beberapa waktu lalu.
Jordan memesannya dalam kombinasi hitam dan pink, warna favoritnya. Bahkan kursinya pun didesain khusus dengan gambar karakter kartun favoritnya yaitu Doraemon.
Delapan tahun bersamanya, Jordan memang selalu mengingat setiap detail kecil yang ia sukai.
Kalau saja Wulan tidak mendengar percakapan di depan ruang rawat hari itu, mungkin sekarang dia akan merasa sangat tersentuh.
Namun kini, senyumnya hanya setipis kabut pagi.
“Terima kasih.”
Wulan meletakkan kontrak pembelian mobil di sampingnya, Jordan mengerutkan alis dan menunduk mendekat, meremas lembut pipi putihnya yang halus.
“Kau masih marah, ya? Malam ini ada pesta, aku akan mengajakmu pergi supaya pikiranmu lebih rileks.”
Wulan hendak menolak, tapi Jordan sudah menggenggam tangannya dan turun ke lantai satu.
Bentley baru saja melaju sebentar, tiba-tiba ponsel Jordan berdering, tampak dari panggilan masuk [Maya Imut].
Wulan tidak sempat mendengar jelas, hanya terdengar samar suara, “Kak Jordan, uuu, cepat tolong aku…”
Wajah tampan Jordan menegang, dia menekan layar ponselnya, mencari lokasi real-time Maya dari sebuah aplikasi, lalu dengan cepat memutar arah mobilnya.
“Kita batal dulu ke pesta. Maya diculik, aku harus segera menyelamatkannya.”
Jordan menginjak pedal gas dalam-dalam, menerobos puluhan lampu merah tanpa ragu.
Dua puluh menit kemudian, Jordan memastikan Maya berada di dalam mobil hitam yang ada di depan, dia menyipitkan mata dan menekan pedal gas lebih dalam lagi.
Bam!
Bagian belakang mobil hitam itu langsung penyok parah!
Sementara itu, sisi penumpang Bentley tiba-tiba dihantam keras oleh kelompok penculik yang lain!
Wulan tak sempat menghindar, kepala bagian belakangnya terbentur hingga berdarah!
Darah merah segar mengalir dari kepalanya ke pipi putihnya, sakit yang menusuk seperti ribuan jarum halus menusuk jantungnya, membuatnya nyaris tak mampu bersuara untuk waktu yang lama.
Setelah mengalami benturan keras di kursi penumpang depan, Jordan sama sekali tak melirik Wulan. Matanya tertuju tajam pada Maya yang berada di dalam mobil hitam itu.
Setelah bertabrakan tiga kali berturut-turut, mobil hitam itu terpaksa berhenti. Orang-orang di dalamnya segera melarikan diri ke mobil kelompok mereka.
Jordan mendorong pintu mobil, mengangkat Maya dari kursi belakang dengan pelukan hangat. Untuk pertama kalinya, matanya yang gelap menunjukkan kecemasan.
“Apakah kau ketakutan? Ada bagian tubuh yang terluka?”
Maya meringkuk di dalam pelukan Jordan, menoleh dengan pipi memerah, air matanya berjatuhan bak hujan musim semi.
“Itu musuh bisnis ayahku. Mereka memukulku sekali, tapi tidak apa-apa kok.”
Melihat keadaan itu, hati Jordan terasa seperti dicubit, ia berteriak marah.
“Apa maksudmu tidak apa-apa? Bertahun-tahun ini, meskipun kau di luar negeri, aku selalu memanjakan dan melindungimu. Mana pernah kau menghadapi hal seperti ini? Apalagi ada anak, kalau sampai anakmu kenapa-kenapa bagaimana?”
“Uuu… semuanya karena kau datang terlambat. Aku sangat takut…”
“Jangan takut, itu salahku. Sekarang aku akan membawamu ke rumah sakit untuk pemeriksaan menyeluruh.”
Jordan meletakkan Maya di kursi belakang Bentley, dan hanya butuh lima menit untuk sampai ke rumah sakit. Sesampainya di sana, ia turun dan langsung menggendong Maya menuju ruang gawat darurat.
Sepanjang perjalanan itu, Jordan sama sekali tidak memperhatikan Wulan yang duduk di kursi penumpang depan. Matanya merah dan darah yang mengalir di kepala membuatnya tampak mengerikan.
Bab 3
Wulan memandang punggung mereka yang menjauh.
Dia menengadahkan kepala, berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh. Dengan sakit yang masih terasa, dia memaksakan diri membuka pintu mobil, lalu berjalan terpincang-pincang menuju pintu rumah sakit.
Hujan deras mulai turun di senja hari. Wulan tak mengangkat tangan untuk melindungi dirinya dari hujan, membiarkan air menyentuh dan membasahi luka di tubuhnya.
Perawat di meja pendaftaran terkejut melihat kondisi Wulan. Dengan sigap, dia segera memberikan pertolongan pertama dan membawanya untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.
Setelah satu jam, tubuh Wulan terasa lemas usai pemeriksaan. Baru saat itu dia sempat mengangkat ponselnya.
Layar menampilkan lebih dari sepuluh panggilan tidak terjawab.
Semua dari Jordan.
Tanpa ragu, Wulan langsung mematikan ponselnya.
Mengingat harus menjalani infus hingga larut malam, Wulan meminta perawat untuk membelikannya sebuah kamar rawat.
Dalam keadaan setengah sadar, ingatannya melayang pada masa lalu.
Sejak Jordan mengalami cacat, beberapa acara minum-minum pekerjaan kerap dia hadiri mewakili Jordan.
Suatu kali, saat acara minum itu, dua bos besar dari perusahaan berbeda bertengkar hebat hingga meja mereka terbalik. Semua piring dan gelas pecah berantakan di lantai, dan serpihan keramik melukai pergelangan tangan Wulan.
Jordan buru-buru datang setelah mendengar kabar itu. Di tempat, dia langsung memerintahkan asistennya untuk memutuskan hubungan bisnis dengan kedua perusahaan tersebut, lalu dengan cemas mengantar Wulan ke rumah sakit untuk membersihkan lukanya.
Wulan merasa ini terlalu berlebihan, namun Jordan dengan lembut menenangkannya.
“Wulan, kau adalah wanita paling penting di hatiku. Selain mengandung dan melahirkan anak kita, aku nggak ingin melihat luka apapun di tubuhmu.”
“Seorang wanita harus putih mulus dari ujung kepala sampai ujung kaki, supaya saat memakai pakaian dan perhiasan terlihat cantik.”
Kini, wajahnya penuh darah, sementara Jordan justru acuh pada wanita lain.
Katanya tidak ingin ada luka di tubuhnya, tapi dia malah membiarkan Wulan mengambil risiko mendonorkan sumsum tulang untuk orang lain.
Bahkan soal menikah dan punya anak, dia diam-diam melakukannya dengan orang lain tanpa sepengetahuan Wulan.
Sebelum tidur, Wulan melihat ‘Maya Happy’ membagikan video baru di TikTok.
Video itu menunjukkan Jordan setengah berlutut mencuci kakinya, demi membuatnya tertidur dengan tenang.
Wulan memutar ulang video itu berkali-kali, hanya membuat dada terasa sesak dan sepanjang malam tak bisa terlelap.
Keesokan paginya, Wulan dengan enggan kembali ke rumah.
Begitu masuk vila, wajah wajah pengurus rumah tangga, Paman Arthur, terlihat tidak bersahabat.
“Nyonya, Tuan sedang menunggu Anda di tepi kolam renang. Mood-nya sedang buruk…”
Wulan berjalan menuju kolam renang, dari jauh sudah melihat Jordan sedang menenangkan Maya.
Maya terisak pelan, menangis dengan wajah yang membuat orang iba.
Melihat Wulan akhirnya kembali, kemarahan di wajah Jordan tak bisa disembunyikan lagi, hawa dingin seketika menyelimuti sekitarnya.
“Kau sengaja ya membocorkan keberadaan Maya ke musuh ayahnya?”
Langkah Wulan terhenti sejenak.
Matanya menatap Maya yang duduk santai di sofa, dengan kepala sedikit miring dan tatapan menyipit penuh arti. Bibir merahnya tersungging senyum penuh kemenangan.
Wulan langsung paham maksudnya, lalu mengusap dahi dengan kesal.
“Aku sama sekali nggak tahu siapa musuh ayahnya, lalu kenapa jejaknya bisa sampai bocor?”
Wajah Jordan berubah gelap. Ia mengeluarkan beberapa foto dan melemparkannya di hadapan Wulan.
“Kau jelaskan dong, foto-foto ini. Kau dan musuh Maya sedang ketemuan, ini gimana?”
Wulan menunduk dan sekilas melirik foto-foto itu di atas meja, wajahnya mendadak dingin.
Foto-foto itu diambil beberapa hari lalu saat dia sedang menjual barang-barang mewah bekas, bertemu dengan pembeli di sebuah kafe.
Nggak heran pria itu terlihat sangat mudah diajak deal dan nggak nawar, hanya minta ketemuan di kafe.
Melihat Wulan diam saja, Jordan mengira dia sudah menerima tuduhan itu. Wajah tampannya jadi sangat suram, bikin takut.
“Aku sudah bilang kan, meskipun gosip dan fitnah soal aku dan Maya beredar di luar sana, aku sama dia benar-benar nggak ada apa-apa. Aku anggap dia seperti adik sendiri, dia memang baik banget.
Dan kau? Kita sudah bersama delapan tahun. Bagaimana aku memperlakukanmu selama itu, kau pasti tahu sendiri, kan?”
“Apalagi, beberapa hari lalu aku bahkan sudah melamarmu, tapi kau malah terus menyakitinya, memperlakukannya dengan sulit seperti itu, apa itu masuk akal?”
Mendengar kata-katanya, hati Wulan terasa seperti ditusuk jarum tajam.
Selama delapan tahun mereka bersama, satu tahun di antaranya Jordan sengaja mendekatinya demi membalas dendam untuk Maya, dan lima tahun berikutnya dia lumpuh, sementara Wulan yang merawatnya.
Di lima tahun ketika dia lumpuh itu, Jordan pernah murung, pernah runtuh, bahkan menangis tersedu-sedu di tengah malam.
Semua itu terjadi karena dulu dia nekat balapan motor demi memuaskan kesombongan Maya.
Tapi semua rasa sakit yang berawal dari Maya itu, sekarang sudah dia lupakan sepenuhnya.
Selama lima tahun itu, demi kesembuhan Jordan, Wulan diam-diam mendaftarkan dirinya ke kursus rehabilitasi, setiap hari memijat dan mengurut kakinya, tak pernah absen sekali pun.
Saat Jordan sering murung, Wulan sampai belajar dari psikolog terbaik di Linkin bagaimana menenangkan pasien yang mengalami cacat.
Namun semua pengorbanan yang sudah dia berikan itu, tak ada satu pun yang diingat oleh Jordan.
Sungguh menyakitkan dan ironis.
Sebenarnya Wulan sangat ingin bertanya, kalau dia cuma menganggap Maya seperti adik, kenapa sekarang dia malah menemani ‘adik’ itu menjalani prosedur bayi tabung?
“Ya, selama delapan tahun ini, bagaimana kau memperlakukanku, bagaimana kau memperlakukannya, baru beberapa hari ini aku benar-benar mengerti.”
Wajah Jordan sedikit mengeras.
“kau sebenarnya sedang buat masalah apa sih?”
Wulan tak ingin berdebat lebih jauh. Dia menunjuk perban yang melilit kepalanya, lalu tersenyum sinis.
“Kemarin dia diculik, kepalaku juga terluka, dijahit lima jahitan. Apa aku sebodoh itu sampai harus menyakiti diri sendiri hanya demi menyakitinya?”
Meski Wulan sudah menegaskan kalau dirinya juga terluka, Jordan tetap tidak mempercayainya karena pikirannya sudah penuh oleh Maya.
Wulan menatap garis rahang pria itu yang tegang dan kaku, lalu merasa lega karena tiga hari lagi dia akan pergi jauh.
“Jordan, kalau kau sudah yakin ini semua gara-gara aku, bilang saja, bagaimana kau mau menyelesaikannya?”
Bab 4
“Aku bukan nggak percaya padamu, tapi aku dan Maya sudah kenal selama enam belas tahun tujuh bulan. Dia nggak pernah sekali pun berbohong.”
Jordan berhenti sejenak, lalu mengerutkan dahi dengan tajam, seolah ingin segera menyelesaikan masalah ini.
“Wulan, kau sampai membuat Maya menangis, kau harus bertanggung jawab menghiburnya.”
Saat itu, Maya yang sejak tadi menangis pelan tiba-tiba melemparkan cincin di tangannya ke dalam kolam renang, seraya berteriak.
“Jordan, cincin yang kau berikan ke aku tadi nggak sengaja jatuh ke kolam!”
Lalu Maya menatap Wulan dengan bibir merah yang tersenyum sinis, penuh tantangan.
“Begini saja, nggak usah repot-repot ngeles dan ngasih aku hiburan. Kau ambil sendiri cincin itu, aku akan maafkan semua yang sudah kau lakukan dan menyakitiku.”
Musim dingin baru saja tiba, air kolam renang dingin menusuk tulang.
Luka di kepala Wulan belum sembuh benar. Dia menunduk, menatap Jordan yang duduk di hadapannya.
Pria itu menundukkan alisnya, matanya tersembunyi dalam bayang, sulit untuk dibaca.
Jari-jarinya yang panjang mengetuk meja dengan dingin, kepala dinginnya tetap menunduk, tak sekalipun menatap ke arahnya.
Saat itu, Wulan merasa seolah hatinya ditusuk sesuatu yang tajam, sakitnya menjalar tak berkesudahan.
Tiba-tiba ia teringat, enam bulan setelah Jordan didiagnosis lumpuh.
Jordan senior datang ke rumah sakit menjenguknya, ketika tahu harapan kesembuhannya tipis, mulai memilih pewaris lain.
Malam itu juga, Jordan hilang dari kamar rumah sakit.
Ketika Wulan menemukannya, ia melihat Jordan mendorong kursi roda ke arah laut yang bergelora, membiarkan air laut dingin menyentuh dadanya yang terbuka.
Wulan ketakutan dan buru-buru mencoba menghentikannya, tapi dia didorong kasar.
“Jangan pura-pura peduli aku lagi. Kau cuma pacarku, bukan istriku. Kalau memang benar-benar mau atur aku, sekarang ombak besar dan angin kencang. Kau berenang sekali keliling, baru aku mau dengerin kau.”
Wulan terpaku menatapnya, sebenarnya dia sangat ingin bilang bahwa dia bukan pura-pura, dia benar-benar ingin menjadi istrinya.
Jadi, walau dia bukan perenang handal, dia tak ragu, langsung berbalik dan terjun ke laut.
Ombak besar dan angin kencang dengan cepat menyeretnya hingga hilang kesadaran. Saat dia membuka mata, tatapannya bertemu dengan mata gelap Jordan yang penuh kekhawatiran.
Wajah pria itu sangat buruk, rahangnya menegang.
“Kau kenapa nggak bilang kalau kau nggak bisa berenang! Gila apa? Nggak bisa berenang malah berani loncat ke laut?”
Dia menengadah menatapnya, suaranya serak,
“Jordan, walaupun kakimu nggak akan pernah sembuh, aku tetap ingin menikah denganmu. Aku benar-benar lebih menyukaimu dari yang kau kira.”
Sejak saat itu, Jordan tak pernah membawanya ke tepi laut lagi, bahkan kolam renang di rumah pun dilarang diisi air.
Karena Wulan merasa aneh jika kolam renang tidak diisi air, Jordan akhirnya menyerah dan memerintahkan pelayan untuk mengisi dan mengganti air setiap hari.
Memikirkan hal itu, Wulan mengangkat sedikit sudut bibirnya, wajahnya tetap datar.
“Suruh aku ambil cincin, ya? Oke, aku akan ambil.”
Tanpa melepas jaketnya, Wulan berbalik dan langsung terjun ke kolam renang.
Air dingin membasahi kulitnya, dinginnya membuat tubuhnya menggigil hebat.
Wulan perlahan terjatuh ke bawah, ketakutan yang tak bertepi membanjiri dirinya, tapi dia tetap gigih menahan diri tanpa memanggil bantuan.
Tak lama, darah merah mulai mengalir dan menyebar di air kolam.
Pelayan yang berdiri di samping terkejut dan berteriak,
“Ya Tuhan, nyonya berdarah di kepala!”
Jordan segera melepaskan jaketnya dan melompat ke kolam, mengangkat Wulan ke permukaan, lalu berteriak marah,
“Cukup! Kenapa kau begitu keras kepala? Kau tadi bisa saja berbalik dan pergi, kenapa harus seperti ini?”
Wulan menengadah, menatap cincin berlian yang tenggelam di dasar kolam, dengan nada dingin berkata,
“Kau kan suruh aku menghiburnya? Kalau aku begini, cinta pertamamu pasti sangat senang, kan?”
Jordan mengerutkan alisnya, wajah tampannya berubah muram dan menyeramkan,
“Aku sudah bilang berkali-kali, aku benar-benar hanya menganggap Maya seperti adik. Keluarga Hendrawan di Linkin juga bukan orang sembarangan. Kalau hal-hal yang kau lakukan sampai diketahui orang luar, bagaimana? Sekarang ini opini publik bukan sesuatu yang gampang ditenangkan. Aku suruh kau menghiburnya supaya dia tenang, semua ini aku lakukan demi kebaikanmu.”
Suara Jordan penuh perasaan, seolah-olah semua itu dilakukan untuk kepentingan Wulan.
Namun Wulan mendengarnya dan malah tertawa getir.
Dia bilang opini publik tidak mudah ditekan.
Padahal dulu, pewaris Keluarga Setyabudi yang ternama itu lumpuh gara-gara kecelakaan balap yang terjadi demi Maya, tapi hal itu berhasil ditekan dan disembunyikan.
Maya yang suka bertingkah, membully di sekolah, dan reputasi keluarganya buruk, bukankah selama ini juga hanya bisa hidup mulus karena bertumpu pada Jordan yang jadi penopangnya?
Bahkan soal mereka melakukan bayi tabung pun, dia sembunyikan rapat-rapat darinya.
Sekarang, meski benar dia yang melakukan penculikan itu, Jordan malah bilang opini publik sulit dikendalikan.
Pada akhirnya, Wulan sadar, dia di hati Jordan jauh kalah dibanding Maya.
Wulan tak mau berkata sepatah kata pun lagi. Dia melepas mantel hitamnya yang basah kuyup dan melangkah menuju ruang tamu.
Tak sampai beberapa langkah, mungkin karena darah di kepalanya sudah terlalu banyak yang keluar, tiba-tiba dia ambruk pingsan.
Wajah Jordan berubah drastis, cepat melangkah ke arahnya. Saat dia hendak menggendong Wulan,
Maya tiba-tiba membungkuk dan berjongkok di lantai, menangis dengan air mata berlinang,
“Kak Jordan, perutku sakit sekali, tolong bantu aku naik ke atas dan berbaring sebentar.”
Langkah Jordan terhenti. Dia menarik tangannya yang hendak menggendong Wulan, lalu berbalik dan langsung mengangkat Maya.
Dia membiarkan kepala Wulan terhempas keras ke lantai, lalu menatap pelayan di samping dan hanya berkata,
“Arthur, antar nyonya ke rumah sakit.”
Bab 5
Saat Wulan terbangun lagi, pandangannya bertemu dengan sepasang mata hitam penuh kekhawatiran.
Jordan segera berdiri dan berlari memanggil dokter. Setelah memastikan Wulan baik-baik saja, barulah ia menghela napas lega.
Dengan mata yang masih tajam, Wulan memperhatikan ada sebuah gelang Buddha baru di tangan kirinya.
Sepertinya itu gelang yang biasa Jordan kenakan di tangannya.
Asisten di samping tersenyum dan berkata,
“Nyonya, selama Anda tak kunjung sadar, Tuan Jordan sampai khawatir dan memberikan gelang spiritual yang sudah ia pakai selama lebih dari sepuluh tahun ini untuk Anda. Semalam dia bahkan bersumpah di hadapan Tuhan, bahwa selama Anda bangun dengan selamat, ia akan menjadi vegetarian seumur hidup dan tidak akan menyentuh rokok maupun alkohol lagi.”
Wulan mengerutkan alis, agak tidak suka, lalu melepas gelang itu dan menyerahkannya pada Jordan.
“Nggak usah ubah kebiasaanmu demi aku.”
Jordan tak mengambilnya. Ia justru mengikatkan gelang itu kembali di pergelangan tangan Wulan, dengan suara lembut berkata,
“Wulan, waktu aku masih lumpuh dulu, bukankah kau juga pernah mengucapkan sumpah yang serupa?”
Hati Wulan bergetar pelan.
Saat Jordan mengalami kecacatan di tahun kedua, ia mendengar bahwa Kuil Sentosa di Linkin sangat sakral, lalu dengan cepat membawanya ke sana untuk berdoa.
Saat itu, di hadapan Tuhan, Wulan berdoa dengan sepenuh hati,
“Aku rela memberikan segalanya demi kesehatan tubuh Jordan.”
Dan Jordan juga berdoa di hadapan Tuhan, berjanji bahwa lima tahun kemudian ia akan menikahinya sebagai pengantin wanita.
Saat itu, Wulan menatap surat permohonan yang ditulis tangan Jordan, matanya sampai memerah. Jordan memeluknya dan menenangkannya cukup lama.
Itulah salah satu dari sedikit waktu ketika Jordan hanya memiliki pandangan tertuju padanya.
Pada akhirnya, hanya saat Maya tidak ada, mata Jordan benar-benar hanya untuknya.
Sekarang Maya sudah kembali ke negeri ini, perhatian Jordan takkan lagi tertuju pada Wulan.
Wulan menatap wajah tampan Jordan yang penuh harap akan pujian, matanya yang basah perlahan menunduk.
“Aku agak mengantuk.”
Ketika ia terbangun kembali, sudah siang hari.
Wulan bangun dan hendak bertanya pada dokter kapan ia bisa keluar rumah sakit.
Namun, sebelum ia membuka pintu, terdengar suara Jordan dan Erika di lorong.
“Kau sudah putuskan kapan akan menikah dengan Wulan?” tanya Erika dengan nada penasaran.
Jordan menundukkan pandangan sebentar, lalu menjawab dengan datar,
“Aku sudah bilang padanya sebelumnya, aku berencana mengadakan pernikahan di akhir bulan.”
Erika mengangguk dan mengingatkan,
“Pernikahan ini harus besar-besaran. Kau harus siapkan mas kawin yang cukup, lebih banyak lebih baik. Wulan sudah menyumbangkan sumsum tulang untuk si kecilmu itu, kita tidak boleh mengabaikan mas kawin.”
Tiba-tiba, Erika berubah topik,
“Lucunya, kau menikah bulan ini, dan aku dengar musuh kita, Keluarga Lumanta, juga akan menikah. Calonnya juga bernama Wulan...”
Mendengar itu, Wulan buru-buru membuka pintu.
Dia membersihkan tenggorokannya dua kali, dan pembicaraan di dalam langsung terhenti.
Malam itu juga, dokter mengumumkan Wulan boleh pulang.
Setibanya di rumah, Wulan menerima permintaan pertemanan dari seseorang yang mengirim tiga kata: Hengky Lumanta.
Wulan berkedip, menduga mungkin itu pria yang akan menikah dengannya, lalu mengklik “terima.”
Begitu diterima, Hengky Lumanta langsung mengirimkan daftar mas kawin.
Sebuah buku catatan penuh dengan rincian mas kawin yang tertulis rapat, Wulan hanya sekilas melihat dan merasa jumlahnya sulit dihitung.
Setelah itu, Hengky Lumanta mengirim dua pesan lagi.
[Ini daftar mas kawinnya, kau lihat apakah sudah cukup?]
[Dengar dari Tante Lina, kamu naik pesawat lusa, lusa pagi sampai di bandara, aku dan Tante Linda akan menjemput kau.]
Wulan berpikir sejenak, lalu membalas.
“Mas kawinnya cukup, terima kasih.”
Pria itu tidak membalas lagi.
Sepanjang malam, Jordan berusaha mencari topik pembicaraan dengan Wulan.
Namun Wulan tetap kurang bersemangat.
Jordan mengira Wulan masih marah karena kejadian sebelumnya.
Untuk membuatnya senang, dia menyuruh asistennya menyiapkan pesta lajang sebelum pernikahan keesokan harinya.
Keesokan harinya, semua orang di lingkaran sosial sudah tahu itu adalah pesta lajang pra-pernikahan Jordan.
Malam itu, banyak tamu yang datang.
Wulan baru tiba di tempat pesta, Jordan langsung merangkul pinggangnya, lalu mengeluarkan dua kontrak pembelian mobil.
Dia menyerahkan satu kontrak pembelian mobil kepada Wulan, dengan mata hitamnya yang dalam menatap.
“Aku merasa mobil sport super yang terakhir itu kurang cocok buatmu, jadi beberapa hari ini aku sudah pesan mobil sport super baru untukmu.”
Setelah jeda sejenak, dia menyerahkan kontrak Lamborghini yang sebelumnya kepada Maya yang berdandan cantik dan terlihat manja di sampingnya dengan suara lembut.
“Maya, mobil ini awalnya untuk istriku, tapi sekarang dia sudah punya mobil baru, jadi aku kasih mobil ini buat kau, walau agak berat hati.”
Maya menerima kontrak itu dengan penuh kegembiraan, senyum di bibirnya hampir tak bisa disembunyikan.
“Nggak apa-apa, hari ini istriku yang paling penting.”
Meski begitu, orang yang jeli pasti langsung tahu bahwa Lamborghini yang Jordan berikan untuk Maya itu adalah edisi terbatas nasional.
Sementara mobil sport baru yang dibeli untuk Wulan hanyalah mobil sport biasa dengan harga yang agak mahal.
Beberapa tamu di dekatnya tak tahan dan mulai berbisik.
“Wulan benar-benar calon istri Jordan? Ini kan pesta lajangnya Wulan, kenapa malah memberikan hadiah pada Maya?”
“Banyak alasan, sebenarnya dia cuma mau memberikan mobil edisi terbatas nasional itu pada Maya.”
“Siapa yang nggak tahu Wulan sangat mencintai mobilnya? Tindakan Maya ini jelas buat menyakiti perasaannya.”
“Shh... dengar-dengar Maya itu pembalap hebat, aku dapat info dia adalah pembalap terkenal ‘Weldy’. Jordan awalnya menyukainya karena ‘Weldy’ pernah menyelamatkan nyawanya di lintasan balap...”
Wulan duduk di sudut ruangan, diam-diam mendengarkan omongan orang-orang.
Dia sedikit mengerutkan alis.
Weldy?
Bukankah itu dirinya sendiri...?
Bab 6
Wulan belum sempat mencerna semuanya, sudah banyak orang di sekitarnya yang selesai menganalisis situasi lalu membawa gelas minum mendekati Maya dengan pujian berderet.
“Maya, Jordan sangat baik padamu, mobil sport super mahal itu bisa diberikan begitu saja.”
“Gaun putihmu itu cantik sekali, benar-benar membuatmu terlihat seperti putri sejati.”
“Dengar-dengar kau pembalap yang hebat, manis sekaligus keren, benar-benar pasangan yang cocok dengan Jordan!”
Semakin banyak orang yang memuji Maya, sampai mereka lupa kalau hari ini sebenarnya adalah pesta lajang Wulan.
Satu jam berlalu, suasana mulai meriah. Ada yang bernyanyi, ada yang bermain permainan.
Jordan terus duduk di samping Maya, matanya tak pernah lepas mengawasi Maya.
Maya ingin makan kepiting, Jordan dengan sabar menurunkan suaranya dan membujuk.
“Sayang, kau sedang hamil, nggak boleh makan ya. Nanti setelah kau melahirkan bayi, aku akan belikan untukmu.”
Maya yang matanya mulai merah mencoba membantah, tapi Jordan menghela napas dan mengeluarkan sebuah kartu hitam tanpa batas dari dompetnya, lalu memberikannya padanya.
Kartu hitam tanpa batas itu segera menjadi pusat perhatian dan ramai diperbincangkan.
“Jangan-jangan, Jordan masih sangat merindukan Maya, ya?”
“Ya ampun, kata orang ‘yang sekarang kalah sama mantan’, ternyata benar.”
Di tengah riuh rendah omongan itu, Wulan duduk tenang di sudut ruangan.
Dia menunduk memainkan ponsel, seolah-olah keramaian di sekitarnya tak ada sangkut pautnya dengan dirinya sama sekali.
Maya memandang sekeliling, lalu matanya tertuju pada Wulan yang duduk di sudut ruangan. Dengan langkah anggun memakai sepatu hak tinggi, dia mendekat sambil menyunggingkan senyum penuh kemenangan:
“Hari ini ini kan pesta lajangmu sama Jordan, tapi malah aku yang mencuri perhatian. Semua orang memuja dan menyenangkan aku, pasti kau kesal banget, ya?”
“Tapi mau sesal macam apa juga cuma bisa tahan gigit jari, kan? Lagipula, meskipun kau yang menemani Jordan melewati lima tahun tersulit, tapi aku cuma perlu muncul di depan Jordan, maka dialah yang paling dia cintai.”
Wulan tahu Maya ingin memancing kemarahannya, tapi air matanya sudah habis sejak hari dia keluar rumah sakit.
Melihat Wulan tak peduli, mata Maya berubah dingin.
Tatapannya tertuju pada gelang giok di pergelangan tangan Wulan, lalu dengan cepat dia meraih gelang itu.
“Gila, kau mau ngapain?”
Wulan segera mengangkat tangan hendak merebut kembali, tapi Maya malah menggenggamnya lebih erat.
Dia mengusap gelang giok itu, tatapannya penuh dengan rasa iri dan tidak rela.
“Kupikir ini hadiah dari Nyonya Elsa buatmu, sebagai calon menantu, ya?”
Wulan menatapnya dengan tajam, hendak bicara, tapi tiba-tiba Maya memasukkan gelang itu ke dalam mulutnya sendiri, hingga bibirnya robek dan mengeluarkan darah.
Darah merah segar menetes dari sudut bibirnya, Maya jatuh lemah ke lantai, gelang giok itu terlepas jatuh ke tanah.
Dia menengadah sambil menangis tersedu.
“Kakak ipar, aku cuma pikir gelang yang Nyonya Elsa kasih itu cantik, kenapa tiba-tiba kau masukkan gelang itu ke mulutku? Sakit banget, uuu…”
Wulan belum sempat bereaksi, tiba-tiba bayangan hitam melesat dan mendorongnya dengan keras.
Wulan kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur, terbentur meja besar tempat kue ulang tahun raksasa disimpan.
Luka di kepala Wulan kembali terbuka, mengeluarkan darah.
Kue ulang tahun yang besar terjatuh menimpa tubuh Wulan, terasa lengket dan basah.
Matanya memerah menahan sakit, dia menengadah melihat Jordan yang berlari mendekat.
Namun, Jordan sama sekali tak menatapnya, dengan penuh kekhawatiran ia mengangkat sapu tangan untuk mengusap darah di sudut bibir Maya, sorot matanya hitam penuh kasih sayang dan rasa sakit hati.
Wulan akhirnya mengerti, Maya sedang berakting.
Ia menghapus krim lengket dari wajahnya, lalu mengambil gelang giok yang terjatuh di lantai dan mengulurkannya kepada Maya.
Saat Jordan mengira Wulan hendak menantang Maya dan mulai marah,
Wulan justru memegang pergelangan tangan Maya dan memasangkan gelang giok itu di tangannya.
“Ini hadiah dari Tante Elsa Setyabudi untukku, kau suka, kan? Aku beri kau saja.”
Maya menengadah kebingungan, sampai-sampai lupa pura-pura kesakitan.
Jordan mengerutkan alis, tak mengerti maksud Wulan.
“Ini hadiah ulang tahun dari ibuku, hanya menantu Keluarga Setyabudi yang boleh memakainya.”
Wulan berdiri, dengan dingin berkata.
“Sudah pernah kena sentuhan dia, jadi kotor, aku nggak mau.”
Setelah itu, dia berbalik dan berjalan keluar dengan pincang, tak peduli ekspresi keduanya di belakangnya.
Di belakang, Jordan menatap punggung Wulan yang dingin, wajah tampannya mengeras.
Larut malam, Jordan akhirnya pulang.
Dia membersihkan diri lalu masuk ke dalam selimut, menatap Wulan yang membelakangi dirinya, dan menghela napas panjang.
“Kau jangan marah, juga jangan terus-terusan sikut Maya. Dia sangat menghormati dan menyukaimu sebagai istri kakakku.”
“Maya bilang, dia ingin aktif menjalin hubungan baik denganmu. Beberapa hari ini dia akan tinggal di sini. Jadi jangan ganggu dia lagi, ya.”
Wulan memejamkan mata, tak menjawab, hanya dengan suara datar berkata.
“Kalau... aku bilang kalau, kalau Maya bukan ‘Weldy’ (No Sound), kau masih akan baik padanya seperti itu?”
Jordan mengelus lembut kepala Wulan, suaranya serak.
“Dia adikku. Aku baik padanya karena dia Maya, bukan karena dia ‘Weldy’.”
“Hmm.”
Wulan menundukkan pandangan, pelan menjawab.
Bagaimanapun, ini tinggal satu hari lagi, dia hanya perlu bertahan di sini satu hari lagi saja!
Bab 7
Keesokan paginya, begitu Wulan membuka mata, ia sudah mendengar tawa manis dari lantai dua.
Ia bangkit dan berjalan keluar kamar, dari kejauhan sudah bisa melihat Jordan sedang mengajari Maya merangkai bunga di aula lantai dua.
Keduanya berdiri sangat dekat, Jordan menjelaskan dengan lembut cara memangkas berbagai jenis bunga.
Melihat pemandangan hangat itu, Wulan mendadak merasa linglung.
Dulu, saat Jordan masih cacat, karena khawatir ia akan bosan, Wulan sempat inisiatif mengajarinya merangkai bunga.
Ingatan pria itu sangat baik. Cukup sekali diajari, langsung bisa.
Sejak itu, dia akan menyuruh asistennya memesan bunga, dan setiap pagi, hal pertama yang dia lakukan setelah bangun tidur adalah merangkai seikat bunga dan meletakkannya di samping ranjang Wulan.
Tapi sejak Maya pulang dari luar negeri, kebiasaan itu tak pernah terjadi lagi.
Bulu mata Wulan sedikit menunduk, menutupi kesepian yang mengambang di matanya.
Ia melangkah turun, berniat sarapan.
Namun baru berjalan beberapa langkah, sebuah vas bunga berat tiba-tiba jatuh menimpanya.
"Buukk!"
Tengkoraknya langsung retak, darah segar mengalir dari kepalanya, rasa sakit yang luar biasa membuat tubuhnya meringkuk di lantai.
Dalam pandangan yang mulai kabur, ia melihat Maya perlahan menuruni tangga dari lantai dua, wajahnya dipenuhi senyum.
“Aduh, Kakak Ipar, aku cuma mau nunjukin bunga yang baru aku rangkai, tapi tanganku nggak sengaja lepas, vasnya malah jatuh ke kepalamu.”
“Gimana, ya? Kepalamu penuh darah, serem banget deh lihatnya. Gimana kalau aku panggil ambulans? Tapi aku takut banget sampai nggak bisa angkat ponsel. Kau nggak marah, kan? Kakak Ipar, tahan sedikit lagi ya…”
Wulan belum sempat mendengar semua kata-kata Maya, sudah lebih dulu pingsan karena kesakitan.
Belakangan, seorang pembantu yang menemukannya. Saking terkejutnya, ia buru-buru membawa Wulan ke rumah sakit.
Saat Wulan sadar kembali, waktu sudah menunjukkan tengah hari.
Kepalanya dijahit hingga tiga puluh jahitan, tampak sangat mengerikan.
Dokter mengatakan ia mengalami gegar otak ringan, disertai kebutaan sementara pada mata kanannya.
Jordan berdiri di samping ranjang, membungkuk dengan wajah khawatir, menanyakan apakah Wulan merasa sakit, lalu dengan penuh perhatian membantunya duduk dan menyuapkan air.
Dari tindakannya, memang terlihat seperti sedang merawat istri yang terluka. Tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya, justru memihak Maya.
“Maya sudah sadar salah, dia juga sangat menyesal, barusan hampir pingsan karena terlalu merasa bersalah.”
“Saat pembantu mengantarmu ke rumah sakit, ada wartawan gosip yang memotret. Sekarang mereka semua menunggu kau memberi klarifikasi.”
“Wulan, nanti bilang saja pada publik kalau kamu jatuh sendiri dan kepalamu terbentur. Dengan begitu, Keluarga Hendrawan juga akan berterima kasih padamu. Kau tahu sendiri, Maya itu penyanyi bisu, dan dia pernah menyelamatkan nyawaku waktu itu…”
Wulan membalikkan badan, menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
Entah rasa sakit dari luka di kepala, atau dari luka di hati, air matanya mulai mengalir diam-diam di balik selimut.
Ia teringat masa lalu, ketika kesehatannya memburuk dan sering demam ringan tanpa sebab. Saat itu, Jordan sampai menyewa tiga dokter pribadi untuk berjaga selama 24 jam secara bergantian, demi memastikan kondisinya selalu aman.
Dulu, setiap kali Wulan sakit perut saat datang bulan, Jordan akan memanjakannya seharian penuh. Ia tak membiarkan Wulan turun dari ranjang, bahkan makan dan minum pun semua disiapkan.
Tapi kini, lelaki yang berdiri di hadapannya, sudah bukan lagi pria yang dulu.
Jordan menyadari Wulan sedang menangis pelan di ranjang, dadanya ikut terasa sesak. Baru saja ia ingin membujuknya, seorang perawat tiba-tiba masuk dengan panik.
“Tuan Jordan, gadis yang tadi pagi datang bersama Anda tiba-tiba pingsan karena menangis. Anda mau melihatnya sekarang?”
Begitu mendengar bahwa Maya pingsan karena menangis, Jordan langsung mengabaikan Wulan dan buru-buru melangkah keluar menuju lorong.
Tak lama, suasana kamar kembali sunyi.
Hening dan sepi, hanya menyisakan Wulan seorang diri.
Sepuluh menit kemudian, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari akun bernama “Maya Happy”.
[Meski kepalamu dijahit tiga puluh jahitan, dan mata kananmu buta… lalu kenapa? Aku bahkan nggak perlu menangis, dia sudah langsung lari mencariku.]
[Wulan, aku pergi beberapa tahun, lalu kembali dan hanya bilang aku ingin mengandung anaknya, dan dia langsung setuju. Kau pikir, mungkin nggak sih dia nggak mencintaiku?]
Tak lama berselang, Wulan kembali menerima kiriman, kali ini berupa video.
Dalam video itu, Jordan sedang membujuk Maya yang menangis pelan, kedua matanya memerah karena cemas.
“Sayang, jangan salahkan dirimu sendiri. Aku ‘kan sudah bilang, aku akan selalu melindungimu.”
“Wulan cuma luka di kepala, bukan masalah besar. Dia nggak akan bilang ke publik kalau kau yang melempar vas itu. Sekarang kau sedang hamil, fokus jaga kesehatan. Hal-hal sepele begini nggak perlu kamu pikirkan.”
Setelah menonton video itu, jari-jari Wulan menggenggam telapak tangannya erat-erat hingga hampir menancap ke kulit.
Ia memaksakan diri bangkit dari ranjang, lalu pergi meninggalkan rumah sakit seorang diri.
Masih tersisa enam jam sebelum waktu keberangkatannya.
Wulan pergi ke Kuil Sentosa, tempat ia dulu menuliskan harapan dengan tangannya sendiri.
[Ingin menikah dengan Jordan, menjadi istrinya.]
Ia menggunting pita harapan itu dengan tangannya sendiri.
Angin dingin berhembus kencang di halaman kuil.
Dua pita harapan yang dulu ditulis Jordan ikut terbang tertiup angin dan jatuh tepat ke telapak tangan Wulan.
Ia mengambilnya dan melihat sekilas.
Pita pertama bertuliskan:
[Menikahi Wulan sebagai pengantin lima tahun dari sekarang.]
Pita kedua bertuliskan:
[Asal kamu kembali, kapan pun itu, aku akan tetap memilihmu.]
Wulan menatap dua harapan itu, lalu tertawa kecil, penuh ironi.
“Selamat ya, Jordan. Harapanmu tercapai.”
Tak lama, Wulan kembali ke vila.
Ponselnya terus bergetar, penuh dengan pesan-pesan provokatif dari Maya.
Wulan hanya melirik sekilas, lalu duduk di depan meja tulis dan mulai menulis sebuah surat perpisahan.
Di dalamnya, ia juga menyelipkan foto Weldy, sang penyanyi bisu.
Setelah selesai, ia mengambil koper dan turun ke lantai bawah.
Cincin pertunangan yang dulu Jordan berikan saat melamarnya di rumah sakit, ia masukkan ke dalam kotak beludru abu-abu.
Kemudian, ia menyerahkannya pada kepala pelayan.
“Nanti kalau Jordan pulang, tolong berikan ini padanya. Sampaikan juga, ada surat yang aku tinggalkan di atas meja kerja.”
Kepala pelayan melihat dengan jelas bahwa Wulan baru saja melepas cincin pertunangannya.
Ia tampak terkejut, mulai bisa menebak apa yang sedang terjadi.
“Nyonya, Anda ini mau...”
“Terima kasih, Paman Arthur, atas semua bantuanmu selama ini. Semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu.”
Wulan melambaikan tangan, lalu menarik koper dan naik taksi menuju bandara.
Satu jam kemudian, di gerbang bandara, sahabatnya, Angel Sunarta, memeluk Wulan erat-erat dengan enggan berpisah.
“Wulan, kalau kau udah pergi, jangan pernah kembali lagi.”
“Hiduplah dengan baik di luar negeri. Jangan pernah pedulikan si bajingan Jordan itu seumur hidupmu!”
Mata Wulan memerah. Ia memeluk Angel erat, lalu menatap kota Linkin yang berdiri di kejauhan. Perlahan, dagunya terangkat sedikit, sorot matanya penuh keteguhan.
Selamat tinggal, Linkin.
Dan untukmu, Jordan, biarlah kita tak pernah bertemu lagi.