Ketika Cinta Tak Mendapat Musimnya

Đang tải thông tin quảng bá...

Ketika Cinta Tak Mendapat Musimnya

GoodNovel Hoàn thành

Setelah Cassia menjadi sekretaris, sekaligus kekasih Navish selama tujuh tahun, kini pria itu malah bertunangan dengan wanita lain. Cassia merasa hatinya hancur dan berniat mengundurkan diri. Namun pa...

Chương (1)

第1章

Setelah Cassia menjadi sekretaris, sekaligus kekasih Navish selama tujuh tahun, kini pria itu malah bertunangan dengan wanita lain. Cassia merasa hatinya hancur dan berniat mengundurkan diri. Namun pada saat itu, Navish malah membatalkan pertunangannya di hadapan umum. Di sebuah acara lelang, ketika semua orang mengira Navish akan melamar Cassia, sosok wanita yang disebut "cinta sejatinya" muncul. Melihat wajah Cassia dan wanita itu yang sangat mirip, semua orang sontak berbisik menggunjingkannya. Pada saat itulah, Cassia akhirnya menyadari ... ternyata selama ini, dia hanyalah seorang pengganti. Bab 1 "Cassia, kamu sudah 30 tahun, bukan anak muda lagi. Apa kamu benar-benar mau bekerja di perusahaan itu seumur hidupmu? Kalau belum mau menikah juga, pulanglah untuk ikut kencan buta. Tantemu mau ngenalin pria yang lumayan baik, bulan depan dia pulang dari luar negeri. Temui saja dulu, ya?" Menjelang jam pulang kantor, Cassia menerima telepon dari ibunya. Bukan pertama kali ini ibunya menelepon untuk mendesaknya menikah. Biasanya Cassia selalu ragu-ragu menjawabnya. Namun kali ini, dia langsung menyetujuinya. "Baik, setelah aku mengundurkan diri, aku akan pulang tepat waktu." Di seberang sana, ibunya terdengar terkejut. "Kamu pulang?" "Iya, aku akan pulang." Setelah menutup telepon, Cassia mengambil tas dan bersiap untuk pulang. Namun saat itu, telepon internal di mejanya berdering. "Masuk." Begitu membuka pintu kantor, Cassia langsung melihat pria itu berdiri di depan jendela kaca besar. Siluet tubuhnya sangat tinggi dan tegap. Hanya dengan berdiri saja, dia bisa memancarkan tekanan yang membuat orang terintimidasi. Cassia melangkah mendekat dan Navish pun berbalik, lalu membisikkan kata-kata di dekat telinganya, "Malam ini, aku ke tempatmu." "Aku nggak bisa malam ini," ucap Cassia sambil mundur selangkah. Navish langsung menangkap pergelangan tangannya. "Menstruasimu masih sepuluh hari lagi." "Aku ada janji bertemu klien." Cassia kembali menolak. Pria itu mengulurkan tangan dan menarik lepas syal dari lehernya. Di balik syal, tampak bekas-bekas kemerahan, satu demi satu. "Kamu tahu, aku nggak suka wanita yang nggak patuh." Begitu kalimat itu dilontarkan, ciumannya jatuh bertubi-tubi. Cassia mengangkat tangan, tapi tidak mampu menolak. Dia membiarkan Navish mencium dirinya, tetapi hatinya terasa hampa. Kemarin, saat dia mengantarkan dokumen ke bar tempat Navish berada, Cassia mendengar percakapan pria itu dengan sekelompok pria sosialita. "Navish, dengar-dengar nenekmu mau menjodohkanmu. Jadi pacarmu itu gimana, dong?" Navish menjawab santai, "Bagaimana lagi? Cuma teman tidur. Menurut kalian, apa aku harus menikahinya?" Semua orang tahu, Cassia mencintai Navish dengan sepenuh hati. Saking cintanya, dia rela muncul kapan dan di mana saja saat Navish memanggilnya. Namun, Cassia tidak pernah menyangka bahwa dirinya hanyalah seorang teman tidur di mata Navish. Di saat itulah, Cassia akhirnya sadar. Navish mengantarnya pulang. Begitu pintu terbuka, dia langsung menekannya ke dinding dan menguasai setiap inci tubuhnya dengan paksa. Malam yang seharusnya menjadi malam penuh gairah itu, justru berubah menjadi siksaan batin. Usai semuanya, Navish memeluknya dari belakang sambil duduk di tepi ranjang. Napasnya yang hangat dan berat menyapu telinga Cassia. "Aku akan bertunangan." "Mm." Cassia tidak menunjukkan reaksi apa pun. Dia sudah tahu sebelumnya, apa lagi yang bisa dia katakan? "Kamu nggak marah?" Navish sudah terbiasa dengan reaksi Cassia yang seperti itu. Sejak hari pertama wanita itu bersamanya, dia tidak pernah melihat Cassia menunjukkan emosi. Dia selalu tenang hingga nyaris seperti robot. Seolah-olah semua hal dan orang tidak pernah menyentuh hatinya. Cassia tahu batasan dan tahu kapan harus mundur. Yang paling penting, wajah dan tatapan matanya ... mirip dengan "orang itu". Itulah alasan utama Navish memilihnya. "Nggak. Tidurlah. Aku capek." Cassia membalikkan badan dan menjauh darinya. Navish memandang punggungnya yang kurus, lalu mengulurkan tangan dan kembali menariknya ke pelukan. Tubuh Cassia menegang. Dia menutup mata, tetapi tidak bisa tidur semalaman. Pagi harinya. Saat Navish bangun, Cassia sudah tidak ada di sisinya. Dia turun ke bawah, tetapi tidak melihat sarapan yang biasa disiapkan untuknya. Biasanya setiap kali dia bermalam di sini, Cassia selalu menyiapkan pakaian kerja dan dasi yang akan dipakai ke kantor. Navish adalah orang yang pilih-pilih soal makanan. Steik untuk sarapannya harus berasal dari potongan daging yang paling segar. Cassia biasanya bangun lebih pagi dan pergi ke pasar memilih daging sendiri, lalu buru-buru kembali dan memasak sebelum dia bangun. Namun pagi ini, Cassia tidak menyiapkan pakaian ataupun sarapan. Bab 2 Saat Navish turun, Cassia sedang menyiram bunga di halaman. Dia mengenakan setelan kerja berwarna hitam dengan rambut tergerai rapi. Tangannya memegang penyiram tanaman dan di sudut bibirnya tersungging senyuman tipis yang jarang terlihat. Navish jarang melihat Cassia berpakaian seformal ini. Dia selalu lebih suka melihat Cassia memakai gaun. Sebab, ketika Cassia mengenakan gaun, rambut panjangnya berayun lembut dan penampilannya mirip sekali dengan "wanita itu". Namun, Cassia tidak pernah tahu semua itu. Navish berjalan ke arahnya dan bertanya, "Sarapannya mana?" Mendengar suaranya, Cassia meletakkan alat penyiram. Senyum di bibirnya langsung lenyap. "Aku nggak masak." "Kenapa nggak masak? Kamu tahu 'kan, yang paling aku nantikan tiap pagi adalah sarapan buatanmu." Navish mengernyit. Ada sesuatu yang terasa berbeda dari Cassia hari ini. "Aku harus pergi ketemu klien. Nggak sempat. Minta saja pembantu yang masakkan." Cassia berbalik hendak pergi, tapi Navish menahan lengannya. "Kamu pergi pakai baju ini?" "Kenapa? Ada masalah?" Cassia menoleh dan memandangnya. Dia tahu betul Navish tidak suka. Namun, dia tidak peduli lagi. Yang penting baginya sekarang adalah dirinya sendiri. Dia tidak suka memakai gaun. Menurutnya, untuk kerja seharusnya berpakaian rapi dan profesional. Hanya saja, Navish suka melihatnya memakai gaun, berdandan rapi, dan berpenampilan seperti boneka. Namun sekarang, dia tidak akan lagi menuruti Navish. "Ada apa denganmu?" Melihat perubahan sikap Cassia, nada bicara Navish mulai melembut. "Kamu nggak suka aku mau tunangan, ya? Kamu tahu itu permintaan keluarga dan aku juga belum setuju, 'kan?" "Kamu salah paham, Pak Navish. Kamu mau menikah dengan siapa itu hakmu. Lagian, dari awal kamu sudah bilang jelas, hubungan kita cuma soal seks, tanpa cinta." Dia menepis tangan Navish dan pergi tanpa menoleh sedikit pun. Sesampainya di kantor, Cassia mendapati sebuah kotak hadiah tergeletak di meja kerjanya. Seorang rekan kerja lewat sambil menggoda, "Bu Cassia, ada pengagum baru lagi nih yang kirim hadiah?" Cassia tetap tenang saat membuka kotak itu. Di dalamnya, tergeletak sebuah tas edisi terbatas. Itu adalah tas ketiga yang dia terima dalam beberapa waktu terakhir. Dia tahu pasti siapa pengirimnya. Hanya Navish yang bisa memberi hadiah tanpa pertimbangan seperti itu. Setiap kali selesai tidur dengannya, hadiah-hadiah dari Navish akan muncul tepat waktu di meja kerjanya. Dia pernah mengatakan bahwa dia suka tas. Sejak itu, semua hadiah dari Navish hanya tas. Entah beda warna dalam satu model, atau beda varian dari satu seri. Bahkan, tas yang sama persis juga dikirim berulang kali. Dulu, Cassia selalu senang menerima hadiah darinya. Meski tahu Navish tidak pernah memilihkan hadiah dengan tulus, dia tetap merasa bahagia. Akan tetapi sekarang, dia sudah tidak peduli. "Kamu mau nggak? Aku kasih ke kamu aja." Cassia memberikan tas itu ke temannya yang langsung girang dan memakainya dengan bangga. "Serius? Ini edisi terbatas, lho! Bu Cassia, kamu royal banget, ya!" Dengan penuh semangat, rekan kerjanya memamerkan tas itu ke seluruh kantor. Tepat saat itu, Navish keluar dari lift. Melihat tas yang diberikannya dipakai sembarangan oleh orang lain, darahnya langsung terasa mendidih. Navish menarik Cassia ke dalam kantor. "Cassia, kamu ini kenapa? Waktu kita mulai hubungan ini, aku sudah bilang, orang yang akan kunikahi bukan kamu." "Aku tahu." Cassia menjawab dengan datar, "Pak Navish, aku tahu semuanya." "Kalau tahu, kenapa kamu bersikap begini?" "Bukan apa-apa. Hanya saja ... tas yang sama persis, aku sudah punya tiga. Aku bosan. Nggak mau lagi." Navish terdiam. Apa dirinya benar-benar memberikan tiga tas yang sama persis? Padahal semua itu tas terbaru, edisi terbatas, dan mahal. Dia mengira Cassia pasti akan menyukainya. "Kalau begitu, lain kali aku kasih kamu yang lain." "Nggak usah. Nggak akan ada lain kali lagi." Cassia melirik jam tangannya. "Pak Navish, sekarang jam sembilan. Waktunya rapat." Kemudian, dia melangkah keluar. Navish memandangi punggungnya yang menjauh dan tenggelam dalam pikirannya sendiri. Bab 3 Saat sedang menyiapkan dokumen rapat untuk Navish, Cassia merasa perutnya mulai sakit. Dulu, kalau sudah dalam kondisi seperti ini, dia akan terus menahannya. Namun kali ini, dia langsung membuka aplikasi rumah sakit untuk membuat janji. Dia memutuskan untuk mengambil cuti dan pergi ke dokter. Di ruang rapat, Navish sudah tidak bisa fokus. Pikirannya dipenuhi oleh Cassia. Tatapannya yang tajam terus mengarah pada Cassia. Namun, sejak awal hingga akhir rapat, Cassia bahkan tidak melirik ke arahnya sekali pun. Usai rapat dan memasuki waktu makan siang, Navish berniat mengajaknya keluar makan. Namun begitu mencarinya, Cassia ternyata sudah tidak ada di kantor. "Mana Cassia?" "Pak Navish, Bu Cassia nggak bilang ya? Dia ambil cuti siang ini." "Cuti? Pergi ke mana?" Cuti? Selama bertahun-tahun bersamanya, Cassia tidak pernah mengambil cuti sekali pun. Bahkan saat demam tinggi dan nyaris pingsan pun, dia tetap berada di posisinya dan tetap bekerja. Lalu sekarang tiba-tiba minta cuti? Selain itu, Cassia bahkan tidak memberi tahu dirinya? "Nggak tahu, Pak." "Selidiki. Cari tahu dia ke mana." Di rumah sakit, dokter mengatakan bahwa Cassia mengalami gangguan lambung karena tidak makan dengan teratur dalam jangka waktu panjang. Benar juga, selama bertahun-tahun menjadi budak kerja bagi Navish, dia hampir melupakan bagaimana rasanya makan dengan tenang. Selesai dari rumah sakit, Cassia tidak langsung kembali ke kantor. Dia memilih mencari tempat untuk duduk santai sejenak. Matahari siang menyinari jendela dengan hangat dan terik. Cassia duduk di dekat jendela sambil menyeruput kopi perlahan. Sudah lama sekali rasanya sejak terakhir kali dia bisa menikmati secangkir kopi dan memandangi dunia luar dengan tenang. Selama ini, dia telah menguras dirinya habis-habisan dengan mengikuti langkah Navish. Yang paling menyedihkan adalah, semua pengorbanan itu tidak berarti apa pun bagi Navish. Kalau begitu, mungkin memang sudah waktunya untuk mulai hidup demi dirinya sendiri. Ponselnya tiba-tiba bergetar. Nama Navish terpampang di layar. Cassia hanya meliriknya sekilas, lalu membiarkannya berdering tanpa menjawab. Navish panik. Dia menelepon Cassia berkali-kali. Cassia merasa terganggu, lalu langsung mematikan ponselnya. "Berani-beraninya dia menolak panggilanku! Cassia, kamu makin berani saja!" Begitu tahu ponselnya tidak bisa dihubungi, Navish hampir melempar ponsel ke dinding karena marah. Selama tujuh tahun ini, ponsel Cassia tidak pernah dimatikan. Kali ini, ada apa sebenarnya? Cassia menghabiskan sepanjang sore di kafe. Untuk pertama kalinya, dia merasa waktu sepenuhnya miliknya sendiri. Saat hari mulai gelap, barulah dia menyalakan kembali ponsel. Puluhan panggilan tak terjawab dan pesan memenuhi layar. [ Kamu ke mana? ] [ Aku tunggu di rumahmu. Segera pulang. ] [ Cassia, aku kasih waktu setengah jam. Segera kembali sekarang juga. ] Pesan terakhir dikirim pukul tiga sore. Sekarang sudah jam enam. Cassia memandangi pesan-pesan itu sambil tersenyum sinis. Hanya dari kata-kata itu saja, dia sudah bisa membayangkan betapa marahnya Navish sekarang. Dia berjalan-jalan sebentar, makan makanan kesukaannya, lalu pulang dengan santai ke apartemennya. Ruangan apartemennya gelap gulita. Setelah menunduk untuk mengganti sepatu, Cassia menyalakan lampu dan melihat pria itu duduk di sofa. Melihat Cassia baru pulang selarut ini, Navish langsung meledak. "Kamu ke mana saja? Tahu nggak, sudah berapa lama aku menunggumu di sini?" Tidak pernah ada yang berani membuatnya menunggu selama itu. Cassia adalah yang pertama dan ini adalah pertama kalinya terjadi. Cassia tidak menjawab. Dia berjalan ke arah bar kecil dan menuang segelas air untuk dirinya sendiri. Dulu, orang yang selalu duduk menunggu di sana adalah dirinya. Selarut apa pun Navish mengatakan dia akan datang, Cassia pasti akan selalu duduk menunggu di sofa. Kalau dia bilang akan datang jam sepuluh, Cassia sudah mulai menunggu sejak jam enam. Kalau dia bilang akan datang esok hari, Cassia akan mengganti seprai dan bahkan menjemur selimut di luar sebelum meletakkannya kembali. Namun sekarang, Cassia sudah lelah. Dia tidak akan menunggu Navish lagi. Bab 4 "Cassia, aku lagi bicara sama kamu, kamu nggak dengar?" Navish meraih tangan Cassia. Matanya yang tajam itu dipenuhi amarah. Namun, reaksi Cassia malah sangat tenang, "Aku ada urusan. Kalau Pak Navish nggak ingin menunggu, silakan pulang saja." "Ada apa denganmu? Seharian ini kamu aneh sekali." "Nggak apa-apa." Cassia menghindarinya dan bersiap naik ke lantai atas. Amarah yang selama ini ditahan oleh Navish akhirnya meledak, "Cassia, ingat statusmu. Nggak pernah ada orang yang berani membuatku menunggu selama ini. Jangan lupa, kamu cuma ...." "Cuma apa?" Dia memotong ucapan Navish, "Teman tidur?" Navish tertegun. "Jadi kamu dengar semua yang aku katakan malam itu pada mereka." Barulah Navish sadar kenapa Cassia jadi seperti ini. "Aku cuma asal bicara, aku nggak bermaksud apa-apa." "Lalu coba katakan, aku ini apa bagimu?" Cassia menatapnya dengan sorot mata yang hitam pekat. Navish terdiam dan tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. "Aku capek. Kamu pulang saja." Untuk pertama kalinya, Cassia menolaknya. Dia kembali ke kamar untuk mandi air hangat dan berganti pakaian, lalu bersiap-siap untuk tidur. Di bawah, pria itu bersandar di mobil sambil merokok, tetapi tetap tidak pergi. Cassia tidak memedulikannya. Dia hanya menutup tirai dan mematikan lampu, lalu segera terlelap. Keesokan paginya, ponselnya telah berdering saat dia belum sepenuhnya terbangun. "Cassia! Cepat lihat berita! Navish membatalkan pertunangan yang diatur neneknya secara terbuka! Apa itu karena kamu?" Cassia langsung bangkit dari ranjang dan menyalakan televisi. Benar saja, dia melihat Navish memberi pernyataan pada wartawan bahwa dia membatalkan pertunangan karena sudah ada seseorang yang lebih penting di hatinya. Jantung Cassia seolah berhenti berdetak sejenak. Dia menatap sorot mata Navish yang penuh keyakinan di layar, hatinya sedikit bergetar. "Cassia, selamat ya. Akhirnya kamu berhasil mendapatkan hati Navish." Setelah menutup telepon, hati Cassia tak kunjung tenang. Dia ingin menelepon Navish dan menanyakan maksud dari semua yang dia katakan. Apakah benar Navish membatalkan pertunangannya dengan orang lain karena dirinya? Namun, sebelum sempat menekan tombol panggil, Cassia sudah menerima pesan dari Navish. [ Jam delapan malam, datang ke Hotel Moore. Ada pesta. Dandan yang cantik. ] Melihat pesan itu, Cassia akhirnya tersenyum. Navish jarang mengajaknya menghadiri acara-acara seperti ini. Dulu ke mana pun Navish pergi, dia nyaris tidak pernah mengajak Cassia. Namun kali ini, Navish malah mengundangnya secara langsung untuk menghadiri pesta. Cassia mengirim pesan pada sahabatnya, yang langsung membalas dengan antusias. [ Jangan-jangan Navish mau melamarmu? Cassia, penantianmu mungkin akhirnya terbayar. ] Cassia menahan senyum dan diam-diam muncul sebersit harapan dalam hatinya. Dia membatin, 'Terakhir kalinya! Ini adalah kesempatan terakhir untuk Navish dan aku!' Cassia memang jarang menghadiri pesta, jadi gaun malamnya sangat terbatas. Dia pergi ke pusat perbelanjaan dan membeli gaun mahal seharga puluhan juta yang sangat indah. Setelah itu, dia menemui penata rias dan penata gaya untuk merias dirinya secantik mungkin dan muncul tepat waktu di depan Hotel Moore. Cassia memang pernah mendengar sedikit tentang acara jamuan malam ini. Ini adalah acara lelang kalangan atas yang dihadiri oleh tokoh-tokoh berpengaruh. Cassia berdiri di pintu masuk sambil menarik napas panjang, lalu melangkah masuk ke aula pesta. Di aula mewah yang dipenuhi keramaian, gelas anggur saling beradu, dan semua orang sedang asyik bercengkerama. Di antara lautan manusia yang beradu penampilan, Cassia langsung melihat pria yang selalu dirindukannya. Hatinya terasa senang, lalu dia mulai melangkah ke arah pria itu. Namun tiba-tiba, terdengar suara orang-orang bergosip di dekatnya, "Nggak nyangka Pak Navish bawa pasangan malam ini!" "Dengar-dengar, itu wanita yang paling dicintainya. Akhirnya dia sudah pulang dari luar negeri." "Pantas saja, tadi pagi dia menggelar konferensi pers untuk mengumumkan pembatalan pertunangannya dengan Nona Keluarga Hary. Ternyata cinta sejatinya sudah pulang." Senyuman di bibir Cassia perlahan menjadi kaku. Cinta sejati? Apa maksudnya cinta sejati? Bab 5 Hingga pria yang tak jauh dari sana berbalik, wanita di sampingnya pun ikut menoleh. Saat itulah Cassia melihat wajah yang sangat mirip dengan dirinya tersenyum manis sambil merangkul lengan Navish. Dalam sekejap, darah di seluruh tubuh Cassia terasa membeku. Siapa dia? Siapa wanita itu? Cinta sejatinya Navish? Cassia sudah bersama Navish selama tujuh tahun, tapi kenapa dia tidak pernah tahu Navish punya wanita idaman ini? Dada Cassia terasa nyeri. Dia berbalik hendak pergi, tapi suara laki-laki itu menghentikannya, "Sudah datang, Cassia?" "Cassia? Sekretaris Navish yang itu?" "Kenapa wajahnya mirip sekali sama Amanda?" "Kamu nggak tahu? Dia itu 'kan pengganti. Katanya selama tujuh tahun Amanda pergi, Navish mencari seseorang untuk menggantikannya. Sepertinya dia ini orangnya!" Tatapan semua orang tertuju padanya. Suara-suara bergema di sekeliling, membuat Cassia merasa seolah-olah tercekik dan napasnya terasa sesak. "Halo, Bu Cassia." Amanda melangkah ke arahnya dan menatapnya dari atas ke bawah. "Maaf ya, aku dengar dari Navish kamu nggak suka datang ke acara seperti ini. Tapi aku ingin sekali bertemu denganmu, jadi aku yang minta dia mengajakmu ke sini!" Cassia menangkap jelas sorot provokasi di mata wanita itu. Jari-jarinya yang menggantung di sisi tubuhnya mengepal erat. "Jadi kamu yang ingin bertemu denganku?" Ternyata alasan Navish membatalkan pertunangan bukan karena dirinya, tapi karena cinta sejatinya sudah kembali. Alasannya menyuruh Cassia berdandan cantik dan datang ke pesta ini, hanya agar Amanda bisa melihat seperti apa rupa si pengganti. Hati Cassia terasa seperti seolah-olah diremuk. Kedua kakinya terasa lemas dan dia nyaris tidak sanggup berdiri. "Tadi aku dengar dari orang, wajah Bu Cassia agak mirip denganku. Navish, menurutmu mirip nggak?" Amanda menengadah sedikit dan bermanja pada Navish. Navish tersenyum santai, seolah tidak memedulikan apa pun. "Kebetulan saja, dia tetap nggak sebanding denganmu." Mendengar ucapan itu, dada Cassia terasa nyeri hingga mundur beberapa langkah. Dia membalikkan badan hendak pergi, tetapi Amanda mengadangnya. "Bu Cassia, aku belum sempat bersulang denganmu. Terima kasih ya, sudah merawat Navish selama ini. Dia orang yang sangat pemilih, kamu pasti sudah banyak menderita, 'kan?" Nada bicaranya sangat tinggi, seakan-akan dia adalah istri sah, sementara Cassia hanyalah pelakor. Tatapan orang-orang di sekeliling terus tertuju pada Cassia. Mereka terlihat seperti sedang menonton lelucon yang menyedihkan. Cassia memaksakan senyum tipis. "Itu memang pekerjaanku. Aku memang digaji untuk kerja. Nggak berat, kok." "Tapi, sepertinya kamu juga melakukan lebih dari sekadar pekerjaan, ya?" Amanda menaikkan nada bicaranya dengan senyuman yang tetap elegan. "Tapi sekarang aku sudah kembali, Bu Cassia. Ada beberapa hal yang sebaiknya nggak perlu kamu tangani lagi." Cassia menoleh menatap Navish. Pria itu berdiri di sana tanpa ekspresi, bahkan tidak meliriknya sedikit pun. Seolah semua yang terjadi sekarang tidak ada hubungannya dengannya. Cassia mengangguk pelan penuh kekecewaan. "Baik. Aku mengerti." Dia berbalik hendak pergi, tetapi tidak sengaja menabrak seorang pelayan yang membawa nampan berisi anggur merah. Anggur itu tumpah hingga membasahi seluruh tubuh Cassia dan menghancurkan gaun mewah seharga puluhan juta yang baru dia beli. Amanda tampak terkejut. "Bu Cassia, kamu nggak apa-apa? Gaunmu rusak total! Aku suruh pelayan ambilkan yang baru, kamu ganti dulu, ya?" "Nggak perlu." Di hadapan Amanda yang terlihat anggun dan murah hati, Cassia kini tampak mengenaskan. Melihat pakaiannya kotor dan nyaris terjatuh, Navish sempat ingin membantunya. Namun, Amanda terlebih dulu meraih lengannya. "Navish, karena Bu Cassia bilang nggak butuh bantuan, sebentar lagi lelang akan dimulai. Ayo kita masuk." Navish mengangguk dan menarik kembali tangannya yang hendak membantu Cassia, lalu meliriknya sekilas. "Cepat pulang dan ganti baju, nanti masuk angin." Setelah itu, mereka berjalan menjauh tanpa menoleh sedikit pun. Kerumunan mulai bubar perlahan-lahan. Cassia tetap berdiri di tempat tanpa bergerak sedikit pun. Di detik itu, Cassia benar-benar telah mati rasa terhadap Navish. Bab 6 Cassia sama sekali tidak tahu bahwa dirinya hanyalah seorang pengganti. Namun sejak melihat Amanda, semua hal yang dulu tidak dia pahami, kini akhirnya menjadi jelas. Navish menyukainya mengenakan gaun putih karena Amanda suka memakai gaun putih. Navish menyuruhnya memanjangkan rambut karena Amanda berambut panjang. Navish melarangnya mengecat rambut karena warna rambut Amanda hitam alami. Bahkan tas-tas yang pernah diberikan Navish padanya, semuanya adalah barang yang disukai Amanda. Cassia sangat yakin, malam ini tas yang dibawa Amanda adalah tas yang sama dengan yang pernah diberikan Navish padanya sebanyak tiga kali. Cassia menundukkan kepala. Perlahan-lahan, matanya mulai memerah. Sesampainya di apartemen, Cassia masih mengenakan gaun yang sudah rusak. Dia meringkuk di lantai, memandangi cahaya bulan yang dingin dari balik jendela. Dia teringat tujuh tahun lalu, saat pertama kali bertemu Navish di sebuah bar. Saat itu dia sedang butuh uang, jadi bekerja paruh waktu di bar tersebut. Di sanalah dia bertemu Navish. Navish langsung tertarik padanya, lalu memilih Cassia untuk menjadi sekretaris pribadinya. Seiring waktu, Cassia mulai menyukai Navish dan akhirnya menjadi kekasih simpanannya. Waktu itu, Navish tidak pernah mengumumkan hubungan mereka. Cassia sempat berpikir, itu hanya soal waktu. Namun sekarang dia tahu, tidak peduli seberapa lama pun dia menunggu, dia tidak akan pernah menjadi pacar, apalagi istri Navish. Saat itulah, Cassia akhirnya mengambil keputusan bulat untuk pergi. Keesokan paginya, dia bangun lebih awal dan bersiap untuk mengajukan pengunduran diri. Saat turun ke bawah, dia melihat Navish sudah ada di sana. Pria itu sudah datang sejak pagi. Lantaran tahu Cassia masih tidur, dia tidak ingin mengganggunya. Navish bahkan ingat kalau Cassia paling suka roti kukus dari toko kecil di Jalan Selatan. Pagi ini dia sengaja antre lama untuk membelikannya. Namun begitu melihatnya, Cassia tidak menunjukkan reaksi. "Sudah bangun?" Navish malah terdengar ramah. "Aku belikan roti kukus kesukaanmu. Aku antre lama sekali belinya. Ayo dimakan." "Aku nggak lapar." Cassia menunduk dan mengganti sepatunya, lalu bersiap untuk pergi. Melihat sikapnya yang tidak acuh, Navish langsung naik pitam. "Ngambek apa lagi? Kamu tahu nggak seberapa lama aku harus antre buat beli ini?" "Pak Navish, aku nggak pernah memintamu melakukan semua ini. Aku mau keluar sekarang, nggak ada waktu untuk bertengkar denganmu." Navish menarik lengannya. "Kamu marah karena Amanda?" Cassia mengatupkan bibir tidak menjawab. Navish tertawa sinis. "Lagian, aku nggak akan menikahimu, jadi apakah kamu pengganti atau bukan, memangnya itu penting?" Kalimat itu benar-benar melukai hati Cassia. Dia mengangguk pelan. "Nggak penting. Pak Navish, sekarang sudah siang. Aku harus ke kantor. Tolong lepaskan aku." Sebelum ke kantor, Cassia mampir ke salon. Dia memotong rambut yang sudah dipanjangkannya selama tujuh tahun atas permintaan Navish. Sebenarnya, Cassia selalu lebih suka rambut sebahu. Jadi, dia pun memotongnya menjadi gaya rambut pendek. Setelah semuanya selesai, perasaannya jauh lebih lega. Saat tiba di kantor, dia memang sudah terlambat. Akan tetapi, Cassia tidak peduli. Beberapa orang melihatnya dan langsung kagum. "Bu Cassia, kamu potong rambut? Jadi kelihatan makin cantik!" "Iya, rambut pendek lebih cocok buat kamu! Kelihatan bersih dan tegas!" Cassia tersenyum. "Iya, 'kan? Aku juga suka." Begitu duduk di mejanya, Cassia langsung menyalakan komputer dan menulis surat pengunduran diri. Setelah mencetaknya, dia berniat memberikannya langsung pada Navish. Namun saat ke ruangannya, Navish sedang tidak ada. Kebetulan sopir pribadinya datang untuk mengambil sesuatu. Cassia pun menyerahkan surat itu padanya. "Tolong sampaikan ini pada Pak Navish." Saat menerima surat pengunduran dirinya, Navish sempat terkejut. Namun setelah itu, dia hanya tertawa tipis. "Tanpa aku, Cassia bisa ke mana? Dia nggak akan bertahan tanpa aku. Dia cuma ngambek karena lihat Amanda kembali. Sebentar lagi juga reda. Nggak usah dihiraukan." Setelah resmi mengundurkan diri, Cassia merasa sangat lega. Dia naik taksi untuk pulang ke apartemen. Namun, dalam perjalanan dia baru menyadari bahwa tempat itu bukanlah rumahnya. Apartemen itu adalah pemberian Navish. Atau lebih tepatnya, tempat untuk menyembunyikan wanita simpanan. Karena sudah memutuskan untuk benar-benar meninggalkan semua yang berhubungan dengannya, Cassia pun memutuskan bahwa rumah itu juga tidak akan dia pertahankan. Begitu membuka pintu, aroma parfum yang familier langsung menyambutnya. Parfum itu adalah hadiah dari Navish. Dia pernah berkata bahwa parfum itu adalah satu-satunya di dunia dan dibuat khusus untuk Cassia. Cassia sangat jarang memakainya karena terlalu sayang. Dia hanya menggunakannya saat Navish datang berkunjung. Setelah melangkah cepat ke ruang tengah, Cassia terpaku saat melihat seorang wanita duduk di sofanya. Bab 7 "Amanda." "Halo, Bu Cassia." Amanda masuk ke rumahnya dan bahkan duduk di sofanya. Di depannya tergeletak parfum Cassia. "Ini rumahku, sepertinya nggak terlalu bagus kalau Bu Amanda masuk begitu saja, bukan?" Cassia menatapnya dan berbicara dengan nada tidak bersahabat. Dia paling membenci orang yang datang tanpa diundang. "Rumahmu?" Amanda tersenyum, lalu menggoyangkan kunci yang ada di tangannya. "Kalau ini rumahmu, kenapa aku bisa punya kuncinya?" Dia bangkit dan melangkah mendekati Cassia. "Bu Cassia, kamu mungkin belum tahu, apartemen ini awalnya adalah milik Navish yang dia berikan padaku. Hanya karena aku nggak mau, dia baru memberikannya padamu." Napas Cassia seolah tertahan. Menatap wanita di depannya, bibirnya terkatup rapat dan kedua tangannya mengepal kuat. Bahkan tempat tinggal ini juga dulunya milik Amanda? "Parfum ini juga." Amanda mengambil parfum di atas meja, lalu menyemprotkannya ke udara. "Bu Amanda suka menyentuh barang milik orang lain, ya?" Cassia melangkah maju dan hendak merebut kembali parfum itu. Itu adalah hadiah paling istimewa yang pernah diberikan Navish padanya. Namun, Amanda menghindar dengan mudah, lalu berkata dengan tenang, "Kamu tahu dari mana kalau parfum ini milikmu? Mungkin saja, sebenarnya milikku." "Apa Bu Cassia tahu nama parfum ini? Namanya 'Manda Cassanova'. Parfum ini diracik oleh ahli parfum profesional, khusus dipesan oleh Navish untukku. Satu-satunya di dunia." "Bu Cassia, aku cuma mau mengingatkan, ada mimpi yang sebaiknya disudahi." Setelah itu, Amanda pun pergi. Tinggallah Cassia sendirian di apartemen itu. Untuk pertama kalinya, dia menyadari bahwa tempat ini bukan rumah, melainkan sebuah sangkar. Sementara dirinya ini, hanyalah burung kenari yang dibesarkan di dalamnya. Amanda benar. Sudah waktunya dia terbangun dari mimpinya. Cassia membuang semua hadiah yang pernah diberikan Navish padanya. Kecuali beberapa tas, dia berniat menjualnya. Dia pun mulai mencari apartemen baru secara online dan bersiap untuk segera pindah. Kabar pengunduran dirinya menyebar di kantor. Beberapa rekan kerja merasa berat melepasnya dan mengajaknya untuk kumpul perpisahan di KTV. Pukul delapan malam, di klub bernama Scarlet, Cassia tiba tepat waktu. Begitu mendorong pintu ruang karaoke, Cassia langsung melihat Navish dan Amanda yang duduk di sebelahnya. "Bu Cassia datang!" Melihat mereka, Cassia langsung ingin pergi. Namun dia terlambat, ada seseorang yang sudah langsung menariknya ke dalam. "Bu Cassia, lihat seberapa besar pengaruhmu. Pak Navish bahkan hadir langsung!" Cassia mengernyitkan alisnya. Kalau tahu Navish datang, dia sudah pasti tidak akan hadir. "Pak Navish, siapa di samping Bapak ini? Nggak mau kenalin ke kami?" tanya seorang manajer yang telah lama mengikuti Navish. Cassia mendongak sedikit dan melihat Navish sedang menggandeng tangan Amanda. "Aku lupa perkenalkan ke kalian. Ini pacarku, Amanda. Baru pulang dari luar negeri." Pada saat itu, Cassia seolah-olah mendengar suara hatinya retak. Dia telah menunggu selama 7 tahun dan berharap Navish akan mengakuinya sebagai pacar di hadapan semua orang. Namun sekarang, Navish malah mengumumkan orang lain sebagai pacarnya. Suasana di dalam ruangan langsung menjadi canggung. Semua orang serempak melihat ke arah Cassia. Selama bertahun-tahun ini, orang yang selalu berada di sisi Navish adalah Cassia. Semua orang juga menyaksikan sendiri seberapa besar pengorbanan Cassia untuk Navish. Bahkan, mereka mengira Cassia akan menikah dengan Navish suatu saat. Bahkan Cassia sendiri juga beranggapan seperti itu. "Ayo, kita bersulang sama Nyonya dulu." Semua orang mulai menggoda dan mengangkat gelas. Navish melirik Cassia. "Kamu gimana? Katanya mau mengundurkan diri, masa nggak bersulang?" Cassia punya penyakit lambung karena bekerja terlalu keras untuk Navish. Dokter juga sudah memperingatkannya untuk tidak boleh minum alkohol. "Aku nggak bisa minum." Cassia menunduk, lalu mengambil segelas air putih dari meja. "Kalau begitu, aku pakai air sebagai gantinya. Aku bersulang untukmu, Nyonya." Panggilan "Nyonya" itu diucapkannya dengan penuh tekanan. Dia menghabiskan segelas air itu dalam satu tegukan, tetapi Navish tetap merasa tidak puas. "Kenapa? Setelah mengundurkan diri, bahkan segelas minuman pun nggak mau diminum? Cassia, kamu benar-benar 'hormat' sekali sama aku ya." Surat pengunduran dirinya masih tersimpan di dalam mobil. Memikirkan bahwa Cassia melakukannya karena emosi, membuat dada Navish terasa sesak. Bab 8 "Kak Navish, jangan begini. Hari ini kita datang untuk mengantar kepergian Bu Cassia. Begini saja, Bu Cassia, aku bersulang untukmu sebagai ucapan terima kasih atas perhatianmu pada Navish dan perusahaan selama ini." Amanda hendak minum, tapi dicegah oleh Navish. "Kamu mau minum apa? Lambungmu nggak sehat, kalau nanti malam kamu sakit dan nggak bisa tidur, gimana?" "Itu 'kan kejadian tujuh tahun lalu, kamu masih ingat? Sekarang lambungku sudah baik-baik saja, kok!" Amanda berlagak manja, Navish menyentuh hidungnya sambil berkata, "Sayang, orangnya sendiri saja nggak mau minum, kamu ngapain ikut-ikutan?" Setiap ucapan Navish bagaikan belati yang menusuk hati Cassia satu per satu. Cassia punya penyakit lambung, Navish tidak tahu. Sedangkan penyakit lambung Amanda tujuh tahun lalu, dia malah masih ingat jelas. Lantaran tidak ingin melihat mereka lagi, Cassia membuka sebotol bir di meja dan mulai minum diam-diam. Beberapa botol dihabiskannya langsung. Perutnya terasa perih, tapi masih kalah sakit dibanding hatinya. Navish terkekeh dingin. "Katanya kamu nggak kuat minum? Disuruh minum segelas untuk menyambut Amanda saja nggak mau. Cassia, sejak kapan kamu jadi berhati sempit begini?" Perutnya mulai mual hebat, Cassia merasa ingin muntah. Dia berlari keluar dari ruang VIP dan masuk ke toilet untuk muntah habis-habisan. Begitu keluar, beberapa pria kekar sudah mengadangnya. "Wah, ada cewek secantik ini di sini rupanya!" Cassia mengernyit dan mencoba menghindar, tapi mereka tidak memberinya jalan. "Kalian mau apa?" "Mau apa? Menurutmu kami mau apa?" Pria yang paling depan memberi aba-aba dan beberapa pria lain langsung memegangi Cassia. Cassia mulai panik dan hendak berteriak minta tolong, tepat saat itu Amanda datang. Dia memandang Cassia dengan bingung. Belum sempat bicara, dia langsung ditangkap para pria itu. "Wah, satu lagi datang. Malam ini kita pesta, bawa mereka semua masuk!" "Jangan! Tolong! Tolong aku!" Amanda menjerit panik, "Jangan sentuh aku! Kak Navish! Tolong aku!" "Amanda!" Mendengar teriakan minta tolong, Navish langsung berlari keluar dan menghantam wajah pria itu dengan satu pukulan keras. "Berani-beraninya kamu menyentuh pacarku? Cari mati!" Navish kemudian menendang perut pria itu, hingga pria tersebut jatuh berlutut ketakutan dan memohon ampun. Amanda ketakutan dan langsung bersembunyi di pelukan Navish dengan tubuh yang gemetaran hebat. "Kak Navish, aku takut sekali!" Navish memeluknya erat. "Jangan takut, aku di sini." "Sialan! Bu Cassia, anak buahku terluka! Kali ini bayarannya harus ditambah!" teriak salah satu pria sambil memegangi perutnya. Di tengah kekacauan itu, Cassia yang baru saja berhasil melepaskan diri, sedang mengusap kedua tangannya yang memerah karena dicengkeram tadi. Dia bertanya dengan bingung, "Bayaran apa?" "Katanya kalau kami menculik Amanda, kamu bakal bayar kami! Gimana sih? Sekarang malah mau pura-pura nggak tahu?" Mendengar hal itu, Navish langsung berubah murka. "Cassia! Kamu yang suruh mereka culik Amanda? Kamu sudah gila?" Cassia menatap pria di hadapannya dengan senyum sinis. "Navish, kamu nggak lihat aku juga ikut diseret barusan? Selain itu, menurutmu aku orang sepicik itu?" "Kamu bisa menculik orang atau nggak, aku nggak tahu. Tapi, kamu sanggup menculik Amanda!" Baru saja kata-kata itu terucap, Amanda yang meringkuk dalam pelukannya mulai menangis tersedu-sedu. "Kak Navish ... kenapa ... kenapa Bu Cassia tega sekali sama aku ...." Namun, hanya Cassia yang melihat dengan jelas senyum kecil dan tatapan menantang yang sekilas muncul di mata Amanda. Di saat itu jugalah, Cassia sadar. Semua orang ini dipekerjakan oleh Amanda. "Amanda, kenapa kamu fitnah aku? Aku bahkan nggak kenal mereka!" "Cukup!" bentak Navish dengan marah. "Cassia, kamu benar-benar sudah nggak bisa diselamatkan lagi!" "Kak Navish ... kepalaku sakit ...," gumam Amanda dengan lirih. Detik berikutnya, Amanda berpura-pura pingsan di pelukan Navish. "Amanda! Aku antar kamu ke rumah sakit! Jangan takut!" Navish mengangkat Amanda dalam gendongan dan pergi tanpa menoleh sedikit pun. "Cepat, seret wanita ini masuk! Cepat selesaikan urusannya! Dapat duit, dapat wanita, kerja sama begini sama Bu Amanda enak juga. Lain kali kita kerja sama lagi!" Amanda? Cassia hampir tertawa. Dugaannya ternyata benar, semua ini memang drama murahan hasil skenario Amanda sendiri. Akting Amanda seburuk itu, tapi sayangnya, Navish selamanya tidak akan bisa melihat kenyataannya. Beberapa pria mengadang jalan keluar Cassia dan berusaha menyeretnya paksa kembali ke dalam ruang VIP. Cassia memandangi sosok Navish yang pergi menjauh. Dia masih mencoba berteriak meminta tolong beberapa kali. Namun, ketika melihat punggung itu tetap tidak bergerak, harapan terakhir di hatinya pun benar-benar runtuh. "Telanjangin bajunya! Cewek secantik ini, harus kita nikmati sama-sama!" Mereka menyerbu dan merobek pakaiannya. Cahaya di matanya mulai kabur. Cassia memutar kepalanya pelan dan tatapannya tertuju pada botol bir di atas meja. Di mata yang mulai buram itu, terselip secercah keputusasaan. .... Di rumah sakit, Amanda yang sudah tertidur lelap masih terus mengigau di dalam mimpi buruk. "Ah! Jangan! Tolong!" Melihat raut wajah Amanda yang ketakutan, Navish merangkulnya dengan sayang. "Sudah nggak apa-apa, Amanda, sekarang kamu aman." "Kak Navish, aku takut sekali. Kenapa Cassia tega sekali sama aku? Apa dia marah karena aku kembali dan merebutmu darinya?" Wajah Navish langsung menjadi kaku dan dingin. "Dia nggak punya hak untuk marah. Tenang saja, aku pasti suruh dia minta maaf padamu!" Setelah menenangkan Amanda, Navish pergi dari rumah sakit dengan wajah penuh amarah dan langsung menuju rumah Cassia. Namun, rumah itu kosong. Dia langsung menelpon asistennya, "Cari tahu ada di mana Cassia sekarang!" Sambil menunggu, api amarah dalam dada Navish semakin membara. Berani-beraninya dia semalam nggak pulang? "Pak Navish, soal Bu Cassia ...." "Ada apa dengannya? Suruh dia cepat pulang dan kasih penjelasan soal kejadian kemarin!" "Pak .... Kami menemukan barang-barang pribadi Bu Cassia di Klub Scarlet, tapi dia sendiri menghilang." "Tadi malam terjadi perkelahian hebat di sana. Polisi sudah datang dan menutup lokasi. Lantai penuh darah dan katanya, ada satu orang yang tewas." "Apa?" Tubuh Navish langsung bergetar hebat. "Apa yang kamu bilang barusan?" "Polisi bilang, kemungkinan besar yang tewas itu ... adalah Bu Cassia."