Đang tải thông tin quảng bá...
Suami Selebku Menolak untuk Cerai
Aku sudah bersama dengan seorang aktor terkenal selama tujuh tahun dan menikah diam-diam selama lima tahun. Demi kariernya, aku perlu minum-minum sampai aku mengidap tukak lambung. Aku bahkan membiark...
Chương (1)
第1章
Aku sudah bersama dengan seorang aktor terkenal selama tujuh tahun dan menikah diam-diam selama lima tahun. Demi kariernya, aku perlu minum-minum sampai aku mengidap tukak lambung. Aku bahkan membiarkan harga diriku diinjak-injak orang lain.
Namun, dia malah pergi berkencan dengan seorang aktris yang terkenal lugu di dunia hiburan dan berciuman di bawah kembang api. Dia juga menyuruhku untuk lebih bermurah hati dan jangan menimbulkan keributan.
Setelahnya, aku pergi dinas dan terjebak longsor. Aku meneleponnya dengan ketakutan untuk yang terakhir kalinya. Namun, yang kudengar malah adalah dirinya yang sedang menyanyikan lagu selamat ulang tahun untuk aktris sok suci itu.
Ketika seluruh harapanku pupus dan aku mengajukan cerai, dia malah memohon padaku untuk tidak meninggalkannya seperti orang gila. Dia bahkan mengungkapkan hubungan pernikahan kami ketika menerima penghargaan.
Hubungan yang sudah berlangsung selama tujuh tahun ini akhirnya diketahui orang-orang. Namun, kali ini, aku sudah tidak menginginkannya.
...
Bab 1
Di hari peringatan pernikahan, aku masuk rumah sakit karena mengalami pendarahan lambung.
“Wah! Aku baper banget! Yang satu aktor terkenal, yang satu aktris yang baru naik daun. Pasangan yang sama-sama kuat seperti ini benar-benar seperti cerita novel yang jadi kenyataan!”
“Berciuman di bawah kembang api dan tepi danau. Romantis banget!”
“Dengar-dengar, mereka sudah pacaran dari waktu sekolah. Sayangnya ... status sosial mereka nggak sepadan. Jadinya, Elisa mau nggak mau mengakhiri hubungan ini dengan pergi ke luar negeri ....”
Di koridor luar kamar rawat inap, dua orang perawat sedang mendiskusikan gosip malam ini. Jika tokoh utama pria dalam cerita ini bukanlah suamiku, itu memang adalah hal yang sangat romantis.
Berciuman ....
Aku hampir lupa kapan terakhir kalinya aku bergandengan tangan dengan Liam. Suara di luar masih berlanjut, sedangkan hatiku terasa nyeri seperti ditusuk jarum.
Ponselku tiba-tiba berdering. Ketika melihat layar yang menunjukkan nama “Sayang”, ada secercah harapan yang timbul dalam hatiku. Namun, begitu aku mengangkat telepon itu, yang terdengar malah adalah seruan marah Liam.
“Aku cuma suruh kamu pergi negosiasikan sebuah kerja sama, tapi kamu malah gagal mendapatkannya. Kalau kamu rasa dirimu nggak mampu, ngomong dong! Kok bisa ada orang yang begitu nggak berguna sepertimu!”
Senyumku seketika membeku. Sebelum aku sempat mengucapkan kata-kata “selamat hari jadi”, kata-kata itu sudah tercekat di tenggorokanku.
Dulu, demi mendapatkan setiap kesempatan untuk Liam, aku menemani klien minum-minum nyaris setiap siang dan malam. Malam ini, aku bahkan minum sampai tukak lambungku kambuh dan aku berlutut di hadapan mereka.
Sebelum pingsan, aku melihat wajah rekan bisnis di seberangku yang penuh dengan ejekan.
“Elisa cantik, tenang saja. kami sudah permainkan orang itu habis-habisan!”
“Untung saja Elisa berhasil mendapatkan kerja sama itu untukku. Kalau nggak, aku benar-benar akan malu dibuatmu!”
Suara Liam bercampur dengan suara sekelompok orang itu. Ketika terdengar suara Elisa memanggilnya, Liam langsung memutuskan sambungan teleponku dengan terburu-buru.
Lambungku terasa sakit dari waktu ke waktu. Obat pereda rasa sakit dalam infusku terasa seperti sudah kehilangan efeknya. Namun, rasa sakit di lambungku masih belum apa-apanya dibandingkan dengan rasa sakit di hatiku.
Sekitar semenit kemudian, Liam mengirim pesan kepadaku lagi.
[ Pergi ambil kontraknya! Malam ini, kamu harus membawa pulang kontrak itu! ]
Ketika melihat perawat berjalan masuk untuk menukar obatku, aku memejamkan mata dan membenamkan kepalaku ke bantal. Aku tidak ingin orang lain melihatku berlinang air mata.
“Tolong bantu uruskan prosedur keluar rumah sakitku, ya.”
Melihat wajahku yang pucat pasi karena kesakitan, perawat itu merasa agak ragu. “Keadaanmu begitu parah, kamu mana boleh pulang dulu. Kalau nggak, suruhlah walimu datang menjemputmu. Soalnya, kalau terjadi sesuatu padamu, aku yang harus tanggung jawab.”
Aku pun tertawa. Apa aku punya wali? Dia tidak peduli pada penyakitku, apalagi diriku. Dia sama sekali tidak menghargaiku, bahkan bisa berkencan dan berciuman dengan orang lain di tepi danau.
Setelah menikah lima tahun, perhatian suamiku terhadapku bahkan masih tidak bisa dibandingkan dengan perhatian seorang perawat asing.
Setelah teringat ucapan Liam tadi, aku menahan rasa sakit dan menandatangani formulir keluar dari rumah sakit.
“Bu Evelyn, kembang apinya sudah siap. Kapan kamu mau kami mengantarnya ke rumah?”
Liam menyukai kembang api. Aku awalnya berniat untuk memberikan sebuah pertunjukan kembang api kepadanya untuk memperingati ulang tahun pernikahan kami. Sekarang, dia sepertinya sudah tidak ingin melihat pertunjukan kembang api lagi.
“Dibuang saja.”
Bab 2
Malam itu, Liam baru tiba di rumah pada dini hari. Aku tidak bisa tidur karena kesakitan. Jadi, aku mau tak mau bangkit untuk minum obat pereda rasa sakit.
“Nih! Aku sengaja bawakan camilan malam untukmu.”
Liam melempar beberapa kotak satai sisa mereka ke meja. Perhatiannya tertuju pada kontrak yang ditaruh di samping meja. Dia sama sekali tidak menyadari wajahku yang pucat dan dahiku yang berkeringat dingin.
Duk! Aku membuang satai-satai itu ke tong sampah.
Aku punya penyakit maag dan Liam juga mengetahuinya. Hanya saja, dia tidak pernah peduli.
“Kamu gila, ya? Aku sudah baik hati bawakan makanan untukmu, tapi kamu malah ngambek! Aku kan cuma suruh kamu minum-minum dikit!”
“Maagku kambuh, aku nggak bisa makan pedas.”
Liam langsung terpaku di tempat, ekspresinya terlihat agak canggung. Kemudian, dia melangkah maju dan menggenggam tanganku dengan penuh perhatian.
“Aku lupa. Kamu nggak menyalahkanku, ‘kan?”
Liam menatapku dengan tampang memelas.
Dari jarak sedekat ini, aku bisa mencium aroma parfum yang bukan miliknya. Ketika teringat ucapan sekelompok orang yang kutemui tadi, aku langsung merasa mual.
“Elisa sengaja. Dari awal, dia sudah ....”
“Evelyn! Kamu sendiri yang nggak kompeten, tapi kamu masih mau memfitnah orang! Kenapa kamu berubah jadi begini!”
Sebelum aku selesai berbicara, Liam sudah menyela ucapanku. Kemudian, dia langsung melepaskan tanganku dan berjalan masuk ke kamar.
Aku menatap punggung Liam sambil menertawakan diriku sendiri. Meskipun aku memberi tahu Liam faktanya, dia juga tidak akan percaya padaku.
Keesokan paginya, Liam membangunkan aku.
Kerja sama terbaru Liam adalah sebuah ajang pencarian bakat. Di acara ini, Liam menjadi juri. Setelah tiba di studio, aku baru tahu bahwa di kompetisi menyanyi ini, Elisa diundang sebagai bintang tamu.
Sesuai dugaan, begitu syuting dimulai, kamera tidak berhenti menangkap interaksi mesra Liam dengan Elisa entah secara sengaja atau tidak. Baru saja syuting berakhir, Liam langsung menarik Elisa ke belakang panggung.
Mereka berjalan melewatiku dan langsung duduk di ruang istirahat, seolah-olah tidak melihatku. Elisa menoleh dan tersenyum tipis padaku. Matanya dipenuhi dengan rasa bangga.
Selama tujuh tahun ini, demi karier Liam, aku selalu berada di sampingnya dengan status sebagai asistennya. Aku bahkan meninggalkan karierku di bidang finansial demi mencurahkan seluruh perhatian dan sumber dayaku kepadanya.
Sekarang, Liam sudah tidak membutuhkan aku. Sementara itu, aku masih harus melihatnya memamerkan cinta pertamanya setiap hari.
Di dalam ruang istirahat, ada sutradara yang menemani Liam dan Elisa. Entah apa yang sedang dibicarakan mereka, terdengar suara tawa manja Elisa dari waktu ke waktu.
Aku menatap kontrak kerja sama yang belum selesai kubaca. Kata-kata di atas kertas putih itu tiba-tiba terlihat bagaikan benang kusut.
“Ya ampun! Elisa perhatian banget sama Kak Liam!”
Saat mendengar tawa sutradara, aku tidak dapat menahan diri dan melirik ke arah ruang istirahat lagi. Kaca yang sedikit transparan itu memantulkan bayangan dua orang.
Elisa sedang menggenggam tisu dan dengan lembut menyeka sisa kopi yang masih menempel di sudut bibir Liam. Dari sudut pandangku, mereka berdua terlihat seperti sedang berciuman bak pasangan yang sedang berada dalam fase bulan madu.
Perasaan pasrah menjalar di seluruh tubuhku.
Aku dan Liam sudah bersama selama tujuh tahun. Lima tahun yang lalu, kami mendaftarkan pernikahan kami.
Setelah menikah, karier Liam berangsur-angsur membaik. Sumber daya dan koneksiku sudah tidak lagi memuaskannya. Dia pun membiarkan orang lain menginjak-injak harga diriku demi mendapatkan satu demi satu kerja sama baru.
Meskipun dia tidak bersedia mengungkapkan hubungan kami, aku juga tidak mempermasalahkannya. Sekarang, untuk pertama kalinya, niat untuk bercerai dengannya muncul dalam benakku.
Ketika jam makan siang, begitu makanan Liam disajikan, Elisa secara alami mengambil daun ketumbar dari piringnya dan menaruhnya ke piring Liam.
Aku secara refleks hendak menghentikan Elisa, tetapi aku malah melihat Liam hanya tersenyum padanya, seolah-olah ini adalah hal yang sudah sering terjadi.
Sutradara berkata sambil tersenyum, “Kalian masih bilang kalian itu bukan pasangan. Dinilai dari kekompakan kalian, jangan-jangan, kalian sudah nikah!”
“Kami benar-benar cuma teman biasa,” jelas Liam sambil tersenyum.
Namun, senyuman Elisa yang berada di sampingnya langsung membeku. Kemudian, dia tersadar kembali dan berujar, “Dia memang suka makan daun ketumbar. Dulu, aku juga selalu merawatnya seperti ini.”
Ucapan Elisa yang sederhana itu langsung membuat hatiku terasa sedingin es. Ternyata Liam menyukai daun ketumbar?
Namun, pertama kali aku memasak untuknya, gara-gara ada beberapa helai daun ketumbar di tumis daging sapi itu, dia langsung membuang semua makanan beserta peralatan makannya ke tong sampah, lalu berlari ke kamar mandi dengan tampang jijik dan memuntahkan makanannya.
“Sudah kubilang aku nggak suka makan daun ketumbar! Kenapa kamu malah sengaja masak pakai daun ketumbar!”
Ternyata, dia merasa jijik pada daun ketumbar dalam tumis daging sapi itu karena itu mengingatkannya pada seseorang. Aku tidak berhenti memperhatikan ekspresi Liam. Dari awal sampai akhirnya, ekspresinya terlihat santai.
Ketika berbalik untuk pergi, ponselku tiba-tiba jatuh ke lantai. Layarnya pun menyala dan semua orang melihat foto Liam yang kugunakan sebagai latar belakang ponselku.
Sebelum aku sempat mengambilnya, sutradara sudah memungut ponselku dan berkata, “Bukannya penggemar itu nggak boleh jadi asisten? Kamu ....”
Sutradara tidak berhenti melirikku dan Liam secara bergantian.
“Dalam kegiatan tim sebelumnya, aku kalah dalam permainan jujur dan tantangan.”
Setelah mendengar jawabanku, Liam sepertinya merasa lega.
Elisa juga menambahkan, “Foto latar belakang ponselku lebih bagus!”
Kemudian, aku mengikuti arah pandang sutradara dan menoleh ke arah ponsel Elisa. Itu adalah fotonya dengan Liam di bawah pertunjukan kembang api. Mereka saling bersandar di tepi danau dan bibir mereka nyaris bersentuhan.
“Liam paling suka kembang api. Dulu, aku pernah berjanji akan menemaninya menonton kembang api. Kemarin, aku akhirnya memenuhi janjiku itu. Gimana, Evelyn? Bagus, ‘kan?”
Elisa memandangku sambil tersenyum. Ketika bertemu pandang dengan tatapan penuh provokasinya, aku hanya tersenyum dan menjawab, “Bagus, mirip foto pasangan.”
Bab 3
Dari sudut mataku, aku melihat Liam yang menggosok ujung jarinya. Itu adalah tanda dia merasa tidak senang.
Ketika aku sedang makan, asistennya Elisa tiba-tiba berjalan ke sisiku. Sebelum aku sempat mendongak, dia sudah melempar sebuah kain ke supku sehingga tubuhku terciprat minyak.
“Nanti, pergi bersihkan mobil Elisa.”
Hari ini, hujan turun sangat deras. Bagian luar mobil Elisa dipenuhi dengan lumpur.
Aku tidak menanggapi ucapannya, hanya menyeka tanganku dengan acuh tak acuh.
Melihat aku yang tidak bergeming, asistennya Elisa itu melangkah maju dan berseru di samping telingaku, “Kamu tuli? Memangnya kamu nggak bisa jawab, kamu dengar omonganku atau nggak? Dasar orang nggak berpendidikan!”
Seusai berbicara, dia mengulurkan tangannya ke arah kerah bajuku.
Aku menunduk pada Liam karena aku mencintainya. Namun, itu tidak berarti bajingan mana saja bisa bertindak seenaknya terhadapku. Aku langsung mengambil sisa makananku dan menuangkannya ke kepala asistennya Elisa.
“Memangnya ayahmu nggak pernah mendidikmu? Pergi sana!”
Mendengar keributan di luar, Elisa buru-buru berlari keluar dan berdiri di depan asistennya. Dia menunjukkan sikap seperti aku yang membuat onar.
“Evelyn, kalau kamu nggak senang sama aku, lampiaskan semuanya padaku. Apa kamu perlu bersikap seperti ini terhadap asistenku! Memangnya asisten itu bukan orang dan kamu bisa menindasnya sesuka hatimu?”
Hanya dengan beberapa patah kata, Elisa berhasil membuat para pekerja di sekeliling merasa Elisa memahami mereka. Dalam sekejap, semua orang pun memelototiku dengan penuh ejekan.
Liam melangkah maju dengan santai dan menarik Elisa masuk. Dia hanya meninggalkan punggungnya dan ucapannya yang dingin kepadaku.
“Semuanya, masuk.”
Aku menertawakan diriku sendiri. Apa dia mau membela cinta pertamanya?
“Bukannya kamu suruh aku bersihkan mobil, lalu bilang aku nggak berpendidikan? Kenapa? Karena menolak jadi pengasuhmu, itu berarti aku nggak berpendidikan?”
Aku berdiri di seberang Liam dan bertanya pada Elisa. Namun, mataku tertuju pada tangan mereka yang masih saling bertaut.
“Oh, benar juga. Sekarang, kamu itu aktris yang lagi naik daun di industri film, juga punya dukungan aktor terkenal seperti Liam. Orang sepertimu memang paling bermuka dua, ‘kan?”
Aku selalu memikirkan karier Liam, tetapi balasan yang kudapatkan malah adalah tindakan semena-mena Liam dan Elisa. Sebagai orang ketiga, Elisa tidak berhenti menguji kesabaranku. Kesabaranku sudah benar-benar habis.
Saat merasakan Liam sudah melepaskan tangannya, Elisa langsung memasang tampang penuh senyuman.
“Haih! Kok Kak Evelyn ngomongnya begitu! Tadi, ada orang lain di luar. Aku kan nggak boleh bersikap nggak adil.”
Melihat aku yang masih memasang tampang dingin, Elisa langsung berbalik dan menampar asistennya itu. “Apa-apaan kamu! Aku suruh kamu cari orang bersihkan mobilku, tapi kamu malah suruh Kak Evelyn melakukannya. Dasar nggak tahu diri!”
Seusai berbicara, Elisa melangkah maju lagi dan berujar, “Kak Evelyn, asistenku memang nggak becus. Kamu jangan permasalahkan hal sepele ini dengannya lagi, ya. Anggap saja demi aku. Oke?”
Saat berbicara, dia juga menaruh tangannya ke bahuku. Baru saja aku hendak menepis tangannya, dia malah menggenggam pergelangan tanganku.
“Cincin ini memang lebih cocok di jari Kak Evelyn. Waktu Liam memberikannya padaku sebelumnya, cincin ini kebesaran satu nomor buat aku.”
Cincin itu adalah hadiah Hari Kasih Sayang yang diberikan Liam kepadaku. Ketika menikah, kami tidak membeli cincin nikah. Liam yang tidak ingin membelinya. Dia berkata, “Lagian, kita juga menyembunyikan pernikahan ini. Buat apa kita beli cincin nikah? Nggak usah buang-buang uang.”
Ketika mengenakan cincin ini malam itu, aku sangat gembira hingga tidak bisa tidur dan hanya menatapnya semalaman. Tak disangka, cincin ini ternyata adalah hadiah yang tidak diinginkan orang lain.
“Minggir! Tanganmu kotor banget.”
Elisa langsung terpaku di tempat. Sementara itu, Liam juga tidak tahan lagi.
“Evelyn! Jangan lupa sama statusmu! Buat apa kamu berlagak hebat di hadapan orang luar!”
Aku pun tertegun. Ternyata, aku sudah mencapai tahap di mana aku melupakan statusku?
Di tempat yang tak terlihat Liam, Elisa memandangku dengan sombong.
‘Apa cinta pertama begitu sulit untuk dilupakan? Evelyn, kamu benar-benar terlalu merendah sampai nggak punya harga diri lagi!’ Aku menertawakan diriku dalam hati.
Aku tidak lagi peduli pada Liam dan hendak berbalik untuk pergi. Baru saja aku memegang gagang pintu, lambungku tiba-tiba bergejolak. Rasa sakit yang hebat itu langsung membuatku berjongkok dan meringkuk.
Liam berjalan cepat ke arahku dan memegang pergelangan tanganku. “Kenapa? Maagmu kambuh lagi?”
Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku ingin menepis tangannya. Namun, rasa sakit itu sudah membuatku sama sekali tidak bertenaga untuk melawan.
“Kamu juga minggir. Kotor ....”
Suaraku tidak besar, tetapi ruangan ini sangat tenang. Semua orang langsung tercengang setelah mendengar ucapanku.
Setelah tersadar dari keterkejutannya, Elisa langsung menunjukkan tampang bersenang-senang di atas penderitaan orang lain. Dia berharap Liam membenciku.
“Bisa nggak kamu jangan buat onar lagi? Aku akan suruh orang untuk antar kamu ke rumah sakit.”
Sebelum Liam sempat memanggil orang, aku menahan rasa sakit dan mengerahkan seluruh tenagaku untuk mencengkeram pergelangan tangannya. Ketika dia menunduk, aku melepas cincin itu dan melemparnya ke arah Elisa.
“Aku nggak mau cincin itu.”
Seusai berbicara, sebelum sempat melihat ekspresi Liam, aku sudah sepenuhnya kehilangan kesadaranku. Ketika tersadar kembali, aku sedang berbaring di ranjang pasien rumah sakit.
“Kenapa kamu nggak kasih tahu aku kalau kondisimu separah ini? Kenapa? Kamu merasa aku nggak bisa melakukan apa-apa tanpamu?”
Begitu melihat aku sudah sadar, Liam langsung melontarkan tuduhannya dan menyalahkanku. Jelas-jelas, dia sedang berkencan dengan cinta pertamanya di tepi danau pada hari itu.
“Hari ini, pertengkaranmu dengan Elisa sudah berdampak kurang baik. Mulai besok, kamu nggak perlu pergi ke studio lagi. Lagian, maagmu juga bermasalah. Mulai sekarang, kamu nggak usah kerja lagi. Kamu jadi ibu rumah tangga yang baik saja.”
Liam langsung menghentikan semua pekerjaanku secara sepihak. Namun, dari kata-katanya, aku dapat menilai bahwa dia sebenarnya khawatir masalah hari ini berdampak buruk pada Elisa.
Jariku tiba-tiba terasa dingin. Aku pun menunduk untuk melihatnya. Entah sejak kapan, Liam sudah mengeluarkan cincin yang kubuang itu dari tasnya dan menyematkannya ke jariku. Aku mengempaskan jariku dan cincin itu jatuh ke lantai lagi.
“Evelyn, kesabaranku ada batasnya ....”
“Kita cerai saja!”
Liam yang ucapannya disela olehku langsung tersenyum sinis. “Evelyn, bisa nggak kamu jangan buat onar lagi? Ini karena Elisa lagi, ‘kan? Sudah kubilang, kami cuma teman biasa. Gosip di antara kami juga cuma sebatas untuk publisitas. Hal itu menguntungkan karier kami! Memangnya kamu nggak bisa mengalah sesaat?”
Ketika mengucapkan kata-kata itu, Liam bahkan tidak menyadari ada kejenuhan yang terpancar jelas dari matanya.
Setelah tujuh tahun bersama, aku memandang pria tampan di hadapanku, tetapi malah merasa dirinya sangat asing. Aku menatapnya dengan dingin dan berkata lagi, “Aku mau cerai. Sebaiknya kita cerai saja.”