Kala Hidup Mengalir dengan Damai

Đang tải thông tin quảng bá...

Kala Hidup Mengalir dengan Damai

GoodNovel Hoàn thành

Dalam tiga tahun pernikahan, Kayden Farista membenci Calista Lisano selama tiga tahun penuh. Pada hari Nadia Farista pulang, Kayden akhirnya tidak tahan lagi. Dia pun berniat untuk memalsukan kematia...

Chương (1)

第1章

Dalam tiga tahun pernikahan, Kayden Farista membenci Calista Lisano selama tiga tahun penuh. Pada hari Nadia Farista pulang, Kayden akhirnya tidak tahan lagi. Dia pun berniat untuk memalsukan kematiannya, lalu kawin lari dengan Nadia. “Sebulan lagi, palsukan kematianku. Aku akan lepaskan statusku sebagai pewaris Keluarga Farista dan bersama Nadia selamanya.” Setelah mendengar percakapan Kayden di ruang operasi, Calista langsung menghubungi pengacara untuk membuatkan surat perceraian, lalu menghubungi kakaknya yang ada di luar negeri. “Kak, aku sudah nyerah soal Kayden. Aku bersedia tinggal di luar negeri bersamamu.” Bab 1 Setelah mengetahui lever Kayden Farista terluka setelah bertanding tinju 12 ronde berturut-turut, Calista buru-buru pergi ke rumah sakit dan menawarkan diri untuk mendonorkan darah. Setelah melakukan segelintir pemeriksaan, Calista dibawa ke kamar rawat inap dan darahnya langsung diambil sebanyak 1.000 cc. Berhubung kehilangan banyak darah, kesadarannya mulai kabur. Entah sudah berapa lama waktu berlalu, ketika dia merasa pusing, dia samar-samar mendengar suara yang familier. “Kayden, kamu begitu suka sama kakak yang nggak punya hubungan darah denganmu itu? Karena satu postingannya yang bilang dia menyukai kalung itu, kamu pun pertaruhkan nyawamu untuk bertanding tinju demi membelinya? Bisa-bisanya kamu bertanding 12 ronde berturut-turut! Kamu sudah bosan hidup?” “Sekarang, gara-gara Nadia kecelakaan dan bagian kakinya terbakar, kamu ambil darah Calista sebanyak 1.000 cc, juga mau ambil begitu banyak kulitnya. Semua orang bisa lihat dengan jelas pengorbanan Calista untuk Keluarga Farista dan kamu selama ini! Bukannya tindakanmu ini sangat keterlaluan?” Kuku-kuku Calista menancap pada dagingnya. Kayden bertanding tinju 12 ronde demi memberikan sebuah kalung yang disukai Nadia? Kayden berbohong tentang luka levernya demi mengambil darahnya untuk menolong Nadia? Setelah dia pingsan, Kayden akan menyeretnya ke ruang operasi untuk mengambil kulitnya demi mengobati Nadia? Suasananya hening untuk beberapa saat. “Apa pun yang kulakukan pada orang seperti Calista nggak akan dianggap keterlaluan.” Suara Kayden yang rendah dan serak perlahan-lahan terdengar. “Tiga tahun lalu, Calista paksa aku menikahinya. Nadia pergi ke luar negeri, dan aku sama sekali nggak bisa menemukannya. Dalam tiga tahun ini, aku hidup bagaikan mayat hidup. Kemarin, dia baru pulang. Hari ini, dia malah kecelakaan. Calista sendiri begitu jahat, memangnya salah aku ambil sedikit darah dan kulitnya?” “Jangankan darah, meski aku mau renggut nyawanya, dia juga harus terima. Siapa suruh dia paksa Nadia pergi. Ini utangnya padaku. Tapi, aku nggak tertarik pada nyawanya. Aku punya masalah yang lebih penting.” Darah Calista serasa sudah membeku. Sekujur tubuhnya gemetar tak terkendali. “Sekarang, kamu sudah nikah. Apa lagi yang mau kamu lakukan?” tanya Alvin Tondi dengan nada agak ragu dan penuh waspada. “Sebulan lagi, palsukan kematianku. Aku akan lepaskan statusku sebagai pewaris Keluarga Farista dan bersama Nadia selamanya.” Calista berusaha membuka matanya yang setengah terpejam, lalu memiringkan kepala untuk menatap orang yang berbicara itu. Sekujur tubuh Kayden dipenuhi luka. Dia bahkan kesulitan berbicara, tetapi masih memaksakan diri untuk menyeka darah di jarinya dan menggenggam kalung itu erat-erat. Matanya yang memar dan bengkak juga tidak mampu menyembunyikan perasaannya yang mendalam dan obsesinya. Calista sudah tidak melihat tatapan Kayden yang seperti ini selama tiga tahun. Di hadapannya, Kayden tidak pernah menunjukkan emosinya. Hanya dalam menghadapi hal yang berhubungan dengan Nadia, Kayden baru terasa seperti orang yang berbeda. Ketika pisau bedah membelah kulit Calista, rasa sakit itu nyaris membuat napasnya terhenti. Namun, dibandingkan dengan rasa sakit di tubuh, kenyerian bagaikan ditusuk jarum di hatinya itu yang terasa paling menyesakkan. Sejak kecil, Kayden adalah putra keluarga terkemuka yang populer di ibu kota, juga unggul dalam berbagai aspek. Tidak ada seorang pun gadis seumurannya yang tidak menyukai. Calista merupakan salah satu gadis yang menyukainya. Namun, Calista tahu bahwa Kayden tidak menyukainya. Kayden menyukai kakaknya yang tidak berhubungan darah dengannya, Nadia Farista. Sepulang sekolah, Kayden akan langsung pulang ke rumah demi membawakan es krim kesukaan Nadia. Ketika mengetahui Nadia demam tinggi, Kayden akan bolos sekolah demi menjaganya. Hanya karena Nadia mengatakan bahwa dirinya paling tertarik pada pria yang menguasai taekwondo, Kayden pun mempelajari taekwondo selama belasan tahun. Demi Nadia, Kayden menolak semua orang. Awalnya, Calista juga merasa dirinya tidak mungkin memiliki kesempatan. Tak disangka, setelah mengetahui perasaan Kayden terhadap Nadia, kakeknya Kayden yang bernama Rehan pun mengancam untuk bunuh diri. Dia mengirim Nadia pergi, lalu memaksa Kayden untuk menikah dengan Calista. Setelah Rehan berulang kali dilarikan ke rumah sakit, Kayden yang perlawanannya tidak membuahkan hasil akhirnya hanya bisa setuju. Setelahnya, Kayden mendengar Rehan mendoakan supaya keinginan Calista terkabul. Kayden pun merasa yakin bahwa demi keinginannya sendiri, Calista yang mengadukan hal ini pada Rehan, lalu memaksa untuk menikahinya dan mengirim Nadia pergi. Sejak saat itu, Kayden sangat membenci Calista. Namun, Kayden tidak tahu bahwa Nadia sendiri yang berinisiatif mencari Rehan, lalu mengungkapkan rahasia Kayden ini padanya. Pada saat Kayden diculik oleh musuh keluarga mereka dan nasibnya tidak diketahui, Nadia yang mengetahui hal ini langsung mencari Rehan untuk bernegosiasi. Dia meminta 200 miliar, lalu berjanji akan pergi ke luar negeri dan meninggalkan Kayden selamanya. Begitu tersebar kabar mengenai pewaris Grup Farista yang dibunuh penculik, saham Grup Farista pun anjlok. Calista yang keluar untuk memberi jaminan tanpa peduli pada konsekuensi apa pun. Oleh karena itu, Grup Farista baru terselamatkan dan Kayden juga ditemukan. Demi mengendalikan opini publik, kedua keluarga memutuskan untuk membiarkan Calista dan Kayden menikah selama tiga tahun. Calista bukannya tidak pernah menjelaskan. Namun, dalam tiga tahun pernikahan ini, Kayden selalu memperlakukannya layaknya seorang musuh. Bahkan tinggal serumah saja sudah terasa mustahil, apalagi berharap Kayden mendengar penjelasannya. Meskipun dia sudah mengeluarkan buktinya di hadapan Kayden, Kayden bahkan tak sudi meliriknya. Dua hari yang lalu, Nadia sudah kembali dan mengalami kecelakaan mobil. Namun, Kayden malah yakin bahwa Calista yang menyuruh orang melakukannya. Air mata Calista pun menetes tak terkendali. Tenggorokannya terasa tercekat hingga bernapas juga menjadi sulit. Seiring dengan Kayden yang pergi bersama perawat, Calista didorong ke kamar rawat inap. Setelah efek obat biusnya hilang, dia menelepon Vincent. “Kak, aku sudah nyerah soal Kayden. Aku bersedia tinggal di luar negeri bersamamu.” Bab 2 Setelah mendengar ucapan adiknya, pria di ujung telepon yang sedang merasa gundah di dalam bar pun duduk dengan bersemangat. “Serius? Calista, pikiranmu benar-benar sudah terbuka? Sudah kubilang Kayden itu bukan orang baik! Selain kasar, dia juga sangat keras kepala! Dengan tinggal di sisinya, kamu pasti akan menderita! Baguslah kalau pikiranmu sudah terbuka. Kamu sudah kemas barang-barangmu? Aku akan pergi menjemputmu sekarang juga!” Saat mendengar suara Vincent yang begitu gembira hingga agak gemetar, hati Calista terasa getir. Dia berusaha menyembunyikan rasa tidak nyaman tubuhnya dan menjawab, “Kak, kamu bantu aku urus semua prosedurnya dulu. Sebulan lagi, aku akan ke sana. Aku mau tangani semua yang ada di sini sampai tuntas biar nggak usah kembali lagi.” Saat ini, Vincent baru teringat bahwa berimigrasi ke luar negeri harus melalui prosedur. Dia buru-buru mengangguk, lalu langsung mengurus prosedurnya begitu memutuskan sambungan telepon. Setelah sambungan telepon terputus, tatapan Calista menjadi gelap. Dia hanya memiliki waktu satu bulan. Sebelum Kayden memalsukan kematiannya, dia harus memutuskan semua hubungan Grup Lisano dengan Grup Farista. Dia ingin terlebih dahulu melepaskan diri dari Grup Farista dan Kayden. Selama tiga tahun ini, Calista sama sekali tidak berutang pada Kayden. Dia tidak seharusnya lanjut tinggal di tempat ini dan menangani kekacauan yang akan ditinggalkan Kayden setelah Kayden memalsukan kematiannya. Calista dirawat di rumah sakit seorang diri selama lima hari dan Kayden tidak pernah muncul sekali pun. Setelah mengambil darah dan kulit Calista, Kayden langsung menelantarkan Calista di rumah sakit. Dia bahkan malas untuk mengirim sebuah pesan berisi penjelasan singkat. Kayden sepertinya sama sekali tidak peduli pada reaksi Calista setelah sadar. Calista pun tersenyum mengejek. Dia menyeka air mata yang entah sejak kapan mengalir membasahi pipinya, lalu menghubungi orang untuk membuatkan surat perceraian. Di hari Calista keluar dari rumah sakit, dia membawa surat perceraian itu kembali ke Kediaman Keluarga Farista. Ketika mendekati pintu kamar, dia mendengar suara percakapan orang dari dalam. “Kayden, demi aku, kamu sudah telantarkan Calista di rumah sakit. Selama seminggu ini, kamu juga cuma temani aku, gimana kalau dia marah dan nggak pulang? Kamu jangan mengantre beli bubur buatku lagi, juga jangan selalu berjaga di sisiku. Sebaiknya kamu pergi jenguk dia ....” Kayden memijat pergelangan kaki Nadia dengan lembut sambil menatapnya dengan penuh kasih sayang. Begitu mengungkit tentang Calista, ada sedikit kejengkelan yang melintasi matanya. “Nggak usah. Dia nggak akan tega meninggalkanku. Meski sudah pergi, dia juga akan kembali lagi dengan tampang menyedihkan setelah tiga hari.” Tubuh Calista pun menegang. Ada rasa sakit yang melintasi matanya. Ternyata, di mata Kayden, Calista begitu mencintainya sampai tidak mungkin meninggalkannya. Oleh karena itu, dia baru berani berbuat hal-hal yang begitu keterlaluan. Calista pun tersenyum pahit dan menahan rasa getir sambil mendorong buka pintu kamar. Dalam sekejap, keadaan di dalam ruangan menjadi hening. Seluruh kasih sayang di mata Kayden seketika menghilang. Dia menepuk-nepuk Nadia untuk menghiburnya, lalu menoleh ke arah Calista dengan penuh waspada. Awalnya, Kayden mengira Calista akan merengek dan menangis untuk beberapa saat. Tak disangka, Calista hanya dengan tenang menyerahkan sebuah dokumen kepadanya. “Tandatanganilah ini.” Berhubung Calista tidak membuat keributan seperti dugaannya, Kayden pun tertegun. Dulu, Calista juga menyerahkan kontrak kerja kepadanya seperti ini. Jadi, dia tidak merasa ada yang tidak beres. Dia pun menerima dokumen itu, lalu menandatanganinya. Baru saja Kayden hendak mengatakan sesuatu, ponselnya tiba-tiba bergetar. Berhubung itu adalah telepon tentang kerjaan, dia pun berpamitan pada Nadia, lalu pergi ke ruang baca. Setelah mengantarkan surat perceraian, Calista juga berbalik dan hendak kembali ke kamarnya. Namun, Nadia malah menghentikannya. “Kamu Calista, ‘kan? Aku pernah dengar Kayden ngomong soal kamu. Kamu itu pemujanya yang menghalalkan segala cara untuk menikahinya,” ujar Nadia sambil tersenyum sinis. “Dengar-dengar, kamu sangat pandai melayani orang. Begini saja, buatkanlah secangkir kopi untukku. Aku mau yang panas.” Ketika berbicara, Nadia tidak sengaja menyingkap rambutnya dan menunjukkan kalung permata yang bertengger di lehernya. Itu adalah kalung juara yang dimenangkan Kayden setelah bertanding tinju 12 ronde berturut-turut. Kalung itu melambangkan cinta abadi yang penuh gairah. Calista tahu Nadia sedang pamer sekaligus memperingatinya. Dia pun mengernyit. Berhubung tidak ingin ribut dengan Nadia, dia pun secara refleks hendak menolak. Namun, Nadia dapat menebak pemikirannya. Dia berkata lagi dengan santai, “Kalau kamu nggak menurut, aku akan beri tahu Kayden kamu menindasku. Aku rasa Kayden seharusnya akan sangat marah, sedangkan kamu juga nggak akan berakhir baik, lho.” Calista mengepalkan tangannya dan tatapannya juga meredup. Yang dikatakan Nadia benar. Apa pun yang dikatakan Nadia, Kayden akan percaya padanya tanpa ragu. Calista masih harus menunggu beberapa saat sebelum bisa meninggalkan tempat ini. Selama masa ini, dia ingin mengurangi masalah sebisa mungkin untuk menjamin dirinya dapat pergi dengan selamat. “Oke. Aku akan membuatkannya.” Sepuluh menit kemudian, Calista membawa datang secangkir kopi. Nadia menyesapnya dengan alis terangkat dan ekspresinya langsung menjadi masam. Pada detik berikutnya, dia pun menyiramkan kopi itu ke wajah Calista. “Kopi macam apa yang kamu buat ini! Jijik banget!” Seusai menyiram, Nadia masih belum puas dan melemparkan lagi cangkirnya ke kepala Calista. “Duk!” “Ugh!” Cangkir kopi itu jatuh ke lantai dan hancur berkeping-keping. Sementara itu, dahi Calista juga berdarah akibat hantaman itu. Setetes demi setetes darah menetes ke lantai. Noda merah tersebut terlihat sangat menusuk mata. Sakit. Ini adalah perasaan paling nyata yang dirasakan Calista. Sebelum Calista sempat bereaksi, Nadia yang sepertinya melihat sesuatu tiba-tiba mengambil air dingin dari meja dan menyiram dirinya sendiri. Kemudian, dia menjerit kesakitan dan berpura-pura jatuh ke lantai. Kayden kembali tepat pada saat ini. Begitu mendengar keributan, dia segera menerjang masuk. Ketika melihat Nadia yang memeluk kepalanya sambil meringis, amarahnya langsung memuncak. Dia mendorong Calista dan segera menggendong Nadia. Berhubung Kayden tidak mengendalikan kekuatannya, Calista pun kehilangan keseimbangan. Demi menopang tubuhnya, kedua tangannya menekan serpihan kaca di lantai. Kulitnya langsung robek dan berdarah. “Nadia, kamu nggak terluka, ‘kan? Apa kakimu terkilir? Tubuhmu terbakar?” Nadia bersandar dalam pelukan Kayden dengan tampang kasihan dan juga meringkuk ketakutan. “Kayden, aku nggak apa-apa. Dia seharusnya marah karena kamu selalu temani aku. Aku nggak sengaja tumpahkan kopi ke tubuhnya, tapi dia langsung siram aku pakai air panas dan mendorongku. Tapi, nggak apa-apa. Wajar saja Calista marah. Aku nggak menyalahkannya.” Kayden menatap Calista dengan kebencian yang sama sekali tidak disembunyikan. “Calista, kamu benar-benar nggak bisa berubah! Trikmu selalu begitu kotor, hatimu juga sama.” Tatapan Kayden langsung menjadi kelam. Dia yang menggendong Nadia pun berjalan ke meja kopi, lalu mengambil secangkir air panas yang tersisa. “Calista, aku sudah pernah bilang. Jangan sentuh Nadia! Kamu harus rasakan sendiri akibat perbuatanmu.” Begitu selesai berbicara, Kayden langsung menyiramkan air panas itu ke arah Calista tanpa memberikan waktu baginya untuk menjelaskan. Calista secara refleks mengadangnya. Lengannya langsung terbakar dan berasap. Rasa sakit yang membara itu membuatnya menjerit kesakitan. Dahinya sudah dibasahi keringat dingin. Meskipun sekujur tubuhnya gemetar kesakitan, Kayden masih tidak berniat untuk mengampuninya. Melihat Kayden yang masih melangkah mendekat, Calista menahan rasa sakit dan menjelaskan sambil menggertakkan gigi, “Kayden, aku nggak menyentuhnya!” Calista memanggil kepala pelayan yang sudah disuruhnya pergi mengambil rekaman CCTV untuk keluar dan berujar, “Lihat saja sendiri! Nadia yang memfitnahku!” Kepala pelayan yang menggenggam laptop berjalan ke hadapan Kayden. Dari Nadia mulai memfitnahnya, Calista sudah mencari cara untuk menghadapinya. Tak disangka .... Setelah menonton rekaman ulang sampai akhir, ekspresi Kayden pun berubah. Namun, Nadia masih bersandar dalam pelukannya sambil menangis. Jadi, dia pun menekan rasa aneh itu. Kayden mengelus rambut Nadia dan menghibur dengan suara kecil, “Jangan takut. Aku tahu kamu bukan sengaja.” Setelah wanita dalam pelukannya berhenti menangis, Kayden baru menatap Calista dan berujar dengan nada seolah sedang memberi sedekah, “Akhiri saja masalah ini sampai di sini. Kemas barangmu dan pindah ke kamar tamu.” Seusai berbicara, Kayden melirik luka Calista, lalu berbalik dan kembali ke kamar. Calista tidak menyangka bahwa meskipun ada bukti kuat yang terpampang di hadapannya, Kayden masih tetap membela Nadia dengan tenang. Calista berusaha mengangkat tangannya yang berdarah. Ada rasa ironis dan putus asa yang terkandung dalam matanya. “Oke, aku pindah.” Bab 3 Calista pindah keluar dari kamar utama dalam satu malam. Selain dokumen-dokumen penting, dia tidak mengambil apa pun, bahkan sepotong pakaian juga tidak. Dia langsung menyuruh pembantu untuk membuang semua barangnya supaya bisa mengosongkan tempat untuk Nadia. Setelah kembali ke kamar, Calista merasa sangat lelah. Dia bahkan tidak bertenaga untuk pergi ke rumah sakit dan langsung beristirahat. Sampai tengah malam, kepala Calista terasa berat dan pusing. Seluruh tubuhnya sangat panas bagaikan sedang berada di dalam oven. Ini jelas-jelas bukanlah hal yang normal setelah memasuki awal musim gugur. Calista merasa tidak beres dan membuka matanya dengan kesulitan. Tak disangka, dia malah melihat Kayden duduk di sisi tempat tidur. Kayden sedang mengolesi obat ke luka bakar lengannya dengan serius. Melihat Calista sudah bangun, Kayden meliriknya, lalu mengambil sebutir obat dari meja samping tempat tidur. Dia menyodorkan obat beserta air ke sudut mulutnya. “Lukamu infeksi, makanya kamu demam. Minum dulu obat penurun panasnya sebelum tidur,” ujar Kayden dengan nada rendah yang bercampur dengan sedikit rasa khawatir. Setelah Calista menelan obat yang disodorkannya, Kayden berkata, “Ini obat yang sengaja dibeli Nadia untukmu. Habis minum, istirahatlah. Kelak, jangan bermusuhan dengannya lagi.” Selama tiga tahun pernikahan, ini adalah pertama kalinya Kayden merawatnya ketika sakit. Namun, Kayden malah menyuruhnya untuk tidak bermusuhan dengan Nadia, padahal ini semua jelas-jelas bukanlah salahnya. Hanya saja, memangnya kenapa meskipun begitu? Kayden hanya peduli pada Nadia. Calista merasa sangat ironis. Kesadarannya mulai kabur dan dia ingin tidur untuk menghilangkan pusingnya. Akan tetapi, tubuhnya terasa seperti terbakar dan makin panas. Kelopak matanya juga sangat berat hingga dia tidak bisa membukanya. Entah sudah berapa lama Calista berjuang, dia akhirnya dapat membuka matanya dengan susah payah. Dia memaksakan diri untuk bangun dari tempat tidur, lalu menyentuh lehernya yang terasa sangat panas. Dia juga menyeret tubuhnya yang berat ke depan cermin. Matanya terlihat sangat merah. Demam Calista tidak turun. Sebaliknya, malah makin parah. Mengetahui bahwa dirinya tidak bisa menunda lebih lama lagi, Calista berjalan keluar dengan terhuyung-huyung. Tepat ketika mencapai pintu, dia tiba-tiba teringat sesuatu dan berbalik untuk mengambil obat penurun panas di meja samping tempat tidur. Ketika tiba di rumah sakit, demam Calista telah mencapai 40 derajat. Pada satu titik, dia bahkan merasa kesulitan bernapas dan segera dilarikan ke ruang gawat darurat. Dokter mengatur agar dia dirawat di rumah sakit, melakukan tes darah, mengobati luka bakar di lengannya, dan memberinya infus sepanjang malam sebelum suhu tubuhnya perlahan turun. “Apa yang terjadi? Lenganmu sudah infeksi sampai begini, tapi kamu nggak oles obat. Sudah demam, masih asal minum obat lagi. Kamu mau mati?” Calista mengerutkan kening, jantungnya berdebar kencang. “Dokter bilang aku nggak oles obat ke lenganku? Aku jelas sudah obati lukanya. Aku juga minum obat penurun demam yang dikasih keluargaku. Kenapa bisa begini?” Saat bertanya, sebuah pemikiran perlahan muncul di benak Calista. Mata Calista menjadi kelam dan dia mengerutkan bibirnya. Dia berbalik dan mengambil pil dari tasnya, lalu menyerahkannya kepada dokter. “Ini obat yang diberikan kepadaku. Coba Dokter bantu aku periksa apa ini obat penurun demam atau bukan?” Dokter mengambil pil itu dan melihat tanda di atasnya dengan hati-hati. Ekspresinya tiba-tiba menjadi serius. “Sembarangan! Ini obat yang sudah dilarang di negeri ini! Selain nggak bisa turunkan demam, efek sampingnya bisa sebabkan keracunan ginjal dan pendarahan lambung. Siapa yang kasih ke kamu? Orangnya sengaja mau celakai kamu!” Calista menatap pil itu. Panasnya yang baru reda itu pun menyerang lagi hingga membuat ujung jarinya mati rasa. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Itu adalah pesan dari Kayden. Saat mengklik pesan masuk itu, Calista melihat video Nadia yang tersenyum cerah. “Calista, habis minum obat yang kukasih, apa kamu merasa nyaman di rumah sakit? Itu obat yang kubeli untukmu. Aku jamin jantungmu akan berdebar kencang sepanjang malam. Oh iya, aku juga aku salah ambil obat untuk lenganmu. Aku baru sadar yang kuberikan itu air. Kamu harus segera mengatasi lukanya. Kalau nggak, lukanya akan tinggalkan bekas.” Sebelum Calista sempat mengambil tangkapan layar pesan, orang di ujung telepon telah menarik kembali pesan itu. Calista tahu bahwa Kayden-lah yang melakukannya. Dia takut Calista akan membaca pesan tersebut, lalu meminta pertanggungjawaban dan menimbulkan masalah bagi Nadia. Nadia tersenyum mengejek, menunduk, dan menarik napas dalam-dalam sebelum menelepon polisi. “Halo? Aku mau buat laporan, Ada orang yang mencoba membunuhku.” Setelah menelepon polisi, Calista kembali tertidur lelap. Saat terbangun lagi, dia dibangunkan oleh dering telepon yang tidak berhenti. Itu adalah panggilan dari Kayden. Berhubung tahu kenapa Kayden menelepon, dia tidak punya energi untuk berdebat dengannya. Tepat saat Calista hendak memblokir nomor Kayden, teleponnya berdering lagi. Kali ini, kakaknya yang menelepon. Jadi, dia menjawab panggilan itu. “Calista, prosedur imigrasi sudah lagi dalam proses dan akan makan waktu sekitar setengah bulan. Aku sudah pesan tiket pesawat untuk pulang dan menjemputmu. Apa urusanmu sudah bisa diselesaikan?” Mungkin karena takut Calista menyesal, suara Vincent yang biasanya terdengar malas menjadi tegang. Mendengar kehati-hatian Vincent, Calista tersenyum lembut. “Bisa. Kak, jangan khawatir. Aku nggak akan menyesal. Aku pasti akan pergi seusai mengurus semuanya.” Baru saja Calista selesai berbicara, pintu kamar rawat inapnya didorong buka dari luar. Kayden berdiri di depan pintu dengan ekspresi masam. “Pergi? Kamu mau pergi ke mana? Sampai masalah Nadia terselesaikan, kamu nggak boleh pergi ke mana pun!” Bab 4 Suara Kayden terdengar sangat rendah. Senyuman di wajah Calista pun segera sirna. Dia tidak ingin kakaknya mendengar percakapan mereka dan merasa khawatir. Jadi, dia pun mencari alasan dan buru-buru memutuskan sambungan telepon. Begitu sambungan telepon terputus, Kayden langsung bertanya dengan nada menyalahkan, “Calista, kenapa kamu lapor polisi? Nadia cuma salah kasih obat. Kamu nggak perlu lanjut permasalahkan masalah ini, ‘kan? Bisa-bisanya kamu langsung lapor polisi! Kamu tahu nggak? Dia sudah nangis saking takutnya!” Ekspresi Kayden menegang, tatapannya yang biasanya dingin kini dipenuhi amarah. Dia bersikap seolah-olah Calista sudah melakukan kesalahan besar. Setelah mendengar pertanyaan itu, Calista pun tersenyum sinis. “Nggak perlu? Kemarin, aku dilarikan ke UGD. Kapan baru perlu? Habis aku mati?” Calista mengalami syok hingga nyaris meninggal. Meskipun dia telah diopname satu malam di rumah sakit, Kayden sama sekali tidak perhatian padanya. Begitu tahu dia melapor polisi, reaksi pertama Kayden adalah menyalahkannya. Setelah tahu Nadia menukar obat, reaksi pertama Kayden adalah membelanya. Kayden benar-benar pilih kasih. Begitu mendengar jawaban itu, Kayden terlebih dahulu tertegun. Setelah tersadar kembali, ada kilatan jengkel yang melintasi matanya. Dia mengernyit dengan tidak sabar. “Dalam urusan tukar obat, memang dia yang terlalu gegabah. Tapi, aku sudah nasihati dia. Kamu jangan lanjutkan lagi masalah ini. Lagian, bukannya sekarang kamu baik-baik saja? Kalau kamu masih marah, aku akan tinggal di sini untuk jagain kamu. Sudah puas, ‘kan?” Kayden masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi ponselnya tiba-tiba berdering. Melihat yang menelepon adalah Nadia, keningnya yang berkerut pun kembali santai. “Nggak apa-apa, nggak usah khawatir. Mereka nggak akan bisa bawa kamu pergi. Jangan nangis lagi. Luka gores di tanganmu sakit nggak?” Sambil menjawab telepon, Kayden melangkah keluar secara perlahan. Calista menatap punggung Kayden dan merasa semua ini sangat absurd. Dia sudah tidak lagi menaruh harapan pada Kayden, tetapi masih merasa semua ini sangat ironis. Calista sudah nyaris kehilangan nyawanya, tetapi akhirnya hanya diberi sedikit pesan. Sementara itu, tangan Nadia hanya tergores ringan, tetapi Kayden malah begitu khawatir. Hati Calista terasa sakit. Dia tiba-tiba tidak memiliki tenaga untuk bertengkar lagi. Kayden mengatakan ingin menemaninya, tetapi Nadia tidak mengizinkannya. Setiap baru masuk ke kamar rawat inap, Kayden akan menerima berita mendesak dari Nadia. “Kayden, aku takut sendirian di rumah. Kamu pulang temani aku, ya?” “Waktu tidur, aku sering tidur berjalan. Aku nggak bisa tidur nyenyak kalau nggak ada kamu. Pulanglah.” “Aku bosan banget hari ini! Kalau kamu masih nggak pulang temani aku, aku bakal pergi ke luar negeri bareng temanku dan main di sana selama setengah atau satu tahun, lho.” Setiap pesan dan telepon itu akan langsung menarik semua perhatian Kayden. Kemudian, Kayden hanya akan melontarkan kata “istirahat yang baik” sebelum pergi. Melihat Kayden yang datang dan pergi, Calista terlihat tenang. Mungkin karena sudah tidak menaruh harapan padanya, ketika menyaksikan kasih sayangnya terhadap Nadia, Calista pun berangsur-angsur mati rasa. Calista hanya berharap dirinya bisa cepat sembuh, lalu meninggalkan tempat ini selamanya. Dia tidak ingin bertemu dengan Kayden lagi. Di hari Calista keluar dari rumah sakit, dia hanya sendiri. Pada minggu terakhir, dia menerima undangan untuk menonton pertandingan tinju yang diselenggarakan mitra perusahaan. Dia diundang untuk hadir bersama Kayden dan bersiap untuk hadir sesuai undangan. Kayden berdiri di samping mobil. Dia mengenakan setelan jas berwarna gelap yang rapi dan membuatnya terlihat mengesankan. Pada saat ini, dia sedang melindungi kepala Nadia dan mempersilakannya naik ke kursi penumpang depan. Nadia mengenakan gaun merah muda tanpa lengan. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, riasannya terlihat simpel, tetapi cantik. Ketika menatap Kayden, matanya terlihat bagaikan bintang yang berkelap-kelip. Calista menyaksikan kemesraan dua insan tersebut dan langkahnya pun terhenti. Namun, dia segera menekan perasaan aneh tersebut. Dia berjalan ke kursi belakang dengan ekspresi datar. Sepanjang perjalanan, Calista hanya duduk diam sambil memandang pemandangan di luar jendela. Tidak peduli seberapa seru pun percakapan Kayden dan Nadia, dia tetap tidak menunjukkan reaksi apa pun. Seiring berjalannya waktu, mereka malah tidak mengobrol lagi. Di bawah suasana yang hening, Calista merasa ada tatapan tajam seseorang yang sesekali tertuju padanya. Dia menoleh dan kebetulan bertemu pandang dengan tatapan aneh Kayden. Namun, Kayden segera memalingkan wajahnya. Di lokasi acara, tamu yang hadir sangat banyak. Kayden dan Nadia berjalan memasuki aula dengan bergandengan tangan. Kayden sengaja meninggalkan Calista di belakang dan melindungi Nadia dengan hati-hati. Dia memperkenalkan Nadia kepada temannya, menarik kursi untuk Nadia dan duduk di sebelahnya sambil menjelaskan jalannya pertandingan. “Sepertinya, rumor di internet itu benar. Pak Kayden nggak suka banget sama istrinya. Sejak tiba di sini, dia sama sekali nggak melirik istrinya.” “Siapa pun yang punya mata bisa menilai bahwa sikap Pak Kayden terhadap Nadia nggak biasa. Meski Nadia ada di sampingnya, dia tetap mengawasi Nadia dengan baik. Sepertinya, dia akan segera bercerai dengan Calista.” Calista yang mendengar gosip-gosip ini merasa agak sakit hati. Dia mengepalkan tangannya dan tetap mempertahankan ekspresi tenang. Saat ini, pertarungan di dalam ring sedang sengit-sengitnya. Calista tidak mampu menyaksikan pemandangan berdarah seperti ini. Dia pun diam-diam pergi dari belakang. Tepat pada saat ini, Nadia tiba-tiba bangkit dan mencari barang dengan panik. “Kalungku hilang! Kalungku hilang!” Bab 5 “Kayden, kalung yang kamu berikan padaku hilang. Itu kalung yang kamu dapatkan dari bertanding tinju 12 ronde dan cuma ada satu di dunia! Cepat bantu aku cari! Kalung itu sangat berarti buatku!” Situasinya pun menjadi kacau. Seluruh lampu dalam aula dinyalakan. Baru saja Calista mendengar jelas apa yang terjadi, lengannya dicengkeram dengan kuat dan dia ditarik kembali dari pintu. “Pak Kayden, orang ini mau pergi diam-diam. Apa mungkin barang yang kalian cari ada padanya?” Baru saja orang itu selesai berbicara, sebuah kalung tiba-tiba terjatuh dari tubuhnya. Orang di samping buru-buru memungut dan mengangkat barang itu. “Lihat! Ternyata ada di sini! Pantas saja dia mau diam-diam kabur! Ternyata dia itu seorang pencuri!” Begitu mendengar ucapan itu, perhatian semua orang langsung tertuju pada Calista. Ada yang menuduhnya, ada yang mengejeknya, ada yang merasa jijik padanya, ada juga orang yang bersemangat untuk menyaksikan pertunjukan. Pada waktu yang hampir bersamaan dengan jatuhnya kalung itu, Nadia sudah tiba di depan Calista. “Calista, aku tahu orang tuamu meninggal muda. Sejak kecil, kamu tumbuh besar bersama kakakmu yang playboy, makanya kamu begitu nggak berpendidikan. Aku bisa ngalah soal yang lain, tapi kalung ini benar-benar sangat berarti bagiku.” “Selain kalung ini, gelang dan cincinku juga sudah hilang. Itu semua pemberian Kayden untukku. Tolong biarkan aku menggeledahmu,” ujar Nadia sambil melambaikan tangannya. Dua orang pengawal bergegas datang, lalu menahan Calista dari kanan dan kiri sambil mulai menarik pakaiannya. Ekspresi Calista langsung menjadi suram. “Lepaskan aku! Aku nggak curi barangmu! Ada CCTV di setiap sudut tempat ini. Kalau ada barangmu yang hilang, kamu boleh pergi periksa rekaman CCTV. Jangan asal menuduh dan menggeledahku! Kamu kira ini di luar negeri!” Calista berusaha melawan sekuat tenaga. Namun, perbedaan kekuatan pria dan wanita benar-benar terlalu jauh, apalagi yang harus dilawannya adalah dua orang pengawal. Berhubung tidak dapat melepaskan diri dan pakaiannya akan segera ditanggalkan di bawah tatapan dingin sekelompok orang, ada kilatan kejam yang melintasi mata Calista. Tanpa peduli pada akibatnya, dia segera menendang perut Nadia. “Ah!” Nadia pun terjatuh ke lantai dan menjerit kesakitan. Gerakan semua orang di lokasi langsung terhenti. “Gimanapun, dia juga adalah putri Grup Lisano. Mana mungkin dia mencuri sebuah kalung. Ini seharusnya cuma salah paham.” “Apanya yang nggak mungkin? Kalung itu dimenangkan Pak Kayden dari pertandingan tinju. Pak Kayden pasti nggak akan mengampuninya!” Di tengah diskusi orang-orang, sesuai dugaan, Kayden segera berlari mendekat. Setelah memeriksa luka Nadia dengan sakit hati, dia menatap Calista dengan tatapan yang sangat mengerikan. “Calista! Beraninya kamu menyentuh Nadia! Kamu mau mati? Cepat minta maaf!” Calista berdiri di tempat sambil merapikan pakaiannya dengan jari gemetar. Dia menjawab dengan nada mengejek, “Waktu dia suruh pengawal untuk tanggalkan bajuku, kamu diam saja. Waktu aku melawan, kamu malah suruh aku minta maaf. Kayden, apa kamu punya hati? Semua yang terjadi hari ini adalah sandiwaranya sendiri. Aku nggak akan minta maaf.” Seusai berbicara, Calista pun berbalik dan hendak pergi. Namun, ekspresi Kayden malah bertambah jelek. Dia berjalan ke depan Calista dengan tampang muram, lalu menghalangi jalannya dan memberi perintah dengan nada tak terbantahkan, “Aku suruh kamu minta maaf! Kalau nggak, jangan harap kamu bisa pergi hari ini!” Calista menggenggam ujung pakaiannya dengan erat. Kuku-kukunya nyaris menancap ke telapak tangannya. Hatinya sangat bergejolak dan dia akhirnya hanya memaksakan diri untuk bertanya, “Kayden, gimana kalau aku bersikeras menolak untuk minta maaf?” Apa yang ingin dilakukan Kayden apabila dia tidak minta maaf? Kayden tersenyum sinis, lalu mengangkat tangannya. Dua pengawal segera berjalan mendekat dan menahan Calista. “Hari ini, ada kurang seorang petinju. Aku akan angkut kamu naik ke ring.” Bab 6 Hanya sepatah kata itu saja langsung membuat darah di sekujur tubuh Calista terasa seperti sudah membeku. Hari ini, yang bertanding adalah petinju profesional. Demi menghibur orang, para petinju pun melayangkan serangan mematikan. Makin banyak darah, makin bersemangat pula mereka. Jika Calista dinaikkan ke ring, kesampingkan dulu dirinya akan berakhir menjadi lelucon, bahkan bertahan hidup saja juga merupakan masalah. Namun, demi membantu Nadia balas dendam, Kayden malah tega berbuat sekejam ini. Dia pun tertawa hingga berlinang air mata. “Calista, kamu sudah mencuri, juga memukul orang. Bukannya kamu seharusnya minta maaf? Apa hakmu untuk nangis?” Ada sedikit kejengkelan yang terpancar dari mata Kayden. Melihat pengawal yang hendak menahannya, hati Calista pun dipenuhi dengan keputusasaan. Dia mengatupkan bibirnya erat-erat, lalu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mendorong pengawal yang mendekatinya. Kemudian, dia menerjang ke hadapan Kayden dan menamparnya dengan kuat. Calista mengerahkan seluruh tenaganya dalam tamparan ini. Suara tamparan yang nyaring pun bergema di ruangan yang hening. “Aku nggak mencuri! Jadi, aku nggak akan minta maaf!” Air mata Calista mengalir dengan tak terkendalikan. Dia berusaha menahan isakannya dan berseru, “Kenapa aku menendangnya? Karena dia memfitnahku, lalu mau tanggalkan pakaianku tanpa bukti! Kalau aku nggak mendorongnya, masa aku harus biarkan dia menelanjangiku di depan umum?” “Apa pun yang dikatakan Nadia, kamu akan selalu percaya. Kayden, siapa sebenarnya aku di matamu? Kamu anggap aku ini apa!” Mata Calista berkaca-kaca, sedangkan suaranya yang tercekat penuh dengan rasa putus asa. Selama ini, dia adalah orang yang tenang. Ini adalah pertama kalinya dia kehilangan kendali. Melihat wajah Calista yang dibasahi air mata, Kayden tertegun sejenak. Hatinya tiba-tiba terasa sesak. Pada saat ini, Nadia berjalan mendekat. “Sudahlah. Calista juga pasti bukan sengaja. Para pengawal yang salah paham sama maksudku. Kalungnya sudah ketemu, aku juga nggak akan perpanjang masalah ini lagi.” Ekspresi Nadia tiba-tiba berubah. Dia menyunggingkan seulas senyum palsu dan membawa datang segelas anggur. Selanjutnya, dia membuka mulut dan berkata tanpa suara, “Tamatlah riwayatmu.” Pada detik selanjutnya, ketika berjalan mendekat, Nadia tiba-tiba menumpahkan anggur merah itu pada dirinya. “Prang!” Gelas kaca itu pun jatuh ke lantai. Pada detik berikutnya, Nadia melangkah mundur dengan terhuyung-huyung dan mata memerah. Kebetulan, dia tersandung gelas itu dan kehilangan keseimbangan. Setelah terdesak mundur beberapa langkah, dia pun jatuh ke pelukan Kayden. “Calista, aku tulus mau berteman denganmu. Kenapa kamu ....” Nadia meringis kesakitan, lalu menyingkap gaunnya untuk memperlihatkan sebuah goresan halus. “Duh, sakit banget ....” Suara kecaman terus berlanjut. “Dia itu memang anak yatim yang nggak punya didikan orang tua. Sudah mencuri, dia juga berani main tangan, padahal Bu Nadia sudah kasih dia jalan keluar. Apa namanya ini kalau bukan merasa gelisah karena berbuat salah?” “Leluhur Keluarga Lisano yang ada di alam baka mungkin nggak akan bisa tenang karena punya keturunan seperti ini!” Setelah mendengar ucapan orang di sekeliling, Kayden berseru dengan kesal, “Calista!” Begitu melihat keangkuhan di mata Nadia, Calista tahu bahwa ini adalah salah satu tipu muslihatnya. Dia pun mencibir dalam hati. Setelah menyeka air mata, dia melangkah maju, mengambil gelas kaca itu, lalu membantingnya ke samping kaki Nadia. Di bawah tatapan ngeri Nadia, Calista mendorongnya dengan kuat. Nadia pun membelalak kaget, lalu jatuh ke atas serpihan kaca itu. “Ah! Kayden!” Kali ini, dia benar-benar menangis karena sakit. “Nadia, sebaiknya jangan gunakan trik-trik itu terhadapku. Kalau nggak, aku akan membalasnya setiap kali kamu melakukannya.” Calista menyeka bekas anggur merah di jarinya, lalu mendongak dan melihat Kayden yang menggendong Nadia dengan sakit hati. Ketika pandangan mereka bertemu, tatapan Kayden terlihat sangat mengerikan. Calista percaya bahwa apabila Nadia terluka, Kayden pasti akan menghabisinya. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menahan rasa malu dan berbalik untuk pergi. Baru saja dia meninggalkan aula, Kayden sudah mengejarnya. “Berhenti! Segera minta maaf sama Nadia!” Jari-jari Kayden yang ramping menahan pegangan pintu mobil supaya bisa menghentikan Calista untuk pergi. Calista meliriknya, lalu mendorongnya dan naik ke mobil. Tepat ketika Calista menutup pintu, dia mendengar Kayden berujar dengan suara mengerikan, “Calista, jangan nyesal kamu!” Bab 7 Mobil pun melaju. Calista merasa benaknya sangat kacau dan kelelahan yang berlebihan membuatnya tidak dapat membuka mata. Setelah menemukan lingkungan yang tenang dengan susah payah dan hendak menenangkan diri, dia malah tiba-tiba mendengar suara mobil berdecit yang memekakkan telinga. Saat Calista merasakan ada yang aneh dan membuka mata, segalanya sudah terlambat. Pada detik berikutnya, sopir menginjak pedal gas sampai kandas, lalu melaju dengan kecepatan tinggi. Ketika bertemu pandang dengan tatapan suram sopir, Calista pun merasa terkejut dan bergumam dengan suara serak, “Kamu bukan sopirku. Siapa kamu sebenarnya!” Sopir itu tersenyum bengis dan menjawab, “Aku ini iblis yang akan memberimu pelajaran.” Mobil melaju sampai keluar dari jangkauan CCTV dan masuk ke sebuah pegunungan yang dalam. Setelah mobil berhenti, Calista membuka pintu mobil dan hendak melarikan diri. Namun, sopir malah menjambak rambutnya dan menyeretnya kembali, lalu menyumpal mulutnya dengan kain. “Srek!” Beling kaca menyayat kulitnya dan rasa sakit itu membuat kepalanya serasa mau pecah. Namun, semuanya masih belum berakhir. Selanjutnya, masih ada sayatan kedua, ketiga, dan seterusnya .... Calista meronta sekuat tenaga, tetapi sopir itu menekannya ke lantai dengan kuat. Dia sama sekali tidak dapat melepaskan diri atau bahkan melontarkan pertanyaan. Dia hanya bisa menerima dirinya disayat sekali demi sekali. Di hutan yang luas ini, yang tersisa hanyalah tangisan menyedihkan Calista. Sekujur tubuhnya berlumuran darah dan kesadarannya mulai kabur. Tepat ketika dia merasa dirinya akan segera mati, sopir itu akhirnya menghentikan aksinya dan melemparnya ke lantai. Tiba-tiba, lampu depan mobil menyala, lalu mobil melaju secara perlahan. Suara yang terdengar Calista hanya tinggal napasnya yang lemah. Ketika melihat mobil itu hendak menabraknya, pandangannya yang kabur tiba-tiba menangkap sosok seseorang yang berlari mendekat. Sebelum melihat jelas siapa orang itu, dia sudah sepenuhnya kehilangan kesadaran. ... Ketika tersadar lagi, Calista menemukan dirinya tengah berbaring di rumah sakit. Sekujur tubuhnya dibungkus perban tebal dan terasa seperti bukan miliknya lagi. Hanya bergerak sedikit saja, dia langsung merasa kesakitan hingga kesulitan bernapas. “Jangan bergerak. Lukamu terlalu parah. Kalau asal bergerak, lukamu akan terbuka. Aku pergi panggil dokter dulu. Kamu istirahat yang baik.” Tidak lama setelah Kayden pergi, ponsel Calista yang ditaruh di meja samping tempat tidur pun bergetar pelan. Berhubung tidak dapat bergerak, dia hendak menunggu hingga Kayden kembali, lalu baru meminta Kayden menunjukkan ponsel itu kepadanya. Tak disangka, orang yang menelepon begitu tidak sabar. Berhubung Calista tidak mengangkat, dia pun tidak berhenti menelepon. Calista yang terganggu hingga kepalanya sakit pun akhirnya mencari perawat. Setelah mengangkat ponsel dan menyadari bahwa itu adalah telepon dari nomor tak dikenal, Calista pun mengernyit. Tiba-tiba, ada sebuah video yang ditampilkan di layar. Itu adalah rekaman ulang di lokasi pesta. “Kak Nadia, jangan nangis. Kak Kayden pasti akan membalaskan dendammu! Kalau dia balik dan melihatmu menangis, dia pasti akan habisi aku!” Nadia yang matanya merah menjawab dengan suara gemetar, “Aku sudah baik hati mau berdamai dengannya, tapi kenapa Calista malah bersikap begini terhadapku? Dia keterlaluan banget!” Nadia menunduk dan lanjut menangis. Dia menutupi wajahnya dan memasang tampang yang sangat kasihan. Tidak ada seorang pun yang tahu harus bagaimana menghiburnya. Mereka juga tidak berani menyentuh Nadia karena khawatir Kayden akan memotong tangan mereka. Tepat ketika semua orang sedang kewalahan, Kayden akhirnya kembali. Begitu dia kembali, Nadia langsung melemparkan diri ke pelukannya. “Kayden, kamu harus balaskan dendamku! Lihat saja apa yang diperbuatnya! Tubuhku sudah dibasahi anggur merah, kakiku juga berdarah. Sakit banget! Sejak kecil, kamu selalu memanjakanku. Aku nggak tahan diperlakukan secara nggak adil seperti ini. Kamu harus balaskan dendamku. Kalau nggak, aku akan pergi ke luar negeri sekarang juga dan nggak kembali lagi!” Kayden buru-buru menghibur, “Kamu mau gimana?” Nadia pun terlihat bersemangat. Dia berjinjit dan berbisik di telinga Kayden, “Dia sudah membuatku tergores sekali. Aku ini bukan tipe orang yang terima dirugikan. Aku mau kamu menyayatnya 99 kali.” Kayden terlihat serbasalah dan matanya dipenuhi dengan emosi campur aduk. Sebelum dia sempat menjawab, Nadia menunjukkan luka tipis di kakinya dan bermanja-manja lagi dengan tampang memelas. Kayden pun menyetujuinya hampir secara refleks. “Oke. Aku akan balaskan dendammu.” Di akhir video, Nadia meringkuk dalam pelukan Kayden. “Sakit banget.” Kayden terlihat sangat sakit hati. Dia menangani luka Nadia dengan hati-hati, lalu mengelus kepalanya dengan emosi yang tertahan dan penuh kendali. Dia berkata dengan suara rendah dan serak, “Aku yang nggak melindungimu dengan baik. Ini salahku.” Begitu melihat tampang mereka yang mesra, orang-orang di sekitar yang peka buru-buru menyanjung. “Ckckck, mereka memang sekeluarga. Kejamnya sama! Ini salah Calista juga, siapa suruh dia begitu sial.” Bab 8 Calista melonggarkan genggamannya dan ponselnya pun jatuh ke lantai. Darah dalam sekujur tubuhnya terasa mendidih dan menerjang ke otak. Dia dapat merasakan sensasi seperti tersayat lagi, rasa sakit itu bagaikan tubuhnya tercabik-cabik dari dalam. Jadi, ternyata Kayden yang mempekerjakan orang itu untuk membalaskan dendam Nadia. Mata Calista mulai bergetar dan dadanya terasa bagaikan diremas. Rasa sakit itu nyaris membuatnya tidak dapat bernapas. Setelah kelelahan menangis, Calista pun tertidur. Entah berapa lama waktu yang telah berlalu, dia dibangunkan oleh suara Nadia. “Kayden, bukannya kamu sudah janji mau bantu aku balas dendam? Kenapa kamu malah marah? Semalam, kamu sudah tinggalkan aku di aula pesta demi dia. Sekarang, kamu pakai nada yang begitu galak lagi waktu ngomong sama aku. Kamu sudah nggak cinta sama aku!” Kayden lagi-lagi menghiburnya dengan lembut, “Aku memang sudah setuju untuk balaskan dendammu, tapi aku nggak bilang mau membunuhnya. Kamu nggak tahu kenapa aku marah? Itu kan karena kamu suruh sopir untuk tabrak Calista sampai mati!” Kayden teringat tampang pucat Calista yang tergeletak di atas lumpur. Mobil yang melaju ke arahnya secara perlahan sudah nyaris menabrak dan menghabisinya. Pada saat itu, dia merasa jantungnya nyaris berhenti berdetak. Kayden pun buru-buru menggendong dan membawa Calista ke rumah sakit. Dia menyaksikan bagaimana Calista yang sekujur tubuhnya berlumuran darah dilarikan ke UGD. Detak jantungnya sangat pelan, sedangkan wajahnya benar-benar sudah seputih kertas. Calista terlihat seperti tidak akan bangun untuk mengganggunya lagi selamanya. Pada momen itu, Kayden merasa sangat panik. Dia berjaga di luar UGD dengan benak kosong. Nadia memandang Kayden dengan tidak rela. Melihat perasaan campur aduk yang tersembunyi di balik matanya, dia merasa sangat marah. Perasaan seperti ini terlalu rumit. Dia tidak berani berpikir kejauhan, hanya tahu bahwa dirinya harus segera bertindak. “Iya, iya. Aku tahu aku salah. Aku yang terlalu gegabah. Dengar-dengar, pengawal Calista lagi selidiki kejadian semalam. Jangan-jangan, dia tahu aku yang ....” Begitu melihat Nadia telah menunduk, amarah Kayden juga sirna. Sebelum Nadia menyelesaikan ucapannya yang penuh kekhawatiran itu, dia terlebih dahulu menyela, “Nggak. Selama ada aku, dia nggak akan menemukan apa pun.” Kali ini, Nadia baru tersenyum tulus. “Kalau begitu, jangan bahas masalah ini. Kayden, bukannya kamu bilang kamu mau palsukan kematianmu dan bawa aku pergi? Rencananya sudah matang?” “Mayatnya sudah diangkut kemari. Seminggu lagi adalah hari ulang tahun Calista. Kita akan pergi pada hari itu.” Ucapan Kayden membuat Nadia tenang dan dia pun berhenti menangis. Kemudian, dia memeluk Kayden dan berkata dengan manja bahwa dirinya ingin pergi ke sebuah kuil di Kota Arlinda supaya bisa mendoakan kelancaran rencana mereka. Kayden melirik ke arah kamar rawat inap dengan ragu. Akan tetapi, begitu Nadia mendengus, dia langsung menyetujuinya dan membawa Nadia pergi. Di sisi lain dinding, mata Calista dipenuhi emosi. Dia mengatupkan bibir dan menelepon sekretarisnya. “Percepat penanganan masalah di perusahaan. Kesampingkan dulu bagian yang nggak bisa ditangani. Bantu aku pesankan tiket pesawat untuk lima hari lagi.” Seusai memutuskan sambungan telepon, Calista memejamkan matanya dan berusaha menekan gejolak emosi dalam hatinya. Meskipun sudah merencanakan semuanya dengan matang, Kayden tetap saja melupakan sebuah variabel yang tak terkendali, yaitu Calista. Berhubung Kayden sudah diam-diam menyiapkan sebuah “kejutan” untuknya, dia hanya perlu pergi lebih cepat. Dia tidak ingin menangani kekacauan yang ditinggalkan mereka untuknya. Calista diopname di rumah sakit selama lima hari. Di hari dia keluar dari rumah sakit, dia akhirnya menerima dua kabar baik. Yang satu adalah, kantor pusat perusahaannya telah berhasil dipindahkan. Yang kedua adalah, prosedur imigrasinya telah selesai. Dia sudah bisa meninggalkan tempat ini. Ketika mendengar suara kakaknya yang penuh semangat di ujung telepon, Calista pun berlinang air mata. Dia menyeka air matanya, lalu tidak sengaja menangkap cincin nikah di jari manisnya. Tatapannya menjadi kelam. Setelah tertegun sejenak, dia melepas cincin itu dan membuangnya ke parit. Semuanya sudah berakhir. Di bandara, Calista mengeluarkan tiket pesawatnya dan berjalan perlahan menuju pintu keberangkatan. Ketika mendongak, Calista kebetulan melihat Kayden yang berjalan keluar dengan menggandeng tangan Nadia. Kedua orang itu mengenakan mantel berwarna gelap yang sangat serasi. Pria tampan dan wanita cantik yang berjalan berdampingan itu segera menarik perhatian para pejalan kaki. Calista hanya memandang sosok mereka dengan tenang, sampai sosok mereka sepenuhnya menghilang dari pandangannya. Kemudian, dia memblokir semua informasi kontak Kayden tanpa ragu dan membuang kartu SIM-nya sebelum berbalik dan naik ke pesawat.