Pernikahan yang Tak Pernah Tuntas

Đang tải thông tin quảng bá...

Pernikahan yang Tak Pernah Tuntas

GoodNovel Hoàn thành

Menjelang hari pernikahan, Nando Soman tiba-tiba menjadi korban pemukulan. Saat aku mendengar kabar buruk itu dan buru-buru ke rumah sakit, dia sudah tak mengenaliku lagi. Dokter bilang, kepalanya men...

Chương (1)

第1章

Menjelang hari pernikahan, Nando Soman tiba-tiba menjadi korban pemukulan. Saat aku mendengar kabar buruk itu dan buru-buru ke rumah sakit, dia sudah tak mengenaliku lagi. Dokter bilang, kepalanya mengalami benturan hebat, menyebabkan amnesia sementara. Sejak itu, aku mengerahkan segalanya. Kucoba mengajaknya mengunjungi ulang semua tempat penuh kenangan kita, berharap bisa membangkitkan kembali ingatannya. Tapi saat kami kembali ke rumah sakit untuk pemeriksaan, aku tak sengaja mendengar percakapannya dengan teman-temannya. “Rani udah sebaik itu sama kamu, kamu nggak terharu?” “Terharu apanya, aku mau muntah. Setiap hari mutar di tempat yang itu-itu aja, nggak ada hal baru. Cewek-cewek baru malah lebih seru dan bervariasi.” “Kalau gitu kenapa masih mau nikah sama dia? Menurut aku sih, mending batalkan aja tunangannya, hidup lebih bebas.” Tapi dia malah marah besar. “Ngomong apa kamu?! Aku cinta banget sama Rani, mana mungkin aku batalkan pertunangan kami! Aku pasti akan menikahinya! Cuma, waktunya ditunda sedikit.” Saat aku melihat hasil pemeriksaan di tanganku yang menunjukkan semuanya normal, aku baru benar-benar tersadar. Ternyata, memang tak bisa membangunkan orang yang pura-pura tidur. Bab 1 Menjelang hari pernikahan, Nando tiba-tiba menjadi korban pemukulan. Saat aku mendengar kabar buruk itu dan buru-buru ke rumah sakit, dia sudah tak mengenaliku lagi. Dokter bilang, kepalanya mengalami benturan hebat, menyebabkan amnesia sementara. Sejak itu, aku mengerahkan segalanya. Kucoba mengajaknya mengunjungi ulang semua tempat penuh kenangan kita, berharap bisa membangkitkan kembali ingatannya. Tapi saat kami kembali ke rumah sakit untuk pemeriksaan, aku tak sengaja mendengar percakapannya dengan teman-temannya. “Rani udah sebaik itu sama kamu, kamu nggak terharu?” “Terharu apanya, aku mau muntah. Setiap hari mutar di tempat yang itu-itu aja, nggak ada hal baru. Cewek-cewek baru malah lebih seru dan bervariasi.” “Kalau gitu kenapa masih mau nikah sama dia? Menurut aku sih, mending batalkan aja tunangannya, hidup lebih bebas.” Tapi dia malah marah besar. “Ngomong apa kamu?! Aku cinta banget sama Rani, mana mungkin aku batalkan pertunangan kami! Aku pasti akan menikahinya! Cuma, waktunya ditunda sedikit.” Saat aku melihat hasil pemeriksaan di tanganku yang menunjukkan semuanya normal, aku baru benar-benar tersadar. Ternyata, memang tak bisa membangunkan orang yang pura-pura tidur. Di dalam ruang rawat, suara obrolan Nando dan temannya masih terdengar. Namun kali ini lebih pelan, seakan mereka mulai membicarakan sesuatu yang tak ingin orang lain dengar. Tak lama kemudian, keduanya tertawa kecil, rendah, jijik, seperti berbagi rahasia kotor. Nada suaranya terdengar jelas, antusias, penuh semangat. “Ayo siap-siap, malam ini harus seru banget!” “Tenang, Bro. Malam ini aku bakal cariin beberapa cewek yang terbuka dan enerjik, biar kamu puas banget!” “Tapi kalau kamu terus begini, nggak takut kehilangan Rani selamanya?” Jawaban Nando datang begitu santai, namun setiap katanya terasa seperti belati menusuk langsung ke dadaku. “Takut kenapa? Dia cinta mati sama aku. Bahkan kalau harus nunggu sepuluh tahun pun, dia nggak akan ragu.” Tak lama, terdengar langkah kaki dari dalam kamar. Aku buru-buru menyeka air mata di sudut mataku, lalu pura-pura baru saja tiba di depan pintu kamar. Begitu temannya keluar dan melihatku, dia langsung menyapaku dengan senyum ramah. “Eh, Kakak ipar datang ya? Sayangnya kondisi Kak Nando belum pulih betul, sampai lupa banyak hal tentang kami juga. Tapi tenang, nanti malam aku udah rencana bikin acara kecil-kecilan buat bantu dia pulihkan ingatannya.” Aku hanya bisa memaksakan senyum. Ternyata aku memang bodoh. Sekarang aku mulai paham, apa sebenarnya maksud dari “acara” yang mereka bicarakan. Dulu aku nggak tahu apa-apa, bahkan sempat berterima kasih dengan tulus. “Kalau begitu, terima kasih, ya.” “Ah, Kakak ipar jangan sungkan. Kak Nando lagi pusing di dalam, temani aja dulu. aku pamit dulu, harus siapin acara malam ini.” Aku melangkah masuk ke kamar rawat. Nando mengernyitkan dahi saat melihatku, suaranya terdengar sinis dan tak sabar. “Kamu datang lagi? Sudah kubilang, aku nggak kenal kamu!” “Aku tahu aku ganteng, wajar kalau banyak cewek suka sama aku. Tapi kamu? Pengen nikah sama aku? Mimpi dulu!” “Beberapa hari ini aku udah nemenin kamu keliling ke berbagai tempat, tapi tetap nggak ada yang bikin aku inget apa pun. Terus kamu masih ngejar-ngejar aku buat apa?” Aku menggigit bibirku, menahan emosi. Padahal tadi di depan pintu aku sudah mendengar semuanya. Tapi tetap saja, saat berhadapan langsung begini, rasa sakit itu kembali menghantam keras dari dalam dada. Dulu, dia yang pernah rela memutus hubungan dengan keluarganya demi aku. Kita sudah berjuang sejauh ini, tinggal selangkah lagi menuju pernikahan. Tapi kenapa dia bisa berubah sejauh ini? Aku mengulurkan hasil pemeriksaan dari tanganku padanya. “Nggak ada apa-apa, cuma bawain hasil pemeriksaanmu. Kamu sehat, dan sudah boleh pulang.” Nando tampak terkejut, lalu wajahnya langsung sumringah. “Serius?!” Padahal, alasan dia belum boleh pulang selama ini adalah karena aku yang memintanya tetap di rumah sakit. Sebagian alasannya untuk menyembuhkan "hilang ingatannya", dan sebagian lagi karena aku khawatir ada efek samping dari pemukulan itu. Tapi sekarang, semuanya jadi jelas. Dia tidak pernah kehilangan ingatan. Bahkan mungkin, pemukulan itu hanya sandiwara yang dia rancang sendiri, demi menunda pernikahan kami. Kalau begitu, aku akan memenuhi keinginannya. “Tentu saja serius. Kamu sehat walafiat, nggak ada penyakit. Ngapain juga ngabisin tempat tidur rumah sakit?” Nando langsung bangkit dari ranjang, membuka lemari, dan mulai memilih baju bersih untuk dipakai. Dia masih mengernyit kesal sambil bertanya padaku, kenapa jaket santai warna biru tua miliknya tidak terlihat di mana pun. Aku menunduk, dan rasanya seperti ada pisau yang langsung menusuk ke dalam dadaku. Jaket itu, aku yang membelikannya untuk dia. Jadi sekarang, karena terlalu senang akhirnya bisa keluar dari rumah sakit, dia sampai lupa menutup celah dalam kebohongannya? “Katanya kamu nggak kenal aku, tapi kenapa kamu masih ingat jaket yang aku belikan?” Setelah bicara begitu, aku menatapnya dalam-dalam, mencoba menggugah sedikit saja nuraninya. Tangan Nando sempat terhenti di udara selama setengah detik. Lalu tiba-tiba dia menjatuhkan diri ke lantai sambil memegangi kepala, menjerit kesakitan. “Aaakhhh! Sakit! Kepala aku sakit banget!” Dokter segera datang dan butuh waktu cukup lama untuk menenangkannya. Nando menatapku dengan pandangan penuh kebencian. “Suruh perempuan ini keluar! Dia yang bikin kepala aku makin sakit!” “Dia bukannya mau bantu aku sembuh, malah sengaja nyiksa aku!” Aku hanya bisa tersenyum getir dan memejamkan mata sebentar, lalu tanpa sepatah kata pun, berbalik dan melangkah keluar dari ruang rawat. Dokter menyusulku ke luar dan berusaha menasihatiku dengan pelan. “Nona Rani, kondisi pasien saat ini masih belum stabil, sebaiknya jangan terlalu memberi rangsangan emosional berlebihan.” Seketika aku mengerti maksudnya. Aku mengangguk pelan, memberi isyarat bahwa aku paham. “Saya mengerti, Dok. Tolong sampaikan pada dia. Mulai sekarang, saya nggak akan ganggu atau membuat dia kesal lagi.” Bab 2 Sejak hari itu keluar dari rumah sakit, aku dan Nando tidak pernah lagi saling menghubungi. Tapi di media sosial, kabar tentang dia hampir tiap hari muncul di berandaku. Dia dan teman-temannya, tiap malam keluyuran di bar dan KTV, dikelilingi perempuan-perempuan muda yang cantik, ceria, dan penuh energi. Kurasa inilah hidup yang selama ini dia inginkan. Aku mulai beres-beres barang di rumah. Begitu semuanya siap dan aku hendak pergi, aku bertemu dia berdiri di depan pintu, merangkul seorang gadis muda. Nando sempat tertegun, lalu refleks menarik tangannya dari tubuh si gadis. Tapi kemudian, seperti teringat dengan skenario “amnesia”-nya, dia malah dengan santai kembali melingkarkan tangannya ke pinggang gadis itu tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Setahuku, ini rumahku, kan? Tanpa izin dariku, Rani, bukankah ini namanya masuk rumah orang secara ilegal?” Genggamanku di gagang koper makin erat. Memang benar, rumah ini milik Nando. Tapi ini juga rumah yang dulu kami siapkan sebagai rumah pernikahan kami. Jadi sekarang, dia mau membawa perempuan lain ke rumah pernikahan kami, dan melakukan hal-hal menjijikkan itu di sini? Aku masih diam menahan perasaan, belum sempat bicara, dia malah lanjut. “Tapi karena kamu bilang dulunya mantan tunanganku, ya udahlah, kali ini aku maafin. Tapi lain kali, jangan masuk tanpa izin lagi ya.” Aku menatapnya dengan tenang, lalu membalas pelan, “Baik. Nggak akan terjadi lagi. Terima kasih.” Karena setelah ini, aku pun takkan pernah kembali lagi ke rumah ini. Dan dengan begitu, semua hubungan di antara kami pun berakhir. Saat aku menarik kopernya dan berbalik hendak pergi, tiba-tiba si gadis yang sedari tadi dipeluknya buka suara… “Kak, siapa tahu dia nyembunyiin sesuatu di koper itu. Harus dicek dulu, suruh dia keluarin semuanya!” Baru saja dia bilang aku boleh pergi, tapi sekarang nada bicaranya berubah total. Dia langsung berbalik dan meraih koperku. “Iya ya, aku sampai lupa! Untung kamu ingatin, Sayang. Kalau enggak, bisa-bisa si miskin ini bawa kabur barang berhargaku!” Dia menarik koperku dengan kasar, berniat membantingnya ke lantai. Tapi itu satu-satunya hal yang tersisa dari harga diriku, aku tak ingin menyerahkannya begitu saja. “Itu barang-barangku! Itu privasi milikku! Kamu enggak punya hak buat merampas koperku!” Mendadak, wajah Nando berubah muram dan geram. “Kamu keluar dari rumahku, siapa yang tahu kamu itu maling atau bukan? Siapa yang tahu kamu nyolong barang-barangku?!” Tubuhku langsung membeku. Jadi, di matanya aku tak lebih dari seorang pencuri? Seseorang yang tak pantas dihargai? Meski aku berusaha mempertahankan koper itu sekuat tenaga, kekuatanku tak sebanding dengannya. Dia berhasil merebutnya dariku. Koper itu terbuka, dan pakaian di dalamnya tumpah berantakan ke lantai. Saat itu juga, semua perjuanganku seolah runtuh dalam sekejap. Semua tenagaku, semua harga diriku, seperti ikut tumpah bersama barang-barang itu. “Tuh lihat, enggak ada barangmu di dalam, kan?” Yurina, gadis yang bersamanya, tertawa kecil sambil menutup mulutnya manja. “Pakai baju kayak gini? Jelek dan kuno banget. Norak!” Nando ikut tertawa mengejek. “Tentu aja. Dia cuma anak kampung yang nggak ngerti gaya. Jelas beda sama kamu, Sayang, cantik, stylish, tahu caranya tampil memukau!” Satu demi satu ucapan mereka menjatuhkanku habis-habisan. Koper yang berserakan di lantai seolah mengubur semua sisa-sisa harapan yang masih kupegang. “Kalau memang nggak ada barangku, maka biarkan aku sendiri yang bereskan.” Aku tetap tenang, memunguti beberapa helai baju paling lama dan paling usang, lalu tanpa ragu melemparkan sisanya ke dalam tempat sampah. Tatapan mata Nando mendadak panik. Karena dia tahu tumpukan pakaian itu semuanya adalah pemberiannya untukku, termasuk satu gaun pengantin putih, bersih dan anggun. Itu adalah gaun yang kupilih sendiri untuk hari pernikahan kami. “Kamu buang semuanya? Bahkan gaun pengantin itu juga?!” Aku hanya meliriknya sekilas, tenang dan hambar. Lalu melemparkan pemantik api ke dalam tong sampah itu. Dalam hitungan detik, api berkobar hebat. “Enggak perlu disimpan lagi. Udah enggak ada gunanya.” Aku memandangi api itu sampai nyaris padam, baru kemudian berbalik dan melangkah pergi. Di bawah lampu jalan yang temaram, wajah Nando terlihat samar, tak bisa ditebak. Tepat saat aku nyaris menghilang di tikungan jalan, dia menyusul dan menarik pergelangan tanganku. “Meskipun aku amnesia dan nggak ingat siapa kamu, kamu juga nggak boleh serendah itu sama dirimu sendiri! Siapa tahu suatu hari nanti aku bisa pulih dan ingat semuanya lagi?” Aku hanya tertawa kecil, dingin dan getir. Tak ada sepatah kata pun kubalas. Dengan sekuat tenaga aku melepaskan tangannya, lalu berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Anehnya, saat itu aku justru merasa sedikit lega. Setidaknya dia memilih pura-pura amnesia sebelum pernikahan. Karena aku tak sanggup membayangkan, kalau semua ini baru terjadi setelah kami resmi menikah, berapa dalam rasa putus asa yang harus kutanggung? Bab 3 Setelah meninggalkan rumah itu, malamnya aku menginap di hotel. Keesokan paginya, lewat bantuan agen properti, aku menyewa sebuah kamar kecil. Kupikir, sejak saat itu aku dan Nando takkan punya hubungan lagi. Tapi aku tak menyangka, aku hamil. Pagi-pagi sekali setelah makan sedikit, aku langsung merasa mual dan tak bisa menahan muntah. Saat memeriksakan diri ke rumah sakit, aku justru tak sengaja bertemu dengan Nando dan beberapa saudara-saudaranya. Aku sebenarnya ingin segera menjauh. Tapi langkahku malah terhenti begitu saja. Mereka langsung mengepungku di lorong rumah sakit, menatapku dari ujung rambut sampai ujung kaki, penuh sindiran. “Kamu pikir gadis kampung kayak kamu bisa masuk Keluarga Soman?” “Dulu juga entah kamu pakai ilmu hitam atau apa, bisa-bisanya bikin Nando sampai ngotot mau putus hubungan sama keluarga cuma demi kamu. Tapi lihat sekarang, dia udah sadar!” Salah satu dari mereka menunjuk kertas di tanganku, wajahnya berubah tajam. “Itu apa? Kertas hasil USG kehamilan?” Karena dulu Nando pernah bersitegang dengan keluarganya hanya demi bersamaku, mereka semua sejak awal memang sudah tidak menyukaiku. Tanpa peringatan, mereka langsung merampas hasil pemeriksaanku, lalu tertawa mengejek. “Rani, kamu ini nggak tahu malu ya? Nando aja udah nggak mau sama kamu, kamu malah nekat bikin hasil USG palsu buat pura-pura hamil?” “Masih ngarep bisa nyangkut di Keluarga Soman ya? Mimpi kali!” “Dengar baik-baik, selama kami masih hidup, kamu nggak akan pernah bisa jadi bagian dari Keluarga Soman! Sekarang Nando dan putri kecil Keluarga Citata lagi lengket-lengketnya, kamu pikir kamu masih punya tempat?!” Aku berusaha melepaskan diri dari mereka, lalu merebut kembali hasil USG dari tangan Viona. Saat itulah, Nando muncul dari ruang pemeriksaan dan berjalan ke arah mereka. Begitu melihatku, dia sempat terkejut sebentar, lalu tertawa pelan. “Wah, kamu sampai ngejar-ngejar aku ke rumah sakit juga ya? Cintamu ke aku tuh sedalam apa sih?” “Gini aja deh, hari ini aku lagi baik hati, kasih kamu kesempatan buat deketin aku. Kalau kamu bisa bikin aku tersentuh, ya siapa tahu aku terpaksa mau jadi pacarmu, gimana?” Aku tak menjawab apa pun. Tak lama kemudian, setelah mendengar penjelasan dari Viona, Nando melihat lembar hasil USG di tanganku, seolah baru menyadari sesuatu. “Harus kuakui, nyalimu cukup besar juga. Sampai-sampai berani menyuap dokter buat bikin laporan kehamilan palsu? Mau jadi ibu dari anakku biar bisa naik derajat, ya?” “Sayangnya, aku Nando, belum siap jadi ayah. Tapi kalau mau mulai dari jadi pacarku, bolehlah dipertimbangkan!” Aku memejamkan mata, lalu tertawa pelan. Aku sendiri bahkan tak tahu, masih mengharapkan apa darinya. “Nggak perlu seribet itu. Aku nggak pernah berniat naik derajat dengan mengandalkan anak, apalagi bermimpi jadi pacarmu.” Lima tahun lalu, adalah dia yang mengejarku lebih dulu. Aku tahu keluarganya kaya raya. Karena itu, selama lima tahun ini, setiap kali dia memberiku hadiah, aku selalu berusaha membalasnya dengan sesuatu yang setara. Tidak pernah sekalipun aku berniat mengambil keuntungan darinya. Tidak sedetik pun. Karena aku mencintainya. Dan aku ingin menjaga cinta ini tetap murni agar hubungan kami bisa berjalan lebih jauh, lebih lama. Setidaknya sebelum dia membuat drama soal kehilangan ingatan itu, aku benar-benar percaya dengan tulus bahwa hubungan ini bisa kami perjuangkan. Tapi sekarang aku sadar… Di mata Nando, selama ini aku hanya dianggap perempuan murahan yang ingin memanfaatkan dia untuk memanjat ke atas. Sejak awal, dia cuma menganggapku gadis kampung hina yang haus kekuasaan dan uang! Dan mungkin, itulah alasan sebenarnya dari semua drama amnesia itu. Begitu aku menyadari semuanya, aku menatap Nando sekilas dengan ekspresi datar. Dia terlihat sedikit gugup, buru-buru memalingkan wajah dan tak berani menatap mataku. “Oke, oke, aku tahu kamu cinta banget sama aku. Ya udah deh, aku terima jadi pacarmu, tapi sebelum ingatanku balik, aku nggak bakal nikah sama kamu!” Mungkin, dalam pikirannya, dia masih mengira aku ini tipe perempuan yang gampang senang hanya karena diberi sedikit perhatian. Padahal dulu, memang begitu. Aku akan tersenyum hanya karena satu ucapan hangat darinya, karena aku mencintainya. Tapi sekarang, semua sudah berbeda. Aku menolak dengan sopan. “Terima kasih, nggak usah. Kamu kan udah punya pacar, aku nggak mau ganggu.” Lalu aku berbalik dan pergi. Aku bisa merasakan tatapannya masih tertuju padaku. “Rani…” Saat Nando hendak memanggilku, tangan bajunya langsung ditarik oleh Viona dari belakang. “Ayo kita pulang. Yurina masih nunggu kamu di rumah, tahu.” Bab 4 Setelah keluar dari rumah sakit, aku langsung membuat janji di internet untuk melakukan aborsi keesokan harinya. Pukul sepuluh malam, aku baru saja kembali ke apartemen dan berbaring di ranjang, ketika tiba-tiba Nando menghubungiku lebih dulu. Dia menelpon langsung. “Kenapa masih ada barang-barang kamu di apartemen ini? Pacarku nggak nyaman lihatnya. Tolong datang ambil.” Aku menjawab santai. “Buang aja. Sisanya nggak penting lagi.” Barang-barang yang memang milikku, semuanya sudah aku bawa saat itu. Sisanya adalah barang yang tidak sempat terbawa atau yang berkaitan dengan Nando. Namun dia malah tertawa dingin berkali-kali. “Itu semua barang kamu, kenapa harus aku yang buang? Cepat ke sini dan ambil sendiri! Kalau nggak, aku laporin kamu karena masuk rumah orang tanpa izin dan mencuri!” Aku menghela napas, memijat pelipis yang mendadak nyeri. Untuk pertama kalinya aku merasa Nando ini benar-benar menyebalkan. Begitu kembali ke apartemennya... Aku baru melihat, di atas meja tertata rapi semua foto pernikahan dan album kenangan kami selama lima tahun terakhir. Suaranya terdengar menggoda. “Rani, dari sini kelihatan jelas kita dulu saling cinta, ya. Siapa tahu nanti aku bisa jatuh cinta sama kamu lagi?” Aku tersenyum kecut. Tapi senyum itu sama sekali tidak membawa kehangatan. Detik berikutnya, aku mengeluarkan gunting dan langsung mengarahkannya ke foto-foto itu. Wajah Nando langsung berubah. Dia buru-buru menjulurkan tangan untuk menghentikanku. Namun aku tak berhenti. Tanpa ragu, aku tetap mengayunkan gunting itu. Seketika, sebuah luka menganga berdarah muncul di tangannya. Terdengar teriakan kesakitan. Nando memandangku tak percaya. “Rani! Kamu... kamu berani melukainya pakai gunting?!” Aku menatap langsung ke matanya dan tersenyum pelan sambil mengangguk. “Kamu sendiri yang nyodorkan tanganmu!” “Rani, kamu perempuan benar-benar kejam! Kak Song cuma kehilangan ingatan dan nggak ingat kamu, tapi kamu malah pengin bunuh dia!” Yurina berjalan mendekat dengan tatapan garang ke arahku. “Siapa pun yang menikah sama kamu nanti, pasti sial tujuh turunan!” Tak bisa kupungkiri, ucapan itu sempat menggoyahkan hatiku. Tapi tanganku tetap bergerak tanpa henti. Begitu semua foto sudah kupotong menjadi dua bagian, aku mengambil bagian yang ada wajahku. Mataku menyapu seluruh ruangan sekali lagi, memastikan tidak ada lagi yang berkaitan denganku di tempat ini. Barulah aku berdiri dan bersiap keluar. “Di rumah ini sudah nggak ada satu pun barangku. Kumohon jangan ganggu aku lagi!” Keesokan paginya, aku pergi ke rumah sakit dan ikut antre untuk menjalani operasi aborsi. Saat aku sudah terbaring di ranjang dan didorong ke ruang operasi, pandanganku tak sengaja menangkap dua sosok di ranjang seberang. Dua tubuh yang saling menindih. Dari selimut yang sedikit tersingkap, jelas terlihat mereka tak mengenakan pakaian. Tangisan Yurina terdengar menyedihkan. “Kak Nando, ini semua salah kamu. Kamu yang maksa nyobain barang-barang itu. Lihat sekarang? Kita berdua malah masuk rumah sakit. Malunya...” Nando itu biasanya paling benci perempuan yang suka menangis. Tapi kali ini dia malah buru-buru memeluk Yurina, menciuminya, dan menghibur dengan suara lembut seolah-olah tak ada orang lain di sekitarnya, sampai Yurina mendesah kesenangan. “Tenang aja, ada selimut nutupin kok, nggak bakal ada yang lihat. Rasanya malah lebih menegangkan begini, kan?” Pemandangan itu benar-benar menjijikkan. Aku memalingkan wajah. Dokter yang akan menangani aborsi kemudian bertanya seperti prosedur biasanya. “Nona Rani, kamu sudah yakin mau menggugurkan kandungan ini?” Aku menutup mata. “Sudah. Gugurkan saja.” Namun saat tempat tidurku hendak didorong masuk ke ruang operasi… Dari arah tak jauh, terlihat wajah Nando yang panik berusaha bangkit. “Rani! Itu kamu, kan? Kamu yang mau aborsi, kan?!” “Kamu benar-benar hamil? Anak itu... itu anakku, kan?! Aku nggak izinin kamu menggugurkannya!”