Đang tải thông tin quảng bá...
Tujuh Hari Pembalasan Dendam Sang Istri
Pada malam saat Nash sedang berkencan dengan selingkuhannya, Quinn meninggal dunia secara tragis. Raja Neraka memberinya waktu tujuh hari untuk kembali ke dunia demi menuntaskan keinginannya. Quinn ha...
Chương (1)
第1章
Pada malam saat Nash sedang berkencan dengan selingkuhannya, Quinn meninggal dunia secara tragis.
Raja Neraka memberinya waktu tujuh hari untuk kembali ke dunia demi menuntaskan keinginannya.
Quinn hanya memiliki satu permintaan. Bercerai dengan Nash, mengakhiri semua hubungan di masa lalu. Mau itu hidup ataupun mati, dia berharap mereka tidak pernah bertemu lagi.
Bab 1
Pukul 9 malam, Quinn diseret masuk ke gang oleh penjahat, sementara Nash sedang menemani selingkuhannya menonton pertunjukan drone.
Pukul 9.10 malam, Quinn disiksa dan dinodai oleh penjahat, sementara Nash sedang menyatakan cinta dengan penuh perasaan kepada selingkuhannya.
Pukul 10 malam, Quinn ditikam sampai mati dan dibuang ke selokan, sementara Nash sedang bercinta dengan selingkuhannya.
Tepat tengah malam, roh Quinn kembali ke rumah dan berpapasan dengan Nash yang baru selesai mandi.
Mata mereka bertemu. Nash mengernyit sambil bertanya, "Kok bisa sampai begini?"
Saat ini, rambut Quinn berantakan, pakaiannya robek, kulitnya penuh luka, matanya merah, dan wajahnya pucat pasi.
Quinn menatapnya lama, baru akhirnya berkata, "Nash, ayo kita cerai."
Alis Nash yang indah semakin berkerut. "Quinn, cuma masalah sepele, perlu sampai cerai?"
Quinn menunduk dengan ekspresi hampa, mengulang sekali lagi.
Nash menatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata.
Beberapa saat kemudian, dia menghela napas dan memeluk Quinn. "Sudahlah, Quinn. Aku tahu aku salah karena menurunkanmu di tengah jalan, tapi kenapa sih kamu harus keras kepala begitu? Aku sama Sachi cuma main-main. Posisi istri sah itu tetap milikmu, nggak ada yang bisa rebut posisimu."
Meskipun sudah mandi, tubuh Nash masih menyisakan aroma parfum wanita, menusuk hati Quinn perlahan-lahan seperti duri.
Semalam, Quinn tahu bahwa Nash selingkuh. Yang paling menyakitkan, selingkuhannya adalah murid miskin yang dibiayai oleh Quinn selama tujuh tahun!
Di dalam mobil, mereka bertengkar hebat. Nash marah dan malu, lalu sengaja mengantar Quinn ke tempat sepi dan menyuruhnya turun. Setelah itu, bencana pun terjadi.
Setelah meninggal, roh Quinn pergi ke akhirat. Karena semasa hidup dia banyak berbuat kebaikan, Raja Neraka memberinya kesempatan untuk kembali ke dunia selama tujuh hari demi menyelesaikan keinginannya.
Sekarang, satu-satunya keinginan Quinn adalah menceraikan Nash.
Hatinya begitu sakit hingga mati rasa. Air mata tak terasa sudah membanjiri wajah. Dia mendorong Nash. "Waktu kita jadian di umur 17 tahun, aku pernah bilang, kalau suatu hari kamu berkhianat, aku akan pergi tanpa ragu. Kamu juga pernah janji. Ini masalah prinsip."
Saat disiksa hingga mati, penjahat menikamnya 17 kali, seolah-olah setiap tikaman sedang mengejek betapa naif dirinya saat berusia 17 tahun.
Nash langsung kehilangan kesabaran, tatapannya tajam memancarkan kilatan dingin. "Prinsip apaan! Omongan remaja mana bisa dianggap serius!"
"Kamu lihat sendiri anak-anak orang kaya itu, mana ada yang nggak punya simpanan? Aku ini sudah baik banget, selama ini cuma setia sama kamu! Lagian, yang paling kucintai itu kamu. Sama dia cuma cari sensasi baru doang. Masa aku nggak boleh cari pelampiasan sekali saja?"
Quinn menatapnya dengan kecewa. Tangannya yang dingin mengepal erat sampai memutih. "Kalau aku bilang aku sudah mati, kamu percaya nggak? Sekarang, satu-satunya keinginanku cuma ingin bercerai."
Nash tertawa saking marahnya. "Quinn, kamu harus banget ngarang cerita buat nipu aku?"
"Aku ...." Quinn hendak menjawab, tetapi pintu kamar tiba-tiba terbuka. Sachi muncul dengan gaun tidur seksi, kulitnya penuh bekas cupang.
Melihat Quinn menatapnya tajam, Sachi langsung bersembunyi di belakang Nash. Dengan suara lirih, dia berucap, "Kak Quinn, soal aku sama Kak Nash, itu memang salahku. Tapi orang seperti Kak Nash yang punya status, punya simpanan itu hal biasa."
"Tenang saja, Kak Nash tetap paling sayang Kak Quinn! Aku nggak pernah berani mengincar posisi istri sah!"
Quinn tidak berkata apa-apa, pandangannya tertuju ke dalam kamar tidur. Tempat tidur yang baru dirapikannya kemarin pagi, kini tampak sangat berantakan.
Dia tak kuasa tersenyum mencela. "Air susu dibalas air tuba, menarik sekali."
Menggunakan uangnya, tidur dengan suaminya, bahkan gaun tidur yang dipakai juga miliknya.
Sachi langsung berkaca-kaca. "Kak Quinn ...."
"Cukup!" Nash memijat pelipisnya dengan kesal. "Kamu tenangin diri dulu."
Usai mengatakan itu, dia membawa Sachi pergi. Brak! Pintu ditutup. Quinn seketika merasa lemas, terduduk di lantai.
Di dinding seberang, tergantung foto pernikahan mereka. Di foto itu, senyuman mereka sangat cerah.
Quinn menatapnya dan melamun. Dia tak mengerti, kenapa Nash yang dulu mencintainya dengan sepenuh hati bisa berubah secepat ini.
Bab 2
Malam itu, Nash tidak pulang.
Quinn berendam di dalam bak mandi, menggosok tubuhnya berulang kali, berusaha keras menghapus semua jejak kotor yang menempel. Sayangnya, meskipun kulitnya sampai lecet dan berdarah, semua yang terjadi semalam tetap seperti pisau yang menyayat dirinya tanpa henti.
Quinn menangis sampai pingsan. Dalam kesadarannya yang samar, dia merasakan sepasang tangan hangat mengangkatnya.
"Quinn!" Suara yang familier terus memanggil namanya.
Quinn membuka matanya dengan susah payah, mendapati bahwa entah sejak kapan Nash telah kembali. Wajahnya yang biasanya dingin kini penuh kepanikan.
"Quinn, jangan tidur! Aku bawa kamu ke rumah sakit!"
Quinn menatapnya. Dalam kesadaran yang lemah, dia seolah-olah merasa dirinya kembali ke masa lalu.
Saat mereka berusia 17 tahun, gempa besar melanda ibu kota. Saat balok beton kelas mereka ambruk, Nash mempertaruhkan nyawanya untuk melindunginya.
Mereka terjebak di reruntuhan selama lima hari penuh. Tak ada setetes air pun yang masuk ke tubuh mereka. Quinn bahkan mulai berhalusinasi, kehilangan keinginan untuk bertahan hidup.
Namun, Nash terus menyemangatinya, memanggil-manggilnya saat dia hampir tertidur.
Setelah lolos dari maut, mereka pun bersama. Saat itu, Quinn yakin hubungan mereka yang sudah melewati batas antara hidup dan mati, akan abadi. Apa pun rintangannya, mereka pasti bisa melewatinya.
Yang tak dia sangka, di tahun ketiga pernikahan mereka, Nash berselingkuh.
Saat Quinn sadar, dia sudah berada di rumah sakit. Begitu membuka mata, dia melihat Nash sedang tertidur di pinggir ranjangnya.
Pakaian yang dipakainya masih sama seperti kemarin. Wajahnya pucat, kantong matanya hitam. Dia tampak sangat letih.
Quinn menatapnya lama, lalu perlahan mengangkat tangan untuk menyentuh pipinya. Nash langsung terbangun. Begitu melihat Quinn sadar, dia langsung memeluknya erat-erat.
"Quinn, kamu buat aku ketakutan setengah mati! Untung kamu nggak kenapa-napa! Kemarin aku nggak seharusnya bicara seperti itu ke kamu!"
Pagi tadi saat Nash pulang ke rumah, dia menemukan Quinn terbaring di dalam bak mandi. Mata terpejam, air dingin yang mengelilinginya sampai berubah merah. Saat itu, Nash hampir kehilangan akal sehatnya.
Air mata jatuh satu per satu. Quinn mendorongnya sambil tersenyum pucat. Dengan suara terisak, dia memohon, "Nash, kita ngobrol baik-baik ya?"
Nash langsung mengangguk. "Oke! Kita ngobrol baik-baik! Tapi, kamu jangan pernah lakuin hal bodoh lagi ya?"
"Sebenarnya semalam aku ...."
Tiba-tiba, ponsel Nash berdering. Dia melihatnya sekilas, lalu langsung mematikan. Ekspresinya tampak agak canggung. "Quinn, kamu ngomong saja."
Saat berikutnya, ponselnya berbunyi lagi. Quinn sempat melirik dan melihat nama kontak di layar, "Sachi Sayang".
Dalam sekejap, semua energi dalam tubuhnya hilang. "Nggak apa-apa, angkat saja. Aku lagi capek. Mau istirahat dulu," katanya pelan sambil kembali berbaring.
Nash menatapnya sejenak, lalu diam-diam keluar dari ruang rawat.
Beberapa detik kemudian, Quinn menerima pesan dari nomor tak dikenal.
[ Berani ke basemen? ]
Quinn mengepalkan tangan dengan erat. Awalnya dia ingin mengabaikannya, tetapi kakinya malah membawanya ke sana.
Di basemen, Sachi mencengkeram lengan baju Nash sambil menangis tersedu-sedu. "Apa aku boleh mempertahankan anak ini? Ini anak pertama kita, aku nggak mau gugurin!"
Nash mengerutkan kening, suaranya dingin. "Aku dan Quinn bahkan belum punya anak. Mana mungkin kamu punya duluan. Setelah aku dan Quinn punya anak, kamu mau lahirin berapa pun silakan."
Sachi menangis semakin keras. "Tapi, aborsi itu sakit! Aku takut! Waktu kamu tidur sama aku, kamu bilang mau tanggung jawab!"
Nash hanya bisa menghela napas, lalu memeluknya sambil membujuk, "Aku temani kamu nanti. Terus, aku beliin kamu beberapa apartemen. Aku kasih semua yang kamu mau."
Sachi memeluk leher Nash. "Aku mau kamu lamar aku sekali saja. Kalau nggak bisa nikah benaran, pura-pura nikah nggak apa-apa, 'kan?"
Nash diam, keningnya berkerut. Sachi langsung cemberut. "Kamu ini nggak pernah tepati janji!"
"Ya, ya, aku janji deh!" Melihat gadis itu begitu sedih, hati Nash pun luluh.
Sachi langsung tersenyum cerah. "Cincin dan gaunnya harus sama kayak yang kamu kasih ke Kak Quinn ya!"
"Oke, nggak masalah."
"Aku juga mau ke kastel!"
"Ya, ya, terserah kamu."
Bab 3
Nash tersenyum penuh kasih. Dia menatap bibir merah merona Sachi. Tanpa bisa menahan diri, dia mengangkat dagunya dan menciumnya.
Ciuman mereka semakin dalam, lalu akhirnya mereka masuk ke mobil. Tak lama kemudian, mobil itu mulai bergoyang.
Quinn bersembunyi di balik tiang, wajahnya pucat pasi. Dia menutup mulutnya rapat-rapat agar tak mengeluarkan suara sedikit pun, sementara air matanya jatuh deras.
Nash menghamili Sachi. Padahal dia selalu berkata bahwa wanita yang paling dia cintai adalah Quinn, tetapi sekarang dia justru bersedia mengulang semua kenangan spesial mereka untuk wanita lain!
Saat itu, Quinn sangat ingin menerobos keluar dan berteriak marah, tetapi pada akhirnya dia hanya membalikkan badan dan pergi.
Quinn sendiri bahkan tak tahu bagaimana dia bisa meninggalkan tempat itu. Dia tidak kembali ke rumah sakit, melainkan berjalan tanpa arah di sepanjang jalan.
Tak jauh dari sana, berdiri kantor pusat Grup Peak. Layar elektronik besar di gedung itu tengah memutar ulang sebuah rekaman dari dua tahun lalu.
Itu adalah rekaman pernikahan yang membuat semua wanita di ibu kota iri setengah mati. Sebuah kastel romantis, anak-anak pembawa bunga yang manis, dan wajah Nash serta Quinn yang berlinang air mata bahagia.
Semua itu terasa seperti baru terjadi kemarin.
Quinn terus menatap layar itu, sampai air matanya jatuh lagi. Saat ini, sebuah pesan masuk. Dari Nash.
[ Quinn, ada rapat mendadak di kantor. Malam ini aku nggak bisa pulang. Besok kita ngobrol baik-baik ya. ]
Air matanya jatuh di atas layar ponsel. Quinn hanya bisa tersenyum pahit. Besok? Namun, waktunya sudah tidak banyak.
Dulu sebelum tahu Nash berselingkuh, dia sering menerima pesan-pesan seperti ini. Katanya rapat mendadak. Mungkin sebenarnya, semua rapat mendadak itu hanyalah kedok untuk bersama Sachi.
Quinn membalas.
[ Rapat sama Sachi? ]
Status pesan langsung berubah menjadi "sedang mengetik", tetapi lama dibalas. Setelah beberapa menit, Nash akhirnya menjawab.
[ Jangan mikir yang aneh-aneh. Kalau nggak percaya, kamu bisa tanya ke asistenku. ]
Quinn tak membalas lagi. Beberapa detik kemudian, Sachi mengirim pesan.
[ Quinn, kamu pasti dengar obrolan kami di basemen tadi, 'kan? Jujur saja, cepat atau lambat aku pasti gantiin posisimu. Sekarang, separuh hati Kak Nash sudah buat aku. ]
[ Aku masih muda, lebih tahu cara memuaskan dia! Kalau kamu nggak mau jadi istri buangan, mending kamu sendiri yang minta cerai deh! ]
Kemudian, disusul beberapa foto. Stoking yang sobek dan bungkusan kondom yang sudah dibuka.
Tangan Quinn gemetar saat membaca pesan itu. Dia memang ingin bercerai dengan Nash setelah kematiannya, tetapi itu tidak berarti dia bisa menerima penghinaan seperti ini!
Guruh terdengar menggelegar. Hujan turun deras. Air menetes dari dagu Quinn yang pucat, tidak jelas mana air mata dan mana air hujan.
Akhirnya, dia mengirim pesan kepada Nash.
[ Nash, kita cerai saja. ]
Sesampainya di rumah, malam sudah larut. Quinn berbaring di sofa, tubuhnya terasa sangat tidak nyaman. Sepertinya dia demam tinggi.
Dia tak bisa menahan tawa getir. Dirinya sudah meninggal, kini hanya jiwa yang tersisa, tetapi masih bisa sakit juga.
Setelah duduk sebentar, dia memaksakan diri untuk berdiri, lalu naik ke atas kursi dan mengambil foto pernikahan dari dinding.
Jari-jarinya yang halus menyentuh dengan lembut, lalu tanpa ragu mengambil gunting dan merobek foto itu hingga hancur!
Foto itu dibuang begitu saja. Kemudian, dia mengeluarkan semua album dan bingkai yang berisi foto-foto bersama Nash. Setiap foto digunting hingga menjadi serpihan.
Setelah itu, dia mulai mengumpulkan semua hadiah dari Nash. Yang mahal dijual murah lewat aplikasi barang bekas, sementara yang buatan tangan dihancurkan dan dibuang ke tempat sampah.
Pada akhirnya, Quinn melangkah ke ruang galeri pribadi di rumah. Di balik etalase kaca, tergantung gaun pengantin yang dikenakan dulu. Dia menatapnya sejenak, lalu mengangkat gunting dan mengguntingnya hingga tak berbentuk lagi.
Cincin dengan berlian pink seukuran telur merpati yang dirancang khusus oleh Nash sendiri pun digenggam lama oleh Quinn. Harganya puluhan miliar. Setelah menatap untuk waktu yang lama, Quinn melemparkannya ke dalam kloset.
Dia dan Nash memang pernah saling mencintai. Kenangan itu begitu berharga. Namun, karena itulah, dia tak ingin kenangan itu ternoda oleh orang lain. Jadi, dia memilih untuk menghancurkannya sendiri.
Setelah semuanya selesai, Quinn jatuh terduduk ke lantai dengan tubuh lemas. Tepat saat itu, Nash menerobos masuk.
Bab 4
Melihat seluruh ruangan berantakan, ekspresi Nash langsung berubah. Tatapannya suram dan penuh amarah saat dia membentak Quinn, "Quinn, kamu ini sebenarnya ngapain sih! Nggak ada habis-habisnya ya!"
"Kita sudah sepakat bakal simpan semua barang ini sebagai kenangan seumur hidup. Kenapa kamu malah menghancurkannya?"
Quinn menunduk, suaranya pelan. "Kalau sebuah hubungan sudah rusak, menyimpan semua ini hanya akan menambah kesedihan. Lebih baik dihancurkan saja."
Dia terisak sejenak sebelum melanjutkan, "Kita cerai saja."
"Quinn, dalam dua hari ini kamu sudah bilang cerai berapa kali? Aku langsung pulang karena baca pesanmu! Bisa nggak kamu berhenti buat keributan?"
"Sudah kubilang, aku sama Sachi cuma main-main. Kenapa kamu picik banget sih? Masa nggak bisa terima dia?"
Quinn menggeleng. "Yang nggak bisa terima itu dia."
Wajah Nash memucat. Dia menarik Quinn dari lantai dengan kasar, suaranya dingin seperti es. "Lagi pula, sekarang kamu sudah nggak punya keluarga. Setelah pisah sama aku, kamu bisa apa?"
Perkataannya seperti pisau, menyayat hati Quinn berulang kali. Dulu setelah orang tuanya meninggal karena kecelakaan, semua kerabat berubah menjadi serigala dan harimau. Saat itu, Nash yang melindunginya.
Sejak saat itu, Quinn menjadikan Nash satu-satunya keluarga, seperti pelampung di tengah lautan yang harus digenggam erat.
Namun, sekarang dia sudah mati. Ancaman seperti itu tak lagi berarti apa-apa.
Hanya saja, dia tidak menyangka bahwa Nash akan mengatakan hal seperti itu. Benar kata pepatah, orang yang paling dekat yang paling tahu bagaimana cara melukai.
"Kenapa ...." Air mata Quinn mengalir.
Nash termangu sejenak, baru sadar perkataannya barusan terlalu kejam. Dia buru-buru memeluk Quinn, membujuk dengan lembut, "Quinn, maaf. Aku nggak seharusnya bicara begitu."
Quinn mendorongnya, kesedihan di matanya hampir tumpah. "Kenapa kamu tiba-tiba berhenti mencintaiku?"
Nash kembali memeluknya, mencium air mata di wajahnya. "Kamu bicara apa sih? Aku tentu masih mencintaimu!"
"Kalau begitu, kita cerai." Suara itu lirih, tetapi terasa seperti duri yang menusuk. Nash tidak bisa menahan diri lagi.
Dia menahan Quinn di dinding dan membentak keras, "Quinn! Kenapa kamu ngotot banget mau cerai?"
"Karena aku sudah mati. Keinginanku sebelum benar-benar pergi adalah bercerai denganmu. Aku nggak mau punya hubungan apa pun lagi sama kamu. Malam itu setelah aku pergi, aku ditarik penjahat ke gang ...."
Quinn mulai menceritakan apa yang terjadi malam itu. Namun, saat sampai pada bagian bahwa rohnya diizinkan kembali selama tujuh hari, Nash kembali menghardik.
"Quinn, kamu ini sudah 27 tahun! Bukan anak kecil lagi! Aku juga bukan orang bodoh! Jangan ngomong hal-hal konyol lagi, bisa nggak?"
"Kalau kamu benaran nggak bisa terima Sachi, ya sudah, ke luar negeri dulu buat tenangin diri!" Setelah mengucapkan itu, Nash langsung berbalik dan berjalan pergi.
"Jadi, kamu lebih rela aku pergi ke luar negeri daripada memutuskan hubunganmu sama dia?"
Langkah kaki Nash terhenti. Namun, dia tak menoleh. Suaranya dingin saat menyahut, "Terserah kamu mau mikir apa! Setelah bosan, aku pasti balik ke keluargaku!"
Quinn terduduk lemas di lantai, menggeleng dengan hampa. Dia tahu dia tidak akan sempat melihat hari itu datang.
Sejak hari itu, Quinn dan Nash memasuki masa perang dingin. Quinn merasa gelisah karena waktu yang tersisa hanya lima hari.
Dia mengirim pesan ke Nash. Setelah menunggu lama, Nash akhirnya membalas.
[ Aku nggak pulang dulu beberapa hari ini. Kamu tenangin diri dulu. Kalau sudah tenang, baru kita bicara lagi. ]
Quinn menatap pesan dingin itu, tangannya bergetar hebat. Dia menenangkan diri secara paksa, lalu langsung berkemudi ke Grup Peak. Namun, sesampainya di sana, dia langsung dihentikan.
"Aku mau ketemu Nash."
Resepsionis cantik yang baru bekerja itu menjawab dengan sopan, "Maaf, Bu. Saat ini jam istirahat, Pak Nash nggak menerima tamu. Kalau Ibu sudah buat janji, mohon ditunjukkan."
"Aku istrinya."
Resepsionis itu terkejut sejenak, lalu menggeleng. "Kak Sachi sudah memberi arahan, siapa pun nggak boleh mengganggunya dan Pak Nash, termasuk Ibu."
Quinn tertawa getir. Sudah lama dia tidak ke perusahaan. Rupanya kekuasaan sudah berganti.
"Kak Quinn!" Tepat saat itu, Sachi mendekat. Dia memakai gaun berwarna cerah dengan tas keluaran terbaru di tangannya, tampak muda dan cantik.
Bab 5
"Nash di mana?" tanya Quinn, menahan amarahnya sekuat tenaga.
Sachi langsung terkekeh-kekeh. "Kak Quinn 'kan istrinya. Masa tanya ke aku suami sendiri ke mana? Atau jangan-jangan sekarang Kak Nash sudah nggak mau meladenimu?"
Suaranya tak keras, tetapi kata-katanya penuh provokasi. Ini cukup untuk menarik perhatian banyak orang di sekitarnya.
Beberapa karyawan lama mengenali Quinn, ekspresi mereka pun beraneka ragam saat melihatnya. Karena selama ini, Nash dikenal sebagai pria setia yang mencintai istrinya sepenuh hati. Kini, malah muncul adegan selingkuhan menantang istri sah di tempat kerja.
Beberapa orang juga tahu bahwa Sachi dulunya adalah murid kurang mampu yang pernah dibantu oleh Quinn, sehingga ekspresi mereka menjadi semakin rumit.
"Kak Quinn, kalau kamu memang nggak tahu Kak Nash lagi ngapain, aku kasih tahu deh. Dia lagi istirahat siang. Tadi sebenarnya aku temani dia, tapi karena temanku ajak jalan-jalan, aku turun duluan."
Sambil berbicara, Sachi seolah-olah tak sengaja menyentuh kalung di lehernya. Mata Quinn sontak menangkap bekas cupang di sekitar leher Sachi yang terlihat dari kerah bajunya.
"Kalau nggak ada urusan penting, mending pulang saja. Kak Nash sekarang nggak mau ketemu kamu. Kalau suatu hari dia kangen, nanti aku pasti kasih tahu."
Tatapan orang-orang di sekitar menusuk seperti jarum yang menancap ke tubuh Quinn. Amarah dalam hatinya pun langsung meledak. Dia tak tahan lagi. Plak! Satu tamparan keras mendarat di wajah Sachi!
Suasana langsung hening sejenak, lalu riuh. Sachi tertegun, kepala miring ke samping. Dia menatap lantai tanpa bisa bereaksi.
Saat sadar kembali, dari sudut matanya dia melihat sesosok bayangan. Seketika, dia jatuh terduduk dan menangis keras. "Kak Quinn! Semua salahku! Tolong jangan marah lagi ke Kak Nash ya?"
Quinn terkejut dengan reaksi itu. Ketika dia hendak menyuruh Sachi berhenti berpura-pura, sebuah sosok yang tinggi besar tiba-tiba menerobos kerumunan!
"Sachi!" Itu adalah Nash!
"Nash, aku ...." Quinn hendak berbicara, tetapi Nash mendorongnya.
"Quinn! Bisa nggak kamu berhenti bikin masalah? Ini kantor! Di rumah belum cukup? Mau semua orang tahu kamu sudah gila?"
Quinn terhuyung dan jatuh ke lantai. Dia mengerang pelan, wajahnya langsung pucat pasi karena kesakitan.
Namun, Nash bahkan tidak meliriknya sedikit pun. Dia langsung berlari ke sisi Sachi, mengangkat wajahnya dengan hati-hati. "Sakit nggak?"
Sachi menangis tersedu-sedu. "Sakit ... tiup dong ...."
Nash langsung meniup lembut wajahnya, suaranya lembut. "Sudah kubilang, jauhi dia."
Sachi meringkuk di pelukannya, menggeleng. "Jangan salahin Kak Quinn, ya. Semua ini salahku, aku yang buat dia marah."
Nash menggendong dan melirik tajam ke arah kerumunan. "Ngapain melamun di sini? Balik kerja sana!" tegurnya.
Orang-orang langsung bubar.
Tatapan Nash lantas beralih ke arah Quinn yang masih terduduk di lantai. Pandangannya dingin dan tajam. Quinn belum pernah melihat Nash memandangnya seperti itu.
Quinn menatap balik, rasanya seperti terjun ke dalam kolam es. Dia tak menyangka bahwa suatu hari Nash akan memandangnya dengan tatapan sedingin es. Semua kelembutan masa lalu kini terasa seperti lelucon.
Setelah beberapa saat, Nash menghampirinya, menariknya berdiri dengan kasar. Tidak ada sedikit pun kelembutan. "Ke kantorku. Kita bicara di dalam!"
Quinn nyaris terkilir, tubuhnya limbung. Dia berusaha melepaskan tangan Nash. "Bicara di sini saja!"
Nash berujar dengan dingin, "Quinn, kesabaranku ada batasnya! Kelakuanmu yang sekarang buat aku kecewa berat. Kamu kayak perempuan murahan!"
"Perempuan murahan?" Tubuh Quinn gemetar. Dia tertawa mencela, tetapi tawa itu segera berubah menjadi tangisan. "Aku nggak nyangka kamu bisa ngomong begitu."
"Jadi, kamu juga sadar ini memalukan? Waktu kamu lakuin hal yang memalukan itu, kamu pernah mikir soal ini?"
"Cukup!" Nash berteriak, "Sebenarnya kamu mau apa biar masalah ini selesai?"
Quinn mengeluarkan surat perjanjian cerai dari tasnya. "Cerai!"
Bab 6
Suara itu tidak keras, tetapi cukup untuk membuat seluruh lobi menjadi sunyi senyap. Banyak orang kembali mengintip dengan rasa penasaran untuk menyaksikan drama ini.
Tatapan demi tatapan tertuju ke arah Quinn yang menggenggam erat surat perjanjian cerai. Meskipun begitu, sorot matanya justru semakin tegas.
Ekspresi Nash sontak membeku. Dia mengepalkan tangannya, menahan emosi sambil bertanya, "Quinn, kamu yakin mau seperti ini?"
Quinn menyeka air matanya dan menatapnya langsung. "Mau berapa kali pun kamu tanya, jawabanku nggak akan pernah berubah. Kamu hanya perlu tanda tangan, lalu kita bisa saling melepaskan."
Nash tidak menjawab. Matanya menatap wajah Quinn lekat-lekat. Aura sedingin es itu sungguh menyesakkan napas.
Melihat itu, Sachi merasa bersemangat. Dia segera ikut memperkeruh suasana. Tangan mungilnya yang lembut menggenggam kerah baju Nash, ekspresinya tampak menyedihkan.
"Kak Nash, turunin aku saja .... Semua salahku. Tolong jangan bertengkar sama Kak Quinn ya!"
Tangisannya seperti cambuk yang mencabik saraf Quinn. Quinn hanya tertawa sinis. "Pak Nash, tandatangani saja. Gadis kecilmu sangat membutuhkanmu."
Panggilan "Pak Nash" benar-benar memicu kemarahan Nash. Wajahnya memucat, lalu dia tertawa. "Oke! Quinn, kamu benaran ingin cerai, 'kan? Jangan nyesal nanti!"
Quinn memejamkan mata, suaranya tegas. "Aku nggak akan nyesal!"
"Oke! Kalau begitu, kita cerai!" Nash segera menurunkan Sachi, lalu merebut surat itu dari tangan Quinn dengan kasar. Kepalan tangannya sampai berbunyi karena terlalu kuat.
Suara dinginnya bagaikan pisau yang mengiris tulang dan daging Quinn. Air matanya hampir jatuh lagi. Namun, dia tetap memaksakan diri untuk bertahan, lalu tersenyum ke arah resepsionis. "Boleh pinjam pulpen? Terima kasih."
"Eh ... iya!" Resepsionis hendak menyerahkan pulpen, tetapi saat melihat mata Nash yang merah menyala dan menakutkan, dia langsung menarik tangannya kembali.
Dengan suara bergetar, dia berkata, "Maaf ... aku nggak punya pulpen."
Quinn hendak memutar langkah untuk mengambil sendiri, tetapi tiba-tiba terdengar bunyi barang jatuh. Sebuah pulpen jatuh dari tas Sachi.
"Ah! Maaf! Aku nggak sengaja!" kata Sachi dengan wajah panik, meskipun tak berusaha sedikit pun untuk memungut pulpen itu.
Quinn langsung mengambil pulpen itu dan menyodorkannya kepada Nash. Suaranya dingin. "Silakan ditandatangani."
Tatapan semua orang kini terpusat pada Nash. Mereka bisa melihat dengan jelas bahwa Nash sebenarnya tidak ingin bercerai. Semua yang dikatakannya tadi hanya karena emosi sesaat. Akan tetapi, dia tidak bisa menarik kata-katanya kembali.
Nash menatap pulpen itu. Ekspresinya tiba-tiba berubah bengis. Dia merampas pulpen itu dan melemparkannya ke tempat sampah, lalu berbalik memarahi Sachi, "Siapa yang suruh kamu bawa pulpen?"
Mata Sachi langsung memerah. "Katamu hari ini ada pertemuan penting, jadi aku bawa buat jaga-jaga."
Hati Nash langsung luluh. Dia menarik napas panjang, lalu kembali menatap Quinn. Dengan wajah suram, dia merobek surat perjanjian cerai itu menjadi serpihan.
"Kalau mau cerai, boleh. Tapi, isi surat ini bermasalah. Aku akan minta pengacara buatkan yang benar. Nanti aku kabari."
Quinn tahu itu hanya alasan. Dia menggeleng dan berkata, "Kalau begitu, panggil saja pengacaranya sekarang. Aku nggak minta sepeser pun dari hartamu. Aku akan keluar tanpa membawa apa pun. Aku cuma ingin memutus semua hubungan ini secepat mungkin!"
Nash mencengkeram bahu Quinn dengan erat, memaksanya mendekat. Kini, matanya benar-benar merah. "Quinn, kamu sadar nggak dengan apa yang kamu katakan? Kalau kamu pergi dariku, gimana kamu bisa hidup? Kamu sudah pikirin semua itu?"
Air mata membasahi bulu mata panjangnya. Kesedihan di mata Quinn begitu dalam seperti samudra.
Dengan suara pelan yang hanya mereka berdua bisa dengar, dia menimpali, "Sudah kubilang, aku ini sudah mati. Sekarang waktuku hanya tersisa lima hari lagi."
Bab 7
Begitu ucapan itu dilontarkan, udara seolah-olah membeku selama beberapa detik, lalu seperti es yang tiba-tiba retak!
Nash mendorong Quinn dengan kasar sambil berteriak marah, "Sampai kapan kamu mau terus buat kebohongan seperti ini?"
Quinn sempoyongan dan nyaris terjatuh. Dia menunduk dan tersenyum pahit. "Kamu memang nggak pernah percaya padaku. Wajar saja. Kepercayaan di antara kita memang sudah lama hancur."
Nash menatapnya lekat-lekat. Tubuhnya bergetar karena amarah. Dia tak sanggup mengatakan sepatah kata pun lagi. Namun, hanya dalam sekejap, ekspresinya berubah dingin dan sinis. "Kalau begitu, kita akan bercerai di hari keenam!"
Setelah mengatakan itu, dia langsung menarik tangan Sachi dan berbalik untuk pergi.
"Nash! Tolong percaya padaku!" Quinn segera mengejar, tetapi diadang oleh pintu otomatis!
Brak! Dia terhantam keras dan jatuh ke lantai. Salah satu sepatu hak tingginya patah. Terdengar pula suara jernih dari pergelangan kakinya yang terkilir.
Quinn mengerang pelan menahan sakit. Tanpa peduli pada rasa sakitnya, dia menatap resepsionis dengan tatapan memohon, "Tolong bukakan pintunya."
Sebelum resepsionis sempat menjawab, terdengar suara dingin dari Nash. "Jangan izinkan dia masuk!"
Namun, saat Nash menoleh dan melihat kondisi Quinn yang begitu menyedihkan, mata dinginnya sempat menunjukkan sedikit rasa kasihan yang sulit ditutupi.
Sachi segera mengambil kesempatan dengan bersikap manja. "Kak Nash, wajahku masih sakit. Coba kamu lihat, bengkak nggak?"
Tatapan Nash kembali ke gadis itu. Dia membungkuk dan meniup lembut pipinya. "Nanti aku bantu kompres pakai es di ruanganku."
Sachi menggigit bibirnya, air matanya nyaris jatuh. "Terus ... Kak Quinn gimana?"
Melihat wajahnya yang sedih, Nash membulatkan tekadnya. Dengan tegas, dia memerintah, "Mulai sekarang, tanpa izinku, siapa pun nggak boleh membiarkan Quinn masuk ke gedung ini!"
Ketika melihat mereka berdua sedekat itu, hati Quinn seperti ditusuk ribuan pisau. Dia menangis dan berteriak dengan suara serak, "Nash! Kamu nggak bisa percaya padaku satu kali saja? Aku benaran hanya punya lima hari lagi!"
Nash tak menghiraukannya sama sekali, bahkan tidak menoleh, dan langsung masuk ke lift. Dalam sekejap, seluruh ruangan menjadi sunyi.
Quinn merasa semua mata tertuju padanya. Rasanya seperti ada jarum yang menusuk diam-diam. Namun, saat ini dia tidak bisa merasakan sakit sedikit pun lagi. Yang dia rasakan hanya kehampaan yang amat dalam.
Setelah waktu yang lama, dia berdiri dengan tergesa-gesa, lalu keluar dari gedung dengan tertatih-tatih.
Di luar, cuaca mendung dan suram. Dua gadis muda berdiri di halte bus, memandangi gedung Grup Peak dengan bingung.
"Eh? Bukannya tadinya layar LED itu putarin video lamaran Pak Nash ya? Kok sekarang ganti iklan?"
"Model iklannya nggak terlalu cantik sih, tapi kelihatan polos. Entah siapa dia."
Quinn terhenti, menoleh menatap ke layar LED. Yang terpampang di sana adalah iklan perhiasan baru dari Grup Peak, seri terbaru "Cinta Sejati", dengan Sachi sebagai brand ambassador.
Cincin berlian yang berkilauan di sana adalah koleksi edisi istimewa yang dibuat sebagai koleksi abadi perayaan 100 tahun perusahaan.
Quinn menatapnya lekat-lekat, pikirannya melayang. Dia ingat, saat tahap desain perhiasan dulu, Nash pernah menunjukkan beberapa sketsa kepadanya.
"Quinn, kamu suka yang mana?"
Quinn menunjuk desain dengan rangka menyerupai daun mapel. "Yang ini cantik."
Nash mencium bibirnya sambil tersenyum. "Aku juga suka yang ini. Karena daun mapel paling indah di musim gugur. Setiap kali melihatnya, aku teringat saat pertama kali melihatmu di sekolah."
"Cincin ini akan kujadikan koleksi abad perusahaan. Nggak akan dijual ke publik. Itu hanya milikmu, satu-satunya!"
Quinn memeluknya erat, menggoda dengan manja, "Kamu janji ya! Kalau bohong, aku akan pergi darimu lho!"
"Aku bersumpah dengan nyawaku sendiri!"
Bab 8
Janji-janji yang diucapkan saat itu masih terasa bergema di telinga, tetapi cincin yang dulu menjadi simbol cinta itu kini telah melingkar di jari Sachi.
Quinn menatap layar tanpa berkedip, air mata mengalir deras di wajahnya tanpa dia sadari.
"Hei, kamu nggak apa-apa?" Dua gadis yang tadi berdiri di halte memperhatikan Quinn, lalu buru-buru menyodorkan tisu.
Namun, etik berikutnya, ekspresi mereka berubah kaget. "Kamu 'kan istri Presdir Grup Peak, 'kan?"
Quinn menerima tisu itu dan mengucapkan terima kasih. Mendengar pertanyaan gadis itu, dia hanya tersenyum pahit dan menggeleng. "Bukan lagi."
"Nggak ada yang namanya cinta abadi di dunia ini. Mungkin perjalanannya indah, tapi akhirnya ... ya begitulah."
Setelah berkata demikian, Quinn berbalik dan berjalan pergi dalam keadaan limbung. Kedua gadis itu menatap punggungnya, lalu bertatapan.
Sesampainya di rumah, Quinn demam. Dia hanya bisa berbaring lemas di sofa. Matanya terpejam. Dia tenggelam dalam tidur panjang.
Dalam tidurnya, dia bermimpi kembali ke musim gugur saat usianya 17 tahun. Hari itu, daun mapel di sekolah berwarna cerah. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia datang terlambat. Di depan gerbang, dia bertemu dengan Nash yang sedang piket.
Pemuda itu bertubuh kurus dan tampak rapi. Saat melihat Quinn menulis namanya di daftar murid yang terlambat, dia tersenyum. "Quinn, nama yang indah."
Quinn menatap mata jernih pemuda itu, lalu wajahnya sontak memerah.
....
Menjelang dini hari, demamnya semakin tinggi. Kesadarannya terombang-ambing antara mimpi dan kenyataan.
Dalam kondisi itu, Quinn merasa ada seseorang yang menggendong tubuhnya dengan lembut dan menyeka keringat dari tubuhnya dengan saputangan.
"Nash?" Quinn memanggil tanpa sadar.
"Aku di sini." Suara itu terdengar muda seperti suara Nash saat berusia 17 tahun.
Quinn langsung membuka matanya, tetapi yang ada hanya ruang tamu yang gelap dan hening. Dia sendirian.
Dia terpaku cukup lama sebelum akhirnya menutup matanya kembali. Air mata membasahi bantal di bawah kepalanya.
Selama tiga hari setelah itu, Quinn tidak bisa bertemu Nash. Pria itu sama sekali tidak meladeninya. Tidak membalas pesan, tidak mengangkat telepon, bahkan kartu kredit Quinn juga dibekukan.
Melihat waktu yang tersisa hanya tinggal dua hari, Quinn terpaksa mencari bantuan dari asisten Nash. Namun, pria itu yang biasanya ramah, kini berbicara dengan nada dingin dan tidak sabar.
"Bu Quinn, kalau ingin menghubungi Pak Nash, lebih baik temui Bu Sachi saja. Beberapa hari ini mereka selalu bersama."
Setelah itu, telepon langsung ditutup. Quinn menggenggam ponselnya erat. Rasa terhina itu menyesakkan dadanya. Sikap asisten itu tak lain adalah cerminan dari sikap Nash sendiri.
Saat ini, Sachi mengirimkan pesan penuh ejekan.
[ Asisten barusan cerita semuanya padaku. Kasihan banget sih kamu! Ketemu Kak Nash saja susah. ]
Tak berhenti di situ, Sachi mengirimkan serangkaian foto mesra dirinya bersama Nash. Latar dalam foto-foto itu tampak sangat familier bagi Quinn.
[ Jujur saja deh, sekarang kami di Yunan. Besok Kak Nash akan menepati janjinya dan melamarku! ]
[ Mau datang lihat? Oh ya, sekarang kamu nggak punya uang, 'kan? Karena dulu kamu bantu biayai kuliahku, aku transfer uang tiket pesawat ya. Jangan sampai ketinggalan acara bahagia ini! ]
Tak lama setelah pesan itu masuk, Quinn menerima transfer uang sebesar 20 juta dari Sachi. Gadis yang dulu begitu miskin sampai tak bisa beli makan, kini dengan bangganya menggunakan uang Nash untuk menghina Quinn.
Quinn tersenyum pahit sambil menangis. Tanpa ragu, dia langsung memesan tiket ke Yunan.
Perjalanannya jauh dan memakan waktu lebih dari sehari. Saat Quinn akhirnya tiba di kastel tua tempat acara akan digelar, waktu sudah sore hari. Kebetulan, hari ini adalah hari terakhirnya.
Waktu yang tersisa tinggal beberapa jam saja. Setelah itu, dia akan pergi untuk selamanya.
Bab 9
Di dalam kastel yang indah, alunan lembut dari biola mengisi udara. Anak-anak pembawa bunga menaburkan kelopak sambil menyampaikan berkat, menciptakan suasana yang megah sekaligus romantis.
Saat Quinn tiba dengan tubuhnya yang lelah, dia melihat Nash berlutut dengan satu kaki di hadapan Sachi sambil memegang cincin lamaran. "Sachi, maukah kamu menikah denganku?"
Tatapannya penuh kelembutan dan kasih sayang, cukup untuk membuat siapa pun tenggelam di dalamnya.
Seketika, Quinn teringat momen tiga tahun silam. Saat itu, Nash juga menatapnya seperti itu. Bedanya, kala itu ada air mata di matanya.
Sachi tampil anggun dalam gaun pengantin yang indah. Gaun panjangnya memantulkan cahaya memukau di bawah sorotan lampu. Dengan tersipu, dia mengulurkan tangan dan menjawab, "Aku bersedia."
Quinn memperhatikan gaun yang dikenakan Sachi, nyaris identik dengan gaun pengantin yang pernah dia kenakan dulu. Dia tidak menyangka hanya dalam hitungan hari, Nash bisa membuat tiruan yang begitu mirip.
Kenangan yang pernah dia anggap paling berharga, tampaknya bagi Nash tak berarti apa pun. Pengantin wanitanya bisa siapa saja.
Air mata langsung mengalir deras dari mata Quinn. Tas berisi dokumen perceraian yang dia bawa jatuh ke lantai.
Namun, suara kecil itu tenggelam dalam sorak-sorai para tamu. Di tengah sorakan, Nash memeluk Sachi, lalu menunduk mencium bibirnya.
Quinn tak mampu lagi menahan diri. Dengan nekat, dia menerobos maju sambil berteriak, "Nash!"
Suara seraknya memecah kebahagiaan yang sedang berlangsung. Semua terdiam, bahkan suara jarum jatuh pun mungkin terdengar di saat ini.
Nash menatap penampilan Quinn yang menyedihkan. Matanya menunjukkan kepanikan untuk sesaat. Dia bahkan secara refleks menyingkirkan Sachi dari pelukannya. Namun, wajahnya segera menjadi dingin. "Ngapain kamu ke sini?"
Quinn menghapus air matanya dan tersenyum getir. "Untuk memberi selamat dan sekalian ...."
Dia menyodorkan dokumen itu. "Menyerahkan surat perjanjian cerai."
Nash mendengus dingin. "Sudah kubilang, hari keenam aku akan menceraikanmu. Sekarang belum waktunya."
Quinn mencengkeram lengan jasnya, memohon dengan getir, "Tolong lepaskan aku. Kamu hanya perlu menandatangani surat ini!"
Matanya benar-benar merah, beberapa helai rambut menempel di wajah pucatnya, tampak seperti boneka kaca yang hampir hancur.
Tubuh Nash menegang. Dia menatap Quinn lama sekali sebelum tiba-tiba menepis tangannya dengan kasar. Suara dinginnya. "Quinn, kamu pikir kamu punya hak buat tawar-menawar denganku?"
Sachi langsung merangkul lengan Nash, bersandar manja sambil menatap Quinn dengan sorot mata penuh kemenangan. "Kak Quinn, Kak Nash sudah janji. Tinggal beberapa jam lagi kok. Kenapa harus sekarang? Kamu cemburu karena dia melamarku hari ini?"
Nash mengelus rambut Sachi, lalu berkata dengan sinis, "Ngapain kamu banyak ngomong sama dia?"
Tubuh Quinn mulai gemetar hebat. "Nash, hari ini benar-benar hari terakhirku di dunia ini. Aku nggak bohong. Aku ...."
"Cukup!" bentak Nash. "Quinn! Berapa kali harus aku bilang? Kebohongan seperti itu nggak lucu! Kamu bilang kamu bakal mati? Mana buktinya? Orang mati bisa naik pesawat? Kalau kamu masih terus pakai kebohongan ini buat mempermainkanku, aku bakal kirim kamu ke rumah sakit jiwa! Dan kita nggak usah ketemu lagi seumur hidup!"
Suara menggelegar itu seolah memutus satu-satunya benang kewarasan dalam kepala Quinn. Dia memelototi Nash lekat-lekat, lalu berteriak, "Nash!"
"Apa kamu senang menyiksaku seperti ini? Kenapa kamu nggak mau lepasin aku? Kamu memperlakukanku seperti sampah, tapi kamu nggak pernah benar-benar membuangku!"
"Kamu bilang hubunganmu sama Sachi cuma main-main, tapi sekarang? Lihat apa yang kamu lakukan! Kenapa kamu nggak bisa lepasin aku saja ...."
Kata-katanya terhenti oleh tangisan yang kembali meledak. Dia terduduk di tanah dengan lemas. "Aku nggak bohong. Malam itu aku ditusuk 17 kali. Rasanya sakit sekali ...."
Suara itu semakin lama semakin kecil. Quinn memeluk lututnya sendiri, tak sanggup berhenti menangis.
Nash merasa dadanya seperti tertusuk jarum. Matanya memerah. Dia akhirnya menarik Quinn berdiri. "Ikut aku!"
Sachi langsung meraih lengan jasnya, menatap dengan mata memelas. "Kak Nash, jangan pergi ...."
Bab 10
"Tunggu aku sebentar, aku akan segera kembali." kata Nash yang menenangkan Sachi sebelum menarik Quinn menjauh dari keramaian.
Quinn tidak menolak, membiarkan dirinya dibawa ke sebuah ruang kerja.
Suasana kembali sunyi. Nash menatap Quinn lama sekali, lalu akhirnya bertanya dengan suara rendah, "Kita jangan bercerai ya? Aku bisa putus hubungan dengan Sachi!"
Quinn tersenyum pahit dan menggeleng. "Kalau kamu benar-benar bisa memutuskan hubungan dengannya, kamu nggak akan membawaku ke sini untuk bicara. Mungkin kamu nggak sadar, tapi kamu sudah jatuh cinta padanya sejak lama."
Selain itu, Sachi hanyalah permulaan. Setelah Sachi, akan ada wanita lainnya ....
Tangan Nash mengepal begitu erat sampai memutih, tetapi dia masih belum menyerah. "Kalau begitu, aku akan kirim dia ke luar negeri. Kalian nggak akan saling ganggu lagi. Bisa, 'kan?"
Quinn merasa hatinya semakin sakit. Dia hanya bisa menggeleng pelan. "Nggak bisa."
Mata Nash mulai memerah, tatapannya pun suram. "Kenapa kamu harus ngotot seperti ini? Kalau pergi dariku ...."
Quinn akhirnya tak tahan lagi. Satu tamparan keras mendarat di wajah Nash. "Nash! Aku nggak mencintaimu lagi! Paham? Sejak kamu mengkhianatiku, semuanya sudah berakhir!"
Hening, udara seolah-olah membeku.
Nash menoleh perlahan, matanya merah menyala menatap ke lantai dengan ekspresi tak percaya.
Saat tersadar, tangannya hampir terangkat untuk membalas. Namun, akhirnya dia hanya mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga gemetar.
"Oke! Kamu mau cerai, 'kan? Kita cerai! Jangan nyesal!" Dengan marah, Nash merebut surat perjanjian cerai itu, menandatangani tanpa melihat isinya, lalu melemparkannya ke wajah Quinn. "Puas sekarang?"
Pipi Quinn memerah dan terasa perih. Dia mundur selangkah, tertegun beberapa saat sebelum memungut surat itu dari lantai. Kemudian, dia memeluk surat itu erat-erat sambil bergumam, "Akhirnya aku bebas."
Melihat ekspresinya, amarah Nash semakin meluap. "Kamu akan menyesalinya!"
Nash menggertakkan giginya, lalu berbalik dan berjalan pergi.
"Nash!" Quinn meraih lengannya. Mata yang basah oleh air mata perlahan kehilangan kemarahan, tersisa senyuman yang penuh kepedihan. "Bisa temani aku jalan-jalan sebentar ke hutan mapel di belakang bukit? Anggap saja perpisahan terakhir."
Nash termangu sejenak, lalu mengempaskan tangannya. Dengan dingin, dia menyahut, "Nggak bisa. Mulai sekarang, hidup dan matimu bukan urusanku lagi!"
Tanpa menoleh lagi, dia pergi begitu saja.
Quinn menatap punggungnya yang menjauh, hatinya mulai mati rasa saking sakitnya. Mungkin ini lebih baik. Jika suatu hari nanti Nash mendengar kabar kematiannya, dia tidak akan terlalu bersedih.
Langit mulai gelap. Quinn memandangi bulan di langit malam, memeluk surat perjanjian cerai, dan berjalan sendirian ke hutan mapel.
Cahaya bulan bersinar cerah, daun mapel berwarna merah menyala. Dia berjalan lama di dalam sana. Hingga pukul 11.58 malam, dia mengeluarkan ponselnya dan menulis pesan untuk Nash.
[ Nash, aku nggak menyesal telah mencintaimu. Karena masa lalu kita memang indah dan kebahagiaan yang pernah kita miliki juga nyata. Tapi kalau aku diberi kesempatan untuk mengulang segalanya, aku lebih memilih untuk nggak pernah mengenalmu. Karena aku nggak bisa menerima akhir seperti ini. ]
Tepat pukul 12.00 malam, Quinn menekan tombol kirim.
Denting lonceng kastel terdengar menggema di malam yang sunyi. Quinn termangu melihat pesannya yang tidak bisa masuk. Hatinya mencelos.
Di bawah cahaya bulan yang pucat, dia memejamkan mata dan menghela napas panjang. Saat berikutnya, tubuhnya menghilang tanpa jejak.
Pada saat yang sama, jauh di ibu kota, di samping selokan gelap yang bau, seseorang menelepon polisi. Telah ditemukan mayat wanita dengan wajah yang tidak bisa dikenali lagi.