Đang tải thông tin quảng bá...
Kupuaskan Nafsuku di Klub
Aku adalah seorang wanita yang memiliki hasrat besar! Setelah putus cinta, aku tidak pernah merasakan kepuasan. Jadi, sahabatku mengajakku untuk bergabung dengan klub lari malam khusus, serta memesank...
Chương (1)
第1章
Aku adalah seorang wanita yang memiliki hasrat besar!
Setelah putus cinta, aku tidak pernah merasakan kepuasan. Jadi, sahabatku mengajakku untuk bergabung dengan klub lari malam khusus, serta memesankan celana khusus untukku.
Ketika aku berpartisipasi dalam kegiatan itu, aku disiksa sampai kakiku menjadi lemas. Aku juga memohon ampun berulang kali.
Setelah waktu yang lama, ketika aku pikir semuanya akan berakhir, dua orang pria masuk ke dalam tendaku ….
Bab 1
…
Aku tidak menyentuh diriku sendiri selama tiga minggu.
Bukannya aku tidak mau, tetapi aku harus menahan diri.
Dokter mengatakan bahwa mudah untuk memiliki ketergantungan secara emosional setelah putus cinta. Aku takut diriku akan jatuh kembali ke dalamnya jika terlalu terbawa perasaan.
Namun, tubuh bukanlah otak. Aku tidak bisa menahannya semudah itu.
Terutama di malam hari. Setelah mematikan lampu, tempat tidur menjadi terlalu kosong, dengan udara yang ambigu. Ini membuat orang tidak bisa menahan diri.
Pada saat ini, Laura mengirimkanku pesan WhatsApp: [Teman, ayo pergi lari malam bersamaku hari ini.]
Aku mengabaikannya, tetapi dia dengan cepat mengirim pesan lainnya: [Ini adalah acara lari malam yang akan membuat kakimu lemas dan basah setelah berlari.]
Aku menatapnya, terdiam selama beberapa detik. Kakiku terasa sangat panas.
Ketika aku membuka foto yang dia kirimkan, aku hampir saja menjatuhkan ponselku.
Foto itu adalah foto dirinya dengan pakaian olahraga yang sangat ketat. Satu kakinya berada di pundak seorang pelatih pria, wajahnya penuh dengan rona merah, sementara mulutnya sedikit terbuka. Ekspresi ini sama sekali tidak terlihat seperti sedang berlari. Sementara itu, pelatih pria mengangkat kaki Laura, dengan bagian bawah tubuhnya mendorong kuat dalam gerakan peregangan yang terasa aneh.
Aku menggertakkan gigi sambil mengetik: [Apa yang sedang kamu mainkan?]
Laura membalas pesanku dengan tanda tanya, lalu diikuti dengan tautan ke sebuah komunitas lari malam. [Klub Lari Malam Sarasa, khusus wanita dengan teman wanitanya. Kamu cukup datang dengan wajah penuh hasrat.]
Aku menatap tautan itu untuk beberapa saat.
Apakah hasratku benar-benar ... sejelas itu?
Ponselku menyala, lalu mati. Aku berguling-guling, tetapi tidak bisa tertidur. Pikiranku penuh dengan mantan pacarku.
Pria itu adalah seorang fanatik kebugaran, garis pinggang dan perutnya sangat indah seperti ukiran. Dia melakukan semuanya dengan keras, akurat, serta tanpa ampun. Terlebih lagi, dia suka berbisik di telingaku sambil terengah, "Bukankah kamu bilang nggak mau? Memohonlah padaku. Kalau kamu memohon, aku akan memberikannya padamu."
Malam itu kami sedang berada di dapur. Dia masuk dari belakang, sementata aku hampir terjatuh di atas kompor, berteriak sampai suaraku pecah.
Namun, sekarang dia sudah pergi, mengatakan bahwa aku tidak tahu diri, penuh nafsu dan tidak pernah puas!
Apa yang tidak dia ketahui adalah bahwa setelah dia pergi meninggalkanku sendirian, aku seperti orang yang kerasukan. Aku berpura-pura tenang di siang hari, lalu melakukan semuanya sendiri di malam hari.
Namun, diriku sendiri tidak bisa melakukannya sebaik pria itu.
Aku berusaha keras untuk berpakaian, menekan tautan, lalu mendaftar untuk bergabung dengan grup itu.
Beberapa menit kemudian, sebuah akun bernama "Manajer Sarasa - Dimas" menyetujuiku untuk masih ke dalam grup.
Foto profilnya menunjukkan foto sebuah punggung yang setengah telanjang. Cahayanya redup, tetapi aku masih bisa melihat lengkungan yang dalam di pinggangnya, serta garis-garis otot yang menonjol di lengannya.
Dia memiliki tipe tubuh seperti mantan pacarku, tetapi terlihat lebih liar.
Laura langsung memasukkanku ke dalam grup, lalu mengirim pesan suara tanpa menungguku menyapa, "Ini adalah sahabatku Mandy. Dia punya tubuh yang bagus, serta bagian bawah yang menawan. Siapa di antara kalian yang akan berlatih dengannya malam ini?"
Grup langsung menjadi ramai.
[Sial, apa ini harta karun milik Kak Laura?]
[Selamat datang teman baru. Malam ini kamu akan menjadi seseorang yang baru.]
[Kak Dimas, apakah kamu akan melakukannya atau aku?]
[Jangan berebut denganku. Bukankah teman baru itu bilang dia ingin kakinya lemas dan basah? Kalau begitu, aku yang harus melakukannya!]
Ketika aku melihat ini, dadaku terasa sesak, ujung jariku mulai mati rasa.
Detik berikutnya, seseorang menyebutkan namaku di grup.
Dimas: [Mandy, besok malam jam tujuh kita akan berkumpul di kaki gunung. Kenakan celana yang ketat, jangan memakai celana dalam.]
Aku menatap kata-kata itu dengan seluruh tubuh yang bergetar.
Aku tahu bahwa aku seharusnya keluar dari grup itu.
Namun, pada saat itu aku sudah terobsesi padanya, seolah terbakar dalam api.
Aku menatap kata-kata "jangan memakai pakaian dalam". Sebuah gambaran muncul di benakku ….
Jalan pegunungan yang berkelok-kelok, dengan suasana malam yang sunyi. Aku berjalan di depannya. Setiap gundukan menghantam bagian tubuhku yang paling sensitif. Dia terengah di telingaku, "Tahan. Jangan berteriak."
Kakiku tertutup rapat, jantungku berdetak kencang hingga hampir meledak.
Aku membalasnya, "Oke."
Aku melihat Dimas mengirimkan pengumuman di grup: [Materi latihan besok malam adalah lari malam dengan intensitas sedang dan peregangan dan traksi. Anggota wanita harus ditemani oleh pelatih pria satu lawan satu selama acara lari.]
Aku menatap ke arah barisan kata-kata itu dengan tubuh yang sedikit memanas.
Bab 2
Laura mengirimiku pesan pribadi: [Apa gunanya berpura-pura suci? Kamu sudah berjanji padanya. Apakah kamu sudah siap?]
Aku: [Siap untuk apa?]
Laura memberikanku nomor resi pengiriman. [Aku sudah memesankannya untukmu kemarin. Ini adalah peralatan eksklusif. Akan dikirim besok pagi.]
Aku baru saja ingin meminta penjelasan ketika Laura kembali mengirimkan pesan lain: [Pakai ini saja supaya kamu bisa bebas beraktivitas.]
Sore berikutnya, kurir pun tiba.
Begitu aku membuka kotaknya, wajahku langsung memerah.
Di dalamnya ada satu set celana ketat yang sangat elastis berwarna hitam. Tampaknya tidak ada yang istimewa, tetapi bagian atasnya cukup pendek hingga menunjukkan perut. Celananya hanya berupa lapisan tipis. Celana ini tampak sangat ketat begitu dipakai di tubuh. Jika tidak memakai pakaian dalam ....
Bukankah seluruh bagian tubuh bisa terlihat?
Aku menyentuh paha bagian dalamku tanpa sadar. Posisi jahitannya dibuat dengan sangat pas, seakan sengaja dibuat di bagian yang sensitif.
Ada juga kartu dengan tulisan tangan: [Nona Mandy, silakan nikmati pengalaman indah yang dibawa oleh jalan pegunungan, kecepatan angin, serta benturan.]
[Bebas dari pakaian dalam adalah bentuk penghormatan terbaik untuk tubuh.]
Jari-jariku gemetaran hingga kartu itu terjatuh ke tanah.
Pada pukul setengah tujuh malam, aku dan Laura pergi ke kaki gunung dengan taksi.
Jalan pegunungan itu terpencil, hanya ada beberapa lampu jalanan. Cahayanya redup, serta udaranya lembab.
Begitu aku melangkah keluar dari mobil, Laura menunjukkan senyum misterius. "Apa kamu memakai sesuatu di dalam?"
Aku memarahinya dengan suara rendah, "Dasar mesum."
Laura mencondongkan tubuh untuk berbisik di telingaku, "Kamu akan berterima kasih padaku untuk itu, dasar wanita nakal."
"Malam ini, hanya akan ada beberapa orang dari kita di seluruh pegunungan ini. Nggak ada yang akan mengganggu kita."
Aku ingin membalas, tetapi ketika aku mendongak, aku melihat Dimas berdiri tidak jauh dari sana.
Dia mengenakan pakaian olahraga kompresi berwarna hitam, dengan tubuh yang tampak sangat bagus. Bahu dan punggungnya lebar, perutnya berotot, bahkan sorotan cahaya menerpa sudut-sudut tubuhnya.
Aku baru saja hendak menyapa ketika dia berjalan menghampiriku. Tatapannya meluncur dari kakiku ke wajahku, sudut mulutnya terangkat sedikit.
"Bagus," kata Dimas.
"Apa katamu?"
"Kamu berpakaian dengan baik." Dia menatap lekukan kecil yang ada tepat di bawah pusarku. "Cocok sekali untukmu."
Wajahku memanas, tetapi tubuhku lebih jujur.
Aku mulai merasa tidak nyaman di bagian bawah, seperti ada sesuatu yang bergesekan dengan jahitan celanaku. Aku bisa merasakannya di setiap langkahku.
Dimas mencondongkan kepalanya ke telingaku, lalu berkata dengan suara pelan, "Saat kita mulai berlari nanti, angin akan bertiup ke celah-celahnya. Itu akan membuatmu merasa lebih baik."
Jantungku seakan berhenti berdetak. "Kamu …."
"Apa kamu takut?"
Setelah berkata demikian, tiba-tiba Dimas menarik pengukur waktu dari belakangnya, lalu berujar, "Naiklah sejauh lima ratus meter, lalu kembalilah dalam waktu sepuluh menit. Ingat, jangan berhenti."
Setelah mengatakan itu, Dimas berbalik untuk berlari. Aku pun mengikutinya tanpa sadar.
Awalnya kami hanya melakukan lari malam biasa. Jalan pegunungan ini tidak terlalu curam, jadi napasku masih teratur.
Namun, dalam jarak kurang dari lima puluh meter, aku menemukan masalah.
Tanahnya tidak rata. Sensasi bergelombangnya langsung menembus celana, naik ke tubuhku.
Ditambah dengan bahannya yang sangat ketat, setiap gesekan membuatku merasa seperti disapu dengan lembut oleh ujung lidah. Ini merangsang saraf-saraf yang ada di tubuhku.
Aku menggertakkan gigi, tidak berani berhenti. Namun, kakiku makin lama menjadi makin lemah.
Di tengah jalan, aku tidak lagi berani mengambil langkah besar. Setiap langkah berikutnya, gesekan menjadi lebih intens. Perut bagian bawahku terasa panas, bahkan napasku pun mulai bergetar.
Langkah Dimas tiba-tiba melambat. Dia berbalik, lalu mengulurkan tangannya ke arahku.
"Apa kamu sudah nggak bisa bertahan lagi?" tanya Dimas.
Saya menggigit bibirku, tetapi tidak mengatakan apa-apa.
Dimas berjalan mendekat. Satu tangannya menekan pinggang belakangku, sementara tangan lainnya menopang perutku dengan lembut. "Jangan mengacaukan pernapasanmu. Kencangkan inti tubuhmu, jangan menjepit terlalu kencang."
Aku tertegun. "Menjepit … apa?"
Dimas berbisik di telingaku, "Mulut kecilmu."
Kepalaku seakan berdengung.
"Kamu ... kamu nakal …."
Dia tidak tertawa, hanya menempelkan tangannya di kedua sisi panggulku. Nadanya seperti sedang memberi ceramah, "Darahmu sekarang mengalir dengan deras. Kepekaan saraf adalah reaksi yang normal. Jangan takut, santai saja. Berlari seharusnya akan membuat tubuhmu menjadi lebih rileks."
Suaranya pelan, tetapi sangat menggoda. Ini seperti bulu yang menyapu gendang telinga.
Seluruh tubuhku tiba-tiba merasa lemas, jantungku berdetak tak terkendali.
Dimas melirik ke arahku, lalu tiba-tiba membungkuk untuk berbisik di telingaku, "Semuanya bisa terlihat dengan jelas, apa kamu masih ingin berpura-pura suci?"
Aku menunduk, melihat bahwa bagian kecil di area selangkanganku sudah basah. Bahkan ketika angin berembus di atasnya, rasanya seperti sedang dijilat.
"Teruslah berlari," tambah Dimas. "Buatlah sedikit lebih basah."
Kakiku lemas, aku hampir jatuh berlutut.
Acara lari malam ini sama sekali bukan olahraga, melainkan penyiksaan, godaan, serta pelatihan seksual dengan gerakan lambat. Malam ini, aku mungkin akan terlalu basah untuk berlari.
Bab 3
Pada akhir lari malam itu, seluruh tubuhku tampak seperti baru saja mengalami pertarungan cinta yang hebat.
Kakiku terasa lemas, basah oleh keringat, bahkan napasku pun bergetar dengan cara yang tidak semestinya.
"Kamu berlari dengan baik untuk pertama kalinya." Dimas menyerahkan handuk kepadaku, sekali lagi terlihat seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Aku mengambil handuk itu, mencoba untuk tetap tenang, tetapi aku merasa seluruh tubuhku gemetar.
"Kamu belum pernah mengikuti kelas peregangan, 'kan?"
Aku menatapnya, tenggorokanku kering sampai terasa sesak. "Peregangan apa?"
Dia menatapku sambil tersenyum, suaranya rendah dan menggoda, "Peregangan yang membuat tubuhmu lebih rileks."
Setelah mengatakan itu, dia berbalik, lalu masuk ke dalam tenda.
Laura muncul dari sisi lain, lalu duduk di sampingku. Wajahnya dipenuhi dengan kebahagiaan karena merasa puas.
"Jangan takut, wanita nakal. Lari pertamaku lebih buruk darimu. Aku kembali dengan kaki selemas mi," ujar Laura.
Aku bertanya kepadanya dengan ragu-ragu, "Uh …. Bagaimana caranya melakukan kelas peregangan itu?"
Dia tersenyum seperti rubah licik. "Kamu akan tahu begitu kamu masuk."
Aku menelan ludah.
Tenda itu hanya diterangi dengan lampu kecil yang redup. Lantainya ditutupi dengan matras yoga, sementara di udara ada aroma mint dan sedikit ... keringat pria.
Dimas berdiri di tepi matras sambil menjulurkan jarinya ke arahku.
"Datanglah padaku, membungkuklah, lalu hadapkan wajahmu sejauh mungkin ke lantai," ujar pria itu.
Aku membeku di tempat, masih mencerna kata-katanya.
Ketika dia melihatku tidak bergerak, dia mengangkat alisnya, lalu berkata, "Apa kamu takut aku akan memakanmu?"
Aku tidak bisa mengatakan apa-apa, hanya bisa mengikuti instruksinya.
Telapak tangan yang panas mendarat di bagian belakang pahaku, bergerak ke atas menyusuri garis-garis otot.
"Otot-ototmu terlalu tegang, perlu dilonggarkan sedikit."
Setiap gerakan jarinya seperti menyalakan api.
Ketika dia menyentuh pangkal pinggulku, tubuhku tersentak.
"Jangan bersembunyi." Suaranya merendah, "Lakukan peregangan secara perlahan, atau kamu akan mudah terluka."
"Kamu … kamu menyentuhku …."
"Di mana?"
"Kamu jelas tahu."
Dimas tidak mengatakan apa-apa, hanya perlahan-lahan bergerak ke atas. Ujung jarinya dengan lembut menekan noda basah di area selangkangan celanaku.
"Ini adalah tempat yang paling mudah membuat gugup," kata Dimas.
Napasku tercekat. Aku mencoba melepaskan diri, tetapi pinggulku ditahan dengan lembut olehnya.
"Tenang saja." Telapak tangannya yang hangat menekanku. "Kamu harus mempelajari peregangan malam ini."
Kata-katanya seperti sebuah mantra, yang perlahan-lahan menghilangkan sisa-sisa kewaspadaanku.
Aku tidak berani menggerakkan tubuhku. Namun, bagian itu perlahan menegang dan bergetar, seakan merindukan kehadiran yang lebih dalam.
Tiba-tiba, Dimas menyelipkan satu tangan di bawah pinggangku, menopang bahuku dengan tangan yang lain, lalu membalikkan tubuhku.
Lututnya berada di antara kedua kakiku, seolah memaksaku untuk melebarkannya.
Aku mengepalkan tangan tanpa sadar, suaraku bergetar, "Kamu …. Apa yang kamu lakukan …."
Dia tidak menjawab, hanya menatap kain yang basah kuyup oleh keringat, serta menempel di dadaku.
"Apa kamu tahu?" Dia menundukkan kepala, membuat wajahnya berada dekat dengan dadaku. Napasnya memburu ketika berkata, "Aku sangat suka melihatmu ketakutan, tapi juga menginginkannya di saat yang sama."
Tenggorokanku tercekat. Aku tidak bisa menghentikan kakiku yang mulai melemas.
"Kamu …. Jangan main-main …."
"Menurutmu apa yang aku lakukan di kelas?" Dimas tersenyum di telingaku. "Mandy, aku sudah merasakan keinginanmu malam ini."
Tubuhku membeku, tanpa sadar aku mencoba menopang tubuhku untuk berdiri. Namun, dia menekan pergelangan tanganku, membuat seluruh tubuhku tenggelam ke dalam matras, tidak bisa bergerak.
"Nggak …" erangku dengan wajah memerah.
Dimas membungkuk, bibirnya hampir menyentuh tulang selangkaku.
"Melihat penampilanmu sekarang, apakah kamu nggak menginginkannya, atau kamu nggak ingin berhenti?" tanyanya.
Saat otakku seakan hampir meledak, tirai tenda dibuka oleh seseorang.
Seorang pria yang bertelanjang dada melangkah masuk sambil membawa dua botol anggur di tangannya.
Dia menatapku sambil menjilati sudut mulutnya. "Kak Dimas, gadis ini …. Apa kamu ingin bermain bertiga malam ini?"
Panas yang menyengat di tubuhku belum reda, tetapi hatiku sudah kembali bergetar. "Bermain bertiga?"
Dimas hanya menjawab dengan acuh tak acuh, "Tentu saja dia bersedia."
Dia menatapku dengan tangan yang masih menekan pangkal kakiku. Tatapannya sedikit turun ketika dia berujar, "Mandy, bermain bertiga adalah cara terbaik bagi kita untuk menghilangkan stres."