Terapis Pijat Laktasi

Đang tải thông tin quảng bá...

Terapis Pijat Laktasi

GoodNovel Hoàn thành

Sahabatku membawaku ke pusat terapi laktasi dan ternyata terapis yang menanganinya itu seorang pria. Dia bukan hanya menggunakan tangan, tapi juga mulut! Yang lebih parahnya, aku malah jatuh cinta pad...

Chương (1)

第1章

Sahabatku membawaku ke pusat terapi laktasi dan ternyata terapis yang menanganinya itu seorang pria. Dia bukan hanya menggunakan tangan, tapi juga mulut! Yang lebih parahnya, aku malah jatuh cinta pada sensainya. Bab 1 Aku dan suamiku saling mengenal sejak kuliah dan setelah lulus, kami pun menikah. Sebulan yang lalu, akhirnya buah hati kami lahir ke dunia. Tapi, ASI-ku malah tidak cukup. Suamiku orang yang sangat kuno dan dia terus menyuruhku menyusui secara langsung. Ibu mertua pun tak henti-hentinya membicarakan manfaat ASI. Padahal aku sendiri tahu, tapi ASI-ku benar-benar tidak cukup. Hal ini akhirnya memicu pertengkaran hebat antara kami. Kelly, sahabatku datang menjengukku. Melihat aku yang begitu lelah dan murung, dia terus-menerus bertanya. Akhirnya, aku pun menceritakan semuanya padanya. Dia tersenyum pelan dan menjawab, “Kupikir masalah besar apa. Dulu waktu melahirkan anakku, aku juga sempat kekurangan ASI. Tapi, aku direkomendasikan seorang terapis laktasi. Besok aku antar kamu ke tempatnya, ya.” Aku ragu dan bertanya, “Terapisnya laki-laki atau perempuan? Indra itu sangat kuno, aku takut dia….” Kelly menanggapi dengan santai, “Sudah zaman apa sekarang? Laki-laki juga bukan masalah. Tapi kalau kamu masih khawatir, bilang saja ke suamimu kalau aku mengajakmu jalan-jalan untuk menghilangkan penat. Itu juga bisa bantu melancarkan ASI, lho.” Akhirnya aku setuju, karena sudah tak tahan melihat anakku terus menangis kelaparan, suami yang kecewa dan ucapan menyakitkan dari ibu mertua yang seakan tak ada habisnya. Keesokan harinya, aku titipkan anakku ke ibu mertua dan pergi bersama Kelly ke pusat terapi. Pemilik tempat itu adalah seorang terapis pria paruh baya dan ada beberapa murid laki-laki yang masih muda. Dengan sangat sopan, dia menanyakan keluhanku, memeriksa denyut nadi, lalu berkata bahwa aliran ASI-ku tersumbat, tapi bisa dilancarkan lewat pijatan. Aku sangat senang, akhirnya ada harapan anakku bisa kenyang juga. Dia membawaku ke ruangan terapi dan Kelly masuk ke ruangan lain. Aku heran dan bertanya, “Kamu juga ada keluhan?” Kelly menatapku sambil tersenyum misterius, “Kamu akan mengerti nanti.” Aku bingung, tapi tak terlalu memikirkannya. Di dalam ruangan, terapis itu memintaku berbaring di ranjang dan berkata, “Silakan lepas atasannya, aku perlu melakukan pijatan langsung.” Aku agak malu, tapi demi anakku, aku rela melakukan apa saja. Aku pun melepaskan atasan dengan patuh. Terapisnya berdiri cukup dekat denganku, sampai aku bisa merasakan napasnya menyentuh wajahku. Tangan hangatnya menyentuh bagian dadaku. “Tenang saja, tarik napas dalam-dalam dan ikuti gerakan tanganku.” Gerakannya sangat lembut, berbeda sekali dengan suamiku yang biasanya sekadar menjalankan rutinitas, asal-asalan dan cepat selesai. Aku terkejut dengan pemikiranku dan langsung membuka mata. Melihat reaksiku, terapis itu bertanya dengan suara pelan, “Aku menyakitimu? Nanti akan ada sesi yang lebih intens, masih mau lanjut?” Sebenarnya aku ingin menolak, tapi entah kenapa yang keluar dari mulutku malah jawaban iya. Aku bisa merasakan bagian lembut di dadaku berubah-ubah bentuk di tangan terapis, rasanya begitu nyaman sampai aku tanpa sadar mendesah pelan. Terapis itu tertawa pelan, lalu berkata, “Nggak perlu malu, ini bagian dari proses. Aku sedang memijat bagian yang tersumbat. Lihat, ASI-nya sudah mulai keluar sedikit.” Sambil berkata begitu, tekanannya pun semakin kuat. Aku tak bisa menahan suara dari mulutku, “Hmm~uh….” Melihat ASI-ku mulai mengalir pelan dari dadaku, aku buru-buru menutupi wajahku dengan tangan, rasanya malu sekali. Tapi di saat yang sama, rasanya benar-benar nyaman, bahkan pakaian dalamku sudah mulai terasa basah. Tiba-tiba, terapis melepaskan sentuhannya dari tubuhku. Perasaan kosong langsung menyeruak dan yang mengejutkan adalah aku malah menginginkan lebih. Dia berkata dengan tenang, “Sesi hari ini cukup sampai di sini, boleh datang tiga hari lagi.” Keluar dari ruang terapi, aku melihat Kelly sudah menungguku. Wajahnya bersinar dan tampak sangat segar, seolah habis menjalani perawatan kecantikan kelas atas. Saat berjalan keluar dari tempat itu, aku pun bertanya pada Kelly, “Tempat ini juga menyediakan layanan kecantikan, ya? Kamu kelihatan jauh lebih segar.” Dia tertawa keras, lalu cepat-cepat mengangguk. Bab 2 Setelah pulang ke rumah, suamiku masih menunggu aku memasak. Padahal aku sudah merasa sangat lelah. Saat memasak bubur, pikiranku sudah melayang ke tiga hari ke depan. Setelah menyusui anak, menidurkannya dan akhirnya baru bisa punya waktu sendiri. Aku pun mandi sendirian. Rumah kami punya dua kamar tidur dan satu ruang kerja kecil. Suamiku lebih memilih tidur di ruang kerja daripada kembali ke kamar utama. Sejak aku hamil, dia sudah mulai tidur di kamar terpisah, katanya demi kebaikan bayi. Namun, aku tahu alasannya bukan itu, dia sudah kehilangan ketertarikan padaku. Air dari shower mengalir perlahan melewati tubuhku. Saat menyentuh putingku, tanpa sadar aku bergetar pelan. Tanganku reflek menirukan teknik pijatan terapis tadi dan entah kenapa itu sedikit menghiburku. Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Kali ini aku pergi sendirian. Ruangan pijat dan orangnya masih sama. Dengan luwes aku melepaskan pakaian dan berbaring di atas ranjang pijat. Suara terapis masih selembut dulu, dipadu dengan wajahnya yang tenang dan berwibawa, membuat jantungku perlahan berdebar semakin cepat. “Kali ini kita akan masuk ke tahap berikutnya, sudah siap?” tanyanya. Aku mengangguk pelan dan menutup mata, mencoba rileks. Terapis menggenggam lembut bagian tubuhku yang lunak. Telapak tangannya sangat hangat, membuatku merasa seolah melayang di atas awan. Sentuhannya menekan lembut lalu perlahan melepaskan, disusul gerakan naik turun yang teratur. Tanpa melihat pun, aku tahu bagian tubuhku bergelombang seperti riak air yang dipermainkan angin. Beberapa saat kemudian, aku mendengar terapis memanggil namaku. Belum sempat menjawab, aku sudah mendengar dia berkata, “Kamu tertidur, ya?” Aku bisa merasakan hembusan napasnya mengenai buah dada lembutku. Entah kenapa, aku tak menjawabnya. Dalam hati, aku justru seperti sedang menantikan sesuatu. Awalnya, dia mendekat dan mencium perlahan. Lalu ujung lidahnya yang lembap menyentuh sisi kiri payudaraku. “Lembut dan halus sekali,” gumamnya pelan, terdengar begitu puas. Tubuhku langsung bereaksi, muncul sensasi aneh yang sulit dijelaskan. Aku tak ingin membuka mata, memilih pura-pura tidur dan berharap dia melangkah lebih jauh. Lidahnya mulai bergerak memutar di sekitar buah dadaku, perlahan naik hingga menyentuh bagian puncaknya. Aku bisa merasakan ASI mulai keluar, membuatku mengeluarkan suara lirih. Tapi, aku tetap memejamkan mata. Gerakannya sempat terhenti saat mendengar suaraku, tapi karena melihatku tak bereaksi, dia kembali melanjutkan. Kali ini, mulutnya menyedot kuat, menutupi hampir seluruh puting. Rasanya sangat berbeda dengan saat menyusui anakku. Aku menginginkannya lebih jauh lagi, tapi tiba-tiba dia berhenti. Tidak ada gerakan lanjutan. Aku membuka mata sedikit dan melihatnya menatapku dengan senyuman yang sulit diartikan. “Bu Lily, sesi pijat hari ini cukup sampai di sini. Kita sudah berhasil setengah jalan. Sesi berikutnya dijadwalkan dua hari lagi.” Aku merasa pipiku sedikit panas, “Terima kasih Pak Jason.” Kemudian, aku cepat-cepat membereskan pakaianku, seolah ingin melarikan diri dari ruangan itu. Sinar matahari sore tidak lagi menyengat. Sinar-sinar lembut menembus sela-sela dedaunan. Langkahku terasa ringan saat berjalan pulang ke rumah. Begitu membuka pintu, suara ibu mertua langsung menyambut dengan sindiran pedas, “Tak hanya melahirkan anak perempuan, sekarang bahkan ASI saja nggak ada, asik minum susu formula terus-terusan, emangnya uang Indra itu dipetik dari pohon?” Sudah muak mendengar ocehannya, aku pun membalas, “Bella itu segalanya bagiku, dia pantas dapat yang terbaik. Lagipula, aku sudah berusaha keras supaya ASI-ku bisa lebih banyak.” Namun, ibu mertua masih belum puas dan membantah, “Anak perempuan itu hanya perlu makan seadanya saja, yang penting nggak mati kelaparan. Nggak perlu sok-sokan butuh gizi segala.” Aku malas menanggapinya, segera menggendong putriku dan masuk ke kamar. Tanpa sadar, air mata sudah membasahi pipiku. Perasaan benciku pada ibu mertua semakin menjadi-jadi. Suami yang sekarang enggan tidur sekamar denganku, aku curiga jangan-jangan juga karena hasutan ibunya. Menatap wajah polos putriku yang sedang tertidur, pikiranku mulai kembali ke semua yang sudah kulakukan belakangan ini. Setelah merenung, akhirnya aku memutuskan untuk tidak pergi lagi ke tempat pijat itu. ASI-ku sekarang sudah jauh lebih banyak. Lebih baik aku fokus di rumah untuk menemani putriku. Bab 3 Setelah kejadian di tempat pijat, aku diliputi rasa bersalah yang besar pada suamiku. Aku pun memutuskan untuk tidak pernah menemui terapis itu lagi. Aku mulai berusaha memperbaiki hubungan kami. Dulu waktu kuliah, kami sangat saling mencintai dan hubungan kami pun sangat manis. Waktu itu, dia tinggi, kurus, selalu terlihat bersih dan rapi. Setiap kali kami jalan berdua, dia selalu menggandeng tanganku dan berjalan di depan, membiarkan angin malam meniup aroma segarnya ke arahku. Saat-saat itu, aku merasa sangat bahagia. Terkadang dia menoleh dan tersenyum padaku. Melihat senyumannya, hatiku pun luluh. Namun kini pikiranku kembali ke kenyataan, kenapa hubungan kami bisa berubah sampai sejauh ini? Aku menggendong putriku, berjalan pelan-pelan di ruang tamu untuk menidurkannya. Hari ini hari jumat, aku mengirim pesan pada suamiku, memintanya untuk pulang lebih awal. Aku sudah menyiapkan makan malam romantis di rumah. Tapi, dia tak membalasnya. Pukul sembilan malam, akhirnya dia pulang. Begitu masuk, dia tampak pura-pura terkejut, “Wah, kok spesial sekali? Hari ini juga bukan hari penting. Kamu mengurus anak di rumah saja sudah cukup, nggak perlu repot-repot begini.” Aku mendengarkannya tanpa menanggapi sepatah kata pun. Melihat aku diam, akhirnya dia pun berhenti bicara dan menggaruk hidungnya, mungkin karena merasa canggung. Aku pun berkata pelan, “Baru pulang? Cepat mandi dan tidur saja.” Dia benar-benar langsung masuk ke kamar mandi. Sementara itu, aku mengambil baju kotor dari keranjang pakaian dan memasukkannya ke mesin cuci. Saat duduk di sofa, tiba-tiba ponselku berbunyi. Sebuah pesan masuk dari nomor asing, isi pesannya adalah foto suamiku sedang di ranjang bersama wanita lain. Darahku seperti berhenti mengalir, jantungku berdebar keras dan rasa sedih yang luar biasa menghantamku. Ternyata begini caraku mengetahui bahwa suamiku selingkuh. Bukan dengan ketahuan di kamar hotel, bukan dengan bekas lipstik di baju, tapi lewat sebuah pesan. Aku membalas pesan itu dan mengusulkan untuk bertemu besok. Orang itu pun setuju. Malam itu, kami tetap tidur di kamar terpisah. Aku tak bisa tidur, gelisah dan terus membolak-balik tubuh di ranjang. Aku mengenakan lingerie yang agak sexy, berniat mengetuk pintu kamarnya. Saat aku perlahan membuka sedikit celah pintu, suara erangan pelan darinya langsung terdengar. Aku menatap adegan di depan mataku dengan penuh ketidakpercayaan. Dengan tubuh telanjang, suamiku duduk di depan komputer sambil memakai earphone. Di layar, tampak seorang wanita paruh baya yang masih terlihat mempesona. Perkiraanku, usianya sekitar lima puluh tahunan. Di layar, dia sedang mengelus bagian dadanya sendiri, sementara kakinya terbuka lebar. Adegan itu sungguh mengejutkan dan mengguncang. Aku menahan napas, tak berani mengeluarkan suara sedikit pun. Dalam hati aku ingin menerobos masuk dan memakinya habis-habisan. Tapi, aku tidak melakukannya. Aku hanya menutup kembali pintunya. Setelah kembali ke kamar, aku hanya bisa berbaring diam sepanjang malam. Keesokan paginya, aku menemui pengirim pesan itu. Ternyata dia adalah wanita yang kulihat di layar komputer suamiku semalam. “Halo, aku tahu siapa kamu. Kamu istrinya Indra sekarang, ‘kan? Aku adalah perempuan pertama yang dia cintai.” Perempuan itu berbicara dengan tenang, lalu menyeruput kopi. Aku menahan amarah dan berkata, “Kenapa kamu datang merusak keluargaku? Aku baru saja melahirkan putri kami sebulan lalu. Kamu nggak punya hati nurani? Nggak tahu malu?” Dia tertawa pelan, “Kamu juga lihat sendiri, aku sudah tidak muda lagi. Aku lebih tua dari dia lebih dari dua puluh tahun, tapi dia tetap memilihku. Dia menikah denganmu hanya untuk memberikan cucu pada ibunya. Jadi, jangan terlalu naif, adik manis.” Tiba-tiba, aku merasa sangat muak, “Kalian benar-benar nggak tahu malu. Kalau kamu mau pria menjijikkan itu, ambil saja! Aku nggak sudi melihat kalian lagi.” Aku mengambil tas dan berbalik pergi. Saat tiba di rumah, meski melihat dekorasi yang hangat dan nyaman, aku sama sekali tidak merasakan kehangatan apapun. Lalu, suara nyaring yang menusuk telinga itu kembali terdengar, “Pagi-pagi sudah ke mana saja? Hanya bisa titipkan anak ke aku saja!” Aku menatap wajah ibu mertua yang begitu mirip dengan suamiku, lalu tak tahan lagi dan berlari ke kamar mandi, muntah sejadi-jadinya. Ibu mertua menyusul dengan ekspresi penuh semangat dan berkata senang, “Lily, jangan-jangan kamu hamil lagi? Semoga kali ini diberikan adik laki-laki untuk Bella.” Aku langsung memotong ucapannya, “Baru sebulan lebih yang lalu aku melahirkan Bella, mana mungkin hamil lagi.” Lagipula, aku dan Indra sudah tidak mungkin punya anak lagi. Tapi, dia tetap saja senang dan berkata, “Belum tentu! Dokter bilang pemulihanmu sangat bagus, ‘kan? Lagipula, masa-masa begini memang paling mudah hamil. Neneknya Indra juga dulu melahirkan tantenya Indra di saat-saat seperti ini.” Aku malas meladeninya dan langsung membanting pintu keluar. Samar-samar masih terdengar suara omelannya dari belakang. Tanpa sadar, kakiku malah membawaku kembali ke tempat pijat itu.