Đang tải thông tin quảng bá...
Suamiku Memesankan Terapis Tampan Untukku
"Biar dia saja yang pulihkan area pribadi istriku." Kevin tersenyum dan memilih pria yang paling gelap dan kekar untukku. Aku mau tak mau tersipu dan menatap Kevin sambil menggoda, "Kamu nggak cembu...
Chương (1)
第1章
"Biar dia saja yang pulihkan area pribadi istriku."
Kevin tersenyum dan memilih pria yang paling gelap dan kekar untukku.
Aku mau tak mau tersipu dan menatap Kevin sambil menggoda, "Kamu nggak cemburu atau takut bagian pribadi istrimu disentuh pria lain?"
Kevin mencolek hidungku. "Kamu ngomong apa sih? Louis itu terapis yang paling dipuji di sini. Lagian, aku ada tepat di sebelahmu. Apa mungkin kamu selingkuh di depanku?"
Aku menyahut dengan manja, "Ah, kamu!"
Namun, ketika melihat terapis pria yang kekar itu, jantungku berdebar kencang.
Bab 1
"Biar dia saja yang pulihkan area pribadi istriku."
Kevin tersenyum dan memilih pria yang paling gelap dan kekar untukku.
Aku mau tak mau tersipu dan menatap Kevin sambil menggoda, "Kamu nggak cemburu atau takut bagian pribadi istrimu disentuh pria lain?"
Kevin mencolek hidungku. "Kamu ngomong apa sih? Louis itu terapis yang paling dipuji di sini. Lagian, aku ada tepat di sebelahmu. Apa mungkin kamu selingkuh di depanku?"
Aku menyahut dengan manja, "Ah, kamu!"
Namun, ketika melihat terapis pria yang kekar itu, jantungku berdebar kencang.
...
Namaku Kalina. Aku ini seorang wanita muda yang baru saja melahirkan. Untuk memulihkan bagian pribadiku dengan lebih baik, meskipun harus membayar mahal, suamiku yang bernama Kevin membawaku ke pusat perawatan pascamelahirkan yang direkomendasikan oleh sahabatku, Cindy.
Tidak seperti Kevin yang murah hati, aku sengaja memilih terapis wanita yang punya bekas luka di wajahnya untuk Kevin. Namun entah kenapa, saat melihat terapis wanita itu, aku merasa agak familier. Selain itu, tubuhnya juga sangat seksi. Dadanya bahkan lebih besar dari dadaku yang berukuran 36D!
Sesi percobaan pijat dimulai.
Aku menahan rasa cemburuku dan berbaring di atas tempat tidur bersama Kevin. Yang memisahkan kami hanya selapis tirai.
Sebelum aku sempat bereaksi, terapis pria bernama Louis itu sudah berlutut dan mengapit pinggulku dengan pahanya yang kekar. Sementara itu, tangannya yang kuat meremas bagian pinggangku.
Aku merasa seperti ada arus listrik yang mengalir melalui tempat kulit kami bersentuhan. Dalam sekejap, tubuhku pun terasa lemas. Ini pertama kalinya aku dipijat dan aku tidak menyangka posturnya akan begitu memalukan.
Aku tidak bisa menahan diri dan menoleh ke samping. Bagaimana perasaan Kevin saat ini?
Tiba-tiba, bagian pinggangku terasa sakit. Kemudian, napas panas Louis menyapu punggungku yang telanjang.
"Nyonya, kamu harus konsentrasi, juga rilekskan tubuh dan pikiranmu supaya perawatannya efektif."
Napasnya membuat telingaku terasa panas dan jantungku berdetak lebih cepat.
Benar juga. Ini hanyalah sesi percobaan pijat. Setelah sesi ini selesai, aku bisa mengganti terapis wanita itu.
Aku memejamkan mata dan mulai berkonsentrasi untuk menikmatinya. Teknik memijatnya sangat hebat dan tangannya yang besar itu seperti memiliki sihir. Di mana pun tangannya bergerak, saluran energi di tempat itu juga akan terasa makin lancar. Tak terasa, sekujur tubuhku mulai terasa panas.
Aku mau tak mau tersipu. Sebuah pemikiran juga tiba-tiba melintasi benakku. Berhubung harus melindungi janin, aku sudah tidak berhubungan intim hampir setahun. Saat ini, tubuhku sesensitif tubuh gadis yang masih perawan.
Tepat ketika aku berusaha keras untuk menekan hasratku, Louis tiba-tiba meraih lenganku dan menariknya ke atas dengan kuat.
"Ah!"
Seiring dengan suara sendi yang berderak, aku juga tak kuasa menahan seruanku. Saat ini, tubuh bagian atasku dipaksa untuk mempertahankan posisi tegak dan dada Louis menempel erat di punggungku. Napasnya yang panas yang membuatku menggigil.
Napasku yang memburu membuat dadaku naik turun dengan cepat. Di sisi lain, handuk yang menutupi dadaku juga perlahan-lahan jatuh. Akan tetapi, pikiranku didominasi oleh hasrat dan aku sama sekali tidak menyadarinya.
"Nyonya, aku akan menyesuaikan kembali tulang belakangmu. Mungkin akan sedikit sakit. Ditahan, ya."
Setelah mendengar penjelasannya, aku mengangguk dengan ragu. Keringat sudah mengucur dari tubuhku. Tiba-tiba, tubuhku terasa dingin dan aku pun menunduk. Ternyata, handuk yang seharusnya menutupi dadaku sudah jatuh.
Pada saat yang sama, napas pria di belakangku jelas terdengar lebih berat. Bibirnya yang panas hampir menyentuh daun telingaku yang sangat merah.
"Tubuh Nyonya bagus banget. Aku sudah pernah pijat begitu banyak pelanggan. Baik dari segi ukuran ataupun tingkat kekencangan, dua aset Nyonya ini paling sempurna."
Aku merasa malu dan spontan merapatkan kedua lenganku. Meskipun tahu dia telah melihat bagian intim tubuhku, alih-alih merasa marah, aku malah agak bangga. Aku bahkan ingin mendengarnya berbicara lebih banyak. Mungkin karena merasa cemburu pada terapis wanita itu, ketika mendapat pujian tulus dari seorang pria asing, rasa percaya diriku pun meningkat.
Tepat ketika aku tenggelam dalam kebanggaan sebagai seorang wanita, kedua tangan gelap itu tiba-tiba terulur melewati bawah lenganku dan menangkup kedua asetku. Ujung-ujung jarinya tidak sekasar jari pria pada umumnya, melainkan terasa halus karena penggunaan minyak esensial dalam jangka panjang. Setiap kali dia meremasku, tubuh dan perut bagian bawahku juga ikut bergetar.
Warna kulit kami yang berbeda menghasilkan kontras visual yang begitu kuat. Erangan dan hasrat yang kutahan sedari tadi akhirnya membuka mulutku yang terkatup rapat.
"Umph ...."
Mungkin karena mulut yang kering, seruan panikku malah berubah menjadi desahan yang manja. Bahkan ketika berhubungan intim dengan Kevin, aku juga tidak pernah mendesah penuh hasrat seperti ini. Jantungku sontak berdebar kencang.
Sesuai dugaan, Kevin yang berada di sisi lain juga merasa ada yang salah dan bertanya "Suara apa itu? Sayang, kamu baik-baik saja?"
Bab 2
Bibirku bergetar, aku tidak tahu apakah aku harus meminta bantuan Kevin. Namun, dalang utama ini malah tidak berhenti. Sambil masih menggerakkan jari-jarinya, dia terlebih dahulu menjawab, "Nggak apa-apa, Tuan. Aku lagi lancarkan aliran energi di bagian dada istrimu supaya bisa mencegah penyumbatan saluran ASI."
Mendengar itu, Kevin pun mengiakannya. Kemudian, dia terkesiap, seolah-olah baru teringat sesuatu.
"Sayang, pijatnya dilapisi handuk, 'kan?"
"I ... iya."
Entah kenapa, aku malah berbohong tanpa sadar.
Setelah mendengar jawaban pasti, Kevin tidak mengatakan apa-apa lagi dan lanjut menikmati pijatannya.
Dari bayangan yang terpantul di tirai, terapis wanita yang bertubuh seksi itu sedang memijat betis Kevin dengan punggung menghadap Kevin. Bokongnya yang montok itu terlihat bergetar.
Aku bisa membayangkan senyum di wajah Kevin tanpa melihatnya. Namun, aku sama sekali tidak cemburu saat ini. Aku bahkan merasa sedikit bersalah.
Setelah mendengar elakanku tadi, kurasa Louis pasti salah paham bahwa aku adalah wanita sembarangan. Konon, wanita yang datang untuk dipijat biasanya sangat genit. Apa dia akan mengira aku sedang merayunya?
Hanya saja, jika aku mendongak, dia bisa melihat ekspresiku yang sedang penuh hasrat. Jika menunduk, aku akan melihat dua tangan yang sedang bergerak bebas di area dadaku. Saat aku tidak tahu harus berbuat apa, aku merasa pria di belakangku makin mendekat.
"Nyonya, nyaman?"
Louis bergerak makin kuat, sedangkan hasratku juga makin tinggi. Tidak, ini terlalu memalukan. Baik itu cairan di dada atau yang ada di antara kedua kaki, semuanya ... sudah hampir menetes.
Aku meraih tangan Louis dan hendak membuka jarinya satu per satu.
"Nggak usah lagi. Saluran ASI-ku nggak tersumbat .... Bagian ini nggak perlu dipijat."
"Mana bisa begitu!" Kevin langsung duduk dan berbalik menghadapku.
"Sayang, meskipun saluran ASI-mu nggak tersumbat, pijatan seperti ini punya efek pencegahan. Kalau sudah terlanjur bengkak, semuanya sudah terlambat."
Aku menggigit bibir dan mencoba mencari alasan untuk menjelaskan. Namun, aku tidak menyangka Kevin akan langsung berujar, "Sayang, kamu malu, ya? Ini normal kok. Semua rekan kerjaku yang melahirkan juga melakukan hal begini."
'Masalahnya, pijatan mereka dilapisi handuk!' seruku dalam hati. Namun, aku mau tak mau harus mengurungkan niatku untuk membatalkan pijatan ini. Apalagi, hanya ada tirai di antara kami. Bagaimana kalau aku bersikeras menolak, lalu Kevin menyingkap tirai itu dan melihat keadaanku seperti ini ....
Aku awalnya berpikir untuk bertahan, tetapi Louis berinisiatif untuk melepaskanku. Aku pun kembali berbaring di tempat tidur dengan malu. Begitu aku memejamkan mata, kakiku diposisikan menjadi bentuk M.
Louis mengenakan sarung tangan sekali pakai yang steril, lalu tersenyum padaku dengan sopan. "Nyonya, aku sudah lancarkan semua saluran energi di tubuhmu. Sekarang, yang tersisa cuma yang bagian paling penting. Di awal, kamu mungkin akan merasa agak sensitif. Ditahan bentar, ya."
Aku mencengkeram seprai dengan erat. Meskipun sudah siap secara mental, ketika benda masing itu masuk, kakiku masih tetap gemetar. Siksaan yang tidak tertahankan itu hampir membuat kepalaku meledak.
Namun, aku harus mengakui bahwa Louis sangat profesional. Dia sepertinya merasakan kerapuhan dan kegugupanku, lalu mulai menggunakan teknik pemulihan yang lebih lembut.
Tidak lama kemudian, di bawah sentuhannya yang penuh perhatian, tubuhku mulai terasa nyaman dan aku juga secara tidak sadar mulai rileks. Bahkan ketika aku memejamkan mata dan tenggelam dalam irama, pinggangku masih ikut berayun mengikuti gerakan jarinya.
Pada saat ini, sesi Kevin sudah selesai.
"Sayang, kalian masih butuh berapa lama lagi?"
Pertanyaan itu terdengar seperti menyiratkan sesuatu. Namun, sekujur tubuhku saat ini terasa panas dan tenggorokanku juga sangat kering hingga aku tidak dapat mengeluarkan suara.
Louis menjawab pertanyaan Kevin dengan penuh perhatian, "Tuan, kita baru mulai masuk ke intinya. Mungkin masih perlu sekitar satu jam lagi."
"Selama itu? Kalau begitu, aku tunggu di luar, ya. Sayang, kamu nikmati saja pijatannya dengan baik."
Seiring dengan suara pintu yang tertutup, ruang pijat kecil ini menjadi begitu sunyi hingga hanya detak jantungku yang terdengar.
Aku diam-diam mengulurkan tanganku ke bawah. Seprainya sudah basah kuyup. Aku benar-benar merasa malu karena menunjukkan sisi seperti ini di depan pria asing.
Setelahnya, aku memejamkan mata dan tidak berani melihat apa-apa lagi. Aku juga terus-menerus mencuci otakku dalam hati. Ini semua demi pemulihan. Justru karena aku bereaksi, itu baru membuktikan bahwa efeknya memang bagus. Jadi, tidak masalah ....
"Sepertinya Nyonya masih sangat gugup?"
Suara Louis yang magnetis bergema di ruang kecil ini. Aku pun menggeleng dengan malu-malu. Pada detik berikutnya, seolah-olah ingin menghukumku karena berbohong, dia langsung mengaitkan jarinya. Gesekan yang berulang itu langsung membuatku bergejolak. Aku yang tersiksa nyaris menangis.
"Nyonya, ditahan-tahan seperti ini pasti sulit banget, 'kan?"
Louis mengangkat alisnya dan tersenyum jahat. Dia meletakkan kedua tangannya di pangkal pahaku, lalu langsung membenamkan kepalanya di sana.
"Jangan khawatir, ini langkah terakhir dari perawatan pemulihan ini. Namanya penyatuan dengan jiwa."
Bab 3
Aku memejamkan mata rapat-rapat dan tidak berani melihat lagi. Tiba-tiba, terasa sensasi dingin. Minyak esensial yang mengalir itu langsung menghilangkan panas yang berlebih.
Louis tersenyum tipis. "Ini obat cair yang aku kembangkan secara eksklusif, juga sangat efektif dalam memperbaiki kerusakan."
Jadi, ini yang dimaksudnya. Aku mengira dia ingin memanfaatkan ketidakhadiran Kevin untuk ....
Begitu memikirkan hal itu, jantungku langsung berdetak kencang. Aku merasa malu dengan pikiran tak senonoh yang ada dalam benakku.
Entah berapa lama waktu sudah berlalu, Louis melepas sarung tangannya dengan sopan. Semuanya telah berakhir.
Saat keluar, Kevin sedang mengobrol dengan terapis wanita itu dengan antusias. Mungkin karena ada bekas luka di wajahnya, dia selalu menunduk. Akan tetapi, itu tidak menghalanginya digoda oleh Kevin.
Aku sedikit tidak senang. Baru saja aku hendak meminta Kevin untuk mengganti terapis wanita, kata-kata Kevin selanjutnya membuatku terpaku di tempat. "Sayang, kenapa wajahmu begitu merah?"
Aku menggigit bibirku dan melirik ke arah cermin di sebelahku secara refleks. Benar saja. Saat ini, kedua pipi wanita muda di cermin terlihat merah merona, seolah-olah baru saja melewati gejolak batin yang mendalam.
Gawat, apa Kevin menemukan sesuatu? Aku menelan ludah dengan gugup dan menjelaskan dengan terbata-bata, "Ini bukan ... emm ... Teknik pijat Louis lumayan bagus, jadi aku ...."
"Duh, Sayang. Aku tahu. Aku cuma bercanda denganmu. Kenapa kamu begitu gugup?"
Kevin menepuk-nepuk bahuku untuk menghiburku. Kemudian, dia mengeluarkan sebuah amplop merah dan berjalan ke depan Louis. "Louis, terima kasih sudah memijat istriku dengan baik. Ini sedikit bonus dariku. Kuserahkan istriku padamu selama sebulan ini."
Louis mengangguk dan tersenyum sopan. Matanya yang tajam menatapku dan menyiratkan makna yang sulit dijelaskan.
"Jangan khawatir, Tuan. Istrimu bukan cuma cantik dan baik hati, tapi juga sangat kooperatif. Aku justru bersyukur bisa bertemu klien sepertinya," ujar Louis. Dia tidak lupa menekankan kata "kooperatif".
Aku tahu, dia memang sengaja!
Untungnya, Kevin tidak terlalu memikirkannya. Aku merasa bersalah karena kejadian ini. Meskipun agak keberatan, aku akhirnya tidak jadi meminta Kevin untuk mengganti terapis wanita.
Keesokan harinya, Louis datang ke kamarku untuk melanjutkan perawatan. Mungkin karena Kevin tidak hadir, teknik pijatannya lebih berani hari ini. Hanya dalam sekejap, wajahku sudah semerah tomat. Meskipun aku mengerti bahwa ini adalah proses yang perlu kulalui, aku masih merasa kurang nyaman.
"Permisi, apa aku harus dipijat seperti ini setiap hari selama sebulan ini?"
Mendengar pertanyaan itu, Louis menghentikan gerakannya dan menjawab, "Benar, Nyonya. Nyonya nggak suka?"
Seusai berbicara, Louis tersenyum tipis dan mulai menggerakkan jarinya secara perlahan. Ketika melihat gerakannya yang sensual, tubuhku terasa panas lagi.
Tidak, tidak bisa. Jika ini terus berlanjut, aku pasti akan melakukan sesuatu yang mengecewakan Kevin. Aku tidak ingin menjadi wanita sejahat itu.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan emosiku yang aneh, lalu menggigit bibirku dan mencoba menggunakan rasa sakit untuk menenangkan pikiranku.
"Louis, perilaku seperti ini seharusnya sudah melewati batas perawatan yang semestinya. Tolong jaga sikapmu."
Louis mungkin tidak menyangka bahwa aku yang sudah begitu bergairah di bawah sentuhannya masih bisa mengucapkan kata-kata sekasar itu. Dia pun mengerutkan bibir dan tertegun sejenak. Kemudian, dia menggeleng sambil menahan diri.
"Maaf, Nyonya. Aku sudah membuatmu salah paham. Aku cuma mau buktikan kemampuan profesionalku padamu. Tapi, maafkan kejujuranku. Perawatan seperti ini harus dipertahankan paling nggak setengah bulan. Dengan begini, kekencangan seperti sebelum menikah baru bisa dikembalikan."
Masih perlu dilanjutkan selama setengah bulan? Sejujurnya, aku hampir menyerah dan mencari pusat perawatan lain. Namun, sahabatku pernah melakukan penelitian sebelum melahirkan. Pusat perawatan ini memang yang paling bisa membantu pemulihanku.
Meskipun Louis mungkin memiliki motif tersembunyi, aku harus mengakui bahwa setelah dua kali perawatan, aku memang bisa merasakan perubahan di bawah sana.
Aku pun menghela napas. "Baiklah kalau begitu. Lagian, sebelum hamil, ukuran Kevin pas kok. Kalau nggak pulih, memang harus ...."
"Hahaha."
Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, Louis sudah tertawa.
"Nyonya, sebenarnya, kekencanganmu saat ini nggak jauh berbeda dengan kekencangan gadis muda pada umumnya. Kalau ukurannya pas sebelum hamil, itu berarti suamimu lebih ...."
Louis tidak mengucapkan kata terakhir. Namun, tanpa berpikir panjang, aku bisa menebak apa maksudnya.
Apa maksudnya ini? Sebagai klien, kami membayar untuk datang perawatan di sini, tetapi kami malah ditertawakan? Aku yang pada dasarnya sudah tidak puas dengan Louis pun merasa makin kesal lagi. Amarahku juga langsung melonjak.
"Apa maksudmu? Kamu nggak takut aku mengadukanmu ke atasanmu!"
"Jangan, Nyonya. Berhubung begitu, aku cuma bisa pakai teknik rahasiaku yang eksklusif sebagai kompensasi."
Baru saja dia selesai berbicara, telingaku langsung berdengung. Dalam sekejap, aku merasa seluruh tubuhku seperti sudah tersengat listrik. Aku pada dasarnya sudah dibakar api hasrat. Sekarang, hasrat itu makin tidak bisa dikendalikan.
"Kamu ... cepat berhenti ...."