Đang tải thông tin quảng bá...
Tunanganku Mendonor Ginjalku
Aku dan adik perempuanku adalah saudara kembar. Kami sama-sama menderita penyakit ginjal yang parah. Kami akhirnya mendapatkan dua buah ginjal dari donor. Dokter ingin mentransplantasikan masing-masin...
Chương (1)
第1章
Aku dan adik perempuanku adalah saudara kembar. Kami sama-sama menderita penyakit ginjal yang parah.
Kami akhirnya mendapatkan dua buah ginjal dari donor. Dokter ingin mentransplantasikan masing-masing satu pada kami.
Namun, adikku menangis dalam pelukan tunanganku. Dia ingin kedua ginjal itu untuk dirinya sendiri.
Aku menolak, jadi tunanganku mengurungku di rumah dan mempersilakan adik perempuanku menerima kedua donor ginjal itu.
Dia memegang daguku sambil berujar memperingatkanku.
"Sakitmu nggak selama adikmu. Dia hanya ingin hidup seperti orang normal. Kenapa kamu begitu egois? Apa kamu nggak bisa menunggu ginjal berikutnya?"
Sayangnya, tunanganku tidak tahu bahwa aku tidak dapat menunggu ginjal berikutnya karena aku akan segera meninggal.
Bab 1
Saat mengetahui ada dua sumber ginjal dan kami berdua bisa sama-sama mendapatkan transplantasi ginjal, aku menangis bahagia.
Setelah menunggu selama tiga tahun, pernikahanku dengan Hansen Juandi yang selama ini selalu ditunda akhirnya bisa terlaksana. Setelah menjalani operasi transplantasi ginjal, aku bisa menikah dengannya tanpa beban psikologis apa pun.
Saat aku tengah asyik menanti pernikahanku, adikku, Lidya Trioko, berlutut di hadapanku.
"Kak, aku sudah sakit selama bertahun-tahun dan aku benar-benar ingin merasakan punya tubuh yang normal. Kakak mau nggak memberiku kedua ginjal donor itu?"
Aku tercengang, aku tidak percaya Lidya memiliki niat seperti ini.
Sebelum aku bisa mengatakan apa pun, Lidya mencengkeram celana panjangku dan memohon dengan suara pelan.
"Kak, aku sudah sepuluh tahun lebih lama sakit daripadamu. Aku ingin sekali menjadi seperti orang normal."
"Aku mohon, berikan kedua ginjal itu padaku dan tunggu donor berikutnya. Kak Hansen pasti akan mencarikannya untukmu."
Sejak kecil, Lidya memang sangat egois. Dia selalu merebut barang-barangku dengan memanfaatkan penyakitnya, tapi tidak kusangka dia bahkan tega merebut ginjalku.
Aku melepaskan tangannya dan menolak permintaannya.
"Kedua ginjal donor itu diperuntukkan kita masing-masing. Sekalipun kamu mau dua-duanya, pihak rumah sakit nggak akan setuju."
"Aku juga lebih nggak setuju. Aku akhirnya menemukan ginjal donor. Aku hanya perlu menunggu operasi, lalu setelah itu bisa menikah dengan Hansen."
"Lagi pula, aku juga nggak tahu apa umurku akan cukup panjang untuk mendapatkan donor berikutnya. Lidya, hidup dengan satu ginjal juga cukup."
Begitu aku selesai berbicara, seseorang pun bergegas masuk. Orang itu membantu Lidya bangkit berdiri dari atas lantai dengan hati-hati, lalu langsung menuduhku.
"Revina, kok kamu tega membiarkan Lidya tergeletak di lantai begini. Dia itu sakit parah, apa kamu ingin membunuhnya!"
Aku menatap tunanganku yang tengah melindungi Lidya mati-matian itu dengan ekspresi datar, lidahku mendadak terasa pahit.
Sejak kapan Hansen dan Lidya menjadi begitu dekat?
Lidya menangis di pelukan Hansen, dia terlihat begitu menyedihkan,
"Kak Hansen, ini bukan salah Kakak. Kakak hanya … nggak mau mendonorkan ginjalnya padaku."
"Lebih baik aku mati saja. Aku nggak bisa hidup seperti orang normal, jadi lebih baik aku mati saja."
Begitu mendengar ucapan Lydia, ibuku yang baru saja masuk ke dalam rumah pun sontak menamparku dan memakiku dengan lantang.
"Bisa-bisanya aku melahirkan putri sekejam kamu yang tega membunuh adiknya sendiri!"
"Sejak kecil kamu memang licik dan suka sekali menindas Lidya. Sekarang, kamu bahkan nggak mau memberikan ginjal donormu pada Lydia. Jangan kira aku nggak tahu apa rencanamu!"
Ketika Hansen melihatku ditampar, dia mengernyit dan hendak berjalan menghampiriku. Namun, Lydia menghentikannya.
Adikku itu menangis dengan makin pilu.
"Ibu, setelah aku meninggal, Ibu harus baik-baik sama Ayah. Ibu telah memberikan begitu banyak padaku selama ini. Maaf aku belum sempat berbakti pada Ibu."
"Kak Hansen, terima kasih telah mencarikan ginjal untuk kami. Tapi, aku nggak pantas menerimanya. Aku akan membalas budi baikmu di kehidupan selanjutnya ...."
Mendengar ancaman Lydia, ibu kami segera memeluknya dengan gelisah dan membujuknya dengan manis.
Bab 2
Hansen juga menatapku dengan tajam, nada bicaranya terdengar sangat kecewa.
"Revina, aku benar-benar nggak menyangka ternyata sifatmu begini. Pendonor ginjal itu aku yang temukan, jadi kamu nggak berhak memutuskan!"
Ini benar-benar konyol.
Perkataan itu keluar dari tunanganku yang telah bersamaku selama delapan tahun dan mengatakan bahwa dia sangat mencintaiku.
Ekspresiku pun menjadi dingin. Aku berkata kepada Hansen dengan nada dingin yang belum pernah kugunakan.
"Kamu pikir aku yang salah setiap kali dia menangis? Kamu itu tunangannya atau tunanganku?"
"Hansen, kamu harus paham sesuatu. Dia itu meminta dua ginjal! Siapa yang sebenarnya memaksa siapa untuk mati, hah!"
...
Sebersit cahaya pun berkilat dalam pandangan Hansen. Dia memperhalus nada bicaranya dan memperlembut suaranya.
"Revina, berikan saja kedua ginjal donor itu ke Lidya. Aku akan mencari pendonor lain buatmu secepatnya."
Aku sontak menatap Hansen dengan tidak percaya.
Ternyata dia tahu bahwa Lidya menginginkan dua ginjal!
Aku menatap ibuku lagi yang ekspresinya terlihat sangat serius seolah-olah kedua ginjal itu memang seharusnya menjadi milik Lydia seutuhnya.
Benar-benar konyol.
Aku refleks tertawa terbahak-bahak.
"Hansen, kita sudah bersama selama delapan tahun dan kupikir aku sangat mengenalmu. Ternyata aku nggak sadar kalau kamu entah sejak kapan kamu punya hubungan dengan Lidya."
"Kalau aku bilang menurut dokter kondisiku memburuk dan aku akan mati apabila nggak menjalani transplantasi kali ini, apa kamu masih akan bersikeras memintaku menyerahkan ginjal donorku pada Lydia?"
Hansen buru-buru menarikku untuk bicara, tetapi Lydia menyelanya dengan menangis.
"Kak, kamu salah paham sama aku dan Kak Hansen. Sekalipun kamu nggak mau aku menjalani transplantasi, kamu juga nggak seharusnya pakai alasan seperti itu untuk membuat Kak Hansen khawatir."
Ibuku ikut menimpali.
"Aku sudah tanya ke dokter kemarin. Dokter bilang kondisimu stabil dan kamu dapat menunggu sepuluh tahun lagi untuk pendonor baru."
Sorot tatapan Hansen langsung berubah.
"Revina, kamu benar-benar berubah. Ke mana perginya sosokmu yang dulu baik dan polos itu?"
"Atau seperti kata Bibi, kamu sejak kecil memang sosok kakak yang suka menipu, berbohong dan menindas?"
Aku tidak menjawab pertanyaan Hansen. Aku mendorongnya menjauh dan bersiap untuk pergi menemui dokter.
"Aku bisa hidup dengan baik walau hanya memiliki satu ginjal. Kalaupun aku nggak mau ginjal donor itu, dokter juga nggak akan memberikan keduanya buat Lidya. Lupakan saja ide ini!"
Ekspresi ibuku langsung berubah. Dia menghentikanku pergi.
Saat aku meronta, Hansen diam-diam mendekatiku. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan, yang jelas pandanganku menggelap dan aku pingsan.
...
Saat tersadar, aku berada di sebuah vila di pinggiran kota.
Hansen sedang berdiri di depan sebuah jendela bergaya barat dan berujar dengan lembut di telepon.
"Tenanglah dan siap-siap saja untuk operasi. Aku akan menyuruh orang untuk mengurusnya."
"Lidya, kamu ditindas oleh kakakmu karena kamu terlalu baik. Kalau waktu itu kamu nggak menyeret tubuhmu yang sakit untuk menyelamatkanku, aku pasti sudah mati."
"Aku …."
Belum sempat Hansen selesai bicara, dia mendengarku bangun di belakangnya. Dia pun menoleh menatapku, lalu berkata lagi di telepon.
"Aku masih ada urusan lain, jadi kututup dulu teleponnya."
Aku baru tersadar sedang menangis saat air mata yang dingin mengalir di pipiku dan masuk ke mulutku.
Hansen yang dulu selalu merasa iba setiap melihatku menangis kini menatapku dengan dingin dan sedikit tidak sabar.
"Kamu sebaiknya tinggal di vila untuk sementara waktu. Kamu baru boleh ke rumah sakit setelah operasi Lydia selesai."
Aku menyeka air mataku dan bertanya.
"Kamu mencintainya? Kamu bahkan nggak peduli kalau aku sampai mati?"
Hansen mengernyit dan menjawab dengan nada datar.
"Revina, jangan menggunakan kedok cinta untuk mengancamku dengan kematian."
"Kamu tahu aku benci diancam."
Hansen pun membungkuk, satu tangannya menopang di atas tempat tidur dan satu tangannya lagi memegang daguku. Dia berujar memperingatkanku.
"Sakitmu nggak selama adikmu. Dia hanya ingin hidup seperti orang normal. Kenapa kamu begitu egois? Apa kamu nggak bisa menunggu ginjal berikutnya?"
Bab 3
Aku balas mencibir.
"Hansen, berapa kali sih aku harus bilang kalau sekarang nyawaku terancam dan aku nggak ada waktu lagi menunggu pendonor berikutnya!"
Hansen mendorongku ke atas kasur dengan kesal.
"Kamu mau mempertaruhkan nyawamu demi sebuah ginjal?"
"Karena kamu sendiri yang terus mengatakan akan mati, ya sudah sana mati saja!"
Setelah itu, Hansen langsung berjalan keluar dari kamar.
Tidak lama kemudian, aku mendengar suara mobil di lantai bawah sana. Hansen pun meninggalkan vila ini.
Aku tidak dapat bertahan lagi. Darah menyembur dari mulutku dan aku pingsan di atas tempat tidur.
...
Entah berapa lama kemudian, yang jelas aku terbangun oleh dering telepon.
Aku membuka mataku dengan bingung dan tidak ingin menjawab, tetapi telepon yang terletak di samping tempat tidur itu terus berdering.
Begitu kuangkat, suara sombong Lidya langsung terdengar dari ujung telepon sana.
"Kak, bagaimana rasanya dikurung sendirian di vila?"
Karena aku hanya diam, Lidya pun terus berujar dengan nada menantang.
"Kak Hansen bilang dia telah mengatur telepon itu supaya hanya bisa menerima panggilan, tapi nggak bisa melakukan panggilan keluar. Jadi, jangan coba-coba meminta bantuan."
Rasa perih yang menusuk dari ujung hatiku membuatku sangat kesakitan, rasanya tubuhku nyaris mati lemas.
Hansen tega mengurungku di vila dan memutuskan semua kontakku dengan dunia luar semata-mata agar aku tidak bisa mengusik operasi Lidya.
Ternyata aku sudah begitu buta sampai-sampai mencintai pria seperti itu selama delapan tahun.
"Kak, kamu pasti nggak tahu bahwa waktu kamu masuk ICU, Kak Hansen nggak menemanimu dan lebih memilih untuk menemaniku."
"Begitu aku menangis, dia langsung ingin memberiku seluruh dunia."
"Termasuk nyawamu ...."
Aku segera menutup telepon itu. Hidungku terasa pedih dan mataku langsung berkaca-kaca.
Aku buru-buru menundukkan kepalaku sehingga air mataku menetes meninggalkan bekas di atas selimut.
Saat aku dirawat di ICU adalah momen paling dekatku dengan kematian.
Saat perawat mengobrol di samping tempat tidurku, aku baru tahu bahwa ibuku bergegas datang untuk menandatangani surat keterangan aku sedang kritis sebelum buru-buru pergi lagi.
Nada bicara mereka terdengar sangat kasihan.
"Pasien ini kasihan sekali. Padahal lagi di ICU, tapi nggak ada seorang pun anggota keluarga yang menjenguknya."
"Dokter sudah meminta ibunya untuk tetap di sini, tapi si ibu bilang minta perawat saja yang mengurus pasien karena putrinya sedang dirawat akibat patah kaki. Si ibu jelas-jelas pilih kasih sama adik si pasien. Masa iya patah kaki lebih serius daripada pasien yang dirawat di ICU?"
"Lagi pula, katanya si adik itu dijaga oleh pacarnya yang kaya. Harusnya si ibu nggak perlu mengkhawatirkannya."
Aku masih menghirup oksigen dengan mata terpejam, tetapi air mataku mengalir dari sudut mata. Aku merasa begitu sedih, rasanya seperti ada bagian yang hilang dari hatiku. Rasa sakitnya begitu hebat sampai-sampai aku merasa sesak.
Saat itu, aku bertanya-tanya sejak kapan Lidya mulai punya pacar.
Dua hari setelah aku dipindahkan ke kamar rawat biasa, Hansen akhirnya tiba. Dengan lambaian tangannya, dia memindahkanku ke kamar rawat kelas atas.
Dia bilang terlambat pulang karena habis dinas ke luar negeri.
Aku percaya begitu saja. Saat memeluk Hansen, rasanya semua kesedihanku lenyap.
"Hansen, kukira kamu meninggalkanku begitu saja."
"Kalau aku nggak bisa melihatmu untuk terakhir kalinya, aku pasti nggak akan mati dengan tenang."
Hansen balas memelukku dengan erat. Dia mencium keningku dan membisikkan sebuah janji.
"Revina, jangan menakut-nakutiku dengan mengatakan hal-hal seperti itu. Nggak akan kubiarkan kamu kenapa-kenapa. Aku akan selalu berada di sisimu."
Akal sehatku pun kembali dan tersenyum pucat menatap noda darah di atas lantai.
Hansen, kamu sudah bilang tidak akan membiarkan aku kenapa-kenapa dan akan selalu bersamaku.
Namun, di mana kamu saat sekarang aku akan mati?