Đang tải thông tin quảng bá...
Takkan Kembali ke Dekapan Penderitaan
Aku sudah delapan tahun menikah dengan suamiku, Rangga. Selama itu, dia sudah membawa pulang 99 wanita lain ke rumah. Sekarang, aku menatap gadis muda yang ke-100 di depanku. Dia menatapku dengan mena...
Chương (1)
第1章
Aku sudah delapan tahun menikah dengan suamiku, Rangga. Selama itu, dia sudah membawa pulang 99 wanita lain ke rumah.
Sekarang, aku menatap gadis muda yang ke-100 di depanku. Dia menatapku dengan menantang, lalu menoleh dan bertanya, "Pak Rangga, ini istrimu yang nggak berguna itu ya?"
Rangga bersandar santai di kursinya sembari menjawab, "Ya."
Gadis muda itu berjalan ke arahku dan menepuk pipiku, lalu berkata sambil tersenyum, "Malam ini, dengarkan baik-baik gimana jadi wanita yang hebat!"
Malam itu, aku terpaksa duduk di ruang tamu mendengarkan suara erangan dari kamar sampai fajar menyingsing.
Pagi harinya, Rangga menyuruhku menyiapkan sarapan seperti biasa.
Aku menolak. Sepertinya dia lupa, pernikahan kami hanya pernikahan kontrak. Dan hari ini, adalah tiga hari terakhir sebelum kontrak itu berakhir.
Bab 1
Rangga tampak agak terkejut saat mendengar penolakanku. Selama delapan tahun, ini pertama kalinya aku menolak permintaannya. Dia menatapku dari atas ke bawah, lalu memicingkan mata.
"Rinoa, semalam kamu habis kena sesuatu? Otakmu masih waras nggak?"
Aku tidak menjawab, melainkan hanya menatapnya dalam diam. Beberapa saat kemudian, Rangga terlihat tidak nyaman karena tatapanku. Dia mendengus kesal dan berkata, "Ya sudah kalau nggak mau kerjakan. Nggak usah tatap aku begitu, menyebalkan!"
Sambil berkata demikian, dia melambaikan tangan dan menyuruh pembantu untuk menyiapkan sarapan. Saat itu juga, gadis muda yang kemarin dibawa pulang olehnya berjalan mendekat sambil tersenyum ceria. "Kakak, gimana setelah kamu dengar kemarin? Seru nggak?"
Gadis itu masih hendak bicara, tapi langsung ditarik kembali oleh Rangga. "Jangan banyak omong. Sana, cuci muka, sarapan."
Gadis itu menoleh padaku dan mengedip. Sorot matanya penuh dengan kepuasan yang hampir meluap.
Di meja makan, Rangga dan gadis itu makan sambil saling menggoda. Aku tidak mengangkat kepala, pikiranku sibuk memikirkan bagaimana menjalani hari-hari ke depan.
Entah berapa lama kemudian, tiba-tiba lenganku ditepuk seseorang. Aku mendongak dan melihat Rangga berdiri di sampingku dengan ekspresi datar.
"Ada apa?" tanyaku heran.
Rangga menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak. "Kamu lagi mikirin apa sampai segitunya?"
Aku terdiam sejenak, lalu menjawab dengan jujur, "Aku lagi mikirin ... ke depannya aku harus ngapain."
Rangga mendengus pelan. "Kamu bisa apa? Selain bersih-bersih sama masak, ada lagi yang kamu bisa?"
Saat mendengar dia mengucapkan kata-kata merendahkan itu dengan begitu alami, aku juga tidak bereaksi terlalu besar. Sepertinya aku memang sudah terbiasa dengan cara bicaranya yang seperti itu.
Selama delapan tahun pernikahan, demi merawat Rangga dengan baik, aku hampir mengorbankan seluruh waktu pribadiku. Setiap hari hidupku selalu berputar di sekelilingnya. Aku bahkan hampir lupa seperti apa diriku yang dulu penuh dengan mimpi dan harapan.
Delapan tahun lalu, ibuku sakit parah dan membutuhkan uang dalam jumlah besar. Saat aku benar-benar tidak punya jalan keluar, Rangga muncul.
Dia mengatakan bisa memberiku 10 miliar. Namun, syaratnya aku harus menikah dengannya secara kontrak untuk membantunya menghadapi orang-orang dari Keluarga Baskara.
Demi ibu, aku menyetujuinya.
Selama delapan tahun ini, aku menyaksikan sendiri dia membawa pulang berbagai macam wanita. Pernah suatu kali, saat Rangga sedang mabuk, dia menatapku dengan sangat serius dan berkata, "Rinoa, kita ini berasal dari dua dunia yang berbeda. Kamu jangan sampai punya perasaan padaku."
Aku selalu mengira Rangga memang tidak tahu caranya menyukai seseorang. Namun baru tahun lalu aku tahu, dia pernah punya cinta pertama yang meninggal karena sakit.
Gadis yang dibawanya pulang kemarin ... wajahnya hampir mirip dengan cinta pertamanya itu.
Jadi, saat Rangga membawa gadis itu sarapan bersama pagi ini, aku sama sekali tidak terkejut. Bahkan, aku mulai menghitung-hitung kapan waktu yang paling tepat untuk pergi.
Melihat aku hanya diam, Rangga memanggil namaku dengan kesal. Barulah aku tersadar dari lamunan. "Aku ingin keluar mencari pekerjaan," ucapku tenang sambil menatapnya.
Bab 2
Rangga mencibir pelan. "Yang seperti kamu ini ... paling cocok kerja di Grup Baskara jadi petugas kebersihan. Kamu bahkan masih kalah dari Coco yang baru lulus itu."
Saat aku hendak membuka mulut, Coco keluar dari kamar tidur. "Kak Rangga, aku cantik nggak pakai baju ini?"
Yang dia kenakan adalah pakaian yang setiap tahun dibelikan Rangga untuk cinta pertamanya. Waktu itu aku pernah tidak sengaja menyentuh baju itu saat bersih-bersih, lalu Rangga langsung menamparku. Namun sekarang, dia malah menatap Coco dengan puas.
"Bagus. Kalau mau, semua baju di dalam bisa kamu pakai sesuka hati."
Coco tersenyum bangga, lalu sengaja menoleh padaku dan berkata, "Kak Rinoa, menurutmu aku cantik nggak?"
Aku mengangguk tulus padanya, lalu memuji, "Cantik! Cocok sekali untukmu."
Ucapanku membuat dia sempat terpaku sejenak. Sebelum dia sempat merespons, aku sudah berbalik masuk ke kamar.
Tiga hari lagi aku bisa pergi dari sini. Aku harus mulai membereskan barang-barangku.
....
Baru saja aku berbaring di atas tempat tidur, ponselku berdering. Ternyata panggilan dari Rangga. "Coco mau balik ke kampus. Kamu antar dia."
Aku mengerutkan kening dan menjawab, "Bukannya ada sopir di rumah?"
Rangga sudah dua kali ditolak hari ini, nada bicaranya mulai terdengar agak marah. "Susah sekali ya sekarang kamu disuruh bantu-batu?"
Sebelum dia semakin marah, aku langsung menyetujuinya. Barulah dia terdengar puas, "Bukannya bagus kalau dari awal kamu setuju ...."
Aku berganti pakaian, lalu keluar kamar. Di halaman, Rangga sedang berdiri bersama Coco menungguku. "Cepat! Coco mau ujian, jangan tunda-tunda waktunya!"
Coco tersenyum manis padaku, "Makasih ya, Kak Rinoa."
Sebelum berpisah, Coco dan Rangga berciuman panas di halaman depan. Setelah masuk ke dalam mobil, Coco melirik ke arahku dengan tatapan penuh tantangan. "Maaf ya, Kak Rinoa. Kak Rangga terlalu panas. Dia begitu juga nggak sama kamu?"
Melihat aku tidak menjawab, Coco tertawa puas. "Laki-laki seperti Kak Rangga mana mungkin tertarik sama kamu. Wanita tua yang membosankan."
Mungkin karena sejak tadi aku tidak menanggapi, Coco pun merasa ucapannya tidak seru lagi. Tak lama kemudian, dia jadi diam.
Saat kami hampir tiba di kampusnya, tiba-tiba sebuah mobil kecil dari arah berlawanan kehilangan kendali dan menabrak ke arah kami. Aku buru-buru membanting setir untuk menghindar.
Meski aku sudah bereaksi secepat mungkin, tetap saja mobil itu menabrak kami. Mobil berhenti total dan seketika rasa nyeri yang luar biasa menjalar di kakiku.
Terdengar suara rintihan Coco dari belakang. Saat aku menoleh, kulihat hanya ada luka gores kecil di tangannya. Waktu itu aku sempat berpikir, mungkin dia mengalami luka dalam yang tidak terlihat.
Tak lama kemudian, petugas medis tiba di lokasi dan segera mengevakuasi kami.
Hasilnya, tulang kering di kaki kiriku patah. Sementara Coco ternyata benar-benar hanya mengalami sedikit luka gores di lengan.
Setelah lukanya selesai dibalut, Rangga datang ke lokasi. Dia langsung berlari menghampiri Coco dan bertanya dengan panik apakah dia baik-baik saja.
Coco mengatakan bahwa tangannya sakit dengan nada manja. Rangga pun segera menyuruh sopir mengantar Coco ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut.
Dua kali dia berjalan melewatiku, dan dua kali itu pula matanya tidak pernah sekali pun berhenti menatap ke arahku.
Aku tersenyum tipis tanpa bersuara. Rasa sakit di kakiku seolah tertutupi oleh nyeri di tempat lain yang lebih dalam. Saat aku dibawa ke rumah sakit, aku mendengar dua perawat berbicara, "Pak Rangga baik sekali sama pacarnya ya. Tangannya cuma luka gores sedikit, tapi dia sampai heboh minta dokter spesialis untuk periksa."
"Mau cari ke mana pria yang segitu sayangnya sama pacar dan kaya pula. Kalau nikah sama dia, pasti bahagia sekali, 'kan?"
Bab 3
Dalam hati aku menjawab pelan, 'Menikah dengan Rangga sama sekali bukan hal yang membahagiakan.'
Sebelum dokter mendorongku masuk ke ruang operasi, aku melihat Rangga berjalan ke arahku sambil menggandeng tangan Coco.
"Kamu gimana?" Dia mengerutkan kening menatapku. "Nyetir saja nggak bisa konsentrasi? Untungnya Coco kali ini nggak kenapa-kenapa."
Dari ruangan sebelah, Coco berkata dengan penuh rasa bersalah, "Semua ini salahku. Aku yang minta Kak Rinoa ngantar aku ke kampus, sampai jadi kecelakaan begini."
Rangga langsung memeluknya dan membujuk dengan lembut, "Bukan salahmu. Kamu juga terluka. Sayang, ayo kubawa makan malam."
Saat itu, dokter datang memberi tahu bahwa ruang operasi sudah siap. Rangga sempat melirikku dengan sedikit terkejut. Namun, perhatiannya langsung kembali teralihkan saat Coco menggandeng lengannya sambil merengek.
Operasinya berjalan lancar. Ketika seorang perawat bertanya apakah aku sudah menghubungi keluarga,
aku terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab, "Nggak usah. Aku nggak punya keluarga."
....
Selama dirawat di rumah sakit, aku menyewa perawat pribadi untuk menjagaku. Sementara itu, Rangga setiap hari pergi jalan-jalan bersama Coco.
Coco hampir setiap hari mengirimkan foto-foto kegiatan mereka padaku. Mereka pergi ke pantai, menyelam, melihat langit berbintang di bawah laut. Berfoto mesra dan berciuman di berbagai tempat wisata.
Melihat foto-foto itu, aku tidak merasakan apa pun.
Akhir-akhir ini aku sedang sibuk bersama Anita mempersiapkan studio penelitian biologi. Selama delapan tahun terakhir, di sela-sela waktu luangku, aku membantu Anita dalam pengembangan produk. Dia sudah lama memintaku membuka studio bersamanya, tapi dulu aku belum menyetujuinya.
Banyak teman yang mengatakan bahwa aku menyia-nyiakan delapan tahun hidupku hanya demi pernikahan kontrak. Namun, aku tidak menyesal.
Karena bagiku saat itu, tidak ada yang lebih penting dari ibuku.
Sekarang kontrakku dengan Rangga sudah selesai. Aku benar-benar bebas.
Di hari ketika aku akan keluar dari rumah sakit, Rangga tiba-tiba meneleponku. "Kapan kamu pulang? Rumah sekarang berantakan. Belum keluar dari rumah sakit juga?"
Aku tertawa pelan, lalu menyindir, "Memangnya sekarang pembantu di rumah sudah berhenti kerja?"
Rangga menjawab dengan nada tak sabar, "Kamu tahu sendiri, aku nggak suka orang lain sentuh barang-barangku. Beberapa dokumen perusahaan juga perlu kamu yang bereskan."
Aku melirik jam, baru saja hendak mengatakan bahwa aku sedang tidak ada waktu, tiba-tiba perawat muncul di depan kamar dan memanggilku untuk segera membayar biaya keluar rumah sakit.
Rangga mendengarnya dan langsung menyuruhku cepat pulang. Aku mengabaikannya. Setelah membayar biaya keluar, aku pun naik ke mobil temanku.
Anita menoleh ke arahku dan bertanya, "Sudah bebas?"
Aku tersenyum tipis, lalu menjawab dengan lega, "Semuanya sudah selesai. Tinggal urus surat cerai, habis itu aku pergi."
Anita malah lebih semangat dariku. "Ayo! Urus kontrak dulu, habis itu kita makan hotpot!"
Aku mengangguk setuju.
Saat sedang mendiskusikan detail kontrak dengannya, telepon dari Rangga masuk. Aku melihat sekilas layar ponsel, lalu menutupnya dan membiarkan Anita melanjutkan.
Dia menatapku sambil mengangkat dagu, "Sudah benar-benar nggak cinta, ya?"
Anita adalah satu-satunya orang yang tahu bahwa aku sempat punya perasaan pada Rangga. Namun, perasaan itu habis terkikis oleh luka-luka yang terus-menerus dia berikan.
Aku memandangi layar ponsel dengan kosong, lalu berkata pelan, "Ada beberapa orang yang sedari awal memang bukan berasal dari dunia yang sama."
Anita mengangguk setuju.
Setelah kontrak ditandatangani, kami pergi ke restoran hotpot langganan yang dulu sering kami datangi. Saat suapan pertama daging sapi pedas masuk ke mulutku, air mata langsung menggenang di pelupuk.
Anita tertawa melihatku. "Saking enaknya sampai mau nangis, ya?"
Aku tersenyum, tidak menjawab. Sejak bersama Rangga, aku memang tidak pernah lagi menyentuh makanan beraroma kuat seperti ini.
Bab 4
Sebab, katanya bau hotpot yang membekas di tubuh bisa mencoreng nama baik Keluarga Baskara. Selain makan hotpot, masih banyak hal lain yang bisa mencoreng nama baik. Di tempat umum, aku tidak boleh tertawa lepas, tidak boleh bicara keras ....
Delapan tahun ini, aku seakan menjadi alat tanpa emosi. Kini, seolah aku bisa mencium aroma kebebasan yang mulai mendekat, mataku terasa panas.
Saat aku pulang setelah makan hotpot, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Begitu pintu rumah dibuka, aku melihat Rangga duduk di ruang tamu dengan ekspresi dingin. Hari ini dia menelepon lebih dari sepuluh kali, tapi tak satu pun kuangkat.
"Kamu ke mana?" Aku mengganti sepatu, mencuci tangan, lalu menjawab dengan datar, "Makan bersama teman."
Rangga melangkah mendekat. Begitu mencium bau hotpot di tubuhku, wajahnya makin menggelap. "Bukannya sudah kubilang jangan makan hotpot? Baunya terlalu menyengat."
Aku menatapnya sambil tersenyum, lalu bertanya dengan heran, "Kenapa nggak masalah waktu Coco makan?"
Wajah Rangga makin jelas menunjukkan rasa jijik. "Kamu pikir kamu bisa dibandingkan dengan Coco? Lagi pula, dia bukan bagian dari Keluarga Baskara."
Aku tidak menjawab. Sekarang memang bukan. Tapi sebentar lagi akan jadi.
Lagi pula, betapa istimewanya Coco di mata Rangga, siapa pun bisa melihatnya dengan jelas.
....
Besoknya, Anita langsung terbang ke luar negeri untuk mengurus urusan studionya setelah kontrak ditandatangani. Sementara aku menghubungi pengacara dan menyusun perjanjian cerai.
Saat menatap kata-kata "keluar tanpa membawa sepeser pun", aku pun menandatangani di bawahnya.
Tepat di saat itu, Coco mengirimiku sebuah video. Isi videonya adalah sebuah aula hotel yang didekorasi dengan megah. Di panggung, sebuah papan besar bertuliskan: "Selamat datang di Acara Pertunangan Rangga dan Coco."
Rangga terlihat sedang berbicara dengan manajer hotel dan membahas detail hari pertunangan.
"Aku cuma bilang ingin bertunangan dengannya, lalu dia langsung mengabaikan pandangan masyarakat dan menggelar acara pertunangan ini untukku. Upacaranya akan diadakan dua hari lagi, kamu juga boleh datang kalau mau."
Dua hari lagi adalah hari ulang tahunku yang ke-30. Juga hari di mana aku sudah memesan tiket pesawat untuk pergi.
Aku memblokir nomor Coco, lalu menatap ruangan kecil yang luasnya tidak sampai sepuluh meter persegi ini.
Aku mulai mengemasi barang-barangku. Delapan tahun tinggal di rumah Keluarga Baskara, aku bahkan tak pernah membeli barang apa pun. Dulu aku datang hanya dengan membawa satu koper. Sekarang setelah selesai berkemas pun, yang tersisa tetap hanya satu koper.
Saat aku menarik koper ke samping, Rangga mendorong pintu masuk. "Buatkan aku bubur seafood."
Nada bicaranya yang memerintah, seolah itu adalah hal yang wajar. Kupikir, ini akan jadi yang terakhir kalinya. Jadi, aku tidak menolak.
Saat aku menyajikan bubur seafood ke meja, Rangga menatapku dengan tatapan aneh. "Kenapa akhir-akhir ini kamu nggak banyak bicara?"
Dulu, aku selalu punya topik pembicaraan setiap hari. Walau Rangga hampir tidak pernah menanggapi.
Aku menjawab seadanya, "Akhir-akhir ini tenggorokanku sakit, malas bicara."
Rangga mendengus tak senang, lalu membawa bubur seafood yang sudah dibungkus dan langsung pergi. Sampai hari dia bertunangan dengan Coco, dia tak pernah pulang.
Aku meletakkan surat perjanjian delapan tahun lalu bersama surat perjanjian cerai di atas meja. Sambil menarik koperku, aku memandangi rumah yang kutinggali selama delapan tahun ini untuk terakhir kalinya, lalu pergi menuju bandara tanpa menoleh sama sekali.
Tepat sebelum aku naik pesawat, Rangga tiba-tiba menelepon. Tanpa ragu, aku menolak panggilannya dan melemparkan kartu SIM ke tempat sampah.
Mulai hari ini, aku akan menjalani masa depan yang benar-benar milikku.