Dosenku di Siang Hari, Suamiku di Malam Hari

Đang tải thông tin quảng bá...

Dosenku di Siang Hari, Suamiku di Malam Hari

GoodNovel Hoàn thành

Dunia Arlina nyaris runtuh! Pria yang bersamanya semalam ternyata adalah dosen kampusnya. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, Arlina kini hamil! Dengan tangan gemetaran, Arlina menyerahkan hasil tes k...

Chương (1)

第1章

Dunia Arlina nyaris runtuh! Pria yang bersamanya semalam ternyata adalah dosen kampusnya. Bahkan yang lebih mengejutkan lagi, Arlina kini hamil! Dengan tangan gemetaran, Arlina menyerahkan hasil tes kehamilan kepada Profesor Rexa. Pria itu memberinya dua pilihan. Pertama, menggugurkan kandungan atau kedua, menikah. Akhirnya, Arlina yang polos itu pun menikah dengan dosennya sendiri. Setelah menikah, mereka tidur di kamar terpisah. Namun, suatu malam Rexa muncul di depan pintu kamar Arlina sambil memeluk bantal. "Pemanas di kamarku rusak, malam ini aku tidur di sini dulu," ujarnya. Arlina yang masih bingung hanya bisa mengangguk dan memberikan jalan. Keesokan malamnya, Rexa kembali datang. "Pemanasnya belum diperbaiki, aku tidur di sini lagi, ya?" Akhirnya, dia menetap di kamar Arlina dengan dalih menghemat biaya pemanas untuk persiapan kelahiran anak mereka. .... Fakultas Kedokteran Universitas Sterling adalah salah satu kampus ternama di negeri ini. Profesor Rexa adalah sosok yang sangat terkenal di sana sebagai profesor termuda di fakultas kedokteran. Di jari manisnya selalu tersemat cincin nikah, tetapi tidak pernah terlihat ada wanita bersamanya. Hingga suatu hari, rasa penasaran mahasiswa memuncak. Seorang mahasiswa memberanikan diri bertanya di kelas. "Pak Rexa, kami dengar Anda sudah menikah. Kapan Anda akan memperkenalkan istri Anda kepada kami?" Tak disangka, Rexa malah menunjuk seseorang, "Arlina." Seorang wanita profesional yang berdiri di antara mahasiswa refleks menjawab, "Hadir." Di bawah tatapan semua orang, Rexa tersenyum hangat sambil berkata, "Perkenalkan, ini istri saya, Arlina. Dia adalah seorang dokter bedah jantung yang hebat." Bab 1 "Umph ...." Pintu kamar terbuka, terlihat dua buah sosok yang masuk sambil terhuyung-huyung. Sorot mata mereka tampak mabuk. Begitu masuk, keduanya langsung saling berciuman di ambang pintu. Terdengar desahan yang saling bersahutan dan suasana kamar pun dipenuhi keintiman. "Ah ...." Arlina memekik pelan, tubuhnya diangkat dengan mudah oleh pria itu. Tubuhnya yang mungil menggeliat pelan dalam dekapan pria tersebut. Perbedaan tubuh mereka menimbulkan imajinasi liar. Pria itu membawa Arlina langsung ke tempat tidur, lalu melemparkannya ke atas kasur dengan gerakan yang begitu mudah. Tubuhnya yang tinggi dan besar menindih Arlina. Matanya memerah dan wajah yang biasanya tenang, kini memancarkan hasrat yang membara. Logikanya hancur berantakan. Arlina menggenggam erat seprai hingga jemarinya memucat. Terlintas kilatan cahaya putih dalam sorot matanya. Cahaya lampu berayun, suara desahan dan bisikan lirih memenuhi seluruh ruangan. .... "Arlin." "Arlin." Arlina Khoman terbangun dengan kaget dari mimpinya, keningnya dibasahi keringat dingin. Mimpi itu datang lagi. Sudah sebulan lebih, hampir setiap malam dia bermimpi hal yang sama. Hari libur musim panas itu adalah ulang tahun Rio. Arlina menghadiri pestanya dengan hati riang. Namun, dia baru menyadari bahwa yang diundang bukan hanya dirinya, tapi juga teman-teman sejurusan lainnya, termasuk Fanny, gadis cantik yang terkenal di kampus. Mereka duduk berdekatan dan terlihat sangat akrab. Banyak orang yang melirik ke arahnya, seolah menunggu reaksi Arlina. Arlina dan Rio memang satu jurusan, tapi beda kelas. Semua orang tahu bahwa Arlina sudah menyukai Rio selama dua tahun, bahkan Rio sendiri juga tahu. Namun, dia tidak pernah menolak perasaan Arlina secara langsung. Dari tatapan teman-temannya, jelas semua orang sudah tahu tentang Fanny dan Rio, hanya Arlina sendiri yang tidak mengetahuinya. Di satu sisi, Rio menggantungkan perasaan Arlina terhadapnya, di sisi lain dia malah bersikap mesra dengan Fanny. Tatapan teman-teman sejurusannya membuat hati Arlina tersakiti. Diam-diam dia bersumpah, tidak akan lagi melanjutkan cinta bertepuk sebelah tangan yang konyol ini. Malam itu dia minum cukup banyak, ditambah lagi dengan perasaan kesal yang menumpuk di dadanya. Saat menuju toilet, dia terhuyung-huyung dan tidak sengaja menabrak seorang pria. Saat mendongak, matanya bertemu dengan tatapan tajam pria itu. Pria yang lebih tampan dan maskulin dibandingkan Rio. Entah keberanian dari mana yang tiba-tiba muncul, Arlina langsung menarik kerah bajunya dan mendesah pelan, "Mau nggak tidur sama aku malam ini?" Selanjutnya, semua berjalan tanpa kendali. Mereka masuk ke kamar dan menghabiskan malam yang penuh gairah dan hasrat membara. Keesokan paginya, ketika keberanian yang muncul karena alkohol itu telah lenyap, Arlina baru terbangun dan mendapati dirinya telanjang bersama pria asing di ranjang. Dia panik bukan main, lalu buru-buru mengenakan pakaian dan kabur dari kamar itu. Arlina tahu dia telah melakukan kesalahan besar dan tidak berani menceritakannya kepada siapa pun. Dia bahkan tidak berani untuk mencari tahu identitas pria itu. Namun, bayangan itu terus menghantuinya. Bahkan sebulan kemudian, hampir setiap malam dia memimpikan malam itu. Bayangan tubuh yang saling membelit, napas yang terengah-engah, dan tatapan dalam dari pria itu .... "Arlin, cepat bangun! Masih sempat bengong? Baru awal masuk kuliah kamu mau telat?" Suara Tania membuyarkan lamunannya. Arlina menggelengkan kepala untuk menepis bayangan semalam dari pikirannya, lalu bangkit dari tempat tidur dengan terburu-buru. Setelah selesai mandi, Arlina memeluk buku-bukunya dan berjalan cepat bersama Tania menuju ruang kelas. "Kenapa kamu lari cepat sekali?" Arlina kesulitan mengikuti langkah Tania. "Kamu lupa hari ini ada kelas anatomi?" jawab Tania. "Belakangan ini kamu sering linglung, banyak lupa terus." Arlina baru teringat. Kabarnya, kampus mereka mendatangkan seorang profesor anatomi yang luar biasa. Lulusan Universitas Johns Hopkins yang baru pulang dari luar negeri. Baru bergabung saja sudah langsung diangkat menjadi dosen. Dia adalah profesor termuda dalam sejarah fakultas kedokteran. Berhubung profesor ini ada urusan dan belum bisa hadir sebelumnya, jadwal kelas anatomi mahasiswa terpaksa ditunda lebih dari sebulan. Kini setelah libur panjang usai, kelas pertama mereka langsung diampu langsung oleh sang profesor. "Arlin, kamu tahu nggak? Tadi pagi ada mahasiswa yang sudah ketemu sama profesornya," bisik Tania dengan nada antusias. "Katanya, profesor itu gantengnya luar biasa. Sekarang grup kampus lagi ramai ngomongin dia, banyak yang nyesal nggak ambil mata kuliahnya," ujar Tania sambil menarik tangan Arlina. "Ayo buruan! Kalau nggak, nanti kelasnya penuh sesak, kita nggak kebagian tempat duduk!" 'Mana mungkin sampai segitunya,' pikir Arlina dalam hati. Lagi pula, mereka sudah masuk tahun ketiga. Biasanya kelas pertama banyak yang bolos atau titip absen ke teman. Sering kali, daftar hadir tetap penuh walau kursi di kelas terlihat kosong. Namun, saat mereka tiba di depan ruang kelas, Arlina hanya bisa terpaku melihat pemandangan yang luar biasa ramai. Orang-orang berkerumun, sama seperti antrean heboh di supermarket saat ada promo telur murah. Tania yang sepertinya sudah memprediksi ini, hanya mendengus kecil. "Profesor ganteng lulusan kampus top ... nggak beda jauh sama suasana fans yang lagi nonton idolanya." Dia menarik tangan Arlina, lalu bergerak maju melewati kerumunan. "Permisi! Permisi! Yang cuma mau ikut dengar, jangan rebutan tempat duduk dari mahasiswa yang benaran kuliah di sini, dong!" Setelah berdesakan, mereka akhirnya menemukan dua kursi kosong dan langsung duduk. Namun, Tania tiba-tiba menunjukkan ekspresi jijik. "Huh, sial." Mengikuti arah pandangannya, Arlina melihat Rio dan Fanny sedang duduk di barisan depan. Beberapa mata kuliah penting sering menggabungkan beberapa kelas dalam satu ruang kuliah besar. Tak disangka, kali ini Arlina malah harus bertemu dengan Rio dan Fanny di sini. Keduanya tampak begitu akrab. Rio membisikkan sesuatu ke telinga Fanny, membuat gadis itu menutup mulut sambil tertawa kecil. Melihat Arlina terus memandangi mereka, Tania menghela napas. "Nggak heran akhir-akhir ini kamu kelihatan linglung. Siapa juga yang nggak sakit hati melihat orang yang disukai selama dua tahun malah pacaran sama orang lain." Arlina terkejut memandangnya. "Mereka pacaran?" "Iya, mereka resmi jadian waktu ulang tahun Rio itu. Kenapa ekspresimu seperti baru dengar soal ini?" Arlina berbisik pelan, "Memang baru tahu ...." "Jadi selama ini kamu linglung karena mikirin siapa?" Sejak masuk kuliah sebulan lalu sampai sekarang, Tania paling paham dengan kondisi Arlina. Arlina hanya terdiam. Dia tentu tidak mungkin mengatakan bahwa selama ini pikirannya kacau karena mabuk, lalu tidur dengan pria asing. Melihat Arlina tidak menjawab, Tania mengira Arlina hanya gengsi mengakuinya. Dia menepuk bahu Arlina dengan perhatian, "Nggak apa-apa. Kalau kamu bilang baru tahu juga nggak masalah." Arlina membatin, 'Memang benaran baru tahu, kok.' "Selain agak ganteng dan nilainya bagus, aku nggak ngerti dari segi mana yang bisa membuatmu naksir sama Rio. Dia itu cuma pria berengsek." "Ada banyak pria yang lebih tampan dan pintar, misalnya si profesor baru ini. Jelas jauh lebih unggul daripada dia. Arlina, gimana kalau kamu pindah hati saja?" Arlina bingung menatapnya. "Pindah ke siapa?" Tania tertawa geli. "Pindah ke profesor baru itu, dong!" Tania ini memang suka bicara sembarangan. Arlina langsung menepuk belakang kepalanya dan memaki, "Jangan asal ngomong!" Tiba-tiba, terdengar suara riuh di dalam ruang kelas. "Profesor datang! Profesor datang!" Seluruh ruang kuliah yang penuh sesak itu langsung heboh. Semua orang menegakkan lehernya untuk melihat ke pintu, tidak terkecuali juga Arlina. Arlina sebenarnya hanya penasaran ingin melihat seperti apa wajah yang bisa memicu kehebohan besar seperti ini. Apa benar sampai sedahsyat itu ketampanannya? Dari kejauhan, sebuah sosok yang tinggi dan besar berjalan mendekat ke pintu ruang kuliah. Tubuhnya jangkung dan tegap, wajahnya bersih dan tampan, dengan garis wajah yang halus dan tegas. Hidungnya mancung, bibirnya membentuk lengkungan yang indah, dan sepasang mata yang tajam seolah-olah bisa menembus hati orang. Sikapnya yang lembut dan elegan, membuat semua orang merasa sangat nyaman di dekatnya. Tania mendengar Arlina yang duduk di sebelahnya menarik napas dalam-dalam. "Arlin, aku nggak bohong, 'kan? Benar-benar tampan!" Arlina yang duduk di sampingnya telah terkulai lemas di atas meja. Bab 2 Setelah bercinta satu malam, lalu ternyata pria itu adalah dosen di kampus sendiri. Kenapa ini bisa terjadi? Kata "semua harapan musnah" benar-benar menggambarkan situasi Arlina saat ini. Tania yang tadinya bersemangat, menunduk sejenak, lalu memandang Arlina yang tergeletak lemas di meja seolah kehilangan semangat hidup. "Arlin, kamu kenapa? Kenapa wajahmu seperti habis makan kotoran?" Jika memungkinkan, Arlina lebih rela benar-benar memakan kotoran. "Tania." Suara Arlina nyaris serak saat berkata, "Habis sudah, aku benar-benar hancur." "Ada apa sebenarnya?" Tania menatapnya dengan bingung. Tiba-tiba, terdengar suara yang jernih dan tegas dari arah panggung, "Harap tenang." Suara ini mengingatkan Arlina pada suara yang didengarnya malam itu. Arlina yang tadinya masih memiliki secercah harapan, kini benar-benar merasa hancur. Ternyata benar-benar pria itu. Meski suaranya malam itu terdengar lebih serak, Arlina yakin dia tidak salah mendengarnya. Ucapan pria itu tadi membuat seisi ruang kelas menjadi hening seketika. Saking heningnya, bahkan suara napas pun nyaris terdengar. Melalui mikrofon, suara merdu pria itu bergema di seluruh sudut ruangan, "Perkenalkan, nama saya Rexa Pariaman. Mulai hari ini, saya yang akan mengajar kalian mata kuliah anatomi." "Wow." "Wow." Ucapan ini memicu keriuhan dari seluruh ruangan. 'Tidak!!!!!' Pada saat itu, Arlina baru benar-benar memahami makna kalimat "penderitaan manusia tidak saling terhubung." Terutama ketika Tania yang berada di sisinya bersorak heboh hingga nyaris memekakkan telinga Arlina. Di atas panggung, Rexa hanya mengangkat tangan memberi isyarat untuk diam. Kemudian, seisi ruang kuliah langsung kembali hening. "Tanpa menunda-nunda lagi, ayo kita mulai perkenalan singkat mengenai mata kuliah anatomi." Layar di panggung menampilkan materi presentasi. Rexa berdiri tegak di depan. Sekujur tubuhnya memancarkan aura elegan dan percaya diri yang alami. "Anatomi adalah ilmu yang mempelajari struktur bentuk tubuh manusia. Melalui pengamatan langsung, mikroskop, maupun teknologi pencitraan, kita akan mempelajari bentuk, letak, hubungan, serta perkembangan organ, jaringan, dan sistem tubuh manusia ...." Suaranya yang tenang mengalir memenuhi ruang kuliah, membuat seluruh mahasiswa mendengarkan lebih saksama daripada saat belajar untuk ujian nasional. Kecuali Arlina .... Sepanjang pelajaran, dia duduk di kursinya dengan gelisah. Tidak ada satu pun materi kuliah yang bisa dicernanya. Tania yang menyadari hal ini, membisikkan dengan suara pelan, "Kamu ini ambeien ya, nggak bisa diam duduknya?" 'Kasar sekali sih omongan Tania ini?' Sejak awal pelajaran, Arlina terus menunduk dalam posisi yang membuat punggungnya pegal. Jadi, dia refleks mencoba meluruskan tubuhnya. Namun saat dia mengangkat kepala, pandangannya langsung bertemu dengan tatapan Rexa di atas panggung. Seolah-olah, semua ini memang sudah ditakdirkan. Seketika, Arlina merasa kepalanya berdengung. Di atas panggung, Rexa yang sedang menjelaskan materi kuliah, tiba-tiba berhenti. Tatapannya mengarah pada posisi Arlina. "Ada apa ini?" "Kenapa Pak Rexa tiba-tiba berhenti?" Suara bisikan mulai terdengar di ruang kuliah. Tania menarik lengan baju Arlina dengan hati-hati dan berbisik, "Kenapa aku seperti merasa Pak Rexa sedang melihatmu?" Arlina tersadar dan tertawa pelan, lalu mencoba mengalihkan perhatian dengan berpura-pura menoleh ke belakang, "Mana mungkin. Mungkin dia lihat orang di belakangku yang nggak memperhatikan pelajaran." Tatapan Rexa yang berada di atas panggung seakan-akan bergejolak. Jarang sekali dia menunjukkan sikap yang tidak terkendali seperti ini. Namun, reaksi Rexa cukup cepat. Dia segera memalingkan pandangan dan melanjutkan kuliah seperti biasa. Tak seorang pun menyadari bahwa tangan yang memegang pointer laser itu mengepal erat hingga buku jarinya memutih. 'Dia mengenaliku? Nggak mungkin, 'kan?' Arlina tidak yakin. Namun di dalam hatinya, dia diam-diam berharap agar Rexa tidak mengenali dirinya. 'Tolonglah, tolonglah, Tuhan ....' Dia berdoa dalam hati sambil mengatupkan kedua tangan. Namun, suara Rexa yang tenang kembali terdengar dari panggung, "Baiklah, sekarang saya minta mahasiswa yang duduk di baris ketiga dari belakang, kursi kelima dari kanan, mengenakan jaket abu-abu, untuk menjawab pertanyaan saya tadi." Ucapannya itu ditujukan dengan sedetail mungkin .... Arlina hanya bisa terpaku melihat semua pandangan mahasiswa serempak mengarah kepadanya. Saat menatap ke depan, tatapan matanya kembali bertemu dengan mata Rexa yang begitu dalam. Apakah masih sempat kalau dia melepas jaket abu-abu ini sekarang? Arlina berdiri dengan bengong. Sebagai profesor, Rexa tersenyum lembut sambil berkata, "Silakan jawab pertanyaan saya tadi." Arlina benar-benar tidak tahu pertanyaan apa yang dimaksud. Sejak awal kuliah hingga sekarang, pikirannya kosong total. Dia hanya bisa bergumam, "Ma ... maaf, pertanyaan yang mana?" Suara tawa pelan terdengar dari sekitar. Rexa tetap tenang, seolah memiliki kesabaran yang tiada habisnya. "Metode pewarnaan yang paling umum digunakan untuk preparat parafin, baru saya jelaskan beberapa menit yang lalu." Arlina menunduk memandang Tania dengan penuh harap. Tania hanya menggerakkan bibir tanpa suara, berusaha membisikkan jawabannya. Namun dari posisi itu, Arlina sama sekali tidak bisa membaca gerak bibirnya. Akhirnya, dia hanya bisa berkata dengan wajah memelas, "Saya tidak tahu." Rexa memandangnya dengan tenang. "Siapa namamu?" Selesai sudah! Arlina mendadak merasa bahwa pertanyaan itu hanya sebagai alasan. Tujuan sebenarnya adalah menanyakan identitasnya. Arlina hampir saja ingin memberikan nama palsu, tetapi dia tidak berani. Akhirnya dia mengumpulkan keberanian dan menjawab dengan pelan, "Arlina Khoman." Mata Rexa tampak memancarkan kilau yang dalam. "Arlina, ya?" Arlina tidak berani menatapnya sama sekali. Seketika, dia merasa sekujur tubuhnya merinding. "Di pertemuan pertama kuliahmu saja sudah melamun. Setelah kuliah ini selesai, datang ke ruangan saya." Arlina seakan-akan menangis dalam hati. Kemudian, dia menjawab, "Baik, Pak." Akhirnya Arlina duduk kembali. Saat ini, tubuhnya seolah-olah mati rasa. "Arlin, jangan takut. Pak Rexa kelihatannya lembut sekali. Dia nggak akan berbuat macam-macam padamu," Tania berbisik menenangkan. Arlina tetap diam. 'Huh .... Lembut? Waktu di ranjang, dia jelas nggak lembut.' Tania menambahkan, "Lagi pula, ini kesempatan untukmu bisa berdekatan sama Pak Rexa. Kamu malah beruntung." Kesempatan seperti ini ... biarlah orang lain yang ambil. Dia sama sekali tidak mau. Kuliah yang terasa menyesakkan itu akhirnya selesai juga. Rexa pun melangkah keluar dari ruang kelas. Ruangan seketika dipenuhi oleh suara riuh, semua orang membicarakan betapa tampannya profesor baru itu dan betapa memesona suaranya. Kalau ini terjadi di masa lalu, Arlina mungkin akan menjadi salah satu dari mereka. Namun sekarang, dia tidak bisa tertawa sama sekali. "Nia ...." Arlina memegang erat tangan Tania, lalu berkata dengan serius, "Kalau terjadi sesuatu padaku, tolong jaga keluargaku untukku." Usai bicara, dia menoleh dengan ekspresi penuh pengorbanan dan berjalan menjauh. Tania hanya bisa memandang kepergiannya dengan terkejut. 'Cuma ketemu dosen saja, kenapa seolah-olah nggak akan bisa kembali dengan selamat? Paling-paling cuma akan diceramahi, dosen juga nggak mungkin makan orang, 'kan?' Di kantor. Arlina berdiri di luar pintu dengan perasaan gelisah. Tangannya terangkat hendak mengetuk pintu, lalu diturunkan lagi. Setelah mengulang gerakan itu beberapa kali, dia akhirnya memberanikan diri. Bagaimanapun, hasilnya akan tetap sama, lebih baik cepat selesai daripada berlarut-larut. Lagi pula, selama dia tetap bersikeras tidak mengaku, Rexa tidak akan memiliki bukti yang bisa menunjukkan bahwa Arlina adalah wanita yang bersamanya malam itu. Arlina menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk pintu. Tak lama kemudian, terdengar suara lembut dan tenang dari dalam ruangan, "Silakan masuk." Ketika Arlina mendorong pintu, detak jantungnya semakin cepat tak terkendalikan. Bab 3 Rexa duduk di dekat jendela, wajahnya begitu tampan dan memesona. Matanya memancarkan perpaduan antara kesejukan dan kelembutan yang sangat memikat. Tonjolan kecil di pangkal hidungnya membuatnya terlihat lebih istimewa dan tidak membosankan. Pada momen itu, seolah sinar matahari dari luar pun memancarkan cahaya khusus untuknya. Melihat pemandangan ini, Arlina tanpa sadar menarik napas dalam-dalam. 'Tampan sekali!!!' Namun kemudian, dia baru teringat ini bukan saatnya untuk genit. Hatinya kembali merasa gelisah dan akhirnya dia berkata dengan gugup, "Pak Rexa." Arlina menundukkan pandangannya dan memasang wajah bersalah. Meskipun, itu sebenarnya lebih untuk menutupi rasa gugupnya. Dibandingkan dengan kegugupan Arlina, Rexa justru tampak tenang. Sikapnya benar-benar mencerminkan statusnya sebagai seorang tenaga pendidik. Dia menunjuk kursi di depannya dan berkata, "Duduk." Akan tetapi, mana mungkin Arlina berani duduk? Dia hanya berkata dengan senyum tersipu, "Nggak usah, Pak. Saya berdiri saja." Rexa telah bangkit dari tempat duduknya. Tingginya melebihi Arlina hampir satu kepala, membuat gadis itu harus mendongak untuk menatapnya. "Coba jelaskan, kenapa kamu melamun waktu jam kuliah?" Nada bicaranya terdengar datar, seolah benar-benar hanya ingin tahu alasan Arlina melamun. Mana mungkin Arlina berani mengatakan alasan sebenarnya? Setelah berpikir keras cukup lama, dia akhirnya menjawab dengan gugup, "Karena ... tadi malam saya kurang tidur." Kemudian, dia langsung mengucapkan permintaan maaf dengan penuh penyesalan, "Maafkan saya, Pak. Saya berjanji lain kali nggak akan seperti ini lagi." Rexa tidak menunjukkan apakah dia percaya pada ucapan Arlina atau tidak. Dia hanya berjalan ke tempat menyeduh teh, mengambil sebuah gelas dan sekantong teh susu, lalu menuangkan air panas ke dalamnya. Gerakannya santai, jari-jarinya panjang dan lentik, memancarkan aura elegan dan berkelas. Asap tipis mengepul dari cangkir teh, menciptakan pemandangan yang menenangkan. "Aku baru kembali dari luar negeri beberapa waktu lalu dan mungkin belum terlalu terbiasa dengan metode pengajaran di sini. Kalau kelasku terlalu membosankan, aku harap kamu bisa langsung bicara jujur." Astaga ... rendah hati sekali dosen ini. Dosen setampan dan semurah hati ini malah telah dilecehkannya. Bahkan Arlina sendiri juga merasa dirinya benar-benar berengsek. "Ng ... nggak, kok. Penjelasan Pak Rexa sangat bagus," sahut Arlina buru-buru. Meski Arlina tidak mendengarkannya dengan saksama, dilihat dari reaksi teman-teman sekelasnya, jelas sekali menunjukkan bahwa kemampuan mengajar Rexa sangat bagus. Rexa hanya tersenyum tipis. "Baguslah kalau begitu." Setelah berkata demikian, dia menyerahkan segelas teh susu yang baru diseduhnya kepada Arlina. Jari-jarinya tampak ramping dengan sendi yang tegas, kukunya juga terawat dengan rapi dan bersih "Ini pemberian dari dosen lain, anak-anak biasanya suka minuman ini." Dia malah menyebut Arlina sebagai anak-anak. Wajah Arlina memerah. Dia buru-buru mengulurkan tangan untuk menerima cangkir itu. "Terima kasih, Pak Rexa." Cangkir itu terasa hangat, tetapi tidak sampai membuat tangannya panas. Uap panas mengepul perlahan dan aroma teh susu yang pekat menguar ke hidungnya. Sejak masuk ke ruangan ini, Arlina merasa begitu tegang dan penuh kewaspadaan. Namun, Rexa sama sekali tidak menyinggung kejadian malam itu. Sebaliknya, dia justru mengobrol ringan seolah-olah sedang berbincang santai. Ditambah lagi, dengan hangatnya aroma teh susu yang menguar, membuat ketegangan dalam dirinya perlahan mencair. Dia menunduk untuk menyesap sedikit teh susu tersebut. Rasa manis yang lembut menyebar di dalam mulutnya. Namun pada saat itu, terdengar suara Rexa yang tenang di telinganya. "Malam itu ... itu kamu, bukan?" Kata-kata ini menghantam Arlina bagaikan petir, membuatnya mendongak kaget menatap Rexa. Mata pria itu seolah-olah bisa menembus hatinya dan melihat semuanya dengan jelas. Tujuan Rexa mengobrol santai dan menyeduhkan teh susu untuknya adalah agar kewaspadaan Arlina menurun. "Uhuk uhuk!" Arlina hampir tersedak oleh teh susu yang baru diseruputnya. Rexa yang seolah-olah sudah mempersiapkan diri, langsung menyerahkan sebuah tisu dengan lancar. Arlina menerima tisu itu, lalu menyeka bibirnya dengan buru-buru. Setelah menenangkan diri, dia langsung menyangkal, "Aku bukan ... bukan aku." Rexa memicingkan matanya dengan senyuman tipis. "Aku belum bilang malam yang mana dan kejadian apa." Arlina menyadari dirinya telah tanpa sengaja membocorkan rahasia, seketika hatinya diliputi kepanikan. Teh susu yang semula terasa hangat pun, kini tidak lagi terasa nikmat. "Pak Rexa, aku nggak tahu apa yang Bapak bicarakan, tapi yang jelas itu pasti bukan aku. Makanya aku menyangkalnya." Dengan ekspresi yang masih tetap sama, Rexa tiba-tiba mengulurkan tangan padanya. Jari-jarinya yang panjang dan ramping, mencengkeram pergelangan tangan Arlina. Saat kulit mereka bersentuhan, Arlina merasa seperti tersengat dan refleks menggigil sedikit. Apa yang hendak dilakukannya? Jantung Arlina berdegup kencang. "Aku ingat malam itu ... ada tahi lalat di telapak tanganmu." Setelah ucapan itu dilontarkan, Rexa langsung membalikkan telapak tangan Arlina. Di telapak tangannya yang halus itu ternyata memang ada sebuah tahi lalat. Pelaku dan buktinya sudah tertangkap basah. Rexa mengangkat pandangannya melihat Arlina sembari bertanya, "Kamu mau jelaskan gimana lagi?" Arlina seketika merasa seperti tidak punya tempat untuk bersembunyi. Sebenarnya, dia bisa saja terus berpura-pura tidak tahu apa-apa. Lagi pula, bukan hanya dia yang memiliki tahi lalat di telapak tangan. Namun, aura Rexa terlalu menekan. Sebagai seorang dosen, Rexa memiliki posisi yang membuat mahasiswa merasa tertekan. Lagi pula, sekeras apa pun dia menyangkal, Rexa sudah yakin bahwa itu pasti dia. Air mata Arlina mendadak hampir mengalir, suaranya gemetaran dan terisak, "Pak Rexa, aku salah. Ini semua salahku. Aku nggak seharusnya tidur sembarangan sama orang asing. Anggap saja hal ini nggak pernah terjadi, aku janji nggak akan mengulanginya lagi." Arlina merasa hancur. Sebelum air matanya benar-benar menetes, dia segera memalingkan wajah dan berlari keluar dari kantor. Mendengar suara pintu yang ditutup dengan keras, Rexa sontak merasa terkejut. Dia bahkan belum sempat mengatakan apa-apa, kenapa gadis itu malah sudah kabur? Rexa mencarinya hanya untuk melihat bagaimana masalah ini bisa diselesaikan. Bagaimanapun juga, ini adalah pertama kalinya dia menghadapi kejadian seperti ini. Rexa alergi alkohol, biasanya dia tidak pernah menyentuhnya. Malam itu saat teman-temannya mengadakan pesta penyambutan untuknya, dia salah mengambil gelas dan meneguk minuman beralkohol. Tak lama setelah itu, seluruh tubuhnya terasa panas dan dia pergi ke toilet untuk mencuci muka agar sadar. Tak disangka, seorang gadis tiba-tiba menabrak dadanya dan menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Mungkin karena pengaruh alkohol, dia melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya. Untuk pertama kalinya, dia kehilangan kendali dan tidur dengan gadis asing. Keesokan paginya saat terbangun, gadis itu sudah tidak ada di sampingnya. Rexa sempat mencoba mencarinya. Noda merah di seprai membuatnya terus memikirkan hal itu. Rexa yang jelas-jelas lebih tua dari gadis itu, merasa perlu bertanggung jawab untuk menyelesaikan masalah ini dengan baik. Akan tetapi, dia tidak pernah menyangka gadis itu ternyata adalah mahasiswanya sendiri. Informasi ini terlalu mengejutkan hingga membuatnya kehilangan kendali di kelas. Dilihat dari situasinya sekarang, gadis itu sepertinya jauh lebih panik darinya. Bab 4 Dalam perjalanan kembali ke kelas, Arlina bertemu dengan Rio dan beberapa teman mereka. Rio lebih tinggi dibandingkan teman lainnya dan wajahnya yang tampan juga paling mudah dikenali. Mereka berjalan di depan Arlina dan tidak menyadari keberadaannya. "Rio, kudengar, pengikutmu itu sudah nggak pernah cari kamu lagi sejak sebelum masuk kuliah. Pasti dia dengar kamu pacaran, jadi hatinya langsung hancur." "Lihat saja, di kelas Profesor Rexa hari ini dia kelihatan linglung, pasti gara-gara kamu duduk sama Fanny di depannya. Dia jadi sedih, hahaha." Mendengar hal ini, Arlina baru menyadari bahwa ternyata "pengikut" yang sedang dibicarakan mereka adalah dirinya sendiri. Nilainya dan Rio sama-sama masuk peringkat 10 besar seangkatan. Karena menyukai Rio, Arlina memang sering mengajaknya belajar bersama. Tak disangka, di mata teman-temannya, Arlina malah dianggap sebagai pengikut. Arlina langsung merasa tersindir. Sikap teman-temannya jelas mencerminkan sikap Rio. Bisa dibayangkan, Rio juga pasti berpikiran sama. Akan tetapi, setiap kali dia mengundang Rio, Rio juga tidak pernah menolak. Saat mereka belajar bersama, suasananya juga sangat menyenangkan, sampai membuat Arlina keliru mengira dia punya harapan. Saat itu, terdengar suara Rio berkata, "Lain kali jangan sebut-sebut dia di depan Fanny, nanti Fanny ngambek lagi." "Ya, ya, ngerti," sahut salah satu temannya. "Sekarang pacar resmimu itu Fanny." "Menurutku, kamu itu beruntung sekali, Rio. Punya pacar secantik Fanny dan masih ada Arlina si kutu buku yang ngejar kamu. Gimana kalau kamu ambil dua-duanya saja?" "Ah, jangan ngomong sembarangan. Aku cuma menganggap Arlina teman." "Kamu anggap dia teman, tapi dia mau jadi pacarmu." "Eh, menurut kalian, Arlina bakal tetap suka sama Rio nggak? Dari cinta terang-terangan jadi cinta diam-diam, tinggal menunggu Rio putus sama Fanny." "Gimana kalau Rio nggak putus sama Fanny?" "Kalau nggak putus, dia bakal terus menunggu dan menghabiskan hidupnya tanpa menikah, hahaha." "Kamu kira ini sinetron apa?" "Gimana kalau kita taruhan, berapa lama Arlina bakal menyendiri demi Rio? Setahun? Dua tahun? Lima tahun?" Rio menghentikan pembicaraan mereka di saat yang tepat, "Sudah, kalian jangan ribut." Walau begitu, sudut bibirnya sedikit terangkat dan ekspresinya tampak sedikit bangga. Seorang wanita yang mau menjomlo bertahun-tahun demi seorang pria. Bagi mereka, hal ini memang sesuatu yang membanggakan. Sementara bayangan mereka semakin jauh, Arlina yang berdiri di tempat hanya bisa mengepalkan tangannya. Bisa melihat sifat asli seseorang dengan konsekuensi seperti ini ... sepertinya juga bukan hal yang terlalu buruk. Hari itu, Arlina merasa seperti terjebak dalam mimpi buruk. Pertama, dia baru sadar bahwa pria yang dia tiduri ternyata profesor di kampus. Setelah itu, obrolan Rio dan teman-temannya telah menarik dirinya dari perasaan sukanya terhadap Rio sepenuhnya. Setelah jam kuliah selesai, dia meminta Tania membawa buku-bukunya ke asrama, sementara dia sendiri bersiap pergi bekerja paruh waktu di toko teh susu. "Dari awal masuk kuliah kamu sudah kerja sambilan setiap hari, malamnya juga nggak ikut belajar di kelas tambahan, tapi tetap bisa masuk 10 besar seangkatan. Aku salut sama kamu," kata Tania sambil memandangi Arlina yang sedang merapikan barang-barangnya. "Mau gimana lagi, aku harus cari uang untuk biaya hidup." Tania yang sudah berteman lama dengan Arlina, kurang lebih memahami soal kondisi keluarganya. "Orangtuamu itu keterlaluan sekali. Anaknya secerdas ini malah nggak diurus, tapi anak laki-lakinya yang pemalas malah disayang habis-habisan." Usai bicara, Tania merasa seolah telah menghina keluarga Arlina. Dia buru-buru berkata, "Maaf ya, Arlin, aku cuma ngomong ceplas-ceplos." Arlina tersenyum padanya, "Nggak apa-apa, aku tahu maksudmu baik. Sudah hampir telat, aku pergi dulu ya." Setelah itu, dia pun memanggul tas ranselnya dan melangkah keluar dari gerbang kampus. Jalan dari gerbang kampus ke toko teh susu ini sudah sering dilewati Arlina selama lebih dari setahun. Dia memanfaatkan waktu belajar malam untuk bekerja. Di saat orang lain sudah tidur nyenyak, lampu kecil di samping tempat tidurnya tetap menyala sampai tengah malam. Orang-orang selalu mengatakan bahwa dia mudah sekali mendapatkan beasiswa. Padahal, hanya dia sendiri yang tahu betapa sulit dan berat perjalanan yang telah dilaluinya. Begitu sampai di toko teh susu, Arlina mengganti pakaian dengan seragam toko dan mengambil alih sif dari rekan kerja yang bertugas siang. Meskipun statusnya hanya sebagai pekerja paruh waktu, Arlina sudah bekerja di sini lebih dari setahun, sampai-sampai sudah seperti karyawan tetap. Malam itu toko tidak terlalu ramai. Setelah permisi dengan rekan kerjanya, Arlina pun masuk ke toilet. Saat berdiri dari posisi jongkok, tiba-tiba kepalanya terasa berputar hebat. Dia buru-buru menahan diri dengan menyentuh dinding dan mencoba menstabilkan tubuhnya, sementara jantungnya berdetak cepat tak karuan. Dalam sekejap, sebuah pikiran yang menakutkan melintas di benaknya. Bulan ini dia belum datang bulan! Tidak mungkin, pasti tidak mungkin. Arlina masih sangat yakin, malam itu Rexa menggunakan pengaman. Kalau tidak, dia juga tidak akan berani. Apa mungkin pengamannya bocor? Hati Arlina langsung dipenuhi kekhawatiran. Begitu selesai bekerja, dia segera pergi ke apotek membeli alat tes kehamilan. Arlina bahkan sengaja memilih apotek yang jauhnya lima sampai enam kilometer dari kampus agar tidak ketahuan. Sambil memegang alat tes kehamilan, Arlina begitu gugup hingga tangannya gemetaran. Sambil menunggu hasilnya, dia berjongkok di toilet dengan kedua tangan yang terkatup sambil berdoa. "Tolong jangan, kumohon." "Aku janji nggak akan mengulanginya lagi, tolong jangan begini padaku." "Huhu, Tuhan dari aliran mana pun ... tolonglah diriku ini ...." Arlina sampai-sampai memohon pada semua kepercayaan yang ada. Dengan perlahan-lahan, dia membuka mata untuk melirik hasilnya. Ketika melihat dua garis merah di alat tes kehamilan itu, dunia Arlina seakan runtuh. Habis sudah ... tamatlah riwayatnya ini .... Bab 5 Arlina harus menanggung konsekuensi atas kesalahan yang dilakukannya karena kebodohan sesaat. Beberapa hari berikutnya, dia benar-benar kehilangan semangat, seakan-akan jiwanya telah melayang. Saat ini dia bahkan belum lulus kuliah. Arlina tahu pasti bahwa anak ini tidak bisa dipertahankan. Namun, dia juga tidak berani memberi tahu orang tuanya. Sementara untuk menjalani aborsi, dia butuh tanda tangan keluarga dan setelah operasi pun, dia harus beristirahat. Kalau sampai ketahuan pihak kampus, masa depannya akan hancur. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Arlina merasakan ketakutan dan kepanikan yang begitu mendalam, sampai-sampai Tania pun memperhatikan perubahannya dan bertanya dengan cemas, "Arlin, kamu kenapa? Ada masalah apa?" Beberapa hari ini, wajah Arlina pucat pasi dan tatapannya kosong bagai arwah gentayangan. Arlina hanya menggelengkan kepala dengan lemah. "Aku nggak apa-apa." Mana mungkin tidak apa-apa? "Kalau kamu ada masalah, cerita sama aku. Kita cari solusi sama-sama." Tania merasa iba melihat kondisi Arlina, lalu bertanya dengan ragu, "Apa ini gara-gara masalah Rio?" Masalah Rio sekarang bahkan bukan apa-apa bagi Arlina. Namun, Tania juga masih seorang mahasiswa. Jika dia mengetahui hal ini, yang ada hanya akan menambah satu orang lagi yang kebingungan. Arlina memaksakan senyum. "Aku benar-benar nggak apa-apa, kamu nggak usah khawatir." Melihat Arlina tetap menolak bicara, Tania pun tidak bisa memaksanya lagi, lalu berusaha mengalihkan pembicaraan, "Nanti jam pelajaran terakhir ada kelas anatomi Pak Rexa, kita datang lebih awal biar dapat tempat bagus." Namun saat mendengarnya, wajah Arlina malah terlihat menderita. "Boleh nggak aku nggak ikut kelas itu?" "Nggak bisa, kamu juga tahu Pak Rexa itu orangnya sangat ketat. Setiap kali kuliah, dia selalu absen satu per satu. Memang sih, tindakannya ini agak berlebihan. Kalau mata kuliah lain sih, aku nggak berani jamin. Tapi untuk mata kuliah ini, nggak ada satu pun mahasiswa yang berani bolos." Tentu saja ada. Arlina adalah yang pertama. Meskipun dia punya niat, Arlina tetap tidak berani melakukannya. Selama dua tahun kuliah, dia belum pernah bolos sekali pun. Apalagi sekarang Rexa sudah tahu siapa dirinya. Kalau dia meminta Tania untuk menggantikannya absen, bukankah itu sama saja seperti menyerahkan diri ke kandang harimau? Belum sampai jam kuliah, Tania sudah menarik tangan Arlina menuju ruang kelas. Sialnya, kali ini mereka malah dapat tempat di barisan depan. "Nia, gimana kalau kita duduk di belakang saja? Masih ada tempat kosong di sana," kata Arlina mencoba membujuk. Setelah meniduri profesor, ditambah dengan kehamilannya ini, Arlina semakin tidak berani berhadapan dengan Rexa. "Nggak bisa, tempat ini sudah paling bagus." Tania langsung duduk. "Di sini paling strategis. Dari sini kita bisa menikmati ketampanan Pak Rexa dari jarak dekat." Arlina sempat berpikir untuk pindah ke belakang. Namun begitu menoleh, semua tempat duduk di belakang sudah penuh. Akhirnya, dia hanya bisa pasrah duduk di depan. Tak lama kemudian, bel kuliah berbunyi. Arlina berusaha meringkuk di belakang Tania, mencoba menyamarkan keberadaannya. Seperti biasanya, Rexa tampil memesona. Dia melangkah masuk ke kelas dengan langkah panjang dan berdiri di panggung dengan tubuh yang tegap dan ramping. Mantel berwarna khaki membalut tubuhnya, seolah-olah dia baru keluar dari majalah mode. Matanya bersinar tajam, fitur wajahnya tegas, dan ekpresinya tampak tenang. Begitu dia muncul, seluruh kelas langsung sunyi. Suara lembutnya terdengar jelas dan matanya menyapu sekilas ke seluruh kelas saat berkata, "Kita mulai kuliahnya." Kali ini Arlina tidak berani lagi melamun. Dia mencatat semua poin penting yang disampaikan Rexa di buku catatannya. Sambil mendengarkan, mata Arlina tanpa sadar terus mengikuti gerakan tubuhnya. Rexa benar-benar pria yang paling memikat yang pernah dia lihat. Dirinya memancarkan aura yang tenang dan penuh pesona. Kalimat "kecerdasan membuat seseorang bersinar dari dalam" rasanya sangat cocok untuk menggambarkan Rexa. Cara Rexa mengajar juga sangat terstruktur. Materi yang rumit bisa disampaikannya dengan sederhana, membuat semua orang mudah mengerti. Semua mahasiswa larut dalam suasana kuliah, perhatian mereka sepenuhnya tertuju pada materi yang disampaikan olehnya. Arlina mendengarkan dengan sungguh-sungguh, pandangannya terus tertuju pada Rexa. Tiba-tiba, Rexa menoleh ke samping dan pandangan mereka kembali bertemu tanpa sengaja. Arlina seketika tersadar dan buru-buru menundukkan kepala dengan cemas. Tiba-tiba dia teringat, kira-kira bagaimana reaksi Rexa jika tahu dirinya hamil? Rexa adalah ayah biologis anak ini, apakah dia harus memberi tahu Rexa? Arlina menggigit bibirnya dengan bimbang. Dia benar-benar tidak ingin punya keterkaitan lebih jauh dengan pria itu. Akhirnya, bel tanda berakhirnya kelas berbunyi. Rexa mematikan proyektor dan berkata, "Kelas selesai. Kalau ada yang masih kurang jelas, bisa bertanya sekarang." "Pak, saya mau tanya." "Saya juga ada pertanyaan." Beberapa mahasiswa langsung mengerubungi Rexa dan dia menjawab pertanyaan mereka satu per satu. Dari sudut matanya, dia melihat sosok yang duduk di barisan depan itu. Arlina sudah menggendong tasnya dan melarikan diri terbirit-birit dari kelas. Beberapa hari ini, mereka sudah dua kali berpapasan di kampus. Setiap kali melihatnya dari kejauhan, Arlina langsung terkejut dan buru-buru memutar arah, jelas sekali dia sedang menghindari Rexa. Rexa sempat memeriksa data mahasiswa Arlina. Usianya 21 tahun, dua tahun kuliah dengan kehadiran penuh, nilainya termasuk peringkat 10 besar seangkatan, dan setiap tahun mendapatkan beasiswa. Dia adalah murid teladan di mata para dosen. Rexa menundukkan pandangan, lalu melanjutkan menjelaskan materi kepada mahasiswa-mahasiswa yang bertanya. .... Arlina biasanya jarang pulang ke rumah di akhir pekan. Mungkin karena kejadian-kejadian belakangan ini membuat hatinya tidak tenang, dia berharap bisa menemukan sedikit penghiburan di rumah. Jadi, pada Jumat sore, dia memutuskan untuk pulang. Begitu pintu rumah dibuka, aroma harum masakan langsung menyambutnya. Dari dapur terdengar suara ibunya, Heidy, "Max pulang ya? Ibu sebentar lagi selesai masak, tunggu sebentar ya." Arlina meletakkan ranselnya dan berjalan ke pintu dapur, lalu memanggil, "Ibu, ini aku." Heidy menoleh ke belakang. Begitu melihat Arlina, tangannya yang memegang spatula langsung berhenti. "Kenapa kamu pulang?" "Besok akhir pekan," jawab Arlina pelan. Heidy mengernyit. "Kamu ini ... kenapa nggak kasih tahu dulu sebelum pulang? Ibu jadi nggak masak nasi untukmu." "Aku sudah bilang kemarin," ucap Arlina. "Oh ya?" Nada bicara Heidy terdengar acuh tak acuh. "Kalau begitu aku lupa. Siapa juga yang ingat hal-hal beginian, biasanya juga kamu nggak di rumah." Arlina hanya terdiam. Orang tua Tania bahkan sudah menanyakan anaknya akan pulang untuk makan atau tidak sebelum akhir pekan tiba. Namun di rumah ini, keberadaan anak perempuan seperti tidak berarti. "Kenapa bengong saja? Cepat bawa lauknya ke meja makan. Terus telepon ayahmu, suruh dia beli nasi putih dari luar," perintah Heidy. "Oh, oke." Arlina buru-buru mencuci tangan dan membawakan lauk ke meja, lalu menelepon ayahnya, Godric. Setelah semua lauk selesai dimasak, Godric masuk rumah dengan membawa kotak nasi sambil melepaskan sepatunya dan menggerutu, "Kenapa nggak bilang-bilang dulu kalau mau pulang. Sekarang nasi putih dari luar makin mahal. Kotak nasi juga harus bayar, enam ribu sudah cukup untuk masak nasi sekeluarga." "Harga barang-barang semakin naik, semua serba mahal, cuma gaji kamu yang nggak tambah. Rumah ini sebentar lagi nggak ada yang bisa dimakan lagi," keluh Heidy sambil merebut kotak nasi dari tangan Godric. "Untuk apa bawa kotak nasi segala? Plastiknya ini juga bersih, langsung pakai plastik saja, dong." Bab 6 Arlina berdiri di samping, mengatupkan bibirnya dan memanggil, "Ayah." Godric meliriknya sekilas, lalu matanya mengamati sekeliling ruangan. "Mana adikmu? Belum pulang?" Arlina baru hendak berkata tidak tahu, tapi terdengar suara Heidy menyahut, "Tadi aku sudah telepon, dia bilang lagi main basket sama temannya. Dia baru selesai dan sedang dalam perjalanan pulang." Godric mendengus, "Tahunya cuma main basket seharian, nggak mau belajar yang bagus. Dasar nggak berguna." "Dia baru kelas satu SMA, dari mana kamu tahu nggak berguna? Mana ada ayah yang ngomong begitu tentang anaknya," kata Heidy. Setelah lauk dihidangkan di meja, mereka bertiga duduk di meja makan, tetapi tidak ada yang mulai makan. Selama Max belum pulang, mereka tidak akan makan duluan. Arlina sudah terbiasa dengan ini. Dia menatap butiran nasi di depannya sambil melamun. "Kenapa Max belum pulang juga ya? Jangan-jangan terjadi sesuatu?" kata Heidy dengan cemas. "Anak sebesar itu, mana mungkin kenapa-kenapa." Meskipun berkata demikian, Godric tetap menambahkan, "Telepon tanyakan dia." Arlina tiba-tiba teringat saat dia kelas tiga SMA. Lantaran uang sakunya habis, dirinya yang tinggal di asrama, terpaksa pulang ke rumah di akhir pekan untuk meminta uang. Saat itu, hujan deras mengguyur di tengah perjalanan pulang. Dia terpaksa berteduh lama di bawah atap toko sampai hujan agak reda. Ketika dia pulang dengan baju basah kuyup dan membuka pintu rumah, kedua orang tua dan adiknya sedang duduk makan malam. Melihatnya basah kuyup, mereka sama sekali tidak peduli, malah hanya berkata, "Hujan deras sekali, kami kira kamu baru pulang besok." Hari itu dia pulang terlambat sejam dan hanya makan lauk sisa. Berbeda dengan Max yang kalau telat pulang 10 atau 15 menit saja, mereka sudah sibuk menelepon dan menunggunya pulang untuk makan. Heidy baru saja hendak menelepon Max, tapi terdengar suara pintu terbuka dari arah depan. Dia langsung berdiri dan berjalan menuju pintu, "Max pulang!" Yang masuk adalah seorang anak laki-laki berusia 16 tahun. Wajahnya terlihat polos, tetapi juga terkesan dewasa. Rambutnya yang sedikit acak, menutupi keningnya dan ekspresinya tampak cuek. Ritsleting seragam sekolahnya tidak dikancing dan dibiarkan menggantung di kedua sisi. "Kamu pasti sudah lapar, ya? Ibu sudah masak daging kecap kesukaanmu," kata Heidy sambil tersenyum ramah pada Maxton. "Itu dulu, sekarang aku nggak suka lagi," jawab Maxton dengan kesal. "Oh ya? Kalau begitu sekarang kamu suka makan apa? Lain kali Ibu masakkin." "Terserah," sahut Maxton dengan nada malas. Begitu masuk dan melihat Arlina, matanya langsung berhenti sejenak, lalu bertanya, "Dia ngapain di sini?" Bahkan tidak ada sapaan sama sekali. "Ini akhir pekan, kakakmu datang makan di rumah," kata Heidy sambil mendorongnya ke arah dapur. "Cepat cuci tangan, lalu makan. Nanti makanannya keburu dingin." Maxton berjalan masuk ke dapur dengan enggan. Selama makan malam berlangsung, Arlina tetap diam. Hanya Heidy yang terus-menerus mengambilkan lauk untuk Maxton, seolah takut anaknya kelaparan. Maxton juga tidak menunjukkan rasa terima kasih. Dia malah berusaha menghindar sambil berkata dengan tidak sabar, "Aku punya tangan, biar aku ambil sendiri." Di samping, Godric yang melihat itu pun berkata, "Sudah, bisa nggak makan yang benar?" Dibandingkan dengan mereka, Arlina terkesan tidak cocok berada di sana sama sekali. Hingga akhirnya, tanpa sadar dia memakan sepotong daging berlemak. Rasa minyaknya langsung memenuhi mulut Arlina, membuat perutnya seolah bergolak hebat. "Hoek ...." Dia tidak bisa menahan diri dan langsung memuntahkannya ke lantai. Ketiga orang itu langsung serentak menoleh ke arahnya, sementara Maxton menutup hidungnya dengan jijik. Belum sempat berkata apa pun, perut Arlina kembali terasa mual. Dia bergegas berlari ke toilet dan berjongkok di lantai untuk memuntahkan semua makanan yang dia makan malam ini. "Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba muntah?" Heidy mengikutinya ke dalam kamar mandi, sambil menepuk-nepuk punggungnya. "Tadi baik-baik saja, kenapa tiba-tiba muntah?" Arlina muntah hebat hingga air matanya hampir menetes. Matanya memerah, merasakan hangatnya tangan Heidy yang menepuk-nepuk punggungnya. Tiba-tiba dia teringat, mungkin sebelum Maxton lahir dulu, ibunya juga pernah menepuk-nepuk punggungnya seperti ini saat dia sakit. Di detik itu juga, mata Arlina terasa panas. Perasaan cemas dan takut yang sudah lama dipendamnya, mendadak menyeruak ke permukaan. Dia ingin memberi tahu ibunya bahwa dia sedang hamil, ingin bertanya pada ibunya apa yang harus dia lakukan, dan apakah hidupnya benar-benar sudah berakhir. "Kamu sudah baikan?" tanya Heidy sambil menatapnya. Arlina menoleh dan mengangguk sedikit. Dia ingin bicara, tetapi merasa ragu. "Ibu, aku ...." Belum sempat dia mengeluarkan kata-katanya, Heidy sudah berdiri dan berjalan keluar sambil mengerutkan kening. "Kalau sudah baikan, bersihkan ini semua. Lagi makan, tapi malah muntah semua ke lantai. Kenapa nggak tahan dulu sampai ke toilet?" Ucapan Heidy bagaikan pukulan telak di hati Arlina. Dari luar toilet masih terdengar suara, "Max, kenapa nggak makan lagi? Ibu sebentar lagi beresin semuanya, makanlah yang banyak." Suara Maxton yang kesal terdengar, "Nggak mau makan lagi, sudah hilang selera." Suara Godric terdengar rendah dan berat, "Cepat beresin, mau makan nggak nih?" Tidak ada seorang pun yang peduli bagaimana keadaan Arlina di dalam toilet. Tidak ada yang memberinya selembar tisu ataupun menuangkan segelas air untuk berkumur. Arlina yang berjongkok di toilet tiba-tiba menangis sesenggukan. Dia tidak seharusnya berharap apa-apa dari mereka. Arlina sempat mengira dia bisa mendapatkan sedikit penghiburan dari keluarganya. Namun dia lupa, semua luka yang dia alami justru berasal dari keluarga ini. Saat dia berbuat salah, mereka hanya akan menyalahkan dan menghakiminya, tak pernah ada satu pun yang memikirkan bagaimana perasaannya. Di balik air matanya, Arlina teringat sosok pria yang teduh dan menenangkan itu. Apakah pria itu bisa memberitahunya, apa yang harus dia lakukan sekarang? .... Malam semakin larut dan hening. Rexa duduk di ruang kerjanya dan di depannya tergeletak sebuah laptop. Cahaya dingin dari layar memantul ke wajahnya, menampakkan ekspresi tenang dan tajam. Ujung jarinya yang ramping bergerak lincah di atas keyboard. Drrt drrt drrt .... Ponsel di sampingnya tiba-tiba bergetar. Rexa memijat pelipisnya dan mengangkat ponsel. Ternyata dari nomor asing. "Halo." Suara Rexa terdengar berat dan dalam. Tidak ada jawaban dari seberang. Rexa mengulang lagi, "Halo." Tetap tidak ada respons. Rexa menduga ini hanya telepon iseng, sehingga dia bersiap untuk menutup panggilan. Namun, tepat saat ujung jarinya hampir menyentuh tombol tutup, terdengar suara yang ragu dan gemetaran, "Pa ... Pak Rexa." Rexa langsung mengenali suara itu sebagai Arlina. Dia kembali menempelkan ponsel ke telinga. Suara gadis itu terdengar sedikit gugup, "Ini aku, Arlina." "Aku tahu." "Maaf mengganggu Anda malam-malam begini." Suaranya terdengar cemas. Setelah mengumpulkan keberanian, dia melanjutkan, "Besok Anda ada waktu? Kita bisa bertemu?" Rexa tidak banyak bertanya. Sembari menatap lampu meja di depannya, dia berkata, "Baik." .... Waktu dan tempat pertemuan ditentukan oleh Rexa. Saat pintu restoran didorong terbuka, dia langsung melihat Arlina. Gadis itu mengenakan jaket abu-abu yang sama seperti saat mereka pertama kali bertemu di kampus. Wajahnya yang mungil tampak menunduk, sementara jemarinya yang diletakkan di atas meja saling menggenggam dengan gelisah. Ini menunjukkan betapa gugupnya Arlina saat ini. Rexa melangkah mendekat. Mendengar langkah kaki itu, Arlina lalu mengangkat kepala. Wajah Rexa yang familier langsung memenuhi pandangannya. Dia buru-buru berdiri dan memanggil, "Pa ... Pak Rexa." Rexa memberi isyarat padanya untuk duduk, lalu Arlina pun menurutinya. Keduanya duduk berhadapan, suasana menjadi hening sejenak. Rexa membuka percakapan lebih dulu, "Mau makan apa?" Arlina buru-buru menggeleng, "Nggak perlu, nggak usah." "Kita bertemu di sini memang untuk makan." Rexa mendorong menu ke arahnya. "Pilih saja makanan yang kamu suka." Nada bicara Rexa terdengar agak tegas, membuat Arlina tidak berani membantah. Dia asal menunjuk salah satu menu di daftar, "Yang ini saja." Rexa melirik sekilas, yang dipilihnya adalah kepala ikan dengan cabai cincang. Dia memanggil pelayan tanpa mengatakan apa pun. Selain kepala ikan, dia juga memesan tiga hidangan lain. Saat menunggu hidangan datang, Arlina hanya sibuk menyeruput air, mencoba mengalihkan rasa gugupnya. Rexa tampaknya juga tidak tergesa-gesa. Sejak duduk, dia belum menanyakan alasan Arlina memintanya untuk bertemu. Akhirnya, makanan telah disajikan. Melihat kepala ikan yang dipenuhi cabai, Arlina langsung merinding. Dia tidak tahan makanan pedas, tadi dia hanya asal menunjuk menu karena pikirannya sedang tidak fokus. Sekarang dia terpaksa harus makan makanan yang dia pilih sendiri. Setelah memakan beberap suap, dia kepedasan hingga berkeringat deras dan bibirnya pun memerah. Tiba-tiba, sebuah tangan terulur dan menuangkan air ke dalam gelasnya. Rexa berkata, "Air lemon bisa membantu mengurangi pedas. Kalau nggak bisa makan, nggak usah dipaksa." "Maaf," Arlina merasa agak canggung. "Nggak perlu minta maaf." Rexa memindahkan kepala ikan cabai itu ke samping. "Setidaknya aku tahu sekarang kamu nggak tahan pedas." Kata-kata Rexa membuat hati Arlina sedikit tersentuh. Dia mengangkat kepala dan memandang pria itu. Nada bicaranya tetap tenang. Bahkan setelah tahu Arlina adalah mahasiswanya, Rexa hanya kehilangan kendali untuk sesaat. Namun kemudian, dia segera menenangkan dirinya dengan cepat. Rexa tampaknya jauh lebih tua dari Arlina. Sikap tenang ini adalah hasil dari tempahan waktu pada dirinya. Arlina merasa, keputusannya untuk menemui Rexa mungkin adalah pilihan yang tepat. Arlina tiba-tiba merasakan keberanian yang muncul. Dia menarik napas panjang dan berkata, "Pak Rexa, aku menghubungi Anda hari ini karena ada sesuatu yang ingin aku sampaikan." Saat akhirnya membahas masalah ini, Rexa mengangguk memberi isyarat, "Silakan." Arlina membuka tasnya dan mengeluarkan hasil pemeriksaan yang baru saja dia peroleh, lalu menyerahkannya ke depan Rexa. Kedua tangannya tidak bisa berhenti gemetaran. Bab 7 Rexa meraih kertas itu. Saat matanya membaca tulisan "Positif Hamil", sorot matanya menjadi lebih dalam. Arlina terus memperhatikan reaksinya dengan hati-hati. Melihat pria itu hanya menatap lembaran kertas itu tanpa berkata apa-apa, dia langsung panik dan buru-buru menjelaskan, "Pak Rexa, anak ini ... anak ini milik Anda. Aku ... aku cuma pernah bersama Anda seorang." Setelah mengucapkan kata-kata itu, wajahnya langsung merah padam. Akhirnya, tatapan Rexa beralih dari kertas itu kepadanya. Pantas saja Arlina terlihat begitu gugup sedari awal. Dia hanyalah seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang belum pernah mengalami hal seperti ini. Saat mengetahui dirinya hamil, Arlina pasti merasa sangat bingung dan takut. Kalau bukan karena benar-benar terdesak, mungkin Arlina tidak akan mencari dirinya. Rexa diam-diam mengutuk dirinya sendiri. Dengan sekali kehilangan kendali, dia telah menghancurkan hidup seorang gadis. Rexa meletakkan hasil pemeriksaan itu di meja, lalu bertanya dengan nada lembut, "Bagaimana rencanamu?" Sikap Rexa yang terlalu tenang membuat Arlina agak bingung dan tidak tahu harus bagaimana menanggapinya. Namun, dia tetap menggelengkan kepala dengan jujur dan menjawab dengan pelan, "Aku nggak tahu ... aku ... aku agak takut." Melihat jemari Arlina yang terus-menerus menggenggam satu sama lain, muncul perasaan iba dalam hati Rexa. "Takut itu wajar. Siapa pun yang mengalami hal ini seumuran kamu pasti akan merasa takut." Arlina menundukkan kepala tanpa berkata apa-apa. Rexa mulai menyampaikan pikirannya, "Kamu baru 21 tahun dan masih kuliah. Saat ini yang terpenting adalah pendidikanmu. Pilihan terbaik untukmu adalah menggugurkan anak ini." Arlina sudah menduga jawaban itu sebelumnya. Hatinya bergetar sesaat, kemudian dia berkata pelan, "Aku nggak berani bilang ke orang tuaku. Operasi kuret butuh tanda tangan pihak keluarga." Rexa melihat bulu matanya bergetar ringan. "Pertama-tama, aku mau minta maaf. Malam itu aku mabuk dan kehilangan kendali ...." Rexa terdiam sejenak, sulit baginya untuk melanjutkan kalimat itu, lalu memilih untuk melewatinya, "Aku lebih tua darimu, seharusnya aku bisa menahan diri." Wajah Arlina merah merona, lalu dia buru-buru menggelengkan kepala. "Bukan begitu, aku juga salah ...." "Kalau kamu memutuskan untuk menggugurkannya, aku akan mendampingimu sepenuhnya. Biaya operasi dan perawatan setelahnya akan kutanggung sepenuhnya sampai kamu pulih." Suara Rexa terdengar tenang dan stabil, entah mengapa membuat hati Arlina yang resah menjadi sedikit tenang. Setidaknya, dia merasa masih ada seseorang yang bisa dia andalkan untuk diajak bicara. Arlina menggigit bibir, lalu mengangguk pelan, "Baiklah." Pilihan yang ditawarkan Rexa memang yang terbaik. Kekhawatiran soal tanda tangan orang tua dan biaya sudah terjawab. Namun siapa sangka, Rexa kemudian berkata, "Aku belum selesai bicara. Selanjutnya adalah pilihan kedua." Arlina tercengang, "Apa?" Masih ada pilihan kedua? Rexa menatapnya dan berkata dengan tenang, "Kita menikah." Hah???? Arlina langsung membelalakkan mata menatap Rexa dengan tidak percaya, seolah-olah telinganya salah dengar. Namun, wajah Rexa tetap datar. Seakan-akan, kalimat yang baru saja dia ucapkan itu sama sekali bukan hal yang mengejutkan. "Aborsi akan memberikan dampak buruk bagi tubuhmu. Kalau kita menikah, anak ini bisa lahir dengan status yang sah. Aku akan bertanggung jawab sebagai suami dan ayah." "Untuk urusan kuliah, nanti di trimester akhir kamu bisa cuti kuliah selama setengah tahun. Setelah masa nifas, kamu bisa melanjutkan kuliah lagi. Soal mengurus anak, aku yang akan bertanggung jawab." "Sementara kamu di rumah melahirkan, aku juga bisa membantu mengajarkanmu pelajaran kuliah, aku yakin itu nggak akan mengganggu studimu." Rexa menatap mata Arlina yang masih terpaku dan terkejut. "Tentu saja, kamu mungkin merasa aku jauh lebih tua darimu. Tapi itu nggak sepenuhnya buruk. Pengalaman hidupku lebih banyak, aku bisa berbagi cerita dan membuatmu menghindari rintangan yang pernah kulalui. Lagi pula, nanti aku bisa pensiun lebih cepat daripada kamu." Benar-benar lelucon terburuk sepanjang abad ini! Arlina tidak menyangka, hanya dalam beberapa menit saja, Rexa bukan hanya menerima kenyataan bahwa dia akan menjadi seorang ayah, tapi juga langsung memberikan dua pilihan. Salah satunya bahkan mengusulkan untuk menikah. Selain itu, mengenai kuliah dan rencana mengurus anak pun sudah dipikirkan matang-matang. Memang otak profesor itu berbeda, berpikir jauh lebih cepat dibandingkan orang lain. Dari rasa terkejut, emosi Arlina berubah menjadi takut. "Pak Rexa, jangan bercanda seperti itu." "Aku nggak lagi bercanda." Ekspresi serius Rexa membuat wajah Arlina seketika membeku. "Aku perkenalkan diriku dulu, ya. Rexa Pariaman, 29 tahun, asli dari kota ini, lulusan doktoral, sekarang bekerja di Fakultas Kedokteran Universitas Sterling. Gajiku cukup untuk menghidupi keluarga. Karena baru pulang dari luar negeri, sekarang aku masih tinggal di rumah kontrakan. Tapi kalau mau beli rumah, aku sanggup." "Aku pakai mobil keluarga, nggak merokok, nggak minum alkohol, dan nggak pernah melakukan kekerasan rumah tangga. Hobiku membaca buku dan lari pagi. Orangtuaku punya usaha kecil, jadi soal biaya pensiun nggak ada masalah." "Setelah menikah, kita nggak perlu tinggal dengan mertua. Sekarang aku baru mulai bekerja, jadi mungkin agak sibuk, tapi setelah stabil nanti akan baik-baik saja. Aku punya libur akhir pekan, libur musim panas dan musim dingin, jadi cukup waktu untuk menemani kamu dan anak." Betapa realistisnya perkenalan diri itu. Kalau ada yang mendengar, pasti mengira mereka sedang mengikuti sesi perjodohan. Bagaikan disambar petir, Arlina terdiam sangat lama. Rexa memandangnya yang masih terpaku, lalu berkata dengan sabar, "Coba pikirkan, yang tadi aku sebutkan itu cocok nggak sama kriteria pasangan hidupmu." 'Tentu saja sangat amat cocok, tahu! Arlina bahkan merasa seperti mendapatkan durian runtuh yang jatuh tepat di kepalanya. Seorang profesor sehebat Rexa, malah mengajaknya menikah?' Di bawah meja, Arlina mencubit pahanya sendiri. 'Aduh, sakit! Ini bukan mimpi.' Arlina akhirnya menatap Rexa dengan wajah terkejut, lalu baru benar-benar menyadari bahwa dia tidak sedang bercanda. Rexa benar-benar serius dengan semua yang dia katakan. Akan tetapi, menikah .... Bagi Arlina, kata itu terasa begitu jauh dari kehidupannya. Dia sama sekali tidak pernah memikirkan soal pernikahan. Ini adalah keputusan yang jauh lebih besar dibanding menggugurkan kandungan. Arlina merasa ragu dan berkata dengan pelan, "Pak Rexa, apa aku boleh pertimbangkan dulu?" "Berapa lama?" " Senin depan aku akan memberimu jawaban." "Baik." Rexa mengangguk. Namun kenyataannya, Arlina bahkan tidak membutuhkan waktu selama itu. Saat dia pulang ke rumah dengan perasaan gelisah, dia mendengar suara Heidy dan Maxton dari dalam. "Aku mau beli sepatu." Itu suara Maxton. "Bukannya kamu baru beli belum lama ini?" jawab Heidy. "Sepatunya rusak gara-gara main basket kemarin." Heidy terdengar ragu. "Berapa harganya?" "Tiga setengah juta." Nada bicara Heidy langsung meninggi, "Semahal itu? Max, sebenarnya kita nggak perlu boros-boros hanya buat sepasang sepatu." Maxton juga mulai kesal, "Teman-temanku pakai sepatu yang jauh lebih mahal dari ini, sekarang aku jadi nggak percaya diri di sekolah. Sudahlah, kalau nggak mau beli ya nggak apa-apa, aku sudah biasa diejek sama teman-teman." Heidy buru-buru berkata, "Ya, sudah deh. Ibu belikan buat kamu." Arlina langsung terpaku di tempat. Keluarga mereka sebenarnya tidak kaya. Heidy hanya ibu rumah tangga yang sesekali membuat kerajinan tangan untuk dijual. Godric hanya seorang kepala seksi di kantor lingkungan sekitar dengan gaji yang biasa-biasa saja. Sejak kecil, Arlina sering mendengar orangtuanya menasihati bahwa keluarga mereka tidak mampu. Ayah dan ibunya bekerja keras, jadi dia tidak boleh menghamburkan uang sembarangan. Itulah sebabnya, saat masih sekolah, uang sakunya hampir tidak ada. Ketika masuk asrama saat SMA, Arlina baru diberi uang saku beberapa ratus ribu rupiah dan itu pun tidak pernah mereka berikan dengan inisiatif. Arlina harus hidup berhemat. Sampai ketika benar-benar kehabisan uang, barulah dia memberanikan diri pulang untuk meminta kepada mereka. Tentu saja, dia akan dimarahi habis-habisan. Setelah masuk universitas, dia hampir tidak pernah meminta uang lagi dari mereka selain biaya kuliah. Bagi Arlina, uang sejumlah tiga jutaan itu adalah jatah hidup selama beberapa bulan saat SMA. Dulu, dia butuh waktu lama untuk mengumpulkan keberanian dan memohon agar diberi uang. Namun kini, jika putra mereka yang memintanya, semuanya bisa diberikan dengan mudah. Hatinya tiba-tiba terasa sesak. Arlina tiba-tiba merasakan dorongan yang sangat kuat untuk melarikan diri dari keluarga ini. Sementara Rexa ... seolah-olah menjadi satu-satunya pegangan hidupnya. Arlina berlari keluar rumah. Saat berada di halaman apartemen, dia mengeluarkan ponselnya dan mencari nomor telepon Rexa. "Halo." Suara pria itu tetap lembut dan tenang seperti biasa. "Pak Rexa." Mendengar suara pria ini, entah mengapa mata Arlina langsung berkaca-kaca. Dia menggenggam ponsel dengan erat, lalu berkata dengan suara gemetar, "Ayo kita menikah."