Cintanya Bukan Untukku

Đang tải thông tin quảng bá...

Cintanya Bukan Untukku

GoodNovel Hoàn thành

Ethan telah meninggal. Menjelang pemakamannya, Olivia membereskan barang-barang peninggalannya dan menemukan sebuah album foto tebal. Di sampulnya tertulis, [Cinta Sejati] Namun ketika dibuka, isi alb...

Chương (1)

第1章

Ethan telah meninggal. Menjelang pemakamannya, Olivia membereskan barang-barang peninggalannya dan menemukan sebuah album foto tebal. Di sampulnya tertulis, [Cinta Sejati] Namun ketika dibuka, isi album itu bukan foto Olivia sebagai sang istri. Melainkan Emma. Gadis yang dulu diasuh oleh Ethan. Tak hanya itu, seluruh harta warisan Ethan juga diberikan kepada Emma. Akhirnya, Olivia meninggal dunia dengan penuh penyesalan. Tapi, saat membuka mata lagi, dirinya justru kembali ke masa sebelum menikah dengan Ethan. Kali ini, Olivia tidak akan lagi mengorbankan segalanya demi pria itu. Dia memilih menjalani hidup untuk dirinya sendiri dan pergi mengejar mimpinya. Namun yang tak diduga, di kehidupan kali ini, Ethan malah gila saat tahu dirinya pergi dan mencarinya ke seluruh penjuru dunia. Bab 1 Ethan telah meninggal. Menjelang pemakamannya, Olivia membereskan barang-barang peninggalannya dan menemukan sebuah album foto tebal. Di sampulnya tertulis, [Cinta Sejati]. Namun ketika dibuka, isi album itu bukan foto Olivia sebagai sang istri. Melainkan Emma, gadis yang dulu diasuh oleh Ethan. Dulu, Olivia selalu mengira bahwa perasaan Ethan pada Emma hanyalah kasih sayang antara orang tua pada anak. Namun, di album foto itu, terlihat foto Emma yang sedang tertawa, tertidur dan menangis. Setiap jepretan penuh dengan cinta dan kasih sayang antar lawan jenis. Di bawah foto Emma yang mengenakan gaun pengantin bertahun-tahun lalu, tertulis satu kalimat, [Kalau di kehidupan ini aku tak bisa menikahi orang yang kucintai, lebih baik menikah seadanya saja.] Setelah membaca semua kenangan suaminya selama bertahun-tahun, wajah Olivia pun terlihat pucat. Dua puluh tahun pernikahan, pada akhirnya hanya dibalas dengan ‘menikah seadanya saja’. Pemakaman segera dimulai. Orang-orang di sekeliling hanya bisa menenangkannya. “Ikhlaskan saja, bagaimana pun dia sudah meninggal. Warisannya sudah menjadi milikmu sekarang, yang penting kamu bisa hidup tenang ke depannya….” “Benar, meski obat-obatan yang dikeluarkan Grup Pruden ada masalah dan harus bayar ganti rugi besar, tapi dia punya banyak aset. Kamu nggak perlu khawatirkan hidupmu ke depannya.” Namun, baru saja mereka selesai bicara, terdengar suara seorang pengacara dari samping. “Semasa hidupnya, Pak Ethan sudah memutuskan untuk mewariskan semua harta dan aset tetapnya pada Nona Emma….” Semua orang langsung riuh mendengar isi surat wasiat Ethan, hingga seseorang menerobos masuk ke dalam. “Kalau uangnya dikasih ke orang lain, terus siapa yang bakal bayar ganti rugi pengobatan kami?!” Itu adalah keluarga korban dari insiden obat-obatan. Begitu melihat Olivia, mereka langsung berteriak marah, “Dia istri Ethan bajingan itu! Kalau kami nggak dapat uangnya, biar dia ganti rugi dengan nyawanya!” Tanpa basa-basi, mereka pun menyerbu dan salah satu dari mereka menusukkan pisau tajam ke dada Olivia. Olivia terjatuh. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, yang sempat dilihatnya hanyalah wajah Ethan yang dingin dalam foto hitam putih itu. Perlahan-lahan, matanya pun tertutup. Jika bisa hidup sekali lagi, aku, Olivia tak akan pernah mau menikah denganmu lagi. …. Saat membuka mata, yang dilihatnya adalah kasur yang berantakan. Belum sempat Olivia mencerna semuanya, suara dingin terdengar di telinganya. “Aku sudah menelepon ayah dan ibu. Kita akan menikah lima hari lagi. Olivia, kamu sudah puas sekarang?” Olivia mendongak dan melihat Ethan. Dia bukan lagi pria berumur lima puluhan yang sudah meninggal dunia, melainkan pria muda berumur tiga puluhan yang penuh pesona. Olivia baru sadar bahwa dirinya telah terlahir kembali. Tepat di masa sebelum menikah dengan Ethan. Sejak kecil, keluarga mereka sudah menjodohkan mereka. Namun, Ethan tak pernah menyukainya. Pernikahan itu pun ditunda bertahun-tahun, membuatnya jadi bahan tertawaan seluruh Kota Sekar. Hingga suatu malam, Ethan mabuk berat dan Olivia tidak sengaja bertemu dengannya. Tanpa sengaja, mereka pun melakukan hubungan intim. Sejak itu, Ethan yakin malam itu adalah jebakan Olivia dan karena kejadian itu, Ethan semakin membencinya. Namun, karena tanggung jawab, Ethan tetap menjalani perjodohan dan menikah dengannya. Setelah menikah, sikap Ethan sangat dingin, tapi Olivia tetap mencintainya sepenuh hati. Saat Grup Pruden kekurangan dana, Olivia menyerahkan seluruh harta keluarganya. Ethan tidak suka dirinya keluar rumah, Olivia pun rela berhenti kerja dan menjadi ibu rumah tangga. Ethan suka suasana tenang, Olivia bahkan tak berani berjalan terlalu keras di rumah. Bertahun-tahun Olivia hidup dalam ketakutan dan penuh kehati-hatian, barulah sesekali mendapat sedikit senyuman darinya. Namun, itu pun sangat jarang. Dulu, Olivia mengira Ethan memang orang yang dingin. Namun, sekarang dirinya sadar, ternyata semua cinta pria itu telah diberikan pada wanita lain. Kenangan itu terasa seperti semut-semut kecil yang menggigit hatinya tanpa henti. Olivia memaksakan diri untuk tersadar dari lamunannya, lalu menatap pria di depannya. “Nggak perlu tanggung jawab apa-apa,” ucap Olivia dengan tenang, lalu melanjutkan, “Kita batalkan saja perjodohan ini.” Diberi kesempatan hidup kembali, Olivia tidak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk pria yang tak mencintainya. Ethan hanya tertawa sinis, “Olivia, mau main trik tarik ulur lagi?” Olivia terdiam. Barulah dia teringat, saat masih muda dulu, dirinya mencintai Ethan sampai hampir kehilangan akal. Berkali-kali ngambek dan bilang ingin membatalkan perjodohan, tapi selalu berhasil dibujuk oleh orang tua Ethan. Itulah kenapa Ethan sudah tak percaya kalau dirinya ingin membatalkan perjodohan. “Kali ini, aku benaran….” ujar Olivia ingin menjelaskan, tapi Ethan malah pergi begitu saja tanpa menoleh. Sama seperti kehidupan sebelumnya, Ethan tak pernah mau mendengarkannya. Olivia hanya bisa menghela napas pasrah. Sudahlah. Jika mau membatalkan perjodohan, bisa langsung bicara dengan orang tua Ethan saja. Lagipula, ada hal yang lebih penting sekarang. Olivia pun mengambil ponsel dan menekan nomor seseorang. “Pak, aku ingin bertanya, apa aku masih bisa daftar untuk proyek Candli di pusat antariksa?” Suara dosen di balik telepon terdengar penuh kejutan dan gembira. “Tentu saja bisa! Kamu adalah kandidat yang mereka inginkan. Tapi, seperti yang kubilang sebelumnya, ini proyek rahasia tingkat tinggi.” “Begitu pergi ke institut penelitiannya, kamu nggak bisa kembali selama sepuluh tahun, bahkan nggak bisa menghubungi siapa pun. Kamu sudah pikirkan baik-baik?” Olivia mengambil jurusan astronomi di universitas dengan nilai yang sangat baik. Judul penelitiannya bahkan adalah teknologi yang paling dibutuhkan negara saat ini. Oleh karena itu, begitu lulus, dirinya langsung menerima tawaran dari pusat antariksa. Itu juga merupakan mimpinya. Namun, di kehidupan sebelumnya, Ethan melamarnya. Jadi, setelah banyak pertimbangan, akhirnya dirinya memilih menyerah pada impiannya dan sepenuh hati menjadi istri Ethan. Di kehidupan ini, dia hanya ingin hidup untuk dirinya sendiri. “Aku sudah memikirkannya, aku mau ikut.” Dosennya terdengar sangat senang dan menjawab, “Bagus! Tapi proyek ini akan segera dimulai dan lima hari lagi kamu harus berangkat. Jadi, cepat-cepatlah berpamitan dengan keluargamu!” Bab 2 Sebenarnya, Olivia tak punya keluarga untuk dia pamiti. Saat berusia lima belas tahun, kedua orang tuanya sudah meninggal. Sejak saat itu, hanya tersisa dirinya seorang di Keluarga Sean. Olivia pun menghubungi orang tua Ethan untuk menyampaikan keinginannya membatalkan pertunangan. Setelah menutup telepon, Olivia pergi ke rumah lelang. Ibu Olivia adalah seorang seniman keramik ternama. Sejak ibunya meninggal, Olivia mulai mengumpulkan karya-karya ibunya sebagai bentuk kenangan. Di antara semua karyanya, ada satu yang bernama [Cinta], yang dibuat ibunya saat mengandung dirinya. Olivia sudah mencarinya bertahun-tahun. Dia cukup beruntung, sebelum pergi ke institut penelitian di Kota Buya, kebetulan menemukan karya [Cinta] sedang dilelang. Olivia tiba di rumah lelang, tak disangka malah bertemu Ethan dan Emma. Begitu melihatnya, Ethan berkata dengan dingin, “Olivia, sudah cukup dramanya?” Olivia tidak mengerti dan bertanya, “Maksudnya?” Raut wajah Ethan tampak semakin kesal. “Kamu telepon orang tuaku bilang mau batalkan pertunangan, bukannya itu hanya karena tak puas dengan pernikahan yang terburu-buru? Aku sudah menaikkan biaya pernikahan sepuluh kali lipat, sudah puas sekarang?” Barulah Olivia sadar, Ethan dan keluarganya masih tak percaya kalau dirinya benar-benar ingin membatalkan pernikahan. “Kamu salah paham, aku benaran….” Belum sempat menjelaskan, Ethan kembali memotongnya, “Cukup, Olivia.” Menatap wajah dingin pria itu, seketika Olivia kehilangan niat untuk menjelaskan lagi. Lupakan saja. Pernikahan akan diadakan empat hari lagi, saat mereka tak melihat pengantin wanitanya muncul nanti, barulah mereka sadar bahwa dirinya memang sungguh-sungguh ingin membatalkan pernikahan ini. Acara lelang pun segera dimulai. Ethan membungkuk sedikit dan bertanya lembut pada Emma, “Emma, sebentar lagi hari ulang tahunmu, kamu mau apa? Bilang saja, aku akan belikan semuanya.” Emma tampak gugup, jari-jarinya meremas ujung barunya dan menggeleng pelan. “Om, kamu sudah membesarkanku, itu saja sudah lebih dari cukup. Barang-barang di sini terlalu mahal, aku tak pantas….” “Jangan asal bicara,” ujar Ethan sambil mengernyit, lalu melanjutkan, “Emma pantas mendapatkan yang terbaik di dunia ini.” Ayah Emma dulunya adalah bawahan Ethan. Dua belas tahun yang lalu, dia meninggal dunia demi menyelamatkan Ethan. Sejak saat itu, Ethan pun mengangkat Emma sebagai anak angkat dan menyuruh Emma memanggil dirinya om. Saat itu, Emma baru berusia sepuluh tahun dan Ethan berusia dua puluh satu tahun. Namun, dua belas tahun berlalu, gadis kecil itu telah tumbuh menjadi seorang wanita muda yang cantik jelita. Melihat ekspresi Ethan yang penuh kasih saat menatap Emma, Olivia baru menyadari satu hal. Betapa butanya dirinya sampai tak menyadari bahwa ternyata Ethan mencintai Emma di kehidupan sebelumnya. Tiba-tiba, terdengar suara pembawa acara lelang, “Selanjutnya adalah karya keramik bernama [Cinta]!” Sebuah keramik putih mengilap dibawa ke atas panggung. Bentuknya adalah seekor induk gajah sedang memeluk anaknya. Tiba-tiba, Emma mendongak melihat ke arah panggung. Ethan langsung menyadarinya dan bertanya, “Kamu suka yang ini?” Pipi Emma pun memerah dan menjawab, “Iya, ini mengingatkanku pada almarhum ibuku….” Dan pada saat yang sama, Olivia langsung mengangkat nomor lelang di tangannya. “Dua puluh miliar.” Dia langsung menaikkan penawaran hingga dua kali lipat harga pasar, demi mendapatkan karya peninggalan ibunya. Namun tak disangka, Ethan pun ikut mengangkat nomor di tangannya. “Tiga puluh miliar.” Olivia langsung menoleh melihatnya. Ethan tampak tenang dan menjawab, “Emma menyukainya.” Tatapan Olivia tampak marah dan berkata, “Itu karya peninggalan ibuku!” Ethan sempat tertegun dan baru menyadari nama senimannya. Tangan yang memegang nomor lelang tanpa sadar menurun, tapi Emma di sampingnya tiba-tiba terisak dan berkata, “Nggak apa-apa, om. Aku memang nggak pantas memiliki barang sebagus itu….” Melihat mata gadis itu yang mulai berkaca-kaca, hati Ethan tersentuh dan tanpa ragu berbalik memanggil staf. “Naikkan penawarannya.” “Aku harus mendapatkan karya ini!” Bab 3 Naikkan penawarannya, artinya tak peduli berapa pun harga yang ditawarkan orang lain, Ethan akan langsung menambahkan dua miliar di atasnya. Dia tak peduli soal biaya, yang terpenting dirinya harus mendapatkan karya bernama [Cinta] ini. Raut wajah Olivia langsung pucat. “Ethan.” Suara Olivia terdengar bergetar, “Haruskah kamu seperti ini? Dari kecil sampai sekarang, aku belum pernah meminta apa pun darimu. Tapi kali ini, anggap saja aku memohon padamu, bisakah berikan peninggalan ibuku padaku?” Ibunya sudah sering menyebut karya ini semasa hidupnya. Itu adalah karya yang paling ingin dibelinya kembali. Namun, Ethan hanya menanggapinya dengan datar, “Maaf, Emma menyukainya.” Tangan Olivia yang hendak mengangkat papan lelang pun terkulai lemas. Meski orang tuanya mewariskan harta dalam jumlah besar, uang tunai di tangannya tetap tidak bisa menandingi Ethan. Dan akhirnya, karya bernama [Cinta] milik ibunya pun jatuh ke tangan Emma. “Terima kasih, om! Aku suka sekali!” Emma menerimanya dengan gembira, tapi tiba-tiba tangannya terlepas. Brak! Karya itu pun jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. …. Pada akhirnya, karya kesayangan ibunya hancur. Dengan mata memerah, Olivia memunguti pecahan-pecahan keramik itu dan membawanya pulang. Dia mencoba menyusunnya kembali dengan hati-hati. Namun, saat baru mulai terbentuk sedikit bentuk dasarnya, pembantu datang menghampirinya. “Bu Olivia, Nona Emma datang. Dia berlutut di depan gerbang, katanya mau minta maaf padamu.” “Dia juga bilang… kalau kamu nggak keluar sendiri dan memaafkannya, dia nggak akan berdiri.” Olivia tak menoleh sedikit pun. “Aku nggak mau menemuinya.” Beberapa saat kemudian, hujan deras mulai turun. Ethan melangkah masuk ke vila Keluarga Sean dengan wajah muram. “Olivia, keterlaluan sekali kamu!” Pria yang biasanya tenang itu, kini tampak penuh amarah. “Emma sudah berlutut selama satu jam di luar! Kamu hanya perlu keluar dan bilang sudah memaafkannya saja, apa itu sangat sulit?” Tangan Olivia yang sedang menyusun pecahan keramik itu akhirnya berhenti. “Dia sendiri yang mau berlutut,” ucap Olivia dengan dingin, lalu melanjutkan, “Dia sudah menghancurkan peninggalan ibuku, kenapa aku yang harus pergi memaafkannya?” “Kamu!” Ethan benar-benar marah, tapi belum sempat bicara lagi, asistennya sudah berlari masuk. “Gawat! Pak Ethan, Nona Emma pingsan!” “Apa?” Wajah Ethan langsung berubah drastis. Begitu dia menoleh dan melihat Olivia masih dengan tenang menyusun pecahan keramik itu, dia pun naik pitam. Dengan satu gerakan kasar, dia menyapu pecahan yang nyaris tersusun sempurna itu ke lantai. “Olivia! Dasar nggak punya hati!” Usai bicara, Ethan langsung berbalik dan berlari keluar, menggendong Emma yang terbaring di tengah hujan. Olivia menatap pecahan keramik yang kini hancur untuk kedua kalinya. Air matanya yang sejak tadi ditahan, akhirnya tak bisa dibendung lagi. Tak punya hati? Dirinya selalu mengejar pria itu selama bertahun-tahun, hanya agar bisa mendapat sedikit perhatian darinya. Tapi, apa balasan yang dia dapat? Kematian tragis di kehidupan sebelumnya. Dan ketidakpeduliannya di kehidupan ini. Jadi, siapa sebenarnya yang tidak punya hati? Olivia menyeka air matanya, lalu memungut satu per satu pecahan keramik yang kini sudah tak mungkin disatukan lagi. Ethan. Aku tak mau mencintaimu lagi. Bahkan sedikit pun, aku tak akan mau lagi. …. Setelah benar-benar memutuskan untuk mengakhiri segalanya, Olivia pun mengemas semua hadiah yang pernah diberikan Ethan dan mengirimkannya kembali ke rumahnya. Meski disebut hadiah dari Ethan, sebenarnya setiap pemberian itu hanyalah barang yang dibeli seadanya oleh asisten, atas desakan ayah dan ibu Ethan. Kecuali giok warisan Keluarga Pruden yang sangat berharga. Itu terlalu berharga, jadi Olivia berniat mengembalikannya secara langsung. Namun, saat sampai di depan ruang rawat Emma, Olivia mendengar suaranya dari dalam. “Om, jangan terlalu baik padaku. Aku takut terbiasa dengan kebaikanmu. Nanti kalau kamu menikah, aku jadi nggak terbiasa….” Lewat kaca bening di pintu ruangan, Olivia melihat ekspresi penuh kasih Ethan. Ethan tampak reflek mengangkat tangan, seolah ingin memeluk gadis itu. Namun, pada akhirnya berhasil menahan diri. Akhirnya, tangannya hanya mendarat di kepala gadis itu, tatapannya juga tampak penuh kesabaran. “Asal bicara apa? Meski sudah menikah, aku tetap akan selalu baik padamu.” Mata Emma langsung berbinar, kemudian Ethan kembali berkata, “Aku sudah pernah bilang, kamu bisa menganggapku sebagai om kandungmu. Aku akan menjagamu seumur hidup.” Kekecewaan tampak melintas di mata Emma. Dia pun menundukkan kepalanya. “Hanya sebagai paman saja….” gumamnya pelan, lalu melanjutkan, “Tapi, setelah om menikah, cepat atau lambat akan punya anak sendiri. Hingga saat itu tiba, apa aku masih berarti….” “Nggak akan ada.” Tak disangka, Ethan menjawabnya tanpa ragu sedikit pun. “Aku dan Olivia nggak akan punya anak.” Emma tampak terkejut dan bertanya, “Kenapa?” Ethan menunduk menatapnya, ekspresinya terlalu rumit dan sulit untuk dimengerti. “Aku sudah menyuruh orang menyiapkan pil KB jangka panjang. Setelah menikah, aku akan memastikan Olivia meminumnya setiap hari. Jadi, kami nggak akan punya anak.” “Emma, aku akan selalu menjadi ommu. Semua warisanku juga akan menjadi milikmu.” “Jadi, kamu jangan khawatir lagi, ya?” Bab 4 “Om….” Mata Emma berkaca-kaca, lalu langsung memeluk Ethan erat-erat. Namun di ambang pintu ruang rawat, wajah Olivia tampak pucat. Karena, dia tiba-tiba teringat pada kehidupan sebelumnya. Ethan pernah bilang sudah menyiapkan vitamin khusus yang diformulasikan khusus untuknya. Waktu itu, Olivia merasa sangat bahagia, mengira Ethan begitu perhatian padanya. Jadi, dia pun rajin meminum vitamin itu setiap hari. Setelah menikah bertahun-tahun, mereka tak juga punya anak. Mereka juga sempat melakukan pemeriksaan dan hasilnya menyebutkan bahwa masalahnya ada pada hormon Olivia. Demi bisa hamil, Olivia pun mulai menjalani suntik hormon ovulasi. Suntikan demi suntikan, perutnya pun penuh dengan luka lebam. Tubuhnya mulai membengkak akibat gangguan hormon. Namun, meski sudah berusaha sejauh itu, dirinya tetap tak kunjung hamil. Dokter sempat menanyakan apakah ada sesuatu dalam pola makan atau suplemen yang bisa menghambat efek suntikan tersebut? Olivia memikirkan segala kemungkinan, tapi tak pernah terlintas di benaknya adalah vitamin yang diberikan Ethan. Namun sekarang…. Olivia tak sanggup menerimanya, tubuhnya pun terhuyung ke belakang. Ethan, kejam sekali dirimu…. Tepat saat itu, seseorang memanggil, “Bu Olivia?” Pengawal Ethan kebetulan datang dan terkejut melihatnya berdiri di depan pintu. Olivia buru-buru menyerahkan giok warisan ke tangan pengawal itu. “Kasih ke Ethan.” Lalu, Olivia pun pergi tanpa menoleh. …. Hari ini adalah hari ulang tahun Olivia. Karena dirinya akan segera pergi, Olivia yang biasanya tak suka keramaian itu akhirnya memutuskan untuk menggelar pesta ulang tahun meriah demi teman-temannya. Namun siapa sangka, Ethan datang bersama Emma. “Hadiah,” ucap Ethan dengan dingin, sambil melemparkan sebuah kotak kecil pada Olivia. Olivia menunduk dan melihat sebuah cincin berlian. Persis seperti kehidupan sebelumnya. Betapa konyolnya, cincin yang seharusnya untuk lamaran, malah diberikan sebagai hadiah ulang tahun. Itu jelas memberitahunya bahwa pernikahan ini tak lebih dari sebuah belas kasihan. Lucunya, di kehidupan sebelumnya, Olivia malah begitu tersentuh dan menangis terharu saat menerima cincin itu. Namun sekarang, dirinya tanpa ragu menyerahkan kembali cincin itu. “Kamu nggak terima barang yang kutitipkan pada pengawal waktu itu? Kalau Ethan melihat giok warisan keluarga yang dikembalikan Olivia, seharusnya dia tahu kalau Olivia sudah tak berniat menikah dengannya. Namun, Ethan langsung mengernyit. “Aku nggak lihat. Sudah kubilang, aku nggak kekurangan apa-apa. Nggak perlu kasih aku hadiah.” Olivia sempat terdiam, lalu akhirnya menyadari maksudnya. Sepertinya Ethan hanya melihat kantongnya saja, lalu langsung mengira itu hadiah darinya. Jadi, Ethan bahkan tidak membukanya. Olivia pun teringat, di kehidupan sebelumnya saat dirinya membereskan barang-barang peninggalan Ethan, dia menemukan gudang bawah tanah yang penuh dengan kotak-kotak berdebu. Itu semua adalah hadiah-hadiah yang dulu dia berikan. Kalung yang Olivia ukir sendiri selama seminggu untuk ulang tahun Ethan yang ke-25. Jimat kesehatan yang dia dapatkan dari Bukit Keberuntungan setelah berlutut dan berdoa selama tiga hari tiga malam saat Ethan sakit di usia 33. Dan aroma terapi yang dia pelajari dan meraciknya sendiri selama setahun penuh saat Ethan mulai sering sakit kepala di usia 40. Semua hadiah yang penuh perhatian dan usaha itu, malah ditelantarkan di gudang, bahkan belum dibuka sama sekali. Sebaliknya, bintang origami dari Emma, dasi murahan, bahkan secarik kertas sekalipun, semuanya disimpan dengan rapi di dalam brankas. Olivia tersenyum sinis. Dia pun malas menjelaskan lebih jauh dan memilih menyambut para tamu saja. Di tengah jalannya pesta, tiba-tiba Emma terjatuh ke pelukan Ethan. “Om, kepalaku pusing….” Raut wajah Ethan langsung berubah. “Sakit atau salah makan? Ayo, kita ke rumah sakit.” Usai bicara, Ethan langsung menggendong Emma dan membawanya pergi. Olivia mengernyit. Bagaimanapun juga, dirinya adalah tuan rumah pesta ini. Kalau sampai terjadi sesuatu pada Emma, itu tetap tanggung jawab dirinya. Olivia tak ingin menimbulkan masalah sebelum kepergiannya. Jadi, dia pun memutuskan untuk menyusul mereka. Namun tak disangka, begitu tiba di depan mobil Bentley hitam milik Ethan, Olivia mendengar suara Emma dari dalam, “Om… aku panas sekali….” Bab 5 Tangan Olivia yang semula hendak mengetuk pintu mobil mendadak terhenti. Bahkan dirinya saja bisa langsung menyadari ada yang tidak beres, apalagi Ethan yang ada di dalam mobil. Olivia mendengar suara panik Ethan, “Emma, kamu diracuni! Aku akan segera membawamu ke rumah sakit!” Namun, Emma malah memeluknya erat sambil menangis tersedu-sedu. “Om, nggak nyaman sekali rasanya… tolong aku….” Suara gadis itu lembut dan terdengar memelas, langsung menyentuh titik paling sensitif dalam diri seorang pria. Ethan yang sejak awal sudah menahan diri sekuat tenaga, begitu mendengar suara penuh permohonan itu, akhirnya dirinya kehilangan kendali. Dia pun berubah menjadi binatang buas dan langsung menerkam gadis itu. Olivia menatap mobil di depannya dan mendengarkan isak tangis dari dalam mobil. Pria itu bahkan belum juga berhenti. Olivia tersenyum getir. Di kehidupan sebelumnya, dia dan Ethan telah menikah selama dua puluh tahun, tapi momen intim di antara mereka bisa dihitung dengan jari. Bahkan, rutinitas sebulan sekali yang mereka jalani pun baru dimulai setelah ulang tahun Olivia yang ke-35. Itu pun karena Olivia memohon padanya sebagai hadiah ulang tahun. Dulu, Olivia sempat mengira Ethan memang tidak tertarik pada hal-hal seperti itu. Namun, saat mendengar kegaduhan dari dalam mobil, barulah Olivia mengerti. Bukan karena tidak tertarik pada hal semacam itu, tapi Ethan hanya tidak tertarik padanya. Olivia pun membalikkan badan. Mungkin, ini yang terbaik. Di kehidupan ini, akhirnya semua orang bisa mendapatkan apa yang benar-benar mereka inginkan. …. Olivia kembali ke ruang pesta. Dua jam kemudian, acara hampir selesai dan sebagai tuan rumah, dia harus memberikan sambutan. Dia naik ke lantai atas, masuk ke ruang rias dan meneguk segelas jus. Saat hendak merapikan riasan wajahnya, tiba-tiba ada aliran panas menjalar di perut bagian bawahnya. Dia langsung merasa ada yang tidak beres dan hendak memanggil seseorang. Namun, belum sempat memanggil, langsung terdengar suara dingin dari arah pintu, “Bagaimana rasanya, Olivia? Jadi korban yang diracuni itu nggak enak, ‘kan?” Bab 6 Olivia langsung mendongak dan terkejut melihat Ethan yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu. Dia pun langsung sadar apa yang terjadi. “Kamu yang menaruh obat di jusku?” Olivia pun membentak marah, “Ethan, apa yang mau kamu lakukan?!” Ethan malah tertawa dingin dan melangkah maju, lalu mencengkeram dagunya. “Seharusnya aku yang tanya itu. Apa yang mau kamu lakukan? Kenapa meracuni Emma?” “Hanya karena dia nggak sengaja memecahkan karya peninggalan ibumu? Jadi, kamu meracuninya? Kamu mau mempermalukannya di depan umum? Mau menghancurkan reputasinya?” “Dia masih anak-anak! Olivia! Kenapa kamu bisa sekejam itu?!” Olivia sampai terpaku saking terkejutnya. “Sejak kapan aku meracuni Emma?!” Ethan melepaskan cengkeramannya dengan kasar. “Jangan bohong! Aku sudah tanya ke Emma. Dia bilang hari ini hanya minum air yang kamu kasih. Kalau bukan kamu, siapa lagi?!” Akhirnya, Olivia mengerti apa itu cinta membabi buta. Hanya karena satu kalimat Emma, Ethan langsung menjatuhkan vonis padanya tanpa bertanya lebih dulu. “Orang gila.” Olivia tertawa penuh sindiran dan berusaha meraih ponselnya untuk menelepon ambulans. Namun, Ethan langsung merebut ponselnya. “Ethan! Kamu apain?!” Ethan menatapnya dari atas dengan tatapan dingin. “Efek obat ini sangat kuat, nggak ada gunanya memanggil ambulans. Satu-satunya cara untuk menyelamatkan dirimu sendiri adalah memohon padaku.” Olivia belum sepenuhnya menangkap maksudnya, “Memohon apa?” “Tentu saja memohon agar aku membantumu menjadi penawar racun itu,” ujar Ethan sambil tersenyum sinis, lalu melanjutkan lagi, “Tapi, aku nggak akan bantu begitu saja. Kamu harus bersujud dan minta maaf ke Emma, aku baru akan membantumu.” Olivia menatap Ethan dengan tatapan tak percaya. Ethan baru saja selesai tidur dengan Emma di dalam mobil, sekarang malah menawarkan diri untuk menjadi penawar? Dan dengan syarat dirinya harus berlutut dan memohonnya? Olivia merasa jijik luar biasa. Namun, Ethan malah membungkuk dan semakin mendekatinya. “Olivia, nggak perlu pura-pura. Bukannya ini yang paling kamu inginkan selama ini?” Ucap Ethan dengan dingin. “Dulu, kamu juga pakai cara licik seperti ini untuk memaksaku menikahimu. Sekarang, aku hanya menyuruhmu minta maaf atas apa yang telah kamu lakukan, kok malah keberatan?” Olivia akhirnya tak bisa menahan diri lagi. Menepis Ethan dengan keras, lalu meraih gunting di atas meja dan berkata dengan suara dingin, “Mau aku sujud dan minta maaf ke Emma? Mimpi!” Usai bicara, tanpa ragu Olivia langsung mengangkat gunting dan menusukkannya ke pahanya sendiri. Bab 7 Wajah Ethan akhirnya berubah saat melihat apa yang terjadi. “Olivia! Kamu apain?!” Namun, Olivia sama sekali tak menghiraukannya, hanya terus menusukkan gunting ke pahanya, tusukan demi tusukan. Gaun putih yang dikenakannya langsung berubah menjadi merah. Ethan membeku di tempat. Olivia… begitu kekeh tak ingin disentuh olehnya? Dia bahkan lebih memilih menyakiti dirinya sendiri daripada menyerah? Pikiran itu menghantam kesadarannya dan menimbulkan rasa gelisah yang belum pernah Ethan rasakan sebelumnya. “Olivia!” Teriak Ethan sambil meraih tangan Olivia. Gunting itu pun jatuh ke lantai. Rasa sakit yang menyengat membuat kepala Olivia yang tadinya terasa kabur, jadi sedikit lebih jernih. Pada saat bersamaan, dari lantai bawah terdengar tepuk tangan. Jelas para tamu sedang menunggu Olivia, si tuan rumah pesta ulang tahun untuk memberikan sambutan. Dengan menahan sakit, Olivia menghempaskan tangan Ethan, lalu berjalan keluar dan menuruni tangga. Begitu melihat darah membasahi tubuhnya, seluruh ruangan langsung dipenuhi suara teriakan panik. Namun, ekspresi Olivia tetap tenang. Dengan dagu terangkat tinggi dan warna merah mencolok di tubuhnya membuatnya tampak seperti mawar liar di tepi jurang. Dia mengangkat gelas anggurnya dan tersenyum pada tamu. “Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri yang ke-29. Masa depan yang cemerlang menantiku.” Usai bicara, akhirnya tubuhnya tak sanggup menahan lagi, dirinya pun jatuh dan pingsan. Di tengah kepanikan, Ethan langsung berlari dan menggendongnya. …. Olivia baru sadar kembali setelah tak sadarkan diri satu hari satu malam. Begitu keluar dari rumah sakit dan tiba di rumah, baru saja membereskan koper untuk pindah, tak disangka Ethan malah datang bersama Emma. “Aku sudah selidiki soal obat itu,” ujar Ethan dengan nada kaku, lalu melanjutkan, “Itu ulah orang lain, nggak ada hubungannya denganmu.” Olivia tidak menunjukkan reaksi apa pun. Di sisi lain, Emma malah kembali menangis. “Tante, semua ini salahku. Aku yang sembarang bicara, membuat om jadi salah paham padamu. Untuk menebus kesalahanku, aku bakal mendesain sendiri gaun pengantin untuk kamu dan om. Anggap saja ini hadiah ulang tahun dariku….” Barulah Olivia mengangkat kepala dan melihat ke arah gaun pengantin di tangan Emma. Ingatan dari kehidupan sebelumnya kembali membanjiri benaknya. Olivia pun tersenyum sinis. “Kamu desain baju nggak lihat ukuran, ya? Mana bisa aku pakai gaun sekecil itu?” Di kehidupan sebelumnya, Emma juga menyerahkan gaun pengantin hasil desainnya sendiri kepada Ethan sehari sebelum pernikahan. Tanpa bertanya lebih dulu, Ethan langsung membatalkan gaun pengantin mahal hasil pilihan Olivia yang sudah dipilih dengan susah payah dan bersikeras agar Olivia memakai gaun yang didesain Emma. Ironisnya, gaun yang didesain Emma itu sangat kecil dan sempit. Olivia bahkan tidak bisa memakainya. Namun, di kehidupan sebelumnya, Ethan hanya berkata dengan dingin, “Kamu tinggal diet saja.” Dua hari sebelum pernikahan, Olivia sampai tak berani minum setetes air pun dan akhirnya pingsan di hari pernikahan. Namun, di kehidupan sekarang, tentu saja Olivia tidak sebodoh itu lagi. Begitu mendengar ucapan Olivia, wajah Emma langsung pucat. “Ma… maaf… waktu mendesain gaun ini, aku terus membayangkan akulah yang menjadi pengantinnya. Jadi… nggak sengaja….” ujarnya dengan panik sambil menangis. Ethan mendongak menatapnya, tatapan matanya dipenuhi emosi yang sangat rumit. Sementara itu, Emma buru-buru menutup mulutnya, seolah menyadari telah salah bicara. Suasana langsung hening dan canggung, sampai akhirnya Olivia memecah keheningan dengan sinis. “Kalau begitu, kamu saja yang pakai gaun itu.” Bab 8 Emma tertegun sejenak, sementara wajah Ethan langsung memuram. “Olivia, kamu omong kosong apa lagi?! Aku ini omnya!” Olivia hanya tersenyum sinis. Lihat. Orang yang merasa bersalahlah yang akan lebih mudah tersulut emosi. “Kalau begitu, kasih ke orang lain saja.” Olivia malas membongkar semuanya, jadi hanya menjawab dengan nada datar, “Yang jelas, aku nggak akan memakainya.” Ethan langsung mengernyit dan bertanya, “Olivia, apa maksudmu?” “Aku rasa maksudku sudah sangat jelas.” Olivia menatapnya dan mengulang dengan tegas, “Aku nggak mau menikah denganmu lagi. Aku juga nggak akan datang ke pernikahan besok.” “Apa lagi yang kamu rencanakan….” Tadinya, Ethan ingin menjawab dengan kesal, tapi saat melihat tatapan dingin di mata Olivia, kata-kata yang sudah sampai di ujung lidahnya mendadak tertahan. Matanya tanpa sadar melirik ke arah luka di paha Olivia yang dibalut ketat, lalu teringat bahwa dia lebih memilih menyakiti dirinya sendiri, daripada berhubungan intim dengannya tadi malam. Tiba-tiba, hati Ethan menjadi kacau. “Olivia, pernikahan kita sudah dekat. Jangan mengambek seperti anak kecil.” Benar. Olivia pasti hanya sedang mengambek karena akhir-akhir ini dirinya terlalu sibuk dan kurang memperhatikannya. Jika emosinya sudah reda, dia pasti akan kembali ceria dan tak sabar ingin menikah dengannya. “Soal gaun pengantin….” Ethan melirik ke arah gaun yang tergantung di samping. Olivia sempat mengira dia akan bertindak seperti kehidupan sebelumnya, memaksanya diet untuk memakai gaun itu. Namun ternyata, Ethan malah berkata, “Kalau kamu suka gaun yang dipilih sebelumnya, pakai saja yang itu.” Emma sontak mendongak dan berkata, “Om….” Ethan hanya mengelus kepalanya dan menjawab, “Nggak apa-apa, kamu bisa desain baju yang lain saja.” Wajah Emma langsung memucat, tapi dia tetap mengangguk patuh. Ethan pun pergi bersama Emma. Namun tak lama kemudian, Emma kembali lagi. Dia berdiri di depan Olivia, langsung bicara tanpa basa-basi, “Olivia, kamu pasti sudah lihat semua kejadian di mobil kemarin, ‘kan?” Terlihat Emma sama sekali tidak menunjukkan sikap pemalu seperti biasanya, sebaliknya malah penuh dengan permusuhan yang begitu pekat. Olivia tidak langsung menjawab, dia hanya balik bertanya, “Kamu yang meracuni dirimu sendiri?” Emma tidak membantah. “Benar. Om memang mencintaiku, aku hanya memberinya kesempatan saja.” Akhirnya, Olivia mengerti. Di kehidupan sebelumnya, dirinya tidak yakin apakah hubungan mereka itu cinta sepihak Ethan atau memang saling mencintai. Di kehidupan ini, akhirnya dirinya menemukan jawaban. Jadi, Olivia pun berkata, “Semoga kalian bahagia.” Dia mengucapkannya dengan tulus, tetapi Emma langsung emosi. “Olivia, jangan pura-pura baik di depanku! Tapi harus kuakui, sekarang kamu jadi jauh lebih pintar dibanding dulu.” Olivia tertawa dingin. “Dulu hanya bisa menempel seperti pengemis cinta, sekarang malah belajar bersikap munafik? Kamu kira dengan mati-matian menolak berhubungan intim dengan om kemarin, dia akan menilaimu berbeda?” “Dengarkan baik-baik, itu hanya mimpi! Hari ini, aku akan membuatmu sadar siapa sebenarnya orang yang paling dipedulikan om!” Usai bicara, tiba-tiba Emma melangkah maju, menutup hidup dan mulut Olivia dengan sapu tangan. Bau menyengat langsung menyeruak. Olivia terkejut dan berusaha melawan, tapi karena kakinya terluka, dia tak punya kekuatan. Sedangkan para pembantu di rumah sudah pergi sejak tadi, karena merasa mereka sedang berbincang hal pribadi. Olivia tak bisa melawan dan akhirnya kehilangan kesadaran. …. Olivia terbangun karena rasa panas. Saat membuka mata, yang terlihat hanyalah kobaran api. Emma juga terbaring di sampingnya. Olivia baru tersadar dan berteriak marah pada Emma, “Kamu membakar rumahku? Kamu sudah gila?!” Emma malah mencibir, “Kamu pikir om peduli padamu? Hari ini, aku bakal tunjukin seberapa besar cintanya padaku!” Baru selesai dia bicara, langsung terdengar suara Ethan yang panik dari belakang. “Emma! Emma, kamu di mana?!” Ekspresi jahat di wajah Emma langsung menghilang. Dia buru-buru meneteskan air mata dan berteriak dengan nada menyedihkan, “Om! Aku di sini! Cepat selamatkan aku!” Ethan segera bergegas masuk ke kamar. Begitu melihat Olivia di samping, Ethan sempat tertegun. Tapi, jeritan Emma yang penuh kesakitan langsung menarik perhatiannya kembali. “Emma!” Ethan langsung menggendong Emma. Saat melewati Olivia, dia berkata cepat, “Olivia, aku bawa Emma keluar dulu, setelah itu aku bakal balik lagi untuk menolongmu.” Usai bicara, Ethan langsung melangkah pergi. Bab 9 Olivia menajamkan sudut bibir, tersenyum sinis. Dengan menahan sakit di kakinya, dia mengerahkan seluruh tenaga untuk merangkak keluar. Dia sudah tak percaya lagi pada ucapan Ethan. Dia harus keluar sendiri. Begitu berhasil turun ke lantai satu, Olivia langsung menyadari bahwa seluruh area sudah hampir dilahap api. Ethan sedang membuka jalan keluar dan saat melihat Olivia muncul, ekspresinya langsung berubah. “Bukannya aku menyuruhmu menungguku?” Namun, ini bukan waktu yang tepat untuk memperdebatkan itu. Saat Ethan hendak memapah Emma keluar, tiba-tiba Emma berseru, “Hati-hati!” Balok kayu yang terbakar patah dan jatuh lurus ke bawah. Balok pertama yang jatuh mengarah tepat ke arah Olivia. “Olivia!” teriak Ethan dengan panik dan hendak berlari menghampirinya. Namun, di detik berikutnya…. Krek! Satu balok jatuh lagi, kali ini menuju ke arah Emma. Dalam situasi yang sangat genting itu, akhirnya Ethan berbalik dan melindungi Emma dengan tubuhnya. Balok kayu yang masih terbakar api itu menghantam punggungnya. Ethan pun mengerang pelan. Pada saat bersamaan, potongan kayu lain juga menghantam punggung Olivia. Rasa sakit yang hebat menyerang. Dengan pandangan kabur, Olivia sempat melihat pemadam kebakaran yang akhirnya menerobos masuk. Ethan masih memeluk Emma erat-erat, seolah sedang mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya. Olivia tersenyum. Ethan. Di kehidupan ini, kamu tetap membuat pilihan yang sama…. …. Saat Olivia tersadar kembali, dirinya sudah berada di rumah sakit. Di depannya, ada Ethan yang sudah selesai diperban dan dirawat. Melihat Olivia telah sadarkan diri, Ethan langsung bicara dengan nada kaku, “Aku sudah tanya ke dokter, katanya luka kita nggak parah dan sudah ditangani dengan baik. Nggak akan mengganggu acara pernikahan hari ini.” Olivia tak menyangka, bahkan hingga saat ini, Ethan masih mengira dirinya ingin menikah dengannya. Olivia malas menjelaskan dan turun dari ranjangnya. “Aku mau keluar dari rumah sakit.” Hari ini adalah hari keberangkatan untuk Proyek Candli. Dia tak boleh ketinggalan. Namun, Ethan malah mengira Olivia ingin buru-buru ke lokasi pernikahan. Diam-diam, Ethan pun menghela napas lega. Ternyata benar. Olivia masih ingin menikah dengannya. Anehnya, perasaan lega itu malah membuat hatinya… sedikit senang. Ethan sendiri tak mengerti kenapa bisa merasa begitu. Entah kenapa, perasaannya pun menjadi jengkel, Ethan pun langsung memuramkan wajahnya. “Aku pergi dulu ke lokasi pernikahan. Cepat bereskan dirimu dan menyusul ke sana.” Begitu Ethan pergi, aku langsung memanggil sopir. “Ke lokasi pernikahan, bu?” Tanpa ragu, Olivia menjawab, “Nggak, ke bandara.” Setelah mengambil koper dan bergabung dengan dosen di bandara, Olivia menerima banyak pesan dari Ethan. [Olivia, kamu di mana? Kok belum sampai ke lokasi pernikahan?] [Kalau nggak dandan sekarang, sudah terlambat! Kamu masih mau menikah atau nggak, sih?] [Olivia! Aku kasih waktu sepuluh menit lagi, cepat datang!] Sepertinya kesabaran Ethan sudah benar-benar habis, dia pun langsung menelepon. Namun, Olivia bahkan tak melihat layarnya. Dia langsung mematikan ponsel, mencabut kartu SIM dan melemparkannya ke tempat sampah. Lalu berbalik dan naik ke pesawat. Selamat tinggal, Ethan. Di kehidupan ini, aku hanya akan hidup untuk diriku sendiri.