Đang tải thông tin quảng bá...
Cinta Kita Sudah Sampai Ujung
Pernikahan kontrak itu disepakati berlangsung selama lima tahun. Meskipun mengetahui bahwa Steven memiliki kekasih cantik di luar sana, Vanesa tetap memilih untuk menahannya. Hingga Vanesa menemukan b...
Chương (1)
第1章
Pernikahan kontrak itu disepakati berlangsung selama lima tahun. Meskipun mengetahui bahwa Steven memiliki kekasih cantik di luar sana, Vanesa tetap memilih untuk menahannya.
Hingga Vanesa menemukan bahwa putra yang sudah dia anggap seperti anak kandung ternyata adalah anak Steven dengan kekasihnya.
Baru pada saat itu Vanesa sadar. Ternyata pernikahan ini sejak awal adalah sebuah penipuan.
Sang kekasih yang menganggap dirinya sebagai istri sah, membawa surat cerai yang disusun Steven untuk menemui Vanesa.
Hari itu, Vanesa mengetahui bahwa dirinya hamil.
Vanesa merasa tidak perlu mempertahankan seorang pria bajingan. Karena anak itu dari kekasih Steven, Vanesa akan mengembalikannya pada mereka.
Vanesa yang sudah memutuskan cinta dan perasaan, mulai menunjukkan kemampuannya. Dia hidup mandiri, berhasil meraih kekayaan.
Keluarga yang dulu menindas serta menghina dirinya merasa menyesal. Mereka bergegas datang untuk menyanjungnya.
Para anak orang kaya yang dulu mengejek Vanesa, mengatakan bahwa dia naik pangkat karena mengandalkan pria, juga merasa menyesal. Mereka berlomba-lomba menawarkan cinta serta uang.
Anak yang pernah dihasut oleh wanita lain juga merasa menyesal, menangis sambil memanggilnya Ibu.
…
Saat tengah malam, Vanesa menerima telepon dari nomor asing.
Suara Steven yang mabuk berat terdengar dari ujung lain telepon, "Vanesa, kamu nggak boleh menerima lamarannya. Aku nggak menandatangani surat cerainya."
Bab 1
Vanesa Winston dan Steven Dallas telah menikah diam-diam selama lima tahun. Mereka menjalankan kehidupan layaknya suami istri, tetapi tanpa cinta.
Tidak, lebih tepatnya Vanesa sudah menyembunyikan perasaannya terhadap suaminya tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
Pada malam pergantian tahun, kota yang diselimuti hujan tampak penuh dengan keramaian.
Namun, di Mansion Resta yang besar itu, hanya ada Vanesa seorang diri.
Dia menyiapkan sepiring mi yang sederhana untuk dirinya sendiri, tetapi tidak menyentuhnya sesuap pun.
Di atas meja makan, ponselnya memutar sebuah video dari status WhatsApp.
Dalam video itu, tampak tangan ramping dan jenjang seorang pria. Tangan itu mengambil sebuah cincin berlian besar, memasukkannya dengan tepat ke jari manis sang wanita yang ramping.
Kemudian, suara lembut wanita itu segera terdengar, "Pak Steven, mohon bimbingannya selama sisa hidup ini."
Vanesa menatap jam tangan di pergelangan tangan pria dalam video itu. Ini adalah sebuah penanda identitas yang tak terbantahkan. Hati Vanesa dipenuhi rasa pedih yang menyesakkan.
Video sudah berhenti, tetapi jari Vanesa tak mampu bergerak. Dia hanya bisa memastikan berkali-kali, seakan sedang menyiksa diri sendiri.
Setengah tahun yang lalu, wanita itu berinisiatif untuk saling bertukar kontak WhatsApp.
Sejak saat itu, Vanesa sering melihat suaminya di status WhatsApp wanita tersebut.
Setelah menikah diam-diam selama lima tahun, baru hari ini Vanesa mengetahui bahwa ternyata suaminya juga bisa bersikap lembut, romantis, serta perhatian.
Mi yang tadi masih mengepul panas, kini sudah benar-benar dingin.
Mi ini sudah tidak bisa dimakan lagi. Vanesa pun mengangkat sendok untuk mengambilnya, tetapi dia seolah kehilangan tenaga.
Ini sama seperti pernikahannya yang mengerikan. Tidak seharusnya Vanesa terus terlibat di dalamnya.
Vanesa memejamkan mata, air matanya pun menetes. Dia bangkit, kembali ke kamar untuk mandi, mematikan lampu, lalu berbaring.
Malam makin larut. Di kamar tidur yang hangat ini, terdengar suara gemerisik seseorang yang membuka pakaian.
Di tempat tidur besar itu, Vanesa berbaring miring.
Dia tahu bahwa Steven sudah pulang, tetapi Vanesa tetap memejamkan mata, berpura-pura sudah tertidur.
Tempat tidur di sampingnya melesak dalam.
Kemudian, tubuh tinggi besar itu menekannya.
Kening Vanesa menjadi sedikit berkerut.
Detik berikutnya, baju tidur Vanesa diangkat tinggi, sementara telapak tangan yang hangat menutupinya.
Vanesa langsung tersentak, matanya terbuka dengan cepat.
Wajah tampan seorang pria dengan sudut-sudut tegas itu tampak begitu dekat. Di hidung mancungnya, masih terpasang kacamata tipis berbingkai perak.
Lampu kecil di samping tempat tidur menyala, membuat cahaya kuning hangat terpantul di lensa kacamata.
Di balik lensa, mata sipit pria itu tampak dipenuhi hasrat.
"Kenapa kamu tiba-tiba pulang?"
Vanesa memang memiliki suara yang lembut sejak dulu.
Pria itu menatap ujung mata Vanesa yang memerah, alis hitamnya sedikit terangkat ketika dia bertanya, "Nggak menyambutku?"
Vanesa menatap langsung ke mata hitam pekat pria itu, lalu menjelaskan dengan suara lembut, "Nggak, hanya agak terkejut saja."
Ujung jari hangat pria itu perlahan membelai pipi putih tanpa cacat milik Vanesa. Mata hitamnya dalam, suaranya yang rendah pun terdengar, "Lepaskan kacamataku."
Vanesa mengerutkan kening.
Ketika pipi Vanesa dibelai oleh ujung jari Steven, dia menatap wajah yang membuatnya terpesona selama bertahun-tahun itu. Namun, di benak Vanesa muncul adegan dari status WhatsApp tadi.
Vanesa yang biasanya tidak akan tega mengecewakan pria itu, menolak dengan wajah dingin untuk pertama kalinya, "Aku agak nggak enak badan."
"Apa kamu sedang datang bulan?" tanya pria itu.
"Nggak, hanya saja ...."
"Kalau begitu, jangan merusak suasana."
Steven memotong penjelasannya dengan nada dingin yang rendah. Mata dalamnya seakan dipenuhi kegelapan malam yang pekat.
Vanesa tahu pria ini tidak akan melepaskannya begitu saja.
Dalam pernikahan ini, Vanesa selalu menjadi pihak yang mengalah.
Hati Vanesa terasa pedih, matanya tak bisa menahan air mata yang menggenang.
Kacamata Vanesa dilemparkan oleh pria itu ke meja samping tempat tidur. Tangan besar pria itu mencengkeram pergelangan kaki Vanesa yang halus dan ramping.
Lampu kecil di samping tempat tidur pun dipadamkan.
Kamar tidur tenggelam dalam kegelapan total.
Indera menjadi sangat sensitif dalam kegelapan seperti ini.
Setelah tidak bertemu selama sebulan, Steven menjadi luar biasa kuat.
Setelah Vanesa melawan tanpa hasil, akhirnya dia hanya bisa menahan semuanya dengan menggertakkan gigi.
Hujan di luar jendela makin deras, sementara angin dingin menderu.
Setelah beberapa waktu berlalu, seluruh tubuh Vanesa sudah basah kuyup.
Perutnya juga terasa agak tidak nyaman.
Teringat akan siklus menstruasinya yang terlambat, Vanesa tetap bersuara, "Steven, aku ...."
Pria itu tampak tidak senang dengan perhatian Vanesa yang terganggu, membuat gerakannya menjadi makin kasar.
Suara lirih wanita itu terus ditelan oleh ciuman penuh dominasi pria tersebut.
Ketika semuanya berakhir, hari masih gelap.
Vanesa kelelahan hingga kesadarannya kabur, serta perutnya terasa sakit. Memang sakitnya tidak parah, tetapi tidak bisa diabaikan.
Ketika mendengar dering ponsel, Vanesa memaksakan diri untuk membuka mata.
Dalam pandangan yang kabur, Vanesa hanya melihat pria itu berjalan ke jendela untuk menjawab panggilan.
Ruangan terlalu senyap, membuat Vanesa bisa samar-samar mendengar suara manja dari seberang telepon.
Steven mencoba menenangkan orang di ujung lain telepon dengan sabar, tetapi mengabaikan istrinya yang tidur di sampingnya.
Tak lama kemudian, terdengar suara mobil dari bawah.
Steven sudah pergi.
…
Keesokan harinya ketika Vanesa terbangun, tempat di sampingnya masih dingin seperti biasa.
Vanesa membalikkan badan, meraba perut bagian bawahnya.
Sudah tidak terasa sakit lagi.
Ponsel Vanesa berdering. Itu adalah panggilan dari Ibu Steven, Giny Lorian.
"Datanglah ke sini sekarang juga." Nadanya dingin dan tegas, tidak memberi Vanesa ruang untuk menolak.
Vanesa menjawab dengan acuh tak acuh.
Giny pun menutup telepon.
Setelah menikah diam-diam dengan Steven selama lima tahun, Giny tidak pernah menyukai Vanesa. Namun, Vanesa sudah terbiasa dengan hal ini.
Bagaimanapun juga, Keluarga Dallas adalah yang terdepan di antara empat keluarga besar Kota Amari. Meskipun Vanesa lahir di Keluarga Winston, dia adalah putri yang tidak dicintai.
Selain itu, pernikahannya dengan Steven merupakan hasil dari sebuah transaksi.
Lima tahun lalu, Ibu Vanesa membunuh ayahnya dalam sebuah kekerasan rumah tangga karena membela diri secara berlebihan. Adik laki-laki Vanesa, bersama neneknya, serta seluruh Keluarga Winston menuduh ibunya, menuntut hukuman mati.
Keluarga Ibu Vanesa, Keluarga Jefferson, juga merupakan keluarga kaya di Kota Amari. Namun, setelah kejadian itu mereka langsung menyatakan pemutusan hubungan dengan ibunya.
Vanesa yang membela ibunya, mengalami serangan balas dendam dari Keluarga Winston dan Keluarga Jefferson. Ketika Vanesa dalam keadaan putus asa, mentornya menyarankan Vanesa untuk menemui Steven.
Dari segi kekuasaan, latar belakang Keluarga Dallas tidak dapat digoyahkan, bahkan oleh gabungan Keluarga Winston dan Keluarga Jefferson sekali pun.
Dari segi hukum, Steven tidak pernah kalah dalam segala kasus yang ditanganinya hingga sekarang.
Steven akhirnya berhasil memperjuangkan hukuman lima tahun untuk ibunya. Sesuai kesepakatan, Vanesa menikah diam-diam dengan Steven.
Menurut Steven, orang tua kandung dari anak angkatnya, Regan Dallas, meninggal dalam sebuah kecelakaan yang tragis.
Steven adalah sahabat karib Ayah Regan, jadi dia mengadopsi Regan yang saat itu masih bayi.
Sekarang, lima tahun telah berlalu. Sebulan lagi, Ibu Vanesa akan dibebaskan dari penjara setelah menjalani hukumannya.
Harga pernikahan ini memang sudah ditentukan sejak awal. Masing-masing dari mereka akan mengambil yang mereka butuhkan. Vanesa tidak dirugikan sama sekali.
Sayangnya, meski Vanesa tahu bahwa pernikahan ini tidak dilandasi dengan cinta, serta tidak tahu kapan akan berakhir ini, Vanesa tetap diam-diam jatuh cinta pada Steven.
Vanesa mengalihkan pikiran, bangkit perlahan, lalu berjalan ke kamar mandi.
Saat mandi, perutnya kembali terasa tidak nyaman.
Kegelisahan dalam hatinya kembali muncul.
Dirinya dan Steven selalu melakukan tindakan pencegahan, kecuali sebulan yang lalu ketika Steven mabuk ....
Meskipun keesokan harinya Vanesa sudah meminum obat, ada juga kasus kegagalan dalam kontrasepsi darurat.
Untuk berjaga-jaga, Vanesa berhenti di depan sebuah apotek dalam perjalanan menuju kediaman Keluarga Dallas. Dia turun dari mobil untuk membeli alat tes kehamilan.
Bab 2
Setelah naik mobil, Vanesa memasukkan alat tes kehamilan ke dalam tasnya.
Kemudian, asisten Vanesa, Lucy Finston meneleponnya.
"Kak Vanesa, klien baru saja menelepon. Mereka meminta kita mengirimkan barang antiknya besok."
Vanesa mengerutkan kening sambil bertanya, "Bukankah kesepakatan awalnya adalah mengirimkan barang dalam waktu seminggu?"
"Sepertinya ada masalah di pihak mereka. Penanggung jawab mengatakan, asalkan bisa mengirimkan barangnya tepat waktu, biaya bukanlah masalah," balas Lucy.
Vanesa berpikir sejenak, lalu berkata, "Kamu bisa memberi tahu penanggung jawab klien kalau pengirimannya akan dilakukan lusa, sementara biayanya akan dinaikkan 50%."
Lucy kembali berkata, "Tapi sikap penanggung jawab di sana sangat tegas ...."
"Pengiriman lusa sudah batas maksimalku." Sikap Vanesa tegas. Dia melanjutkan, "Kalau klien nggak bisa menerimanya, aku bisa mengembalikan uangnya."
"Baiklah, aku akan langsung menghubungi mereka," kata Lucy.
Setelah menutup telepon, Vanesa tidak sengaja membuka sebuah berita hangat ketika akan meletakkan ponselnya.
Steven sudah menjadi topik pembicaraan hangat.
Tepatnya, Steven dan ratu film yang terkenal, Hanna Brandson, bersama-sama menjadi topik pembicaraan hangat.
[Ratu film Hanna Brandson melakukan perjalanan romantis selama seminggu di Parsin bersama pacarnya yang kaya raya. Mereka pulang bersama tengah malam kemarin!]
Foto itu tidak menangkap wajah depan Steven. Namun, meski hanya foto dari samping, Vanesa bisa langsung mengenalinya.
Dia menatap foto itu tanpa berkedip.
Setelah beberapa saat, bulu matanya bergetar, ujung jarinya bergulir, langsung menutup halaman berita itu.
Kemudian, Vanesa membuka status WhatsApp Hanna.
Seperti yang diduga, Hanna mengunggah foto matahari terbit pada pukul lima dini hari.
Foto itu disertai dengan sebaris tulisan. [Setelah mencari sekian lama, aku akhirnya kembali ke titik awal. Untungnya, kamu masih ada.]
Vanesa menatap foto matahari terbit itu. Melalui foto ini, Vanesa seolah bisa melihat pemandangan Steven dan Hanna berpelukan, menikmati matahari terbit bersama.
Ternyata Steven terburu-buru pergi tadi malam hanya untuk menemani kekasih hatinya melihat matahari terbit.
Vanesa sedikit menarik sudut bibirnya.
Menertawakan dirinya sendiri yang menjadi seorang pecundang.
Meskipun Vanesa tahu bahwa dirinya sama sekali tidak berada di hati pria itu, dia tetap tidak bisa menahan diri untuk memperhatikannya. Seperti pencuri rendahan yang bersembunyi di sudut gelap, mengintip gerak-gerik pria itu dan kekasih hatinya.
Vanesa tidak bisa mengendalikan hatinya sendiri. Dia seperti ngengat yang terbang ke dalam api. Bahkan dia sendiri memandang rendah dirinya.
Kebetulan sekali, Hanna sudah kembali.
Vanesa berpikir bahwa Steven akan segera mengajukan perceraian.
Sebenarnya ini juga adalah hal yang baik.
Setelah bercerai, Vanesa bisa benar-benar keluar dari dunia Steven.
Sejak saat itu, mereka akan menjadi orang asing, tidak akan memiliki hubungan apa pun.
Pada saat itu, obsesi rendahan dan konyol yang Vanesa sembunyikan di dalam hatinya juga harus berhenti ....
…
Ketika tiba di rumah tua Keluarga Dallas.
Vanesa memarkirkan mobil di tempat parkir sementara.
Setelah turun dari mobil, dia langsung berjalan masuk. Para pelayan yang berpapasan dengannya hanya melirik Vanesa sekilas. Masing-masing sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Wajah Vanesa tampak tenang.
Meski Vanesa sudah menikah dengan Steven selama lima tahun, Giny selalu meremehkan Vanesa. Bahkan para pelayan Keluarga Dallas juga merendahkannya. Jika bukan karena Regan, Vanesa tidak akan mau datang ke kediaman Keluarga Dallas.
"Ibu!"
Suara anak kecil yang jernih terdengar. Ketika Vanesa baru saja melangkah memasuki ruang tamu, sosok kecil yang tidak asing itu langsung menerjangnya.
"Ibu, akhirnya Ibu datang menjemputku!"
Regan yang masih berusia lima tahun langsung memeluk Vanesa erat seperti koala. Nada suaranya terdengar kecewa ketika dia berkata, "Tadi Nenek berbohong padaku. Dia bilang Ibu nggak menginginkanku lagi."
Vanesa tertegun sejenak, lalu mengangkat pandangannya untuk menatap Giny.
Giny yang berpakaian mewah duduk tegak di posisi tuan rumah. Di sampingnya, duduk Hanna yang memiliki temperamen lembut, serta wajah yang cantik.
Ketika melihat Hanna ada di sini, Vanesa merasa terkejut.
Namun, setelah dipikir lagi, dia merasa semua ini wajar.
Kabar bahwa Steven melamar Hanna sudah muncul menjadi berita hangat di internet. Ini artinya, berita ini akan segera dipublikasikan.
Kehadiran Hanna di kediaman Keluarga Dallas hari ini menunjukkan bahwa dia sepertinya juga sudah mendapat pengakuan Giny.
"Ibu, kenapa Ibu diam saja?" Regan menatap Vanesa, lalu melanjutkan, "Jangan-jangan yang Nenek bilang itu benar? Apa Ibu benar-benar akan bercerai dengan Ayah? Apa Ibu sudah nggak menginginkanku lagi?"
Vanesa menundukkan kepala, langsung bertatap mata dengan pandangan cemas Regan. Hatinya terasa pedih.
Selama lima tahun ini, Vanesa sudah menganggap Regan seperti anak kandungnya sendiri. Semua urusan Regan Vanesa tangani sendiri. Hubungan ibu dan anak selama lima tahun itu bukanlah kebohongan.
Ketika Vanesa memikirkan dirinya harus berpisah dengan Regan setelah bercerai, hati Vanesa merasa sedikit enggan.
"Regan, kemarilah." Giny melambaikan tangan ke arah Regan.
"Aku nggak mau!" Regan langsung memeluk Vanesa erat-erat, lalu berkata, "Aku ingin pulang bersama Ibu!"
Wajah Giny langsung berubah muram. Dia berkata dengan nada keras, "Nenek harus mengatakannya berapa kali? Vanesa bukan ibumu. Ibumu adalah wanita ini, Hanna Brandson, seorang ratu film yang terkenal."
Ketika mendengar itu, Vanesa terpaku!
Ibu kandung Regan adalah Hanna?
Namun, bukankah Steven mengatakan bahwa ibu kandung Regan sudah lama meninggal?
Mungkinkah ... Steven selama ini sudah membohonginya?
Bab 3
Vanesa menarik napas dalam-dalam, memaksakan diri untuk tetap tenang.
Dia menatap Hanna sambil bertanya, "Nona Hanna, apakah kamu benar-benar ibu kandung Regan?"
Tatapan Hanna bertemu dengan tatapan Vanesa. Wanita itu tersenyum lembut sembari menjawab, "Lima tahun yang lalu, aku terpaksa menyembunyikan hubungan antara diriku dengan Regan karena masalah pekerjaan dan kontrak perusahaan."
Napas Vanesa tercekat. "Lalu, Ayah Regan ...."
"Regan adalah anakku dan Steven," tegas Hanna.
Suara Hanna terdengar lembut, tetapi kata-kata yang diucapkannya bagaikan pedang tajam yang menusuk langsung ke jantung Vanesa!
Napas Vanesa seakan terhenti. Rasa sakit yang mencekik di dadanya membuat wajahnya langsung menjadi pucat pasi.
Ternyata selama lima tahun ini, anak yang Vanesa anggap seperti darah dagingnya sendiri, anak yang dia besarkan dengan sepenuh hati, adalah anak dari Steven dan Hanna!
Jadi, Steven sudah membohonginya sejak awal.
Pria itu bukan berselingkuh setelah menikah, tetapi dia memang sudah mempermainkan dan memanfaatkan Vanesa sejak awal!
"Nona Vanesa, maaf karena sudah menyembunyikan hal ini darimu selama ini. Sebenarnya, dari awal aku juga menyarankan agar Steven jujur padamu. Tapi Steven merasa makin sedikit orang luar yang tahu tentang hal ini, akan makin baik."
Setiap kata yang diucapkan Hanna bagaikan mantra ajaib yang terus bergema di kepala Vanesa.
Ternyata di mata Steven, Vanesa hanyalah orang luar.
Vanesa berpikir, mereka sudah bersama selama lima tahun, merawat dan membesarkan seorang putra bersama. Meskipun tanpa cinta, setidaknya mereka sudah seperti keluarga yang saling percaya.
Siapa sangka bahwa sejak awal hingga sekarang, pria yang tidur di samping Vanesa itu hanya menganggapnya sebagai orang luar yang harus diwaspadai.
Vanesa tidak mengerti mengapa Steven harus menipunya.
Jika saja dari awal Steven memberi tahu Vanesa akan kebenarannya, bagaimana mungkin dia akan membiarkan dirinya terjatuh begitu dalam?
"Nona Vanesa, terima kasih atas jerih payahmu selama lima tahun ini. Aku dan Steven merasa sangat berterima kasih atas pengorbananmu untuk Regan," ujar Hanna.
Hanna menatap Vanesa, lalu melanjutkan, "Kamu mendidik Regan dengan sangat baik. Sebagai ibu kandung Regan, aku mengucapkan terima kasih dengan tulus padamu."
Vanesa menatap Hanna dengan tatapan kosong.
Bibirnya yang pucat terkatup rapat, wajahnya tampak tenang, tetapi tangan yang memeluk Regan sedikit gemetar.
"Nggak mungkin! Kamu pembohong. Aku hanya punya satu Ibu, aku hanya menginginkan ibuku!"
Regan berteriak marah pada Hanna, "Dasar kamu wanita jahat! Atas dasar apa kamu menjadi ibuku? Aku nggak ingin kamu menjadi ibuku!"
Hanna tampak terkejut.
Kemudian, dia menutup mulutnya, sementara matanya memerah. Ekspresi terluka serta kesedihannya membuat siapa pun yang melihat akan merasa iba.
Giny langsung menunjukkan wajah dingin. Dia berdiri, lalu memarahi Vanesa, "Apa begini caramu mendidik seorang anak? Benar-benar nggak tahu sopan santun!"
Saat ini pikiran Vanesa sangat kacau. Dia benar-benar tidak punya tenaga lebih untuk berdebat dengan Giny.
Namun, karena mempertimbangkan psikologi Regan, Vanesa tetap berkata, "Regan masih anak-anak, kalian harus memberinya waktu untuk mencerna semua ini."
"Huh, kamu pikir aku nggak tahu apa yang sedang kamu lakukan?" Giny langsung mengejek, "Vanesa, kita sama-sama wanita. Jangan berpikir kalau aku nggak bisa melihat trik kecilmu itu!"
"Pak Gavin!"
Gavin, kepala pelayan di kediaman ini, bergegas mendekat begitu mendengar panggilan itu. "Bu, ada apa?"
"Bawa Regan ke sini, jangan biarkan garis keturunan Keluarga Dallas dimanfaatkan oleh wanita yang punya niat jahat seperti ini!" ujar Giny.
Gavin yang mendengar ini tampak kesulitan. Namun, dia tetap melangkah maju untuk menarik Regan dari pelukan Vanesa.
"Nggak mau! Lepaskan aku! Ibu, aku ingin pulang bersama Ibu …" kata Regan.
Vanesa mengernyitkan kening, tidak tega melihat Regan yang menangis dengan keras seperti itu.
"Regan menderita asma, bisakah kalian nggak memaksanya dengan cara yang keras seperti ini?" ujar Vanesa.
Ketika mendengar ini, wajah Giny tertegun sejenak.
Hanna bangkit untuk berjalan mendekat, lalu dia memegang lengan Giny sambil berkata dengan suara bergetar, "Bibi, tolong suruh Pak Gavin melepaskan Regan. Aku baik-baik saja. Aku yang nggak menjalankan tanggung jawabku sebagai seorang Ibu, jadi wajar kalau anakku nggak mengakuiku."
Ketika Giny mendengar ini, dia mendesah pelan. Dia juga merasa takut penyakit asma Regan akan kambuh, jadi dia melambaikan tangan kepada Gavin.
Gavin pun melepaskan Regan.
"Ibu!"
Regan menangis sambil berlari ke pelukan Vanesa.
Vanesa terdorong mundur selangkah sebelum akhirnya bisa menstabilkan tubuhnya.
Ketika Regan berlari ke dalam pelukan Vanesa tadi, dia menabrak perutnya.
Wajah Vanesa menjadi lebih pucat ketika merasakan sakit yang makin parah di perutnya.
"Ibu, Nenek bohong, 'kan? Ibuku adalah kamu! Aku nggak ingin Ibu yang lain, aku hanya ingin kamu menjadi ibuku!"
Regan menangis tersedu-sedu.
Vanesa mengelus kepala Regan dengan hati yang sakit.
Sejak kecil, tubuh Regan memang lemah. Ditambah dengan penyakit asma bawaan, dia tidak boleh menangis dengan keras seperti ini.
Bagaimanapun juga, Regan adalah anak yang Vanesa besarkan sendiri. Dia tetap merasa enggan meninggalkannya begitu saja.
"Regan sayang, Ibu nggak akan meninggalkanmu. Kamu jangan menangis lagi, ya?" ujar Vanesa.
Vanesa hanya ingin menenangkan emosi Regan terlebih dahulu.
Namun, di telinga Giny, kata-kata ini terdengar seperti memiliki maksud lain.
"Vanesa, apa kamu nggak tahu malu? Regan sama sekali bukan anak kandungmu! Bagaimana bisa kamu dengan nggak tahu malu mengatakan hal seperti itu?"
Giny yang biasanya membanggakan diri sebagai seseorang yang bermartabat, kini sama sekali tidak menyembunyikan sikap kasarnya terhadap Vanesa. Dia menampakkan sifat kejamnya sepenuhnya.
"Pantas saja selama ini Regan nggak pernah dekat denganku. Kenapa dia begitu bersikeras hanya mengakuimu sebagai ibunya? Sekarang aku mengerti, pasti kamu sudah mencuci otaknya secara diam-diam!" kata Giny.
Tuduhan seberat ini membuat Vanesa yang tadinya masih mempertimbangkan perasaan Regan, seketika menunjukkan ekspresi dingin.
"Bu Giny, dulu ketika aku menikah dengan Steven, aku nggak meminta persetujuanmu. Meski kamu nggak mengakuiku sebagai menantu, aku juga nggak memaksa. Tapi di depan seorang anak berusia lima tahun, pernahkah kamu mempertimbangkan apakah dirimu sendiri sudah menjadi teladan yang baik? Sebenarnya siapa yang nggak tahu sopan santun? Apakah itu aku, atau kamu yang nggak bersikap bijak di usia tua?" balas Vanesa.
"Kamu!" Giny tidak menyangka Vanesa berani melawan secara terang-terangan. Dia pun sangat marah, "Apa sekarang kamu sedang menantangku?"
"Aku nggak perlu melakukan itu."
Vanesa menatap mata Giny dengan tenang, tidak merendahkan diri ataupun sombong. Dia berujar, "Apakah kami akan bercerai atau nggak, itu adalah urusanku dengan Steven. Kalian bisa membawa Regan, aku nggak akan berebut dengan kalian."
"Nggak mau, nggak mau!" Begitu mendengar dirinya akan ditinggalkan, Regan memeluk Vanesa dengan lebih erat lagi, menangis dengan lebih keras lagi.
"Ibu, jangan tinggalkan aku! Aku nggak suka rumah Nenek! Aku juga nggak suka wanita jahat itu! Aku ingin pulang dengan Ibu. Ibu, bawa aku pulang, ya?"
Regan menangis sampai suaranya menjadi serak.
Selama lima tahun membesarkan Regan, Vanesa tidak pernah membiarkan anak ini menangis hingga seperti ini.
Vanesa mendesah, menatap Giny, lalu berkata, "Sekarang emosi Regan sedang nggak stabil. Dia nggak akan bisa mendengarkan penjelasan apa pun. Aku akan membawanya pulang dulu. Setelah emosinya stabil, aku akan menjelaskan semuanya dengan baik padanya."
Setelah berkata demikian, Vanesa menggandeng Regan, lalu berbalik untuk berjalan keluar.
Regan sangat ingin segera pergi dari sini. Langkah kecilnya pun menjadi sangat cepat. Dia takut akan ditinggalkan oleh Vanesa jika terlambat sedikit saja.
"Regan!"
Hanna berteriak, terburu-buru mengejar keluar.
Di halaman, Hanna menarik lengan Regan.
"Regan, jangan pergi. Ibu memang bersalah, tapi Ibu punya alasan. Ibu sayang padamu!" ujar Hanna.
"Dasar wanita jahat! Lepaskan aku!" Regan berusaha melepaskan tangan Hanna, tetapi Hanna mencengkeram dengan sangat kuat.
Regan sampai merasakan sakit di lengannya.
"Ibu! Ibu, cepat tolong aku. Wanita jahat ini ingin menculikku!" teriak Regan.
Vanesa yang melihat Hanna yang mencengkeram Regan dengan keras, tidak mau melepaskannya, menunjukkan ekspresi yang agak rumit.
Hanna tidak bisa menarik Regan, jadi dia mengalihkan targetnya ke Vanesa.
Dia menatap Vanesa. Wajah cantik yang memukau itu basah oleh air mata, terlihat sangat menyedihkan.
"Nona Vanesa, aku mohon padamu. Regan adalah anak yang aku kandung selama sembilan bulan, anak yang aku lahirkan dengan mempertaruhkan nyawaku. Aku tahu kalau selama lima tahun terakhir ini kamu sudah berjasa membesarkannya, tapi anak bukanlah alat untukmu mengikat Steven. Aku mohon, jangan memanfaatkan dia seperti ini."
Vanesa menatap Hanna dengan tatapan tidak percaya.
Dia sama sekali tidak tahu apa yang sudah dirinya lakukan sampai Giny dan Hanna langsung menuduhnya memanfaatkan Regan.
Pada saat itu, Giny juga mengejar keluar. Ketika melihat Vanesa menarik Regan dan tidak mau melepaskannya, Giny langsung memanggil pelayan untuk mendorong Vanesa.
Vanesa terdorong sampai terhuyung beberapa langkah, bahkan hampir terjatuh.
Vanesa memegang perutnya yang terasa makin sakit, mengernyitkan kening melihat Regan yang ditarik kembali ke sisi Hanna dan Giny oleh para pelayan.
Regan menangis dengan sangat memilukan, "Lepaskan aku! Aku ingin pulang dengan ibuku! Ibu …."
Ketika Vanesa melihat pemandangan ini, tiba-tiba dia merasa tidak berdaya.
Yang satu adalah nenek kandung Regan, sementara yang satu lagi adalah ibu kandungnya.
Dibandingkan dengan mereka, Vanesa hanyalah seorang wanita yang akan segera bercerai dengan Steven. Dia memang benar-benar orang luar di sini.
Pada saat itu, sebuah Bentley hitam melaju masuk ke halaman.
Saat mendengar suara mobil, Vanesa langsung menoleh.
Pintu kursi belakang terbuka, lalu Steven turun dari dalam mobil.
Bab 4
Steven yang mengenakan setelan jas hitam, terlihat anggun dan dingin.
Pandangannya sekilas menyapu wajah pucat Vanesa, lalu jatuh pada wajah Regan yang terus menangis.
"Regan, kemarilah." Steven melambaikan tangan kepada Regan.
Ketika mendengar ini, ekspresi para pelayan langsung berubah. Mereka buru-buru melepaskan tangan mereka.
Regan langsung berlari ke arah Steven.
"Ayah! Huhuhu .... Ayah akhirnya datang!"
Steven mengusap kepala Regan, suaranya terdengar dalam dan hangat ketika bertanya, "Ceritakan pada Ayah, ada apa?"
Sebelum Regan sempat mengatakan apa pun, Hanna sudah berjalan mendekat.
Hanna menyeka air mata di wajahnya, sementara suara lembutnya diliputi dengan nada yang menyalahkan diri sendiri.
"Semua ini salahku yang nggak mempertimbangkannya dengan baik. Aku tiba-tiba muncul begitu saja. Regan nggak bisa menerima kenyataan kalau aku adalah ibunya. Emosinya sedikit nggak terkendali," kata Hanna.
"Kamu memang bukan ibuku!" Regan mengangkat tangan, mendorong Hanna dengan keras, lalu menambahkan, "Kamu adalah wanita jahat! Kamu bukan ibuku!"
Hanna berteriak kaget, sepatu hak tinggi di kakinya miring, hingga dia hampir terjatuh.
Di saat kritis, Steven melangkah maju untuk merangkul Hanna ke dalam pelukannya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Steven.
Hanna tidak bisa menggerakkan salah satu kakinya. "Sepertinya pergelangan kakiku terkilir. Aku nggak apa-apa. Emosi Regan yang paling penting."
Steven mengernyitkan kening, membungkuk untuk menggendong Hanna, lalu berkata, "Aku akan membawamu ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan."
Ketika berbalik, pandangan Steven bertemu dengan tatapan Vanesa.
Mata Vanesa yang memerah menatap Steven dengan tatapan kosong. Dia bertanya, "Apa dia benar-benar ibu kandung Regan?"
"Hanna memang ibu kandung Regan," tegas Steven.
Steven menatap lurus ke arah Vanesa, mata gelapnya tampak dingin dan tegas.
Vanesa tidak melihat sedikit pun rasa bersalah seorang penipu di wajah pria itu.
Hatinya yang sudah dingin dan terluka, perlahan-lahan seakan tenggelam.
"Regan lebih patuh padamu. Kamu bawa dia pulang dulu, lalu beri dia pemahaman yang baik."
Setelah Steven mengatakan ini, dia langsung menggendong Hanna naik mobil.
Mobil itu melaju meninggalkan kediaman Keluarga Dallas.
Vanesa menundukkan kepala. Matanya terasa perih, bibir pucatnya sedikit terbuka, sementara dia mengambil napas dalam-dalam beberapa kali untuk menahan air matanya.
"Ibu."
Regan menggenggam tangan Vanesa dengan tangan kecilnya, lalu bertanya, "Ibu, matamu merah sekali. Apa Ibu menangis?"
Vanesa berjongkok, menyentuh pipi kecil Regan, lalu memaksakan senyuman pucat kepadanya.
"Ibu nggak menangis. Ibu akan membawamu pulang dulu." Vanesa bangkit berdiri, menatap Giny, lalu berujar, "Kamu juga sudah mendengar kata-kata Steven."
Giny menatapnya dengan ekspresi penuh amarah.
Meskipun Giny merasa tidak rela, Steven sudah memutuskan. Tidak baik baginya untuk memaksa menahan Regan lagi.
Bagaimanapun juga, sekarang Hanna sudah kembali, sementara Steven akan segera bercerai dengan Vanesa. Jangan harap Vanesa bisa memanfaatkan Regan untuk terus tinggal di Keluarga Dallas!
Dengan pemikiran ini, suasana hati Giny menjadi lebih baik.
…
Di perjalanan pulang, Vanesa mencoba menjelaskan identitas Hanna kepada Regan.
Namun, Regan sangat menolak penjelasan ini. Belum sempat Vanesa berbicara banyak, Regan sudah kembali menangis.
Vanesa yang merasa tidak berdaya sekaligus sakit hati, hanya bisa membujuk Regan terlebih dulu.
Regan menangis sampai kelelahan, langsung tertidur sebelum mereka sampai di rumah.
Ketika Vanesa baru saja meletakkan Regan yang tertidur di tempat tidur kamar anak, suara mobil terdengar dari bawah.
Vanesa pun menyelimuti Regan.
Saat Vanesa turun ke bawah, Steven baru saja mendorong pintu terbuka, lalu melangkah masuk.
Pandangan keduanya bertemu, membuat suasana sedikit tegang.
"Di mana Regan?" tanya Steven.
"Dia sedang tidur di atas," balas Vanesa.
Steven menanggapi dengan gumaman kecil, melangkah melewati Vanesa, langsung naik ke atas.
Vanesa berbalik menatap punggungnya, sementara tangan yang tergantung di sisi tubuhnya sudah mengepal.
Dia ragu sejenak, tetapi tetap melangkah maju untuk mengejarnya.
Setelah menghabiskan waktu lima tahun sebagai suami istri, malam yang mereka habiskan bersama sudah tidak terhitung. Vanesa pikir, setidaknya dia punya hak untuk meminta penjelasan dari pria ini.
Di lantai dua, Steven mendorong pintu kamar anak, lalu melangkah masuk.
Dia menggendong Regan yang sedang tertidur nyenyak, lalu berbalik keluar.
Vanesa yang berdiri di luar pintu menatapnya, lalu bertanya, "Kamu mau membawa Regan ke mana?"
"Hanna mengalami depresi. Dia sekarang membutuhkan Regan," jawab Steven.
Setelah Steven memberikan penjelasan singkat itu, dia langsung pergi sambil menggendong Regan.
Vanesa berdiri terpaku di tempat.
Dia baru tersadar ketika suara mobil menghilang.
Steven datang dan pergi sesukanya, merasa itu adalah hal yang wajar. Dia bahkan tidak memberi Vanesa kesempatan untuk bertanya.
Vanesa melirik rumah yang kosong.
Kemudian, dia tertawa.
Dia tertawa dengan air mata yang mengalir dari matanya.
…
Di bagian utara kota, di sebuah kompleks vila yang terkenal dengan sistem keamanan serta layanan propertinya.
Sebuah Maybach hitam melaju dari kaki gunung, hingga berhenti di halaman Mansion Burla yang tinggi.
Di dalam mobil, Regan sudah terbangun.
Steven menggendongnya, menjelaskan kepadanya bahwa Hanna adalah ibu kandungnya, sementara Vanesa hanya ibu angkat yang merawatnya selama lima tahun ini.
Setelah mendengar penjelasan ini, Regan tidak lagi memberontak, hanya menanyakan satu kalimat, "Jadi, apa nanti aku akan punya dua Ibu?"
Steven bergumam menyetujui, lalu menjelaskan dengan tenang, "Ibu Hanna mengalami banyak penderitaan untuk bisa melahirkanmu. Dia sangat menyayangimu, jadi kamu harus meminta maaf kepadanya, juga berinisiatif memanggilnya Ibu. Apa kamu mengerti?"
Regan mengangguk dengan patuh.
Setelah masuk ke dalam rumah, tampak Hanna sedang duduk di sofa dengan kaki yang ditutupi selimut. Kedua ujung kakinya terlihat dari luar, sementara kakinya yang terkilir dibalut perban tebal.
Ketika melihat kedatangan keduanya, wajah cantik dan anggun Hanna langsung penuh dengan senyuman manis.
"Steven, Regan, kalian datang."
Regan memegang tangan Steven, lalu mendongak menatap Steven.
"Pergilah." Steven mengusap kepala Regan.
Regan yang merasa mendapat dorongan, berjalan menuju Hanna.
Hanna mengulurkan tangan kepadanya, lalu berkata, "Regan, kemarilah. Apakah Ibu boleh memelukmu?"
Regan ragu sejenak, tetapi tetap berjalan mendekat.
Hanna memeluknya dengan air mata yang mengalir.
"Sayang, maafkan Ibu. Ibu nggak bermaksud menyangkalmu. Selama lima tahun ini, Ibu selalu memikirkanmu setiap hari ...."
Ketika Hanna memeluk Regan, tubuh kecil bocah itu tampak agak kaku.
Regan bisa mencium aroma parfum bunga dari tubuh Hanna.
Ini sangat berbeda dengan aroma manis yang samar dari tubuh Vanesa ....
Bab 5
Hanna melepaskan Regan, mengambil banyak hadiah dari sofa di sampingnya.
"Ibu membelikan semua ini untukmu. Lihatlah, apa ada yang kamu suka?"
Mata Regan berbinar. "Itu Iron Man!"
"Regan, apa kamu menyukainya?" Hanna mengusap kepalanya, lalu melanjutkan, "Ini edisi terbatas. Ibu meminta tolong pada beberapa teman untuk mencarikannya. Susah sekali untuk bisa membelinya."
"Terima kasih, Ibu!" Regan menerima Iron Man itu, suara kekanak-kanakannya yang jernih bergema di seluruh mansion, "Ibu baik sekali!"
Hanna tersenyum di balik air matanya, lalu berujar, "Sayang, akhirnya kamu mau memanggilku Ibu."
"Ayah tadi sudah mengatakannya padaku kalau Ibu mengalami banyak penderitaan untuk melahirkanku."
Regan meletakkan Iron Man, mengambil tisu untuk menyeka air mata Hanna, lalu melanjutkan, "Ibu, maafkan aku. Tadi pagi aku seharusnya nggak bersikap seperti itu pada Ibu. Aku nggak akan bersikap seperti itu lagi."
Ketika mendengar ini, Hanna menangis lebih keras lagi, terlihat makin menyedihkan.
"Sayang, kamu nggak bersalah. Ibu yang salah. Nanti Ibu pasti akan berusaha sepenuhnya menjadi Ibu yang baik," kata Hanna.
"Ibu baik, kok!" Regan memeluk Hanna dengan inisiatifnya sendiri, lalu melanjutkan, "Ayah mengatakan kalau Ibu selalu menyayangiku. Nanti aku juga akan menyayangi Ibu!"
Hanna menatap Steven dengan air mata yang mengalir lebih deras, lalu berkata, "Terima kasih, Steven."
Steven mendekat, memberikan sapu tangannya pada Hanna sambil berujar, "Ini yang seharusnya aku lakukan. Jangan menangis lagi, nanti Regan akan sedih."
"Benar, Bu. Ibu cantik sekali, jangan menangis. Kalau menangis, nanti bisa menjadi jelek!" kata Regan.
Setelah mendengar ini, Hanna menerima sapu tangan dari Steven, menyeka air matanya, lalu berujar, "Baiklah, Ibu nggak akan menangis."
Ibu dan anak yang akhirnya bersatu kembali ini tampak hangat dan manis.
Regan yang menerima banyak hadiah, memeluk hadiah-hadiah itu, lalu duduk di sofa untuk bermain.
Hanna duduk di samping memperhatikan, dengan kelembutan yang tampak di matanya.
Steven duduk di sofa tunggal di sampingnya, menunduk menatap ponselnya untuk menangani pekerjaan.
Hanna menoleh menatap Steven, seolah ragu sejenak, sebelum akhirnya berkata pelan, "Apa rencanamu terhadap Nona Vanesa?"
Ketika mendengar ini, Steven mengangkat kepala dengan ekspresi acuh tak acuh, lalu membalas, "Aku akan menanganinya dengan baik."
"Beberapa tahun ini, Nona Vanesa sudah merawat Regan dengan baik. Jujur saja, hatiku selalu merasa kasihan padanya," ucap Hanna.
"Ini bukan salahmu." Suara Steven terdengar rendah ketika berujar, "Regan memang anakmu."
"Ya, Bu!" Regan mengangkat kepala dari tumpukan mainan, mulut kecilnya manis seperti madu, "Aku dilahirkan oleh Ibu, jadi wajar kalau aku mengakuimu sebagai ibuku! Lagi pula, Ibu cantik sekali. Ayah mengatakan kalau aku lucu karena Ibu cantik!"
"Penyanjung kecil!" Hanna mengetuk ujung hidung Regan, lalu membalas, "Jangan sampai kamu bicara seperti ini di depan Ibu Vanesa. Dia akan marah."
"Nggak akan!" Regan sangat percaya diri. "Dia paling nggak sanggup marah padaku!"
Pada saat ini, Steven menerima telepon tentang urusan pekerjaan.
Dia bangkit berdiri sambil berujar, "Aku akan kembali ke kantor dulu."
"Baiklah, lakukan saja pekerjaanmu. Regan akan menemaniku." Hanna berhenti sejenak, sebelum lanjut bertanya, "Apa kamu akan pulang untuk makan malam?"
Steven mengerutkan bibir, memikirkannya sejenak, lalu menjawab, "Setelah selesai kerja aku akan pulang."
"Kalau begitu, hati-hati di jalan," balas Hanna.
"Sampai jumpa, Ayah!" kata Regan.
Steven menanggapi dengan gumaman acuh tak acuh, lalu berbalik pergi.
…
Larut malam, lampu masih menyala di ruang studio restorasi.
Rambut panjang sepinggang wanita itu disanggul dengan jepit rambut. Ini memperlihatkan leher putih jenjangnya. Di batang hidungnya, tersampir kacamata pelindung. Kedua tangannya yang memakai sarung tangan putih tampak memegang alat.
Dia menundukkan kepala dengan pandangan yang fokus, sedang melakukan restorasi terakhir pada sebuah artefak.
Orang lain sudah pulang, membuat seluruh lantai sangat sepi. Hanya ada suara halus saat Vanesa bekerja.
Makin hidup tidak sesuai dengan keinginan, makin dia tidak boleh lengah dalam pekerjaan.
Selama bertahun-tahun ini, setelah melihat berbagai sifat manusia, Vanesa perlahan memahami satu kebenaran. Sifat manusia sulit dikenali, hati manusia sulit ditebak. Hanya uang dan pekerjaan yang bisa dia pegang teguh dengan usahanya.
Lima tahun lalu, demi tinggal di Kota Amari untuk merawat Regan, Vanesa melepaskan kesempatan yang direkomendasikan mentornya. Mentornya yang merasa marah, memutuskan hubungan dengan Vanesa.
Ini adalah penyesalan terbesar Vanesa hingga kini.
Dia selalu merasa tidak layak mendapatkan bimbingan dan perhatian dari mentornya. Jadi, selama lima tahun ini, Vanesa tetap menggunakan waktu luangnya untuk membeli materi, terus belajar untuk meningkatkan kemampuan dirinya.
Setelah lulus kuliah, Vanesa mengambil pinjaman untuk membuka studio.
Saat ini, studio sudah mulai berjalan dengan lancar. Penghasilan dari pesanan yang Vanesa terima juga makin tinggi.
Tabungan pribadinya juga sudah cukup untuk dia dan ibunya hidup bebas dari kekhawatiran seumur hidup.
Sebenarnya, semuanya berkembang ke arah yang baik.
Sedangkan untuk orang-orang yang tidak bisa Vanesa dapatkan, belajar menjauh dari mereka saja sudah bisa disebut sebagai kedewasaan ....
Setelah menyelesaikan pekerjaan restorasi terakhir, Vanesa memasukkan artefak ke dalam wadah.
Setelah kembali ke kantor pribadinya, dia mengambil segelas air hangat, lalu meminumnya hingga habis.
Vanesa melirik kalender di atas meja sambil meletakkan gelas air.
Vanesa mengambil pena, menandai tanggal hari ini di kalender dengan tanda silang.
Tinggal 8 hari lagi sebelum akhirnya ibunya akan dibebaskan.
Perkiraan cuaca pada hari itu menunjukkan bahwa cuaca akan cerah.
Bzzt ….
Ponsel di saku Vanesa bergetar.
Itu adalah telepon dari Steven.
Vanesa mengernyitkan kening, menarik napas dalam, lalu menekan tombol untuk menerima telepon.
"Kapan kamu akan kembali?" Suara rendah Steven terdengar dari ujung lain telepon.
Vanesa melihat jam. Sekarang sudah pukul 2 pagi.
Dia merasa sedikit lelah, serta tidak berencana mengemudi setengah jam untuk pulang.
Sambil mengusap lehernya yang pegal, Vanesa bertanya dengan nada dingin, "Ada apa?"
"Regan menunggumu pulang untuk membacakan cerita sebelum tidur," kata Steven.
Tangan Vanesa yang mengusap lehernya terhenti.
Ketika teringat kejadian siang tadi ketika Steven menggendong Regan pergi untuk menghibur Hanna, hatinya merasa tidak nyaman.
"Hari ini aku nggak akan pulang." Suara Vanesa acuh tak acuh, tanpa emosi. "Kamu bujuk saja dia."
Setelah berkata demikian, Vanesa langsung menutup telepon.
Namun, detik berikutnya Steven menelepon lagi.
Vanesa yang merasa sedikit kesal, langsung mematikan ponsel, lalu melemparkannya ke meja. Kemudian, dia membuka pintu ruang istirahat, langsung melangkah masuk.
Orang yang bekerja dalam bidang restorasi sering bekerja lembur. Jadi, saat merenovasi studio dulu, Vanesa membuat satu ruang istirahat terpisah di kantor pribadinya.
Ruang istirahat ini memiliki kamar mandi, perlengkapan hidup sehari-hari, serta pakaian ganti.
Terkadang, saat terlalu sibuk bekerja, Vanesa juga akan membawa Regan ke sini. Setelah membujuk Regan untuk tidur, baru Vanesa akan pergi bekerja lembur.
Oleh karena itu, di ruang istirahat ini juga ada kebutuhan sehari-hari Regan.
Vanesa sudah selesai mandi dan berganti piyama. Baru saja dia akan tidur, tiba-tiba terdengar suara anak menangis dari luar.
"Ibu! Ibu, buka pintunya …."
Vanesa terkejut.
Apakah itu Regan?
Vanesa melangkah keluar dari kantor, bergegas menuju pintu utama studio.
Di balik pintu kaca, Steven tampak menggendong Regan yang terus menangis menatapnya.
Regan mengenakan jaket bulu, serta hanya memakai piyama di dalamnya.
Kedua kakinya tampak kosong, bahkan tidak memakai kaus kaki.
Suhu luar ruangan pada malam hari di Kota Amari sangatlah dingin.
Daya tahan tubuh Regan tidak begitu baik, bagaimana kalau dia sampai masuk angin?
Vanesa yang merasa kesal, maju untuk membuka pintu, lalu berujar, "Kenapa kamu masih membawanya keluar malam-malam begini ...."
"Ibu!"
Regan langsung melepaskan diri dari pelukan Steven, lalu berlari ke pelukan Vanesa.
Vanesa tanpa sadar mengulurkan tangan untuk menangkapnya.
Regan memeluk erat leher Vanesa, membenamkan wajahnya di lekukkan leher Vanesa, lalu menangis tersedu-sedu.
"Apa Ibu nggak menginginkanku lagi? Huhuhu …. Ibu, tolong jangan membuangku …."
Vanesa mengernyitkan kening, wajahnya agak pucat.
Perut bagian bawah yang tadinya sudah tidak terasa sakit, tiba-tiba terasa sakit lagi ….
Bab 6
Steven berdiri di luar pintu. Wajah tegasnya yang dalam tampak dingin dan acuh tak acuh. Dia berujar, "Aku akan melakukan perjalanan dinas selama beberapa hari. Hanna nggak bisa mengurusnya sendirian. Tolong kamu jaga dia dalam dua hari ini."
Vanesa sedang tidak enak badan, juga tidak ingin berbasa-basi dengan Steven.
"Baiklah. Kalau kamu sudah pulang dari perjalanan dinas dan ingin menjemputnya, jangan lupa untuk membawa surat cerai itu."
Setelah berkata demikian, Vanesa berbalik sambil menggendong Regan, langsung menuju kantor.
Steven berdiri di tempat, memperhatikan dalam diam sejenak.
Kemudian, pria itu menutup pintu utama studio, langsung berbalik pergi.
…
Di ruang istirahat, Vanesa menurunkan Regan, lalu menghela napas berat.
"Lepaskan jaketmu, lalu tidurlah."
Regan sekarang sudah sangat penurut.
Dia melepaskan jaketnya, memberikannya kepada Vanesa, lalu berkata, "Ibu, tolong bantu aku menggantungkan jaketku. Terima kasih."
Regan selalu berbicara dengan manis seperti ini.
Vanesa tersenyum kepadanya, menerima jaket itu, lalu menggantungnya di gantungan baju.
Keduanya pun berbaring di tempat tidur.
Regan memeluk lengan Vanesa, lalu bertanya, "Ibu, apakah Ibu marah karena aku pergi menemui wanita itu?"
Vanesa tertegun sejenak. Kemudian, dia menghela napas, memeluk Regan, lalu membimbingnya dengan nada lembut, "Dia adalah Ibu yang melahirkanmu. Ibu tahu akan sulit bagimu menerima hal ini dalam waktu singkat, tapi tanpa dia, nggak akan ada kamu. Jadi, nanti kamu nggak boleh memanggilnya dengan kata-kata 'wanita itu'."
Kegelisahan kecil di hati Regan pun menghilang karena kalimat dari Vanesa ini.
Ketika Regan melihat bahwa Vanesa tidak pulang saat malam, dia mengira Vanesa marah, tidak menginginkan dirinya lagi karena sudah pergi menemui Hanna.
Untungnya, dia hanya berpikir terlalu banyak!
Regan menutup mata dengan puas, lalu berujar, "Ibu, aku akan selalu mencintaimu. Nggak peduli siapa yang melahirkanku, Ibu akan selamanya menjadi Ibu kesayanganku!"
Hati Vanesa meleleh, dia menyentuh pipi kecil Regan.
"Ibu mengerti. Ibu juga berjanji padamu kalau Ibu akan selalu ada saat kamu membutuhkanku," balas Vanesa.
"Bu, Ibu sendiri yang mengatakannya, ya!" Regan menguap. "Ibu nggak boleh berbohong. Kalau berbohong, hidungmu akan memanjang!"
Vanesa terkekeh mendengar kata-katanya yang kekanak-kanakan. Emosinya yang penuh kekesalan perlahan-lahan menjadi tenang.
Vanesa menundukkan kepala, memberikan ciuman ringan di dahi Regan, lalu berkata, "Ibu nggak akan pernah membohongimu. Selamat malam."
Yang membalas Vanesa adalah suara napas Regan yang teratur.
…
Sekarang adalah waktu liburan semester, Regan tidak perlu pergi ke taman kanak-kanak.
Hari berikutnya, studio kembali menerima satu artefak lainnya. Bayarannya sangat tinggi, hanya saja waktu pengirimannya juga cukup ketat.
Selama dua hari berturut-turut, Regan hampir selalu bersama Vanesa di studio.
Ketika Vanesa sedang sibuk bekerja, Lucy dan karyawan lainnya akan membantu Vanesa menjaga Regan.
Selama dua tahun terakhir ini, Regan memang sudah sering datang ke sini. Dia sudah akrab dengan semua orang.
Pada pukul dua sore di hari ketiga, Vanesa akhirnya menyelesaikan pekerjaan restorasinya.
Setelah keluar dari ruang restorasi, dia berjalan menuju kantor sambil mengirim pesan WhatsApp kepada sahabatnya yang bekerja di departemen kandungan.
Vanesa: [Apa kamu ada pekerjaan sore ini?]
[Ada! Kenapa?]
Vanesa: [Tolong ambilkan nomor antrian untukku. Aku akan sampai di sana sekitar jam setengah empat.]
[Kenapa? Apa kamu hamil?]
Vanesa: [Aku nggak yakin. Haidku terlambat sekitar sepuluh hari. Beberapa hari ini, perutku juga terasa nggak nyaman.]
[Kamu terlambat sepuluh hari? Apa kamu nggak bisa membeli alat tes kehamilan untuk memeriksanya dulu?]
Ketika mendengar ini, Vanesa baru teringat dengan alat tes kehamilan yang dia lupakan di dalam tasnya.
Vanesa mengerucutkan bibir, menghela napas pelan, lalu kembali mengetik. [Aku sudah membelinya, tapi aku lupa karena sibuk.]
[Hebat sekali kamu! Kamu bisa lupa setelah membelinya! Pasti kamu lembur lagi, 'kan? Vanesa, bukannya aku ingin mengutukmu, tapi kalau suatu hari nanti kamu mati mendadak di ruang restorasi, aku juga nggak akan kaget! Cepat periksa dulu sekarang!]
Vanesa: [Aku mengerti.]
…
Vanesa kembali ke kantor.
Regan berbaring di sofa, tampak tertidur nyenyak. Selimut kecil di tubuhnya sudah ditendang hingga terjatuh ke lantai.
Di meja ada kotak makan siang yang belum habis.
Vanesa melangkah mendekat, mengambil selimut kecil itu, lalu kembali menyelimuti Regan.
Dia membereskan kotak makan, membuangnya ke tempat sampah, lalu membersihkan meja. Setelah kembali duduk di sofa yang lain, Vanesa mengangkat tangan untuk menyeka keringat halus di dahinya.
Perut bagian bawahnya kembali terasa tidak nyaman. Tiba-tiba, Vanesa teringat dengan alat tes kehamilan yang ada di tasnya. Ketika dia akan bangkit untuk mengambilnya, Lucy mendorong pintu, lalu melangkah masuk.
"Kak Vanesa, ada seseorang yang mencarimu di bawah."
…
Di bawah studio ada sebuah kedai kopi.
Begitu Vanesa melangkah masuk, dia langsung melihat Hanna yang sedang duduk di sudut.
Hanna duduk di sana, memandang ke arah Vanesa melalui kacamata hitamnya.
Vanesa mengenakan gaun berwarna aprikot, dengan balutan jaket bulu berwarna merah muda di luar. Rambutnya yang panjang hingga sepinggang, tergerai dengan alami, tampak sangat lembut.
Tubuhnya memiliki ketenangan seorang wanita dewasa. Wajahnya yang sebesar telapak tangan memiliki fitur yang halus. Dia tidak tampak sangat menakjubkan, tapi karena kulitnya yang seputih salju, entah kenapa Vanesa memberikan kesan dingin meski tanpa mengatakan apa-apa.
Ketika Hanna melihatnya berjalan mendekat, dia berdiri dengan senyuman lembut, lalu menyapa, "Nona Vanesa, silakan duduk."
Vanesa tidak duduk.
Dia tidak merasa perlu bertemu dengan Hanna secara pribadi.
"Nona Hanna, kalau ada yang ingin dibicarakan, katakan saja secara langsung."
Hanna mengangkat tangan untuk melepaskan kacamata hitamnya, lalu berujar, "Sepertinya Nona Vanesa nggak terlalu menyukaiku. Aku bisa mengerti. Aku juga baru tahu hari ini kalau ternyata Steven menipumu. Tapi Steven juga melakukan ini demi kebaikanku. Aku harap Nona Vanesa nggak menyalahkannya."
Vanesa menarik sudut bibirnya, sementara suaranya tenang ketika dia membalas, "Aku nggak menyalahkan siapa pun. Sejak awal, aku dan Steven memang hanya melakukan kerja sama yang saling menguntungkan. Mengenai Regan, dia adalah anak yang kamu kandung, serta kamu lahirkan. Kamu sepenuhnya berhak bertemu dengannya."
"Apakah Nona Vanesa benar-benar berpikir begitu?" tanya Hanna.
Vanesa mengernyitkan kening, tampak kehabisan kesabaran. "Apakah Nona Hanna mengajakku bertemu hanya untuk menanyakan pemikiranku?"
Hanna menatap Vanesa.
Dia merasa agak terkejut.
Vanesa ternyata jauh lebih tenang dari yang Hanna pikirkan.
Wanita seperti ini berada di samping Steven selama lima tahun.
Jujur saja, tidak mungkin Hanna tidak merasa terancam sedikit pun.
Namun, sekarang dia sudah kembali. Sudah waktunya bagi Vanesa untuk pergi.
Hanna mengambil surat cerai dari dalam tas.
Dia meletakkan surat cerai di atas meja, lalu mendorongnya ke hadapan Vanesa.
"Steven berpikir untuk memberikan Mansion Resta padamu. Selain itu, ada pula tambahan 100 miliar sebagai kompensasi atas kerja kerasmu selama lima tahun ini. Kalau kamu merasa nggak ada masalah dengan semua ini, tanda tangani saja suratnya," kata Hanna.
Bab 7
Vanesa tidak membaca surat itu, langsung mengambilnya. Dia menatap Hanna sembari berkata, "Katakan pada Steven kalau pengacaraku akan menghubunginya untuk urusan perceraian selanjutnya."
Setelah berkata demikian, Vanesa berbalik, hendak pergi.
Hanna berdiri, lalu bertanya, "Nona Vanesa, apakah Regan ada di tempatmu?"
Vanesa menghentikan langkahnya, melirik ke arah Hanna.
Hanna berkata dengan nada lembut yang penuh dengan permohonan, "Sudah beberapa hari aku nggak bertemu dengan Regan. Bolehkah aku naik untuk menemuinya?"
Sebenarnya, Vanesa sangat tidak ingin Hanna menginjakkan kaki di studionya.
Namun, Regan adalah anak Hanna. Setelah bercerai dengan Steven nanti, Vanesa bahkan tidak bisa dianggap sebagai ibu tirinya.
Setelah memikirkan tentang hal ini, Vanesa baru saja akan berbicara ketika suara anak kecil yang polos terdengar lebih dulu.
"Ibu!"
Vanesa menoleh, melihat Regan yang sudah berlari ke arah mereka!
Regan memeluk Vanesa.
Vanesa tanpa sadar mengulurkan tangan untuk menangkapnya, mengusap kepalanya karena kebiasaannya. "Kenapa kamu berlari turun sendirian?"
"Kak Lucy menemaniku turun dengan lift. Dia baru pergi setelah melihatku masuk ke kafe."
Regan memeluk Vanesa, sementara dia menggosokkan pipi kecilnya di pelukan Vanesa. Kemudian, dia bertanya, "Ibu, kenapa lama sekali di luar? Aku merindukanmu!"
Vanesa tersenyum simpul, tampak tak berdaya.
'Anak ini memang pandai bertingkah manja,' pikir Vanesa.
Interaksi di antara keduanya jatuh ke dalam pandangan Hanna. Tubuh rampingnya sedikit bergetar, wajah cantiknya langsung memucat.
"Regan …."
Ketika Regan mendengar suara itu, dia mengangkat kepala. Tanpa diduga, pandangannya bertatapan dengan pandangan terluka Hanna.
Tubuh kecilnya membeku.
Vanesa juga terkejut, jelas merasakan ketidaknyamanan Regan.
Dia baru saja akan melepaskan Regan ketika suara langkah kaki terdengar dari belakang.
"Hanna."
Ketika Vanesa menoleh, dia melihat Steven.
Pria itu mengenakan jaket panjang hitam. Tubuhnya tinggi dan tegap, sementara wajahnya menunjukkan ekspresi dingin.
Vanesa melihatnya berjalan dengan langkah besar ke sisi Hanna. Steven melepaskan jaketnya untuk menutupi kepala Hanna.
Hanna dilindungi dengan erat dalam pelukannya.
Vanesa menatap semua ini dengan linglung. Rasa sakit yang penuh dengan kepahitan menyebar tak terkendali di dadanya.
Steven menundukkan kepala, lalu berkata dengan nada lembut pada Hanna yang ada dalam pelukannya, "Ada yang mengambil foto diam-diam."
Saat Hanna mendengar ini, dia menunjukkan ekspresi panik. Kedua tangannya mencengkeram kemeja di dada Steven dengan erat, wajah cantiknya yang membuat banyak penggemar terpesona itu terbenam di dada Steven.
Steven melindungi Hanna sambil melangkah pergi.
Ketika melewati sisi Vanesa, pria itu hanya mengatakan satu kalimat, "Antar Regan pulang, aku akan menjemputnya nanti."
Pria itu hanya memberi tahu, tidak membutuhkan tanggapan Vanesa.
Vanesa memeluk Regan, melihat Steven yang melindungi Hanna naik mobil melalui jendela kaca kafe.
Steven yang seperti ini benar-benar menunjukkan sosok seorang pria sejati.
Selama proses ini, tidak hanya wajah Hanna, bahkan sehelai rambut pun tidak terlihat dari balik jaket hitam itu.
Mobil Maybach pun melaju pergi.
Vanesa menundukkan kepala, melihat surat cerai di tangannya dengan bibir yang terkatup keras. Rasa panas yang mengalir di pelupuk matanya ditekannya kembali sekali lagi.
"Ibu, apa kamu baik-baik saja?" tanya Regan.
Vanesa kembali tersadar, langsung bertatapan dengan pandangan khawatir dan peduli Regan.
Dia mengambil napas dalam-dalam, tersenyum dengan susah payah, lalu menjawab, "Aku nggak apa-apa."
Regan mengamati raut wajah Vanesa.
Melihat Vanesa sepertinya tidak berbeda dengan biasanya, Regan pun merasa lega.
Vanesa tidak apa-apa, tetapi Regan masih ingat ekspresi sedih ibunya tadi!
Ketika memikirkan bahwa dirinya sudah membuat ibunya sedih, Regan merasa sangat bersalah.
Vanesa melihat waktu.
Waktu pemeriksaan yang dijanjikan dengan temannya sudah hampir tiba.
Dia mengusap kepala Regan sambil berkata, "Regan, Ibu harus pergi dulu untuk mengurus sesuatu. Bisakah kamu kembali ke studio dan menungguku?"
"Nggak mau!" Regan sekarang ingin sekali segera bertemu dengan Hanna, tetapi dia tidak berani memberi tahu Vanesa apa yang ada dalam pikirannya.
Regan memutar bola matanya, lalu berkata, "Ibu, kamu sudah beberapa hari nggak pulang ke rumah. Tadi Ayah menyuruh Ibu untuk mengantarkanku pulang dulu. Apakah ada hal penting yang ingin Ayah bicarakan denganmu?"
Hal penting apa yang ingin dibicarakan Steven dengannya? Mungkin itu hanya masalah perceraian saja.
Namun, bagaimana mungkin Vanesa bisa mengatakan tentang hal ini pada Regan?
Ini adalah urusan orang dewasa, tidak seharusnya melibatkan anak yang tidak bersalah.
"Ibu, ayo pulang ke rumah denganku!" Regan menarik tangan Vanesa, lalu berkata dengan manja, "Ayolah! Aku sudah beberapa hari nggak bertemu dengan Ayah, aku merindukan Ayah!"
Vanesa menghela napas, lalu menjawab dengan terpaksa, "Baiklah. Kalau begitu Ibu akan mengantarmu pulang dulu."
"Hore!" Regan merasa sangat senang. "Ibu baik sekali!"
Vanesa mengusap kepalanya. Ketika melihat wajah kecil Regan yang lucu dan polos, dia mendesah dalam hati.
Selama lima tahun pernikahan ini, mungkin hanya ketergantungan dan perasaan Regan terhadapnya yang nyata.
Selain itu, semuanya adalah kebohongan, hanya khayalan belaka.
…
Setengah jam kemudian, Vanesa dan Regan kembali ke Mansion Resta.
Steven masih belum pulang, sementara Regan sudah menjadi tidak sabaran setelah menunggu hanya sepuluh menit.
"Bu, bisakah Ibu menelepon Ayah untuk menanyakan kapan dia akan pulang?" tanya Regan.
Vanesa juga mengira Steven akan segera pulang. Dia ingin langsung pergi ke rumah sakit ketika Steven pulang.
Namun, masalahnya sekarang, Steven tidak mengangkat teleponnya meski panggilannya tersambung.
Ini terjadi tiga kali berturut-turut.
Vanesa merasa tidak berdaya, tetapi tetap menghibur Regan, "Ayahmu mungkin sedang sibuk."
Regan mengerutkan kening.
'Mungkinkah Ibu menangis, jadi Ayah sedang menghiburnya hingga nggak sempat mengangkat telepon?' pikir Regan.
Setelah memikirkan ini, Regan menjadi makin cemas. Dia bahkan mulai menyesali mengapa dia memeluk Vanesa tadi. Jika dia tidak memeluk Vanesa, Hanna tidak akan merasa sedih!
Makin Regan memikirkannya, makin kesal dirinya. Bahkan tatapan yang dia berikan pada Vanesa pun dipenuhi dengan kebencian.
Hanya saja, Vanesa saat ini sedang mengirim pesan WhatsApp pada sahabatnya, tidak menyadari emosi Regan.
Vanesa: [Ada sedikit masalah yang menundaku. Kita lakukan pemeriksaannya besok saja.]
Sahabat Vanesa: [Besok aku bekerja shift pagi, kamu bisa langsung datang saja.]
Vanesa: [Baiklah.]
Sahabat Vanesa: [Melihat keadaanmu, aku yakin kamu pasti belum menggunakan alat tesnya.]
Vanesa melirik tas di sampingnya dengan perasaan yang agak bersalah, lalu membalas: [Sekarang aku akan melakukannya.]
Sahabatnya pun mengirimkan beberapa emoji sebagai balasan.
Vanesa membalas dengan emoji yang bertuliskan "aku bersalah". Kemudian, dia mengambil tasnya, bangkit berdiri, lalu berkata, "Regan, Ibu mau ke toilet sebentar."
Regan tidak meresponnya.
Vanesa mengira dia sedang merasa kesal karena Steven, jadi tidak terlalu memikirkannya. Vanesa pun berbalik naik ke lantai dua.
Setelah mendengar suara pintu kamar utama di lantai dua tertutup, Regan langsung berlari kembali ke kamarnya, mengambil jam tangan telepon yang dibelikan Hanna dari bawah bantal.
Kontak pertama di telepon itu adalah kontak Hanna, jadi Regan pun meneleponnya.
Telepon berdering beberapa kali sebelum akhirnya diangkat.
"Regan?"
Suara Steven yang rendah dan serak terdengar dari telepon. Terdengar juga napas yang terengah-engah.
Regan merasa sedikit terkejut ketika bertanya, "Ayah? Kenapa Ayah yang mengangkat teleponnya? Di mana Ibu?"
"Ibu kelelahan dan baru saja tertidur. Ada apa?" jawab Steven.
Ketika Regan mendengar ini, hatinya merasa makin cemas. "Apakah Ibu menangis?"
Steven tidak menyangkal, "Sekarang sudah nggak apa-apa."
"Aku khawatir dengan Ibu. Ayah, aku sudah berada di rumah sekarang. Bisakah kamu menjemputku? Aku ingin bersama dengan Ibu!" ujar Regan.
"Baiklah, sekarang Ayah akan pulang untuk menjemputmu."
Setelah menutup telepon, Regan merasa sangat senang. Dia diam-diam menyembunyikan jam tangan telepon di saku jaketnya, lalu keluar kamar dan berlari turun.
Regan duduk di sofa, menyalakan televisi, lalu menonton dengan gembira sambil menunggu ayahnya menjemputnya.
Sementara itu, di kamar mandi kamar utama, Vanesa memegang alat tes kehamilan di tangannya dengan ujung jari yang memutih ....
Bab 8
Dari halaman terdengar suara mobil.
Steven sudah pulang.
Vanesa memegang alat tes kehamilan, lalu membuka pintu kamar mandi.
Di bawah, terdengar suara gembira Regan.
"Ayah!"
Vanesa turun menyusuri tangga satu per satu.
Regan berdiri di atas sofa dengan tangan terbuka ke arah Steven, lalu berkata, "Ayah, peluk aku!"
Steven membungkuk untuk mengangkat Regan.
Vanesa memperhatikan bahwa Steven sudah mengganti pakaiannya.
Saat mengingat kembali pada tiga panggilan telepon yang tidak dijawab tadi ....
Kebenaran yang kejam makin jelas di hadapan Vanesa.
Langkah Vanesa berhenti di anak tangga terakhir. Buku-buku jari di tangannya yang memegang alat tes kehamilan itu tampak memutih.
Regan memeluk leher Steven, melihat ke arah Vanesa, lalu berujar, "Ibu, Ayah ingin mengajakku bermain. Apakah Ibu ingin ikut dengan kami?"
Vanesa melirik Regan, lalu mengalihkan pandangan ke wajah Steven.
Hari ini, Steven tidak memakai kacamata. Matanya yang dalam itu tidak menunjukkan emosi sedikit pun.
Akhirnya, pria itu mengalihkan pandangan padanya, tampak dingin seperti biasa.
"Terima kasih atas kerja kerasmu selama beberapa hari ini. Aku akan berada di Kota Amarai beberapa waktu ini, jadi aku akan menjaga Regan."
Suara Steven terdengar rendah dan merdu. Hanya saja, setiap katanya mengandung jarak.
Jarak terhadap Vanesa.
Vanesa tersenyum simpul ketika mendengarnya, sementara matanya mulai menjadi panas.
Dia merasa ironis.
Ironis karena kegembiraan yang muncul di hatinya ketika melihat hasil tes di kamar mandi tadi.
Ketika Regan melihat Vanesa diam saja, hatinya merasa agak cemas.
Dia masih ingat bahwa Vanesa mengatakan ingin keluar mengurus sesuatu ketika mereka berada di kafe tadi. Alasan Regan bertanya seperti itu, sepenuhnya karena dia yakin bahwa Vanesa tidak akan setuju.
Namun, bagaimana kalau Vanesa setuju? Apa yang harus dia lakukan?
'Aku ingin pergi menemui Ibu dengan Ayah!' pikir Regan.
"Ibu?" Regan mencoba memanggil dengan ragu.
Vanesa mengalihkan pandangannya, langsung bertatapan dengan mata Regan yang tampak sedikit cemas.
Pikiran Vanesa kacau, tidak sempat menyelidiki emosi apa yang ada di mata Regan saat ini. Dia hanya berkata dengan acuh tak acuh, "Ibu nggak ikut. Kalian bersenang-senanglah."
Sebenarnya Vanesa tahu bahwa Steven kemungkinan besar akan membawa Regan menemui Hanna. Namun, dia tiba-tiba merasa tidak peduli lagi, tidak ingin mengurus hal ini lagi.
Regan menghela napas lega.
"Kalau begitu, Ibu sebaiknya beristirahat dengan baik di rumah." Regan melanjutkan sambil melihat ke arah Steven, "Ayah, ayo cepat kita pergi!"
Steven menanggapi dengan acuh tak acuh. Dia berbalik sambil menggendong Regan. Ketika melewati meja kopi, ujung matanya melirik surat cerai itu.
Hanya saja, kata 'cerai' di atas surat itu tertutup oleh mainan Regan.
Langkah Steven terhenti sejenak.
Vanesa terus memperhatikan Steven. Jadi, ketika pandangan pria itu jatuh pada surat cerai di atas meja, napas Vanesa seakan terhenti.
Meskipun tahu bahwa Steven akan mengajukan perceraian, Vanesa tidak pernah menyangka bahwa surat cerai ini akan diserahkan ke tangannya oleh kekasih Steven, ibu kandung Regan.
Sebelum hari ini, Vanesa mengira bahwa meskipun tidak ada cinta di antara mereka, setidaknya mereka adalah pasangan suami istri yang saling menghormati.
Vanesa tidak pernah menyangka, pernikahan yang dia jalani dengan penuh rasa syukur, serta tanpa penyesalan ini, akan berakhir ketika dia mengetahui … bahwa semuanya adalah tipu daya yang direncanakan Steven dengan cermat demi kekasihnya.
Demi melindungi kekasih hatinya, Steven rela mempertaruhkan pernikahannya sendiri. Dia membuat sebuah penjara bernama pernikahan untuk Vanesa, mengurungnya di penjara itu. Dia melihat Vanesa bertingkah seperti badut yang rela mengorbankan segalanya untuk anak yang dilahirkan kekasihnya.
Apakah dalam lima tahun ini Steven tidak pernah merasa bersalah sedikit pun?
Vanesa mengingat kembali adegan ketika Hanna memberikan surat cerai padanya. Hatinya marah dan sakit.
Pada saat ini, Steven sedang menunduk menatap surat cerai itu.
Pria itu mengerutkan kening sedikit, bersiap mengulurkan tangan untuk mengambilnya.
Vanesa akhirnya tidak bisa menahannya lagi, langsung melangkah mendekati Steven.
Alat tes kehamilan di tangannya hampir pecah karena cengkeramannya.
Emosi yang tertahan selama ini sudah mencapai puncaknya di saat ini.
"Steven ...."
"Ayah, ayo cepat kita pergi!"
Suara Regan yang mendesak memotong kata-kata Vanesa, juga menghilangkan niat Steven untuk menyelidiki lebih lanjut.
Steven tersenyum simpul, lalu membalas, "Baiklah, kita akan pergi sekarang."
Setelah berkata demikian, dia langsung pergi sambil menggendong Regan.
Dari awal sampai akhir, Steven bahkan tidak melirik Vanesa sekali pun.
Sampai akhirnya suara mobil di luar makin menjauh.
Tubuh Vanesa yang kaku seakan kehilangan tenaga. Dia berpegangan pada sandaran sofa, lalu berjongkok perlahan.
Dia menundukkan kepala. Dalam penglihatannya, dua garis merah yang jelas itu menjadi makin kabur.
Air mata yang panas menetes, jatuh di atas dua garis merah itu.
Seandainya Steven melirik Vanesa sekali saja, dia akan menemukan alat tes kehamilan yang dipegangnya.
Sayangnya, pandangan dan hati Steven sama. Sejak awal sampai akhir, tidak akan pernah berhenti padanya.
Vanesa berjongkok di lantai, air mata membasahi wajahnya. Manor Resta yang besar ini terasa kosong, hanya suara tangisan tertahan Vanesa yang bergema lama.
…
Setengah jam kemudian, Vanesa mengirimkan foto melalui WhatsApp pada temannya.
Sahabat Vanesa: [Akurasi alat tes kehamilan ini tinggi. Besok kamu bisa datang dengan perut kosong untuk pemeriksaan.]
Vanesa: [Aku ingin langsung membuat janji untuk melakukan aborsi.]
Sahabat Vanesa terkejut membaca pesan ini.
Detik berikutnya, temannya itu langsung menelepon.
Saat ini, emosi Vanesa sudah kembali tenang. Dia sedang mengemasi barang-barangnya.
Ketika melihat nama Stella di layar telepon, Vanesa meletakkan pakaian yang sedang dilipatnya, lalu mengambil ponsel untuk menjawabnya.
"Apa Steven tahu?" Suara Stella Anston yang berada di seberang telepon terdengar serius. Dia melanjutkan, "Kamu harus memikirkan semua ini dengan baik. Ini adalah anak pertamamu."
"Dia nggak tahu." Suara Vanesa terdengar sangat pelan. "Kami akan bercerai. Dia sudah punya Regan, jadi dia nggak akan peduli dengan kehidupan yang datang secara nggak sengaja ini."
Setelah mendengar ini, Stella yang ada di seberang juga terdiam sejenak.
Stella memahami tentang kondisi pernikahan Vanesa dan Steven.
"Meskipun dulu aku nggak begitu optimis dengan dirimu dan Steven, lima tahun ini aku sudah melihatmu menjalin hubungan yang cukup harmonis dengan pasangan ayah dan anak itu. Aku bahkan sempat mengira kalian akan hidup seperti ini selamanya. Siapa sangka .... Haih! Apa kamu tahu perasaan ini? Rasanya seperti aku sudah mengikuti serial drama dengan serius, tapi tiba-tiba berakhir dengan buruk!" ujar Stella.
Vanesa mengedipkan matanya yang perih.
Vanesa tidak bisa menceritakan segala macam hal pada Stella secara mendetail. Jika ingin menyalahkan, Vanesa hanya bisa menyalahkan dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan hatinya, sudah mencintai orang yang salah.
"Besok aku akan datang ke tempatmu." Suara Vanesa terdengar tegas.
Stella menghela napas sedih beberapa kali, lalu berkata, "Aku nggak bisa langsung melakukannya besok. Aku harus melakukan pemeriksaan dulu. Kita akan bicarakan nanti saat kamu datang."
"Ya."
Setelah menutup telepon, Vanesa meletakkan ponselnya, lalu melanjutkan berkemas.
Meskipun Steven memberikan Mansion Resta ini untuknya, Vanesa tidak berniat untuk terus tinggal di sini.
Dia tahu bahwa Steven pasti juga tidak akan peduli dengan rumah ini. Jadi, Vanesa berencana menjual rumah ini setelah mereka bercerai nanti.
Bagaimanapun juga, ini adalah rumah yang sudah dia tinggali selama lima tahun. Ada banyak barang-barang keperluan sehari-hari di sini.
Vanesa hanya mengemas beberapa pakaian dan tas sehari-hari untuk dibawa. Sisanya, terserah pada Steven untuk mengurusnya. Jika Steven malas mengurusnya, nanti Vanesa akan sekalian membersihkannya saat menjual rumah ini.
Setelah selesai berkemas, Vanesa menandatangani surat cerai, lalu meletakkan surat cerai itu di meja kopi yang paling mencolok.
Saat melangkah keluar dari Mansion Resta, Vanesa menarik dua koper. Dia menutup pintu, langsung pergi tanpa menoleh lagi.
Bab 9
Pada awal tahun, Vanesa sudah membeli sebuah unit di Kompleks Acacia yang ada di sebelah studionya.
Rumah itu berukuran 140 meter persegi dengan tiga kamar tidur. Dia dan ibunya masing-masing akan mendapatkan satu kamar, sementara satu kamar kecil lagi akan Vanesa ubah menjadi sebagai ruang kerja.
Rumah itu sudah jadi, tetapi Vanesa meminta perusahaan dekorasi untuk mendesain ulang interiornya. Tiga bulan yang lalu, mereka sudah menyelesaikan semuanya. Jadi, Vanesa bisa langsung pindah.
Vanesa meletakkan koper di rumah barunya, lalu pergi ke studio.
Dia bekerja merestorasi barang sampai dini hari. Baru ketika Vanesa menyentuh batas kemampuannya, dia menyeret tubuh lelahnya kembali ke ruang istirahat.
Setelah mandi, Vanesa berbaring di tempat tidur, lalu menutup mata untuk tidur nyenyak.
Hanya saja, malam itu dia tidak tidur terlalu nyenyak. Vanesa bermimpi tentang banyak hal. Namun, dia tidak mengingat apa-apa setelah terbangun.
Sambil mengusap kepalanya yang berdenyut, Vanesa masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat melangkah keluar, ponselnya yang berada di atas meja samping tempat tidur bergetar.
Ternyata Steven yang menelepon.
Vanesa tidak mengangkatnya.
Vanesa bisa menebak bahwa telepon ini pasti karena Regan.
Karena tekad Vanesa untuk bercerai sudah bulat, dia akan memutuskan segala hubungan.
Bagaimanapun juga, Regan adalah anak kandung Hanna. Vanesa merasa Regan akan perlahan mengalihkan ketergantungannya pada Hanna setelah menghabiskan waktu bersama ibu kandungnya itu.
Setelah mengganti baju, Vanesa memasukkan ponselnya ke dalam tas, lalu pergi menuju rumah sakit.
…
Di departemen kandungan rumah sakit, di ruang periksa pribadi Stella.
"Menurut tanggal haid terakhir dan hasil USG, kamu hamil lima minggu lebih empat hari."
Stella menyerahkan laporan hasil pemeriksaan pada Vanesa.
Vanesa menerimanya, melihat gambaran hitam putih pada laporan hasil pemeriksaan. Hatinya tidak bisa tidak menegang.
"Selain itu, anakmu ini …." Stella menunjuk kantung kehamilan kecil di atas, lalu melanjutkan, "Sepertinya kembar."
Begitu mendengar ini, Vanesa langsung terkejut.
Dia mengangkat kepala untuk menatap Stella, lalu bertanya, "Apa kamu yakin?"
"Sekarang usia kandunganmu baru lima minggu lebih, hanya terlihat ada dua kantung kehamilan."
Stella menjelaskan, "Kalau sudah sampai usia kandungan tujuh minggu, kamu bisa memeriksa detang jantung di kedua kantung kehamilan ini. Baru pada saat itu kita bisa memastikan apakah kamu hamil anak kembar atau bukan. Kantung kehamilan ganda seperti milikmu ini umumnya adalah kembar fraternal. Mungkin mereka bisa menjadi sepasang kembar berbeda jenis kelamin!"
Vanesa mencengkeram hasil pemeriksaan, mengerucutkan bibir pucatnya beberapa kali, tetapi tetap tidak bisa mengatakan apa-apa.
Stella tahu bahwa hati Vanesa mulai luluh.
Bagaimanapun juga, ini adalah darah dagingnya sendiri. Terlebih lagi, mereka mungkin kembar. Siapa pun pasti akan merasa enggan melepaskannya.
Ditambah lagi, ini adalah anak Vanesa dan Steven.
Stella sangat memahami perasaan Vanesa terhadap Steven.
Stella bahkan merasa di dunia ini mungkin tidak akan ada lagi orang yang seperti Vanesa. Selama lima tahun penuh, dengan alasan membalas budi, Vanesa sudah mencintai seorang pria tanpa mengeluh, meski pria itu bisa mengajukan perceraian kapan saja.
Dalam pernikahan ini, Vanesa mencinta dengan begitu rendah hati.
Sedangkan Steven …. Mungkin dari awal sampai akhir, dia tidak pernah menjalankan kewajibannya sebagai suami.
"Aku akan memikirkannya lagi."
Setelah beberapa saat, Vanesa mengangkat pandangannya untuk menatap Stella, lalu berujar, "Aku akan memberitahumu kalau aku sudah memutuskan."
Mata cantik Vanesa tampak sedikit merah serta mengandung air mata. Di dalam matanya, tampak kebingungan yang jelas.
Stella yang melihat ini merasa hatinya sakit. Dia berkata, "Kamu harus membuat keputusan dalam waktu 12 minggu."
"Baiklah." Vanesa memasukkan laporan hasil pemeriksaan ke dalam tas, lalu menambahkan, "Jangan beri tahu siapa pun tentang kehamilanku."
"Aku tahu."
Stella masih harus pergi bekerja, jadi Vanesa tidak ingin mengganggunya.
Setelah meninggalkan departemen kandungan, Vanesa turun dengan menggunakan lift.
Sesampainya di lantai satu, Vanesa berjalan keluar dari lift. Begitu mengangkat pandangan, dia langsung melihat Steven yang sedang menggendong Regan, tampak baru masuk dari pintu besar rumah sakit.
Ada koyo penurun panas yang tertempel di dahi Regan.
Vanesa terkejut.
Ketika Regan melihat Vanesa, wajah kecilnya yang pucat langsung penuh senyuman. "Itu Ibu!"
Langkah Steven berhenti, lalu dia melihat ke arah Vanesa.
"Ibu!"
Regan berteriak pada Vanesa.
Steven berjalan mendekati Vanesa sambil menggendong Regan.
Vanesa benar-benar menyayangi Regan. Dia menyentuh wajah Regan, merasakan suhu tubuhnya yang cukup tinggi.
Vanesa bertanya, "Kenapa dia bisa tiba-tiba demam?"
Steven menjawab dengan acuh tak acuh, "Semalam dia makan es krim."
Ketika mendengar ini, Regan memainkan jari-jarinya dengan perasaan bersalah.
Sebenarnya, itu karena Hanna membelikannya es krim untuk pertama kalinya. Regan merasa enggan untuk menyia-nyiakan, jadi dia menghabiskan satu kotak penuh.
Namun, Regan tidak berani mengatakan yang sebenarnya. Jika sampai Vanesa tahu Regan sudah memakan satu kotak penuh es krim, pasti Vanesa akan menyalahkan Hanna!
Regan merasa bahwa Hanna begitu lembut, serta begitu menyayanginya. Bagaimana mungkin dia akan membiarkan Vanesa menyalahkan Hanna?
Regan merasa takut Vanesa akan terus bertanya, jadi dia langsung mengulurkan tangan, "Ibu, bisakah kamu menggendongku?"
Vanesa tanpa sadar ingin mengangkat tangannya. Namun, mengingat dirinya sekarang sedang hamil, gerakannya terhenti.
Dia mengusap kepala Regan sambil berkata, "Ibu sedang nggak enak badan. Biarkan Ayah yang menggendongmu."
Begitu mendengar ini, Regan langsung cemberut, merasa tidak senang.
Ini adalah pertama kalinya Vanesa menolak untuk menggendongnya.
Meskipun Vanesa sedang sakit, Regan ingat bahwa dulu Vanesa tetap bersedia menggendongnya saat sedang sakit.
Mungkinkah Vanesa marah?
Regan mengamati Vanesa dengan hati-hati.
Saat melihat wajah Vanesa yang memang tidak terlalu sehat, Regan langsung merasa gugup.
"Ibu, apakah Ibu marah padaku?" Regan menatap Vanesa dengan tatapan menyedihkan, lalu berujar, "Aku salah. Aku nggak seharusnya makan es krim diam-diam tanpa sepengetahuan Ibu. Aku berjanji nggak akan makan es krim lagi."
Vanesa memang tidak pernah memberikan es krim pada Regan, karena Regan menderita penyakit asma bawaan. Selain itu, fungsi pencernaan Regan tidak begitu baik sejak dia kecil. Dokter pengobatan tradisional mengatakan bahwa Regan harus menghindari makanan manis dan dingin.
Vanesa hendak menjelaskan pada Regan, tetapi Steven sudah lebih dulu berkata, "Ibu nggak akan marah padamu."
Nada bicara Steven terdengar sangat yakin, sama sekali tidak merasa Vanesa akan membantah.
Bulu mata Vanesa bergetar, sementara dia diam-diam mengatupkan bibirnya.
Regan menatap Vanesa, lalu bertanya, "Ibu, apa kamu benar-benar nggak marah?"
Vanesa tersenyum simpul pada Regan. "Tentu saja Ibu nggak marah."
"Kalau begitu, bisakah Ibu menemaniku hari ini?" Regan berbicara dengan nada yang makin sedih serta mata yang memerah, "Aku merasa nggak enak badan, aku ingin makan bubur buatan Ibu."
Vanesa ragu sebentar, lalu mengangguk. "Baiklah."
…
Setelah Regan diperiksa oleh dokter, ternyata tenggorokannya meradang. Dokter memberikan resep obat, menyarankan agar Regan makan makanan yang ringan, banyak minum air, serta istirahat yang cukup di rumah.
Setelah kembali ke Mansion Resta, Steven menggendong Regan naik untuk beristirahat.
Sementara itu, Vanesa pergi ke dapur untuk memasak bubur.
Setengah jam kemudian, Vanesa membawa bubur yang sudah matang naik.
Pintu kamar anak setengah terbuka, membuat suara Regan bisa terdengar.
"Ibu, kamu jangan khawatir. Dokter mengatakan kalau aku akan langsung sembuh setelah minum obat .... Ini bukan salah Ibu. Kalau bukan Ibu yang membelikan es krim, aku nggak akan tahu kalau es krim ternyata enak sekali .... Ada juga biskuit, keripik, serta permen lolipop yang begitu lezat! Aku belum pernah memakan camilan sebanyak ini sebelumnya!"
Gerakan Vanesa yang hendak mendorong pintu berhenti sejenak.
Regan masih melanjutkan kata-katanya.
"Ibu Vanesa nggak akan marah. Dia hanya akan merasa kasihan padaku saat mengetahui aku sedang sakit. Sekarang dia sedang memasakkan bubur untukku di bawah! Ibu, Ibu sedang nggak sehat, jadi beberapa hari ini aku nggak akan pergi ke tempat Ibu. Aku takut Ibu akan tertular .... Ibu nggak perlu mengkhawatirkanku. Ibu Vanesa akan merawatku dengan baik!"
Vanesa berdiri di luar pintu, sementara tangannya yang memegang nampan tampak sedikit mengencang.
Hanna ternyata memberikan Regan begitu banyak makanan tidak sehat!
Yang lebih tidak Vanesa duga, hubungan Regan dan Hanna sudah sedekat ini dalam beberapa hari saja ....
Vanesa tahu dia tidak berhak merasa keberatan. Namun, saat melihat anak yang dibesarkannya dengan sepenuh hati berulang kali memanggil Hanna 'Ibu', hati Vanesa tidak bisa tidak merasa perih.
Darah memang lebih kental dari air. Tak peduli seberapa tulusnya Vanesa memperlakukan Regan, itu tetap tidak bisa mengalahkan ikatan darah.
Dari awal hingga akhir, Vanesa hanya orang luar.
…
Ketika Regan selesai berbicara dengan Hanna, dia baru mengingat Vanesa.
Dia berteriak dari dalam kamar, tetapi Vanesa tidak menjawab.
Akhirnya, Regan turun sendiri ke dapur untuk mencarinya.
Namun, tidak ada siapa pun di dapur.
Ketika Regan melangkah keluar dari dapur, dia melihat ada sepiring bubur di atas meja makan.
Bab 10
"Ibu?"
Regan masih tidak menyerah. Dia berlari ke ruang tamu untuk terus mencari.
"Ibu? Ibu!"
Dia sudah mencari sekeliling, tetapi tetap tidak bisa menemukan Vanesa.
Regan akhirnya merasa yakin bahwa Vanesa sudah pergi!
Ini adalah pertama kalinya Vanesa pergi meninggalkannya tanpa berpamitan!
Regan merasa sangat kesal. Dia melemparkan semua mainan yang dibelikan Vanesa untuknya di sofa.
Ketika Steven yang berada di ruang kerja mendengar keributan itu, dia turun untuk memeriksa.
Karena Regan membuat ruang tamu berantakan, surat cerai itu juga tersapu ke bawah sofa di tengah kekacauan.
Steven mengerutkan kening, berjalan mendekat sambil melirik dapur, lalu bertanya, "Di mana ibumu?"
"Dia bukan ibuku!"
Regan berteriak dengan penuh amarah, "Ibu mana yang pergi diam-diam saat anaknya sedang sakit? Aku membencinya! Aku nggak ingin dia menjadi ibuku lagi!"
Steven terdiam sejenak, merasa sedikit terkejut. "Dia sudah pergi?"
"Ya!" Setelah Regan meluapkan amarahnya, perasaan sedihnya langsung muncul, membuat anak itu langsung menangis.
"Ibu jahat! Apa dia nggak menginginkanku lagi? Aku sudah punya Ibu yang cantik dan lembut, tapi aku nggak bilang kalau aku nggak menginginkannya. Kenapa dia bisa memperlakukanku seperti ini .... Huhu! Ibu jahat! Wanita jahat!"
Steven melangkah mendekat, tangan besarnya mengusap kepala Regan, lalu dia berujar, "Nggak peduli betapa marah dan sedihnya kamu, kamu nggak boleh sembarangan memaki orang."
"Kenapa ...." Regan memeluk Steven, menangis sampai tubuh kecilnya bergetar. "Sepertinya Ibu nggak menyayangiku seperti dulu! Ayah, apakah ini karena ada Ibu baru? Apakah Ibu Vanesa ingin meninggalkanku?"
Steven memeluk Regan, duduk di sofa, lalu mengambil beberapa lembar tisu untuk mengelap air matanya.
"Ibu Vanesa hanya sedang sibuk akhir-akhir ini. Meskipun kamu sudah bertemu dengan Ibu Hanna, Ibu Vanesa akan tetap menyayangimu seperti dulu," jelas Steven.
Regan mendengus, lalu bertanya, "Benarkah?"
"Ayah nggak akan berbohong."
Karena Regan sudah mendengar ayahnya berkata demikian, rasa cemas serta sedih di hatinya pun menghilang.
Namun, dia tetap ingin Vanesa merawatnya.
Regan sedang sakit, tidak memiliki nafsu makan. Bubur yang dimasak Vanesa sangat harum dan lezat, Regan ingin Vanesa memasakkan bubur untuknya setiap hari.
"Ayah, aku masih tetap merindukan Ibu Vanesa."
Steven berpikir sebentar, lalu berkata, "Makanlah buburmu dengan baik, Ayah akan membawamu menemuinya."
Setelah mendengar ini, mata Regan berbinar. "Baiklah!"
…
Setelah meninggalkan Mansion Resta, Vanesa langsung kembali ke studio.
Tiga hari lagi adalah hari saat ibunya keluar dari penjara.
Malam tahun baru juga tinggal beberapa hari lagi.
Semua peralatan rumah tangga untuk rumah barunya sudah Vanesa beli. Selain itu, Vanesa sudah mengatur janji dengan petugas kebersihan untuk membersihkan rumah barunya besok.
Di studio masih ada satu artefak yang harus Vanesa kirimkan besok.
Tadinya, Vanesa berencana untuk langsung mengambil libur tahun baru setelah menyelesaikan pekerjaan ini. Tahun ini, dia berencana mengajak ibunya pergi ke Saria untuk merayakan tahun baru.
Namun, sekarang dia sedang hamil ....
Vanesa menyentuh perutnya dengan perasaan yang sangat rumit.
Dia belum memutuskan apakah akan melahirkan anak ini atau tidak.
Seperti apa reaksi Steven jika mengetahui bahwa dirinya hamil?
Pria itu bersikap begitu baik pada Regan. Apakah dia juga akan bersikap sebaik itu pada anaknya?
Makin Vanesa memikirkannya, makin dia merasa dirinya konyol.
Steven bersikap sangat baik pada Regan karena Hanna.
Siapa yang tidak memahami hal sesederhana ini?
Vanesa menutup wajahnya dengan penuh perasaan sakit.
'Sadarlah, jangan bermimpi lagi. Kamu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri!' batin Vanesa.
Tok, tok ….
Pintu kantor diketuk.
Vanesa mengangkat kepalanya, menenangkan diri, lalu berkata, "Silakan masuk."
Lucy membuka pintu, lalu berujar, "Kak Vanesa, Regan datang ke sini."
Vanesa mengerutkan kening sambil bertanya, "Dia masih sakit. Kenapa dia ada di sini?"
"Pak Steven mengantarnya sampai ke pintu studio, lalu memintaku untuk membawanya masuk."
Lucy baru saja selesai berbicara, Regan sudah melangkah masuk sambil memeluk tas ransel kartunnya.
"Ibu!"
Vanesa bangkit berdiri, melangkah mendekat, lalu menyentuh dahi Regan. "Di mana ayahmu?"
"Ayah sedang ada pekerjaan, nggak bisa merawatku. Aku juga merindukan Ibu." Regan mendongakkan kepalanya dengan tatapan menyedihkan pada Vanesa.
Vanesa menelepon Steven.
Dia ingin Steven menjemput Regan.
Namun, Steven tidak mengangkat teleponnya.
Ini jelas-jelas disengaja!
Vanesa merasa sangat kesal, wajahnya berubah menjadi dingin.
Regan menatap Vanesa dengan mata memerah, lalu berujar sambil terisak, "Ibu, apa kamu sudah bosan denganku? Kalau Ibu nggak menyukaiku lagi, aku akan pergi saja ...."
Saat mengatakan ini, air mata Regan sudah berjatuhan di pipinya.
Hati Vanesa langsung luluh. Dia segera memeluk Regan sambil membujuknya dengan nada lembut, "Ibu nggak bosan denganmu. Hanya saja, Ibu akan sibuk selama dua hari ini. Kamu masih sakit, aku takut nggak bisa merawatmu dengan baik."
"Aku sudah nggak demam lagi."
Regan menarik tangan Vanesa, meletakkannya di dahinya, lalu berkata, "Ibu, lihatlah. Aku benar-benar sudah nggak demam lagi. Aku akan baik-baik saja, nggak akan mengganggu Ibu bekerja. Tolong jangan usir aku, ya."
Begitu Regan bersikap manja, Vanesa benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa.
Vanesa menghela napas, menyentuh pipi kecilnya yang masih sedikit demam, lalu bertanya, "Apa kamu sudah memakan bubur yang Ibu buat?"
"Sudah!" Regan berkata dengan penuh kebanggaan, "Aku memakan sepiring besar!"
"Apakah kamu membawa obatmu?" tanya Vanesa.
"Aku membawanya!" Regan menepuk tas ransel kartunnya, lalu menambahkan, "Mainan dan buku bacaan sebelum tidur yang Ibu belikan juga sudah aku bawa!"
Vanesa menyentuh ujung hidung Regan, lalu membalas, "Bagaimana mungkin kamu bisa melupakan buku bacaan sebelum tidurmu? Baiklah, kamu masih sakit sekarang, istirahatlah di tempat tidur. Ibu masih harus bekerja."
"Baiklah!"
Regan memeluk ranselnya dengan riang, lalu masuk ke ruang istirahat.
Ketika Vanesa melihat Regan yang begitu pengertian dan manis, hatinya tidak bisa tidak merasa bersalah.
Regan masih anak-anak. Wajar jika dia masih memiliki ketergantungan pada orang tuanya. Meskipun dia sudah bertemu dengan Hanna, bukankah hatinya masih mengakui Vanesa sebagai ibunya?
Vanesa memang tidak seharusnya marah pada seorang anak kecil.
Setelah memikirkan semua ini, Vanesa membuka aplikasi belanja, membeli semua buku bacaan dan mainan edukatif anak yang kemarin dia masukkan ke keranjang belanja.
Vanesa berpikir bahwa Regan kemungkinan besar akan menghabiskan waktu bersama Steven dan Hanna, kembali ke kediaman Keluarga Dallas pada tahun baru ini. Jadi, apa yang Vanesa beli hari ini bisa dianggap sebagai hadiah tahun baru untuk Regan.
…
Vanesa bekerja lembur sampai lewat tengah malam.
Saat kembali ke ruang istirahat, Regan sudah tertidur.
Setelah selesai mandi, Vanesa berjalan ke sisi tempat tidur, membuka selimut, lalu melihat Regan sedang memegang jam tangan telepon.
Ini adalah edisi terbatas dari merek tertentu. Satu jam tangan telepon ini harganya bisa mencapai puluhan juta.
Kemungkinan Hanna yang membelikan benda ini untuk Regan.
Sepertinya Hanna juga sudah berusaha keras menjadi seorang Ibu yang baik.
Ini adalah hal yang baik untuk Regan.
Vanesa tidak bisa menggambarkan perasaannya pada saat ini. Mustahil jika mengatakan bahwa dia sama sekali tidak peduli. Namun, dia paham dengan baik bahwa Regan dan Hanna yang menjadi makin dekat adalah hal yang tidak bisa dihindari.
Ini adalah sesuatu yang tidak bisa Vanesa cegah. Vanesa juga tidak memiliki hak untuk mencegahnya.
Yang bisa dia lakukan hanya bersikap sebaik mungkin saat Regan membutuhkannya.
Vanesa meletakkan jam tangan di meja samping tempat tidur di sisi Regan, lalu mematikan lampu untuk tidur.
Pada pukul dua tengah malam, Vanesa merasa tubuh orang di pelukannya panas seperti bola api.
Dia terbangun, menyalakan lampu, lalu melihat bahwa wajah kecil Regan tampak merah karena demam.
Saat mengukur suhu tubuhnya, suhunya mencapai 39,8 derajat!
Vanesa mencari obat penurun panas untuk diminum Regan.
Namun, setelah setengah jam berlalu, belum ada tanda-tanda demam Regan akan turun.
Vanesa buru-buru mengganti pakaiannya, menggendong Regan, langsung pergi ke rumah sakit.
Dalam perjalanan, Vanesa menelepon Steven, tetapi teleponnya tidak diangkat.
Sesampainya di rumah sakit, Vanesa langsung membawa Regan ke UGD. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Regan menderita pneumonia bronkitis akut.
Regan perlu menjalani rawat inap serta diberikan infus.
Setelah Vanesa selesai mengurus prosedur rawat inap, dia terus menelepon Steven.
Kali ini, teleponnya akhirnya tersambung. Dari ujung lain telepon terdengar suara lembut Hanna, "Nona Vanesa, maaf, Steven sedang mandi. Apakah ada hal yang mendesak?"