Đang tải thông tin quảng bá...
Cinta dari CEO Sombong: Dingin Sekarang, Sayang Kemudian
Saat orang terkaya di Kota Livia, Hendro Jamil dalam kondisi vegetatif, istrinya Wenny Cladia telah merawatnya selama tiga tahun. Namun, setelah dia bangun, Wenny menemukan pesan teks yang ambigu di ...
Chương (1)
第1章
Saat orang terkaya di Kota Livia, Hendro Jamil dalam kondisi vegetatif, istrinya Wenny Cladia telah merawatnya selama tiga tahun.
Namun, setelah dia bangun, Wenny menemukan pesan teks yang ambigu di ponselnya, cinta pertamanya telah pulang.
Teman-temannya yang meremehkan Wenny bercanda, "Sang putri telah kembali, saatnya mengusir si wanita jelek."
Baru pada saat itulah Wenny sadar kalau Hendro tidak pernah mencintainya dan dirinya hanyalah bahan tertawaan yang menyedihkan.
Suatu malam, Hendro menerima surat cerai dari istrinya dengan alasan pihak pria mengalami impoten.
Hendro pun datang dengan wajah muram dan mendapati kalau Nyonya Jamil yang dulunya jelek, sekarang telah berubah menjadi ahli medis dan berdiri anggun di bawah lampu yang terang.
Melihat kedatangannya, Nyonya Jamil tersenyum dan berkata, "Pak Hendro, apakah kamu mencari dokter andrologi?"
Bab 1
Wenny Cladia mengetahui bahwa suaminya Hendro Jamil telah berselingkuh.
Dia berselingkuh dengan seorang mahasiswi.
Hari ini ulang tahun Hendro, Wenny telah menyiapkan hidangan di atas meja. Tiba-tiba terdengar suara "ding", ponsel Hendro yang tertinggal di rumah berdering, Wenny melihat pesan teks yang dikirim oleh mahasiswi itu.
[Aku terbentur saat mengambil kue. Sakit banget.]
Terlampir swafoto di bawah.
Foto tersebut tidak memperlihatkan wajah, hanya kaki saja.
Gadis di dalam foto mengenakan kaus kaki putih dan sepatu kulit hitam. Rok biru putihnya ditarik ke atas, memperlihatkan sepasang kaki yang ramping dan indah.
Lututnya benaran memar, tubuh gadis muda serta kata-kata manis memancarkan godaan.
Dikatakan bos perusahaan yang sukses suka memilih gadis seperti ini untuk dijadikan simpanan.
Wenny memegang ponsel itu dengan sangat erat.
Ding.
Mahasiswi itu mengirim pesan teks lagi.
[Pak Hendro, mari kita bertemu di Hotel Wima. Aku ingin merayakan ulang tahunmu malam ini...]
Hari ini ulang tahun Hendro, selingkuhannya ingin merayakan ulang tahunnya.
Wenny mengambil tasnya dan bergegas menuju Hotel Wima.
Dia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Dia ingin melihat siapa mahasiswi ini!
...
Setelah tiba di Hotel Wima, Wenny ingin masuk.
Namun, dia melihat kedua orang tuanya, Andy Cladia dan Landy Salim. Wenny melangkah maju dengan terkejut, "Ayah, Bu, kenapa kalian di sini?"
Andy dan Landy terkejut. Mereka saling memandang dan berkata, "Wenny, adikmu baru pulang dari luar negeri. Kami mengantarnya ke sini."
‘Hana Cladia?’
Wenny tertegun ketika melihat Hana melalui jendela.
Hana yang berada di dalam mengenakan rok biru putih yang dikenakan mahasiswi, persis seperti di dalam foto.
Ternyata mahasiswi itu adiknya, Hana.
Hana sangat cantik dan dikenal sebagai mawar merah di Kota Livia. Dia memiliki sepasang kaki terindah di Kota Livia. Banyak pria yang jatuh cinta padanya.
Kini, adiknya sedang menggodai kakak iparnya dengan sepasang kakinya yang indah.
Wenny merasa konyol. Dia menoleh Andy dan Landy. "Sepertinya akulah orang terakhir yang mengetahuinya."
Andy berkata dengan canggung, "Wenny, Pak Hendro sama sekali tidak menyukaimu."
Landy, "Ya, Wenny. Apa kamu tahu berapa banyak wanita di Kota Livia yang tertarik sama Pak Hendro? Daripada bersama wanita lain, kenapa tidak berikan saja pada adikmu?"
Wenny mengepalkan tangannya, "Ayah, Bu, aku juga putri kalian!"
Wenny pun pergi.
Landy tiba-tiba berkata dari belakang, "Wenny, apakah Pak Hendro pernah menyentuhmu?"
Wenny tertegun.
Andy berkata dengan tegas, "Wenny, jangan kira kami berutang padamu. Saat itu, Pak Hendro dan Hana memang dikenal sebagai pasangan serasi, tetapi Pak Hendro mengalami kecelakaan dan menjadi vegetatif, jadi kami memintamu untuk menikah dengannya."
Landy menatap Wenny dengan jijik, "Wenny, lihatlah dirimu sendiri. Dalam tiga tahun pernikahan, kamu hanya seorang ibu rumah tangga yang bergantung pada suami, sementara Hana sudah menjadi penari balet utama. Seorang wanita jelek dan putri cantik. Bagaimana kamu bisa berbanding dengan Hana? Segera kembalikan Pak Hendro ke Hana!"
Kata-kata ini menyakiti hati Wenny, dia pergi dengan air mata berlinang.
...
Ketika Wenny kembali ke vila, hari sudah gelap. Mbak Nur sedang libur. Hanya Wenny sendiri di rumah. Lampu tidak dinyalakan, jadi suasana menjadi gelap dan sepi.
Wenny duduk sendirian di meja makan dalam kegelapan.
Makanan lezat di atas meja sudah dingin, ada juga kue yang dibuatnya sendiri, dengan tulisan "Selamat ulang tahun, Sayang".
Wenny merasa kesal. Semua ini tampak konyol seperti dirinya sendiri.
Hendro dan Hana dikenal sebagai pasangan serasi. Semua orang tahu bahwa si Hana adalah kekasih Hendro. Namun, kecelakaan mendadak yang terjadi tiga tahun lalu membuat Hendro menjadi vegetatif, Hana pun menghilang.
Saat itu, Keluarga Cladia membawa Wenny kembali dari pedesaan dan memaksanya untuk menikah dengan Hendro, seorang pria koma.
Begitu mengetahui bahwa pria itu adalah Hendro, pria yang selalu dicintainya, Wenny menikahinya dengan senang hati.
Setelah menikah, Hendro berada dalam kondisi vegetatif selama tiga tahun. Selama tiga tahun ini, Wenny merawatnya dengan sepenuh hati, tanpa keluar rumah dan bersosialisasi. Wenny mengabdikan diri untuk merawatnya dan fokus menjadi seorang ibu rumah tangga. Akhirnya, Hendro pun sadar kembali.
Wenny mengeluarkan mancis dan menyalakan lilin.
Cahaya redup dipancarkan, Wenny menatap seorang ibu rumah tangga di dalam cermin, yang selalu mengenakan gaun hitam putih, kuno dan membosankan.
Hana, yang telah menjadi penari utama balet selama tiga tahun ini, tampak muda, lincah dan cantik.
Dirinya hanya seorang wanita jelek.
Hana itu putri cantik.
Setelah sadar, Hendro kembali bersama putri cantik dan meninggalkan si wanita jelek.
Tiga tahun ini sungguh tersia-sia.
Hendro tidak mencintainya, tetapi Wenny mencintai Hendro.
Konon katanya, orang yang duluan jatuh cinta ditakdirkan menjadi pecundang. Hari ini, Hendro membuatnya kalah telak.
Mata Wenny berkaca-kaca, lalu dia meniup lilinnya.
Seluruh vila jatuh kembali ke dalam kegelapan.
Pada saat ini, lampu mobil tiba-tiba bersinar dari luar, mobil Rolls-Royce Phantom milik Hendro melaju kencang dan berhenti di halaman.
Tubuh Wenny sedikit gemetar, ternyata dia pulang.
Wenny menyangka Hendro tidak akan pulang malam ini.
Tak lama kemudian pintu vila terbuka, terlihat sosok tampan nan anggun dengan embun malam yang sejuk di luar. Hendro pulang.
Keluarga Jamil merupakan keluarga bangsawan di Kota Livia. Sebagai pangeran dari Keluarga Jamil, Hendro memiliki bakat bisnis yang luar biasa sejak kecil. Dia memperoleh dua gelar master dari Harvard pada usia 16 tahun. Kemudian, dia mendaftarkan perusahaan pertamanya di Lagas dan menjadi terkenal. Setelah pulang, Hendro secara resmi mengambil alih Keluarga Jamil dan menjadi orang terkaya di Kota Livia.
Hendro melangkah masuk. Suaranya yang dalam terdengar acuh tak acuh. "Kenapa tidak nyalain lampu?"
Pop.
Hendro mengulurkan tangan, menyalakan lampu dinding.
Cahaya terang membuat Wenny memejamkan matanya sejenak. Ketika membuka matanya lagi, Wenny menatap Hendro.
Hendro mengenakan jas hitam buatan khusus. Dia tampan, dengan sosoknya yang sempurna serta sikap tenang dan bermartabat. Dia telah membuat banyak wanita terpesona olehnya.
Wenny menatapnya dan berkata, "Hari ini ulang tahunmu."
Tidak ada emosi di wajah Hendro. Dia hanya melirik meja makan dengan malas, "Lain kali jangan buang waktu. Aku tidak rayain ulang tahun."
Wenny tersenyum dan bertanya balik, "Kamu tidak rayain, atau tidak mau rayain denganku?"
Hendro menatapnya dengan sangat acuh tak acuh, seolah-olah tidak ingin membuang waktu padanya. "Terserah apa yang kamu pikirkan."
Setelah berkata demikian, Hendro melangkah ke atas.
Hendro selalu bersikap seperti ini padanya.
Wenny tetap tidak bisa menghangatkan hatinya.
Wenny berdiri, menatap punggungnya sambil berkata, "Hari ini ulang tahunmu, aku ingin memberimu hadiah ulang tahun."
Hendro tidak berhenti atau menoleh ke belakang, "Tidak perlu."
Wenny tersenyum dan perlahan mengangkat sudut bibirnya, "Hendro, ayo kita bercerai."
Hendro baru saja menginjakkan kakinya di tangga, langsung tertegun. Dia berbalik, tatapannya tertuju pada Wenny.
Bab 2
Wenny juga menatapnya dan mengulanginya dengan lembut tapi tegas, "Ayo bercerai! Hendro, apakah kamu menyukai hadiah ulang tahun ini?"
Wajah Hendro tak berekspresi. "Hanya karena aku tidak merayakan ulang tahun bersamamu, kamu ingin bercerai?"
Wenny, "Hana sudah pulang, bukan?"
Saat menyebut Hana, Hendro mencibir.
Hendro melangkah mendekatinya, "Apa kamu keberatan dengan Hana?"
Sebagai generasi termuda dewa perang bisnis, Hendro memancarkan aura kuat yang berasal dari kekuasaan, identitas, uang dan statusnya. Saat Hendro mendekat, Wenny mundur tanpa sadar.
Punggungnya terasa dingin dan Wenny pun bersandar ke dinding.
Pandangannya tiba-tiba menjadi gelap. Hendro sudah mendekatinya, dia menopang tangannya ke dinding dan mendorong Wenny ke dinding.
Hendro menatapnya sambil tersenyum, "Semua orang di Kota Livia tahu bahwa orang yang akan kunikahi itu Hana. Bukankah kamu berusaha keras menikahiku dan menjadi istriku? Kamu tidak keberatan saat itu, lalu kenapa bersikap munafik sekarang?"
Wajah Wenny menjadi pucat.
Ya, orang yang akan dinikahinya itu Hana.
Kalau bukan karena Hendro menjadi vegetatif, mana mungkin Wenny bisa menikahinya?
Wenny tidak pernah lupa saat Hendro sadar dan menatapnya dengan penuh kekecewaan dan ketidakpedulian di matanya.
Kemudian, mereka selalu tidur di kamar terpisah dan Hendro tidak pernah menyentuhnya.
Hendro mencintai Hana.
Wenny tahu semua ini, tapi...
Wenny menatap wajah tampan Hendro dalam-dalam. Wajahnya perlahan-lahan tumpang tindih dengan wajah di masa kecilnya. Hendro, apa benar kamu tidak mengingatku lagi?
Ternyata hanya Wenny yang masih berada di tempat semula.
‘Lupakan saja.’
‘Anggap saja tiga tahun ini untuk memenuhi keinginannya.’
Wenny menekan kepahitan dan rasa sakit di hatinya, sambil berkata, "Hendro, mari kita akhiri pernikahan tanpa seks ini."
Hendro tiba-tiba mengangkat alisnya dan berkata, "Tanpa seks?"
Hendro mengangkat tangan dan mencubit dagunya, ibu jarinya menekan bibir Wenny dengan ambigu, "Jadi, ini sebabnya kamu ingin bercerai? Kenapa, apa kamu menginginkannya?"
Wajah Wenny tiba-tiba tersipu, bagaikan buah beri yang matang.
‘Bukan itu maksudnya!’
Kini, ibu jarinya menyentuh bibir merahnya, sambil meremas dengan jahat. Wenny tidak menyangka bahwa pria yang begitu tampan dan mulia akan memiliki sisi yang begitu dewasa dan sembrono.
Hendro meremas bibirnya.
Ini pertama kalinya Hendro menatap Wenny dari jarak sedekat itu. Wenny selalu mengenakan gaun hitam putih serta kacamata berbingkai hitam besar di wajahnya, membuat dirinya tampak seperti wanita tua.
Namun, saat mendekat, Hendro menyadari bahwa wajah mungilnya hanya seukuran telapak tangan. Fitur wajahnya yang tersembunyi di balik kacamata berbingkai hitam sangat cantik dan anggun, dipadukan dengan sepasang mata besar, tampak menawan.
Bibirnya lembut.
Di mana pun jarinya menekan, warna merah cerah itu akan menghilang, tetapi akan langsung bangkit kembali, sangat lembut dan elastis.
Itu membuat orang ingin menciumnya.
Tatapan Hendro agak gelap, "Aku tidak menyangka Nyonya Jamil memiliki hasrat yang begitu kuat. Kamu begitu mendambakan pria?"
Plak!
Wenny mengangkat tangan dan menamparnya.
Hendro tercengang dengan pukulan ini.
Wenny sangat marah. Memang benar kalau mencintai dengan terlalu rendah hati, ketulusan hatinya bakal diinjak-injak. Hendro benaran mempermalukannya seperti ini.
Wenny berkata dengan marah, "Aku tahu kamu selalu mencintai Hana. Sekarang aku bakal mengembalikan posisi Nyonya Jamil padanya!"
Wajah tampan Hendro tiba-tiba berubah dingin. Dirinya yang bermartabat belum pernah ditampar oleh siapa pun!
Hendro menatapnya dengan dingin, "Wenny, kamu kira bisa menikah dan menceraikanku kapan pun kamu mau. Kamu menganggapku siapa?"
Wenny tertawa, "Mainan."
Apa?
Hendro tercengang.
Wenny menahan rasa sakit hati dan berkata, "Kamu adalah mainan yang aku rebut dari Hana. Sekarang aku sudah bosan dan ingin membuangnya."
Hendro tampak murung. "Oke, Wenny, kamu memang hebat. Bercerai saja. Sebaiknya kamu jangan menangis dan memohon untuk kembali bersama!"
Hendro naik ke atas dan memasuki ruang kerja. Dia membanting pintu ruang kerja dengan suara keras yang memekakkan telinga.
Wenny tampak kehilangan semua kekuatannya, tubuhnya menjadi lemas.
Dia berjongkok di karpet dan memeluk dirinya sendiri. ‘Hendro, aku tidak akan mencintaimu lagi.’
...
Pagi berikutnya.
Mbak Nur mendorong pintu ruang kerja dan masuk.
Hendro sedang duduk di meja kantor sambil melihat dokumen. Dia dikenal sebagai pecandu kerja.
Mbak Nur memanggil, "Pak."
Hendro bahkan tidak mengangkat kepalanya. Jelas bahwa dia sedang dalam suasana hati yang buruk, suhu di sekitarnya sangat dingin.
Mbak Nur dengan hati-hati meletakkan kopi di sebelah tangannya dan berkata, "Pak, ini kopi yang dibuat oleh Nyonya untukmu."
Tangan Hendro yang memegang pena berhenti sejenak, ekspresi dingin di wajahnya menjadi lembut.
‘Apakah dia minta berdamai?’
Sejujurnya, Wenny adalah istri yang baik. Dia akan memasak sesuai selera Hendro, mencuci pakaiannya dengan tangan dan mengurus kehidupan sehari-hari.
Hendro mengambil kopi dan menyesapnya.
Itu adalah kopi yang diseduh Wenny, juga rasa yang disukainya.
Namun, Hendro masih marah.
Wenny menamparnya tadi malam, Hendro akan marah karena hal ini untuk waktu yang lama.
Itu bukan sesuatu yang dapat diredakan dengan secangkir kopi.
Hendro bertanya, "Nyonya sudah tahu bersalah?"
Mbak Nur melirik Hendro dengan ekspresi aneh, "... Pak, Nyonya sudah pergi."
Hendro terkejut dan menatap Mbak Nur.
Mbak Nur mengeluarkan sesuatu dan berkata, "Pak, Nyonya pergi membawa kopernya dan memintaku untuk memberikan ini padamu."
Hendro mengambil kertas itu dan membukanya. Kata [Surat Perceraian] muncul di hadapannya.
Hendro terdiam, dia menyangka Wenny sedang minta berdamai!
Mbak Nur, "Pak, Nyonya memintamu segera menandatanganinya."
Hendro melirik cangkir kopi itu, "Buang! Buang semuanya!"
Mbak Nur, "Pak, tadi kamu sangat menyukai kopi ini, kenapa mau dibuang?"
Mbak Nur tidak berani berkata-kata, dia segera pergi membawa kopi.
Wajah tampan Hendro tampak muram. Dia membaca surat perceraian tersebut. Wenny tidak menginginkan sepeser pun dan akan meninggalkan rumah tanpa membawa apa pun.
Hendro mencibir. ‘Wenny benaran keras kepala, dia tidak menginginkan sepeser pun darinya. Bagaimana mungkin seorang gadis desa seperti dia punya biaya hidup?’
‘Tiga tahun lalu, Wenny bersusah payah untuk menikahinya, bukankah itu demi uang?’
Tiba-tiba, Hendro menyipitkan matanya karena dia melihat alasan perceraian.
Alasan perceraian yang ditulis oleh Wenny, [Kesehatan pihak pria buruk, mengalami disfungsi seksual dan tidak dapat memenuhi kewajiban perkawinannya.]
Hendro, "..."
Wajahnya yang tampan menjadi murung.
‘Dasar wanita sialan!’
Hendro mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi Wenny.
Tak lama kemudian, panggilan itu tersambung dan terdengar suara Wenny, "Halo."
Bab 3
Hendro mengangkat sudut bibirnya dengan sinis, "Wenny, cepat pulang!"
Wenny tertawa, "Kenapa aku harus mendengarmu? Kita sudah bercerai, kenapa aku harus memanjakanmu?"
Hendro menggertakkan gigi, "Mengenai alasan perceraian, aku memberimu kesempatan untuk menulis ulang!"
Wenny tersenyum ceria. "Apa aku salah tulis, Hendro? Kamu sudah sadar setengah tahun, bukan? Tapi, kamu bahkan tidak pernah menggandeng tanganku selama setengah tahun ini. Sudah tiga tahun kamu menjadi vegetatif. Meskipun sekarang sudah sehat, aku cukup curiga ada yang salah dengan fungsi kejantananmu. Kamu tidak mampu menyentuh wanita! Segera cari dokter tradisional untuk memeriksanya. Semoga kejantananmu bisa segera kembali, ini merupakan doa terbaikku untuk perceraianmu.!"
Hendro, "…"
Pembuluh darah di dahinya sudah berdenyut.
‘Wanita ini sungguh keterlaluan!’
"Wenny, cepat atau lambat aku akan tunjukkan kekuatanku!"
"Maaf, kamu tidak punya kesempatan ini!"
"Wenny!"
Setelah bunyi bip dua kali, telepon ditutup.
Hendro sangat marah, sebelum sempat melampiaskan amarahnya, dia mendengar nada sibuk. Hendro tidak bisa berkata-kata.
‘Wenny!!!’
...
Wenny sudah sampai di apartemen sahabatnya, Fany Surin. Saat Wenny menutup telepon, Fany tertawa dan mengacungkan jempol. "Wenny, kamu hebat sekali. Pak Hendro pasti sangat marah."
Wenny merasa bahwa dulunya dia terlalu rendah hati dalam mencintainya, itulah sebabnya Hendro meremehkannya.
Mau mencintai orang lain, pertama-tama harus mencintai diri sendiri.
Terutama wanita, jangan lupa untuk mencintai diri sendiri.
Fany, "Tiga tahun lalu, Hana langsung kabur setelah mengetahui Pak Hendro menjadi vegetatif karena kecelakaan mobil. Siapa sangka, Pak Hendro ternyata haus banget. Begitu sadar, langsung kembali mencari Hana lagi. Mendingan cerai aja sama pria kayak gitu!"
Wenny mengupas permen dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasa manis seakan menutupi kepahitan di hatinya. "Fany, inilah perbedaan antara cinta dan tidak cinta."
Orang yang dicintai bakal merasa aman dan terlindungi.
Mereka yang tidak dicintai sangat gelisah.
Fany melihat dan mendapati Wenny telah memakan setumpuk permen.
Fany menarik Wenny berdiri, "Wenny, semangatlah! Setelah melepaskan seseorang, kamu akan menemukan bahwa masih banyak lainnya yang kamu miliki. Aku akan memesan delapan model pria untuk mengadakan pesta lajang buatmu malam ini!"
Wenny tersenyum.
Fany mengulurkan tangan, mencopot kacamata berbingkai hitam di wajah Wenny dan membuangnya ke tong sampah.
Wenny ingin mengambilnya, "Kacamataku."
Fany menghentikannya, "Wenny, kamu melakukan penelitian akademis, jadi selalu memakai kacamata ini. Kamu harus belajar dari Hana, harus berdandan cantik."
Wenny teringat perkataan orang tuanya bahwa dia itu wanita jelek dan Hana itu putri cantik.
Mungkin bukan hanya kedua orangtuanya saja yang beranggapan demikian, tapi Hendro juga berpikir dia itu wanita jelek.
Fany menarik Wenny keluar rumah, "Ayo, aku bawa kamu berbelanja. Kita pergi potong rambut, manikur dan beli baju. Aku bakal membuat Hendro dan yang lainnya menyaksikan betapa cantiknya kamu!"
Fany tiba-tiba teringat sesuatu, "Oh ya, Wenny, kamu benaran tidak menginginkan uang Pak Hendro dalam perceraian ini?"
Wenny, "Aku punya uang sendiri."
"Lalu, uang Pak Hendro diberikan pada Hana? Betapa beruntungnya dia."
"…"
"Mana kartu yang diberikan Pak Hendro?"
Hendro selalu bermurah hati, dia memberi Wenny kartu hitam emas, tetapi Wenny tidak pernah menggunakannya.
Wenny mengeluarkan kartu tersebut dari tasnya dan mengedipkan matanya, "Lalu, Pak Hendro akan membayar belanjaanku hari ini."
...
Malam hari, Bar 1996.
Bar 1996 selalu menjadi sarang uang di Kota Livia, tempat para pangeran dan pria kaya dari semua lapisan masyarakat menghabiskan uangnya. Malam ini, ada DJ dan banyak tarian yang tak berhenti.
Hendro duduk di sofa di bilik mewah yang remang-remang. Malam ini dia mengenakan kemeja hitam dan celana panjang hitam, dengan lengan kemejanya yang dilipat, memperlihatkan lengannya yang kekar dan jam tangan baja senilai puluhan miliar di pergelangan tangannya. Penampilannya yang tampan dan anggun menarik perhatian para wanita di bar, mereka terus-menerus menoleh ke arahnya.
Di samping Hendro ada sahabatnya Alex Heis, yang juga dikenal sebagai pangeran Keluarga Heis, serta beberapa pria dari keluarga kaya.
Alex tertawa, "Kak, apa katamu? Wenny mau ceraikan kamu?"
Beberapa pria kaya juga tertawa. "Semua orang tahu Wenny sangat mencintai Pak Hendro. Dia rela menikahinya meski Pak Hendro sudah menjadi vegetatif. Bagaimana mungkin Wenny tega menceraikannya sekarang?"
"Kita bertaruh saja, mari kita lihat berapa lama Wenny bisa menahan diri untuk kembali mencari Pak Hendro."
Alex, "Aku yakin tidak butuh lama, Wenny bakal kirim pesan pada Kak Hendro nanti haha."
Ekspresi Hendro tampak suram dan jelas terlihat bahwa dia sedang dalam suasana hati yang buruk.
Dia mengeluarkan ponselnya dan membuka kotak obrolan Whatsapp dengan Wenny.
Percakapan terakhir terjadi tadi malam. Wenny mengambil foto semangkuk sup tulang dan menuliskan, [Sayang, meskipun kondisi tulangmu sudah normal, kamu tetap harus minum lebih banyak sup tulang. Jangan lupa pulang lebih awal.]
Kalau digulir ke atas, isinya penuh dengan pesan-pesan dari Wenny yang dikirimnya setiap hari.
Hendro tidak pernah balas.
Dia tidak pernah balas sekali pun.
Hari ini sangat sepi, Wenny tidak mengiriminya pesan apa pun.
Hendro merasa kesal.
Ding.
Saat ini, sebuah pesan teks masuk.
Alex yang ada di sampingnya langsung berkata, "Sudah lihat, ‘kan? Wenny sudah mengirim pesan pada Kak Hendro!"
Ding ding ding.
Beberapa pesan teks masuk.
Pria kaya di sekitar mereka tertawa terbahak-bahak, "Kita tahu dia tidak mungkin tahan lama, tapi siapa sangka bakal secepat ini."
Alex mendesak, "Kak, lihat apa yang dikirim Wenny padamu. Dia pasti menangis dan memohon untuk kembali bersamamu."
Hendro mengangkat alisnya. ‘Apakah Wenny mengirimkannya pesan?’
‘Kalau tahu begini, kenapa melakukannya sejak awal!’
‘Bukankah Wenny sangat keras kepala pagi ini?’
Hendro membuka pesan teks itu dan langsung tertegun.
Alex membacanya, "Pengguna VVIP yang terhormat, kartu Anda dengan digit terakhir 0975 telah menghabiskan 1.600.000 di Toko Manikur Pelangi."
Semua orang tampak bingung.
Hendro melihat ke atas, menghabiskan 4.000.000 di Salon Kimiko.
Menghabiskan 172.000.000 di Toko Chanel.
Menghabiskan 480.000.000 di Toko LV.
...
Bukan pesan untuk minta berdamai, melainkan pemberitahuan pesan teks tentang pembelajaan.
Semuanya tercengang.
Wenny terasa seperti menampar wajah mereka dari kejauhan, yang mana sangat memalukan.
Hendro membanting ponselnya ke meja dengan wajah muram. Dia tidak peduli berapa banyak uang yang dihabiskan Wenny, tapi intinya Wenny malah pergi berbelanja setelah bercerai. ‘Wanita ini benar-benar hebat, sungguh hebat!’
Wanita yang selama tiga tahun ini patuh dan menempel padanya, tiba-tiba saja berubah.
Alex, "Kak, apa yang Wenny lakukan? Dia malah membuat kuku dan rambut di salon, serta membeli baju. Apa dia mencoba meniru gaya berpakaian Kak Hana?"
"Kak Hana adalah mawar merah di Kota Livia. Wenny adalah seorang gadis desa. Tak peduli seberapa keras dia mencoba, Wenny tetaplah hanya seorang gadis bodoh."
"Putri berbeda dengan wanita biasa. Wanita biasa tidak akan bisa menjadi seorang putri."
Semua orang menertawakan Wenny.
Tiba-tiba terjadi keributan di bar. Pandangan semua orang tertuju pada suatu tempat. Seseorang berseru, "Lihat! Ada dewi!"
Bab 4
Wenny datang.
Setelah selesai berbelanja di mal, Fany langsung membawa Wenny ke Bar 1996, tempat di mana dia mengadakan pesta lajang untuk Wenny malam ini.
Wenny tidak menyangka akan bertemu Hendro dan lainnya di sini, dia tentu juga mendengar mereka sedang menertawakannya.
Wenny mengenal Alex dan yang lainnya yang ada di bilik mewah itu. Mereka semua adalah kenalan Hendro, Alex adalah sahabat Hendro. Hendro dan Hana pernah pacaran, mereka semuanya menyukai Hana. Alex bahkan memanggil Hana dengan sebutan "Kakak Ipar".
Selama tiga tahun ini, Wenny sama sekali tidak bisa berbaur dengan lingkungannya, orang-orang ini tidak menyukainya.
Label yang mereka berikan pada Wenny adalah "pengantin pengganti", "wanita jelek", "gadis desa"...
Kalau seorang pria tidak mencintaimu, teman-temannya tidak akan menghormatimu.
Fany sangat geram. Dia menyingsingkan lengan bajunya dan siap menyerang. "Aku bakal merobek mulut orang-orang ini!"
Wenny meraih Fany dan berkata, "Fany, lupakan saja! Kami sudah bercerai, tidak perlu marah pada orang-orang ini!"
Melihat Wenny yang acuh tak acuh, Fany nyaris menahan amarahnya. Semakin banyak tatapan yang tertuju pada Wenny, semuanya memanggil Wenny dengan sebutan "dewi". Suasana hati Fany pun membaik, "Wenny, ayo kita ke pesta lajang."
Fany membawa Wenny ke bilik mewah di seberang dan melambaikan tangannya, "Panggil semua model pria dari Bar 1996 ke sini!"
Di bilik mewah sebelah, beberapa pria kaya masih menertawakan Wenny. Saat ini, mereka merasakan tatapan dingin dan tajam tertuju pada mereka.
Mereka mendongak, terlihat Hendro yang tengah duduk di kursi utama, melirik malas ke arah mereka.
Dingin, kesal dan peringatan.
Beberapa pria kaya ini tercengang, mereka segera diam dan tidak berani mengatakan hal-hal buruk tentang Wenny lagi.
Alex menatap Hendro. ‘Meskipun Kak Hendro tidak pernah peduli pada Wenny, Wenny memang telah merawatnya dengan tekun selama tiga tahun, sehingga dia pasti juga memiliki perasaan terhadapnya.’
Keributan di sekitar semakin keras, "Dewi yang sangat cantik!"
‘Dewi?’
‘Di mana?’
Alex mengikuti arah pandangan mereka dan melihat ke depan. Dia langsung tercengang. "Wah, dewi sungguhan."
Semua pria kaya di sekitarnya tercengang, "Kapan ada dewi di Kota Livia? Kenapa aku belum pernah melihatnya?"
Alex menarik Hendro, "Kak, lihat dewi itu."
Hendro tidak pernah kekurangan wanita. Dia pernah melihat berbagai macam wanita, ada yang langsing dan montok. Dia tidak tertarik, tetapi bilik Wenny ada di seberangnya.
Begitu mendongak, Hendro melihat Wenny.
Wenny melepaskan kacamata berbingkai hitamnya, menghilangkan kesan kusam dan kuno yang biasa dia tampilkan. Wajahnya yang mungil seputih dan selembut salju, dengan sosok yang unggul dan temperamen yang dingin. Rambut hitam panjangnya terurai di bahunya, membuatnya tampak seperti dewi yang menakjubkan.
Hendro melihat dan tertegun selama dua detik.
Alex bertanya dengan penuh semangat, "Kak Hendro, bagaimana menurutmu tentang dewi itu?"
Sementara pria kaya lainnya berkata, "Menurut Pak Hendro pasti biasa saja. Tipe yang disukai Pak Hendro itu wanita cantik yang lembut seperti Hana, bukan tipe dewi yang dingin dan anggun."
"Lihatlah kakinya. Kakinya tidak kalah dengan kaki Hana."
Wenny mengenakan rok pendek bergaya Chanel, tampil beda dari gaya konservatifnya dan memperlihatkan kakinya untuk pertama kalinya.
Kakinya indah dan ramping.
Sepasang kaki ini mampu membuat pria berfantasi saat melihatnya.
Tidak kalah dengan Hana.
Hendro menatap sang "dewi" selama dua detik, entah kenapa dia merasa bahwa wanita ini tampak familier, seolah-olah dia pernah melihatnya.
Pada saat ini, sekelompok model pria datang satu demi satu. Mereka semua berkulit putih, berwajah tampan dan berkaki jenjang. Mereka berdiri berjajar di depan Wenny.
Fany tersenyum dan berkata, "Ayo Wenny, pilih delapan di antara mereka."
Untuk merayakan dirinya terlepas dari kesengsaraan perkawinan, Wenny memutuskan untuk memanjakan dirinya sendiri, "Kamu, kamu, kamu... kalian semua tinggal saja."
Alex menghitung, "Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan. Dewi itu benar-benar memilih delapan model pria sekaligus."
Pria kaya lainnya, "Buat apa menghabiskan uang sebanyak itu? Selama dewi berkata, kami bersedia melayanimu secara gratis."
Semua orang tertawa.
Ding.
Saat ini, ponsel Hendro kembali berbunyi, ada notifikasi pesan teks pembelanjaan lagi.
Hendro mengangkat ponsel dan berpikir, ‘Apa lagi yang dibeli Wenny?’
[Pengguna VVIP yang terhormat, kartu Anda dengan digit terakhir 0975 menghabiskan total satu miliar di Bar 1996 dengan delapan model pria]
Ekspresi Hendro membeku, dia menatap ke arah delapan model pria itu, lalu mengangkat kepalanya dan menatap wanita cantik di seberangnya.
Siapa lagi kalau bukan Wenny yang menjadi dewi di seberang dan memesan delapan model pria sekaligus?
Hendro, "..."
Delapan model pria mengelilingi Wenny dan mulai menuangkan anggur ke dalam gelasnya. "Kak, ayo main tebak-tebakan minum."
Fany berkata dengan gembira, "Oke, ayo bermain."
Wenny kalah di babak pertama. Model pria itu memegang gelas dan menyuapi Wenny anggur, "Kak, ayo minum."
Wenny minum segelas anggur, model pria lainnya pura-pura kesal. "Kak, kenapa kamu minum anggurnya, tidak minum punya kami? Kami juga mau menyuapimu."
Beban manis ini membuat Wenny merasa terbebani, sangat terbebani.
Mata Hendro tiba-tiba menyipit, wajahnya yang tampan menegang menjadi lengkungan yang menyeramkan. Dia berdiri dan berjalan keluar.
Alex tercengang, "Kak Hendro? Mau ke mana, Kak Hendro?"
Wenny sedang minum, tiba-tiba ada tangan yang meraih pergelangan tangannya yang ramping dan mengangkatnya dari sofa.
Wenny mendongak dengan kaget, wajah Hendro yang tampan dan terhormat sudah tampak membesar dalam pandangannya.
Wenny tertegun dan segera meronta, berusaha melepaskan tangannya dari pegangan Hendro. "Hendro, lepaskan aku!"
Hendro menyeretnya pergi dengan ekspresi muram di wajahnya.
Fany berdiri, "Hendro, apa yang kamu lakukan, lepaskan Wenny!"
Alex dan pria kaya lainnya pun tercengang. Mereka tampak tidak percaya dan mencurigai bahwa mereka sedang berhalusinasi. "Wenny?"
"Ternyata dewi itu Wenny?"
"Apakah ini Wenny, si wanita jelek yang kita kenal?"
"Ternyata Wenny begitu cantik!"
Alex tercengang saat melihat sosok dingin dan cantik itu diseret pergi oleh Hendro. "Sialan, Wenny yang tidak lagi bergantung pada Kak Hendro telah berubah menjadi dewi!"
...
Hendro menyeret Wenny. Telapak tangannya lebar dan kuat, tenaganya sekuat besi. Tidak peduli seberapa keras Wenny berjuang, tetap tidak bisa melepaskan diri.
Langkahnya sangat besar, Wenny terhuyung mengejarnya, "Hendro, lepaskan aku!"
Saat ini, Hendro melepaskan tangannya, punggung ramping Wenny membanting dinding yang dingin.
Lalu, pandangannya menjadi gelap, tubuh Hendro yang tinggi tegap mendorongnya ke dinding.
Pandangan Hendro memancarkan api yang berbahaya, "Wenny, apa kamu menganggapku sudah mati?"
Bab 5
Wenny mengerutkan kening, "Apa yang aku lakukan?"
Hendro menggertakkan gigi dan berkata, "Siapa suruh kamu berpakaian begitu genit?"
‘Apa?’
‘Genit?’
"Hendro, tolong jelaskan kata-katamu!"
Hendro menunduk dan melirik rok mininya, "Pahamu hampir terekspos. Apa kamu berharap orang lain memperhatikan kakimu?"
Rok yang dikenakan Wenny agak pendek. Fany yang pilihkan untuknya.
"Wenny hanya tidak memperlihatkan kakinya, sehingga Hana merasa dirinya hebat. Mari kita lihat malam ini siapa yang memiliki kaki paling indah di Kota Livia," kata Fany
Wenny mengangkat alisnya, "Tampaknya Pak Hendro telah memperhatikan kakiku."
Hendro tertegun.
Wenny bersandar di dinding, tampak anggun dan malas. Dia perlahan mengangkat kaki kanannya, telapak kaki kanannya yang bertumit tinggi bergesekan dengan pergelangan kaki Hendro.
Hendro mengenakan celana panjang hitam, dia tampak sangat tenang dan mulia.
Jari-jari kaki Wenny yang putih dan lembut bergerak ke sepanjang pergelangan kakinya, membelai betisnya dengan mesra.
Itu semacam godaan.
Itu juga provokasi.
Hendro menatap dengan dingin, "Kau mau apa?"
Wenny mengangkat sudut bibirnya, "Pak Hendro, kamu lebih suka kakiku atau kaki Hana?"
Hendro menatapnya. Dahi berbentuk M membuat wajahnya yang mungil tampak lebih menawan. Sosok seperti dewi, tapi berani menggodainya. Wenny tampak jernih dan menawan.
Hendro telah melihat sekilas kecantikan yang tersembunyi di balik matanya tadi malam, tetapi dia tidak menyangka Wenny akan secantik itu.
Hendro punya perasaan sepertinya pernah melihat wajah Wenny sebelumnya.
Mata indah Wenny pun berbinar-binar sambil tersenyum, "Pak Hendro, apa Hana pernah melilitkan kakinya di pinggangmu?"
Hendro mendengus dan mencondongkan tubuh untuk menatap Wenny dari dekat. "Wenny, kok kamu begitu genit? Seharian mikirin pria dan bahkan memesan delapan model pria buat memuaskanmu!"
Hendro tidak menjawab pertanyaan tentang dia dan Hana. Mungkin ini perlindungan terbaik yang bisa diberikan seorang pria pada seorang wanita.
Kisah cintanya dengan Hana begitu menggebu-gebu. Kaki Hana yang indah pasti melingkar erat di pinggangnya. Kalau tidak, bagaimana mungkin Hendro begitu terobsesi padanya.
Hana sungguh bahagia karena pria dingin seperti Hendro begitu setia padanya.
Hendro pasti tidak pernah menggunakan kata "genit" pada Hana.
Meskipun Wenny tersenyum, matanya yang jernih tampak dingin dan suram. "Ya, Pak Hendro tidak sanggup memuaskanku, aku tentu harus mencari pria lain! Ayo cepat-cepat bercerai. Pria yang tidak bisa memuaskan harus segera diganti. Yang selanjutnya pasti lebih baik!"
‘Wenny menghinanya lagi!’
‘Yang selanjutnya pasti lebih baik?’
‘Wanita ini sungguh tercela!’
Hendro mengulurkan tangan dan mencubit dagu Wenny. "Kamu menantangku? Tampaknya kamu penasaran apakah aku bisa melakukannya."
‘Apa?’
Wenny tercengang.
Hendro mendekatkan diri ke bibir Hana dan menggodanya, tetapi kata-kata yang diucapkannya sangat dingin, "Jangan bermimpi, aku tidak akan menyentuhmu, orang yang aku cintai itu Hana."
Orang yang dicintainya itu Hana.
Padahal, Hendro tidak perlu mengatakannya, Wenny juga tahu semuanya. Hati Wenny terasa seperti disengat lebah. Rasa sakitnya tidak kentara, tetapi sangat kuat.
Pada saat ini juga, terdengar sebuah suara yang menyenangkan, "Hendro."
Wenny mendongak dan melihat Hana.
Hana adalah mawar merah di Kota Livia, seorang wanita yang cantik. Dia belajar menari sejak kecil, sehingga tubuhnya semakin lembut.
Hendro segera melepaskan Wenny dan melangkah ke samping Hana. Dia menatap Hana dengan kelembutan yang belum pernah dilihat Wenny, "Sudah datang?"
Hana mengangguk, lalu menatap Wenny, "Siapa ini?"
Awalnya Hana tidak mengenali Wenny.
Tapi, Wenny tidak akan pernah melupakan Hana.
Sebenarnya, Wenny dan Hana bukan saudara kandung.
Andy bukanlah ayah kandung Wenny, melainkan ayah tirinya.
Bertahun-tahun yang lalu, Wenny juga memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahnya Nando Cladia dan ibunya Landy saling menghormati.
Ayahnya sangat menyayangi Wenny, menggendongnya setiap hari, "Wenny sayangku harus bahagia."
Kemudian suatu hari, Ayahnya meninggal dunia secara tiba-tiba. Lalu adiknya, Andy pindah ke rumah Ayahnya bersama putrinya Hana, ibunya juga menjadi ibu Hana.
Ibu menikah lagi dengan pamannya.
Sejak saat itu, ibunya menyayangi Hana dan tidak menyayanginya lagi.
Hana mendapat nilai 99 pada ujian tersebut, Wenny mendapat nilai 100. Ibunya akan memukul tangan Wenny dengan penggaris dan berkata, "Tidak bisakah kamu mengalah pada adikmu? Kenapa nilaimu lebih tinggi dari adikmu?"
Hana sakit dan menjalani kemoterapi, jadi rambutnya dibotakkan. Dia menangis karena dirinya menjadi jelek. Ibunya langsung membotakkan rambut Wenny dan berkata, "Kamu harus menjadi jelek bersama adikmu, supaya adikmu tidak menangis."
Setiap malam, Ibu, Hana dan Andy tidur, bermain dan bercanda bersama. Wenny berdiri sendirian di luar pintu rumah, memeluk boneka yang dibelikan ayahnya, sambil menangis, "Bu, Wenny takut."
Kemudian, Hana memanggil ibunya dengan sebutan "Ibu". Ibunya sangat senang, tetapi Hana berkata, "Ibu hanya boleh punya seorang putri."
Hari itu hujan turun deras, ibunya membawa Wenny ke pedesaan dan meninggalkannya di sana.
Wenny berlari mengejar mobil itu sambil menangis histeris, "Bu, jangan tinggalkan Wenny... Wenny penurut, Wenny akan selalu mengalah pada Adik... Bu, peluk aku, Wenny takut..."
Wenny yang masih kecil terjatuh dengan keras ke dalam kolam berlumpur sambil memeluk bonekanya. Dia menyaksikan ibunya menghilang di depan matanya.
Wenny tidak akan melupakan Hana.
Pada saat ini, Alex berlari mendekat, "Kak Hana, dia... kakakmu Wenny!"
Hana terkejut, "Kamu Wenny?"
Wenny tahu bahwa Hana selalu meremehkannya.
Saat kecil, Wenny selalu dikalahkan olehnya, sedangkan Hana selalu sangat menonjol. Lalu, Hana berkencan dengan Hendro, pangeran dari Keluarga Jamil. Anak yang tumbuh dalam kasih sayang itu bersikap sombong dan manja.
Alex sekali lagi terkesima dengan keanggunan Wenny. Dia berbisik, "Aku tidak menyangka Wenny begitu cantik."
Ingatan Hana tentang masa kecilnya menjadi kabur karena dia tidak pernah perhatikan kakaknya yang tidak disayangi ini, tetapi bukankah kakaknya seorang wanita jelek dari pedesaan?
Hana menghampiri Wenny dan menatapnya dengan tatapan sombong, "Wenny, aku tidak menyangka kamu akan berpakaian sepertiku."
Wenny, "..."
‘Terserah kamu saja.’
Wenny menegakkan punggungnya yang ramping dan tersenyum tanpa berkata apa-apa. Cahaya dari koridor menyinari wajahnya yang cantik, seperti lingkaran mutiara.
Dia bukan lagi Wenny kecil seperti dulu.
Hana, "Wenny, kudengar kamu akan bercerai dengan Hendro. Apa kamu tidak bisa hidup tanpa pria? Kenapa mencari model pria di bar? Kalau aku, mending mencari sebuah pekerjaan."
Hana menatap Hendro dan berkata dengan ramah, "Hendro, Wenny sudah merawatmu selama ini. Sekalipun dia seorang pengasuh, kamu juga harus carikan pekerjaan untuknya."
Pandangan Hendro tertuju pada wajah Wenny.
Alex, "Kak Hana, sekarang butuh kualifikasi akademis untuk mencari pekerjaan, apa kualifikasi akademis Wenny?"
Hana sepertinya teringat sesuatu yang menarik, dia tersenyum sombong, "Wenny putus sekolah pada usia 16 tahun."
Bab 6
Alex terkejut, 16 tahun?
Alasan kenapa orang-orang di lingkungan Alex begitu mengakui Hana bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga karena Hana memiliki nilai yang sangat baik dan gelar yang tinggi sejak kecil. Dia adalah mahasiswi terbaik di universitas terkenal. Melihat seluruh lingkungan sosialita Kota Livia, tidak ada yang lebih baik darinya.
Dia pantas menjadi pasangan Hendro.
Gadis mana pun yang hanya memiliki kecantikan pasti akan gagal. Kecantikan yang dipadukan dengan kualifikasi akademis adalah hal yang sangat berharga. Semakin tinggi status sosial, semakin tinggi pula kualifikasi akademis seorang gadis.
Sedikit rasa senang yang Alex rasakan terhadap Wenny tadi telah sirna, nada bicaranya penuh dengan penghinaan, "Wenny, kamu benaran berhenti sekolah saat berusia 16 tahun?"
Wenny menatap Hana yang tampak bangga dan tersenyum, "Ya, aku memang berhenti sekolah saat aku berusia 16 tahun."
Alex, "Kebetulan sekali! Kak Hendro juga berhenti sekolah di usia 16 tahun. Tapi, Kak Hendro seorang genius. Dia mendapat dua gelar master dari Harvard di usia 16 tahun. Dia membuat sejarah. Kamu juga berhenti sekolah di usia 16 tahun, tapi kamu bahkan tidak punya ijazah SMA, haha."
Alex tertawa keras.
Hana tampak sombong.
Mereka semua meremehkan Wenny.
Hendro berdiri di sana, cahaya dari koridor menyinari wajahnya yang tampan dan berwibawa. Dia menatap Wenny.
Tiga tahun ini, Wenny menjadi ibu rumah tangga dan merawatnya. Wajar saja kalau dia tidak memiliki pendidikan.
Wenny tidak menunjukkan rasa malu atau gentar. Sebaliknya, dia menatap Hendro dengan tatapan cerah, sambil tersenyum dan berkata, "Ya, sungguh kebetulan."
Ya, sungguh kebetulan.
Entah kenapa, Hendro tiba-tiba merasakan ada yang bergerak dalam hatinya.
Dia mendapati mata Wenny sungguh indah, penuh semangat dan bisa mengungkapkan sesuatu.
"Wenny!" Fany datang dan sangat marah saat melihat Hana. "Hana, kamu menindas Wenny lagi?"
Hana berkata dengan bangga, "Kami tidak menindas Wenny. Kami malah ingin mencarikan pekerjaan untuknya."
Fany terkejut, "Kalian mencari pekerjaan untuk Wenny?"
Hana pun kembali memberi dengan murah hati, "Ya, walaupun Wenny tidak punya ijazah atau pendidikan, kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk carikan pekerjaan yang bagus."
Fany, "..."
Fany merasa konyol, "Apa kalian tahu siapa Wenny? Wenny itu..."
Wenny menarik Fany dan menghentikannya, "Fany, ayo pergi."
Fany tidak berkata apa-apa lagi, dia menatap Hana dengan konyol, "Suatu saat nanti kamu bakal merasa malu!"
Fany pergi membawa Wenny.
Alex berkata dengan marah, "Apa maksud si Wenny? Orang yang berhenti sekolah di usia 16 tahun kok sombong sekali. Kalau aku pasti malu bertemu orang."
Hana tidak marah, dia selalu meremehkan Wenny. Wenny bahkan tidak memenuhi syarat untuk menjadi lawannya.
Marah pada Wenny hanya akan menurunkan standarnya sendiri.
Hana menatap Alex dan tersenyum, "Hendro, lupakan saja. Orang yang polos tidak takut pada apa pun."
Alex, "Kak, sebaiknya kamu segera ceraikan Wenny. Dia tidak pantas untukmu."
Wajah Hendro tampak tenang. Dia menatap Hana dan berkata, "Ayo pergi."
Hana mengangguk, "Oke."
Hana dan Alex pergi bersama Hendro.
...
Saat keluar dari bar, terdengar suara, "Pak Hendro?!"
Hendro mendongak dan melihat seorang kenalan, kepala sekolah Universitas Harvard, Erik Harinto.
Hendro melangkah maju, "Pak Erik, kenapa kamu di Kota Livia?"
Hana sangat menghormati Pak Erik. Meski sejak kecil dia memiliki prestasi akademik yang sangat baik, dia belum memenuhi syarat untuk masuk ke universitas terbaik, Universitas Harvard.
Pak Erik tersenyum dan berkata, "Pak Hendro, aku datang ke Kota Livia untuk memberikan seminar. Kebetulan sekali, adik kelasmu juga ada di Kota Livia."
Hendro tertegun sejenak, "Adik kelasku?"
Pak Erik, "Ya, ada dua legenda di Universitas Harvard. Legenda pertama adalah Hendro, legenda kedua adalah adik kelasmu. Dia mendapat gelar ganda di usia 16 tahun sama sepertimu. Dia gadis genius dengan IQ tinggi. Sayang sekali kalian beda beberapa tingkat, jadi kamu tidak mengenalnya."
Alex tampak penasaran, "Wah, adik kelas Kak Hendro begitu hebat, ya? Siapa yang lebih hebat, dia atau Kak Hendro?"
Pak Erik tersenyum dan menatap Hendro sambil menjawab, "Sama-sama hebat."
Hendro mengangkat alisnya, dia belum pernah temui gadis yang sepadan dengannya.
Baru pertama kali Hana mendengar Hendro punya adik kelas yang berbakat. Dia tidak menaruh dendam pada Wenny, tetapi gadis genius ini langsung mematahkan pembelaannya.
‘Siapakah adik kelas ini?!’
Hana merasa sangat bermusuhan dan cemburu.
Pak Erik mengeluarkan ponselnya dan berkata, "Pak Hendro, aku sudah mengirimimu Whatsapp adik kelasmu ini. Kamu bisa menambahkannya sebagai teman. Dia juga ada di Kota Livia. Sebagai senior, kamu harus menjaganya."
Hendro mengangguk, "Baik."
Pak Erik pun pergi, Alex mendesak, "Kak, cepat tambahkan adik kelasmu ini. Aku mau lihat seperti apa rupanya."
Hendro mengeluarkan ponselnya dan membuka Whatsapp adik kelasnya.
Nama kontaknya adalah huruf W.
Latar belakangnya putih.
Alex, "Apa arti huruf W ini?"
Hendro juga tidak tahu, jadi dia mengklik untuk menambahkan teman dengan catatan "Hendro".
Sedang diverifikasi dan belum diterima.
Alex sangat gembira, "Kak Hendro, setelah menambahkan adik kelasmu ini, kamu harus bagi ke aku. Aku sangat mengaguminya."
Hana sangat kesal saat melihat semua perhatian mereka tertuju pada adik kelasnya ini. Pada saat ini, sebuah mobil Rolls-Royce berhenti dan sekretaris pribadi Hendro, Sutinah Luis, melaju menghampirinya.
Hana langsung mengakhiri percakapan singkat ini, "Hendro, mobilnya sudah datang, ayo masuk."
Alex, "Kak Hendro, Kak Hana, selamat tinggal."
...
Mobil Rolls-Royce melaju dengan kecepatan tinggi di jalan. Di dalam mobil yang tenang dan mewah itu, Sutinah yang sedang mengemudi, melihat melalui kaca spion dan dengan hormat bertanya kepada Hendro yang duduk di belakang, "Pak, kita mau ke mana?"
Hendro, "Ke perusahaan."
Hana menatap Hendro. Cahaya malam mengilap ke wajah tampannya melalui jendela mobil, tampak mulia dan misterius.
Mata Hana memancarkan kasih sayang, "Hendro, apa yang barusan terjadi antara kamu dan Wenny? Apa karena dia menjadi cantik, kamu ingin terjadi sesuatu dengannya?"
Hendro melirik Hana, lalu berkata dengan acuh tak acuh, "Dia istriku, wajar saja kalau terjadi sesuatu. Bukankah kamu yang mendorongnya padaku?"
Hana tahu Hendro masih menyalahkannya.
Hendro menyalahkannya karena Hana telah meninggalkannya dalam keadaan vegetatif tiga tahun lalu dan melarikan diri ke luar negeri, membiarkan Wenny menggantikannya.
Hana ingin membantah, "Hendro, Wenny yang bersikeras ingin menikah denganmu, jadi mau tak mau aku harus memberikanmu padanya..."
Hendro, "Memangnya kamu kira aku akan percaya pada kata-katamu?"
Hana, "..."
Hana menggigit bibir bawahnya dan berkata dengan marah, "Kenyataannya aku memang sudah meninggalkanmu tiga tahun lalu. Kalau kamu keberatan, kita bisa putus. Kamu bisa memutuskanku."
Hana berkata pada sekretarisnya, "Sutinah, hentikan mobilnya!"
Hana mau turun.
Akan tetapi, Hendro mengulurkan tangannya, meraih pergelangan tangan Hana, lalu menariknya kuat-kuat. Tubuh lembut Hana pun menempel ke dada Hendro.
Sebuah suara yang tak berdaya, tapi penuh kasih sayang terdengar dari atas kepalanya, "Hana, kamu selalu mengandalkan rasa sayangku padamu."
Bab 7
Hana mengangkat sudut bibirnya, hatinya terasa hangat. Dia bersandar pada lengan Hendro, lalu mengangkat kepala dan menatapnya, "Aku tahu kamu tidak tega meninggalkanku. Kamu tidak akan meninggalkanku."
Sebagai orang terkaya di Kota Livia, Hendro tampan dan berwibawa, cukup kuat untuk melakukan apa pun hanya dengan lambaian tangannya. Dia memenuhi semua imajinasi Hana tentang seorang pria.
Namun, Hendro menjadi vegetatif dalam kecelakaan mobil tiga tahun lalu, dokter menyatakan bahwa dia tidak akan bisa bangun lagi dalam kehidupan ini. Bagaimana mungkin Hana menyia-nyiakan masa mudanya untuk Hendro?
Jadi, Hana melarikan diri.
Siapa sangka, baru tiga tahun Wenny menikah dengan Hendro, Hendro benar-benar sadar kembali.
Hana tidak tahu bagaimana Hendro sadar kembali. Mungkinkah ramalan bintang Wenny cocok untuk menikah?
Bahkan dokter pun menyatakan bahwa ini sebuah keajaiban medis.
Jadi, Hana pulang.
Hana tahu Hendro mencintainya dan tidak akan meninggalkannya.
Hendro menatap wajah Hana yang cantik, "Kalau bukan karena dulu... mana mungkin aku memanjakanmu seperti ini?"
Ketika Hendro menyebut kata dulu, Hana tercengang dengan tatapan bersalah di matanya.
Hana mengalihkan pembicaraan, "Apa kamu pernah meniduri Wenny?"
Hendro menundukkan kepala, "Kalau tidak menidurinya, memangnya menidurimu?"
Hana tahu Hendro tidak pernah meniduri Wenny, tetapi dia tetap bertanya.
Hendro mengambil alih topiknya dan mulai menggodanya.
Hana suka Hendro yang sekarang, dengan pesona seorang pria dewasa, tapi juga sifat buruknya yang bisa membuat orang tersipu hanya dengan satu kata.
Hana ingin menelanjangi pria yang pantang menyerah ini untuk melihat seberapa nafsu dirinya.
Hana membalikkan badan dan duduk di pinggangnya yang berotot dengan berani. Hana merangkul lehernya dan menempelkan bibir padanya, sambil mengembuskan napas, "Mau tiduri aku?"
Sutinah telah mengikuti Hendro selama beberapa tahun, dia menaikkan partisi tengah dengan pengertian.
Hana mengenakan gaun suspender merah. Dikarenakan posisi tubuhnya, ujung roknya terangkat, memperlihatkan kedua kakinya yang indah.
Kini, sepasang kaki terindah Kota Livia yang putih, lembut dan anggun ini sedang melingkari pria, tampak seksi dan menawan.
Hana mengencangkan kakinya dan menjepit pinggangnya erat-erat. "Ayo katakan, apa kamu ingin meniduriku?"
Asal jawab mau, Hendro bisa menidurinya sekarang.
Hendro tentu juga mengerti maksudnya.
Namun, pikiran Hendro tiba-tiba tertuju pada kaki indah Wenny yang ada di bar tadi.
Kaki Wenny indah dan ramping.
Wenny bertanya, dia lebih suka kakinya atau kaki Hana?
Hendro tidak tahu kenapa bisa memikirkan Wenny saat ini.
Lalu, Wenny mengangkat kakinya, rantai kristal berkilauan dari sepatu hak tingginya tergantung di pergelangan kakinya yang halus pun bergoyang. Wenny mengusap kakinya dengan jari-jari kakinya yang putih dan bertanya apakah kaki Hana pernah melingkari pinggangnya.
Hendro mengulurkan tangan dan melepaskan tangan Hana dari lehernya, "Aku belum bercerai."
Hana, "… Jadi?"
Hendro, "Aku tidak berniat selingkuh."
Hana terdiam.
Semua romantisme memudar, Hendro mengakhiri semuanya.
Hana turun dari pangkuannya dengan frustrasi. Dia punya harga diri, dia hanya akan memberikannya kalau Hendro menginginkannya.
Hana, "Hendro, kapan kamu bercerai dengan Wenny?"
Hendro mendongak dan memandang ke luar jendela. Sebenarnya, baik juga Wenny yang berinisiatif mengajukan gugatan cerai, karena Hendro juga berniat untuk bercerai.
Hendro berkata dengan dingin, "Segera."
...
Wenny dan Fany kembali ke apartemen, Wenny berbaring di ranjangnya yang empuk.
Setelah kesenangan malam ini, hidupnya akan kembali ke jalurnya.
Wenny mengeluarkan ponsel dan membuka Whatsapp.
Wenny punya dua akun Whatsapp. Dia telah menggunakan akun Whatsapp "Nyonya Jamil Wenny" selama tiga tahun, tetapi sekarang akun Whatsapp ini telah resmi dinonaktifkan.
Wenny masuk ke Whatsapp lain.
Begitu masuk, grup Whatsapp [Keluarga Penuh Kasih Sayang] langsung penuh notifikasi.
Wenny pun mengkliknya, Kakak Pertama berkomentar, [Wah, adikku akhirnya online juga.]
Kakak Kedua, [Selamat pulang, Adik.]
Kakak Ketiga, [Peluk adikku dan menciumnya.]
Ketiga Kakak Senior ini menaburkan bunga, merayakan kepulangan Wenny dengan hangat.
Kakak Pertama, [Tiga tahun lalu, adikku jatuh cinta untuk pertama kalinya. Dia berpamitan dengan Kakek dan bersikeras pergi mencari pria yang bisa diajak bermain. Bagaimana menurutmu, Wen? Apakah pria itu menyenangkan?]
Wenny membalas, [Tidak menyenangkan.]
Kakak Kedua, [Sepertinya adikku sedang patah hati, hahahaha.]
Kakak Ketiga, [Ternyata ada orang yang tidak bisa ditangani adik kita ini, hehehe."
Kakak Pertama, [Jangan mengejeknya lagi. Selama tiga tahun ini, anggap saja dia turun ke bumi untuk mengalami kesengsaraan cinta. Maaf, ini sungguh konyol. Izinkan aku tertawa sebentar, hahahaha hehehe.]
Wenny tak bisa berkata-kata.
Dia ingin sekali mengeluarkan ketiga orang ini dari obrolan grup.
Wenny melambaikan tangannya dan langsung mengubah [Keluarga Penuh Kasih Sayang] menjadi [Keluarga Penuh Halangan].
Kakak Ketiga, Eddy Samsul kembali ke topik, "Wen, saatnya bagimu untuk bertindak. Jadwal operasi sudah penuh. Ada sebuah operasi jantung yang sulit untukmu. Pergilah ke Rumah Sakit Pengobatan Tradisional besok."
Wenny mengirim sebuah gambar oke.
Setelah keluar dari obrolan grup, Wenny tiba-tiba menemukan permintaan pertemanan. Dia mengkliknya dan ternyata itu dari Hendro.
Hendro ingin menambahkannya sebagai teman Whatsapp.
Ini agak ironis. Selama tiga tahun ini, Wenny mengiriminya pesan setiap hari menggunakan Whatsapp Nyonya Jamil Wenny, tetapi Hendro tidak pernah balas. Sekarang setelah memasuki akun Whatsapp lain, Hendro malah berinisiatif untuk menambahkannya sebagai teman.
‘Dulu kamu meremehkanku, sekarang kamu tidak akan bisa mendekatiku!’
Wenny menekan layarnya...
...
Grup Jamil.
Grup Jamil itu bangunan penting di Kota Livia yang mengendalikan perekonomian seluruh kota. Bangunan ini menjulang tinggi dan tampak lebih megah di malam hari.
Setelah mengantar Hana pulang, Hendro datang ke kantor CEO. Dia duduk di meja kantor sedang meninjau dokumen.
Hendro menandatangani namanya di bagian bawah dokumen dengan kuat dan tegas. Kaca jendela di belakangnya memantulkan cahaya seluruh kota, yang saat ini menjadi papan latar belakang bagi pria ini.
Ding.
Suara ponsel berbunyi, ada pengingat Whatsapp.
Hendro mengambil ponselnya dan membuka Whatsapp. Adik kelasnya yang genius membalas pesannya.
Setelah melihat balasan itu dengan jelas, Hendro tertegun sejenak, lalu tersenyum...
Bab 8
Adik kelasnya yang langsung menolak permintaan pertemanannya!
Sutinah masuk sambil membawa secangkir kopi. Dia melihat ponsel Hendro. ‘Apa? Ternyata ada yang menolak permintaan pertemanan Pak Hendro???’
Ini serial macam apa?
Sutinah, "Pak, adik kelasmu ini... sangat unik."
Hendro mencibir, memang unik.
Dia orang pertama yang menolaknya.
Lupakan saja.
Hendro menyesap kopinya dan mengerutkan kening.
Sutinah, "Pak, apakah kopinya tidak sesuai selera? Aku ulang buat."
Hendro tiba-tiba merindukan kopi buatan Wenny, itu rasa yang paling disukainya.
Hendro berkata tanpa ekspresi, "Tulis cek dengan nilai ratusan miliaran untuk ganti rugi perceraianku kepada Wenny."
Wenny bilang ingin pergi tanpa membawa apa pun, tetapi Hendro tidak percaya dengan kata-katanya.
Bagaimana seorang gadis dari desa yang berhenti sekolah pada usia 16 tahun bisa menghasilkan uang?
Wenny hanya mau tarik ulur dan menginginkan lebih banyak uang.
Cek dengan nilai ratusan miliaran ini setara dengan membeli waktunya selama tiga tahun ini. Mulai sekarang, mereka saling tak berutang!
Sutinah mengangguk, "Ya, Pak."
Ponsel Sutinah tiba-tiba berdering, ada panggilan masuk.
Sutinah menjawab panggilan itu dan berkata dengan senang, "Pak, kabar baik, Dewa C telah terima pengajuan kita. Dewa C telah setuju untuk melakukan operasi jantung pada Nona Hana!"
Dewa C adalah seorang dokter genius dengan keterampilan luar biasa dan merupakan seorang genius yang langka di bidang medis. Orang-orang terkaya mengantre untuk menemuinya.
Namun, tiga tahun lalu, Dewa C tiba-tiba menghilang dan tidak seorang pun tahu ke mana dia pergi.
Tiga tahun kemudian, Dewa C kembali.
Hana menderita penyakit jantung sejak kecil dan dirawat di rumah sakit untuk kemoterapi saat kecil, tetapi penyakitnya tidak kunjung sembuh.
Sekarang Hendro menggunakan kekuatan uangnya, berhasil membuat janji dengan Dewa C untuk merawat Hana.
Kerutan di dahi Hendro akhirnya mengendur, dia tersenyum, Hana terselamatkan!
...
Hari berikutnya.
Wenny datang ke Rumah Sakit Pengobatan Tradisional.
Sekelompok pengawal berpakaian hitam yang terlatih tiba-tiba masuk, membuka jalan dengan cepat. Wenny dan orang-orang yang lewat pun terdorong ke samping.
Kedua gadis di sebelah Wenny tengah mengobrol, "Apa yang terjadi?"
"Apa kamu tidak tahu? Hana, si mawar merah Kota Livia dan juga penari utama balet, merasa jantungnya tidak nyaman saat menari. Pak Hendro membawa Hana untuk berkonsultasi."
"Ternyata itu Pak Hendro, tidak heran kalau dengan gegap gempita seperti gitu."
Wenny terkejut. Dia tidak menyangka akan bertemu Hendro dan Hana saat datang ke Rumah Sakit Pengobatan Tradisional hari ini.
"Kalian lihat, Pak Hendro dan Hana datang!"
Wenny mendongak dan melihat sosok Hendro yang tampan dan tinggi muncul. Dia mengenakan setelan jas hitam, tampak anggun dan berwibawa.
Hana digendong dalam pelukannya.
Beberapa dokter dan perawat dari Rumah Sakit Pengobatan Tradisional mengelilinginya dan Hana, "Pak Hendro, silakan ke sini."
Hendro melangkah pergi sambil menggendong Hana.
Gadis di sebelahnya berkata dengan semangat, "Wah, Pak Hendro ganteng sekali, Pak Hendro sungguh mendominasi."
"Hana cantik dan putih, serta pandai menari. Dia dan Pak Hendro memang pasangan yang serasi."
"CEO tampan, angkuh dan sombong VS penari cantik yang lembut. Tolong, aku tenggelam ke dalam kisah cinta orang lain."
Wenny dan Hendro menikah secara diam-diam, hanya sedikit orang yang mengetahuinya. Semua orang mendukung Hendro dan Hana.
Wenny menoleh ke arah perginya Hendro. Hendro tidak melihatnya. Di pandangannya hanya ada Hana.
Wenny adalah karakter pendukung dalam kisah cinta mereka.
Wenny menenangkan diri dan menemukan pasien nomor 109VVIP sesuai dengan nomor janji temu di ponselnya.
Tak lama kemudian, Wenny melihat Hendro dan Hana di dalam, begitu pula Andy dan Landy.
Hana sudah duduk di ranjang rumah sakit, Andy dan Landy mengelilinginya di kedua sisi, sama seperti di masa kecil, mereka memanjakan Hana seperti seorang putri.
Andy berkata dengan senang, "Hana, bagus sekali, Pak Hendro menemukan Dewa C untuk mengobatimu."
Landy menangis bahagia, "Hana sungguh menderita, tapi sekarang semuanya membaik. Setelah Dewa C menyembuhkan penyakit jantungmu, kamu pasti akan sehat kembali. Nanti kamu bisa menikah dengan Pak Hendro dan menjadi istrinya."
Hana tersenyum manis pada Hendro.
Hendro yang tinggi berdiri di sampingnya dan mengulurkan tangan untuk membelai kepalanya.
Gambaran sebuah keluarga beranggotakan empat orang itu hangat dan indah.
Wenny tercengang di luar pintu. Dia tidak menyangka dunia begitu kecil, ternyata operasi jantung yang diterima Kak Eddy untuknya adalah Hana.
Adegan hangat dan indah di dalam membuat matanya pedih.
Hendro di dalam tampaknya menyadari sesuatu. Dia menoleh, tatapannya yang dalam langsung tertuju pada Wenny.
Wenny tiba-tiba saling bertatapan dengannya.
Hendro menyipitkan matanya dan segera menghampiri Wenny, "Wenny, kenapa kamu ada di sini?"
Wenny, "Aku…"
Suara Hendro terdengar dingin, "Wenny, kamu mengintaiku?"
Wenny, "... Tidak."
Andy dan Landy sama-sama melihat Wenny. Landy memarahi, "Wenny, kenapa kamu di sini? Hari ini kami mengundang dokter genius Dewa C untuk mengobati adikmu. Kenapa kamu membuat masalah di saat seperti ini?"
Wajah Andy juga terlihat murung. "Wenny, kamu sungguh tidak pengertian. Cepat pergi sekarang."
Hana tidak berkata apa-apa. Dia duduk di ranjang dan menatapnya dengan sombong.
Hendro menghampirinya, meraih lengan ramping Wenny dan berkata dengan dingin, "Wenny, apa kamu belum puas dengan tarik ulur? Sekarang malah menguntitku? Jangan buang waktu padaku, segera pergi dari sini!"
Bab 9
Tak seorang pun menyambut kedatangannya, semua orang ingin mengusirnya.
Wenny merasa konyol. Tatapannya yang dingin menatap wajah Landy, Hana dan Andy satu per satu. Kemudian, dia menarik lengannya dari telapak tangan Hendro dengan sekuat tenaga. Wenny mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum, "Baiklah, aku akan pergi."
‘Ingat, kalianlah yang mengusirku!’
Wenny berbalik dan pergi.
Namun, tak lama kemudian Wenny kembali dan menyelipkan sehelai rambutnya ke belakang telinganya. "Pak Hendro, tahukah kamu kenapa aku datang ke Rumah Sakit Pengobatan Tradisional hari ini?"
Hendro menatap wajahnya yang putih dan lembut, terlihat makin cantik.
Hendro tampak acuh tak acuh, jelas dia tidak tertarik untuk mengetahuinya. Suaranya terdengar dingin, "Wenny, kalau kamu terus menggangguku seperti ini, bakal membuatku kesal."
Wenny tiba-tiba melangkah maju dan tersenyum padanya, "Aku datang carikan dokter tradisional untukmu."
Wenny berkata sambil mengeluarkan sebuah kartu nama dan menyerahkannya kepada Hendro, "Ini untukmu."
Hendro menunduk dan melihat sebuah kartu nama menguning yang tipis.
Pada kartu itu tertulis, [Seorang dokter tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi, yang mengkhususkan diri dalam mengobati semua jenis impotensi, ejakulasi dini dan ketidaksuburan, membantumu mendapatkan kembali kegembiraan menjadi seorang pria.]
Nomor kontak: 138XXXX8888.
Wajah Hendro yang tenang tampak berubah, "..."
Wenny memasukkan kartu nama itu ke saku jasnya, "Hana sakit, begitu juga dengan Pak Hendro, kalian semua harus berobat."
Selesai berkata, Wenny berbalik dan pergi.
Tangan Hendro tiba-tiba mengepal. Dia mendapati bahwa wanita ini selalu punya cara untuk membuatnya marah!
Hana berkata, "Hendro, lupakan saja. Jangan peduli pada Wenny. Dia tidak pantas kita habiskan waktu untuknya."
Landy mengangguk, "Ya, kenapa Dewa C belum datang?"
Ketika menyebut Dewa C, semua orang menjadi gugup.
Dewa C adalah harapan Hana.
Hendro menunduk dan melihat jam tangan di pergelangan tangannya. Waktu yang disepakati telah lewat, tetapi Dewa C belum juga datang.
Pada saat ini, ada petugas medis yang masuk, "Pak Hendro."
Mata Hana, Andy dan Landy berbinar, "Apakah Dewa C sudah datang?"
Petugas medis memandang Hendro, "Pak Hendro, Dewa C sudah datang."
Apa?
Hendro memandang keluar, dia tidak melihat siapa pun, yang ada hanya sosok Wenny.
Wenny berbelok di sudut dan menghilang.
Hendro mengerutkan kening, "Aku tidak ketemu Dewa C."
Petugas medis, "Dewa C sudah datang dan pergi."
"Kenapa?" Raut wajah Hana, Andy dan Landy berubah drastis. "Kenapa Dewa C pergi? Dia belum menyelamatkan Hana."
Petugas medis meminta maaf, "Maaf, Dewa C tidak akan menyelamatkan Nona Hana lagi."
Wajah Hana yang menawan menjadi pucat, ‘Dewa C tidak mau menyelamatkannya!’
‘Kenapa?’
Kegembiraan tiba-tiba menghilang, semua orang tercengang.
Hana duduk lemas, "Kenapa Dewa C tidak menyelamatkanku? Kenapa?"
Andy dan Landy segera memeluk Hana dan menenangkannya dengan lembut, "Hana, sabar. Kita akan menemukan cara untuk mengundang Dewa C lagi. Kamu pasti akan sembuh."
Wajah Hendro tiba-tiba berubah murung, dia memandang koridor yang kosong dengan dingin dan berbahaya.
...
Wenny meninggalkan rumah sakit, seseorang memanggilnya, "Wenny."
Wenny berhenti sejenak, lalu berbalik.
Itu Landy.
Landy mengejarnya.
Landy menghampiri Wenny, "Wenny, ini untukmu."
Wenny menunduk dan melihat cek senilai empat puluh juta.
Landy, "Wenny, Pak Hendro tidak menyukaimu, jadi berhentilah mengganggu Pak Hendro dan segera kembalikan Pak Hendro pada adikmu. Kenapa kamu tidak bisa mengalah pada adikmu? Segera bercerai dengan Pak Hendro dan bawa uangnya kembali menjalani hidupmu di pedesaan."
Wenny merasa ironis. Kalau saja dia tidak melakukan tes DNA secara diam-diam terhadap Landy dan Hana, Wenny pasti menyangka bahwa Hana-lah anak kandungnya. Sayangnya, Hana bukan anak kandungnya.
Landy itu ibu tirinya Hana.
Namun, dia hanya peduli pada Hana, bukan putri kandungnya.
Wenny tahu kalau Landy tergila-gila pada Andy, sehingga dia pun mencintai Hana.
Wenny menatap Landy dan melengkungkan bibirnya. "Apakah posisi Nyonya Jamil hanya segitu harganya atau hanya aku yang layak harga segitu?"
Landy tertegun, lalu membantah, "Wenny, Ibu melakukan ini demi kamu. Tempat ini tidak cocok untukmu..."
‘Ibu?’
Sebutan yang asing ini membuat Wenny tersenyum, "Kamu sudah pernah mengantarku ke pedesaan, sekarang kamu ingin mengantarku untuk kedua kalinya. Kamu benaran ibu yang baik!"
Wenny tidak memandangnya lagi, dia masuk ke dalam taksi dan pergi.
...
Di dalam taksi.
Wenny duduk di kursi belakang. Dia mengeluarkan permen dari tasnya, lalu membuka bungkusan permen dan memasukkan permen itu ke dalam mulutnya.
Pak Tua memandang gadis itu melalui kaca spion. Gadis itu mengenakan gaun dan memiliki temperamen yang anggun, yang merupakan aura yang dipancarkan oleh orang yang kuat.
Namun, setelah mengamati dengan teliti, dia menemukan bahwa kulitnya putih, tubuhnya di balik gaun itu sangat kurus sehingga tampak sangat rapuh seolah-olah bisa patah kalau ditekuk sekali saja.
Pak tua itu juga punya putri seusianya, jadi dia tersenyum dan berkata, "Nona, kenapa kamu menyukai permen?"
Wenny mendongak, angin sepoi-sepoi dari jendela meniup rambutnya, dia tersenyum lembut, "Iya, makan permen tidak terasa pahit."
...
Landy tercengang di tempat, dia melihat Wenny masuk ke mobil dan pergi.
Pada saat ini, seseorang datang, "Bu Landy."
Landy menoleh dan melihat bahwa itu adalah Fendy Ongi, direktur Rumah Sakit Pengobatan Tradisional.
Landy segera melangkah maju, "Halo, Pak Fendy, kamu memiliki jaringan kontak terluas. Apakah ada cara untuk meminta Dewa C merawat Hana?"
Fendy, "Bu Landy, kebetulan aku kenal Dewa C dan bisa mengenalnya padamu."
Landy sangat senang, "Benarkah? Terima kasih, Pak Fendy."
Fendy memandang ke arah perginya Wenny, senyum jahatnya muncul di wajahnya, "Bu Landy, apakah itu putri sulungmu yang berasal dari pedesaan? Aku tak sangka putrimu begitu cantik. Aku kira baru saja melihat seorang dewi."
Senyuman di wajah Landy menghilang, ekspresi di wajahnya menjadi tenang dan acuh tak acuh.
Bab 10
Vila Keluarga Cladia.
Pada malam hari, Landy sedang duduk menunggu Andy di sofa ruang tamu mengenakan gaun tidur sutra.
Dia adalah wanita cantik jelita sejak muda. Nando sangat mencintainya dan memanjakannya. Kemudian, dia menikah lagi dengan Andy, yang mewarisi bisnis dan perusahaan Nando, membuat kariernya semakin besar. Landy menjadi seorang nyonya anggun. Dia sangat memperhatikan perawatan selama ini, sehingga masih tetap tampak pesona.
Saat ini, pintu villa dibuka oleh pembantu dan Andy pulang.
Landy langsung tersenyum senang, melangkah maju untuk menyambutnya dan melepaskan jasnya, "Sayang, kenapa kamu pulang begitu telat?"
Berbeda dengan Nando yang jujur dan membosankan, Andy tampan dan menawan sejak muda. Setelah menjadi bos perusahaan, dia menjadi lebih bergaya dan membuat Landy terpesona.
Andy, "Aku ada dinas malam ini."
Landy tiba-tiba mencium aroma parfum di jas Andy. Dia mengenal aroma parfum itu, parfum itu berasal dari sekretaris wanita yang baru saja direkrutnya.
Landy berkata dengan marah, "Sayang, kamu bersama sekretaris itu lagi?"
Andy mengerutkan kening dan berkata dengan kesal, "Landy, kenapa kamu begitu curiga lagi? Dewa C tidak mau merawat Hana, Hana sedang dalam suasana hati yang buruk. Kalau ada waktu, tolong hibur Hana! Aku lelah, aku mau naik untuk beristirahat!"
Andy ingin naik ke atas.
Landy tiba-tiba berkata, "Aku punya cara untuk mengundang Dewa C."
Andy berhenti sejenak dan segera berbalik. Dia merangkul bahu Landy dan berkata, "Landy, kamu hebat banget. Kamu tidak pernah mengecewakanku. Landy, kamu adalah sayangku."
Andy sangat pandai membujuk wanita, dia memuaskan Landy.
Landy bersandar dalam pelukan Andy dan menatapnya genit, "Aku punya syarat. Kamu harus pecat sekretarismu!"
Andy, "Tidak masalah, aku akan memecatnya besok."
Sambil berkata, Andy menggendong Landy.
Tubuh Landy menjadi lemas, matanya berbinar, "Bukankah kamu baru saja bilang sudah lelah?"
Gaun tidur Landy terbuka, memperlihatkan celana dalam renda yang seksi. Andy berkata dengan nakal, "Kamu terlihat sangat seksi, siapa yang bisa menolaknya?"
Landy memukulnya, "Kamu jahat banget..."
Andy tersenyum nakal, "Kamu menyukainya, bukan?"
...
Hari berikutnya.
Wenny menerima telepon dari Landy di apartemen.
Landy sangat ramah, "Wenny, waktu di rumah sakit itu salah Ibu. Ibu sudah siapkan hidangan kesukaanmu di atas meja. Pulanglah."
Fany yang ada di dapur menjulurkan kepalanya, "Wenny, jangan pergi. Dia jalangnya Andy, sudah tua masih juga memedulikan perasaan. Tidak ada harapan untuknya."
Wenny berkata dengan tenang, "Aku sibuk."
Dia ingin menutup telepon.
Namun, Landy berkata, "Wenny, saat kamu lahir, ayahmu mengubur sebotol arak untukmu dan mengeluarkannya saat kamu dewasa. Aku telah menggali arak tersebut, ayo pulang."
Kaki Wenny agak gemetar. Landy tahu bagaimana memanfaatkan titik lemahnya.
...
Wenny datang ke vila Keluarga Cladia. Andy dan Hana tidak ada di sana. Landy benaran siapkan hidangan mewah, ada juga sebotol arak di atas meja.
Tulisan [arak] ditulis oleh ayahnya, agak kaku. Ayah tidak berpendidikan tinggi, tetapi dia memulai bisnisnya sendiri. Tidak seperti Andy, yang saat itu sudah menjadi mahasiswa.
Wenny perlahan membelai tulisan tersebut. Dia juga memiliki masa kecil yang bahagia, ayahnya paling menyayangi Wenny.
Landy sedang dalam suasana hati yang baik hari ini, wajahnya penuh senyuman. Dia membuka botol arak dan menuangkan dua gelas, satu untuknya dan satu untuk Wenny.
"Wenny, ayo bersulang."
Wenny menatap Landy dan bertanya dengan dingin, "Kenapa ayahku meninggal saat itu?"
Pertanyaan ini membuat tangan Landy gemetar dan arak dalam gelas hampir tumpah.
Tatapan Landy sedikit mengelak, "Wenny, ayahmu meninggal karena... sakit. Kamu tidak akan mengerti kalau aku memberitahumu. Kamu bukan dokter!"
Wenny mencibir dan perlahan-lahan meminum arak tersebut. Dia pasti akan cari tahu bagaimana ayahnya meninggal.
Wenny meletakkan gelas kosongnya, "Aku masih ada urusan lain, aku pergi dulu."
Wenny ingin bangun dan pergi, tetapi Fendy muncul dan berjalan menghampirinya.
Wenny mengerutkan kening, "Siapa kamu?"
Fendy sudah setengah baya dan terlihat sangat anggun, tapi dia menatap Wenny dari atas sampai bawah sambil tersenyum cabul.
Landy meletakkan arak di tangannya, "Wenny, ini Pak Fendy dari Rumah Sakit Pengobatan Tradisional. Dia kenal Dewa C dan bisa meminta Dewa C untuk mengobati Hana."
Wenny memandang Fendy, ‘dia kenal Dewa C?’
Hiks.
Wenny tersenyum, "Lalu?"
Landy pun tidak berpura-pura ramah lagi, "Wenny, tidurlah dengan Pak Fendy sekali saja, maka Hana akan selamat."
Demi menyelamatkan Hana, ibunya malah memintanya untuk tidur dengan seorang pria?
Jadi ini sebabnya Landy memintanya pulang.
Wenny merasakan badannya menjadi lemas dan panas, sangat panas.
‘Ada yang salah.’
Wenny memandangi botol arak itu dan menyadari bahwa Landy telah memberinya obat dalam arak ayahnya.
Apa lagi yang tidak bisa dilakukan ibunya?
Mata Wenny perlahan memerah. Dia menatap Landy dengan penuh kekecewaan.
Wenny tidak tahu apa kesalahannya, kenapa dia tidak pernah dicintai?
Landy menghindari tatapannya dan berbalik menatap Fendy, "Pak Fendy, kuserahkan dia padamu."
Fendy menggosok tangannya dengan gembira, dia langsung bergegas ke Wenny, "Cantik, ayolah! Kamu begitu cantik, biar kulihat betapa genit dirimu di atas ranjang!"
Landy sudah pergi.
...
Begitu Landy pergi, Fendy jatuh pingsan di lantai.
Pipi Wenny terasa seperti terbakar, obat yang diberikan Landy sangat kuat.
Wenny mengulurkan tangan ke pinggangnya, mencoba mengambil jarum perak.
Namun, pinggangnya kosong. Gawat, jarum perak tertinggal di vila.
Wenny hanya bisa bergegas ke vila. Dia belum kembali sejak pindah dari sini.
Dia pergi ke kamar utama untuk mencari jarum perak, tetapi tidak menemukannya.
Mungkin sudah dibuang Mbak Nur saat berkemas.
Wenny tidak kuat minum. Sekarang efek dari arak mulai terasa. Dia merasa pusing. Kesadaran yang selama ini dia coba pertahankan juga ikut terpengaruh oleh panas yang menjalar di tubuhnya. ‘Ugh, panas sekali~’
Suara langkah kaki terdengar dari luar pintu, ada yang pulang.
‘Apa Hendro sudah pulang?’
Mata Wenny berbinar.
Hendro membuka pintu, tubuh seseorang jatuh lemas ke pelukannya.